Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 99. Sudden Attack



Sekarang kita semua lagi


istirahat.


Ini hari kelima semenjak kita


jalan ke ujung Erviga sambil bawa alat yang masukinnya aja haru pake 2 kereta


yang panjang.


Kereta ini ditarik sama binatang


yang namanya Direwolf, serigala yang ukurannya lebih gede daripada serigala


normal.


Ujung-ujungnya, dari yang awalnya


24 Petualang yang ikut, 2 Kasta Biru sama 2 Kasta Kuning mundur dari ekspedisi


kali ini.


Katanya sih, perjalanannya makan


waktu seminggu.


Anehnya, kita sama sekali nggak


liat ada tanda-tanda Dragonkin ataupun Naga yang nyerang kita.


Makanya itu, semua yang ada di


sini mulai nggak serius untuk kawal ekspedisi bangsawan ini.


Tapi entah kenapa, gue punya


perasaan nggak e—


“Itu Kapten lo kan yang cerita


tentang kakaknya?”


“Iya.”


Sebenernya gue agak kaget karena


Petualang Nomor Sembilan ini tiba-tiba ngajak ngobrol gue.


“Kenapa emangnya?”


“Penasaran aja, kenapa lo nggak


ikut seneng-seneng sama dia.”


“Nggak apa-apa. Gue cuma mau


tetep waspada aja sama wilayah sekitar sini.”


“Hoo…lo ngerasa ada yang aneh juga,


ya?”


Ngerasa ada yang aneh…?


“Bagus kalo gitu. Semoga lo tetep


waspada.”


“Tunggu, maksud lo apa—”


“…”


Dih, emang songong tuh


kakek-kakek!


Dia main jalan aja waktu gue mau


tanyain!


Dasar orang aneh!


……………


Paginya, kita semua berangkat


lagi.


Gara-gara kata-kata orang itu,


gue jadi terus kepikiran.


Ngerasa ada yang aneh, ya?


Gue tau perasaan gue nggak enak,


tapi apa maksudnya yang aneh ini?


“Oi, Baron! Jalan kita masih


panjang, ya?!”


“Hey! Sadar diri anda! Tidakkah


anda diajarkan etika oleh—”


“Biarkan mereka saja, Marco.


Semua Petualang adalah kaum barbarik yang seperti itu.”


“…”


Pagi-pagi udah ada yang ribut


aja, nih.


Udah beberapa hari, setiap kita


jalan pasti ada argumen yang nggak penting.


Tapi nggak cuma argumen kayak


gitu aja.


“Bawel lo! Masih Kasta Kuning aja


udah sombong!”


“Haaaah?! Daripada lo semua,


Kasta Jingga tapi nggak ada apa-apanya!”


““HAH?!””


Myllo masih terus adu kuat sama 3


Petualang Kasta Jingga itu.


“Hah?! Kamu udah punya anak, jeng?!”


“Bukan anak kandung! Mereka aku temuin


di tengah jalan! Aku kasih nama mereka Barao, Bario, Baruo, Bareo!”


“Empat anak?!”


Gia juga ngerumpi bareng


Petualang cewek lainnya.


Bahkan Observer yang harusnya


mantau posisi juga malah bercanda-canda.


Makanya itu gue yang harus


waspada untuk sekeliling gue.


Ya Myllo sama Gia sih udah gue


ingetin. Kalo kelompok ini kenapa-kenapa, semoga mereka nggak kenapa-kenapa.


Tambah lagi…


““…””


…ada beberapa Petualang yang


ngeliatan gue mulu.


Gue sendiri nggak tau alesan


mereka liatin gue apa sebener—


“Aneh.”


“…”


Huh! Kenapa nih orang suka


tiba-tiba nyamperin gue, sih?!


“Kenapa ada beberapa Petualang


yang liatin lo?”


“Mana gue tau?!


“…”


Dia liatin…


“…”


…Fratta Pouch dari Maha?!


“Ke…Kenapa lo liatin ini terus?!”


“Justru harusnya gue yang nanya, kenapa


mereka pada liatin Fratta Pouch itu?!”


“!!!”


Bener juga!


Isinya kan cuma ada Ark Blade


dari Hidden Dungeon aja!


Kalo pada liatin ini, artinya


pada tau, dong?!


Eh, ngomong-ngomong…


“Lo tau…nama kantong ini?”


“Hmph! Lo kira gue jadi Petualang


udah berapa lama sampe nggak tau Fratta Pouch?!”


Gue kira cuma orang-orang dari


asalnya Fratta aja yang tau kantong ajaib ini!


“Hati-hati sama kantong itu,


uhm…siapa nama lo?”


Dia ngomong ke gue terus tapi


nggak tau nama gue siapa?!


“Djinn! Panggil aja Djinn!”


“OK, Minn.”


“…”


Nih orang budek, ya?


Kan jelas-jelas gue sebut ‘Djinn’.


“Gue nggak tau isi dari kantong


itu apa, yang pasti lo harus hati-hati sama sekeliling lo. Khususnya…orang


itu.”


Oh, Petualang Kasta Jingga yang


satu lagi, ya?


Kalo nggak salah namanya Konnor


Trasles.


Dia Observer yang udah jadi


Leader di Party yang namanya Columba.


Kalo salah satu tugas Observer


itu jadi ‘radar’ yang cari tau keberadaan musuh yang dateng, apa mungkin dia


juga bisa cari tau ada senjata legendaris yang gue pegang, ya?


