Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 91. Where Are The Other Two?



Akhirnya kita sama-sama pergi ke


Guild.


Kita kasih semua laporan tentang


semuanya.


Mulai dari konspirasi dibalik


serangan ‘Naga’ ke Marklett, siapa Erkstern sama Morri, bahkan dampak dari


raungan Tarzyn yang bikin semua Dragonkin jadi liar di negara ini.


Tapi, kita nggak jelasin Erkstern


sama Morri sebagai Dragonewt. Ya ujung-ujungnya kita cuma bilang mereka sebagai


******* aja.


Masalahnya…


“Artinya semua adalah ulah dari


pimpinan Joint Party!”


“Te…Terus?!”


“Karena dari itu, maka Quest ini


tidak akan saya akui!”


…Si Botak berulah lagi!


“*Kriieek… (suara pintu terbuka)”


“Boltar!”


Eh, kaget.


Ternyata ada Marquis itu dateng


ke sini.


“Pa…Paman?! Mengapa paman ada di


sini?!”


“Apa maksud anda tidak menerima


Quest yang saya berikan?!”


“I…Itu karena beberapa dari


mereka adalah penyebab—”


“Mereka bertaruh nyawa, Boltar!”


“Hiieeekh!”


“Tidak saya sangka anda bertindak


seenaknya menjadi Guildmaster!”


“Pa…Paman, bukan begitu maksud


sa—”


“Mulai hari ini, Guildmaster Boltar


Verde resmi dicabut izin mengelola Guild Petualang, Cabang Riverfall!”


““HOREEEE!!!””


Buset!


Nggak nyangka gue beberapa


Petualang, termasuk beberapa anggota Joint Party ini, seseneng itu dengernya!


“Hey, anda! Siapa nama anda?!”


“Mi…Miraela Andorran!”


“Mulai hari ini, Miraela Andorran


resmi menjabat sebagai Guildmaster, yang mengelola Guild Petualang, Cabang


Riverfall!”


““HAAAAHHHH?!?!””


Buset, deh!


Kenapa harus pada teriak, sih?!


“Eh?! Tu…Tunggu, Marquis Ver—”


“Semoga anda menjaga amanat dan


martabat sebagai Guildmaster!”


“Haaaaah?!?!”


Bi…Bisa seenaknya itu ya


bangsawan satu ini!


Ya, untungnya sih untuk kebaikan


bersama.


Abis itu, Si Botak ditarik paksa


sama beberapa ksatria yang dipimpin Verde.


Selesai kita kasih laporan, gue


bisik-bisik ke Miraela untuk sampein sesuatu.


“Nanti lo dateng ke Humpar,


nggak?”


“Iya, kenapa emang?”


“Ada yang mau gue bahas.”


“Ya.”


……………


Beberapa jam kemudian, kita semua


anggota ngerayain suksesnya Quest ini, sambil mengenang kematian beberapa rekan


mereka.


Sedikit catetan: Dari 16


Petualang yang ikut, sisa 7 Petualang aja yang berhasil nyelesain Quest kali


ini.


“Ah…hicc…andai Yorech bisa


ngerasain ini…”


“Zzzz…”


“Saya…merindukan kawan-kawan


saya…”


Zorlyan sama Royce keliatannya


udah mabok, sedangkan Winona udah tepar duluan.


“Hahaha! Kalian lemah banget,


ya!”


Bukan mereka yang lemah, Gia!


Lo mau minum berapa banyak biar


bisa tumbang?!


Ya, kira-kira cewek-cewek itu ada


di satu meja.


“Oh ya, anak-anak lo pada ke


mana?”


“Di sana, tuh.”


Oh di sana ya.


Mereka ternyata ada di meja lain,


di mana…


“Gue kaget…hicc…orang


sekuat Kak Sylv kalah lawan Wakil Kaptennya, Bang Zorvo!”


““WOAAAAHHH!!!””


…Si Dongo mulai cerita-cerita


lagi.


Di sana juga ada Göhran sama


Rakhzar yang masih di wujud Manusia yang ikut nyimak cerita Myllo.


Dan nggak cuma mereka aja…


“My…Myllo, sorry sebelumnya.”


“Apa…Maha?!”


“Bukannya ujung-ujungnya Pahlawan


Sylvia kalah lawan Iblis?”


…bahkan Maha tertarik denger


ceritanya.


“Haaaaaah?! Kan itu waktu lagi


perang…hicc!”


“Te…Terus, yang lo maksud ini tuh


mereka lagi ngapain?!”


“Adu minum.”


““NGOMONG DONG DARI AWAL!!!””


Ahahahaa! Dasar Dongo!


Malah diteriakin deh sama yang


lain!


““Hahahaha!””


Ya, untungnya sih mereka semua


pada ketawa ju—


“*Kringringring… (suara bel pintu


berbunyi)”


“Djinn!”


Miraela dateng.


Untungnya gue udah cukup mental


untuk cerita ke dia.


