
Beberapa saat yang lalu, ketika Myllo dan Jenna berpisah dari dalam Sihir Penghadang milik Machinno.
“Ayo kita gerak sekarang, Jenna!”
“Baik!”
Jenna keluar dari penghadang milik Machinno untuk menyelamatkan kakaknya, Nemesia.
Sementara Myllo…
“*FWUSH!!!”
““!!!””
…berlari dengan sangat kencang karena kekuatan Zegin.
“Cih! Dia kabur, Charvelle!”
Seru Klavak dengan kesal.
“Semuanya! Hati-hati sama Myllo Olfret, Kapten dari Aquilla! Dia bergerak ke arah Djinnardio Vamulran!”
““Ya!””
Balas seluruh anggota Serpentis yang terhubung dengan Orb Call.
Ketika mendengar perintah Charvelle…
“Heh, brengsek! Ngomong apa lo tadi?!”
…Klavak marah.
“Hah?! Maksud lo—”
“Dia bukan Kapten Aquilla! Paham?!”
“Cih, hal sepele kayak gitu doang dibahas!”
“Apa lo bilang?!”
Klavak dan Charvelle pun berdebat.
Akan tetapi, Gadlu yang mendengar perdebatan mereka lewat Orb Call menegur mereka.
“Oi, oi, oi! Jangan kebanyakan debat! Liat tuh, rekan-rekan dari Aquilla ikut ngejar dia!”
Klavak dan Charvelle melihat ada beberapa orang yang ikut berlari ke arah Djinn yang terhempas.
“Cih! Yaudah! Ayo kita ke sana!”
Seru Charvelle dengan kesal.
Sedangkan Klavak…
“Ma-Machinno! Lurus! Bilang kakak lo supaya lurus geraknya!”
“…”
… dengan cemas menatap Styx dan Machinno yang menunggangi seekor Chimera menuju ke arah dihempaskannya Djinn.
“Cih! Gue lupa sama Mistyx sialan itu!”
Pikir Klavak yang merasa khawatir dengan adanya Styx di antara mereka semua.
“Mending kita kejar dulu aja, Klavak! Soal rekan lo yang itu, biar kita urusin belakangan!”
“Hmph! Yaudah, ayo jalan sekarang!”
Balas Klavak, sambil menggenggam tangan Charvelle dan dibawa terbang olehnya.
……………
Kembali lagi ke Myllo yang sedang berlari secepat mungkin.
“*FWUSH!!!”
Ia berlari sekencang-kencangnya, tanpa memperdulikan risiko yang akan ia tanggung.
“Myllo! Badan lo nggak kuat! Kalo pun lo berhasil sampe ke temen lo, bisa-bisa lo—”
“Tenang aja! Selama gue punya tongkat ini, gue masih bisa bertarung!”
Seru Myllo yang mengabaikan peringatan Zegin.
Ketika ia berlari, ia melihat ada beberapa Petualang dari Serpentis Guild maupun Chemia Guild yang masih
berperang.
Tanpa berpikir panjang…
“MINGGIR!!!”
“*TUK!!!”
““Aaargh!!!””
…Myllo langsung memukul mereka dengan tongkatnya yang dipenuhi dengan kekuatan Zegin.
“Itu dia!”
“Ternyata Kapten Aquilla sudah ada di—”
“*TUK!!!”
““Uwaaaargh!””
Myllo berlari sambil memukul anggota Serpentis.
“Siapa itu?!”
“Mengapa ia berlari seperti i—”
“*TUK!”
““Gyaaaargh!””
Myllo berlari sambil memukul anggota Chemia.
Tanpa ia sadari, ia telah mengalahkan sekitar 20 Petualang yang menghadang jalannya.
Walaupun begitu, bukan berarti jalan Myllo semudah itu.
“*Tuk…”
“Eh…?”
Ia tersandung oleh bangkai dari seekor Chimera.
Karena ia telah berlari dengan sangat cepat…
“*SWUSH!!!”
“HYAAAAAAA!!!!!”
…Myllo kehilangan keseimbangannya dan jatuh terpental dengan sangat jauh.
“*Bruk!”
“Adaw!”
Myllo menabrak koral yang sangat besar, hingga ia menembus koral tersebut.
“*Bruk!”
“Aw!”
Myllo kembali menabrak sebuah koral.
“*Bruk, bruk, bruk, bruk…”
“Awawawawaw!”
Myllo jatuh terlontar-lontar.
Hingga…
“!!!”
…ia memasuki jurang yang besar.
“HYAAAAAA!!! ZEGIIINNN!!! GUE MAU TERBAAANG!!!”
Teriak Myllo yang memohon kepada Zegin, dengan air mata dan air hidung yang mengalir dengan deras karena cemas.
Sementara Zegin…
“**Zzzzz…*”
…tertidur di dalam pikirannya.
“HYAYAYAYAAA!!! DASAR DEWI JAHAT!!!”
Kembali teriak Myllo dengan cemas, setelah mengetahui bahwa dewi yang menaunginya tertidur. Saat ia terjatuh dengan cepat menuju jurang, hal yang tidak ia duga terjadi.
“*Boink…”
“Adaw—Eh?! Kok kenyal gini?! Apaan, ni—”
“*FWUSH!!!”
“HYAAAAAA!!!”
Ia terjatuh dipermukaan yang sangat lentur dan kembali terlontar dengan sangat jauh, hingga menembus udara.
Namun ia tidak sadar…
“NGGGGG…”
…bahwa ia baru saja mendarat di kepala mahluk raksasa yang bernama Pauranha.
“…”
“Ah! Itu dia!”
