Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 427. Chaos Around The Arena



Djinn telah mengalahkan para prajurit High Elf dari Vamulran Kingdom, yang dibawa oleh Rivrith Vamulran,


saudara sepupunya yang juga kakak kandung dari Luvast.


Kali ini adalah kejadian yang bersamaan ketika ia membuka kedok dari para prajurit itu, di mana Daphine,


Kornell, serta Gravanghar menyerang Gerbang Timur Chaoseum.


“Dor, dor, dor…”


““Aaargh!!!””


Daphine berhasil menembak beberapa anggota Leo yang menghadang jalannya.


“Dasar biadab! Berani-beraninya lo khianatin—”


“Bawel!”


“*BRUK!!!”


““Aaargh!””


Dengan kekuatan fisiknya yang keras, Kornell memukul tanah dengan keras, hingga muncul beberapa batu yang


memenjarakan beberapa anggota Leo.


“*Bruk, bruk, bruk…”


“Brengsek tuh Kornell! Bisa-bisanya dia—”


“*Boom!”


““Aaaargh!!!””


Dengan memanfaatkan batu-batu yang memenjarakan para anggota Leo, Gravanghar kemudian menyerang mereka dengan bola api dari mulutnya.


“Cih! Kenapa tiba-tiba mereka bisa sekuat itu?!”


“Jangan serang mereka secara ngasal! Mau gimanapun juga, mereka itu dianggap setara sama mantan anggota Argus Navis!”


“Kita harus serang mereka pake timing!”


Seru beberapa anggota Leo, yang kemudian sama-sama membuat sebuah formasi untuk menyerang mereka.


“…”


Daphine, sebagai seorang Observer, mencoba untuk menganalisa para anggota Leo, yang bersama-sama mempertahankan posisi mereka masing-masing.


“Ada 5 Frontliner di depan, 13 Striker di tengah, sama 4 Keeper di paling belakang. Mungkin mereka nggak ada


Observer, tapi kita nggak punya Striker sama Keeper! Gimana cara kita hancurin formasi mereka?!”


Pikir Daphine dengan heran, karena merasa tidak mampu mengalahkan mereka akibat keterbatasan anggota.


“Daphine! Jangan bingung! Kalo masih kebingungan, mending gue—”


“Tunggu dulu, Kornell! Jangan gegabah! Kalo lo main asal hajar mereka pake kekuatan fisik lo aja, artinya lo


makan jebakan mereka!”


Seru Daphine, dengan maksud mengingatkan bahaya yang akan Kornell lakukan.


Namun mereka tidak sadar, jika bala bantuan datang.


{Kazedoryū: Haku}


“*SWUSH!!!”


““Aaaaaarrgghhh!!!””


““!!!””


Mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Tetsuo, yang menghempaskan seluruh anggota Leo dengan teknik senjata milik Kitsune.


“D-Daphine… bukannya itu…”


“Ya…! Dia itu… Shogun yang ada di Kumotochi—”


“*Shringgg…”


““!!!””


Mereka kembali dikejutkan dengan aksi Tetsuo, yang mengarahkan pedangnya kepada mereka.


“Bukankah kalian merupakan orang-orang yang ikut dengan Leonard Sang Pengacau itu?!”


Tanya Tetsuo, dengan ekspresi kemarahannya yang menakutkan Kornell dan Gravanghar.


Namun tidak bagi Daphine, yang maju untuk berbicara dengannya.


“Tadinya kita itu anggota dari Leonard! Tapi sama kayak sebagian besar anggota lainnya, kita dipaksa untuk ikut di—”


“Omong kosong!”


“…”


“Jika bukan karena kalian, mungkin Pengacau itu tidak akan membuat kekacauan seperti itu di tanah yang Kupimpin!”


Tegas Tetsuo dengan teguh untuk tidak mempercayai Daphine.


“Ya. Lo bener, Shogun.”


“Hm?!”


“Semua salah kita! Tapi kita punya kesempatan untuk bebas! Kalo bukan karena Ayasaki yang bebasin kita dari genggaman dia, mungkin kita nggak akan bisa bantu Djinn sama yang lainnya untuk bebasin kalian!”


Jelas Daphine kepada Tetsuo.


Walaupun Daphine mampu berbicara dengannya, nyatanya Tetsuo menyaksikan tangannya yang gemetar karena takut dengannya.


“Kau menyebut nama Ayasaki? Apakah wanita yang kau maksud itu Kazedori Ayasaki?”


“Ya. Sekarang lo lagi nggak ada di Kumotochi. Makanya dia janji ke Djinn untuk jagain Kumotochi, sedangkan


Djinn bebasin kalian, dengan bantuan gue.”


“Seperti itu kah?”


“*Srrrttt…”


“Baiklah. Aku percaya kepadamu.”


Balas Tetsuo, sambil memasukkan pedangnya kembali.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”


“Kita harus hancurin Gerbang Timur. Ryūtaro sama Winona hancurin Gerbang Barat.”


Jelas Daphine kepada Tetsuo, terkait rencana yang diusung oleh Djinn.


