Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 124. Beyond The Castle



Ketika Vigrias sedang berada


dalam serangan, semua personil yang sedang berada di dalam kastil pun dilanda


kepanikan.


“Apa yang terjadi di Vigrias?!”


“Apakah ada serangan dari Kaum


Naga?! Atau mungkin serangan dari negara lain?!”


“Lantas, bagaimana nasib kita?!”


Seru beberapa personil kerajaan


yang berada di dalam kastil.


Ketika mereka semua dilanda


kepanikan, datanglah beberapa ksatria dari House of Siegfried yang hendak mengevakuasi personil kerajaan.


“Pengumuman! Karena adanya


serangan tidak terduga dari beberapa *******, maka kami harapkan kerjasama dari


kalian untuk melakukan proses evakuasi dari kastil ini!”


Seru salah seorang ksatria kepada


seluruh personil kerajaan.


Mendengar peringatan tersebut,


ratu dari Erviga Kingdom, Ratu Brecha, hendak menanyakan hal tersebut kepada


ksatria tersebut.


“Hey! Apa yang sedang terjadi di


Vigrias?!”


Tanya ratu tersebut, yang diikuti


oleh ketiga anaknya.


“Mohon maaf, Yang Mulia Ratu.


Kami tidak menyangka adanya kejadian tidak terduga seperti ini. Seketika ada


beberapa oknum yang meneror ibukota, Yang Mulia Ratu.”


“Meneror? Memangnya apa yang—”


“Mohon maaf, Yang Mulia Ratu.


Kita tidak punya waktu lebih. Demi keselamatan anggota kerajaan, kami harap


agar kiranya Yang Mulia Ratu, Para Tuan Muda serta Tuan Putri untuk melakukan


evakuasi sekarang juga!”


Balas ksatria tersebut.


Ketika mereka dipaksa untuk ikut


melakukan evakuasi, Ratu Brescha pun tidak sepenuhnya menyetujui ksatria


tersebut.


“Tunggu! Bagaimana dengan suami


saya, raja kalian semua—”


“Mohon maaf, sebelumnya Yang


Mulia Ratu.”


Potong Sebastian yang secara


mengejutkan datang.


“Sebastian?! Mengapa anda ada di


sini?! Bukankah anda sedang berada di—”


“Maaf sebelumnya, Yang Mulia Ratu.


Saya diminta Yang Mulia Raja untuk mengevakuasi para personil beliau, serta


anggota kerajaan. Beliau sedang berada di Kemah Evakuasi Vigrias bersama dengan


Tuan Maverick Orbloom, untuk berbicara secara langsung dengan warga terkait


pintu masuk Vigrias yang tertutup.”


Balas Sebastian kepada Ratu Brescha.


Namun mendengar penjelasan itu, Ratu


Brescha justru merasa ada yang janggal.


“Apa yang anda bilang sebelumnya?


Mengevakuasi personil dan anggota kerajaan? Artinya, kau sudah mengetahui adanya serangan di Vigrias.


Benar begitu?”


“!!!”


Sebastian merasa terkejut ketika


mendengar kecurigaan dari Ratu Brescha. Namun ia tetap berusaha untuk terlihat


tenang dan ‘meluruskan’ sedikit tentang penjelasannya.


“Maafkan saya sebelumnya, Yang


Mulia Ratu. Yang saya maksud adalah, Yang Mulia Raja memanggil saya ke kastil


untuk melakukan proses evakuasi, Yang Mulia Ratu.”


“Anda mendapat panggilan dari


suami saya? Apakah suami saya mengetahui adanya teror di Vigrias?”


“Tentu saja, Yang Mulia Ratu.


Berkat kebijaksanaannya, Raja merasa jika serangan dari Kaum Naga juga


memberikan celah bagi tindakan terorisme. Maka dari itu, Beliau meminta saya


untuk mengevakuasi semua yang berada di kastil, ketika kejadian seperti ini


benar-benar terjadi.”


Balas Sebastian dengan tipu


dayanya.


“Hmm… Baiklah, saya akan


menjalankan proses evakuasi bersama dengan keluarga saya.”


