
11 tahun yang lalu, di Vamulran Kingdom.
“*Chring, chring, chring…”
“Kerahkan kekuatanmu, Rivrith! Kamu adalah calon Tangan Kiri Raja! Setidaknya kamu harus memiliki kemampuan
berpedang yang kuat untuk mendapatkan posisi itu!”
“Ya! Aku sedang berusaha sekuat mungkin, Bibi Luscika!”
Kala itu, Rivrith Vamulran, yang saat ini sudah menjadi Tangan Kiri Raja, masih berlatih dibawah pimpinan
Luscika Vamulran, Anak Sulung dari Raja Bivomüne, yang masih berada di Vamulran Kingdom.
“Bagus, Rivrith! Sekarang…”
“*Shrrrkkk…”
“…gunakan kemampuan sihirmu!”
“*Vwummm…”
“Baiklah, Bibi Luscika!”
Selain berlatih ilmu berpedang, Luscika juga melatih ilmu sihirnya, walaupun panggilan alam yang diterima oleh
Jiwa mereka sangatlah berbeda.
((Ice Magic: Blizzard Strike))
“*Shrrrkkk…”
Luscika menerima panggilan alam berupa es.
((Fire Magic: Blazing Hydra))
““*Vwumm…””
Sementara Rivrith menerima panggilan alam berupa api.
““…””
Di tengah latihan tersebut, Bivomüne menyaksikannya bersama Luvast kecil di sampingnya.
“Wuaaah…! Bibi Luscika… sangatlah kuat…!”
“Bwahahahaha! Tentu saja! Karena ia adalah anak pertama kakek, Luvast!”
Balas Bivomüne kepada Luvast kecil, yang sangat kagum dengan bibinya.
“Kakek, kakek, kakek! Apakah aku bisa sekuat Bibi Luscika?!”
“Hm?! Sepertinya tidak, cucuku!”
“Hah?! Mengapa tidak—”
“Karena kakek yakin, bahwa kau akan menjadi jauh lebih kuat daripadanya! Bwahahahaha!!!”
“Huuuh…! Aku kira aku tidak akan bisa sekuat Bibi Luscika! Ternyata aku bisa lebih kuat darinya!”
Balas Luvast kecil dengan lega, yang tidak sadar dengan keusilan kakeknya.
“Semoga saja aku bisa menggunakan kekuatan es yang lebih kuat daripada Bibi Luscika! Mungkin saja aku bisa
menciptakan gunung es dengan—”
“Cucuku, Luvast. Mungkin kau mampu menjadi lebih kuat daripada bibimu. Akan tetapi, sepertinya kakek rasa
kamu tidak akan memiliki kekuatan yang serupa dengannya.”
“T-Tidak akan… memiliki kekuatan yang serupa…? Apa maksud kakek…?”
Tanya Luvast kecil dengan heran kepada kakeknya.
“Karena kakek bisa melihat, bahwa panggilan alam yang akan diterima oleh Jiwa-mu adalah api. Bukanlah es, seperti bibimu.”
“A-A-Api…? Kalau begitu… aku akan lebih mirip… dengan ayah… dibandingkan dengan Bibi Luscika…?”
“…”
Bivomüne menyaksikan cucunya yang kecewa.
“*Tap…”
Ia pun mengelus kepalanya, dengan maksud menghiburnya.
“Tenanglah, cucuku! Kekuatanmu mungkin berbeda dengan bibimu Luscika! Tetapi kau tetap bisa kuat menjadi
seperti bibimu! Bwahahaha!”
“Ya, kakek.”
Balas Luvast kecil, walaupun rasa kecewa belum sepenuhnya pulih di dalam hatinya.
Namun, beberapa bulan setelah menyaksikan latihan antara Luscika dengan Rivrith, kekecewaannya semakin
membesar…
““Hahahaa!””
“…”
…setelah ia menyaksikan tindakan jahat ayahnya[1] kepada Djinnardio, saudara yang sangat ia sayangi.
Oleh karena itu, ia pun berjanji, bahwa kelak ia menjadi wanita yang kuat, ia tidak akan menghiraukan panggilan alam yang diterima oleh Jiwanya.
