
Akhirnya gue abisin sisa 10
piring yang udah gue pesen.
Siangnya, gue lebih banyak
ngabisin waktu bareng Luvast untuk nanya-nanya tentang keluarga gue di dunia
ini.
“Jadi, apakah kamu hendak
berbicara dengan kakek?”
“Ja…Jangan deh. Gue masih belom yakin
karena gue lupa sama kakek.”
Nggak, lebih tepatnya gue belom
yakin karena gue nggak tau sama kakeknya Djinnardio.
“Baiklah. Kakek pun tidak
memaksakan dirimu untuk berbicara langsung dengannya, Djinn.”
“Oh gitu, ya.”
“Tenang saja. Jangan merasa berat
hati, saudaraku.”
Ya siapa juga yang nggak enakan
kalo tau kondisinya kayak gitu?
Tambah lagi…
Bahkan di dunia lama gue pun, gue
nggak kenal siapa kakek atau nenek gue.
Waktu udah malem, gue samperin
tempatnya Bismont yang udah bukan di samping kamar gue, Meldek, sama Styx
beberapa hari yang lalu.
Gue ke sini bareng Luvast sama
Myllo, yang…
“Hueekkk!”
“Hadeh, kalo nggak kuat minum,
ngapain harus ngotot minum banyak-banyak?!”
“Nggak apa-apa! Kalo nggak minum
banyak, artinya gue nggak apresiasi yang ngadain acara! Lagian, cukup muntah
sekali, udah sadar, kok.”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“ADUDUDUDUH!!!”
“Bukan masalah sadar atau
nggaknya! Lo jorok, dongo!”
“Hah?! Lo ngatain gue dongo?!”
“Emang lo dong—”
“Baiklah, baiklah, baiklah…lebih
baik kita masuk.”
““Ya…””
Untung ada Luvast! Kalo nggak
ada, bisa nggak abis cekcok gue sama Si Dongo satu ini!
Waktu udah ketemu Bismont, dia
langsung jelasin apa yang udah dia temuin.
Ternyata ada banyak bangsawan
yang terlibat transaksi sama Goldiggia. Mulai dari Ksatria, bahkan sampe
Marquis.
“Makanya itu, sekarang Erviga
jadi kacau banget.”
“Ternyata, di negara manapun,
pasti ada setidaknya satu personil negara yang ‘kotor’, ya.”
“Anda benar, Putri Luvast.”
Tapi, ada satu bahasan yang sama
pentingnya untuk dibahas.
“Terus, lo udah pada tau nggak,
siapa mereka yang transaksi sama Bjüdrox?”
“Gue nggak tau semuanya, yang
pasti salah satunya Children of Purgatory.”
Oh, komplotannya Si Manusia Iblis
itu, ya?
“Saya tahu siapa mereka. Saya pun
paham mengapa orang yang kerap dipanggil Styx itu menjadi target mereka.”
“Hm?”
“Ia sebagai perempuan berdarah
Mistyx, tentu memiliki darah Iblis. Maka dari itu, ia sangat penting untuk
ritual sekte itu, entah digunakan agar Iblis menguasai Tubuh-nya, atau Jiwa-nya
yang digunakan untuk memanggil Iblis yang lebih kuat lagi.”
Gila kali?!
Udah nggak diterima orang-orang,
dia juga diincer untuk ritual kayak gitu?!
“Brak! (suara memukul meja)”
Myllo kenapa marah banget?!
“Bang Myl, keliatannya abang
marah—”
“Dasar gila!”
““…””
“Styx hidupnya nggak diterima
dimanapun! Masa ia pilihan dia cuma gabung ke sekte sesat kayak gitu?!”
Bener, Myl. Gue juga mikir kayak
gitu.
“Terus, buat apa juga Kak Sylv
ngorbanin dirinya, kalo mereka masih aktif?!”
Oh, jadi yang namanya Sylvia itu
mati karena lawan Iblis?!
“Jadi, kita harus pantau
pergerakan mereka, Myl?”
“Ya, selama ada tanda-tanda dari
sekte itu, kita gerak. Tapi selama kita masih jadi Petualang, petualangan tetep
lanjut, kan? Hihi!”
Tadi jutek, sekarang jadi
ketawa-ketiwi. Nih orang kelainan apa gimana?
“Grahaha! Abang bener banget,
bang!”
“Hihi! Memang petualangan itu
menyenangkan, bukan?”
“Oh iya, bang!”
“…”
Waw! Itu duit?! Tapi kok…recehan
semua, ya?
“Ini hadiah dari gue bang, karena
abang udah selamatin banyak tahanan dari Goldiggia dan berhasil ngalahin
Goldiggia—”
“Makasih untuk hadiahnya, tapi
gue gak bisa terima kalo dibilang ngalahin Goldiggia.”
“Hah?! Maksud lo apa, Myl?!”
“Kan yang ngalahin ketuanya bukan
gue, bukan lo juga, kan?”
“Ta…Tapi seenggaknya kan kita
udah ngalahin anak buah—”
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Ngalahin anak buahnya itu beda
sama ngalahin Kaptennya, Djinn! Kapten itu simbol kelompok! Jadi kalo dibilang
kita yang ngalahin Goldiggia, kita nggak pantes!”
“Tapi—”
“Petualang juga punya harga
diri, Djinn!”
“…”
Harga diri sebagai Petualang, ya?
Apa itu lebih penting daripada
uang?
