
Akhirnya kita sama-sama pergi ke
Guild.
Kita kasih semua laporan tentang
semuanya.
Mulai dari konspirasi dibalik
serangan ‘Naga’ ke Marklett, siapa Erkstern sama Morri, bahkan dampak dari
raungan Tarzyn yang bikin semua Dragonkin jadi liar di negara ini.
Tapi, kita nggak jelasin Erkstern
sama Morri sebagai Dragonewt. Ya ujung-ujungnya kita cuma bilang mereka sebagai
******* aja.
Masalahnya…
“Artinya semua adalah ulah dari
pimpinan Joint Party!”
“Te…Terus?!”
“Karena dari itu, maka Quest ini
tidak akan saya akui!”
…Si Botak berulah lagi!
“*Kriieek… (suara pintu terbuka)”
“Boltar!”
Eh, kaget.
Ternyata ada Marquis itu dateng
ke sini.
“Pa…Paman?! Mengapa paman ada di
sini?!”
“Apa maksud anda tidak menerima
Quest yang saya berikan?!”
“I…Itu karena beberapa dari
mereka adalah penyebab—”
“Mereka bertaruh nyawa, Boltar!”
“Hiieeekh!”
“Tidak saya sangka anda bertindak
seenaknya menjadi Guildmaster!”
“Pa…Paman, bukan begitu maksud
sa—”
“Mulai hari ini, Guildmaster Boltar
Verde resmi dicabut izin mengelola Guild Petualang, Cabang Riverfall!”
““HOREEEE!!!””
Buset!
Nggak nyangka gue beberapa
Petualang, termasuk beberapa anggota Joint Party ini, seseneng itu dengernya!
“Hey, anda! Siapa nama anda?!”
“Mi…Miraela Andorran!”
“Mulai hari ini, Miraela Andorran
resmi menjabat sebagai Guildmaster, yang mengelola Guild Petualang, Cabang
Riverfall!”
““HAAAAHHHH?!?!””
Buset, deh!
Kenapa harus pada teriak, sih?!
“Eh?! Tu…Tunggu, Marquis Ver—”
“Semoga anda menjaga amanat dan
martabat sebagai Guildmaster!”
“Haaaaah?!?!”
Bi…Bisa seenaknya itu ya
bangsawan satu ini!
Ya, untungnya sih untuk kebaikan
bersama.
Abis itu, Si Botak ditarik paksa
sama beberapa ksatria yang dipimpin Verde.
Selesai kita kasih laporan, gue
bisik-bisik ke Miraela untuk sampein sesuatu.
“Nanti lo dateng ke Humpar,
nggak?”
“Iya, kenapa emang?”
“Ada yang mau gue bahas.”
“Ya.”
……………
Beberapa jam kemudian, kita semua
anggota ngerayain suksesnya Quest ini, sambil mengenang kematian beberapa rekan
mereka.
Sedikit catetan: Dari 16
Petualang yang ikut, sisa 7 Petualang aja yang berhasil nyelesain Quest kali
ini.
“Ah…hicc…andai Yorech bisa
ngerasain ini…”
“Zzzz…”
“Saya…merindukan kawan-kawan
saya…”
Zorlyan sama Royce keliatannya
udah mabok, sedangkan Winona udah tepar duluan.
“Hahaha! Kalian lemah banget,
ya!”
Bukan mereka yang lemah, Gia!
Lo mau minum berapa banyak biar
bisa tumbang?!
Ya, kira-kira cewek-cewek itu ada
di satu meja.
“Oh ya, anak-anak lo pada ke
mana?”
“Di sana, tuh.”
Oh di sana ya.
Mereka ternyata ada di meja lain,
di mana…
“Gue kaget…hicc…orang
sekuat Kak Sylv kalah lawan Wakil Kaptennya, Bang Zorvo!”
““WOAAAAHHH!!!””
…Si Dongo mulai cerita-cerita
lagi.
Di sana juga ada Göhran sama
Rakhzar yang masih di wujud Manusia yang ikut nyimak cerita Myllo.
Dan nggak cuma mereka aja…
“My…Myllo, sorry sebelumnya.”
“Apa…Maha?!”
“Bukannya ujung-ujungnya Pahlawan
Sylvia kalah lawan Iblis?”
…bahkan Maha tertarik denger
ceritanya.
“Haaaaaah?! Kan itu waktu lagi
perang…hicc!”
“Te…Terus, yang lo maksud ini tuh
mereka lagi ngapain?!”
“Adu minum.”
““NGOMONG DONG DARI AWAL!!!””
Ahahahaa! Dasar Dongo!
Malah diteriakin deh sama yang
lain!
““Hahahaha!””
Ya, untungnya sih mereka semua
pada ketawa ju—
“*Kringringring… (suara bel pintu
berbunyi)”
“Djinn!”
Miraela dateng.
Untungnya gue udah cukup mental
untuk cerita ke dia.
