Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 425. Familiar Scents



Pertunjukan terbesar yang ada di Chaoseum telah dimulai.


“GRUAAAGH!!!”


“*BRUK!!!”


“H-Hati-hati dengan Cyclops itu! Serangannya yang secara asal tidak dapat saya prediksi!”


“Gue juga tau! Masalahnya kita nggak ada yang bisa serangan jarak jauh, kecuali Zorlyan! Makanya serahin aja pertahanan kita lewat gue sama Gia!”


Myllo dan anggotanya, serta beberapa anggota Andromeda dan Lynx harus menghadapi Goliath The Cyclops, yang kesadarannya diambil alih oleh Zophiel.


“*Dor, dor, dor!”


“*Prang!”


“Cih! Ternyata mereka juga banyak ya di bawah sini!”


“Gue kira semua anggota Leo lagi ngejar kita, bos—M-Maksud gue, Dalbert!”


Dalbert, Alethra, Paul, dan Awva, berusaha untuk membebaskan seluruh Petualang yang terpenjara di Lapisan Bawah. Tetapi jalan mereka dihadang oleh puluhan anggota Leo.


Kali ini adalah kejadian di mana kedua mantan bandit itu bertemu bersama kembali, sebelum pertunjukan dimulai.


……………


“Itu mereka! Jangan biarin mereka lolos!”


“Ayo kita kejar mereka!”


Beberapa anggota Leo berhasil menemukan Paul dan Petualang lainnya yang melarikan diri dengan dibawa oleh Machinno.


“Cih! Kenapa cepet banget ketauannya!”


“Pasti ada waktunya kita ketauan!”


“Tapi kenapa secepet ini ketauannya!”


“Haaaah! Bawel banget sih lo, Paul?!”


Seru Evri dengan geram karena harus mendengar keluhan Paul.


“Kita harus berpencar! Supaya mereka kewalahan ngejar kita!”


“Berpencar?! Tapi kan mereka ada banyak—”


“Gue setuju! Kalo gitu mending kita mencar aja sekarang!”


Seru Evri yang setuju dengan Alethra, tanpa memperdulikan Paul.


Dengan begitu, mereka pun berpencar menjadi dua kubu.


“Woy! Mereka berpencar!”


“Lapor! 9 Petualang yang kabur dibagi jadi dua! Ada yang pergi ke arah barat daya, ada juga yang pergi ke arah barat!”


“OK! Beberapa anggota Leo udah ada di wilayah barat!”


“Kita juga udah ada di wilayah barat daya!”


Dengan adanya laporan dari Orb Call, seluruh anggota Leo bergegas untuk mencegat Paul dan rekan-rekannya.


“Cih! Udah gue bilang kan?! Pasti salah kalo kita berpencar kayak gini?!”


Seru Paul dengan kesal karena adanya beberapa anggota Leo yang siap mencegatnya bersama Alethra dan Awva.


“*Chring, chring, chring…”


Paul menggunakan kapaknya untuk menyerang salah seorang anggota Leo. Tetapi serangannya terus ditahan


menggunakan pedang dari pria yang ia lawan.


“*Shrak!”


“Akh…!”


Berbeda dengan Awva, yang mampu menggunakan dua pedangnya untuk membunuh seorang anggota Leo dengan cepat.


“Woy! Katanya Striker! Kok lama banget sih lawan yang kayak gitu aja?!”


“Bawel lo! Yang gue lawan itu—”


“Minggir!”


“*Prang!”


“Aaargh!”


Alethra langsung mengalahkan anggota Leo yang Paul lawan dengan pedang besarnya.


Walaupun telah membantunya, Paul justru merasa kesal dengan Alethra.


“Woy, Elf Sialan! Kok lo kalahin dia! Kan harusnya—”


“Bawel lo, Monster! Bukan waktunya kita—”


“*Shringg…”


“…”


Awva tiba-tiba menghunuskan pedangnya pada leher Alethra.


“Denger gue baik-baik, Elf!”


“Hah?! Lo kan juga Elf—”


“Yang boleh ngatain dia kayak gitu, cuma gue sama anggota Lynx lainnya!”


