
Kita semua baru aja resmi
terbentuk sebagai anggota Aquilla.
“OK semuanya! Ayo kita Pesta
besar-besaran!”
““Yaaa!””
Sekarang udah agak malem. Bahkan
Guild Petualang ini udah agak sepi.
Makanya itu, kita semua langsung
ke kedai paling deket dari Guild ini.
Kita masih jalan, sambil
telefonan bareng Luvast.
Sampe kita di dalem…
“*Kriiieekk… (suara pintu
terbuka)”
“Bos! Kita mau pesta besar!”
“OK, Myllo! Saya siapin dulu!”
Eh buset! Main ngomong gitu aja!
“Woy, Myl! Jangan boros!”
“Bawel! Uang kita masih ba—”
“Tenang aja, kalian semua! Untuk
pahlawan Erviga, pasti bakal gratis!”
““SE…SERIUSAN?!?!””
“Hehe! Tenang aja!”
Nih kepala kedainya…
Harusnya mereka lagi agak
bangkrut kan karena serangan Kaum Naga?!
“Ah! Zorlyan! Ketemu lagi kita!”
“Myllo! Lo ke mana aja?! Padahal
gue tungguin di sana!”
Ohh ternyata mereka emang
janjian?!
“Gimana?! Lo udah dapet status
Leader, belom?!”
“Hehe! Udah dong! Lo gimana?!”
“Gue juga udah dapet!”
““Ahahaha!””
Hah?! Zorlyan juga dapet?!
Emangnya siapa anggota kelimanya?!
“Bos! Lo dari—”
“Haaaah! Kok lo masih panggil gue
Bos, sih?! Kan BBE udah bubar!”
A…Ada Alethra yang duduk bareng
Andromeda?!
Jangan-jangan—
“HAAAAAAAAH?!?! ANGGOTA KELIMA LO
TUH ADEKNYA MIRAELA?!?!”
“Lo bener, Myllo.”
Eh! Ada Miraela!
Kaget gue!
“*Tung… (suara memukul kepala)”
“Aw!”
“Adek gue ini sebenernya bisa
ajuin banding waktu di pengadilan, tapi dia tetep mau jadi Petualang!”
“Ahahaha! Emangnya lo dapet peran
apa?! Kasta apa?!”
“Frontliner Kasta Biru…”
Kasta Biru juga, ya?
Sama kayak Dalbert, dong?
“Ini makan-minumnya!”
“Wuhuuu!”
Abis itu kita makan-makan bareng
untuk resmiin Aquilla versi kita, sekaligus resmiin Garry sama Dalbert.
Beda kayak sebelum-sebelumnya,
Myllo nggak misah dari kita semua.
Dia yang biasanya banyak cerita
ke orang-orang tentang Sylvia, sekarang lebih banyak ngabisin waktunya di sini.
“Inget…kalian semua…hicc!
Djinn itu…rekrutan pertama gue…”
“Te…Terus?”
“Ma…Makanya…dia ini…Wakil Kapten
Aquilla…hicc!”
Semua sih keliatannya
terima-terima aja. Tapi…
“Dal, lo nggak apa-apa?”
“Maksud lo?”
“Kan lo dulunya pemim—”
“Nggak apa-apa. Emang gue mantan
pemimpin bandit, tapi gue sekarang Petualang. Makanya itu gue harus hormatin
Kapten gue sekarang. Bener kan, Myllo?”
Oh, untung aja dia terima.
“Hehe… Keren juga omongan lo…hicc…Dalbert!”
“Ja…Jangan puji-puji gue!”
““Ahahaha!””
“Kalian pada ketawa, lagi!”
Oh ya. Ada yang harus gue
sampein, walaupun ngerusak momen ini.
Tapi aman nggak ya ngomong seka—
“Djinn?”
“Mengapa kau terlihat murung, saudaraku?”
““…””
Keliatan ya gue lagi kepikiran
sesuatu?
“Djinn, Djinn, Djinn…”
“Kenapa?”
“Jelasin aja ke kita. Kalo emang
nggak enak di denger, kita semua siap, kok. Ya nggak, kalian semua?!”
“Ya. Aku siap.”
“Aku juga.”
“*Aing*teh siap.”
“Hmm.”
Haaaaah… Yaudah deh kalo mereka
maksa.
“Semuanya, maaf kalo gue ganggu momen
ini. Semoga aja kalian siap untuk denger penjelasan gue.”
““Mm?””
Gue ceritain ke mereka tentang
High Elf yang nyamar jadi Konnor.
“Ti…Tidak mungkin. Artinya…”
“Ya. Bahkan bisa aja kita
sekarang lagi disadap. Andai gue bisa bilang dari awal. Gue cuma nggak mau
ngerusak momen seneng-seneng kita.”
““!!!””
Semuanya pada kaget. Nggak cuma
kaget, mereka juga ada yang kesel sama sedih.
Khususnya, Myllo.
“Luvast. Sekarang lo ada di
mana?”
“Aku sedang berada di Bachinne
Federation, Myllo. Sebentar lagi aku akan pergi menuju Makhenvi Empire untuk
melakukan perjalanan via teleportasi, menuju Kontinen Tenggara yang berada di
Arschtein Empire.”
