
Sekarang kita semua lagi
istirahat.
Ini hari kelima semenjak kita
jalan ke ujung Erviga sambil bawa alat yang masukinnya aja haru pake 2 kereta
yang panjang.
Kereta ini ditarik sama binatang
yang namanya Direwolf, serigala yang ukurannya lebih gede daripada serigala
normal.
Ujung-ujungnya, dari yang awalnya
24 Petualang yang ikut, 2 Kasta Biru sama 2 Kasta Kuning mundur dari ekspedisi
kali ini.
Katanya sih, perjalanannya makan
waktu seminggu.
Anehnya, kita sama sekali nggak
liat ada tanda-tanda Dragonkin ataupun Naga yang nyerang kita.
Makanya itu, semua yang ada di
sini mulai nggak serius untuk kawal ekspedisi bangsawan ini.
Tapi entah kenapa, gue punya
perasaan nggak e—
“Itu Kapten lo kan yang cerita
tentang kakaknya?”
“Iya.”
Sebenernya gue agak kaget karena
Petualang Nomor Sembilan ini tiba-tiba ngajak ngobrol gue.
“Kenapa emangnya?”
“Penasaran aja, kenapa lo nggak
ikut seneng-seneng sama dia.”
“Nggak apa-apa. Gue cuma mau
tetep waspada aja sama wilayah sekitar sini.”
“Hoo…lo ngerasa ada yang aneh juga,
ya?”
Ngerasa ada yang aneh…?
“Bagus kalo gitu. Semoga lo tetep
waspada.”
“Tunggu, maksud lo apa—”
“…”
Dih, emang songong tuh
kakek-kakek!
Dia main jalan aja waktu gue mau
tanyain!
Dasar orang aneh!
……………
Paginya, kita semua berangkat
lagi.
Gara-gara kata-kata orang itu,
gue jadi terus kepikiran.
Ngerasa ada yang aneh, ya?
Gue tau perasaan gue nggak enak,
tapi apa maksudnya yang aneh ini?
“Oi, Baron! Jalan kita masih
panjang, ya?!”
“Hey! Sadar diri anda! Tidakkah
anda diajarkan etika oleh—”
“Biarkan mereka saja, Marco.
Semua Petualang adalah kaum barbarik yang seperti itu.”
“…”
Pagi-pagi udah ada yang ribut
aja, nih.
Udah beberapa hari, setiap kita
jalan pasti ada argumen yang nggak penting.
Tapi nggak cuma argumen kayak
gitu aja.
“Bawel lo! Masih Kasta Kuning aja
udah sombong!”
“Haaaah?! Daripada lo semua,
Kasta Jingga tapi nggak ada apa-apanya!”
““HAH?!””
Myllo masih terus adu kuat sama 3
Petualang Kasta Jingga itu.
“Hah?! Kamu udah punya anak, jeng?!”
“Bukan anak kandung! Mereka aku temuin
di tengah jalan! Aku kasih nama mereka Barao, Bario, Baruo, Bareo!”
“Empat anak?!”
Gia juga ngerumpi bareng
Petualang cewek lainnya.
Bahkan Observer yang harusnya
mantau posisi juga malah bercanda-canda.
Makanya itu gue yang harus
waspada untuk sekeliling gue.
Ya Myllo sama Gia sih udah gue
ingetin. Kalo kelompok ini kenapa-kenapa, semoga mereka nggak kenapa-kenapa.
Tambah lagi…
““…””
…ada beberapa Petualang yang
ngeliatan gue mulu.
Gue sendiri nggak tau alesan
mereka liatin gue apa sebener—
“Aneh.”
“…”
Huh! Kenapa nih orang suka
tiba-tiba nyamperin gue, sih?!
“Kenapa ada beberapa Petualang
yang liatin lo?”
“Mana gue tau?!
“…”
Dia liatin…
“…”
…Fratta Pouch dari Maha?!
“Ke…Kenapa lo liatin ini terus?!”
“Justru harusnya gue yang nanya, kenapa
mereka pada liatin Fratta Pouch itu?!”
“!!!”
Bener juga!
Isinya kan cuma ada Ark Blade
dari Hidden Dungeon aja!
Kalo pada liatin ini, artinya
pada tau, dong?!
Eh, ngomong-ngomong…
“Lo tau…nama kantong ini?”
“Hmph! Lo kira gue jadi Petualang
udah berapa lama sampe nggak tau Fratta Pouch?!”
Gue kira cuma orang-orang dari
asalnya Fratta aja yang tau kantong ajaib ini!
“Hati-hati sama kantong itu,
uhm…siapa nama lo?”
Dia ngomong ke gue terus tapi
nggak tau nama gue siapa?!
“Djinn! Panggil aja Djinn!”
“OK, Minn.”
“…”
Nih orang budek, ya?
Kan jelas-jelas gue sebut ‘Djinn’.
“Gue nggak tau isi dari kantong
itu apa, yang pasti lo harus hati-hati sama sekeliling lo. Khususnya…orang
itu.”
Oh, Petualang Kasta Jingga yang
satu lagi, ya?
Kalo nggak salah namanya Konnor
Trasles.
Dia Observer yang udah jadi
Leader di Party yang namanya Columba.
Kalo salah satu tugas Observer
itu jadi ‘radar’ yang cari tau keberadaan musuh yang dateng, apa mungkin dia
juga bisa cari tau ada senjata legendaris yang gue pegang, ya?
“*Sniff, sniff… (suara
mengendus)”
“Hm?”