“Woy, Awva—”


“Gue nggak bisa maafin orang yang ngatain temen gue seenaknya kayak gitu!”


“A-Awva…”


Walaupun pada awalnya tidak terima dengan apa yang Awva katakan, namun Paul memahami Awva yang sama kesalnya dengan apa yang Alethra katakan.


“Ya, ya, ya. Maafin gue. Lagian temen gue dulu juga ada banyak Monster Intelektual kok.”


Balas Alethra, dengan maksud untuk menghentikan pertikaian di antara mereka.


“Liat tuh! Mumpung mereka lagi berantem, mending kita hajar mereka semua!”


““Ya!””


““…””


Paul, Alethra, serta Awva, menyaksikan kedatangan puluhan anggota Leo lainnya yang hendak menghentikan mereka.


“Cih! Bego banget sih lo, Evri! Lo langsung setuju sama Elf Buntung ini gara-gara suka sama dia kan?!”


Pikir Paul dengan kesal, sebelum menghadapi seluruh anggota Leo di hadapannya bersama Alethra dan Awva.


Sementara itu, Evri dan Mahadia, yang juga harus menghadapi anggota Leo yang ada di hadapannya.


((Rock Blast))


“*Bruk!”


““Uaaargh!””


Evri menggunakan sihirnya dengan menciptakan sebuah batu besar, yang dilesakkan menuju beberapa anggota Leo.


Tetapi serangannya tidak mampu mengalahkan anggota Leo lainnya, yang masih bertahan batu ciptaannya.


((Switch Blade))


“*Cyung!”


“Loh! Kok tiba-tiba cewek ini ada di depan—”


““*Shrak!””


““Aaaargh!””


Beruntung ada Mahadia, yang menggunakan sihirnya untuk menukar keberadaan dirinya dengan batu ciptaan Evri, sehingga ia mampu memangkas jarak dengan anggota Leo dengan cepat dan langsung mengalahkan mereka semua dengan kedua belatinya.


“Woy! Lo itu Observer kan?!”


“…”


“Lain kali pake aba-aba dong kalo mau nyerang!”


“…”


“Woy, sialan! Jangan diem aja dong—”


“Aaaargh! Kenapa lo yang harus ikut gue?!”


Tanya Evri setelah terdiam dari teguran Mahadia.


“Hah?! Apa maksud lo?!”


“Padahal gue mau berduaan sama temen lo yang Elf itu! Kenapa dia malah ikutin Paul?!”


“Sialan lo! Kenapa malah protes soal itu?!”


“Bawel! Namanya juga suka, emang apa salahnya—”


“*Bruk!”


“…”


Ketika lagi berdebat dengan Mahadia, tiba-tiba ada yang menyerang Evri dari belakang. Beruntung ia mampu menghindari serangan itu.


“Cih! Ngapain lo tiba-tiba…”


“*Shrak!”


“Akh…!”


“…nyerang gue, sialan?!”


Seru Evri dengan kesal, sambil menyayat leher dari anggota Leo yang menyerangnya.


“Woy! Terus kita harus gimana?! Mereka masih banyak banget!”


“Gue juga nggak tau! Mau nggak mau, kita cuma bisa ngalahin mereka semua!”


“Tapi masih ada puluhan dari antara mereka! Belom lagi kalo Executioners dateng!”


“…”


Evri tidak membalas perkataan Mahadia. Ia sama bingungnya dengan Mahadia, ketika masih ada puluhan anggota Leo di hadapannya.


Namun tidak lama setelah itu, bala bantuan datang.


“*Vwumm, vwumm, vwumm…”


““Uaaargh!””


““!!!””


Evri dan Mahadia terkejut dengan adanya puluhan panah berapi yang membakar banyak anggota Leo di hadapan mereka.


““Hraaaagh!””


“*BWUNG!!!”


““!!!””


Mereka berdua kembali dikejutkan dengan adanya pelindung transparan yang melindungi mereka dari serangan beberapa anggota Leo.


“Maaf kalo kita telat!”


