Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 131. Before Heading Inside



Kita berdua berhasil sampe di


kastil.


Padahal tadinya kita sempet


ngeliat Sebastian.


Jujur aja, tadinya gue mau hajar


dia!


Masalahnya…


“Jangan serang dia!”


“Kenapa emangnya?!”


“Kita harus ke kastil


secepetnya!”


…karena Dalbert, ujung-ujungnya


gue nggak jadi nyerang bangsawan brengsek itu!


Yaudahlah, gue nggak masalah.


Semoga aja orang itu dibantai sama yang lain.


Entah Zorlyan, atau Göhran, atau


mungkin aja Lupherius.


Mending gue fokus dulu masuk ke


dalem kastil ini.


Karena…


““*Drap, drap, drap! (suara


langkah pasukan)””


…ada sekitar 30 Royal Knights di


depan kita!


Mereka ada berapa sih?! Kenapa


banyak banget?!


Tambah lagi, lawan 5 aja udah


susah! Gimana kalo ada 10 kali lebih banyak?!


“Tahan mereka!”


“Jangan biarkan mereka memasuki


kastil!”


Haaaah…bawaannya jadi kesel


sendiri, gue!


“Woy, banci!”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Lo ngundang kita ke sini, tapi


lo mau tahan kita?! Jangan jago kandang deh, lo!”


““…””


Mana dia tuh suara yang ada di


kepala gue ta—


“Menjijikan! Aku benar-benar merasa najis!”


“!!!”


Muncul dia tiba-tiba di kepala


gue!


“Kau adalah Pria Terjanji dari Melchizedek?! Nubuat macam apa yang


mengatakan preman i—”


“Nggak usah banyak bacot! Sini


lo!”


“…”


Dia diem do—


“Djinn, lo ngomong apa?”


Hah?


“Maksud lo apa?”


“Nggak tau. Suara itu bilang,


kalo gue harus masuk ke dalem secepetnya.”


Hah?! Suaranya ngomong gitu ke


dia?!


Artinya…kata-kata yang kita


denger tuh beda, dong?!


“Berarti lo diminta masuk,


sedangkan gue diminta lawan semua Royal Knights ini, ya?!”


“Kayaknya sih gitu.”


Ternyata beda-beda, ya?!


Artinya suara yang kita denger di


kuburan tadi tuh juga beda, dong?!


“Haaaah…sepertinya kalian menyadari itu.”


““!!!””


Kalo sekarang gue yakin kata-kata


yang kita denger sama!


“Baiklah. Jika kau khawatir akan kakak kesayanganmu, lebih baik kau


masuk terlebih dahulu, sementara Petualang itu harus menghadapi semua Royal


Knights yang telah menyambutnya.”


Hah?! Dahlia ada di dalem?!


Tambah lagi, kenapa kita harus


dipisah gitu?!


Jangan-jangan dia—


“Pffftt…”


Dia nahan ketawa.


Nggak tau kenapa, gue juga tau


maksudnya apa.


““Ahahaha!””


Kita berdua akhirnya ketawa.


“Kalian tertawa? Apakah kalian pikir ada hal yang lu—”


“Ya lucu, lah!”


“Lo bisa ngontrol Naga, kan?!”


“Terus lo bisa bikin Siegfried


sujud sama lo, kan?!”


“Terus…”  “Tapi…”


““LO TAKUT SAMA DUA ORANG?!””


Aneh.


Kenapa bisa ya gue ngomong


barengan tanpa ada rencana kayak gini?


Padahal nih orang agak aneh,


bahkan gue pun nggak begitu seneng sama orang ini.


Tapi kita bisa ngomong bareng


kayak gitu?


“Cih! Untuk pertama kalinya, aku merasa terhina seperti ini!”


Hmph! Lo kira gue peduli?!


“Baiklah, baiklah, baiklah jika itu mau kalian. Bagaimana jika kita


mengadakan suatu permainan?”


Permainan?!


“Permainan?! Lo masih


sempet-sempetnya mikir—”


“Jika kalian berdua bisa mengalahkan 30 Royal Knights ini sebelum


matahari terbenam, aku akan membiarkan Dahlia hidup.”


““!!!””


