Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 288. Among The Leaders



Myllo mulai mendeklarasikan pertarungan dengan Dreaded Band. Kata-kata yang ia serukan itu mulai membuat bandit-bandit tersebut khawatir. Walaupun mereka takut bukan karena deklarasi pertarungan yang disuarakan Myllo.


“O-Oi… Dia bilang… apa…?”


“A-A-Aquilla?!”


Melainkan karena siapa yang mendeklarasikan perang.


“Hah?! Artinya—”


((Spirit Call: Powerful Tap))


“*TAK!!! TAK!!! TAK!!!”


“Akh!”


Dengan menggunakan kekuatan Shamanism miliknya, Garry memerintahkan sebuah Roh untuk menyentil kepala bandit dengan sangat keras.


“Teteh geulis! Biar Akang Garry sembuhkeun heula ya! Ehehehe!”


Kata Garry, sambil menyembuhkan seorang wanita yang dipukul oleh bandit tersebut.


Walaupun…


“Eh! Kok dia dihajar?!”


“Nanti bayaran kita gimana?!”


…ada beberapa dari mereka yang tidak menerima tindakan Garry dan Aquilla.


Namun, bukan berarti olokan wanita-wanita tersebut membuat Garry takut dan kehabisan akal.


“Te-T-Tenang wae atuh, Teteh Geulis! Wakil Kapten aing teh pegang duit Party aing, euy!”


““Serius?!?!””


“S-Serius, atuh!”


““Kyaaaa!””


““*Phuk!!!””


““Makasih banyak, Akang Garry!!! Kita semua sayang Akang Garry!!!””


Kata wanita-wanita tersebut dengan gembira, sambil bersama-sama memeluk Garry, termasuk wanita yang sedang ia sembuhkan.


Alhasil…


“*Craaatt…”


““Kyaaaa!””


…Garry kembali mimisan.


“Hraaaagh!”


“*BHUK!!!”


“*Brak!”


“G-Gila! Kuat banget nih, cewek!”


Seru salah seorang bandit setelah Gia memukul rekannya dengan sangat keras, hingga keluar dari markas mereka.


Setelah berhasil memukul bandit tersebut, Gia melihat ada seorang bandit lainnya yang hendak mengambil World Quaker miliknya. Namun, ia terlihat biasa saja.


“Umph! Ummppphh!!! K-Kenapa nggak bisa gue angkat pedang ini!”


Sahut bandit tersebut dengan kesal karena tidak bisa mengangkat World Quaker.


“Tau nggak kenapa kamu nggak bisa ngangkat?!”


“Hiekh!”


“Karena pikiran kamu udah busuk!”


“*BHUK!!!”


“*Brak…”


Gia kembali memukul bandit lainnya, hingga keluar dari markas Dreaded Band.


“*Krrrk…”


“Hmph. Keliatannya aku nggak perlu pedang aku untuk hajar kalian semua.”


Kata Gia dengan dingin, sambil meregangkan otot tangannya.


“*Dor, dor, dor…”


“Aaargh!”


“S-Sialan! Gue kira lo itu—”


“*Shrak!”


Dalbert menusuk bandit yang ada di hadapannya, dengan merubah pistolnya menjadi pisau.


“D-Di-Dia itu kan…”


“Dalbert Dalrio tuh yang katanya mantan bandit, bukan?!”


“K-Kok dia malah—”


“*Shrak! Shrak! Shrak!”


““Aaargh!””


Dengan cepat Dalbert menusuk semua bandit yang ada di hadapannya.


“Hyaatt!”


“*Bhuk, bhuk, dhuk!”


““Argh! Argh! Aaargh!””


Walaupun ia tidak memiliki tongkat miliknya, Myllo mampu mengalahkan beberapa bandit dengan tangan dan kakinya.


“Liat! Dia sendirian!”


“Mumpung temen-temennya belom ke sini, mending kita—”


((Zegin Smack))


“*Fwushhh!”


““Aaaargh—””


““*Brak!””’


Dengan mengayunkan kepalan tangan yang mengalir dengan kekuatan Zegin, Myllo mampu menghempaskan beberapa bandit hingga keluar dari markas Dreaded Band.


