Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 365. Cats of Fire and Ice



Anggota Perlawanan dan Bakufu telah berhenti menyerang satu sama lain, berkat perdamaian antara Katanaka, Nagamichi, dan Yasukata.


Namun kali ini, mereka mendapati aksi berdarah dari Bushimaru, yang secara terang-terangan memakan kepala empat Kitsune yang sebelumnya dihadapi oleh Myllo, Gia, Winona, dan Royce.


Tetapi di sisi lain Tenshujū, di mana terdapat anggota Perlawanan yang terdiri dari Shinikichi, Kokume, dan


Nekomi, melawan anggota Klan Yorukiba dan Yukiari, mantan anggota Perlawanan yang berkhianat.


“(Cih! Keterlaluan!)”


“(Tidak kusangka mereka sekuat ini!)”


““…””


Seluruh anggota Klan Yorukiba telah berubah wujud menjadi seperti serigala. Namun dengan perubahan tersebut, mereka tetap tidak sanggup mengalahkan Kokume dan Nekomi.


“Nekomi!”


“Ya! Senpai!”


Seru Nekomi, yang maju untuk menyerang anggota Klan Yorukiba.


((Honō no Sendan))


“*Vwumm, wumm, wumm…”


Dengan ayunan kakinya yang berapi, Nekomi mengayunkan kakinya dan menendang anggota Klan Yorukiba, walaupun serangannya tidak memberikan efek apapun bagi para prajurit itu.


“*Swush!”


“…”


Salah seorang anggota Klan Yorukiba berusaha untuk menyerang Nekomi, tetapi ia menghindari ayunan pedangnya.


“(Kau pikir kaki apimu itu mampu mengalahkan kami?!)”


“(Api ini tidak ada apa-apanya bagi kami, Klan Yorukiba!)”


Cemooh beberapa anggota Klan Yorukiba kepada Nekomi.


Tetapi, Nekomi hanya tersenyum.


“Mungkin serangan aku nggak ada apa-apanya! Tapi kalian harus hati-hati sama dia!”


Balas Nekomi, sambil berlari menjauhi para prajurit tersebut, yang akan diserang Kokume dengan panahnya.


((Uzumaku Itami))


“*SYUT!!!”


Panah yang dilesakkan oleh Kokume melaju dengan sangat kencang melewati anggota Klan Yorukiba.


“(Hm?! Apakah ia meleset?!)”


“(Sepertinya kita mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkan!)”


“(Hmph! Ternyata wanita itu terlalu bodoh karena menyia-nyiakan panahnya!)”


Seru beberapa anggota Klan Yorukiba dengan yakin sembari meremehkannya.


Tetapi mereka tidak sadar, bahwa efek angin dari panah yang Kokume gunakan mampu membawa sisa-sisa api dari Nekomi ke dalam Tubuh mereka.


Oleh karena itu…


““(Aaargh!)””


“(M-Mengapa… isi Tubuh-ku terbakar?!)”


“(P-Panas…!)”


…beberapa anggota Klan Yorukiba terbakar.


““*Vwumm!””


““Uaaargh!””


Perlahan-lahan Tubuh mereka hangus. Oleh karena itu mereka mati terbunuh oleh Kokume dan Nekomi.


“Keliatannya kita udah selesai, Kokume-senpai.”


“Ya. Artinya tinggal—”


“*Bruk, bruk, bruk…”


““!!!””


Mereka dikejutkan dengan Shinikichi yang terpental karena serangan dari Yukiari.


“Blughough!”


“*Crat…”


Dengan kondisinya yang terluka berat, ia juga muntah darah karena mantan rekannya itu.


“Kenapa, Shinikichi?! Lo nggak sanggup lawan gue?! Hah?!”


Seru Yukiari dengan angkuh, seakan ia tidak terkalahkan.


“Shinikichi-senpai!”


“Cih! Maafin saya, Nekomi-chan! Andai saya bisa kalahin dia, tanpa harus libatin anda!”


Seru Shinikichi kepada Nekomi yang mengkhawatirkannya.


