Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 34. Adventurer's Pride



Akhirnya gue abisin sisa 10


piring yang udah gue pesen.


Siangnya, gue lebih banyak


ngabisin waktu bareng Luvast untuk nanya-nanya tentang keluarga gue di dunia


ini.


“Jadi, apakah kamu hendak


berbicara dengan kakek?”


“Ja…Jangan deh. Gue masih belom yakin


karena gue lupa sama kakek.”


Nggak, lebih tepatnya gue belom


yakin karena gue nggak tau sama kakeknya Djinnardio.


“Baiklah. Kakek pun tidak


memaksakan dirimu untuk berbicara langsung dengannya, Djinn.”


“Oh gitu, ya.”


“Tenang saja. Jangan merasa berat


hati, saudaraku.”


Ya siapa juga yang nggak enakan


kalo tau kondisinya kayak gitu?


Tambah lagi…


Bahkan di dunia lama gue pun, gue


nggak kenal siapa kakek atau nenek gue.


Waktu udah malem, gue samperin


tempatnya Bismont yang udah bukan di samping kamar gue, Meldek, sama Styx


beberapa hari yang lalu.


Gue ke sini bareng Luvast sama


Myllo, yang…


“Hueekkk!”


“Hadeh, kalo nggak kuat minum,


ngapain harus ngotot minum banyak-banyak?!”


“Nggak apa-apa! Kalo nggak minum


banyak, artinya gue nggak apresiasi yang ngadain acara! Lagian, cukup muntah


sekali, udah sadar, kok.”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“ADUDUDUDUH!!!”


“Bukan masalah sadar atau


nggaknya! Lo jorok, dongo!”


“Hah?! Lo ngatain gue dongo?!”


“Emang lo dong—”


“Baiklah, baiklah, baiklah…lebih


baik kita masuk.”


““Ya…””


Untung ada Luvast! Kalo nggak


ada, bisa nggak abis cekcok gue sama Si Dongo satu ini!


Waktu udah ketemu Bismont, dia


langsung jelasin apa yang udah dia temuin.


Ternyata ada banyak bangsawan


yang terlibat transaksi sama Goldiggia. Mulai dari Ksatria, bahkan sampe


Marquis.


“Makanya itu, sekarang Erviga


jadi kacau banget.”


“Ternyata, di negara manapun,


pasti ada setidaknya satu personil negara yang ‘kotor’, ya.”


“Anda benar, Putri Luvast.”


Tapi, ada satu bahasan yang sama


pentingnya untuk dibahas.


“Terus, lo udah pada tau nggak,


siapa mereka yang transaksi sama Bjüdrox?”


“Gue nggak tau semuanya, yang


pasti salah satunya Children of Purgatory.”


Oh, komplotannya Si Manusia Iblis


itu, ya?


“Saya tahu siapa mereka. Saya pun


paham mengapa orang yang kerap dipanggil Styx itu menjadi target mereka.”


“Hm?”


“Ia sebagai perempuan berdarah


Mistyx, tentu memiliki darah Iblis. Maka dari itu, ia sangat penting untuk


ritual sekte itu, entah digunakan agar Iblis menguasai Tubuh-nya, atau Jiwa-nya


yang digunakan untuk memanggil Iblis yang lebih kuat lagi.”


Gila kali?!


Udah nggak diterima orang-orang,


dia juga diincer untuk ritual kayak gitu?!


“Brak! (suara memukul meja)”


Myllo kenapa marah banget?!


“Bang Myl, keliatannya abang


marah—”


“Dasar gila!”


““…””


“Styx hidupnya nggak diterima


dimanapun! Masa ia pilihan dia cuma gabung ke sekte sesat kayak gitu?!”


Bener, Myl. Gue juga mikir kayak


gitu.


“Terus, buat apa juga Kak Sylv


ngorbanin dirinya, kalo mereka masih aktif?!”


Oh, jadi yang namanya Sylvia itu


mati karena lawan Iblis?!


“Jadi, kita harus pantau


pergerakan mereka, Myl?”


“Ya, selama ada tanda-tanda dari


sekte itu, kita gerak. Tapi selama kita masih jadi Petualang, petualangan tetep


lanjut, kan? Hihi!”


Tadi jutek, sekarang jadi


ketawa-ketiwi. Nih orang kelainan apa gimana?


“Grahaha! Abang bener banget,


bang!”


“Hihi! Memang petualangan itu


menyenangkan, bukan?”


“Oh iya, bang!”


“…”


Waw! Itu duit?! Tapi kok…recehan


semua, ya?


“Ini hadiah dari gue bang, karena


abang udah selamatin banyak tahanan dari Goldiggia dan berhasil ngalahin


Goldiggia—”


“Makasih untuk hadiahnya, tapi


gue gak bisa terima kalo dibilang ngalahin Goldiggia.”


“Hah?! Maksud lo apa, Myl?!”


“Kan yang ngalahin ketuanya bukan


gue, bukan lo juga, kan?”


“Ta…Tapi seenggaknya kan kita


udah ngalahin anak buah—”


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Ngalahin anak buahnya itu beda


sama ngalahin Kaptennya, Djinn! Kapten itu simbol kelompok! Jadi kalo dibilang


kita yang ngalahin Goldiggia, kita nggak pantes!”


“Tapi—”


“Petualang juga punya harga


diri, Djinn!”


“…”


Harga diri sebagai Petualang, ya?


Apa itu lebih penting daripada


uang?