“OK. Kalo gitu, Hati-hati, ya.”
“Baik, Kap—”
“Sampe ketemu di Vamulran Kingdom!”
““!!!””
Vamulran Kingdom?!
“Djinn. Gue tau kalo lo nggak mau
nyentuh keluarga lo lagi. Tapi ini demi Luvast. Seenggaknya lo mau, kan?”
Jawaban gue sih nggak,
sebenernya.
Tapi…
“Ya. Gue nggak masalah.”
“Djinn…maafkan a—”
“Jangan minta maaf. Semua bukan
salah lo, Vast.”
“…”
Sebenernya gue nggak mau ngakuin,
tapi gue yakin kalo gue ujung-ujungnya pasti ke Vamulran lagi.
“Luvast. Mungkin ini terakhir
kalinya kita ngobrol via Orb Call.”
“Ya. Aku mengerti.”
Dia keliatan gemeteran dari Orb
Call ini.
“Semuanya. Sebelum kita tutup, ada
yang mau kalian sampain ke Luvast?”
“Aku, Myllo.”
Gia sampein salam dia ke Luvast
lewat Orb Call ini.
“Luvast! Semangat, ya! Sampe
ketemu lagi! Semoga kamu nggak kenapa-kenapa!”
“Ya. Sampai bertemu lagi, Gia.”
Kata-kata Gia mungkin singkat,
tapi gue yakin ada hal lebih dari salam mereka berdua. Karena gue tau kalo
cewek itu punya pandangan yang beda tentang kejadian ini.
“Garry, Dalbert, gue tau kalo
kalian ini baru kenal Luvast, bahkan kalian pun nggak pernah ketemu langsung.
Kira-kira, ada yang mau disampein ke dia?”
“*Aing*teh…cuma bisa bilang
hati-hati. Semoga teh kita bisa ketemu, Teh Luvast.”
“Hmm. Gue tau sih gimana rasanya
ada masalah keluarga. Tapi gue yakin kalian berdua bakal baik-baik aja. Sampe
ketemu.”
“Terima kasih Garry, Dalbert.”
“…”
Myllo ngeliatin gue, pertanda
kalo gue harus sampein sesuatu ke dia.
“Kita ketemu di Vamulran, kan?
Kalo gitu…hati-hati ya, jangan lupa salam buat kakek.”
“Baiklah, Djinn.”
“…”
Myllo diem aja.
Mungkin gue sodaranya Luvast,
tapi Myllo itu Kapten dia. Mungkin dia punya cara sendiri untuk ngomong ke
Luvast.
“Hehe, Luvast!”
“Y…Ya?”
“Kalo kita ketemu lagi, sapa kita
pake senyuman, ya?!”
“Ya, Myllo! Aku berjanji!”
Gue awalnya kaget kenapa dia bisa
ketawa, tapi gue yakin itu semua supaya kita nggak murung.
“OK! selesai kita ngobrol, gue
mau lo hancurin Orb Call itu, Luvast!”
“Baiklah. Sampai bertemu
kembali, rekan-rekanku sekalian.”
““Ya!””
Kita selesai ngobrol bareng
Luvast.
“*Chrang… (suara Orb Call pecah)”
…Myllo pecahin Orb Call kita ke
Luvast.
“Myllo, jadinya kita gimana?”
“Ayo kita siap-siap untuk
berangkat dari negara ini.”
Siap-siap berangkat?!
Tapi—
““OK, Kapten!””
Eh?! Kok—
“Djinn, ada masalah?”
“Ng…Nggak sih. Tapi bukannya
nggak bisa berangkat malem?”
“Tenang aja, Djinn! Transportasi
kan buka setiap detik!”
Oh gitu…
“Ayo kita siap-siap berangkat!”
““Ya!””
Akhirnya kita siap-siap
berangkat.
Kita balik ke penginapan kita,
kecuali Dalbert.
Siap-siapnya cuma butuh dua jam,
sebelum kita berangkat.
Kita pun akhirnya ketemuan sama
Dalbert di dermaga.
Masalahnya…
“Ki…Kita berangkatnya pake
kapal?”
“Iyalah! Emangnya kamu mau naik
apa?!”
…gue agak nggak berani naik kapal.
Semuanya karena satu hal.
Gue hampir mati tenggelam untuk
kedua kalinya di laut.
Bahkan kalo gue inget-inget lagi, waktu itu gue sebenernya
agak nggak sadar waktu lompat ke kapal untuk tolongin Styx.
“Djinn! Jangan bilang lo takut
naik ka—”
“Gi…Gia! Kenapa nggak naik
anak-anak lo a—”
“Eh! Kurang ajar kamu, Djinn!
Emangnya anak-anak aku itu cuma sekedar transportasi?!”
Percuma dong punya anak Naga tapi
nggak bisa—
““Mama!””
“Kyaaa! Anak-anak mama!”
Loh! Kok tiba-tiba ada mereka?!
“Gia…”
“Ka…Kakek?!”
“*Phuk… (suara berpelukan)”
“Hati-hati, ya. Kakek bangga sama
kamu.”