Dengan kata lain, ia berjanji untuk tidak akan menggunakan kekuatan api.
……………
Kembali ke saat ini, di mana Luvast melanggar janjinya karena terdesak oleh Vylsalea, Iblis yang ia kalahkan, yang sebelumnya mengancam nyawa Djinn, Machinno, serta rekan-rekannya.
“L-LUVAST!!! APA YANG TERJADI KEPADA ANDA?!?!”
“K-Kakak… Rivrith…?!”
Balas Luvast dengan terkejut, ketika mendapati Rivrith yang datang di hadapannya.
“…”
Rivrith mendapati Djinn, saudara sepupunya, yang memegang Ark Blade.
“*Tap!”
“Aaaargh!”
“Woy—”
“Jawab kepada saya, Luvast! Apakah anda… menyentuh senjata kuno itu…?!”
Tanya Rivrith kepada Luvast, sambil memegang tangannya yang terluka, tanpa memperdulikan Djinn.
“L-Lepaskan saya… Kakak Rivrith—”
“Jawab saya, Luvast!”
“T-Tanganku… sakit—”
“*Tap!”
“!!!”
Rivrith dikejutkan dengan Djinn yang mendorongnya, agar ia melepas Luvast.
“Punya otak nggak sih lo?! Lo pikir dia nggak kesakitan kalo lo pegangin kayak gitu?!”
“…”
Rivrith hanya menatap Djinn yang bertanya kepadanya, sambil menyentuh pundak kiri Luvast. Ia merasa heran dengan pria bertopeng yang berada di hadapannya.
“Pria ini… apakah ia adalah Djinnardio yang seperti saya kenali sebelumnya? Entah mengapa, selain dari cara
berbicara dan aura unik yang ia punya, ada sesuatu yang berbeda juga darinya.”
Pikir Rivrith dengan heran akan Djinnardio.
“Apakah anda adalah Djinnardio Vamulran?!”
al+1 dikatakan oleh Rivrith.
“A-Apa maksud anda… Kakak Rivrith…?”
“Anda harus kembali bersama saya ke Vamulran Kingdom!”
“T-Tunggu! Mungkin awalnya saya hendak kembali ke Vamulran Kingdom, untuk membawa rakyat kita! Tetapi—”
“Anda tidak perlu khawatir akan itu! Setidaknya sudah ada satu warga yang bisa kami amankan! Oleh karena itu—”
“Jika sudah ada yang bisa anda amankan, maka tidak ada alasan bagi saya untuk kembali! Karena saya akan
kembali bersama Party saya untuk—”
“Anda adalah seorang Putri! Bukan seorang Petualang! Camkanlah itu, sebagai salah satu Putri Kerajaan di Vamulran Kingdom!”
Tegas Rivrith kepada Luvast.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rivrith, Djinn marah besar.
“Lo pikir lo siapa, anjing?!”
“A-Apa yang anda bilang kepada saya—”
“Lo pikir lo siapa, yang bisa nyuruh-nyuruh dia kayak gitu?!”
“Anda tidak usah ikut campur! Karena di mata saya, anda tidak lebih dari sekedar orang yang sudah mati—”
“Lo tau nggak apa yang udah dia alamin?! Hah?!”
Tanya Djinn dengan kesal kepada Rivrith.
“Lo bisa sadap Orb Call Party gue sama dia, tapi lo nggak ada usaha apa-apa untuk bantu dia dari genggaman Black Guild[2]!”
“Saya mengetahuinya.”
“Lo tau?! Terus lenapa—”
“Oleh karena itu, saya tidak akan membiarkannya kembali menjadi Petualang! Selagi saya ada kesempatan untuk
membawanya, saya akan membawanya dari sini! Janganlah menghalangi saya!”
“Lo pikir gue mau biarin lo bawa anggota Kapten gue?!”
Seru Djinn kepada Rivrith, sebelum mereka saling menyerang satu sama lain.
“T-Tunggu! Djinn! Kakak Rivrith—”
Rivrith langsung menggunakan Union Domi untuk memulai pertarungan.
