Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 127. On Their Way



Di sisi lain, ketika Myllo


beserta yang lainnya sedang berada dalam perjalanan ke Vigrias Capital.


““Ruoaaaarr!””


Mereka semua dihadapkan dengan


kedatangan 13 Naga.


“Sialan! Mereka semua ada 15!”


“Ih! Ada 13, Myllo!”


“Oh, gitu? Maaf, gue nggak bisa ngitung.


Hehehe!”


Balas Myllo akan teguran Gia.


“Zegin.”


“OK, Myllo!”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


“*Shrrrunggg… (suara pedang besar


dihunuskan)”


““…””


Bersama-sama, mereka bersiap


menyerang semua Naga yang menghadang.


Akan tetapi, tiba-tiba terjadi


sesuatu yang berada di luar dugaan mereka.


“*Hraaap! (suara gigitan Naga)”


“Ruoaaar!”


“*Chrak! (suara cakaran Naga)”


“*Boom! (suara semburan api


Naga)”


Semua Naga yang menyerang mereka


justru saling menyerang satu sama lain.


“Eh?! Mereka teh kenapa malah saling serang?!”


“I…Iya. Ada yang aneh.”


Balas Bismont yang sama herannya


dengan Garry.


Melihat kondisi itu, Myllo justru


tersenyum.


“Hehe!”


“My…Myllo?! Kok kamu malah


senyum?! Emangnya kamu ngerti mereka kenapa?!”


“Nggak tau, sih. Cuma insting gue


bilang, kita semua aman!”


Balas Myllo kepada Gia.


Di tengah kebingungan mereka,


seketika mereka mendengar suara telepati yang terlintas di pikiran mereka.


“Apakah ada di antara kalian yang bernama Myllo Olfret dan Mama?”


Mendengar telepati itu, Garry dan


Bismont pun heran.


““Hah? Mama?””


Pikir mereka berdua.


Akan tetapi reaksi Myllo dan Gia


justru berbeda dari mereka berdua.


“Ya! Gue Myllo Olfret! Calon


Petualang Nomor Satu di Dunia!”


“Kalo maksud kamu itu Mama-nya


Barao, Bario, Baruo, Bareo, artinya itu aku!”


Sahut Myllo dan Gia, yang sudah


mengetahui dari mana telepati itu berasal.


Namun, mereka berdua dikagetkan


dengan reaksi Garry.


“*Bruk! (suara terjatuh)”


““Hm?!””


“Aaaaaa! Ternyata teh aing naksir jandaaaa! Anyiiii—”


“*Tung! (suara kepala terpukul)”


“Se…Sembarangan! Aku ini masih


perawan, tau!”


Seru Gia setelah memukul kepala


Garry.


“Ahahaha! Gia dikira jan—”


“Hey! Kami membutuhkan bantuan! Walaupun kami ini Naga, namun kami juga


tidak bisa menghentikan 9 sanak saudara kami lainnya!”


Balas Naga yang berbicara lewat


telepati tadi.


“OK! Ayo kita bantu 4 Naga yang


lagi lawan kaumnya itu!”


““Ya!””


Myllo bersama dengan yang lainnya


langsung berlari untuk membantu 4 Naga yang sedang berkutat melawan 9 Naga


lainnya.


“Zegin Blow!”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


“Iron Crusher!”


“*Prang! (suara sihir pedang


besar)”


““Ruoaaar!””


Bersama, Myllo dan Gia


menghentikan 5 Naga yang sedang dikendalikan.


“Spirit Call: Elemental Strike!”


“*Vwumm! (suara sihir api)”


“*Bwush! (suara sihir air)”


“*Fwush! (suara sihir angin)”


“*Bruk! (suara sihir bumi)”


““Ruoaaaar!””


Dengan sihirnya, Garry memanggil


Roh yang memiliki kekuatan elemen untuk menyerang 2 Naga.


Bersama-sama, mereka bertiga


berhasil mengalahkan 7 Naga.


Sedangkan sisa dari Naga


dihentikan oleh Bismont dan Naga lainnya.


“Rrrrr!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Akhirnya udah selesai!”


Seru Myllo setelah menuntaskan


pertarungan melawan Naga-Naga itu.


Selesai menghadapi Naga-Naga itu,


Myllo pun menghampiri salah satu Naga yang terbebas dari kendali.


“Hihihi! Nggak nyangka ada Naga


yang bantuin kita!”


“Tentu saja! Karena kami adalah


Naga-Naga yang datang dari Hidden Dungeon bersama dengan Göhran dan Rakhzar!”


“Oh, gitu?! Hehe! Makasih, ya!”


Balas Myllo dengan senyuman kepada seorang Naga


yang telah berubah dalam Wujud Manusia.


aku?!”


“Terus kabar Göhran sama Rakhzar


gimana?!”


Tanya Myllo dan Gia ke Naga itu.


“Untuk Göhran, ia sedang bersama


dengan salah satu bandit untuk menyerang ke tempat yang bernama Penampungan di


Vigrias. Sementara Rakhzar sedang bersama seorang bangsawan untuk menyerang


kediaman yang dimiliki oleh keturunan dari Dracorion.”


