
Beberapa saat sebelum Myllo mengejar Zombie, yang menarik Cleaner ke dalam tanah.
“Gia… Garry… Machinno… Tadi ada suara a—”
“Djinn?! Kamu nggak apa-apa?! Kok jalannya pincang gitu?!”
Djinn datang dengan keadaan terluka ketika ia kembali memasuki markas Dreaded Band. Jari-jari di tangannya
yang rapuh, patah di kaki kirinya, serta luka-luka lainnya, begitu terlihat di sekujur tubuhnya.
“Gue nggak apa-apa. Yang penting… yang badan gede tadi udah…”
“*Bruk…”
Djinn pun terjatuh sambil menahan rasa sakit.
“Djinn! Biar aing sembuhkeun!”
“…”
Tidak ada respon dari Djinn ketika ia mendengar peringatan Garry. Namun, bukan berarti ia tidak sadarkan
diri.
“Itu… bukannya…”
Pikir Djinn, sambil melihat sesuatu yang ia kenali, yang berada di langit-langit markas Dreaded Band.
“*Ngunggg…”
“Sigobloug teh lupa atuh ya kalo udah nggak punya kekuatan—”
“Ger, ke mana Myllo sama Dalbert?!”
Tanya Djinn yang memotong Garry yang hendak menegurnya.
“Kalo Myllo teh lagi kejar orang yang ada di bawah tanah. Tapi kalo Dalbert… aing teh juga nggak
tau dia ke mana, Djinn.”
“…”
Jawaban dari Garry membuat Djinn merasa kesal.
“Duh, Si Brengsek! Dia bisa kenapa-kenapa kalo sendirian!”
Pikirnya akan Dalbert, setelah mengetahui apa yang akan terjadi kepadanya.
……………
Kembali lagi ke bawah tanah, di mana Myllo hendak menyelamatkan Cleaner dari Zombie.
“Woy! Gue tanya lo! Bukannya cewek itu temen lo?! Kenapa lo mau bunuh dia?!”
Tanya Myllo kepada Zombie yang hendak membunuh Cleaner.
Walaupun Myllo berniat baik karena hendak menyelamatkannya, Cleaner justru merasa kesal dengan Myllo yang bertindak seakan peduli dengannya.
“Nggak usah sok heroik lo, Myllo The Wind! Gue nggak butuh—”
“Lo yang nggak usah sok-sokan!”
“Haaaah?! Apa maksud—”
“Nggak usah sok-sokan jadi orang jahat, sialan!”
“…”
Cleaner terkesima ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Myllo. Karena dari kata-katanya, ia
teringat akan dua orang dari masa kecilnya, yang datang kembali menghantuinya.
“S-S-Sok-sokan jadi orang jahat?! Emangnya dia kira gue ini orang tua gue…?!”
Pikir Cleaner dengan kesal dan takut.
“Heh! Siapa lo?! Pergi lo dari sini!”
“…”
Myllo hanya tersenyum ketika mendengar seruan Zombie.
“Gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di Geote—”
“Gue nggak peduli lo siapa!”
“*Fwuzz, wuzz, wuzz…”
Potong Zombie sambil melempar beberapa kantung yang berisikan sebuah pasir.
“Woy, woy! Kan lo yang nanya gue siapa, sialan! Kenapa tiba-tiba bilang—”
“Woy, Myllo The Wind! Hati-hati sama Zombie!”
“…”
Myllo langsung menoleh ke arah Cleaner setelah ia mendengar peringatannya.
“Zombie itu Beastman tikus tanah! Dia bisa pergi ke bawah tanah kapan aja!”
“APA?! DIA ITU—”
“*Bruk!”
“!!!”
Myllo terkejut ketika ada yang hendak menyerang dari dalam tanah. Beruntung ia dengan sigap menghindarinya.
“*Bruk, bruk, bruk…”
“Eits! Aduh! Eits!”
