Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 151. Set Sail



Kita semua baru aja resmi


terbentuk sebagai anggota Aquilla.


“OK semuanya! Ayo kita Pesta


besar-besaran!”


““Yaaa!””


Sekarang udah agak malem. Bahkan


Guild Petualang ini udah agak sepi.


Makanya itu, kita semua langsung


ke kedai paling deket dari Guild ini.


Kita masih jalan, sambil


telefonan bareng Luvast.


Sampe kita di dalem…


“*Kriiieekk… (suara pintu


terbuka)”


“Bos! Kita mau pesta besar!”


“OK, Myllo! Saya siapin dulu!”


Eh buset! Main ngomong gitu aja!


“Woy, Myl! Jangan boros!”


“Bawel! Uang kita masih ba—”


“Tenang aja, kalian semua! Untuk


pahlawan Erviga, pasti bakal gratis!”


““SE…SERIUSAN?!?!””


“Hehe! Tenang aja!”


Nih kepala kedainya…


Harusnya mereka lagi agak


bangkrut kan karena serangan Kaum Naga?!


“Ah! Zorlyan! Ketemu lagi kita!”


“Myllo! Lo ke mana aja?! Padahal


gue tungguin di sana!”


Ohh ternyata mereka emang


janjian?!


“Gimana?! Lo udah dapet status


Leader, belom?!”


“Hehe! Udah dong! Lo gimana?!”


“Gue juga udah dapet!”


““Ahahaha!””


Hah?! Zorlyan juga dapet?!


Emangnya siapa anggota kelimanya?!


“Bos! Lo dari—”


“Haaaah! Kok lo masih panggil gue


Bos, sih?! Kan BBE udah bubar!”


A…Ada Alethra yang duduk bareng


Andromeda?!


Jangan-jangan—


“HAAAAAAAAH?!?! ANGGOTA KELIMA LO


TUH ADEKNYA MIRAELA?!?!”


“Lo bener, Myllo.”


Eh! Ada Miraela!


Kaget gue!


“*Tung… (suara memukul kepala)”


“Aw!”


“Adek gue ini sebenernya bisa


ajuin banding waktu di pengadilan, tapi dia tetep mau jadi Petualang!”


“Ahahaha! Emangnya lo dapet peran


apa?! Kasta apa?!”


“Frontliner Kasta Biru…”


Kasta Biru juga, ya?


Sama kayak Dalbert, dong?


“Ini makan-minumnya!”


“Wuhuuu!”


Abis itu kita makan-makan bareng


untuk resmiin Aquilla versi kita, sekaligus resmiin Garry sama Dalbert.


Beda kayak sebelum-sebelumnya,


Myllo nggak misah dari kita semua.


Dia yang biasanya banyak cerita


ke orang-orang tentang Sylvia, sekarang lebih banyak ngabisin waktunya di sini.


“Inget…kalian semua…hicc!


Djinn itu…rekrutan pertama gue…”


“Te…Terus?”


“Ma…Makanya…dia ini…Wakil Kapten


Aquilla…hicc!”


Semua sih keliatannya


terima-terima aja. Tapi…


“Dal, lo nggak apa-apa?”


“Maksud lo?”


“Kan lo dulunya pemim—”


“Nggak apa-apa. Emang gue mantan


pemimpin bandit, tapi gue sekarang Petualang. Makanya itu gue harus hormatin


Kapten gue sekarang. Bener kan, Myllo?”


Oh, untung aja dia terima.


“Hehe… Keren juga omongan lo…hicc…Dalbert!”


“Ja…Jangan puji-puji gue!”


““Ahahaha!””


“Kalian pada ketawa, lagi!”


Oh ya. Ada yang harus gue


sampein, walaupun ngerusak momen ini.


Tapi aman nggak ya ngomong seka—


“Djinn?”


“Mengapa kau terlihat murung, saudaraku?”


““…””


Keliatan ya gue lagi kepikiran


sesuatu?


“Djinn, Djinn, Djinn…”


“Kenapa?”


“Jelasin aja ke kita. Kalo emang


nggak enak di denger, kita semua siap, kok. Ya nggak, kalian semua?!”


“Ya. Aku siap.”


“Aku juga.”


“*Aing*teh siap.”


“Hmm.”


Haaaaah… Yaudah deh kalo mereka


maksa.


“Semuanya, maaf kalo gue ganggu momen


ini. Semoga aja kalian siap untuk denger penjelasan gue.”


““Mm?””


Gue ceritain ke mereka tentang


High Elf yang nyamar jadi Konnor.


“Ti…Tidak mungkin. Artinya…”


“Ya. Bahkan bisa aja kita


sekarang lagi disadap. Andai gue bisa bilang dari awal. Gue cuma nggak mau


ngerusak momen seneng-seneng kita.”


““!!!””


Semuanya pada kaget. Nggak cuma


kaget, mereka juga ada yang kesel sama sedih.


Khususnya, Myllo.


“Luvast. Sekarang lo ada di


mana?”


“Aku sedang berada di Bachinne


Federation, Myllo. Sebentar lagi aku akan pergi menuju Makhenvi Empire untuk


melakukan perjalanan via teleportasi, menuju Kontinen Tenggara yang berada di


Arschtein Empire.”


