
“…”
Akhirnya orang ini dateng ke atas.
Badannya agak keker gede. Rambutnya agak panjang.
Cukup sekali liat, gue udah tau kalo dia ini bosnya komplotan yang pake
topeng Iblis tadi.
Anehnya, dia nggak pake topeng Iblis kayak anak buahnya.
“Haaahhh, dasar sembrono bocah satu ini! Kena sendiri kan ujung-ujungnya?!”
“…”
Oh, dia ngomong sama orang yang baru gue bunuh ini, ya?
“Oi, lo bos-nya orang ini, ya?”
“…”
Kenapa dia diem aja—
“*Zhum! (suara aura mengerikan)”
“Ho… Dari lo, gue bisa cium aroma darah empat anak buah yang gue kirim ke
Port Marzhal. Lo yang bunuh mereka semua ya?!”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“!!!”
“Heh, anjing. Gue yang tanya lo duluan. Jangan jawab pake pertanyaan juga.”
Gue udah nggak terlalu kuat untuk sadar.
Tambah lagi, gue tau orang ini pasti jauh lebih kuat dari siapa aja yang
gue lawan di dunia ini.
Tapi bukan artinya gue takut untuk lawan dia.
Kalo pun gue mati dibunuh orang ini, semoga aja gue seenggaknya bisa
lukain dia.
Sisanya, antara Myllo atau Styx yang selesain.
Walaupun kemungkinannya kecil banget sampe mereka dateng, gue yakin
mereka pasti kalahin orang ini.
“Gue Galziq. Bos dari 4 orang yang lo bunuh di Marzhal.”
“Gue nggak peduli lo siapa.”
“…”
Keliatannya dia mau ngelakuin sesuatu.
“Devil’s Peek.”
“Hm?”
“Hehe… Hehahaha!”
Kenapa dia ketawa?
“Djinnardio Vamulran. Orang yang katanya mati bunuh diri di Karkan
Village. Manusia Setengah Elf yang Jiwa-nya mati, ternyata berdiri di depan
gue.”
“…”
“Hmm… Gue akuin Jiwa lo besar. Mungkin jauh lebih besar daripada orang
umumnya. Tapi, lo yakin mau lawan gue dengan Mana sekecil itu?”
“Mana ini, Mana itu. Nggak usah banyak bacot, deh. Gue cuma
mau selamatin Styx. Mending kita mulai a—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“…”
Anjing. Kenceng banget gerakannya.
Untung masih bisa gue hindarin.
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Urgh!”
Bagus. Waktunya serangan ba—
"“*Bhuk! (suara saling memukul)”"
Brengsek. Sakit juga pukulannya.
“Uhuk, uhuk… Menarik! Ternyata lo bisa bela diri, ya?!”
“*Cuh. (suara meludah)”
Ludah gue pun berdarah.
“Djinnardio Vamulran. Keliatannya menarik kalo kita adu tangan kosong!”
“???”
Keliatannya dia juga bisa bela diri.
Tapi, kuda-kuda macem apa itu?
“Ayo kita mulai, Djinnardio Vamul—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Cih! Brengsek! Ternyata licik juga lo ya?!”
“Jangan marah. Lo tadi juga kayak gitu.”
“Heahahaha! Menarik!”
“*Bhuk, dhuk, bhuk, dhuk… (suara adu bela diri)”
Orang ini…agresif banget.
Dia terlalu ngandelin serangan agresifnya supaya gue nggak bisa nyerang
dia.
Untungnya gue belajar Pencak Silat yang fokus utamanya itu pertahanan
diri.
Tambah lagi, dia terlalu ngandelin serangannya, tanpa mikirin
pertahanannya. Jadinya…
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Uogh—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
…bisa gue manfaatin celahnya.
“Djinnardio Vamulran! Bela diri…macem apa itu?!”
“Hm?”
“Nggak, bukan itu! Lo itu ada darah Elf! Seharusnya lo lebih kuat pake
sihir dibanding kekuatan fisik kayak gitu! Tapi kenapa lo bisa sekuat i—”
“Udah gue bilang kan tadi? Nggak usah banyak bacot. Ngaku aja kalo lo
lemah.”
“!!!”
Aneh.
Kok bisa jidat dia banyak urat kayak gitu?
Apa dia semarah itu gue bilang gitu?
“Khekhekhe…”
“…”
“Tadinya gue mau tahan diri karena penasaran lawan lo yang udah hampir
habis Mana-nya. Ternyata gue salah! Lo harus dibantai abis-abisan!”
“???”
Kenapa badan dia makin gede?
Tambah lagi, warna badannya makin gelap.
