
Akhirnya kita semua berangkat ke Marklett. Karena ada
kuda, makanya yang tadinya butuh 6 hari bisa lebih cepet. Butuh waktu sekitar 2
hari 1 malem untuk ke sana pake kuda.
Salah satu jalur yang kita lewatin ini ada lembah.
Makanya itu, perjalanan kita ini ada di antara dua bukit.
Gue kira perjalanan kita aman-aman aja, sampe
tiba-tiba…
“Radius 5 zyat, ada sekelompok orang!”
“Dari mana?”
“Dari…sekeliling kita!”
…ada yang coba nyerang kita.
Ngomong-ngomong, tadi apa? 5 zyat? Ya anggep aja
‘meter’ kali, ya?
“Semuanya siap senjata!”
““…””
Kita semua udah siap untuk antisipasi seragannya.
““…””
Aneh.
Mana dia serangannya?
“Hey, kamu…”
“…”
“Iya, kamu!”
Kenapa nih cewek manggilnya bisik-bisik?
“Kamu nggak ada senjata?”
“Nggak punya.”
”Terus—”
“Tunggu dulu!”
“Hm?”
“*Tuk, tuk, tuk… (suara hentakan kaki)”
Kuda gue kenapa? Kok kayak…
Oh!
“Hati-hati serangan dari ba—”
“*Brrruk! (suara dataran runtuh)”
““Aaaahhh!!!””
Sialan! Andai gue nggak telat sadarnya!
Ternyata barisan belakang kena jebakan, termasuk Gia!
“Myllo! Djinn!”
“Gia—”
“Bubble Float!”
“*Blub, blub, blub… (suara banyak gelembung)”
“Eh?! Gelembung ini…”
“Tenang aja! Kan aku nggak sekedar Healer aja!”
“Makasih ya gelembungnya!”
Untung cewek bocil yang namanya Winona itu bisa pake
sihir, jadinya nggak—
“Awas ada panah!”
““*Syut! (suara banyak panah)””
“Clay Wall!”
“…”
Ternyata orang yang namanya Morri itu bisa pake sihir
juga, ya. Dia bisa bikin tembok dari tanah liat kayak gitu.
Keliatannya kita udah agak aman. Tapi ternyata…
“*Vwumm… (suara terbakar)”
“Erkstern, panah mereka ada apinya!”
…tembok tanah liat itu agak sia-sia karena dibakar sama
panah api itu.
“Yang nyerang kita ini bandit, ya?!”
“Sialan nih bocah-bocah berandalan yang nyerang kita!”
“Ayo kita serang aja!”
Kayaknya sih kalo tau ada panah api kayak gitu, nggak
mungkin sekedar Monster doang. Makanya beberapa di antara kita, termasuk Myllo,
sadar yang nyerang kita bandit.
“Observer, gimana posisi bandit-banditnya?!”
“Beberapa di antara mereka ada di atas gunung! Tapi ada
juga yang udah siap nyerang di depan kita!”
“Berapa jumlah mereka?!”
“30 di depan kita, sedangkan 15 ada di atas bukit!”
“OK, semuanya! Sampe tembok ini ancur, kita harus siap
nyerang para bandit ini!”
““Ya!!!””
Karena perintah dari Erkstern, semua langsung siap-siap
nyerang bandit ini.
“Tunggu! Ada yang aneh!”
Hm?
“Apa yang aneh?!”
“Ka…Kayaknya yang nyerang kita bukan sekedar bandit!”
Hah?! Bukan sekedar bandit?!
“Apa maksud lo bukan sekedar—”
“Woy kalian, para Petualang sialan!”
““…””
Suara itu dari orang-orang dibalik tembok tanah liat
ini, ya?
Artinya, mereka yang nyerang kita, kan?
“Kita dari Blood Brothers of Erviga! Lepasin
senjata atau benda berharga kalian, kalo emang masih sayang nyawa kalian!”
Hah…?
Kok kayak nama band musik…?
“Cih! Pantes aja yang nyerang kita bukan bandit biasa!”
“Artinya kita nggak boleh anggep remeh bandit-bandit
ini, ya?!”
Oh! Komplotan bandit itu terkenal ya?!
“OK, semua yang ada di sini serang bandit yang ada di
depan kita, sedangkan Rounder ikut gue cari bandit yang di atas!”
Hah? Rounder?
Dia manggil gue kan, ya?
“Erkstern! Temboknya udah mau jebol!”
“Semuanya! Hitungan ketiga kita siap serang mereka
semua!”
““…””
“Satu!”
““…””
“Dua!”
““…””
“Sekarang!”
““Hraaah!””
“…”
Eh? Kok Si Dongo diem aja?
“Eh, lo!”
“Hm?”
“Belom ada tiga-nya.”
“Yaudah serang sekarang!”
“Haaah… Iya, iya, iya!”