“OK. Kalo gitu, Hati-hati, ya.”


“Baik, Kap—”


“Sampe ketemu di Vamulran Kingdom!”


““!!!””


Vamulran Kingdom?!


“Djinn. Gue tau kalo lo nggak mau


nyentuh keluarga lo lagi. Tapi ini demi Luvast. Seenggaknya lo mau, kan?”


Jawaban gue sih nggak,


sebenernya.


Tapi…


“Ya. Gue nggak masalah.”


“Djinn…maafkan a—”


“Jangan minta maaf. Semua bukan


salah lo, Vast.”


“…”


Sebenernya gue nggak mau ngakuin,


tapi gue yakin kalo gue ujung-ujungnya pasti ke Vamulran lagi.


“Luvast. Mungkin ini terakhir


kalinya kita ngobrol via Orb Call.”


“Ya. Aku mengerti.”


Dia keliatan gemeteran dari Orb


Call ini.


“Semuanya. Sebelum kita tutup, ada


yang mau kalian sampain ke Luvast?”


“Aku, Myllo.”


Gia sampein salam dia ke Luvast


lewat Orb Call ini.


“Luvast! Semangat, ya! Sampe


ketemu lagi! Semoga kamu nggak kenapa-kenapa!”


“Ya. Sampai bertemu lagi, Gia.”


Kata-kata Gia mungkin singkat,


tapi gue yakin ada hal lebih dari salam mereka berdua. Karena gue tau kalo


cewek itu punya pandangan yang beda tentang kejadian ini.


“Garry, Dalbert, gue tau kalo


kalian ini baru kenal Luvast, bahkan kalian pun nggak pernah ketemu langsung.


Kira-kira, ada yang mau disampein ke dia?”


“*Aing*teh…cuma bisa bilang


hati-hati. Semoga teh kita bisa ketemu, Teh Luvast.”


“Hmm. Gue tau sih gimana rasanya


ada masalah keluarga. Tapi gue yakin kalian berdua bakal baik-baik aja. Sampe


ketemu.”


“Terima kasih Garry, Dalbert.”


“…”


Myllo ngeliatin gue, pertanda


kalo gue harus sampein sesuatu ke dia.


“Kita ketemu di Vamulran, kan?


Kalo gitu…hati-hati ya, jangan lupa salam buat kakek.”


“Baiklah, Djinn.”


“…”


Myllo diem aja.


Mungkin gue sodaranya Luvast,


tapi Myllo itu Kapten dia. Mungkin dia punya cara sendiri untuk ngomong ke


Luvast.


“Hehe, Luvast!”


“Y…Ya?”


“Kalo kita ketemu lagi, sapa kita


pake senyuman, ya?!”


“Ya, Myllo! Aku berjanji!”


Gue awalnya kaget kenapa dia bisa


ketawa, tapi gue yakin itu semua supaya kita nggak murung.


“OK! selesai kita ngobrol, gue


mau lo hancurin Orb Call itu, Luvast!”


“Baiklah. Sampai bertemu


kembali, rekan-rekanku sekalian.”


““Ya!””


Kita selesai ngobrol bareng


Luvast.


“*Chrang… (suara Orb Call pecah)”


…Myllo pecahin Orb Call kita ke


Luvast.


“Myllo, jadinya kita gimana?”


“Ayo kita siap-siap untuk


berangkat dari negara ini.”


Siap-siap berangkat?!


Tapi—


““OK, Kapten!””


Eh?! Kok—


“Djinn, ada masalah?”


“Ng…Nggak sih. Tapi bukannya


nggak bisa berangkat malem?”


“Tenang aja, Djinn! Transportasi


kan buka setiap detik!”


Oh gitu…


“Ayo kita siap-siap berangkat!”


““Ya!””


Akhirnya kita siap-siap


berangkat.


Kita balik ke penginapan kita,


kecuali Dalbert.


Siap-siapnya cuma butuh dua jam,


sebelum kita berangkat.


Kita pun akhirnya ketemuan sama


Dalbert di dermaga.


Masalahnya…


“Ki…Kita berangkatnya pake


kapal?”


“Iyalah! Emangnya kamu mau naik


apa?!”


…gue agak nggak berani naik kapal.


Semuanya karena satu hal.


Gue hampir mati tenggelam untuk


kedua kalinya di laut.


Bahkan kalo gue inget-inget lagi, waktu itu gue sebenernya


agak nggak sadar waktu lompat ke kapal untuk tolongin Styx.


“Djinn! Jangan bilang lo takut


naik ka—”


“Gi…Gia! Kenapa nggak naik


anak-anak lo a—”


“Eh! Kurang ajar kamu, Djinn!


Emangnya anak-anak aku itu cuma sekedar transportasi?!”


Percuma dong punya anak Naga tapi


nggak bisa—


““Mama!””


“Kyaaa! Anak-anak mama!”


Loh! Kok tiba-tiba ada mereka?!


“Gia…”


“Ka…Kakek?!”