“Cih! Si anjing ini bisa pake Union Domi juga!”
Pikir Djinn dengan kesal, setelah ia menyadari Jiwa-nya yang tidak aktif karena Rivrith.
“*SWUSH!!!”
“…”
Beruntung Djinn masih mampu menghindari serangan Rivrith, walaupun Jiwa miliknya tidak aktif.
“*BHUK!!!”
“Akh—”
“*DHUK!!!”
Ia kemudian menyerang Rivrith dengan pukulan dan tendangan kerasnya.
“Heaaaagh!!!”
“*Vwummm!!!”
“!!!”
Akan tetapi ia tiba-tiba dikejutkan dengan Union Utuh yang digunakan Rivrith, sehingga ia terlihat seperti memukul kobaran api.
“*Vwumm…”
Karena itu tangannya terbakar.
{((Fire Utuh: Ifrit Fists))}
“*VWUMM, WUMM, WUMM…”
“Keuk…!”
Rivrith kemudian memukul Djinn dengan tangannya yang berubah menjadi api.
“*Vwumm…”
“Cih…! Dasar bajingan…!”
Bisik Djinn dengan kesal, setelah ia merasakan luka bakar pada Tubuh-nya.
“…”
Djinn pun diam sejenak, karena ia masih ragu untuk menggunakan kemampuan barunya, yang ia dapatkan dari Hidden Dungeon of Breath.
Karena itu Rivrith memanfaatkan kesempatan untuk menyerangnya kembali.
“*SWUSH!!!”
“…”
Rivrith menyerang Djinn kembali dengan gerakan cepatnya. Tetapi Djinn mampu menghindarinya, dengan
menggulingkan dirinya ke belakang.
“Ia tidak menggunakan kemampuan sihirnya. Berarti usaha saya dalam menggunakan Union Domi tidaklah sia-sia.”
Pikir Rivrith, sebelum ia menggunakan kembali Union Domi.
Akan tetapi…
“Uhuk…!”
“*Crat…!”
…ia mengalami Mana-Burnout, sehingga ia batuk berdarah.
“S-Sial…! Tidak saya sangka… bahwa Penakluk bernama Leonard itu… berhasil memaksa saya… untuk mengeluarkan semua kemampuan saya…! Tetapi yang lebih membuat saya kesal adalah… fakta bahwa ia masih menyimpan kekuatan sebenarnya…!”
Pikir Rivrith terkait kondisinya saat ini, yang disebabkan oleh Leonard.
Di saat Rivrith mengalami Mana-Burnout…
“*SWUSH!!!”
“Dj-Djinn! Tunggu—”
“*DHUK!!!”
“Akh…!”
…Djinn yang langsung memanfaatkan keadaan, walaupun Luvast mengingatkan dirinya untuk berhenti.
“…”
Djinn hendak menyerang Rivrith kembali. Namun ia berhenti karena permintaan Luvast.
“A-Apa yang anda tunggu… Djinnardio Vamulran…?! Bukankah keadaan saya saat ini… sangat menguntungkan
anda—”
“Sorry ya. Mungkin gue bisa aja bunuh lo sekarang. Tapi gue lebih menghargai permintaan sodara gue sendiri, daripada abang tolol yang sadap adeknya sendiri yang—”
“A-Apakah anda pikir… yang saya lakukan… tidak lebih dari sekedar penguntit…?!”
Tanya Rivrith kepada Djinn.
“Asalkan anda tahu… Djinnardio Vamulran…! Saya… terpaksa melakukan hal seperti itu… karena saya harus
berhati-hati…!”
“Hah?! Hati-hati?! Maksud lo kayak banci kali—”
“Anda tidak akan mengetahui… bahaya macam apa… yang akan dihadapi Luvast… sebagai… seorang Putri… dari
Vamulran Kingdom…!”
“…”
Djinn terdiam dengan heran.
“Apa maksud lo—”
“Vamulran Kingdom adalah… negara yang sangat kaya… yang diinginkan oleh negara lain…! Banyak negara… yang akan melakukan segala cara… untuk mengancam negara kami…! Bayangkan saja… jika ada seorang Putri… yang berkeliaran… sebagai Petualang… tanpa adanya pengawasan… dari negaranya sendiri…!”