“OK, gue paham, Bang Myllo. Kalo


gitu, anggep aja sebagian uang ini sebagai jasa kalian karena udah bebasin para


tahanan Goldiggia.”


Hah?! Sebagian doang jadinya?!


“Myl! Kenapa nggak ambil


semuanya—”


“Djinn, aku tahu maksud Myllo.


Sebaiknya kamu terima saja hadiah tersebut. Lagipula, sebagian harga yang akan


Duh, gue nggak tau apa-apa lagi


soal mata uang di dunia ini!


“Hmm…maaf karena gue juga lupa


soal ekonomi di dunia ini. Emang untuk uang sebanyak ini bisa dapet apa aja,


ya?”


“Hm…sepertinya kamu bisa


mendapatkan 5 peternakan.”


“Oh—Hah?! 5 peternakan?!”


“I…Iya…”


“OK. Maafin gue, Myl. Kalo gitu


kita terima aja sebagian hadiahnya!”


“Hehe! Percaya aja sama Kapten


lo, Djinn!”


Gila! Kalo dapet 5 peternakan,


artinya udah kaya banget gak sih?!


“Graahaha! OK kalo begitu—”


“Bismont.”


“Ya? Kenapa, bang?”


“Gue dapet permintaan dari Styx.”


“Hm?”


“Dia minta tolong supaya lo


angkat Char-Char jadi anak lo. Gimana?”


“…”


Waduh. Kok ngeliatinnya tajem


banget—


“Siap, bang! Dragonewt cilik itu


keliatannya anak baik. Jadi gue janji untuk rawat dia baik-baik!”


“Hehe! OK, kalo gitu kita pesta


lagi!”


““Ya!””


Haha, ternyata gue khawatir untuk


hal yang gak penting, ya.


“Djinn.”


“Apa?”


“Ayo ikut gue ke kedai makan! Ada


hal penting yang harus kita jalanin!”


“A—OK!”


Untuk sementara, gue gak mau


pertanyain setiap keputusan dia. Mending gue ikutin aja kemana arah dia mimpin


gue.


.......................


Gue pun jalan ke kedai makan


bareng dia sama Luvast. Tapi untuk Bismont, dia mau ajak ngobrol Char-Char,


supaya dia mau jadi anaknya.


Waktu sampe di kedai makan…


“*Tring, tring, tring… (suara


mengetuk piring)”


…dia tiba-tiba ketok piring


sambil naik meja.


Nih orang mau ngapain, sih?


“Perhatian semua!”


““…””


“Gue Myllo Olfret! Calon


Petualang Nomor 1 di dunia! Dan kali ini, Party gue resmi nambah satu anggota!”


““*Gluk! (Suara menenggak minum)”


“Ahhh…”


Bentar, nih orang ngapa—


“Djinn! Cepat naik ke atas meja!”


Woy! Kok tiba-tiba Luvast dorong gue


ke mejanya Myllo?!


“…”


“Semua! Ini anggota pertama gue,


Djinn!”


““Yeeaaaaah!””


Woy! Malu banget gue! Ngapain sih


sampe kayak gini?!


“Djinn.”


“…”


“Minum ini!”


Hah?! Dia tiba-tiba minum gue


dari cangkir yang sama?!


Yaudah lah, minum aja.


“Selamat bergabung di ‘cangkir’


yang sama!”


“Ya!”


“Hihi! Maafin gue karena nggak


bisa bikin gini sebelumnya.”


“Hm!”


Mungkin awalnya gue ngerasa


norak, sih. Tapi bentuk simbolis kayak gini, gue rasa nggak sejelek itu rupanya.


.......................


Besoknya, gue bareng Myllo mulai


jalan untuk petualangan kita. Kalo dari Bismont, dia nyaranin untuk ke Milkin


Town yang paling deket dari Calmisiu Village, desa ini.


Tambah lagi, ada Guild disana.


Jadinya gue bisa daftarin diri untuk jadi Petualang di sana.


“Emang jaraknya berapa jauh dari


desa ini ke kota itu?”


“Untuk perjalanan kaki sih, ada


sekitar 2 malam.”


“Hah?! Sejauh itu?!”


“I…Itu paling deket, kok. Percaya


deh!”


Andai ada kendaraan, mungkin bisa


lebih cepet kali, ya?


“Oh iya, Djinn.”


Bismont mau ngomongin apa lagi?


“Lo mau sembunyiin identitas lo,


kan?”


“Iya.”


“Pake ini.”


Gue dikasih topeng?


“…”


Hm…


Bentuknya sih agak keren menurut


gue.


“Kebetulan anak gue yang namanya


Porto seneng bikin sesuatu. Jadi waktu gue minta bikinin topeng, dia langsung


bikin topeng ini.”


Tunggu, ada yang bikin gue


bingung.


“Cara pakenya gimana? Nggak ada


talinya.”


“Tempel aja di muka. Nanti pasti


nempel, kok.”


“…”


Lah iya! Waktu gue coba ngangguk


sana-sini, nggak jatoh sama sekali!


“Topeng ini nempel kalo yang pake


punya Mana. Tapi tenang, topeng ini nggak nguras Mana sama


sekali, kok.”


Keren nih, topeng!


Jadinya gue nggak perlu khawatir soal wajah gue lagi!


Oh iya, Myllo kemana? Bukannya


mau jalan?


“…”


Dia lagi ngomong sama Luvast?


Lagi bahas apaan?