Sementara itu, Djinn.


“Bhukbhukbhuk, bhuk, dhuk!”


““…””


Ia memanfaatkan seni Pencak Silat dan Wulfrag Arts untuk mengalahkan seluruh bandit yang menghampirinya. Semua yang ia serang seketika langsung hilang kesadaran karena seragannya yang keras dan cepat.


Namun, bukan itu saja yang ia gunakan untuk melawan sebagian besar bandit yang menghampirinya.


((Rune Spell: Stunning Mine))


“*Chrrrrkk…”


“Aaaargh!”


Ia menggunakan Runecraft untuk menjebak beberapa bandit yang hendak menghampirinya, sehingga bandit-bandit tersebut tersetrum ketika menginjakkan kaki di atas Sajak yang ia siapkan.


((Rune Spell: Slicky Lane))


“*Cyut…”


““Aaargh!””


“Kok kita kepeleset—”


“*Bhukbhukbhuk…”


““…””


Djinn juga menciptakan Runecraft agar bandit lain yang ingin menghampirinya terpeleset ketika menginjak Sajak lain yang ia siapkan. Ketika mereka terpeleset, Djinn langsung memukul mereka berkali-kali hingga tidak sadar.


Dengan Aquilla yang mendominasi pertarungan, anggota Dreaded Band lainnya menjadi cemas.


“G-G-Gila kali, ya?!”


“M-M-Mereka… berlima doang, loh…!”


“K-Kenapa mereka kuat banget?!”


“A-Apa ini kekuatan asli dari Petualang?!”


Seru beberapa anggota Dreaded Band.


Oleh karena itu…


“L-Lari aja, deh!”


“B-Be-Bener banget! Mending kita laporin ke abang-kakak kita!”


…mereka semua hendak melarikan diri.


“A-Awas aja lo, Petualang!”


“Jangan kalian pikir ini semua udah selesai, ya?!”


Seru beberapa bandit sambil melarikan diri.


Namun tanpa mereka semua duga…


((Barrier Magic: Giant Pet Cage))


“*Bwung…”


“Urgh…”


“*Bwungbwung, bwung, bwung…”


““Kokkgh!””


…ada anggota Aquilla baru yang menahan mereka semua dengan penghadang yang besar, sehingga mereka semua menjadi terdesak di dalam penghadang tersebut dan gagal melarikan diri.


“Hah?! Sihir itu kan…”


“Machinno, bukan?!”


“Tapi dia ada di mana?!”


Sahut Gia, Myllo, dan Djinn, setelah mereka semua menyadari bahwa Machinno tidak terlihat sama sekali,


sebelum mereka memasuki markas Dreaded Band.


“*Puink, puink, puink…”


“Myllo. Machinno… tiba.”


“Hah?! Machinno?!”


“*Cut…”


“Daritadi lo ke mana aja?!”


Tanya Myllo sambil mencubit pipinya.


“Mahingo… (Machinno…)”


“…”


“…bewshing tewebiw dawuwu shuwaya widak washah… (…bersin terlebih dahulu supaya tidak basah…)”


Jawab Machinno dengan pipinya yang dicubit oleh Myllo.


……………


Setelah semua bandit tertangkap, beberapa anggota Aquilla mulai menginterogasi mereka semua. Sementara anggota lainnya menginvestigasi semua yang berada di markas Dreaded Band.


“*Bhuk!”


“Agh! Ampun, bang!”


“Hah?! Ampun?! Hmph! Bandit doang tapi pengecut!”


Seru Dalbert, yang menginterogasi bersama dengan Gia.


“Bener. Ternyata mereka juga nyari Bandit Legendaris.”


Bisik Djinn, yang menginvestigasi markas Dreaded Band bersama Myllo dan Machinno.


Sedangkan Garry…


“Kang Garry! Mana dia bayaran kita?!”


“Katanya kita dibayar!”


…disibukkan dengan wanita-wanita yang berada di tempat tersebut.


Oleh karena itu, ia berlari menuju Djinn.


“DJIIIINNN!!! BANTU AING, ANYING!!!”