Ketika ia menemukannya, ia melihat ada beberapa anggota Serpentis yang hendak menghampiri tubuh Djinn.
((Zegin Thrust: Bahorok Bullet))
“*Fwush…”
Myllo memusatkan kekuatan angin Zegin pada ujung tongkatnya, lalu ia menembak kekuatan angin dalam bentuk peluru ke anggota Serpentis.
“Hey, ada apa i—”
“*FWUSH!!!”
““Aaaaargh…””
Ketika peluru angin itu tiba di hadapan para anggota Serpentis, seketika muncul angin ****** beliung yang
menghempaskan mereka semua.
“*Bruk…”
Myllo mendarat di dekat Djinn.
“Woy, Djinn!”
“*Tap, tap, tap…”
Ia menepuk Djinn untuk menyadarkannya, walaupun usahanya sia-sia.
“Itu dia!”
“Mu-Mustahil! Kenapa dia udah sampai di sini aja?!”
“Bukannya dia ada di dekatnya Charvelle dan Klavak?!”
Seru beberapa anggota Serpentis lainnya yang datang di hadapan Myllo.
Kedatangan mereka membuat Myllo bingung.
“Yang lain belom ada yang dateng, ya? Artinya gue sendirian lawan semua Petualang ini. Tambah lagi, keliatannya gue udah nggak bisa pake kekuatan Zegin lagi.”
Bisik Myllo, sambil mengepal tangannya.
“Waspada terhadap kekuatan anginnya! Ia adalah seorang—”
“Tunggu! Perhatikan baik-baik! Ia tidak menggunakan kekuatan anginnya!”
“Apakah Mana-nya sudah habis?!”
“Bagaimana pun juga, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menghadapinya yang sendirian!”
Seru beberapa anggota Serpentis dengan percaya diri.
Mendengar mereka…
“Hehe…”
…Myllo hanya tersenyum.
“Mereka pikir gue cuma kuat gara-gara kekuatan Zegin, ya?”
Bisik Myllo, sambil merubah posturnya dan mengingat momen dirinya yang berlatih bersama seorang guru yang mengajarkannya cara menggunakan tongkat.
“Ekor Hijau, waktunya gue pake teknik lo!”
Pikir Myllo, sebelum ia kedatangan anggota Serpentis.
{Kazedoryū…
“Huraaaaagh!”
…Haku}
“*TUK!!!”
“Aaargh!!!”
Ketika jaraknya cukup dekat dengan anggota Serpentis, Myllo mengayunkan tongkatnya secara horizontal, yang
memukul 5 kepala Petualang yang menghampirinya.
“…”
Myllo menganalisa sekitarnya, di mana ia mendapati adanya serangan dari segala arah, baik depan, kiri, kanan, atau belakang.
“*TUK!”
Ia menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu ia bersiap mempertahankan dirinya dari anggota Serpentis yang datang.
{Kazedoryū: Seishi}
“*Dhuk! Dhuk! Dhuk! Dhuk!”
““Aaargh!””
Kali ini, dengan teknik yang ia gunakan, Myllo berayun kesana dan kemari pada tongkatnya.
“Jangan serang dia dari dekat!”
“Benar! Serang dia menggunakan sihir atau senjata api!”
Seru beberapa anggota Serpentis, sambil mereka semua bersiap-siap menyerang Myllo.
Oleh karena itu, Myllo juga bersiap untuk mencegah serangan mereka.
{Kazedoryū: Hansha}
“*Tung!”
“*Boom!”
“Aaaargh!”
“*Tung!”
“*Boom!”
“Gyaaaah!”
Dengan teknik yang ia gunakan ini, Myllo memukul seluruh serangan mereka, yang kemudian terpantul kembali kepada mereka semua.
“Cih! Inikah Kapten dari Aquilla?!”
“Bukankah ia Striker?! Mengapa pertahanan dirinya sangat baik, seperti seorang Frontliner?!”
Seru beberapa anggota Serpentis dengan khawatir.
Melihat mereks semua membuat Myllo merasa puas.
“Hahahaha! Kalo kalian pikir gue cuma kuat karena angin, kalian salah besar, Serpentis! Ini kekuatan asli gue yang belom sepenuhnya gue kuasain!”
““Hiieekhh!!!””
Beberapa anggota Serpentis mulai takut dengannya.
Hingga akhirnya…
“Hraaaagh!”
“*Bwush!”
“Eits!”
…Klavak datang dan langsung menyerang Myllo.
“Dasar anggota tolol! Biar gue yang lawan dia!”
“Ta-Tapi lawan anda itu… pahlawan dari Erviga, Kapten dari Aqui—”
“Yang berani sebut dia kapten Aquilla, maju sini! Biar gue bunuh kalian!”
““Ma-Maaf, Klavak!””
“…”
Charvelle hanya menatap Klavak yang berteriak…
“Eugh…”
…dengan ekspresi muak.
“Apa lo liat-liat?! Bukannya harusnya lo ikut ke sini?!”
Tanya Klavak dengan nada kesal.
“Nggak. Biar lo aja yang urus di sini. Karena gue harus balik ke tengah-tengah perang.”
Jawab Charvelle, sambil memperhatikan banyak anggota Serpentis yang dikalahkan oleh Eìmgrotr.
“Yaudah! Sana gih!”
“Ya.”
“*Fwup…”
Charvelle pun meninggalkan seluruh anggota Serpentis kepada Klavak.
“Heh, pembunuh! Masalah kita belom selesai! Ayo kita selesain sekarang juga!”
“…”
Myllo hanya menatap Klavak, sambil bersiap menghadapi teman lamanya.