“Bagaimana dengan Ryūhime-chan?! Saat ini ia sedang—”


“Kita juga paham itu. Harusnya Djinn ikut bareng Dalbert ke Lapisan Bawah untuk lawan Malaikat itu. Tapi kayaknya dia mau lawan orang-orang yang ngikutin kita. Untungnya sih kita ketemu beberapa Petualang yang kabur, jadinya mereka yang ikut Dalbert.”


“Seperti itu kah? Baiklah kalau begitu. Aku akan membantu kalian. Tapi kita harus mengalahkan mereka semua, karena serangan-Ku sebelumnya kurang ampuh.”


““…””


Daphine dan kedua temannya hanya menatap beberapa anggota Leo yang masih dapat berdiri, walaupun telah


dihempaskan oleh Tetsuo dengan teknik senjata khas Kitsune.


“Ya! Semoga aja waktu kita lebih cepet!”


Balas Daphine, sebelum kembali menghadapi anggota Leo yang ada di hadapannya bersama Tetsuo dan kedua temannya.


……………


Sementara itu, di area barat dari Chaoseum.


“*Chring, chring, chring…”


“*Syut, syut, syut…”


“*Bwung, bwung, bwung…”


Machinno masih harus berjuang menghadapi anggota Leo, bersama dengan Mahadia, Evri, serta Sonda.


““Huff, huff, huff…””


Rasa lelah sudah mereka rasakan.


Akan tetapi…


“Keliatannya mereka udah kecapean! Harusnya kita bisa kalahin mereka berempat!”


…masih ada puluhan anggota Leo yang masih harus mereka hadapi.


“S-Sialan…! Ternyata ada kalian aja… masih nggak cukup…!”


“Y-Ya iyalah…! L-Lagian… kenapa fokusnya… jadi kita aja…?!”


Balas Sonda kepada Evri, dengan terbatah-batah karena kelelahan.


“Semuanya! Minggir!”


“*Brrrrrkkk!!!”


“Biar gue yang kalahin mereka semua!”


Seru seorang anggota Leo kepada rekan-rekannya, sambil menciptakan sebuah batu raksasa yang akan ia lempar kepada Machinno dan rekan-rekannya.


“M-Machinno…! Machinno bisa nggak… tahan batu raksasa i—”


“Machinno… lelah…”


“*Bruk…”


““!!!””


Rekan-rekan Machinno sangat terkejut ketika mendapati Machinno yang terjatuh dengan lelah.


“*SWUSH…”


Sementara anggota Leo tersebut telah melempar batu raksasa kepada mereka.


Hingga akhirnya…


“*FWUSH!!!”


“E-Eh! B-Batunya kok—”


“*BRUK!!!”


…Ryūtaro datang dengan menghempaskan batu raksasa itu kembali menuju anggota Leo lainnya.


“*Blub, blub, blub…”


“E-Eh! A-Apaan nih?! Kok tiba-tiba ada gelembung?!”


Tanya Ervi dengan terkejut, setelah mendapati adanya gelembung-gelembung di dekatnya.


“T-Tunggu…! S-Sihir ini…”


“MAHAAAA!!!”


“*Phuk!”


“W-WINONA?!?!”


Seru Mahadia dengan sangat terkejut, setelah Winona datang dan memeluknya.


“K-Kok lo ada di sini?!”


“Aku dateng bareng Djinn sama Dalbert! Nggak cuma mereka aja! Bahkan mantan anggota Leo yang namanya Daphine, Kornell, sama Gravanghar, juga dateng bantu kita! Tambah lagi, Naga itu!”


“Hah?! Naga?! Mana dia—”


((Tenohira Kaze))


“*FWUSH!!!”


““Uaaaargh!””


““…””


Mahadia dan Evri hanya bisa menatap Ryūtaro yang menyerang beberapa anggota Leo dengan kekuatannya.


“O-Orang itu… Naga…?”


“Ya! Lebih tepatnya Wind Dragon—”


“HAAAAH?!?! NAGA?!?!”


“Woy! Nggak usah teriak-teriak!”


Seru Mahadia dengan kesal kepada Evri yang sangat terkejut.


“Tunggu, tunggu, tunggu! Kalo dia itu Wind Dragon, harusnya dia ada kaitannya sama Wind Dragon Princess yang—”


“Ya! Makanya itu kita nggak punya waktu banyak lagi! Kita harus hancurin Gerbang Barat!”


“K-Kenapa kita harus hancurin Gerbang Barat…?”


“Karena kita mau masuk dari sana, supaya para Petualang dari Lapisan Bawah bisa ikut kita lawan anggota Leo!”


Jelas Winona kepada Mahadia dan Evri terkait rencana Djinn.


“Yaudah! Kalo gitu kita harus kalahin mereka dulu!”


“Ya! Semoga aja ini jadi pertarungan terakhir kita lawan Leo!”


“Gue juga setuju!”


Balas Mahadia, Evri, dan Sonda, sebelum mereka mulai menyerang anggota Leo kembali.