“Devil’s Curse: Wrathful Rage!”
“*Zhum! (suara aura mengerikan)”
Dia berubah jadi makin kuat. Sedangkan gue…
“Urgh…”
…makin goyang.
Badan gue rasanya capek banget.
“Khekhekhe…Khahahaha! Gue nggak akan kepancing sama lo yang pura-pura
lemah, Djinnardio Vamulran!”
Salah, anjing.
Bukan pura-pura lemah. Tapi emang gue udah mulai lemah.
“Hraaaagh!”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Gerakan dia makin cepet. Makin keras juga.
“*Bhuk, dhuk, bhuk, dhuk… (suara adu bela diri)”
Walaupun gue masih bisa tangkis beberapa serangannya, tetep aja…
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“…”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“…”
…ada beberapa serangannya yang gagal gue tangkis.
“*Bhuk, dhuk, bhuk, dhuk… (suara adu bela diri)”
“Djinnardio Vamulran. Gue bisa liat jelas dari balik mata lo yang
kelelahan.”
“…”
“Amarah. Arogansi. Dendam.”
“*Bhuk, dhuk, bhuk, dhuk… (suara adu bela diri)”
“Tapi di balik itu semua, ada kekecewaan,
kesedihan, dan kesepian.”
“…”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Brengsek. Kata-kata dia terlalu bener. Gue sampe nggak fokus.
“Hahahaha! Artinya kata-kata gue bener, kan?!”
“…”
“Kalo gitu, mendingan lo—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Cih! Brengsek! Mana sedikit gitu masih punya aura sebesar—”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“Jangan pernah lo baca apa-apa tentang gue, anjing.”
“*Krrrak! (suara leher terpelintir)”
Pukulan gue terlalu keras, sampe kepalanya muter 180 derajat.
“*Bruk… (suara terjatuh)”
“Huff…huff…huff…”
Gue capek banget.
Udah nggak bisa gerak lagi.
“*Brak! (suara pintu hancur)”
Siapa cewek ini?
Kenapa kepalanya ditusuk pisau kayak gitu dari balik pintu?
“Djinn?!”
“Sty…Styx…”
“Lo…lawan orang itu?!”
“Ha…Harusnya dia udah mati.”
“Kok lo bisa—”
“*Zhum! (suara aura menakutkan)”
Brengsek. Harusnya dia udah mati. Kok masih berasa auranya?
“Urgh…”
“DJINNARDIO VAMULRAN!!!”
““!!!””
“Ayo kita penuhin kapal ini pake darah kita masing-masing!!!”
Dia manggil gue.
Nggak perlu dipanggil. Sampe mati pun gue juga nggak bakal mundur lawan
lo.
“Djinn! Ka…Kalo nggak kuat, jangan paksain diri untuk lawan dia! Dia
bukan tandingan kita—”
“Hah? Ngumpet?. Dari dulu gue pasti selalu selesain masalah apapun sampe
tuntas.”
“Djinn…”
“Mending lo ngumpet aja. Daripada lo ditangkep dia la—”
“*Drap! Drap! Drap! (suara langkah kaki)”
Suara langkah kakinya…
Kok berat banget?
“Djinnardio Vamulran!!!”
““!!!””
Dia…berubah jadi…Iblis?
“…”
Lo pikir gue takut? Percaya ada setan aja juga nggak.
“Dj…Djinn! Lari! Lo gak ba—”
“RAAAAAARRGGGHHHH!!!”
Brengsek. Kenceng banget teriakannya.
Bikin sakit kuping aja.
“Hoho…masih bisa diri lo, ya?!”
“Lo pikir gue takut sama—”
“Lari, Djinn!”
“*Chrak! (suara cakaran)”
Cakarannya sampe nembus atap perahu ini.
Untung masih bisa gue hindari—
“Hell’s Breath!”
“*Vwumm! (suara api)”
“Urgh…”
Apinya sama-sama warna hitem, tapi rasanya jauh lebih panas daripada api
anak buahnya tadi di pelabuhan.
“*Krrr… (suara cekikan)”
Keras banget dia nyekek gue.
Gue udah susah nafas banget.
“Brengsek!”
“Nyonya, ngapain anda di tempat i—”
“Dark Slash!”
Styx mau coba nyerang dia, tapi…
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Khak!”
“Maafin saya kalo harus buat kayak gitu, Nyonya.”
…dia dipukul keras banget sama Manusia Iblis ini, sampe susah untuk
bangun.
“OK, Djinnardio Vamulran. Jangan lo pikir lo bisa mati gitu a—”
“…”
Sebelum gue mati dicekek dia, seenggaknya gue masih ada perlawanan ke
dia.
