
Kita berdua berhasil sampe di
kastil.
Padahal tadinya kita sempet
ngeliat Sebastian.
Jujur aja, tadinya gue mau hajar
dia!
Masalahnya…
“Jangan serang dia!”
“Kenapa emangnya?!”
“Kita harus ke kastil
secepetnya!”
…karena Dalbert, ujung-ujungnya
gue nggak jadi nyerang bangsawan brengsek itu!
Yaudahlah, gue nggak masalah.
Semoga aja orang itu dibantai sama yang lain.
Entah Zorlyan, atau Göhran, atau
mungkin aja Lupherius.
Mending gue fokus dulu masuk ke
dalem kastil ini.
Karena…
““*Drap, drap, drap! (suara
langkah pasukan)””
…ada sekitar 30 Royal Knights di
depan kita!
Mereka ada berapa sih?! Kenapa
banyak banget?!
Tambah lagi, lawan 5 aja udah
susah! Gimana kalo ada 10 kali lebih banyak?!
“Tahan mereka!”
“Jangan biarkan mereka memasuki
kastil!”
Haaaah…bawaannya jadi kesel
sendiri, gue!
“Woy, banci!”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Lo ngundang kita ke sini, tapi
lo mau tahan kita?! Jangan jago kandang deh, lo!”
““…””
Mana dia tuh suara yang ada di
kepala gue ta—
“Menjijikan! Aku benar-benar merasa najis!”
“!!!”
Muncul dia tiba-tiba di kepala
gue!
“Kau adalah Pria Terjanji dari Melchizedek?! Nubuat macam apa yang
mengatakan preman i—”
“Nggak usah banyak bacot! Sini
lo!”
“…”
Dia diem do—
“Djinn, lo ngomong apa?”
Hah?
“Maksud lo apa?”
“Nggak tau. Suara itu bilang,
kalo gue harus masuk ke dalem secepetnya.”
Hah?! Suaranya ngomong gitu ke
dia?!
Artinya…kata-kata yang kita
denger tuh beda, dong?!
“Berarti lo diminta masuk,
sedangkan gue diminta lawan semua Royal Knights ini, ya?!”
“Kayaknya sih gitu.”
Ternyata beda-beda, ya?!
Artinya suara yang kita denger di
kuburan tadi tuh juga beda, dong?!
“Haaaah…sepertinya kalian menyadari itu.”
““!!!””
Kalo sekarang gue yakin kata-kata
yang kita denger sama!
“Baiklah. Jika kau khawatir akan kakak kesayanganmu, lebih baik kau
masuk terlebih dahulu, sementara Petualang itu harus menghadapi semua Royal
Knights yang telah menyambutnya.”
Hah?! Dahlia ada di dalem?!
Tambah lagi, kenapa kita harus
dipisah gitu?!
Jangan-jangan dia—
“Pffftt…”
Dia nahan ketawa.
Nggak tau kenapa, gue juga tau
maksudnya apa.
““Ahahaha!””
Kita berdua akhirnya ketawa.
“Kalian tertawa? Apakah kalian pikir ada hal yang lu—”
“Ya lucu, lah!”
“Lo bisa ngontrol Naga, kan?!”
“Terus lo bisa bikin Siegfried
sujud sama lo, kan?!”
“Terus…” “Tapi…”
““LO TAKUT SAMA DUA ORANG?!””
Aneh.
Kenapa bisa ya gue ngomong
barengan tanpa ada rencana kayak gini?
Padahal nih orang agak aneh,
bahkan gue pun nggak begitu seneng sama orang ini.
Tapi kita bisa ngomong bareng
kayak gitu?
“Cih! Untuk pertama kalinya, aku merasa terhina seperti ini!”
Hmph! Lo kira gue peduli?!
“Baiklah, baiklah, baiklah jika itu mau kalian. Bagaimana jika kita
mengadakan suatu permainan?”
Permainan?!
“Permainan?! Lo masih
sempet-sempetnya mikir—”
“Jika kalian berdua bisa mengalahkan 30 Royal Knights ini sebelum
matahari terbenam, aku akan membiarkan Dahlia hidup.”
““!!!””
