Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 139. When Everything Come Closer



Beberapa saat sebelum Djinn pergi ke Kemah Evakuasi Vigrias.


“*BRUK! (suara pintu besar runtuh)”


“Lari dari sini!”


““Yaaaa!””


Gerbang masuk Vigrias Capital dirubuhkan oleh para tahanan


yang dipimpin oleh Dalbert.


“Göhran, gimana kondisi lo?!”


“Maafkan aku jika aku…hanya memperlambatmu saja, Dalbert…”


Balas Göhran terkait kondisinya kepada Dalbert.


“Cih! Bahkan dua Naga


pun udah kecapean! Tambah lagi, Petualang tua juga udah kecapean! Sedangkan di


depan kita…”


Pikir Dalbert sambil menyaksikan pasukan prajurit yang


menjaga di sekitar gerbang Vigrias, serta pasukan prajurit yang berada di


sekitar kemah.


“Jangan bergerak! Serahkan diri kalian!”


Seru salah seorang pimpinan prajurit kepada mereka.


Namun yang harus dihadapi oleh prajurit-prajurit itu bukan


hanya Dalbert dan para tahanan saja.


“Woy! Kita warga Vigrias!”


“Ada bangsawan yang nyerang kita!”


“Minggir! Kita mau keluar dari kota ini!”


Seru beberapa warga Vigrias kepada prajurit yang berusaha


untuk mencegah Dalbert dan para tahanan.


Keadaan pun semakin memanas setelah beberapa orang yang


berada di kemah evakuasi ikut terlibat.


““Zorlyan!””


“Ma…Mahadia! Winona! Royce!”


Sahut Zorlyan kepada anggotanya yang memanggil namanya.


Tidak hanya mereka saja, beberapa orang yang berada di


sekitar kemah evakuasi juga mengenal orang-orang yang dicegah jalannya oleh


para prajurit.


Melihat kejadian ini, beberapa prajurit pun mulai merasa


setelah melihat reaksi sekitar mereka. Namun sebagai prajurit setia, mereka


tidak boleh bertindak diluar perintah.


Di saat momen ini berlangsung, seketika seseorang langsung


menerobos barisan para prajurit.


“*Bruk! (suara tertabrak)”


“Hey! Apa yang anda lakukan?!”


“Tangkap perempuan itu!”


Beberapa prajurit pun berlari mengejar perempuan itu.


Tanpa di duga, perempuan itu menghampiri seseorang yang


datang dari dalam Vigrias Capital.


“*Puk… (suara pelukan)”


“Ka…Ka…Kakak—”


“Jangan bergerak! Serahkan diri anda untuk kembali ke—”


“INI ADIK SAYA! JANGAN LEPAS SAYA DARI DIA LAGI!”


Teriak Miraela dengan tangis yang mendalam, sambil memeluk


Alethra dengan erat.


Melihat tindakan Miraela, Alethra pun teringat akan dialog


terakhirnya bersama Djinn, ketika melarikan diri bersama dari Penampungan.


“Jadi, apa yang mau lo


tanya?!”


“Nggak sih, cuma mau


ngasih tau aja kalo dia percaya kalo lo masih hidup. Makanya itu dia masih


nungguin lo.”


Karena ingatan itu…


“*Phuk… (suara pelukan)”


“Ka…Kakak! Ma…Maafin Alehtra, kak!”


“Alehtra…”


…ia pun menangis dan ikut memeluk kakaknya.


Karena tindakan Miraela, semua orang yang berada di sana pun


melakukan hal yang sama.


“*Bruk! (suara terabrak)”


“Minggir!”


“Biarin saya lewat! Saya mau ke sodara saya!”


“Jangan halang-halangin kita!”


Seru beberapa orang yang berusaha melewati para prajurit.


Dikarenakan aksi orang-orang tersebut, para prajurit pun


semakin bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.


“Ja…Jangan bergerak—”


“Tunggu! Jangan lukai orang-orang ini!”


Sahut salah seorang prajurit yang hendak menggunakan


senjatanya untuk menghentikan aksi para warga.


Karena aksi mereka semua tidak bisa dihentikan, para


prajurit pun menyerah untuk mencegah mereka semua.