“OK, gue paham, Bang Myllo. Kalo
gitu, anggep aja sebagian uang ini sebagai jasa kalian karena udah bebasin para
tahanan Goldiggia.”
Hah?! Sebagian doang jadinya?!
“Myl! Kenapa nggak ambil
semuanya—”
“Djinn, aku tahu maksud Myllo.
Sebaiknya kamu terima saja hadiah tersebut. Lagipula, sebagian harga yang akan
Duh, gue nggak tau apa-apa lagi
soal mata uang di dunia ini!
“Hmm…maaf karena gue juga lupa
soal ekonomi di dunia ini. Emang untuk uang sebanyak ini bisa dapet apa aja,
ya?”
“Hm…sepertinya kamu bisa
mendapatkan 5 peternakan.”
“Oh—Hah?! 5 peternakan?!”
“I…Iya…”
“OK. Maafin gue, Myl. Kalo gitu
kita terima aja sebagian hadiahnya!”
“Hehe! Percaya aja sama Kapten
lo, Djinn!”
Gila! Kalo dapet 5 peternakan,
artinya udah kaya banget gak sih?!
“Graahaha! OK kalo begitu—”
“Bismont.”
“Ya? Kenapa, bang?”
“Gue dapet permintaan dari Styx.”
“Hm?”
“Dia minta tolong supaya lo
angkat Char-Char jadi anak lo. Gimana?”
“…”
Waduh. Kok ngeliatinnya tajem
banget—
“Siap, bang! Dragonewt cilik itu
keliatannya anak baik. Jadi gue janji untuk rawat dia baik-baik!”
“Hehe! OK, kalo gitu kita pesta
lagi!”
““Ya!””
Haha, ternyata gue khawatir untuk
hal yang gak penting, ya.
“Djinn.”
“Apa?”
“Ayo ikut gue ke kedai makan! Ada
hal penting yang harus kita jalanin!”
“A—OK!”
Untuk sementara, gue gak mau
pertanyain setiap keputusan dia. Mending gue ikutin aja kemana arah dia mimpin
gue.
.......................
Gue pun jalan ke kedai makan
bareng dia sama Luvast. Tapi untuk Bismont, dia mau ajak ngobrol Char-Char,
supaya dia mau jadi anaknya.
Waktu sampe di kedai makan…
“*Tring, tring, tring… (suara
mengetuk piring)”
…dia tiba-tiba ketok piring
sambil naik meja.
Nih orang mau ngapain, sih?
“Perhatian semua!”
““…””
“Gue Myllo Olfret! Calon
Petualang Nomor 1 di dunia! Dan kali ini, Party gue resmi nambah satu anggota!”
““*Gluk! (Suara menenggak minum)”
“Ahhh…”
Bentar, nih orang ngapa—
“Djinn! Cepat naik ke atas meja!”
Woy! Kok tiba-tiba Luvast dorong gue
ke mejanya Myllo?!
“…”
“Semua! Ini anggota pertama gue,
Djinn!”
““Yeeaaaaah!””
Woy! Malu banget gue! Ngapain sih
sampe kayak gini?!
“Djinn.”
“…”
“Minum ini!”
Hah?! Dia tiba-tiba minum gue
dari cangkir yang sama?!
Yaudah lah, minum aja.
“Selamat bergabung di ‘cangkir’
yang sama!”
“Ya!”
“Hihi! Maafin gue karena nggak
bisa bikin gini sebelumnya.”
“Hm!”
Mungkin awalnya gue ngerasa
norak, sih. Tapi bentuk simbolis kayak gini, gue rasa nggak sejelek itu rupanya.
.......................
Besoknya, gue bareng Myllo mulai
jalan untuk petualangan kita. Kalo dari Bismont, dia nyaranin untuk ke Milkin
Town yang paling deket dari Calmisiu Village, desa ini.
Tambah lagi, ada Guild disana.
Jadinya gue bisa daftarin diri untuk jadi Petualang di sana.
“Emang jaraknya berapa jauh dari
desa ini ke kota itu?”
“Untuk perjalanan kaki sih, ada
sekitar 2 malam.”
“Hah?! Sejauh itu?!”
“I…Itu paling deket, kok. Percaya
deh!”
Andai ada kendaraan, mungkin bisa
lebih cepet kali, ya?
“Oh iya, Djinn.”
Bismont mau ngomongin apa lagi?
“Lo mau sembunyiin identitas lo,
kan?”
“Iya.”
“Pake ini.”
Gue dikasih topeng?
“…”
Hm…
Bentuknya sih agak keren menurut
gue.
“Kebetulan anak gue yang namanya
Porto seneng bikin sesuatu. Jadi waktu gue minta bikinin topeng, dia langsung
bikin topeng ini.”
Tunggu, ada yang bikin gue
bingung.
“Cara pakenya gimana? Nggak ada
talinya.”
“Tempel aja di muka. Nanti pasti
nempel, kok.”
“…”
Lah iya! Waktu gue coba ngangguk
sana-sini, nggak jatoh sama sekali!
“Topeng ini nempel kalo yang pake
punya Mana. Tapi tenang, topeng ini nggak nguras Mana sama
sekali, kok.”
Keren nih, topeng!
Jadinya gue nggak perlu khawatir soal wajah gue lagi!
Oh iya, Myllo kemana? Bukannya
mau jalan?
“…”
Dia lagi ngomong sama Luvast?
Lagi bahas apaan?