……………


Sebagai pembukaan, gue jelasin


dulu ke dia kalo apa yang kita semua sampein ke Guild itu belom 100%.


Abis itu, gue mulai cerita ke dia


tentang siapa Shaylia.


“Jadi…itu rokok dia ya yang lagi


lo pakai?”


“Ya—”


“Hiks…dasar temen bego!”


Dia nggak ada abisnya nangis


semenjak gue ceritain semuanya tentang siapa Shaylia.


“A…Andai gue bisa bantu dia,


Djinn!”


“Ya. Maafin gue juga karena gue


bunuh dia atas permintaannya, Mir.”


“Ja…Jangan minta maaf! Ka…Kalo


itu permintaannya, artinya lo udah kasih yang terbaik untuk dia!”


Tunggu…


Karena kita lagi ngomongin


Shaylia, gue jadi inget tempat ras Non-Manusia ditahan, yang ditemuin Shaylia


sama adek-adeknya.


Apa mungkin…adeknya Miraela juga


ditahan di tempat i—


“Djinn.”


“Y…Ya?”


“Makasih ya…udah jelasin ke gue


tentang Shaylia.”


“Ya, sama-sama.”


Haaaaah! Lega juga gue bisa


jelasin semuanya!


Padahal udah nggak tenang karena—


“Djinn, Djinn, Djinn!”


Kenapa Si Dongo itu manggil gue?!


“Liat lo semua…hicc! Orang


itu nggak ada yang bisa ngalahin! Dia Wakil Kapten gue nantinya…hicc!”


““Woaaah…””


Aduh Si Dongo ini kenapa bawa


perhatian ke gue, sih?!


Tambah lagi, apaan maksudnya


Wakil Kapten?!


“Yang bisa ngalahin cuma satu


orang: Gue, Myllo Olfret—”


““Ah, nggak mungkin.””


“HAAAAAAHHHH?!?! MASA KAPTEN


KALAH SAMA ANAK BUAHNYA?!?!”


Ah, apa boleh buat lah. Ikutin


aja alur mainnya Si Dongo ini.


“Ya iyalah! Kan lo dongo!”


““Pffttt! HAHAHAHA…””


“Woy! Kok pada ketawa semua?!?!”


Salahin diri lo sendiri gara-gara


cari perhatian, dongo!


Ya, seenggaknya dia udah bikin


semuanya ketawa lah.


“Ahahaha!”


Bahkan Miraela yang tadi nangis


aja jadi ikut ketawa.


Emang cuma dia doang yang bisa


……………


Besok siangnya, kita mau pisah sama


Göhran, Rakhzar, sama anak-anaknya Gia.


““Huaaaaa!!! Mamaaa!!!””


“Na…Nanti kita bisa ketemu lagi


ya, anak-anak!”


““Huaaaaa!!!””


“Jadi anak yang baik ya, kalian!


Selalu nurut sama paman-paman ini, ya!”


““Ya, Mama!””


Jujur sih, nggak kuat gue liat


perpisahan mereka.


Gia yang selalu pengen jadi


Petualang, terpaksa nitip anak-anaknya ke Göhran sama Rakhzar.


“Djinn.”


“Hm?”


“Sekali lagi…kami ucapkan…terima


kasih karena kau telah membunuh raja kami!”


Oh ya.


Untung aja gue inget sesuatu.


“Rakhzar, Göhran…”


““Ya?””


“Gue sebenernya…ketemu Roh dari


Tarzyn.”


““Roh…Raja…Tarzyn…?””


“Dia nitip pesen, semoga kalian


bisa beradaptasi sama berinteraksi ke sesama Mahluk Intelektual di dunia ini.”


““…””


Aduh, mereka nangis juga.


““*Druk… (suara berlutut


bersama)””


Loh, loh! Kok mereka—


“Te…Terima kasih, Yang Mulia!”


“I…Izinkan kami berlutut depan anda…sebagai


ucapan terima kasih kami!”


Eh! Nanti banyak yang nontonin!


“Y…Ya, ya, ya! U…Udah ya,


berlututnya!”


““Baik, Djinn!””


Ya, mungkin ini cara mereka


bilang makasih ke gue.


Makanya gue nggak terlalu


permasalahin juga, kecuali jadi bahan tontonan orang lain.


“Göhran, Rakhzar.”


““Ya, Myllo?””


“Kalo masalah di sini udah


selesai, ayo ikut jadi Petualang bareng gue!”


Yap!


Tinggal nunggu waktu aja, di mana


Myllo mulai rekrut mereka.


“Maafkan kami jika kami


menolakmu, Myllo.”


“Göhran benar, Myllo. Setelah ribuan


tahun, kami tidak menginjakkan kaki di rumah kami ini. Maka dari itu, kami


hendak menikmati tempat kelahiran kami, Myllo.”


“Ahahaha! Begitu, ya?!”


“Namun, kelak kalian membutuhkan


bantuan, kami akan datang membantu kalian!”


“Ahahaha! OK kalo begitu!”