……………
Sebagai pembukaan, gue jelasin
dulu ke dia kalo apa yang kita semua sampein ke Guild itu belom 100%.
Abis itu, gue mulai cerita ke dia
tentang siapa Shaylia.
“Jadi…itu rokok dia ya yang lagi
lo pakai?”
“Ya—”
“Hiks…dasar temen bego!”
Dia nggak ada abisnya nangis
semenjak gue ceritain semuanya tentang siapa Shaylia.
“A…Andai gue bisa bantu dia,
Djinn!”
“Ya. Maafin gue juga karena gue
bunuh dia atas permintaannya, Mir.”
“Ja…Jangan minta maaf! Ka…Kalo
itu permintaannya, artinya lo udah kasih yang terbaik untuk dia!”
Tunggu…
Karena kita lagi ngomongin
Shaylia, gue jadi inget tempat ras Non-Manusia ditahan, yang ditemuin Shaylia
sama adek-adeknya.
Apa mungkin…adeknya Miraela juga
ditahan di tempat i—
“Djinn.”
“Y…Ya?”
“Makasih ya…udah jelasin ke gue
tentang Shaylia.”
“Ya, sama-sama.”
Haaaaah! Lega juga gue bisa
jelasin semuanya!
Padahal udah nggak tenang karena—
“Djinn, Djinn, Djinn!”
Kenapa Si Dongo itu manggil gue?!
“Liat lo semua…hicc! Orang
itu nggak ada yang bisa ngalahin! Dia Wakil Kapten gue nantinya…hicc!”
““Woaaah…””
Aduh Si Dongo ini kenapa bawa
perhatian ke gue, sih?!
Tambah lagi, apaan maksudnya
Wakil Kapten?!
“Yang bisa ngalahin cuma satu
orang: Gue, Myllo Olfret—”
““Ah, nggak mungkin.””
“HAAAAAAHHHH?!?! MASA KAPTEN
KALAH SAMA ANAK BUAHNYA?!?!”
Ah, apa boleh buat lah. Ikutin
aja alur mainnya Si Dongo ini.
“Ya iyalah! Kan lo dongo!”
““Pffttt! HAHAHAHA…””
“Woy! Kok pada ketawa semua?!?!”
Salahin diri lo sendiri gara-gara
cari perhatian, dongo!
Ya, seenggaknya dia udah bikin
semuanya ketawa lah.
“Ahahaha!”
Bahkan Miraela yang tadi nangis
aja jadi ikut ketawa.
Emang cuma dia doang yang bisa
……………
Besok siangnya, kita mau pisah sama
Göhran, Rakhzar, sama anak-anaknya Gia.
““Huaaaaa!!! Mamaaa!!!””
“Na…Nanti kita bisa ketemu lagi
ya, anak-anak!”
““Huaaaaa!!!””
“Jadi anak yang baik ya, kalian!
Selalu nurut sama paman-paman ini, ya!”
““Ya, Mama!””
Jujur sih, nggak kuat gue liat
perpisahan mereka.
Gia yang selalu pengen jadi
Petualang, terpaksa nitip anak-anaknya ke Göhran sama Rakhzar.
“Djinn.”
“Hm?”
“Sekali lagi…kami ucapkan…terima
kasih karena kau telah membunuh raja kami!”
Oh ya.
Untung aja gue inget sesuatu.
“Rakhzar, Göhran…”
““Ya?””
“Gue sebenernya…ketemu Roh dari
Tarzyn.”
““Roh…Raja…Tarzyn…?””
“Dia nitip pesen, semoga kalian
bisa beradaptasi sama berinteraksi ke sesama Mahluk Intelektual di dunia ini.”
““…””
Aduh, mereka nangis juga.
““*Druk… (suara berlutut
bersama)””
Loh, loh! Kok mereka—
“Te…Terima kasih, Yang Mulia!”
“I…Izinkan kami berlutut depan anda…sebagai
ucapan terima kasih kami!”
Eh! Nanti banyak yang nontonin!
“Y…Ya, ya, ya! U…Udah ya,
berlututnya!”
““Baik, Djinn!””
Ya, mungkin ini cara mereka
bilang makasih ke gue.
Makanya gue nggak terlalu
permasalahin juga, kecuali jadi bahan tontonan orang lain.
“Göhran, Rakhzar.”
““Ya, Myllo?””
“Kalo masalah di sini udah
selesai, ayo ikut jadi Petualang bareng gue!”
Yap!
Tinggal nunggu waktu aja, di mana
Myllo mulai rekrut mereka.
“Maafkan kami jika kami
menolakmu, Myllo.”
“Göhran benar, Myllo. Setelah ribuan
tahun, kami tidak menginjakkan kaki di rumah kami ini. Maka dari itu, kami
hendak menikmati tempat kelahiran kami, Myllo.”
“Ahahaha! Begitu, ya?!”
“Namun, kelak kalian membutuhkan
bantuan, kami akan datang membantu kalian!”
“Ahahaha! OK kalo begitu!”