Brengsek nih o—


“Haha! Aku tahu betapa marahnya dirimu, Pria Terjanji! Kau juga mengenal


*Dahlia, bukan?*!”


“Sialan lo! Kakak gu—”


“Baiklah. SatuDuaTiga! Mulai!”


“Serang mereka!”


““Hraaaagh!””


Sialan nih orang!


Ngitungnya macem apaan, tuh?!


Cepet banget!


“…”


Sekarang kira-kira jam 5 lewat


20.


Artinya, kita cuma dikasih waktu


sekitar 35 sampe 40 menit untuk lawan mereka semua?!


Yaudah, gue siap!


Karena udah ngalahin beberapa


Royal Knights, mungkin gue udah tau cara ngalahinnya gimana!


“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak


tembakan pistol)”


“Cih! Nggak mempan, ya?!”


Tembakan Dalbert nggak mempan


lawan mereka.


Artinya cuma bisa nyerang jarak


deket, ya?


““*Swush! (suara ayunan pedang)””


Karena mereka banyak, gue cuma


bisa ngehindar doang. Sampe dapet kesempatan nyerang balik, gue nggak boleh


sia-siain!


“*Jgrum! (suara pukulan)”


“Keuk… Pukulan macam apa pria i—”


“*Crrkcrkkk… (suara aliran


petir)”


Gue ‘isi batre’ di tangan gue.


Abis itu…


“Judgement: Hammer Fist!”


“*JGRUM! (suara pukulan petir)”


““Aaaargh!””


Bagus!


5 pasukan keliatannya tumbang


sama sihir gue!


“Bracelet Armament: Hammer!”


“*Bhung! (suara pukulan palu)”


““Aargh!””


“*Bhung! (suara pukulan palu)”


““Aargh!””


Dalbert keliatannya juga berhasil


naklukin 5 prajurit.


“Oh! Aku kira kau hanya menghentikan Tarzyn saja! Tidak kukira kau


memiliki kekuatan itu, Pria Terjanji!”


Bacot banget nih orang!


Jago kandang aja malah bawel!


“…”


Sial!


Sekarang mungkin jam 5 lewat 30


menit!


Baru ada 10 Royal Knights doang


yang baru tumbang!


Sisa 20 Royal Knight untuk 30


menit!


“Djinn, kita harus nyerang mereka


barengan!”


“Barengan?!”


“Ya! Gue lumpuhin mereka, sisanya


lo yang abisin!”


Hmm…menarik.


“…”


Hm? Dia bikin senapan jitu?


Bukannya serangan jarak jauh


bikin gagal, ya?


“Coba pancing mereka nyerang


kita!”


“O…OK.”


Karena dia minta gitu, akhirnya


gue coba pancing mereka pake ‘cara’ gue.


“Woy! Banci lo semua! Ada 20


orang tapi nggak berani nyerang!”


““…””


OK, keliatannya mereka kesel.


“Gu…Gue nggak nyangka cara lo


kayak gitu!”


“Hah?! Kan lo yang minta,


brengsek!”


“Tapi nggak gitu juga caranya,


bego!”


“Hah?! Lo ngatain gue bego?!”


“Lo jaga ngatain gue brengsek


tadi!”


“Terus mau lo a—”


“Mereka sedang teralihkan! Serang


mereka sekarang juga!”


““Hraaaagh!””


Mereka nyerang kita tiba-tiba!


Kalo nggak karena Si Brengsek


ini, mungkin gue udah—”


“Jangan liat ini, Djinn!”


Hah?! Maksudnya—


“*Shringgg… (suara sinar terang)”


Aduh ternyata senjata yang dia


pake tuh untuk butain semua Royal Knights ini?!


Untung aja gue nggak kena silau


dari senjatanya.


“Ayo serang sekarang!”


“Iya gue tau!”


Karena hampir semua Royal Knights


ini kesilauan, gue langsung serang mereka.


“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara


pukulan petir)”


““Aaargh…””


Satu, dua, tiga…


“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara


pukulan petir)”


““Aaargh…””


Delapan, sembilan, sepuluh…


“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara


pukulan petir)”


““Aaargh…””


Tiga belas, empat belas, lima


belas—


“Hragh!”