“Lo itu…”


“Ya! Gue sama Machinno dateng untuk bantu kalian!”


Seru Sonda yang datang menghampiri mereka berdua bersama Machinno.


Bersama-sama, mereka berempat hendak menghadapi seluruh anggota Leo yang ada di hadapan mereka.


Kembali ke pertarungan antara Paul, Alethra, serta Awva, melawan anggota Leo lainnya.


“*Shruk!”


“*Shrak!”


“…”


Paul berhasil diserang oleh salah seorang anggota Leo. Karena itu ia menyerangnya kembali dengan memenggal kepalanya lewat kapak yang ia gunakan.


“Paul!”


“*Shruk!”


“!!!”


Alethra terkejut dengan Awva yang menusuk Paul dengan pedangnya.


“Woy! Kok lo—”


((Thrusting Heal))


“*Ngung…”


“Aaaah…! Makasih banyak, Awva!”


“…”


Alethra masih terkejut dengan Awva yang menusuk Paul, dengan maksud menyembuhkannya.


“Ternyata cewek ini agak mirip sama Zorlyan ya…”


Pikir Alethra setelah menyaksikan kejadian tersebut.


Hingga ia lupa…


“Raaaagh!”


…dengan anggota Leo yang ia hadapi, yang hendak menyerangnya.


“*DOR!!!”


“*Crat!”


““!!!””


Paul, Alethra, serta Awva, terkejut dengan anggota Leo yang yang kepalanya hancur karena tembakan senapan


jitu.


“*Jgrum!”


““Aaargh!””


“*Dor, dor, dor…”


“*Shrak!”


“*Boom!”


““…””


Mereka menyaksikan sebagian besar anggota Leo di hadapan mereka yang dikalahkan dengan mudah.


Hingga akhirnya…


“Cih! Mau nggak mau kita nggak bisa sembunyi-sembunyi lagi ya?”


“Biarin aja. Ujung-ujungnya kita harus tunjukkin diri kita kan ke Leonard?”


““!!!””


…mereka dikejutkan dengan adanya Djinn, Dalbert, Winona, 3 Petualang dari Leo yang mereka kenali, dan juga Ryūtaro, yang tidak mereka kenali.


“B-BOS DALBERT!!! WINONA!!!”


“*Phuk!”


“A-Alethra…! K-Kenapa lo—”


“G-Gue… takut…!”


Seru Alethra dengan gemetar sambil memeluk Dalbert dan Winona, sementara Dalbert hendak menanyakan satu lengannya yang hilang.


“A-Alethra…”


Bisik Winona dengan iba, sambil membalas pelukan Alethra.


“Woy, bocah topeng! Kenapa lo dateng bareng mereka?!”


“Lah! Lemon! Kok lo tiba-tiba ada di sini—”


“Nama gue Paul, *****!”


Seru Paul dengan kesal ketika mendengar panggilan dari Djinn.


“Djinn! Kenapa lo dateng bareng mereka?! Kan mereka—”


“Tenang aja. Mereka mau bales Leonard. Lagian kalo nggak ada mereka, mungkin kita nggak akan nyampe sini lebih cepet.”


Jelas Djinn kepada Awva terkait Daphine, Kornell, serta Gravanghar, yang datang bersamanya.


“Djinn, apakah—”


“Tunggu dulu.”


“*Sniff, sniff, sniff…”


“Hm…?”


Ryūtaro merasa heran dengan Djinn yang tiba-tiba terdiam dan mengendus sesuatu.


“Woy, bego! Kok—”


“Ada Malaikat…!”


““!!!””


Semua terkejut dengan apa yang dikatakan Djinn.


“Lo bener, bocah topeng! Ada Malaikat yang layanin Leonard!”


“Oh gitu? Terus yang satu lagi?”


““Hm?””


Paul, Alehtra, dan Awva, merasa heran dengan maksud dari Djinn.


“S-Satu lagi…? Emangnya siapa…? Kan—”


“Gue bisa cium ada Aroma dari dua Malaikat…!”


““!!!””


Kembali semua dikejutkan dengan apa yang dikatakan Djinn.