Hingga pada akhirnya…


““*Trangrangrang… (suara menjatuhkan senjata)””


“He…Hey! Apa yang kalian laku—”


“Sepertinya kita salah.”


“Saya juga berpikir seperti itu, mengingat raja kita yang


baik hati juga akan melakukan hal yang sama dengan kita.”


Sahut dua prajurit ketika rekannya mempertanyakan aksi


mereka yang melepas senjata mereka dan menyerah.


Di saat sebagian besar prajurit hendak berpasrah diri untuk


mencegah semua orang yang menerobos hadangan mereka, tiba-tiba terjadi sesuatu


kejadian yang tidak terduga.


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Argh!”


“*Shruk! (suara tusukan pedang)”


“*Akkhh…”


“Kita adalah personil dari House of Siegfried! Apa yang


kalian lakukan?! Apakah kalian hendak melanggar perintah raja?!”


Seru salah seorang ksatria kepada para prajurit.


“Hentikan gerombolan tahanan dan warga Vigrias yang hendak


menerobos keluar dari ibukota! Jika kalian tidak menghentikan mereka, artinya


kalian semua menentang perintah dan siap menerima hukuman dari kami!”


““…””


Karena perintah ksatria itu, para ksatria pun terpaksa


mengangkat senjata mereka ke arah orang-orang yang menerobos.


Melihat tindakan para ksatria itu, Dalbert pun merasa kesal


dan menyerang para ksatria itu.


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“…”


Ia berhasil menembak kepala salah seorang ksatria itu,


hingga menembus kepala yang dilindungi oleh helm ksatria.


“Siapa yang menyerang—”


“Gue! Kenapa?! Ada masalah?!”


“Siapa anda?! Apakah anda—”


“Gue pemimpin BBE! Kenapa?! Kalian pikir gue takut?! Bahkan


Royal Knights yang kalian banggain juga nggak cukup untuk berhentiin gue!”


Seru Dalbert kepada para Ksatria itu.


Mendengar kata-kata Dalbert, para ksatria itu berusaha untuk


menyerangnya.


““Ya!””


Melihat Dalbert yang akan diserang para ksatria itu membuat


para anggota BBE untuk bersiap membantunya.


Namun…


“Kalian jangan ada yang gerak! Biar gue aja!”


““O…OK, Bos.””


…Dalbert melarang mereka untuk ikut membantunya.


“Bracelet Armament: Sword.”


““*Shrak! Shrak! Shrak! (suara banyak tebasan pedang)””


Dengan sihirnya, Dalbert merubah pistolnya menjadi pedang,


lalu ia membunuh beberapa ksatria tersebut.


Ketika beberapa ksatria sedang bertarung dengan Dalbert,


seseorang muncul di tengah-tengah mereka.


“Hentikan!”


““!!!””


Semua yang berada di tempat itu terkejut ketika mereka


melihat adanya Ratu Breshca yang hadir di tengah-tengah mereka.


““*Druk… (suara berlutut bersama)””


““Ya…Yang Mulia!””


Seru semua ksatria yang bersujud di hadapannya.


“Apa yang sedang terjadi di sini?”


“Pa…Para warga Vigrias hendak keluar dari dalam ibukota


bersama dengan para tahanan.”


“Para tahanan? Apa maksud kalian?”


Tanya Ratu Brescha kepada para ksatria.


Mendengar para ksatria, beberapa orang merasa tidak sanggup


menerima.


“Tahanan apaan?! Kita aja disiksa di dalam Penampungan!”


“Tadi ada Duke Siegfried yang mau coba bunuh kita! Makanya


kita mau keluar dari Vigrias karena udah nggak aman!”


“Iya! Masa kita nggak boleh keluar?!”


Seru beberapa para warga kepada Ratu Brescha.


“Ya…Yang Mulia, izinkan kami untuk menjelaskan semua—”


“Ratu Brescha, nama gue—Ehum, maaf.”


“Hm?”


“Nama saya Dalbert Dalrio. Dari nama saya, mungkin Ratu


Brescha tau siapa saya, kan?”


Tanya Dalbert yang memotong penjelasan dari salah seorang


ksatria.


“Diam! Anda tidak berhak—”


“Siapakah anda yang berani memerintahkan pria itu di hadapan


saya?!”