Balas Ratu Brescha, sambil


mengikuti proses evakuasi bersama dengan ksatria milik Sebastian.


Namun ketika ia hendak memasuki


kereta kuda, tiba-tiba Ratu Brescha meminta hal yang aneh kepada ksatria


tersebut.


“Saya membutuhkan sebuah pensil


dan kertas.”


“Mo…Mohon maaf, Yang Mulia Ratu,


akan tetapi—”


“Saya senang menulis puisi! Di


tengah kondisi seperti ini, hanya menulis puisi lah yang bisa menenangkan


saya!”


Balas Ratu Brescha, yang membuat


ksatria, bahkan anak-anaknya, merasa heran.


Ketika mereka memasuki kereta


kuda, Ratu Brescha mulai menulis di secarik kertas yang ia terima.


Namun, alih-alih menulis puisi, ia


justru menulis hal lain, yang lalu ditunjukkan kepada anak-anaknya.


“Anak-anak, lihatlah puisi yang


ibu buat.”


““Mm?””


Anak-anak Ratu Brescha pun mulai


membaca tulisan tersebut.


“Ada yang aneh yang sedang terjadi. Ayah kalian biasanya selalu


mengandalkan Bismont Louisson, namun pria itu pun tidak terlihat. Ibu merasa


sesuatu terjadi dengan ayah kalian. Namun, untuk saat ini kita semua hanya bisa


berdoa saja agar kiranya Beliau selalu berada di bawah perlindungan Dewa dan


Dewi.”


Ketika mereka membaca tulisan


tersebut, Ratu Brescha memberikan tanda diam kepada anak-anaknya agar mereka


selalu waspada dengan sekitarnya.


……………


Sambil melihat Ratu Brescha dan


keluarganya pergi, Sebastian merasa jengkel.


“Cih! Dasar perempuan biadab! Mengapa ia begitu keras kepala?!”


Pikirnya, sambil berjalan di


lorong kastil.


“Lapor, Yang Mulia! Untuk


sekarang, kastil telah kosong!”


“Bagus! Untuk sekarang, saya mau


kalian untuk berjaga-jaga di sekitar kastil!”


““Baik, Yang Mulia!””


Ksatria lainnya pun langsung


mengikuti arahannya.


Setelah itu, Sebastian berjalan


menuju ke Ruang Singgasana.


Sesampainya ia di sana…


…terdapat Raja Glennhard yang terikat dengan rantai yang dialiri dengan sihir


di kursi raja, sehingga ia benar-benar tidak bisa bergerak.


Di samping kursi takhta kerajaan,


terdapat seorang figur yang tidak dikenal.


Ketika memasuki Ruang Singgasana,


Sebastian pun berlutut di hadapan figur itu.


“Yang Mulia. Saya datang dihadapanmu.”


Sapa Sebastian, dengan penuh rasa


hormat.


“Sebastiaaaan! Dasar pengkhianat!


Bismont benar ketika berbicara dengan—”


“Ssshh, sshh, sshh…”


Raja Glennhard yang memaki-maki


Sebastian pun diminta untuk diam oleh figur tersebut.


“Hey, Glennhard. Kau seharusnya


mengurus apa yang seharusnya kau urus, bukan? Mengapa kau harus mencari tahu—”


“Diam, kau! Aku tidak butuh—”


“Hey, hey, hey. Semua seharusnya


sudah berjalan sudah lancar, Glennhard. Kau menjadi ‘figur’ di depan publik,


sedangkan aku yang mengurus semuanya. Bukankah seperti itu, Glennhard?”


“Ti…Tidak! Saya adalah raja! Saya


bukanlah boneka anda!”


Seru Raja Glennhard kepada figur


itu.


“Dasar keterlaluan! Saya harap


anda mendapat ganjaran—”


“Ssshhh, ssshhh, ssshhh…”


“…”


Seketika Raja Glennhard tertidur


ketika figur itu menyuruhnya diam.


Setelah membuat Raja Glennhard tertidur,


figur itu menggunakan sihirnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di


sekitar Erviga Kingdom.


“Ya…Yang Muli—”


“Ssshhh, ssshhh, ssshhh! Tenang,


tenang tenang. Aku tidak bisa berkonstentrasi.”