““…””
Djinn dan Luvast terdiam ketika mendengar penjelasan Rivrith. Walaupun belum semua yang ia jelaskan kepada
mereka.
“T-Tambah lagi…”
““…””
“Tambah lagi… sebagai seseorang yang sangat mengagumi Bibi Luscika… ia hanya akan menjadi incaran… bagi ayah saya… dan anggotanya…! Karena ia diyakini akan membahayakan rencana ayah saya… untuk merebut takhta Vamulran Kingdom…!”
“!!!”
Djinn tetap terdiam ketika mendengar penjelasan Rivrith, karena ia tahu bagaimana rasanya menjadi target
banyak orang. Tetapi berbeda dengan Luvast, yang terkejut dengan penjelasan Rivrith.
“A-Apa maksud anda… Kakak Rivrith…?”
“Seperti yang saya bilang… Luvast…! Mulai sejak anda diizinkan keluar dari Vamulran Kingdom… ayah telah
menganggap anda… sebagai seorang pengganggu… yang harus dibasmi…!”
Jelas Rivrith kepada adiknya, terkait kebusukan ayahnya.
“Hmph! Terus lo pikir gue gimana?! Emangnya gue nggak tau rasanya jadi inceran—”
“Diamlah…! Anda memalsukan… kematian anda…! Anda merahasiakan… identitas anda…! Maka dari itu… anda tidak lebih dari sekedar pecundang… seperti saya… Djinnardio Vamulran…!”
“Cih!”
Djinn merasa kesal, setelah ia merasa tidak bisa menampik apa yang dikatakan oleh Rivrith.
“Luvast…”
“…”
“Kembalilah bersama saya. Saya yakin… kakek… maupun Bibi Edhlein… mampu menyembuhkan lengan anda… Luvast…!”
“…”
Luvast tetap terdiam. Ia kemudian memperhatikan lengannya yang buruk rupa karena luka bakar yang ia terima.
“L-Luvast…”
“…”
“Tidakkah… anda ingat… bahwa ibu dan Bibi Luscika… sangat mengagumi kecantikan anda…?”
“I-Ibu… Bibi Luscika…”
Bisik Luvast, setelah perkataan Rivrith membuatnya teringat akan dua wanita yang sangat ia sayangi.
“K-Karena itu… anda bisa… menjadi cantik dengan sempurna… dengan kembali ke Vamulran Kingdom… agar lengan anda… bisa disembuhkan…!”
“…”
Djinn yang mendengar Rivrith juga merasa bersalah.
“Ini semua salah gue! Karena gue, lengan Luvast jadi luka kayak gitu! Makanya itu, kalo dia emang Vamulran
Kingdom bisa sembuhin dia, gue nggak bisa ngapa-ngapain lagi, selain biarin dia pergi!”
Pikir Djinn dengan merasa bersalah karena tindakannya yang memberikannya Ark Blade.
Namun bukan berarti Djinn tidak bisa menahan Luvast.
“Vas. Denger gue baik-baik.”
“…”
“Sebelum kita sepakat untuk hancurin Orb Call kita masing-masing, kita dari Aquilla mau nyusul lo secepetnya karena kita khawatir. Gue nggak akan nyalahin lo kalo lo emang mau balik ke Vamulran Kingdom. Tapi kalo emang itu niat lo, seenggaknya tolong bilang anggota Aquilla lainnya. Khususnya Kapten kita, Myllo.”
“…”
Mendengar perkataan Djinn membuat Luvast teringat akan momen di mana Myllo merekrutnya.
_______________
[1]Momen di mana Djinnardio kecil dipermalukan oleh Aranual dan para High Elf lainnya pada pernikahan Balzaer, pamannya (Chapter 19).
[2]Djinn membicarakan tentang Luvast yang terpaksa menjadi Kakak Besar di Goldiggia karena terancam oleh Bjüdrox (Chapter 6 & Chapter 19).