Ia terus menghindari tangkapan Zombie, walaupun pada akhirnya ia tidak bisa menghindarinya.
“*Bruk!”
“Hehe! Nggak ke—”
“*Bruk!”
“HAH?!”
Myllo terkejut ketika Zombie bisa datang dari bawah tanah yang ia pijak, hingga menembus tanah yang berada di atasnya.
“Oi! Nggak masuk akal! Kok dia—”
“Lo lupa ya kalo kita lagi ada di bawah tanah?! Makanya itu Zombie bisa masuk ke tanah yang ada di langit-langit!”
“Oh iya! Kan kita ada di bawah tanah ya! Hehe! Gue lupa!”
“…”
Tidak ada kata-kata yang diucapkan Cleaner.
Namun di dalam pikirannya…
“Kok nih orang dongo banget ya?”
…tidak lain adalah intelektual rendah milik Myllo.
“*Bruk!”
“*Shrrk…”
“Argh!”
Myllo terkejut ketika Zombie datang dengan cepat dari balik tanah yang berada di belakangnya dan
menyerangnya.
“Woy! Denger gue baik-baik! Lo nggak akan bisa menang lawan Zombie! Kalo lawan dia di sini, dia diuntungin sama wilayah ini!”
Jelas Cleaner kepada Myllo terkait ketidakmampuannya.
Dikarenakan tidak memiliki senjata dan tidak berada di wilayah yang menguntungkannya, Myllo pun
mendapatkan sebuah ide untuk menghadapi serangan Zombie
“Hehe! Kalo gitu…”
“*Fwushhh…”
“…cuma ini doang yang bisa gue lakuin ya?!”
Bisik Myllo, setelah berhasil mengaktifkan kembali kekuatan Zegin.
“Haaaah…! Udah gue bilang hati-hati sama cewek itu! Bisa-bisanya dia diserang cewek itu!”
Pikir Zegin dengan kesal, setelah berhasil terhubung kembali dengan Myllo.
“*Bruk!”
“!!!”
“*Bruk!”
“*Swush, swush, swush…”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Ia terus menyerang Myllo ketika ia melihatnya. Namun ia merasa heran ketika Myllo yang ia serang tidak terluka sama sekali.
“Ada yang aneh!”
“*Bruk!”
“Kenapa gue nggak bisa nyentuh orang ini?!”
“*Bruk!”
“Kesannya kayak nyentuh angin doang!”
Pikir Zombie sambil terus berusaha untuk menyerang Myllo yang tidak bisa ia sentuh.
“Haaaah… Bisa-bisanya lo pake kekuatan Gue cuma untuk bercanda doang!”
“Hehe! Sekali-sekali, nggak apa-apa kali!”
Bisik Myllo yang menjawab keluhan Zegin.
Namun, ia melupakan tujuan kedatangannya.
“*Bruk!”
Zombie kembali datang untuk menyerang. Namun kali ini, targetnya bukanlah Myllo.
“Sialan! Gue lupa!”
Seru Myllo yang langsung berlari untuk melindungi Cleaner, yang menjadi target Zombie.
Sebelum menyentuh Cleaner, Zombie berbisik sesuatu. Walaupun tidak terdengar, namun gerakan bibirnya terbaca oleh Cleaner.
“!!!”
Cleaner pun terkejut ketika membaca gerakan bibir Zombie, sebelum dirinya diserang oleh rekannya tersebut.
Akan tetapi…
“*Shruk!”
“…”
…Myllo berhasil tiba terlebih dahulu dan menjaga Cleaner. Oleh karena itu, ia pun tertusuk oleh Zombie.
“K-Kenapa lo… jagain gue…?”
Tanya Cleaner kepada Myllo dengan tidak percaya.
“Dasar dongo! Ngapain lo jagain cewek i—”
“Hehe…”
Myllo kembali tertawa, walaupun tertusuk oleh Zombie.