Balas Naga itu kepada mereka.


“Ke Penampungan?! Artinya dia


bakal ketemu Djinn, dong?!”


“Ta…Tapi kok Göhran bareng


bandit?”


“Aku tidak tahu secara rinci


tentang itu, karena mereka berdua terlihat seperti terburu-buru ketika


menjelaskan kondisi mereka kepadaku.”


Balas Naga itu kepada Gia.


Setelah mendengar penjelasan Naga


itu, Gia merasa ada hal yang belum terjawab olehnya.


“Terus anak-anak aku gimana?!”


“I…Itu—”


“Mereka ada di Calmisiu.”


Balas Bismont yang melanjutkan penjelasan


Naga itu.


Seketika, Bismont tertunduk dan


menangis.


“Gia—Nggak, maksud gue Kak Gia!”


“Hah?! Kak—”


“Ma…Maafin gue kalo anak-anak


kakak nggak aman! Andai gue nggak dijebak Sebastian, mungkin anak-anak kakak


aman bareng anak-anak gue, kak!”


Jelas Bismont, yang membuat Gia


semakin bingung.


“Ma…Maksud Yang Muli—”


“Du…Dua Naga temen abang kakak


sekalian nitipin anak-anak Kak Gia ke gue. Ta…Tapi ada pengkhianat yang bocorin


soal keluarga gue ke mereka, kak! Makanya itu…keberadaan anak-anak kakak nggak


akan aman karena gue! Hiks!”


Kebingungan Gia pun semakin


menjadi ketika mendengar penjelasan Bismont. Akan tetapi berbeda dengan Myllo.


Ia sangat marah ketika mendengar kondisi Bismont.


“Gia, anak-anak Bismont ini nggak


ada yang Manusia. Karena itu, Sebastian nyari kesempetan untuk jatohin Bismont


lewat anak-anaknya. Tapi sekarang, Bismont berani lawan Sebastian.”


“Oh, gitu?! A…Artinya…”


“Nggak cuma anak-anak lo doang,


bahkan anak-anaknya Bismont juga bakal dibunuh.”


““!!!””


Semua yang mendengar penjelasan Myllo


begitu terkejut dan merasakan kemarahan dari Myllo terhadap Sebastian.


“I…Istri gue itu mandul. Makanya


itu…cuma anak-anak itu aja yang bisa hibur istri gue! Tanpa mereka semua, sama


aja bikin keluarga gue runtuh!”


Lanjut penjelasan Bismont kepada


yang lainnya dengan air mata yang mengalir dari matanya.


“SEBASTIAAAAANNN!!!”


“Ke…Keterlaluan!”


“Sianyiiiing!”


Seru Myllo, Gia, dan Garry secara


bergantian.


Namun, Myllo pun menjadi bingung.


Di satu sisi ia sangat ingin


membantu Bismont dengan pergi ke Calmisiu, namun ia juga hendak membantu Djinn


di Vigrias.


Zegin yang merasakan kegelisahan


Saint pilihannya pun memberi arahan kepadanya.


“Myllo, lo tetep harus lanjutin perjalanan lo ke Vigrias.”


“!!!”


Mendengar arahan dari dewinya,


Myllo pun memasuki pikirannya untuk berbicara kepadanya secara langsung.


“Zegin, tapi anak-anaknya Bismont


sama Gia gimana?! Kondisi mereka lagi nggak a—”


“Mereka aman. Percaya sama Gue.”


“Haaaah?! Kok Lo yakin mereka a—”


“Myllo. Untuk kali ini aja, lo


bisa percaya Gue, nggak?”


Balas Zegin yang mempertanyakan


dari Myllo.


“O…OK. Tapi kalo mereka


kenapa-kenapa, gima—”


“Mereka nggak akan kenapa-kenapa.


Dan kalo lo percaya sepenuhnya ke Gue, harusnya lo nggak nanya apa-apa lagi.”


“Hehe! Kalo Lo se-serius ini, mau


nggak mau gue cuma bisa percaya aja!”


“…”


Zegin hanya bisa tersenyum saja


kepada Myllo.


Setelah berbicara dengan Zegin,


Myllo pun mencoba menghibur Bismont agar tetap semangat melanjutkan perjalanan


mereka ke Vigrias.


“Bismont, lo masih mau ke


Vigrias, nggak?”


“Ma…Masih, bang.”


“OK! Kalo kita serang Penampungan


itu secepetnya, pasti anak-anak lo aman! Hihihi!”


“Bang Myllo…”


Jawab Bismont yang sedikit lebih


tenang.


“Ayo semua! Mumpung ada Naga-Naga


ini, kita bisa ke Vigrias lebih cepet! Ahahaha!”


Balas semua yang berada di sana.


Setiap dari mereka pun menaiki


satu Naga dan terbang ke Vigrias.


Namun di dalam pikiran Myllo…


“Semoga mereka berdua bener-bener penuhin janji mereka!”


…Zegin sebenarnya juga masih ragu


akan janjinya kepada Myllo.