
Ketika Vigrias sedang berada
dalam serangan, semua personil yang sedang berada di dalam kastil pun dilanda
kepanikan.
“Apa yang terjadi di Vigrias?!”
“Apakah ada serangan dari Kaum
Naga?! Atau mungkin serangan dari negara lain?!”
“Lantas, bagaimana nasib kita?!”
Seru beberapa personil kerajaan
yang berada di dalam kastil.
Ketika mereka semua dilanda
kepanikan, datanglah beberapa ksatria dari House of Siegfried yang hendak mengevakuasi personil kerajaan.
“Pengumuman! Karena adanya
serangan tidak terduga dari beberapa *******, maka kami harapkan kerjasama dari
kalian untuk melakukan proses evakuasi dari kastil ini!”
Seru salah seorang ksatria kepada
seluruh personil kerajaan.
Mendengar peringatan tersebut,
ratu dari Erviga Kingdom, Ratu Brecha, hendak menanyakan hal tersebut kepada
ksatria tersebut.
“Hey! Apa yang sedang terjadi di
Vigrias?!”
Tanya ratu tersebut, yang diikuti
oleh ketiga anaknya.
“Mohon maaf, Yang Mulia Ratu.
Kami tidak menyangka adanya kejadian tidak terduga seperti ini. Seketika ada
beberapa oknum yang meneror ibukota, Yang Mulia Ratu.”
“Meneror? Memangnya apa yang—”
“Mohon maaf, Yang Mulia Ratu.
Kita tidak punya waktu lebih. Demi keselamatan anggota kerajaan, kami harap
agar kiranya Yang Mulia Ratu, Para Tuan Muda serta Tuan Putri untuk melakukan
evakuasi sekarang juga!”
Balas ksatria tersebut.
Ketika mereka dipaksa untuk ikut
melakukan evakuasi, Ratu Brescha pun tidak sepenuhnya menyetujui ksatria
tersebut.
“Tunggu! Bagaimana dengan suami
saya, raja kalian semua—”
“Mohon maaf, sebelumnya Yang
Mulia Ratu.”
Potong Sebastian yang secara
mengejutkan datang.
“Sebastian?! Mengapa anda ada di
sini?! Bukankah anda sedang berada di—”
“Maaf sebelumnya, Yang Mulia Ratu.
Saya diminta Yang Mulia Raja untuk mengevakuasi para personil beliau, serta
anggota kerajaan. Beliau sedang berada di Kemah Evakuasi Vigrias bersama dengan
Tuan Maverick Orbloom, untuk berbicara secara langsung dengan warga terkait
pintu masuk Vigrias yang tertutup.”
Balas Sebastian kepada Ratu Brescha.
Namun mendengar penjelasan itu, Ratu
Brescha justru merasa ada yang janggal.
“Apa yang anda bilang sebelumnya?
Mengevakuasi personil dan anggota kerajaan? Artinya, kau sudah mengetahui adanya serangan di Vigrias.
Benar begitu?”
“!!!”
Sebastian merasa terkejut ketika
mendengar kecurigaan dari Ratu Brescha. Namun ia tetap berusaha untuk terlihat
tenang dan ‘meluruskan’ sedikit tentang penjelasannya.
“Maafkan saya sebelumnya, Yang
Mulia Ratu. Yang saya maksud adalah, Yang Mulia Raja memanggil saya ke kastil
untuk melakukan proses evakuasi, Yang Mulia Ratu.”
“Anda mendapat panggilan dari
suami saya? Apakah suami saya mengetahui adanya teror di Vigrias?”
“Tentu saja, Yang Mulia Ratu.
Berkat kebijaksanaannya, Raja merasa jika serangan dari Kaum Naga juga
memberikan celah bagi tindakan terorisme. Maka dari itu, Beliau meminta saya
untuk mengevakuasi semua yang berada di kastil, ketika kejadian seperti ini
benar-benar terjadi.”
Balas Sebastian dengan tipu
dayanya.
“Hmm… Baiklah, saya akan
menjalankan proses evakuasi bersama dengan keluarga saya.”
Balas Ratu Brescha, sambil
mengikuti proses evakuasi bersama dengan ksatria milik Sebastian.
Namun ketika ia hendak memasuki
kereta kuda, tiba-tiba Ratu Brescha meminta hal yang aneh kepada ksatria
tersebut.
“Saya membutuhkan sebuah pensil
dan kertas.”
“Mo…Mohon maaf, Yang Mulia Ratu,
akan tetapi—”
“Saya senang menulis puisi! Di
tengah kondisi seperti ini, hanya menulis puisi lah yang bisa menenangkan
saya!”
Balas Ratu Brescha, yang membuat
ksatria, bahkan anak-anaknya, merasa heran.
Ketika mereka memasuki kereta
kuda, Ratu Brescha mulai menulis di secarik kertas yang ia terima.
Namun, alih-alih menulis puisi, ia
justru menulis hal lain, yang lalu ditunjukkan kepada anak-anaknya.
“Anak-anak, lihatlah puisi yang
ibu buat.”
““Mm?””
Anak-anak Ratu Brescha pun mulai
membaca tulisan tersebut.
“Ada yang aneh yang sedang terjadi. Ayah kalian biasanya selalu
mengandalkan Bismont Louisson, namun pria itu pun tidak terlihat. Ibu merasa
sesuatu terjadi dengan ayah kalian. Namun, untuk saat ini kita semua hanya bisa
berdoa saja agar kiranya Beliau selalu berada di bawah perlindungan Dewa dan
Dewi.”