“Karena… kalo gue nggak buat kayak gitu…”
“*Tap…”
“!!!”
“…gue nggak akan bisa nyerang lo, bukan…?”
Tanya Myllo, sambil menggenggam lengan Zombie dengan erat, sebelum ia mulai menyerangnya.
((Zegin…
“S-Sialan—”
…SMASH))
“*FWUSH!!!”
“Guaaargh!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Dengan kekuatan Zegin, Myllo memukul Zombie dengan sangat keras, hingga ia jatuh terlontar.
“Keuk!”
“*Brrr…”
“D-D-Dasar sialan lo, Petualang!”
Seru Zombie, sambil menggali tanah untuk melarikan diri.
“Woy! Mau pergi ke mana lo—”
“Cih! Brengsek!”
“…”
Myllo menatap Cleaner yang terlihat marah, ketika ia hendak mengejar Zombie.
“Eh iya! Lo nggak apa-a—”
“Ngapain lo ada di sini?! Apa yang lo mau dari gue?!”
Tanya Cleaner kepada Myllo.
Namun Myllo tidak memperdulikannya. Ia justru melepaskan ikatan cambuk yang sebelumnya ia ikatkan
kepada Cleaner.
“Wo-W-Woy! Kenapa lo lepasin?! Emangnya lo pikir gue masih nggak bisa serang lo la—”
“Coba aja kalo lo berani serang gue lagi! Mau berapa kali lo coba serang gue, pasti gue tetep kalahin lo,
Cleaner!”
“Terus kenapa lo bantuin gue?! Pasti lo mau sesuatu dari gue, bukan?!”
Tanya Cleaner dengan nada yang tinggi.
“Karena insting gue bilang, lo itu sebenernya orang yang baik!”
Jawab Myllo dengan tenang.
“O-Orang yang baik…? Apa maksud lo?! Lo udah tau kalo gue ini bandit! Mana ada bandit yang—”
“Anggota gue bahkan dulunya kepala bandit! Tapi dia salah satu orang yang paling baik yang pernah gue temuin di dunia ini!”
“…”
Cleaner hanya terdiam, sementara Myllo membukakan tangannya kepadanya untuk membantunya berdiri.
“Gue nggak tau apa alesan lo jadi bandit! Tapi gue yakin, lo sama temen-temen lo ada niat baik tersembunyi untuk mulai ikatan bandit di tengah-tengah wilayah yang kriminal ini, bukan?!”
“*Tap…”
“…”
Cleaner hanya tertunduk dengan malu, sambil menjabat tangan Myllo.
Bersama-sama, mereka pergi kembali menuju markas Dreaded Band. Ketika mereka tiba, Myllo melihat Djinn
yang menunjukkan sesuatu kepadanya, setelah Wakil Kapten-nya disembuhkan oleh Garry.
“Mil. Liat, nih.”
“Hm? Kok kayaknya gue pernah liat ini ya?”
Tanya Myllo, setelah melihat sesuatu yang ada di genggaman tangan Djinn.
“Keinget sesuatu, kan? Biar gue ingetin lagi ke lo mahluk apa yang gue pegang ini.”
Kata Djinn sebelum memberi penjelasan.
“Ini tuh, mahluk yang dipanggil Chuck waktu kita ada di tempatnya Sheriff itu.”
““!!!””
Myllo terkejut mendengarnya, setelah mengetahui bahwa mahluk tersebut adalah Eyegoyle.
“Tunggu! Jadi maksud lo itu—”
“Chuck sebenernya masih hidup! Tapi sebelum itu, biar gue jelasin ke kalian semua!”
“Jelasin apa lagi?!”
“Bahaya macem apa yang lagi Dalbert hadapin!”
Jawab Djinn kepada rekan-rekannya. Namun ia merasa ada yang aneh dari Cleaner.
“Cewek ini… keliatannya dia juga kenal Chuck.”
Pikir Djinn sambil menatap Cleaner.