“Cih!”


“*Syut, syut, syut…”


Kokume pun mengambil inisiasi untuk menyerang Yukiari dengan panahnya.


Namun serangan tersebut tidak ada artinya bagi Yukiari.


“*Chring, chring, chring…”


Dengan menggunakan Union Utuh, Yukiari menahan seluruh tembakan panah Kokume dengan lengannya yang berubah menjadi es yang sangat tebal dan keras.


“Cih! Aniue!”


“Apa?! Mau marah?! Emangnya lo berani sama gue, adik kecil?!”


Cemooh Yukiari kepada Nekomi, adiknya.


“…”


Shinikichi hanya menatap Nekomi dengan perasaan bimbang. Namun ketika keputusannya sudah bulat, ia pun merencanakan sesuatu yang sangat membuat Yukiari marah.


“K-Kokume…! Saya butuh waktu sama Nekomi…!”


“Yaudah! Biar gue yang tahan dia!”


Seru Kokume, sebelum ia maju untuk menghadapi Yukiari.


“A-Ada apa, Shinikichi-sen—”


“Dengar saya baik-baik, Nekomi-chan!”


“…”


“Mungkin anda juga tahu… kalau anda itu satu-satunya yang bisa lawan kakak anda…! Tapi saya berusaha semampu saya… supaya anda nggak turun tangan lawan dia…! Karena anda nggak akan tahu betapa sakit rasanya untuk lawan satu-satunya anggota keluarga anda sendiri…!”


Jelas Shinikichi terkait alasannya yang selalu menahan Nekomi.


“Makanya itu… saya mohon… supaya anda nggak lawan saudara anda sendiri dengan rasa benci. Anda bisa kan, Nekomi-chan…?”


“…”


Nekomi terdiam. Karena penjelasan Shinikichi, ia berusaha meredam amarah yang ia rasakan.


Sementara itu, Kokume yang sedang menghadapi Yukiari.


“*Bruk!”


“Keuk…!”


“Hmph! Dari antara murid bedebah-bedebah itu, cuma lo doang yang nggak ada apa-apanya, Kokume!”


Cemooh Yukiari, setelah ia membanting anggota Perlawanan tersebut.


“Haha…”


“Hm?! Masih berani lo ketawa—”


“Walaupun gue lemah… seenggaknya gue bangga mati sebagai orang yang berjuang untuk keadilan Kumotochi…!”


“!!!”


Mendengarnya wanita yang ia kalahkan itu membuatnya semakin kesal dan ingin membunuhnya.


“Jangan ngomong soal keadilan di depan muka gue—”


“Hiiaaaargh!”


“*Vwumm!”


“!!!”


Yukiari dikejutkan dengan Nekomi yang menyerangnya.


Namun dari serangannya itu, Yukiari mendapati sesuatu yang ia tidak sangka dari adiknya itu.


“U-Union Utuh?!”


Seru Yukiari, setelah melihat beberapa bagian pada Tubuh adiknya yang berubah menjadi api.


“*Vwumm!!!”


“*Chrang…!”


Yukiari menahan pukulan berapi dari Nekomi dengan lengannya yang menjadi es.


Akan tetapi…


“*Pwush…”


“Aargh!”


…lengan esnya tersebut meleleh karena serangan berapi Nekomi.


“Cih! Ternyata kemampuan Union Utuh gue masih belom sempurna!”


Pikirnya, sebelum menyerang adiknya.


((Kona Fubuki))


“*SWUSH!!!”


Yukiari hendak menyerangnya dengan menggunakan serangan jitunya. Seketika cakar es miliknya semakin


membesar, lalu ia mengayunkannya hingga tercipta hempasan udara yang sangat dingin.


“*Shrkk…”


“Urgh…”


Nekomi dan rekan-rekan yang berada di belakangnya mulai membeku karena serangan Yukiari.


“Maafin gue, Nekomi. Andai lo diem aja di sana, mungkin lo nggak perlu mati lawan kakak lo sendiri.”


Kata Yukiari kepada Nekomi.