“Hah? Ada apaan?”


“Teteh-teteh geulis ini teh minta bayaran—”


“*Tung!”


“Et! Sianying!”


Seru Garry setelah kepalanya diketuk Djinn.


Karena ulah Garry, Djinn terpaksa merogoh uang kas Aquilla dan membayar mereka masing-masing dengan dua keping emas.


“Nih bayarannya! Jangan sampe kalian berkeliaran lagi di sini! Paham?!”


“Kyaaaa! Banyak juga bayarannya!”


“Makasih banyak ya, Djinn Dracorion!”


“Sini cium dulu—”


“Haaaah! Bawel! Sana pergi!”


Seru Djinn dengan kesal karena digoda oleh wanita-wanita itu.


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


Pria yang sebelumnya bertarung dan diselamatkan oleh Djinn, mulai membuka matanya setelah ia pingsan karena pukulan bertubi-tubi oleh bandit yang mempekerjakannya.


“Hah?! A-Ada apa ini?! Kenapa—”


“Udah sadar, pak?”


“U-Udah—Tunggu! Lo siapa?! Kenapa—”


“Sana balik ke keluarga lo, pak! Semoga aja, bandit-bandit yang ada di sini udah nggak berkeliaran! Tapi jangan sampe lo celakain orang lain di pulau ini! Karena mereka juga punya keluarga kayak lo!”


“…”


Pria tersebut hanya menatap Djinn dengan diam dan tidak percaya.


“Woy, pak!”


“Ah! Iya, iya, iya. M-Makasih banyak ya—”


“Pak.”


“Mm?”


Pria tersebut terdiam karena Djinn memanggilnya.


“Kalo ketemu keluarga lo, jangan sampe lo tinggalin mereka lagi! Jaga mereka baik-baik! Paham?!”


“P-Paham…”


“Yaudah. Salam buat mereka.”


Balas Djinn, sebelum pria itu meninggalkan markas Dreaded Band.


Sambil menatap pria itu…


“Semoga aja orang itu baik-baik aja sama keluarganya.”


…Djinn berharap akan kebahagiaan pria tersebut bersama keluarganya, karena ia tidak merasakan kebahagiaan dari ayahnya ketika ia hidup sebagai Lukman.


“…”


Saat ia sedang berjalan keluar, pria tersebut masih tidak percaya dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di markas Dreaded Band. Akan tetapi ia tentunya memahami apa yang dikatakan oleh Djinn.


“Mungkin gue nggak pernah ketemu Pahlawan. Tapi di mata gue… orang itu Pahlawan buat hidup gue!”


Pikir pria tersebut.


……………


Setelah melakukan aktivitas mereka di markas milik Dreaded Band, Aquilla hendak meninggalkan tempat


tersebut sambil berbagi informasi.


“Keliatannya mereka juga nyari Bandit Legendaris. Dari yang gue denger sih, katanya harta mereka juga dicuri


orang itu.”


Jelas Djinn kepada rekan-rekannya.


“Ya. Gue juga dapet hal yang sama dari beberapa bandit sialan ini. Tapi selain itu, gue juga dapet informasi tentang pemimpin mereka, yang totalnya ada 5 orang.”


“5 orang? Mungkin itu kali ya yang mereka maksud “abang-kakak” mereka?”


Tanya Djinn ketika mendengar penjelasan Dalbert.


Namun jawaban dari pertanyaannya tidak datang begitu lama.


“*BRUK!!!”


“Iya! Kita abang-kakak mereka!”


““…””


Aquilla menyaksikan kedatangan 5 pemimpin dari Dreaded Band.


“Hehe! Ternyata urusan kita belom selesai di sini, Aquilla! Ayo kita siap-siap lawan mereka!”


““Ya!””


Jawab seluruh anggota Aquilla ketika mendengar perintah Myllo.


Walaupun tanpa mereka semua sadari, Dalbert memikirkan hal lain.


“Ternyata Bandit Legendaris ada di antara mereka!”


Pikir Dalbert, sambil menatap salah satu pemimpin dari 5 pemimpin Dreaded Band.