“Ngapain lo pegang tanduk gue—”
“*Krrrk… (suara retakan)”
“Woy, woy, woy! Lo mau patahin tanduk gue?!”
Nafas gue makin sesek. Keliatannya gue juga nggak bisa lepas dari cekekan
dia.
Satu-satunya yang kepikiran, patahin tanduknya.
“*Krrrk… (suara retakan berambah)”
“Di cekek aja nggak cukup, ya?!”
“*Hup! (suara menangkap)”
Dia mau coba pukul gue, tapi masih untung tangannya bisa gue tahan pake
tangan kiri gue!
“*Krrrk… (suara retakan berambah)”
“Si…Sialan!”
“*Jlub! (suara tusukan ekor)”
“Urgh…”
Gue nggak kepikiran kalo ekornya bisa dipake untuk nusuk gue.
“*Krrrrk! (suara retakan bertambah)”
“Dasar orang brengsek! Hell Brea—”
“*Krrrtak! (suara patah)”
“Aaagghh—”
“*Jlub! (suara tusukan)”
“Akkhhh!”
Gue nggak punya senjata. Cuma tanduk dia aja yang bisa gue pake buat
tusuk kepala dia.
“…”
Dia akhirnya ngelepas cekekannya sambil terbang agak jauh dari gue.
Walaupun lepas dari cekekannya, tapi gue tetep terima luka berat karena
tusukan ekornya.
“Si…Sialan lo, Djinnardio Vamulran!”
“…”
“Siapa lo sebenernya?!”
“Lo daritadi sebut nama gue, tapi lo nggak kenal siapa gue?”
“Haaah…emang ngomong aja nggak cukup sama lo, ya.”
“…”
“Malam ini indah!”
Anjing.
Dia sembuh lagi.
Bahkan tanduknya pun numbuh lagi.
Terus gimana cara lawan Iblis kayak dia?
“Hahaha! Kapan lagi gue bisa ngerasain pertarungan kayak gini lagi?!”
“…”
“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?! Takut?!”
“Nggak. Gue heran aja. Kenapa lo bisa baik-baik aja? Padahal gue patahin
tanduk lo, terus gue udah tusuk lo.”
“Oh. Jelas lah, ini kan Devil Time! Jadi gue bisa sembuhin badan gue
selama malam hari. Makanya itu kan gue bilang ‘malam ini indah’?!
“Oh. Curang ya.”
“…”
Kenapa dia diem aja?!
“Pfftt…hahahaha! Curang?!”
“…”
“*Vwumm… (suara api)”
Tangannya ada api hitemnya lagi.
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Terbangnya cepet bang—
“Bhuk! (suara pukulan)”
“Curang?! Apa itu?!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Nggak ada di dunia ini yang namanya curang! Cuma orang lemah yang sebut
kata-kata itu!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara banyak pukulan)”
“Disini yang kuat yang punya segalanya!”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
Breng…Brengsek…
Udah luka karena pukulannya, tambah lagi ada luka bakar dari api hitemnya
dia.
“Udah gue bilang, kan?! Ada semua di mata lo, Djinnardio Vamulran!”
“…”
“Lo marah karena gue nggak mati-mati! Lo arogan karena lo pikir bisa
bunuh gue pake kekuatan sakti lo! Lo mau dendam karena dunia udah nggak adil buat lo!”
Brengsek. Dia bener, walaupun kata-kata itu sebenernya untuk Djinnardio.
Tambah lagi…
“*Clup…clup…clup…(suara tetesan darah)”
…darah gue udah pada ngocor di mana-mana.
“Kenapa?! Lo setuju sama apa yang gue bilang?!”
“…”
“Hoo… Tatapan lo agak berubah, ya—”
“Kenapa harus banyak bacot lagi, sih? Ayo selesain aja seka—”
“*Swush! (suara terbang cepat)”
“*Jlub! (suara tertusuk cakar)”
A…Anjing…
“Sial, kenapa tatapan terakhir lo putus asa kayak gitu, Djinnardio
Vamulran?! Padahal kita belom masuk ke babak utama, loh!”
“…”
“Cih! Sialan!”
“*Bruk! (suara terbanting)”
Ah, tai lah.
Kesadaran gue bener-bener mau hilang.
Bahkan bangun aja udah nggak bisa.
“Ayo bangun! Kita lanjutin, Djinnar—”
“AAAAAAAAAAAAGGGGGGHHHHHH……”
Hm? Kok…ada…suara teriak—
“*Bruk! (suara jatuh)”
“Adudududuhhh!”
“My…Myllo…?”