“*Phuk… (suara berpelukan)”


“Hati-hati, ya. Kakek bangga sama


kamu.”


“Ya, kakek!”


Bahkan kakeknya juga ada—


““Myllo!””


“Bang Myllo!”


“Wuoaaah! Göhran, Rakhzar,


Yssalq, sama Bismont!”


Dan nggak mereka doang!


Semua orang-orang yang kita kenal


pada ngumpul di dermaga ini!


“Djinn.”


“Luph.”


“…”


Dia ngasih tangannya.


“*Phak… (suara berjabat tangan)”


“Seneng bisa kenal lo.”


“Ya, makasih juga karena—”


“Djinn, gue…mau minta tolong.”


Mm? Minta tolong?


“Sebenernya…sebelum ambil Quest


Privat dari Dahlia, gue dapet kabar kalo gue punya anak dan dia jadi


Petualang.”


“!!!”


Dia punya anak?!


“Kalo lo ketemu, tolong sampein


aja ke dia, kalo gue bapaknya.”


“Nama anak lo?”


“Luphius Sliceros. Mau kan


tolongin gue?”


“Ya.”


Cuma nyampein salam aja, kan?


Gitu aja sih, gue bisa.


“Hati-hati ya, Dalbert.”


“Dadah, Kakak Dalbert!”


“Ya kak, Dalton.”


““*Phuk… (suara berpelukan)””


Padahal udah nggak ketemu selama


10 tahun, tapi Dalbert harus ikut kita Petualang.


“Kang Bismont, tolong sampaikeun atuh, ya?!”


“Ya. Nanti gue sampein ke keluarga lo, Bang Garry.”


Bismont ternyata lumayan akrab


sama Garry, bahkan mau sampein kabar ke keluarga Monster-nya.


““Mama…””


“Anak-anak. Inget pesan mama,


kan?!”


““Jadi anak yang baik. Dengew kata-kata kakek uyut.””


“Hihi! Mama sayang kalian!”


““Kita cayang mama!””


Ternyata Gia tinggalin mereka di


sini, ya?


“Halo, Kapten Aquilla!”


“Hehe! Phonso!”


“Semoga jadi Kapten yang keren


ya, Myllo?!”


“Ya! Tunggu gue di puncak


ranking!”


Hmph! Keliatan banget mereka


kayak abang adek!


“OK, semua! Ayo kita berangkat


sekarang!”


““Ya, Kapten!””


Akhirnya kita berangkat dari


negara ini.


““Dadah!””


““Hati-hati kalian!””


““Selamat berpetualang!””


““!!!””


Te…Ternyata nggak cuma orang-orang


yang kita kenal aja!


“My…Myllo! Mereka!”


“Hehe! Warga Erviga!”


Bahkan warga pun ikut pamit sama


kita!


Yang bisa kita lakuin cuma…


““Ahahahaha!!!””


…ketawa doang.


““Ruoaaaar!””


Ada Naga?!


“Oh! Itu Göhran, Rakhzar, sama


Yssalq!”


“Teh Yssaaaaalq! *Aing*teh ka—”


“Garry! Kamu mau ditinggal?!”


“Ng…Nggak, Teh Gia!”


Dia masih sempet-sempetnya kangen


sama—


““*Boom! (suara banyak kembang


api)””


““Wuoaaah…””


Ternyata nggak cuma buat bakar


orang doang ya semburan api mereka berdua.


Bisa jadi kembang api juga!


“Hehehe! Perpisahan kita udah


keren! Artinya kita harus semangat untuk pergi ke Vamulran Kingdom!”


“Ya! Kamu bener Myllo!”


“Hehehe…*aing*teh nggak


sabar ketemu Elf geulis!”


“Vamulran, ya? Pertama kalinya


nih gue ke sana!”


Ya. Perjalanan kita semua udah selesai


di Erviga.


Walaupun gue ngejauhin Vamulran, tapi wilayah


itu jadi yang wilayah kedua yang gue samperin!


“Sebelum kita jalan lebih jauh…”


““Mm?””


“Sebut sekeras-kerasnya mimpi


kalian!”


Hah? Mimpi?


Maksudnya a—


“*Brak! (suara menghentak kaki)”


“GUE PASTI JADI PETUALANG NOMOR


SATU DI DUNIA!!!”


Oh, kayak gitu?!


“*Brak! (suara menghentak kaki)”


“AKU PASTI JADI FRONTLINER NOMOR


SATU DI DUNIA!!!”


“*Brak! (suara menghentak kaki)”


“*AING*TEH PASTI KETEMU SAMA KANG WILFRIED!!!”


“*Brak! (suara menghentak kaki)”


“GUE PASTI BERHASIL TEMUIN


PEGASUS!!!”


““…””


Tinggal gue ya?


“*Brak! (suara menghentak kaki)”


“GUE PASTI BERHASIL KELILINGIN


SELURUH GEOTERRA!!!”


““Ahahahaha!””


Kita berlima ketawa doang,


sebelum jalan jauh dari Erviga.


Kira-kira, negara macem apa lagi


ya abis kita pergi dari sana?!


Satu hal yang pasti…


Akhirnya gue bener-bener keliling


dunia!