Balas figur itu kepada Sebastian


agar tidak mengganggu konstentrasinya.


“Hmm, seperti itu ya.”


Bisiknya setelah ia mengetahui


apa yang sedang terjadi.


“Baiklah. Yang pertama, ada yang


menyerang Penampungan. Yang kedua, kediamanmu sedang diserang, Sebastian. Yang


ketiga, murid dari Apostle sedang menuju Vigrias bersama dengan Bismont. Dan


terakhir, anak Bismont, serta beberapa Naga yang tidak bisa kukendalikan sepertinya berada di


Calmisiu.”


“!!!”


Sebastian pun terkejut ketika


mendengar penjelasan figur tersebut.


“Lantas, apa yang akan kita


lakukan, Yang Mulia?”


“Hmm, sepertinya kita harus memanggil


seluruh Royal Knights untuk menghentikan


*******-******* itu. Lalu, aku akan menyuruh beberapa Naga untuk menyerang kediamanmu dan murid dari Apostle itu.”


Jelas figur itu secara eksentrik.


“Untuk menangkap Dragonewt cilik, Naga Cilik, serta


anak-anak Bismont yang lainnya, bisa kupercayakan kepada bawahanmu, kan?”


“Ba…Baiklah, Yang Mulia.”


“Oh ya, aku juga membutuhkanmu


ya, Sebastian. Hanya untuk berjaga-jaga saja.”


“Tentu saja, Yang Mulia.


Lagipula, tanpa Anda, saya tidak mungkin sekuat ini.”


“Wahahaha! Bisa saja!”


Balas figur itu dengan tertawa.


Tanpa Sebastian sadari, ada


seorang tamu yang berada di ujung ruang singgasana.


“Hey, Dahlia. Ayo kemari! Ayo, ayo, ayo!”


“…”


Dahlia pun menghampiri figur itu


dengan gemetar ketakutan.


“Hey, hey, hey! Mengapa engkau


ketakutan seperti itu, Dahlia?”


“Ti…Ti…Tidak, Yang Mulia. Saya


cuma—”


“Oh! Tenang, tenang, tenang.


Seharusnya kau tersenyum, Dahlia.”


“???”


Dahlia pun bingung dengan apa


yang dimaksud oleh figur itu.


Secara langsung, figur itu


memegang kepala Dahlia untuk menunjukkan sesuatu.


“Biar kuhibur dirimu dengan apa


yang terjadi.”


“…”


Dengan sihirnya, figur tersebut


memperlihatkan sudut pandang dari salah satu prajurit yang sedang bertarung di


pintu masuk Penampungan.


“DA…DALBERT!”


Teriak Dahlia karena begitu


terkejut dengan apa yang ia lihat.


Ketika figur itu menanggalkan


sihirnya, Dahlia pun sujud di hadapan figur itu.


“Sa…Sa…Saya mohon! Jangan anda


apa-apain adek sa—”


“Ssshhh… Maaf sebelumnya, saya


sudah sangat sibuk. Lagipula, adikmu itu sudah sangat mengganggu kita loh


beberapa tahun ini.”


“A…Apa maksud Anda, Yang Mulia?”


“Kau tahu BBE, benar? Adikmu


inilah yang memimpin mereka.”


“!!!”


Dahlia pun begitu terkejut dengan


fakta yang ia dengar.


“Nggak…Nggak…Nggak mungkin—”


“Jadi bandit itu termasuk aksi


teror, benar? Maka dari itu, aku mohon maaf sebelumnya. Karena adikmu itu,


harus menerima ganjarannya.”


“Hiks…Da…Dalbert…”


Dahlia hanya bisa menangis.


Walaupun dengan aksi


ekstentriknya, figur itu juga tidak tenang.


Karena yang ada di pikirannya


saat ini…


“Tapi, jika ada pria itu,


bisa saja semua hancur berantakan! Apakah lebih baik jika aku turun langsung


melawannya? Atau mungkin…ia akan datang langsung ke tempat ini?”


…adalah seseorang yang sangat


berbahaya untuk rencananya.