“*Swush! (suara ayunan pedang)”


Sialan! Gue cuma dapet 15 Royal


Knights aja!


Sisa 5 lagi!


“Woy, bego! Kenapa nggak lo


abisin semuanya?!”


“Diem lo, brengsek! Lo kira


gampang nyerang mereka!”


Apalagi…


“…”


…tangan gue sampe memar begini


karena pukul mereka sampe keok!


“Baiklah, baiklah, baiklah. Coba kalian lawan ini.”


Hah?! Lawan a—


““Aaargh!””


Kenapa 5 Royal Knights i—


“!!!”


Ji…Jiwanya 4 di antara mereka


diserap salah satu dari mereka?!


“*Vwumm! (suara kobaran api)”


“Rrrraagh!”


Gila juga! Badannya sampe berapi


gitu!


Dia baru aja tumbalin 4 orang


cuma demi 1 Royal Knight ini?!


““…””


Nggak tanggung-tanggung! Bahkan 4


ksatria itu sampe mati!


“Gi…Gimana cara kita ngalahin 1


Royal Knight itu?!”


“Mau nggak mau, kita serang dia


bareng-bareng!”


“OK, bego!”


“!!!”


Dasar brengsek!


Masih sempet-sempetnya dia


ngatain gue!


“*Vwumm! (suara ayunan pedang


berapi)”


“…”


Gila! Bahkan pedangnya jadi gede


banget!


“*Chringgg… (suara pedang


beradu)”


“Gila! Pedang gue meleleh—”


“Minggir, brengsek!”


“Hah?! Apa lo bi—”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“…”


Sialan! Petir gue bahkan nggak


mempan!


Haaaah…mau nggak mau sih ini!


“*Vwummm… (suara terbakar)”


“Urgh!”


Mending sentuh langsung aja!


“Woy, bego! Lo nggak apa-a—”


“Diem…brengsek!”


Tahan, Djinn!


“Heaaaaagh!”


“*Crangg! (suara baju zirah


remuk)”


“Aaargh…”


Mending gue main keras-kerasan


fisik aja!


“Heaagh!”


“*Phung! (suara menyundul helm)”


“*Crattt… (suara muncratan


darah)”


Panas banget, sialan!


“…”


Untungnya luka gue sembuh


sendiri, walaupun Mana gue udah mau


abis.


Anehnya, gue belom ngantuk sama sekali!


Tambah lagi…


“…”


…matahari belom terbenam!


“Woy, bego.”


“Hah? Apaan, breng—”


“Kok lo bisa kuat banget?!”


“Hmph! Seenggaknya gue nggak


selemah lo!”


“Apa lo bi—”


“Menarik. Sungguh menarik.”


Cih! Suara ini muncul lagi!


“Karena kalian memenangkan permainan ini, maka aku akan berikan kalian


hadiah.”


“Woy! Awas lo macem-macem sama


kakak gu—”


“Ssshh, sshh, sshh…aku tidak akan menyentuhnya. Kuberi kalian hadiah


berupa waktu untuk istirahat, sebelum bertemu denganku. Bagaimana? Aku ini


adil, bukan?”


Gue sebenernya kesel banget, tapi


gue cuma bisa terima aja kesempatan dari suara ini!


Mau nggak mau kita akhirnya


istirahat dulu beberapa menit.


Sambil istirahat, ada sebenernya


hal yang bikin gue penasaran sama orang ini.


“Sebenernya, apa hubungan kakak


lo sama suara tadi?”


“Lo…mau denger versi panjang atau


pendek?”


“Pendek—”


“Gue cuma punya versi panjang


aja.”


Ngapain nanya kalo gitu,


brengsek!


“Yaudah, panjang!”


“Hmm…gue mulai dari mana, ya?”


Akhirnya gue denger background dari dia bikin BBE, sampe


rahasia besar yang dia simpen tentang Riorio Merchant, bahkan dari Dahlia sama


adeknya.


Sebenernya gue mau bodo amat.


Tapi, berhubung gue juga pernah punya kakak cewek, makanya gue penasaran sama


cerita dia, sebelum gue bantai suara


itu.