“*Sniff, sniff… (suara


mengendus)”


“Hm?”


Kenapa nih orang sekarang


ngendus-ngen—


“Ada bahaya—”


“Ruoaaaaaarrr!”


““!!!””


“Ada Dragonkin yang dateng!”


Tunggu, ini bukan Dragonkin!


Suara ini kan—


““Ruoaaaaaaarrr!””


“!!!”


Gila!


Gimana cara ngelawannya!


“Prioritaskan keamanan alat ini!”


Jangankan amanin alat itu, gimana


caranya juga kita lawan 10 Naga yang dateng kayak gitu?!


Tunggu…


Kok mereka bisa—


“Gi…Gimana caranya kita ngalahin


10 Naga?!”


“Aaa…aaa…kenapa gue nyesel…ambil


Quest ini…?”


“A…Apa kita lari aja kali—”


“*Boom! (suara bola api Naga)”


Brengsek!


Petualang lainnya jadi pada takut


karena Naga-Naga ini!


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara sambaran petir)”


“*Boom! (suara ledakan)”


“Mantap, Djinn! Biar gue yang


hajar mereka!”


“Myllo! Badan lo—”


“Zegin Blow!”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


Dia main lompat aja ke Naga itu!


“Ayo kita serang Naga itu,


sebelum nyentuh Keeper atau Observer lainnya…siapa nama lo?”


“Djinn!”


“Ya, ayo Zinn!”


Dasar budek!


……………


Gue sama orang ini mau serang dua


Naga yang ada di depan kita.


“Ruoaaaaar!”


“Bwush… (suara tiupan asap)”


“Uhuk! Uhuk!”


Sialan! Gue nggak nyangka Naga


ini pake asep tebel kayak gi—


“Ruoaar!”


Naga ini tiba-tiba di belakang


gu—


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Cih! Kena cakarannya kecil


banget!”


Untung ada orang ini yang cover gue!


“Naga ini pake asep! Kita harus


pergi dari asep ini, Dinn!”


“DJINN!!!”


Masih aja nih orang lupa nama


gue!


Hah, tapi bener kata dia. Asepnya


keliatan bahaya.


Kalo gitu, mending gue fokus aja


dulu!


“Ruoaar!”


“*Vwumm… (suara kobaran api)”


Naga ini badannya jadi api semua.


Kalo gitu…


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“*Boom! (suara ledakan)”


“Rrrr…”


“Urgh…”


Gara-gara ledakan itu, gue sama


Naga itu jadi kepental.


Waktu Naga itu jatoh…


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Lycan Reap!”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Ruoar!”


Orang itu langsung lari, terus


cakar Naga itu.


Tapi kok…tangannya kayak berubah


wujud gitu, ya?


Kesannya kayak cakaran serigala.


“Ruoaaar!”


Oh ya! Naga Asap ini masih belom


kalah!


“*Swush! (suara ayunan pukulan)”


“*Swush! (suara ayunan


tendangan)”


“Cih!”


Gara-gara badannya yang berasep,


gue jadi nggak bisa pukul dia!


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara sambaran petir)”


“Rrrr!”


Aneh.


Kok petir gue bisa nyerang dia,


ya—


“A…Anda adalah…Yang Mulia?!”


“!!!”


Siapa yang ngomong di kepala gu—


“Saya adalah Yssalq, Naga yang


sedang anda hadapi!”


Hah?! Kok lo bisa ngomong di—


“Saya tidak bisa menjelaskan


secara rinci—”


“*Swush! (suara ayunan cakar


Naga)”


Ke…Kenapa lo masih nyerang gue?!


“A…Ada yang mengendalikan


kami, Kaum Naga!”


“!!!”


Ada yang kendaliin mereka semua—


“Aku mohon agar kiranya Engkau


menyerangku dengan kekuatan-Mu, Yang Mulia!”


Yaudah, sebentar.


“Judgement!”


“*Jgrumm… (suara sambaran petir)”


“Terima kasih, Yang Mulia.


Setidaknya aku bisa mengendalikan tubuh ini.”


Ya. Lanjut ke pertanyaan gue.


Lo bukannya salah satu ras yang


paling kuat di dunia ini?!


Kenapa ada yang bisa ngontrol lo


semua?!


“A…Artinya…yang mengontrol


kami itu setara, atau lebih kuat daripada kami, Yang Mulia!”


Setara atau lebih kuat dari lo?!


Eh, bentar!


Kenapa lo sebut gue Yang Mulia?!


“Ka…Karena leluhur kami


berkata, bahwa seorang Mahluk Fana dengan kekuatan seperti Engkau adalah Pria


Terjanji, yang disabdakan oleh Melchizedek!”


Oh, kayak Göhran sama Rakhzar


waktu itu, ya?


“Terima kasih karena telah


menyadarkan saya, Yang Muli—”


Panggil aja Djinn!


Oh ya, terus serang gue! Jangan


sampe berhenti!


“Baik, Djinn. Mohon maaf jika


saya tanpa henti menyerangmu.”


Nggak apa-apa, biar kita nggak dicurigain sama


yang lain.


Oh iya, yang lain gimana, ya—


“Aaargh!”


“Keuk!”


“Myllo! Gia!”


Sialan! Gue nggak bisa lama-lama—


“Aku ada saran, Djinn.”


Hm?


“Mohon dengar saran ini!”


Yaudah, gue denger saran lo.