Brengsek nih o—
“Haha! Aku tahu betapa marahnya dirimu, Pria Terjanji! Kau juga mengenal
*Dahlia, bukan?*!”
“Sialan lo! Kakak gu—”
“Baiklah. SatuDuaTiga! Mulai!”
“Serang mereka!”
““Hraaaagh!””
Sialan nih orang!
Ngitungnya macem apaan, tuh?!
Cepet banget!
“…”
Sekarang kira-kira jam 5 lewat
20.
Artinya, kita cuma dikasih waktu
sekitar 35 sampe 40 menit untuk lawan mereka semua?!
Yaudah, gue siap!
Karena udah ngalahin beberapa
Royal Knights, mungkin gue udah tau cara ngalahinnya gimana!
“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak
tembakan pistol)”
“Cih! Nggak mempan, ya?!”
Tembakan Dalbert nggak mempan
lawan mereka.
Artinya cuma bisa nyerang jarak
deket, ya?
““*Swush! (suara ayunan pedang)””
Karena mereka banyak, gue cuma
bisa ngehindar doang. Sampe dapet kesempatan nyerang balik, gue nggak boleh
sia-siain!
“*Jgrum! (suara pukulan)”
“Keuk… Pukulan macam apa pria i—”
“*Crrkcrkkk… (suara aliran
petir)”
Gue ‘isi batre’ di tangan gue.
Abis itu…
“Judgement: Hammer Fist!”
“*JGRUM! (suara pukulan petir)”
““Aaaargh!””
Bagus!
5 pasukan keliatannya tumbang
sama sihir gue!
“Bracelet Armament: Hammer!”
“*Bhung! (suara pukulan palu)”
““Aargh!””
“*Bhung! (suara pukulan palu)”
““Aargh!””
Dalbert keliatannya juga berhasil
naklukin 5 prajurit.
“Oh! Aku kira kau hanya menghentikan Tarzyn saja! Tidak kukira kau
memiliki kekuatan itu, Pria Terjanji!”
Bacot banget nih orang!
Jago kandang aja malah bawel!
“…”
Sial!
Sekarang mungkin jam 5 lewat 30
menit!
Baru ada 10 Royal Knights doang
yang baru tumbang!
Sisa 20 Royal Knight untuk 30
menit!
“Djinn, kita harus nyerang mereka
barengan!”
“Barengan?!”
“Ya! Gue lumpuhin mereka, sisanya
lo yang abisin!”
Hmm…menarik.
“…”
Hm? Dia bikin senapan jitu?
Bukannya serangan jarak jauh
bikin gagal, ya?
“Coba pancing mereka nyerang
kita!”
“O…OK.”
Karena dia minta gitu, akhirnya
gue coba pancing mereka pake ‘cara’ gue.
“Woy! Banci lo semua! Ada 20
orang tapi nggak berani nyerang!”
““…””
OK, keliatannya mereka kesel.
“Gu…Gue nggak nyangka cara lo
kayak gitu!”
“Hah?! Kan lo yang minta,
brengsek!”
“Tapi nggak gitu juga caranya,
bego!”
“Hah?! Lo ngatain gue bego?!”
“Lo jaga ngatain gue brengsek
tadi!”
“Terus mau lo a—”
“Mereka sedang teralihkan! Serang
mereka sekarang juga!”
““Hraaaagh!””
Mereka nyerang kita tiba-tiba!
Kalo nggak karena Si Brengsek
ini, mungkin gue udah—”
“Jangan liat ini, Djinn!”
Hah?! Maksudnya—
“*Shringgg… (suara sinar terang)”
Aduh ternyata senjata yang dia
pake tuh untuk butain semua Royal Knights ini?!
Untung aja gue nggak kena silau
dari senjatanya.
“Ayo serang sekarang!”
“Iya gue tau!”
Karena hampir semua Royal Knights
ini kesilauan, gue langsung serang mereka.
“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara
pukulan petir)”
““Aaargh…””
Satu, dua, tiga…
“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara
pukulan petir)”
““Aaargh…””
Delapan, sembilan, sepuluh…
“*Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara
pukulan petir)”
““Aaargh…””
Tiga belas, empat belas, lima
belas—
“Hragh!”