Mungkin gue nggak ada rasa kangen


sama dunia lama gue.


Tapi mereka berdua udah ribuan


tahun ninggalin rumah mereka ini.


Apa mungkin gue harus habisin


ribuan tahun dulu untuk kangen dunia lama gue?


Abis perpisahan sama mereka


berenam, kita juga perpisahan sama anggota Joint Party.


“Jadi, apa rencana kalian?”


““…””


Selain kita bertiga, mereka


berempat saling liat-liatan.


“Mungkin kita mau cari


Frontliner!”


“Cari Frontliner?! Tunggu, kalian


itu…”


“Ya, kita berempat mau bentuk


Party kita! Namanya, Andromeda!”


“Wuaaah! Keren, Zorlyan! Pasti lo


jadi Kaptennya, kan?!”


“Ya!”


Mereka ternyata bikin Party


khusus mereka semua.


Dari sini gue bisa belajar


sesuatu sih.


Ketika lo kehilangan sesuatu, lo


pasti juga dapet sesuatu yang semoga aja lebih baik.


Mungkin gue selalu ngerasa


kehilangan di dunia lama gue. Bahkan tindakan gue sendiri pun bikin gue nggak


bisa nikmatin masa hidup gue.


Tapi di dunia ini gue punya temen


kayak Myllo sama Gia. Bahkan gue punya sodara yang baik kayak Luvast, walaupun


harus kehilangan Meldek atau mungkin Styx juga.


Sedangkan kasusnya mereka,


mungkin Maha sama Royce nggak begitu kehilangan kayak Zorlyan atau Winona, tapi


mereka tetep kehilangan Urlant sama Harrit.


“Gia, gue masih butuh Frontliner,


loh!”


“Hmm…keliatannya menarik!”


““HAAAH?!?!””


***** nih cewek—


“Ups, kalian berdua pasti


kesepian kalo nggak ada aku, kan?!?!”


“Jangan-jangan—”


“Maaf ya, Zorlyan! Mereka nggak


mau kehilangan perempuan cantik kayak aku!”


““Cih!””


Dasar cewek kelainan!


Liat tuh pada bete gara-gara lo


sok cantik!


“Yaudah, kalo gitu kita lanjut


lagi, ya!”


“Ya, Myllo! Makasih untuk kerja


samanya!”


Yah, akhirnya kita pisah jalan


sama—


“Djinn!”


Kenapa Maha panggil gue?


“Lain kali, kita sparring ya!”


“Hmph! Gue nggak pandang bulu


cewek atau cowok, loh! Siap-siap aja!”


“Hah! Itu yang gue mau!”


Kalo dia bilang sparring,


harusnya adu bela diri.


Gue sendiri penasaran sama bela


dirinya Maha atau siapapun di dunia ini.


“Oh, ya. Keliatannya Ark Blade


itu bahaya kalo sampe orang tau.”


“Hm?”


Oh iya! Gue sampe lupa sama pedangnya


Flamiza!


Padahal gue sendiri nggak butuh


pedang ini, cuma karena permintaan dari Tarzyn untuk bawa pedang yang ada Roh


sama Jiwa dia ini, makanya gue terpaksa bawa!


“Terima ini.”


Hm?


Bentuknya kayak kantong kecil


gitu.


“Ini apaan?”


“Fratta Pouch. Mending lo umpetin


pedang itu.”


“Hah?! Emangnya muat ya?!”


“Coba aja masukin dulu!”


Yah, coba aja deh.


“…”


“Loh! Kok bisa masuk?!”


“Ya…anggep aja itu salah satu


teknologi sihir Kaum Fratta.”


Waw!


Di dunia sihir kayak gini,


ujung-ujungnya hukum fisika kalah ya sama sihir!


“Djinn, ayo!”


“Ya, ya!”


Akhirnya kita mulai jalan lagi


untuk ke kota selanjutnya.


……………


Sambil kita jalan, gue tanya


sesuatu ke Myllo sama Gia.


“Kalian bertiga…kenal dewa yang


namanya Sakhtice, nggak?”


“Hah? Siapa itu?”


“Dewa? Maksudnya dewa di dunia


kamu?”


Hah? Mereka nggak kenal?


“Emang dewa-dewa yang ada di


dunia ini siapa aja?”


“Hm…setau aku sih ada Amoreal, Styrork, Gennisia, sama Arkhataz. Kalo secara spesifik sih, keluarga aku


penganut ajaran Arkhataz sama Amorea.”


“Ada juga Zegin, Dewi di dalem pikiran


gue! Hehe!”


Ja…Jadi dewa-dewa itu bisa


disembah terpisah?!


Artinya…setiap dewa punya agama


masing-masing, dong?


Tapi…


Dari yang mereka sebutin,


totalnya ada 5?!


Kalo nggak salah, dewa-dewa yang


gue liat ada 7, kan?!


Nggak, jatohnya malah ada 8 kalo


diitung sama Demon God yang disebut Melchizedek.


Terus…duanya lagi kemana…?