Buset, keras kepala juga ya Si Dongo!
Jadi kena omel Erkstern deh!
“…”
Kalo gue perhatiin lagi, emang ada macem-macem ras dari
komplotan ini!
Ada Elf, Dwarf, bahkan Monster-Monster —
“Ayo lo ikut gue!”
“Hah—Eh! Kok…”
“*Fwup! Fwup! Fwup! (suara mengepak sayap)”
***** nih orang! Main dibawa terbang aja gue! Nggak
pake aba-a—
“Siap, ya?!”
“Siap apa—”
“Hrraaagh!”
“*Swush! (suara terlempar)”
“Woy, keterlaluan lo—”
“*Brak! (suara menabrak)”
Dasar bajingan! Main lempar gue seenaknya!
“Tim atas ada yang datengin!”
“Cepet abisin dia!”
““Hyaaaargh””
Ada sekitar 10 orang yang mau serbu gue.
Beberapa di antara mereka ada Manusia, Goblin, sama
Snow Elf.
“*Bhuk! Dhuk! Bhuk! Dhuk! (suara bela diri)”
“Argh!”
“Gyaaagh!”
“Uhogh!”
Yang nyerang gue udah—
“Rounder! Awas ada Spellcaster di antara mereka!”
Loh! Ada yang bisa pake sihir?!
“Lo serang mereka, gue serang yang lainnya!”
“Siap!”
Brengsek! Kalo bisa pake sihir, pasti nyerangnya dari
jauh, kan?!
Kalo gitu gue harus maju ke arah dia!
“Mana Bomb!”
“*Duar! Duar! (suara ledakan)”
Sihir orang itu kayak lempar bom! Mending cuma satu,
dia lemparnya banyak banget! Gue jadi kesusahan sendiri ngehindarinnya!
“Hahaha! Nggak bakal gue biarin lo masuk ke—”
“*Bruk! (suara terkena lemparan batu)”
“Gughak!”
Untung datarannya ini berbatuan, jadinya gue lempar
batu ke—
“Fire Blast!”
“*Boom! (suara sihir api)”
Aduh! Telat gue berhentiin bandit yang satu lagi!
Arah sihir dia itu ke…
“Woy! Cewek Landak! Awas ada a—”
“…”
Waw! Dia bisa tamengin badan dia pake duri-duri
landaknya!
Eh, tunggu…
Durinya kebal api?!
OK! Jangan buang-buang waktu lagi, Djinn!
“*Brak! (suara tertimpuk batu)”
“Agh!”
Nah, sekarang udah aman di atas sini.
“Woy!”
Hm? Ada yang manggil gue?
“SIAPA YANG LO MAKSUD CEWEK LANDAK?!”
“Ka…Kakak! Tenang, tenang, tenang!”
“Haaah… Dasar Manusia Rasis!”
“…”
Gue lupa nama dia siapa, jadinya reflek aja manggil dia
kayak gitu…
“*Boom! Boom! Boom! (suara banyak ledakan api)”
Buset, karena dia bisa terbang, bisa pake sihir juga,
jadi keliatan gampang banget buat Erkstern untuk ngalahin bandit-bandit yang
ada di atas sini.
Waktu gue liat di bagian bawah, udah numpuk juga badan-badan
dari bandit-bandit yang dihajar abis sama Petualang yang ada di bawah.
Tapi Myllo sama Gia kok…
“*Bruk… (suara mendarat)”
“Oh, ternyata kalian jagain kuda gue, ya?”
“Iya, dong! Bilang makasih ke aku dong, sayang—”
“Ah, udah mau berangkat.”
“Cih!”
Sempet-sempetnya dia manggil sayang!
Dasar genit!
“Semuanya! 2-kizyat dari tempat ini, kita
istirahat!”
““Ya!””
Pokoknya hari ini kita masih bisa selamat dari
bandit-bandit ini.
Eh iya, tadi apa nama kelompoknya?
“Sstt, sstt…”
“Hah? Lo manggil gu—”
“Tadi apa nama komplotan banditnya?”
“Blood Brothers of Erviga, atau biasanya dipanggil BBE!
Terus nama gue itu Harrit! Bukan sstt, sstt!”
Sensitif juga nih orang…
Tapi sambil jalan, gue ngerasa ada yang aneh.
Kok bisa orang yang pake sihir kayak gitu kerjaannya
jadi bandit?
Gue kira bandit cuma sekelas tukang jambret doang,
ternyata bahkan bisa jadi grup gede gitu, ya! Bahkan sampe punya penyihir!
Emangnya segampang itu ya belajar sihir?!
“Oi, jangan melamun kalo lagi bawa kuda!”
“I…Iya, iya.”
Nggak tau kenapa, bawaannya gue jadi pengen belajar
pake sihir jadinya kalo emang segampang itu.