Tetapi Nekomi belum sepenuhnya dikalahkan olehnya.


“*Vwumm!!!”


“*Pwush…”


Dengan api yang membara di Tubuh-nya, Nekomi melelehkan es yang membekukan dirinya.


“*VWUMM!!!”


Kemudian ia berlari menuju Yukiari, sambil melewati udara dingin karena kakaknya itu.


“*VWUMM!!!”


“Uaaargh!”


Nekomi melaju dengan cepat, lalu mengayunkan kakinya yang berapi kepada Yukiari.


“*Bruk…”


“*Crat!”


Karena serangannya tersebut, Yukiari kesulitan bernafas. Luka yang sangat besar dan sangat panas begitu terasa di Tubuh-nya.


“Aniue—”


“Lo… ada di pihak… yang salah… Nekomi…!”


Seru Yukiari dengan terbatah-batah, seakan dirinya akan mati terbunuh oleh adiknya.


“A-Asal lo tau…! O-Orang tua kita—”


“Dibunuh Warauneko-sama? Aku juga udah tau soal itu, Aniue.”


“!!!”


Yukiari terkejut, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


“K-Kenapa…? Kenapa… lo masih—”


“Mungkin aku juga kesal. Tapi itu karena ulah orang tua kita, yang bahkan mau tumbalin kita, anak-anaknya, demi kekuatan Iblis. Apa Aniue nggak inget tentang tindakan busuk mereka?”


“T-Tapi… mereka cuma mau—”


“Apapun alasan mereka, tindakan mereka itu nggak pantas!”


Tegas Nekomi kepada kakaknya.


“Asal Aniue tau.”


“…”


“Sebelumnya, Shinikichi-senpai kasih tau ke aku, supaya aku nggak bunuh Aniue dengan dendam karena tindakan Aniue.”


“…”


“Makanya itu, aku bunuh Aniue dengan satu tujuan.”


“…”


“Supaya Aniue bebas dari penderitaan Aniue, yang mau cari seseorang yang patut disalahin karena kematian


dua orang tua kita.”


“…”


Tidak ada jawaban dari Yukiari, lantaran kesadarannya sudah semakin memudar dan meninggal dunia.


Namun Nekomi tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia pikirkan.


“Andai gue selalu ada di samping lo, Imōto. Mungkin gue nggak akan sesalin apa yang udah hilang dan lebih peduli sama yang masih ada.”


Pikir Yukiari, sebelum ia meninggal dunia.


“*Bruk…”


Nekomi pun terjatuh.


“Huaaaaa!!! Aniueee!!!”


Ia kemudian menangis.


““*Phuk…””


“N-Nekomi…!”


“Maafin kami yang nggak bisa berbuat apa-apa, Nekomi-chan!”


Seru Kokume dan Shinikichi, yang bersama-sama memeluk Nekomi dengan maksud menghiburnya.


Dengan begitu, mereka bertiga berhasil memenangkan pertarungan dengan anggota Klan Yorukiba dan Yukiari.


Namun lupa, bahwa pertarungan masih berlanjut.


“*BRUK!!!”


““!!!””


Mereka dikejutkan dengan datangnya beberapa jasad anggota Bakufu yang terhempas ke hadapan mereka.


“A-Apa itu?!”


“A-Anggota Komisi Investigasi?!”


“Nggak cuma mereka saja, Kokume-chan! Bahkan ada anggota Perlawanan yang juga ikut dilempar ke sini!”


Seru Kokume dan Shinikichi yang terkejut.


“Shinikichi—”


“Ayo kita ke bawah! Sekarang!”


““Ya!””


Seru Kokume dan Nekomi, sambil berlari bersama Shinikichi menuju lantai dasar Bakufu.


Ketika mereka tiba…


““!!!””


…mereka menemukan adanya sangat banyak jasad anggota Perlawanan dan Bakufu, sementara kedua faksi tersebut sedang bertarung dengan seseorang.


“…”


Shinikichi menyaksikan pria yang sedang dilawan oleh kedua belah pihak.


