Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 125. Dreadful Escape



Hmm…


Emang sih kita bisa bebasin


tahanan-tahanan ini.


Tapi…


“Brengsek! Lo bandit yang bunuh


rekan gue!”


“Lo juga brengsek! Kalo nggak


karena temen lo, mungkin temen gue masih hidup!”


…semua jadi kacau.


Nggak gue sangka, ternyata


komplotan bandit ini malah berantem sama beberapa Petualang yang ada di sini.


Bahkan…


“Dasar landak! Gara-gara lo—”


“Apa lo bilang?! Dasar kadal


sialan!”


…Zorlyan, yang sensitif sama hal


rasis, juga berantem sama salah satu bandit.


Tapi untungnya bandit sama


Petualang doang yang ribut. Karena Monster-Monster yang tinggal di hutan juga


nggak ngerti mereka ngomongin apa.


Masalahnya, mereka justru


ketakutan sama beberapa Monster yang ternyata jadi anggota bandit!


“Kenapa kalian diem aja!”


““Hiiieekh!””


Sumpah, gue nggak nyangka bisa


sekacau ini!


Apalagi…


“…”


…gue harus bawa Yssalq yang masih


belom sadar!


“Luph, kita harus gimana?!”


“…”


Nih orang kenapa diem a—


“*DHUM!!! (suara keras tekanan


aura)”


Bu…Buset! Nggak ada aba-aba,


tiba-tiba berasa banget auranya!


“Diem lo semua, dasar lemah!”


““…””


“Masih untung dibebasin, kalian


malah berantem!”


Waw.


Mungkin ini pertama kalinya gue


liat dia semarah ini.


“Denger gue baik-baik! Yang masih


mau berantem, mending lawan gue dulu!”


Waw…


Dia bahkan rela untuk korbanin


dirinya demi mereka semua.


“…”


Lah! Masih ada yang berani maju?!


“Gu…Gue mungkin takut, tapi gue


nggak terima kalo—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Buset, sekali pukul aja langsung keok.


“Denger lo semua, korban rasis!”


““…””


“Kalian semua bisa kan hargain


ras selain ras kalian?!”


““…””


Mereka diem aja waktu ditanya


Lupherius.


Tapi gue ngerti sih maksud dia


nanya itu apa.


“Gu…Gue bisa. Lagian temen gue


juga ada yang Manusia.”


“Bo…Bos kita para bandit ini juga


Manusi—”


“Kalo kalian bisa hargain ras


lain, kenapa kalian nggak bisa hargain kelompok lain?!”


““…””


Tuh kan, pasti itu maksud dia.


“Gue nggak peduli! Mau lo bandit,


kek! Mau lo Petualang, kek! Intinya tujuan kita satu! Keluar dari tempat ini,


sekaligus serang semua yang hadang jalan kita! Paham?!”


““Ya.””


“Gue ngomong gitu juga termasuk


untuk kalian yang masih mau berantem satu sama lain! Paham?!”


““Paham!””


Gila.


Langsung pada takut dong sama


aki-aki satu ini.


“Yaudah, Luph. Mending kita jalan


sekarang aja.”


“OK. Ayo kita keluar tempat ini!”


““YA!””


Ujung-ujungnya pada mau hargain


perbedaan antar grup.


Sambil lari keluar dari


Penampungan ini, gue ngobrol-ngobrol bareng Alethra, adeknya Miraela.


“Maaf sebelumnya, tapi gue nggak


nyangka kalo lo itu juga bandit.”


“…”


Di…Dia diem aja.


“Oh iya, Miraela cerita. Katanya


lo dulu ditangkep bandit, kan?”


“Iya. Dia bener.”


“Terus kenapa lo—”


“Orang yang nyelamatin gue juga


bandit. Makanya gue ikut jadi bandit bareng dia.”


“Oh…gitu ya…”


Duh, gue jadi serba salah


nanya-nanya lagi ke dia.


Keliatannya gue udah nggak perlu


tanya-tanya la—


“Apa? Mau nanya-nanya lagi?”


Loh…


Gimana gue mau nanya kalo lo


sejutek itu?!