“M-Mustahil…! Jika ada dua Malaikat, apakah mungkin—”


“Tunggu sebentar…”


Balas Djinn, sambil berpikir…


“Ada beberapa Aroma yang familiar banget di Hidung gue! Tambah lagi, Aroma-nya ada beberapa yang ada di


deket sini!”


“…”


Dalbert menatap Djinn dengan heran.


“Fin[1], gerbang di sini ada apa aja?”


“Di sini ada Gerbang Selatan, Gerbang Timur, sama Gerbang Barat, yang ada di situ.”


Jawab Daphine, sambil menunjuk Gerbang Barat.


“Woy, bego! Terus kita—”


“Perubahan rencana!”


“Hah?! Perubahan rencana?! Kok tiba-tiba—”


“Dal, lo pergi ke Lapisan Bawah aja duluan lewat Gerbang Selatan, supaya lo bisa bebasin semua Petualang yang ada di sana, sekaligus cari tau juga ada apa aja di bawah sana.”


“Cih! Yaudah!”


“Gue ikut!”


“Kita juga ikut!”


Karena rencana Djinn, Dalbert pergi memasuki Lapisan Bawah lewat Gerbang Selatan bersama Alethra, Paul, dan Awva.


“Terus kalian bertiga pergi ke Gerbang Timur. Kalo bisa, hancurin gerbang itu.”


“OK, Djinn!”


Balas Daphine, yang kemudian pergi bersama Kornell dan Gravanghar.


“Bagaimana dengan diriku dan Winona-chan, Djinn?”


“Harusnya sih gue ikut kalian ke hancurin Gerbang Barat. Tapi kayaknya gue harus di sini dulu.”


“A-Apa yang akan kau lakukan di tempat ini?”


“…”


Djinn tiba-tiba menengok ke belakang, sebelum menjawab Ryūtaro.


“Gue mau amanin sekitar dulu.”


“Baiklah, Djinn. Mari kita pergi sekarang juga, Winona-chan!”


“OK, Djinn! Hati-hati, ya!”


Balas Winona sambil pergi bersama Ryūtaro dan meninggalkan Djinn.


Setelah mereka pergi…


“Keluar kalian semua, anak-anak babi! Lo kira gue nggak tau kalo kalian lagi ngumpet!”


““…””


…Djinn menantang beberapa orang yang sembunyi-sembunyi dan memantaunya, sebelum bertarung dengan mereka semua.


……………


Sementara itu, Leonard yang hendak menyaksikan pertarungan yang berada di dalam Chaoseum, bersama dengan ketiga Executioners.


“Oh gitu? Ternyata semua Petualang yang kabur mulai berani lawan balik ya?”


“Nggak cuma mereka aja, Marwell! Bahkan ada dua anggota Aquilla, mantan anggota kita yang berkhianat, sama ada satu warga Kumotochi juga!”


Lapor salah seorang anggota Leo lewat Orb Call kepada Marwell, sementara Leonard dan Executioners lainnya mendengar laporan tersebut.


“Kalo emang ada anggota Leo yang berkhianat, bisa aja mereka tau tentang Zophiel, atau mau bebasin semua


*Petualang yang ada di sana. Berarti ada kemungkinan kalo mereka mau ke Lapisan Bawah.”


Pikir Leonard sambil menganalisa kemungkinan yang akan terjadi.


“Bastheus! Lo pergi ke Lapisan Bawah! Sekarang!”


“Muahahaha! Siap, bos!”


Balas Bastheus kepada Leonard, sebelum ia bergerak sesuai dengan perintahnya.


“Dua anggota Aquilla, ya? Grahahaha! Mereka mau bunuh diri?! Atau mungkin mereka ngerasa lebih kuat?!


Kalo misalkan mereka emang jadi lebih kuat, mereka bisa jadi amunisi gue juga untuk hajar Centra Geoterra!”


Pikir Leonard, sambil menyeringai dengan sinis.


_______________


[1]Panggilan singkat Djinn kepada Daphine, karena nama Daphine dibaca "Da‐fin"