Kenapa nih orang sekarang
ngendus-ngen—
“Ada bahaya—”
“Ruoaaaaaarrr!”
““!!!””
“Ada Dragonkin yang dateng!”
Tunggu, ini bukan Dragonkin!
Suara ini kan—
““Ruoaaaaaaarrr!””
“!!!”
Gila!
Gimana cara ngelawannya!
“Prioritaskan keamanan alat ini!”
Jangankan amanin alat itu, gimana
caranya juga kita lawan 10 Naga yang dateng kayak gitu?!
Tunggu…
Kok mereka bisa—
“Gi…Gimana caranya kita ngalahin
10 Naga?!”
“Aaa…aaa…kenapa gue nyesel…ambil
Quest ini…?”
“A…Apa kita lari aja kali—”
“*Boom! (suara bola api Naga)”
Brengsek!
Petualang lainnya jadi pada takut
karena Naga-Naga ini!
“Judgement!”
“*Jgrum! (suara sambaran petir)”
“*Boom! (suara ledakan)”
“Mantap, Djinn! Biar gue yang
hajar mereka!”
“Myllo! Badan lo—”
“Zegin Blow!”
“*Fwush! (suara hembusan angin)”
Dia main lompat aja ke Naga itu!
“Ayo kita serang Naga itu,
sebelum nyentuh Keeper atau Observer lainnya…siapa nama lo?”
“Djinn!”
“Ya, ayo Zinn!”
Dasar budek!
……………
Gue sama orang ini mau serang dua
Naga yang ada di depan kita.
“Ruoaaaaar!”
“Bwush… (suara tiupan asap)”
“Uhuk! Uhuk!”
Sialan! Gue nggak nyangka Naga
ini pake asep tebel kayak gi—
“Ruoaar!”
Naga ini tiba-tiba di belakang
gu—
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Cih! Kena cakarannya kecil
banget!”
Untung ada orang ini yang cover gue!
“Naga ini pake asep! Kita harus
pergi dari asep ini, Dinn!”
“DJINN!!!”
Masih aja nih orang lupa nama
gue!
Hah, tapi bener kata dia. Asepnya
keliatan bahaya.
Kalo gitu, mending gue fokus aja
dulu!
“Ruoaar!”
“*Vwumm… (suara kobaran api)”
Naga ini badannya jadi api semua.
Kalo gitu…
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“*Boom! (suara ledakan)”
“Rrrr…”
“Urgh…”
Gara-gara ledakan itu, gue sama
Naga itu jadi kepental.
Waktu Naga itu jatoh…
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“Lycan Reap!”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Ruoar!”
Orang itu langsung lari, terus
cakar Naga itu.
Tapi kok…tangannya kayak berubah
wujud gitu, ya?
Kesannya kayak cakaran serigala.
“Ruoaaar!”
Oh ya! Naga Asap ini masih belom
kalah!
“*Swush! (suara ayunan pukulan)”
“*Swush! (suara ayunan
tendangan)”
“Cih!”
Gara-gara badannya yang berasep,
gue jadi nggak bisa pukul dia!
“Judgement!”
“*Jgrum! (suara sambaran petir)”
“Rrrr!”
Aneh.
Kok petir gue bisa nyerang dia,
ya—
“A…Anda adalah…Yang Mulia?!”
“!!!”
Siapa yang ngomong di kepala gu—
“Saya adalah Yssalq, Naga yang
sedang anda hadapi!”
Hah?! Kok lo bisa ngomong di—
“Saya tidak bisa menjelaskan
secara rinci—”
“*Swush! (suara ayunan cakar
Naga)”
Ke…Kenapa lo masih nyerang gue?!
“A…Ada yang mengendalikan
kami, Kaum Naga!”
“!!!”
Ada yang kendaliin mereka semua—
“Aku mohon agar kiranya Engkau
menyerangku dengan kekuatan-Mu, Yang Mulia!”
Yaudah, sebentar.
“Judgement!”
“*Jgrumm… (suara sambaran petir)”
“Terima kasih, Yang Mulia.
Setidaknya aku bisa mengendalikan tubuh ini.”
Ya. Lanjut ke pertanyaan gue.
Lo bukannya salah satu ras yang
paling kuat di dunia ini?!
Kenapa ada yang bisa ngontrol lo
semua?!
“A…Artinya…yang mengontrol
kami itu setara, atau lebih kuat daripada kami, Yang Mulia!”
Setara atau lebih kuat dari lo?!
Eh, bentar!
Kenapa lo sebut gue Yang Mulia?!
“Ka…Karena leluhur kami
berkata, bahwa seorang Mahluk Fana dengan kekuatan seperti Engkau adalah Pria
Terjanji, yang disabdakan oleh Melchizedek!”
Oh, kayak Göhran sama Rakhzar
waktu itu, ya?
“Terima kasih karena telah
menyadarkan saya, Yang Muli—”
Panggil aja Djinn!
Oh ya, terus serang gue! Jangan
sampe berhenti!
“Baik, Djinn. Mohon maaf jika
saya tanpa henti menyerangmu.”
Nggak apa-apa, biar kita nggak dicurigain sama
yang lain.
Oh iya, yang lain gimana, ya—
“Aaargh!”
“Keuk!”
“Myllo! Gia!”
Sialan! Gue nggak bisa lama-lama—
“Aku ada saran, Djinn.”
Hm?
“Mohon dengar saran ini!”
Yaudah, gue denger saran lo.