“Ada sih—”


“Buruan tanya! Karena gue risih


sama orang yang bunuh temen-temen gue!”


“Haaaaah?!”


Temen-temen dia?!



OH!


Dia ini komplotan bandit yang


nyerang gue sama Joint Party gue juga, ya?!


Haduuuh…


Kalo nggak karena kita lagi mau


pergi secepetnya dari sini, mungkin udah gue udah cek-cok kali sama cewek ini!


“Jadi, apa yang mau lo tanya?!”


“Nggak sih, cuma mau ngasih tau


aja kalo dia percaya kalo lo masih hidup. Makanya itu dia masih nungguin lo.”


“…”


Dia diem aja waktu gue—


“Tahan dulu, semuanya!”


““…””


Kenapa Lupherius nyuruh kita


berhenti bergerak?


““*Drap, drap, drap… (suara


langkah pasukan ksatria)””


Oh, ada yang dateng ya?


“Hehe! Mereka cuma ada sepuluh!


Sedangkan kita ada ratusan!”


“Ayo lawan mere—”


“Tunggu—”


“*SWUSH! (suara ayunan pedang)”


“Semua! Hati-ha—”


““*Shrak! (suara banyak korban


tertebas)””


““Aaaargh!””


Gi…Gila kali!


Salah satu ksatria itu ayunin


pedang, sampe muncul bilah gitu! Bahkan sekali ayunan pun, udah puluhan orang


yang kena!


Untung aja gue berhasil hindarin


duluan!


“Royal Knights, ya?”


Royal Knights?


Apaan itu?


“Mereka Royal Knights?!”


“Artinya…kita serasa ngelawan 10 Petualang Kasta Merah, dong?!”


HAH?!


Gila! Mereka sekuat itu?!


“Djinn, lo yang bawa mereka?”


“Hah?! Terus lo—”


“Biar gue yang tahan beberapa di


sini.”


“OK.”


Akhirnya, Lupherius nggak ikut


kita karena harus ngelawan mereka semua di sini.


Walaupun gitu, tetep ada yang


ngejar kita!


Kalo pun cuma ada 5 Royal Knights


yang ngejar, gue nggak boleh ngeremehin mereka!


““*Swush! (suara berlari cepat)””


Kita harus cepet-cepet keluar


dari tempat ini!


“*Shrak! (suara tebasan)”


“Argh!”


““*Shrak! (suara banyak


tebasan)””


““Aaargh!””


Brengsek!


Tahanan yang ada di belakang jadi


pada kena tebas sama para Royal Knight itu—


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Wah, anjing!


Kaget gue tiba-tiba ada yang di


depan gue!


duluan, sebelum diserang orang ini!


“*Prang! (suara besi terpukul)”


“Aw!”


Buset! Kok helm yang dipake


Ksatria itu keras banget?!


“Cih! Bener ya!”


“Apaan?!”


“Baju zirah yang dipake Royal


Knights itu setara Kulit Naga!”


Kulit Naga?!


Emang sih tangan gue juga sakit,


waktu gue pukul Rakhzar.


Tapi dibandingin baju zirah Royal


Knights ini, bahkan Kulit Naga pun nggak ada apa-apanya!


“Menyerahlah kalian semua! Atau


kalian semua lebih memilih mati?!”


Menyerah atau mati?


“Kalo kita nyerah, ujung-ujungnya


juga mati, kan?!”


“…”


Ya, pastinya.


Makanya itu, bukan waktunya


sekarang untuk nyerah—


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Cepet banget gerakannya!


“*Prang! (suara memukul besi)”


Sakit banget tangan gu—


“*Swung! (suara ayunan pedang)”


“…”


Untung gue berhasil hindarin


pedangnya!


Kalo gitu…


“Judgment!”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“…”


Cih! Petir gue juga nggak


mempan?!


“Menyerahlah, Petualang!”


“Hah?! Kenapa gue harus nye—”


“Lihatlah yang berada di belakang


anda!”


Belakang gue?!


“*Shrak! (suara tebasan)”


“Akh!”


“Si…Sialan! Gue nggak bisa—”


“*Shruk! (suara tusukan pedang)”


“…”


Gila.