Mungkin gue nggak ada rasa kangen
sama dunia lama gue.
Tapi mereka berdua udah ribuan
tahun ninggalin rumah mereka ini.
Apa mungkin gue harus habisin
ribuan tahun dulu untuk kangen dunia lama gue?
Abis perpisahan sama mereka
berenam, kita juga perpisahan sama anggota Joint Party.
“Jadi, apa rencana kalian?”
““…””
Selain kita bertiga, mereka
berempat saling liat-liatan.
“Mungkin kita mau cari
Frontliner!”
“Cari Frontliner?! Tunggu, kalian
itu…”
“Ya, kita berempat mau bentuk
Party kita! Namanya, Andromeda!”
“Wuaaah! Keren, Zorlyan! Pasti lo
jadi Kaptennya, kan?!”
“Ya!”
Mereka ternyata bikin Party
khusus mereka semua.
Dari sini gue bisa belajar
sesuatu sih.
Ketika lo kehilangan sesuatu, lo
pasti juga dapet sesuatu yang semoga aja lebih baik.
Mungkin gue selalu ngerasa
kehilangan di dunia lama gue. Bahkan tindakan gue sendiri pun bikin gue nggak
bisa nikmatin masa hidup gue.
Tapi di dunia ini gue punya temen
kayak Myllo sama Gia. Bahkan gue punya sodara yang baik kayak Luvast, walaupun
harus kehilangan Meldek atau mungkin Styx juga.
Sedangkan kasusnya mereka,
mungkin Maha sama Royce nggak begitu kehilangan kayak Zorlyan atau Winona, tapi
mereka tetep kehilangan Urlant sama Harrit.
“Gia, gue masih butuh Frontliner,
loh!”
“Hmm…keliatannya menarik!”
““HAAAH?!?!””
***** nih cewek—
“Ups, kalian berdua pasti
kesepian kalo nggak ada aku, kan?!?!”
“Jangan-jangan—”
“Maaf ya, Zorlyan! Mereka nggak
mau kehilangan perempuan cantik kayak aku!”
““Cih!””
Dasar cewek kelainan!
Liat tuh pada bete gara-gara lo
sok cantik!
“Yaudah, kalo gitu kita lanjut
lagi, ya!”
“Ya, Myllo! Makasih untuk kerja
samanya!”
Yah, akhirnya kita pisah jalan
sama—
“Djinn!”
Kenapa Maha panggil gue?
“Lain kali, kita sparring ya!”
“Hmph! Gue nggak pandang bulu
cewek atau cowok, loh! Siap-siap aja!”
“Hah! Itu yang gue mau!”
Kalo dia bilang sparring,
harusnya adu bela diri.
Gue sendiri penasaran sama bela
dirinya Maha atau siapapun di dunia ini.
“Oh, ya. Keliatannya Ark Blade
itu bahaya kalo sampe orang tau.”
“Hm?”
Oh iya! Gue sampe lupa sama pedangnya
Flamiza!
Padahal gue sendiri nggak butuh
pedang ini, cuma karena permintaan dari Tarzyn untuk bawa pedang yang ada Roh
sama Jiwa dia ini, makanya gue terpaksa bawa!
“Terima ini.”
Hm?
Bentuknya kayak kantong kecil
gitu.
“Ini apaan?”
“Fratta Pouch. Mending lo umpetin
pedang itu.”
“Hah?! Emangnya muat ya?!”
“Coba aja masukin dulu!”
Yah, coba aja deh.
“…”
“Loh! Kok bisa masuk?!”
“Ya…anggep aja itu salah satu
teknologi sihir Kaum Fratta.”
Waw!
Di dunia sihir kayak gini,
ujung-ujungnya hukum fisika kalah ya sama sihir!
“Djinn, ayo!”
“Ya, ya!”
Akhirnya kita mulai jalan lagi
untuk ke kota selanjutnya.
……………
Sambil kita jalan, gue tanya
sesuatu ke Myllo sama Gia.
“Kalian bertiga…kenal dewa yang
namanya Sakhtice, nggak?”
“Hah? Siapa itu?”
“Dewa? Maksudnya dewa di dunia
kamu?”
Hah? Mereka nggak kenal?
“Emang dewa-dewa yang ada di
dunia ini siapa aja?”
“Hm…setau aku sih ada Amoreal, Styrork, Gennisia, sama Arkhataz. Kalo secara spesifik sih, keluarga aku
penganut ajaran Arkhataz sama Amorea.”
“Ada juga Zegin, Dewi di dalem pikiran
gue! Hehe!”
Ja…Jadi dewa-dewa itu bisa
disembah terpisah?!
Artinya…setiap dewa punya agama
masing-masing, dong?
Tapi…
Dari yang mereka sebutin,
totalnya ada 5?!
Kalo nggak salah, dewa-dewa yang
gue liat ada 7, kan?!
Nggak, jatohnya malah ada 8 kalo
diitung sama Demon God yang disebut Melchizedek.
Terus…duanya lagi kemana…?