“*Swush! (suara ayunan pedang)”
Sialan! Gue cuma dapet 15 Royal
Knights aja!
Sisa 5 lagi!
“Woy, bego! Kenapa nggak lo
abisin semuanya?!”
“Diem lo, brengsek! Lo kira
gampang nyerang mereka!”
Apalagi…
“…”
…tangan gue sampe memar begini
karena pukul mereka sampe keok!
“Baiklah, baiklah, baiklah. Coba kalian lawan ini.”
Hah?! Lawan a—
““Aaargh!””
Kenapa 5 Royal Knights i—
“!!!”
Ji…Jiwanya 4 di antara mereka
diserap salah satu dari mereka?!
“*Vwumm! (suara kobaran api)”
“Rrrraagh!”
Gila juga! Badannya sampe berapi
gitu!
Dia baru aja tumbalin 4 orang
cuma demi 1 Royal Knight ini?!
““…””
Nggak tanggung-tanggung! Bahkan 4
ksatria itu sampe mati!
“Gi…Gimana cara kita ngalahin 1
Royal Knight itu?!”
“Mau nggak mau, kita serang dia
bareng-bareng!”
“OK, bego!”
“!!!”
Dasar brengsek!
Masih sempet-sempetnya dia
ngatain gue!
“*Vwumm! (suara ayunan pedang
berapi)”
“…”
Gila! Bahkan pedangnya jadi gede
banget!
“*Chringgg… (suara pedang
beradu)”
“Gila! Pedang gue meleleh—”
“Minggir, brengsek!”
“Hah?! Apa lo bi—”
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“…”
Sialan! Petir gue bahkan nggak
mempan!
Haaaah…mau nggak mau sih ini!
“*Vwummm… (suara terbakar)”
“Urgh!”
Mending sentuh langsung aja!
“Woy, bego! Lo nggak apa-a—”
“Diem…brengsek!”
Tahan, Djinn!
“Heaaaaagh!”
“*Crangg! (suara baju zirah
remuk)”
“Aaargh…”
Mending gue main keras-kerasan
fisik aja!
“Heaagh!”
“*Phung! (suara menyundul helm)”
“*Crattt… (suara muncratan
darah)”
Panas banget, sialan!
“…”
Untungnya luka gue sembuh
sendiri, walaupun Mana gue udah mau
abis.
Anehnya, gue belom ngantuk sama sekali!
Tambah lagi…
“…”
…matahari belom terbenam!
“Woy, bego.”
“Hah? Apaan, breng—”
“Kok lo bisa kuat banget?!”
“Hmph! Seenggaknya gue nggak
selemah lo!”
“Apa lo bi—”
“Menarik. Sungguh menarik.”
Cih! Suara ini muncul lagi!
“Karena kalian memenangkan permainan ini, maka aku akan berikan kalian
hadiah.”
“Woy! Awas lo macem-macem sama
kakak gu—”
“Ssshh, sshh, sshh…aku tidak akan menyentuhnya. Kuberi kalian hadiah
berupa waktu untuk istirahat, sebelum bertemu denganku. Bagaimana? Aku ini
adil, bukan?”
Gue sebenernya kesel banget, tapi
gue cuma bisa terima aja kesempatan dari suara ini!
Mau nggak mau kita akhirnya
istirahat dulu beberapa menit.
Sambil istirahat, ada sebenernya
hal yang bikin gue penasaran sama orang ini.
“Sebenernya, apa hubungan kakak
lo sama suara tadi?”
“Lo…mau denger versi panjang atau
pendek?”
“Pendek—”
“Gue cuma punya versi panjang
aja.”
Ngapain nanya kalo gitu,
brengsek!
“Yaudah, panjang!”
“Hmm…gue mulai dari mana, ya?”
Akhirnya gue denger background dari dia bikin BBE, sampe
rahasia besar yang dia simpen tentang Riorio Merchant, bahkan dari Dahlia sama
adeknya.
Sebenernya gue mau bodo amat.
Tapi, berhubung gue juga pernah punya kakak cewek, makanya gue penasaran sama
cerita dia, sebelum gue bantai suara
itu.