Dengan amarah yang meluap, ia pun melancarkan serangan kepada pria itu.


“*Swush!”


“Tunggu, Shinikichi!”


Seru Kokume, sambil menyaksikan Shinikichi yang berlari menuju Bushimaru.


“Anda yang fitnah Ryūhime-sama! Yorukiba Bushimaru—”


“*BHUK!!!”


“Urgh…!”


“*Swush!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


“Kaaakh!”


Ia melompat menuju Bushimaru dengan maksud menyerangnya. Akan tetapi Bushimaru mampu memukulnya dengan sangat keras, hingga ia terpental hingga menembus ruangan-ruangan yang berada di Bakufu.


“Shinikichi!”


Seru Kokume dengan khawatir.


“Jadi dari antara kalian, siapa yang lebih pantas aku makan terlebih dahulu?!”


Seru Bushimaru, dengan…


““…””


…Gia, Dalbert, Winona, Royce, Tsuruki, Fusamoto, bahkan Katanaka, Nagamichi, dan Yasukata, yang telah ia kalahkan.


“A-Andai aku bisa lawan dia waktu kondisi aku masih bugar… mungkin aku masih bisa lawan dia!”


Pikir Gia, yang merasa semakin lelah karena dikalahkan oleh Kepala Klan Yorukiba itu.


Namun beruntung bagi semua yang menghadapi Bushimaru, karena bala bantuan datang.


“Baiklah! Aku akan memakanmu terlebih dahulu—”


“*BHUK!!!”   “*SHRAK!!!”


Djinn dan Toshiko bersama-sama menyerang Bushimaru.


“Urgh…!”


“*Swush…”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Karena serangan mereka berdua, Bushimaru terpental dan melontar di atas tanah.


“Et! Teteh-teteh geulis teh kasian pisan! Sianying berani-beraninya serang teteh-teteh geulis ieu, anying!”


Seru Garry yang datang dan memulihkan Gia, Winona, dan Royce.


“Garry… yang lain juga.”


“Tenang wae atuh, Machinno! Mereka pasti aing sembuhkeun! Tapi teteh geulis teh prioritas nomor satu!”


Seru Garry, ketika Machinno mengingatkannya agar ia tidak melupakan yang lainnya.


Sementara itu, Fusamoto tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.


“T-To-To… Toshiko-ojōsama!”


“Oooh! Fusamoto-kun! Gyahahaha! Akhirnya kita bertemu lagi!”


“S-Syukurlah anda selamat, Toshiko-himesama! Hiks!”


“*Tap, tap, tap…”


“T-Tenang saja, Fusamoto-kun! Aku adalah wanita yang kuat! J-Justru aku beruntung karena kau selamat! Hiks!”


Seru Toshiko, yang menepuk kepala orang yang setia kepadanya, dengan air mata.


“Urgh…! Siapa yang berani-beraninya menyerangku…?!”


Seru Bushimaru, yang tidak mengetahui keberadaan adik yang ia siksa selama ini.


“Hey, lemah!”


“K-Kau adalah—”


“Cuh!”


“!!!”


Bushimaru dikejutkan dengan adiknya Toshiko, yang meludahi wajahnya.


“Ingatkah engkau dengan yang kukatakan kepadamu?!”


“*Shringgg…”


“Bahwa aku akan meludahi wajahmu, kelak aku terbebas dari kurunganmu!”


Seru Toshiko kepada Bushimaru, sambil mengarahkan pedangnya kepada kakaknya itu.


“Aquilla! Denger gue baik-baik!”


““…””


“Mungkin dia sendirian! Tapi kita nggak boleh remehin anjing satu ini! Paham?!”


““Paham, Wakil Kapten!””


Jawab Gia dan Garry kepadanya, sementara Dalbert dan Machinno bersiap untuk menghadapi Kepala Klan Yorukiba tersebut.


Namun mereka tidak memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.


“Feeling gue nggak enak, nih!”


Pikir Djinn akan Bushimaru, sebelum ia dan dirinya bersama-sama menghadapi pria tersebut.