“Ya, kakek!”
Bahkan kakeknya juga ada—
““Myllo!””
“Bang Myllo!”
“Wuoaaah! Göhran, Rakhzar,
Yssalq, sama Bismont!”
Dan nggak mereka doang!
Semua orang-orang yang kita kenal
pada ngumpul di dermaga ini!
“Djinn.”
“Luph.”
“…”
Dia ngasih tangannya.
“*Phak… (suara berjabat tangan)”
“Seneng bisa kenal lo.”
“Ya, makasih juga karena—”
“Djinn, gue…mau minta tolong.”
Mm? Minta tolong?
“Sebenernya…sebelum ambil Quest
Privat dari Dahlia, gue dapet kabar kalo gue punya anak dan dia jadi
Petualang.”
“!!!”
Dia punya anak?!
“Kalo lo ketemu, tolong sampein
aja ke dia, kalo gue bapaknya.”
“Nama anak lo?”
“Luphius Sliceros. Mau kan
tolongin gue?”
“Ya.”
Cuma nyampein salam aja, kan?
Gitu aja sih, gue bisa.
“Hati-hati ya, Dalbert.”
“Dadah, Kakak Dalbert!”
“Ya kak, Dalton.”
““*Phuk… (suara berpelukan)””
Padahal udah nggak ketemu selama
10 tahun, tapi Dalbert harus ikut kita Petualang.
“Kang Bismont, tolong sampaikeun atuh, ya?!”
“Ya. Nanti gue sampein ke keluarga lo, Bang Garry.”
Bismont ternyata lumayan akrab
sama Garry, bahkan mau sampein kabar ke keluarga Monster-nya.
““Mama…””
“Anak-anak. Inget pesan mama,
kan?!”
““Jadi anak yang baik. Dengew kata-kata kakek uyut.””
“Hihi! Mama sayang kalian!”
““Kita cayang mama!””
Ternyata Gia tinggalin mereka di
sini, ya?
“Halo, Kapten Aquilla!”
“Hehe! Phonso!”
“Semoga jadi Kapten yang keren
ya, Myllo?!”
“Ya! Tunggu gue di puncak
ranking!”
Hmph! Keliatan banget mereka
kayak abang adek!
“OK, semua! Ayo kita berangkat
sekarang!”
““Ya, Kapten!””
Akhirnya kita berangkat dari
negara ini.
““Dadah!””
““Hati-hati kalian!””
““Selamat berpetualang!””
““!!!””
Te…Ternyata nggak cuma orang-orang
yang kita kenal aja!
“My…Myllo! Mereka!”
“Hehe! Warga Erviga!”
Bahkan warga pun ikut pamit sama
kita!
Yang bisa kita lakuin cuma…
““Ahahahaha!!!””
…ketawa doang.
““Ruoaaaar!””
Ada Naga?!
“Oh! Itu Göhran, Rakhzar, sama
Yssalq!”
“Teh Yssaaaaalq! *Aing*teh ka—”
“Garry! Kamu mau ditinggal?!”
“Ng…Nggak, Teh Gia!”
Dia masih sempet-sempetnya kangen
sama—
““*Boom! (suara banyak kembang
api)””
““Wuoaaah…””
Ternyata nggak cuma buat bakar
orang doang ya semburan api mereka berdua.
Bisa jadi kembang api juga!
“Hehehe! Perpisahan kita udah
keren! Artinya kita harus semangat untuk pergi ke Vamulran Kingdom!”
“Ya! Kamu bener Myllo!”
“Hehehe…*aing*teh nggak
sabar ketemu Elf geulis!”
“Vamulran, ya? Pertama kalinya
nih gue ke sana!”
Ya. Perjalanan kita semua udah selesai
di Erviga.
Walaupun gue ngejauhin Vamulran, tapi wilayah
itu jadi yang wilayah kedua yang gue samperin!
“Sebelum kita jalan lebih jauh…”
““Mm?””
“Sebut sekeras-kerasnya mimpi
kalian!”
Hah? Mimpi?
Maksudnya a—
“*Brak! (suara menghentak kaki)”
“GUE PASTI JADI PETUALANG NOMOR
SATU DI DUNIA!!!”
Oh, kayak gitu?!
“*Brak! (suara menghentak kaki)”
“AKU PASTI JADI FRONTLINER NOMOR
SATU DI DUNIA!!!”
“*Brak! (suara menghentak kaki)”
“*AING*TEH PASTI KETEMU SAMA KANG WILFRIED!!!”
“*Brak! (suara menghentak kaki)”
“GUE PASTI BERHASIL TEMUIN
PEGASUS!!!”
““…””
Tinggal gue ya?
“*Brak! (suara menghentak kaki)”
“GUE PASTI BERHASIL KELILINGIN
SELURUH GEOTERRA!!!”
““Ahahahaha!””
Kita berlima ketawa doang,
sebelum jalan jauh dari Erviga.
Kira-kira, negara macem apa lagi
ya abis kita pergi dari sana?!
Satu hal yang pasti…
Akhirnya gue bener-bener keliling
dunia!