……………


Di Lapisan Bawah, di mana Dalbert hendak membebaskan para Petualang, bersama dengan Paul, Alethra, dan Awva.


“Ini ya gerbangnya?”


“Ya! Gerbang ini isinya para Petualang yang—”


“*BRUK!!!”


“Woy! Gue lagi ngomong, sialan!”


“Bawel! Mending kita bebasin mereka secepatnya!”


Seru Dalbert dengan kesal, sebelum mulai membebaskan para Petualang.


“Tunggu! Denger gue baik-baik!”


“Hah?! Apaan lagi—”


“Mereka semua nggak berani keluar, Dalbert!”


Jelas Alethra kepada Dalbert.


“Oh gitu? Yaudah! Gue ada cara!”


Jelas Dalbert, yang masuk ke dalam ruang tahanan, lalu…


“*DOR!!! DOR!!! DOR!!!”


““!!!””


Seisi ruang tahanan dikejutkan dengan adanya suara tembakan senapan jitu yang ditembakkan secara asal oleh Dalbert.


“Keluar sekarang, atau mati gue tembak!”


““!!!””


Para Petualang yang ada di dalam penjara dikejutkan dengan ancaman Dalbert.


“*DOR!!! DOR!!! DOR!!!”


Dalbert kemudian menembak seluruh gembok sel tahanan, agar para Petualang dapat keluar.


“Keluar sekarang! Sambil lewatin kita berempat, nanti kita berempat lepasin Mana-Restrictions di pergelangan kalian!”


“O-OK!”


“M-Makasih banyak…!”


Jawab beberapa Petualang dengan perasaan cemas dan takut kepada Dalbert, sambil mengikuti petunjuknya.


“…”


Dalbert menatap Hakuya yang hendak ia lepaskan dari Mana-Restrictions.


“Lo itu kan—”


“Myllo sama yang lainnya lagi ada di atas sana! Kita harus—”


“Gue juga tau! Makanya itu kita mau buat kacau dulu di sini!”


Jelas Dalbert kepada Hakuya.


Walaupun ada beberapa yang memberanikan diri untuk keluar dari penjara, nyatanya Dalbert juga mendapati


beberapa Petualang yang tetap terdiam di dalam sel penjara, walaupun ia telah mengancam mereka.


“Woy! Kenapa kalian masih pada diem aja?!”


“K-Karena… kita takut… kalo harus lawan Leonard—”


“*Dor!”


“Urgh… Uaaargh!!!”


““!!!””


Semua Petualang terkejut ketika Dalbert menembak kaki Petualang yang menjawabnya.


“W-Woy! Kenapa lo tembak dia—”


“Kalo gue denger jawaban kayak gitu lagi, nanti kepala kalian yang gue tembak! Mending kalian takut kehilangan nyawa kalian yang di tangan gue, daripada takut mati di tangan Leonard!”


““Y-Y-Ya!””


Karena aksi Dalbert, seluruh Petualang mulai memberanikan diri untuk keluar dari sel penjara.


Kecuali Cassidian Arnault.


“Woy, keluar! Kenapa lo malah diem di si—”


“Tidak. Bahkan jika pria itu mengancam akan membunuh saya, saya tetap mempertahankan diri saya di sini. Lebih baik saya mati di tangannya dibandingkan menghadapi pria yang gila seperti Leonard.”


Balas Cassidian kepada Paul yang memaksanya keluar.


“Sudah saya katakan, bukan? Mengkonfrontasi Leonard sama saja dengan bunuh diri. Bahkan Myllo Olfret tidak


mampu mengalahkannya. Lantas, apa yang sekarang bisa anda lakukan—”


“Myllo pasti menang! Karena sekarang, semua anggotanya ada di sini!”


Sahut Dalbert kepada Cassidian dengan yakin.


“Woy, mantan bandit! Terus kita gimana?!”


“…”


Dalbert hanya menatap Cassidian, ketika mendengar pertanyaan Paul.


“Kita tinggalin dia aja. Semoga kita bisa bikin dia nyesel.”


Jawab Dalbert, sambil membelakangi Cassidian.


“Anda merasa yakin, Dalbert Dalrio?”


“…”


Dalbert menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan dari Cassidian.


“Kenapa lo tanya lagi?! Emangnya gue keliatan kurang yakin—”


“Jika anda sangat yakin, maka saya bisa memberitahukan sesuatu kepada anda.”


“Kasih tau…? Emangnya apa yang mau lo kasih tau?”


“Saya hendak memberitahukan tentang rahasia dibalik cara Malaikat itu mengendalikan Wind Dragon Princess dan Mahluk Abadi lainnya.”


“!!!”


Dalbert terkejut dengan pernyataan Cassidian, sebelum ia mendengarkannya.


Sementara itu, di sisi lain Lapisan Bawah.


“Muahahaha! Kayaknya ada suara tembakan tuh tadi!”


Bastheus hendak menghampiri ruang tahanan para Petualang, sebelum ia memulai pertarungannya melawan Dalbert.