Dari 138 tahanan yang gue bawa,


sekarang cuma sisa 29 aja?


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


Brengsek!


Gue kesel banget!


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“A…Anda harus mati—”


“*Prang! (suara memukul besi)”


Kalo emang nggak bisa dipukul


sekali, artinya mereka harus dipukul berkali-kali!


“*Prangprangprangprang… (suara


memukul besi tanpa henti)”


Bener, kan?!


Ternyata mereka harus digepengin!


“Bu…Bunuh pria itu!”


“…”


Ayo!


Semua ke gue!


Karena semua Royal Knight ini


udah fokus ke gue, kira-kira semuanya udah aman!


“Lo semua! Bawa cewek ini


(Yssalq)! Pergi dari tempat ini!”


““Ya!””


Semua tahanan yang sisa udah


lari.


“Sa…Saya akan mengejar mereka!”


“Saya ju—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“LO PADA MAU KABUR?! KSATRIA


DOANG TAPI BANCI!”


““…””


OK. Mereka sekarang bener-bener


fokus ke gue!


“Hraaa—”


“*Hup! (suara mengangkap tangan)”


Bagus! Gue tangkep tangan dia!


“*Crrrat! (suara menarik lengan


hingga lepas)”


Tangan dia udah putus.


Kalo gitu, gue cuma perlu…


“*Shrak! (suara memenggal


kepala)”


“…”


…ambil pedangnya untuk tebas


lehernya!


““…””


Ngalahin dua di antara mereka aja


udah bikin mereka gemeteran?!


“Ayo! Maju lawan gue!”


““…””


Kenapa mereka diem aja—


“*Vwumm… (suara kobaran api)”


“!!!”


Mereka bertiga tiba-tiba ada


sayap sama tanduk?!


Brengsek! Mereka juga bahan


eksperimennya Siegfried, ya?!


“*Vwumm! (suara ayunan pedang


berapi)”


“!!!”


Padahal tadi gerakan mereka aja


udah cepet!


Sekarang jadi lebih cepet!


Tapi…


“Judgement: Multi-Charge!”


““*Jgrumm! (suara banyak kilatan


petir)””


““*Boom! (suara banyak ledakan)””


““Urgh…””


…karena pedang mereka yang


berapi, gue jadi punya kesempatan untuk bikin ledakan pake petir gue!


OK! Waktunya maksimalin


kesempatan!


“Hraaagh!”


“*PRANG! (suara memukul besi


dengan keras)”


“Akh…”


“*PRANG! (suara menendang besi


dengan keras)”


“…”


OK, udah dua yang—


“*Shrum! (suara tertusuk pedang


berapi)”


“Argh!”


Panas banget pedang api ini!


“*Tap… (suara memegang helm)”


Bahkan helmnya panas banget!


“Urgh…huff…”


Ayo, lo harus bisa, Djinn!


“HEAAAAGH!!!”


“*Krang! (suara besi menjadi


pipih)”


“*Crat…”


Huh!


Untungnya gue masih bisa gepengin


kepala Royal Knight yang terakhir!


“…”


Untungnya api di badan sama


tangan gue ilang.


Lobang di badan gue yang ketusuk


pedang api tadi juga udah ketutup.


Yang pasti, untungnya gue belom


ngantuk.


“…”


Mana gue masih ada sisa separoh.


Kalo gitu, waktunya gue balik ke


tahanan-tahanan tadi!


……………


Waktu gue sampe nyusul mereka


semua…


“Huff…Huff…”


“Cih!”


Ternyata masih ada Royal Knight


di depan mereka!


Bahkan Zorlyan sama Alethra pun


luka-luka!


Apa gue harus turun tangan la—


“*Brrr…”


Hm? Kok atapnya—


“*Bruk! (suara atap terjatuh)”


“!!!”


Tunggu! Mereka itu kan—


“Siapa kalian berdu—”


“*Chruk! (suara tertusuk


cakaran)”


“Akh…akh…”


Ya. Cakarnya itu cakar Naga.


“Göhran!”


“Djinn?!"


Tuh kan, pasti dia Göhran.


Tapi dia sama siapa tuh?