Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 335-1. Brothers of The Past



“Ah, sebelum kalian pergi, ada yang ingin kutunjukkan kepada kalian semua, khususnya kepadamu, Machinno.”


Padahal gue sebelumnya mikirin tujuan kita dipanggil ke sini. Nggak taunya Ivis udah mau ngasih tau aja.


Tapi, apa yang mau Ivis tunjukkin ke kita?


“Semuanya. Apakah kalian menyadari ada sesuatu yang unik dari Machinno?”


“Hm? Sesuatu yang unik? Bukannya Machinno itu emang unik, ya?!”


“Ia memang unik. Tetapi kalian sepertinya mendapati suatu perbedaan darinya sekarang.”


Hm? Ada yang beda?


“Perhatikanlah dadanya. Ada sebuah corak yang unik dan menyala-nyala pada dadanya.”


““!!!””


Oh iya! Kok dadanya nyala kayak gi—


“G-Gue sebenernya udah tau sih. Gue kira… kalian semua sadar…”


“Hah?! Kalo gitu kenapa lo nggak tanya ke Machinno langsung, Dalbert?!”


“K-Karena dia unik, Myllo. Jadinya… gue kira wajar aja kalo—”


“Semuanya. Perhatikan semua benda ini.”


“…”


I-Ini tuh… puluhan batu giok?


“Machinno, apakah engkau mengetahui tentang ini?”


“Machinno… tidak tahu.”


“Dengarlah baik-baik, Machinno.”


““…””


“Semua permata ini adalah Druid Seed, di mana terdapat Roh dan Jiwa dari Druid, sebelum mereka menemui ajalnya.”


““!!!””


Artinya… ini semua tuh Druid, dong?!


“Sebagai Mahluk Fana yang telah melampaui batas mereka dan menyatu dengan alam, maka mereka semua tidak akan pernah kembali ke Spirit Realm setelah kematian mereka.”


I-Itu sama aja kalo mereka nggak akan pernah mati nggak, sih?


“Sama seperti diriku yang mengorbankan Tubuh-ku dan menjadi pohon, mereka juga berubah menjadi pohon sebelum ajal menjemput mereka. Tetapi berbeda dengan diriku yang mampu memindahkan Roh dan Jiwa-ku ke ranting kecil, mereka tidak mampu melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, ketika mereka menjadi sebuah pohon, mereka akan menumbuhkan buah seperti ini, yang dinamakan Druid Seed.”


Kalo gitu, orang yang jadi Druid tuh bisa dibilang sebagai Mahluk Abadi, dong?


“Ivis, terus apa hubungannya sama Machinno?”


“Untuk kalian ketahui, bahwa hingga sampai saat ini, belum ada Tubuh yang mampu untuk menjadi Wadah bagi Druid Seed. Oleh karena itu, pada akhirnya Druid Seed hanya akan digunakan oleh setiap orang, agar mereka memiliki kekuatan yang berlipat ganda.”


“A-Artinya mereka semua dimanfaatin?!”


“Kau benar, Myllo Olfret. Tetapi ketika kami melihat Machinno, kami para Dryad menyaksikan sesuatu yang seharusnya mustahil terdapat pada dirinya.”


“Maksudnya…”


“Ia memiliki Druid Seed yang bekerja sebagai jantungnya, di balik tampilan buruk rupanya.”


““!!!””


Machinno punya Druid Seed?!


“Katakanlah kepada kami, kalian semua.”


“Hah? Apa—”


“Di manakah kalian menemukan Druid Seed terse—”


“Tunggu, Ivis! Biar gue jelasin tentang Machinno!”


““…””


Gue jelasin ke Ivis, kalo Machinno sebenernya diciptain Ghibr untuk dijadiin Wadah untuk Demon Lord.


“Keterlaluan…! Bisa-bisanya seseorang berpikiran untuk—”


“S-Semuanya, bisa nggak kita nggak bahas lebih jauh tentang itu?”


“Hm? Ada apa, Gia?”


“Hiks. Hiks.”


Dia nangis, ya?


“M-Maafkan aku, Machinno. Aku hanya—”


“Ivis, sebelumnya gue mau nanya.”


“Bertanyalah, Djinn Dracorion.”


“Intinya Machinno tuh Druid, bukan?”


“Kau benar, Djinn Dracorion. Aku menunjukkan kumpulan Druid Seed ini untuk memberitahukannya, bahwa saudara-saudaranya berada bersama kami.”


“Tapi kok lo tiba-tiba bisa tau kalo dia punya Druid Seed?”


“Aku menyadarinya… ketika ia berubah menjadi Twin-Tail Tiger, yang merupakan seekor Spirit Beast. Dahulu kala, Spirit Beast tersebut merupakan mahluk pertama yang kami gunakan untuk melatih para Calon Druid.”


“Oh, gitu…”


Gue nggak mau nanya lebih jauh lagi, supaya Machinno nggak sakit hati.


……………


Akhirnya kita semua balik lagi ke kapal kita bareng Ivis sama Ambrolis yang nganter kita, sehabis kita sampein


salam perpisahan ke Dryad lainnya.


Walaupun…


“Maafkan kami, Vamul—Maksudku, Djinn Dracorion.”


“Kami bersalah karena menyamakan dirimu dengan Vamulran lainnya.”


…gue harus kerepotan untuk terima permohonan maaf yang banyak dari mereka. Padahal gue sendiri nggak mikirin soal itu.


“Djinn Dracorion.”


“…”


Aduh. Ada Ambrolis, lagi.


“Aku hendak memohon maaf atas—”


“I-Iya, iya, iya! Pasti gue maafin, kok!”


“Baiklah. Tetapi yang lebih penting dari permohonan maaf…”


“*Phuk…”


Eh?! Kenapa dia tiba-tiba peluk gue?!


“Aku hendak berterima kasih karena engkau telah menyelamatkanku ketika kita berada di Dungeon of Poison.”


“I-iya, iya, iya! Nggak perlu peluk-peluk kayak gini kok!”


“Bukankah ini cara Mahluk Fana untuk mengekspresikan—”


“K-Kata-kata aja juga udah cukup! Nggak sampe harus peluk-peluk kayak gi—”


“Ih, Djinn! Dasar playboy!”


Bawel banget! Bantuin juga nggak, malah protes!


“Aquilla Party. Terima kasih atas bantuan kalian untuk menghentikan penderitaan Cthorach. Semoga Dewa dan Dewi di atas sana menaungi kalian dalam petualangan kalian.”


“Hehe! Makasih juga ya, Ivis! Ambrolis!”


““Ya, Myllo Olfret!””


Ah, sekarang udah waktunya berangkat, ya?


“Mil, jadi tujuan kita selanjutnya tuh…”


“Hehe! Udah jelas kan?! Kita harus cari tempat yang namanya Chaoseum itu!”


“OK!”


“Ayo, kalian semua! Waktunya kita pergi ke Chaoseum!”


““Siap, Kapten!””


Akhirnya kita semua berangkat ke tempat yang namanya Chaoseum itu!


Tunggu kita, Luvast! Semoga lo baik-baik aja di sana!