“Mo…Mohon maaf, Yang Mulia!”


Kata salah seorang ksatria sambil menunduk setelah ditegur


oleh Ratu Brescha.


Kemudian, Ratu Brescha melanjutkan perbincangannya dengan


Dalbert.


“Seperti yang anda jelaskan sebelumnya. Dari nama anda, saya


mengetahui bahwa anda adalah salah seorang anggota keluarga dari Riorio


Mechant. Namun tidak saya sangka bahwa anda adalah pimpinan bandit yang


menyerang bangsawan.”


“Ya. Saya nggak akan minta maaf atas tindakan saya maupun


rekan-rekan saya.”


“Baiklah, saya juga tidak akan menuntut permohonan maaf anda.


Namun, dengan adanya warga Erviga di sini, saya mohon penjelasan anda kepada


kami semua.”


Mendengar permintaan Ratu Brescha, Dalbert pun menjelaskan


semua kejadian yang terjadi di Erviga.


Mulai dari konspirasi kematian ayahnya, Darius Dalrio,


ditangkapnya Kaum Non-Manusia, hingga apa yang ia saksikan di Ruang Singgasana


bersama dengan Djinn.


“A…Apa yang anda bilang?! Suamiku—Tidak. Maksud saya, Raja


Glennhard sedang disandera di Ruang Singgasana?!”


“Ya. Dia disandera bareng kakak saya, Dahlia! Tambah lagi,


yang sandera mereka itu orang kepercayaan dari Raja Glennhard, Maverick Orbloom!


““!!!””


Penjelasan Dabert begitu mengejutkan semua yang ada di sana,


namun Ratu Brescha tidak bisa mempercayai sepenuhnya.


“Mendengar cerita anda, sepertinya masuk akal. Namun,


walaupun anda berasal dari Klan Dalrio, anda tetaplah seorang bandit.”


“…”


Dalbert terdiam dengan kesal ketika mendengar kata-kata yang


keluar dari mulut Ratu Breschia.


Hingga akhirnya…


“Yang dia bilang benar, Yang Mulia.”


“Anda ini…”


“Salam kenal. Saya adalah Alphonso Andersenn, pengawal dari


Riorio Merchant.”


““HAAAAAHHH?!?! MANTAN REKANNYA PAHLAWAN SYLVIA?!?!””


…Dalbert datang bersama Dalton dan beberapa anggota Riorio


Merchant.


“Phonso, dia itu…”


“…”


“Nanti aja ya, Tuan Muda.”


Balas Phonso kepada Dalton, setelah ia melihat Dalbert yang


terdiam karena malu jika adiknya mengetahui bahwa kakaknya adalah seorawng


bandit.


Tanpa mereka semua sadari…


“*Shringgg… (suara menghunuskan pedang)”


“He…Hey! Apa yang anda laku—”


“*Shruk! (suara tusukan pedang)”


“Urgh…”


…salah seorang ksatria hendak membunuh Dalbert dari


belakang. Namun Dalbert yang sadar akan itu langsung menusuknya terlebih


dahulu.


Kembali ke penjelasan Dalbert, Alphonso pun menjelaskan semua


yang dialami oleh Dahlia.


“Mungkin saya nggak tahu kalo Tuan Maverick Orbloom itu yang


manipulasi segalanya, tapi saya tahu kalo ada seseorang yang kontrol Nyonya Dahlia


dari belakang, Yang Mulia.”


“Nyonya Dalrio…”


“Mungkin saya mantan rekan Pahlawan, tapi saya nggak bisa


berbuat apa-apa untuk Nyonya saya. Malu-maluin ya, ahaha…”


Mendengar kejadian itu, Ratu Brescha pun merasa bersalah


atas semua yang terjadi tanpa sepengetahuan dirinya maupun suaminya.


Namun ketika ditengah perasaan bersalahnya, bencana pun


datang melanda semua yang berada di sana.


““Ruoaaaaar!””


“I…Itu…”


“A…ADA RATUSAN KAUM NAGA!!!”


““Aaaaargh!!””


Semua berlari ketakutan setelah mereka melihat adanya


ratusan Kaum Naga yang bergerak ke arah mereka semua.