Ketika mereka membaca tulisan
tersebut, Ratu Brescha memberikan tanda diam kepada anak-anaknya agar mereka
selalu waspada dengan sekitarnya.
……………
Sambil melihat Ratu Brescha dan
keluarganya pergi, Sebastian merasa jengkel.
“Cih! Dasar perempuan biadab! Mengapa ia begitu keras kepala?!”
Pikirnya, sambil berjalan di
lorong kastil.
“Lapor, Yang Mulia! Untuk
sekarang, kastil telah kosong!”
“Bagus! Untuk sekarang, saya mau
kalian untuk berjaga-jaga di sekitar kastil!”
““Baik, Yang Mulia!””
Ksatria lainnya pun langsung
mengikuti arahannya.
Setelah itu, Sebastian berjalan
menuju ke Ruang Singgasana.
Sesampainya ia di sana…
…terdapat Raja Glennhard yang terikat dengan rantai yang dialiri dengan sihir
di kursi raja, sehingga ia benar-benar tidak bisa bergerak.
Di samping kursi takhta kerajaan,
terdapat seorang figur yang tidak dikenal.
Ketika memasuki Ruang Singgasana,
Sebastian pun berlutut di hadapan figur itu.
“Yang Mulia. Saya datang dihadapanmu.”
Sapa Sebastian, dengan penuh rasa
hormat.
“Sebastiaaaan! Dasar pengkhianat!
Bismont benar ketika berbicara dengan—”
“Ssshh, sshh, sshh…”
Raja Glennhard yang memaki-maki
Sebastian pun diminta untuk diam oleh figur tersebut.
“Hey, Glennhard. Kau seharusnya
mengurus apa yang seharusnya kau urus, bukan? Mengapa kau harus mencari tahu—”
“Diam, kau! Aku tidak butuh—”
“Hey, hey, hey. Semua seharusnya
sudah berjalan sudah lancar, Glennhard. Kau menjadi ‘figur’ di depan publik,
sedangkan aku yang mengurus semuanya. Bukankah seperti itu, Glennhard?”
“Ti…Tidak! Saya adalah raja! Saya
bukanlah boneka anda!”
Seru Raja Glennhard kepada figur
itu.
“Dasar keterlaluan! Saya harap
anda mendapat ganjaran—”
“Ssshhh, ssshhh, ssshhh…”
“…”
Seketika Raja Glennhard tertidur
ketika figur itu menyuruhnya diam.
Setelah membuat Raja Glennhard tertidur,
figur itu menggunakan sihirnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di
sekitar Erviga Kingdom.
“Ya…Yang Muli—”
“Ssshhh, ssshhh, ssshhh! Tenang,
tenang tenang. Aku tidak bisa berkonstentrasi.”
Balas figur itu kepada Sebastian
agar tidak mengganggu konstentrasinya.
“Hmm, seperti itu ya.”
Bisiknya setelah ia mengetahui
apa yang sedang terjadi.
“Baiklah. Yang pertama, ada yang
menyerang Penampungan. Yang kedua, kediamanmu sedang diserang, Sebastian. Yang
ketiga, murid dari Apostle sedang menuju Vigrias bersama dengan Bismont. Dan
terakhir, anak Bismont, serta beberapa Naga yang tidak bisa kukendalikan sepertinya berada di
Calmisiu.”
“!!!”
Sebastian pun terkejut ketika
mendengar penjelasan figur tersebut.
“Lantas, apa yang akan kita
lakukan, Yang Mulia?”
“Hmm, sepertinya kita harus memanggil
seluruh Royal Knights untuk menghentikan
*******-******* itu. Lalu, aku akan menyuruh beberapa Naga untuk menyerang kediamanmu dan murid dari Apostle itu.”
Jelas figur itu secara eksentrik.
“Untuk menangkap Dragonewt cilik, Naga Cilik, serta
anak-anak Bismont yang lainnya, bisa kupercayakan kepada bawahanmu, kan?”
“Ba…Baiklah, Yang Mulia.”
“Oh ya, aku juga membutuhkanmu
ya, Sebastian. Hanya untuk berjaga-jaga saja.”
“Tentu saja, Yang Mulia.
Lagipula, tanpa Anda, saya tidak mungkin sekuat ini.”
“Wahahaha! Bisa saja!”
Balas figur itu dengan tertawa.
Tanpa Sebastian sadari, ada
seorang tamu yang berada di ujung ruang singgasana.
“Hey, Dahlia. Ayo kemari! Ayo, ayo, ayo!”
“…”
Dahlia pun menghampiri figur itu
dengan gemetar ketakutan.
“Hey, hey, hey! Mengapa engkau
ketakutan seperti itu, Dahlia?”
“Ti…Ti…Tidak, Yang Mulia. Saya
cuma—”
“Oh! Tenang, tenang, tenang.
Seharusnya kau tersenyum, Dahlia.”
“???”
Dahlia pun bingung dengan apa
yang dimaksud oleh figur itu.
Secara langsung, figur itu
memegang kepala Dahlia untuk menunjukkan sesuatu.
“Biar kuhibur dirimu dengan apa
yang terjadi.”
“…”
Dengan sihirnya, figur tersebut
memperlihatkan sudut pandang dari salah satu prajurit yang sedang bertarung di
pintu masuk Penampungan.
“DA…DALBERT!”
Teriak Dahlia karena begitu
terkejut dengan apa yang ia lihat.
Ketika figur itu menanggalkan
sihirnya, Dahlia pun sujud di hadapan figur itu.
“Sa…Sa…Saya mohon! Jangan anda
apa-apain adek sa—”
“Ssshhh… Maaf sebelumnya, saya
sudah sangat sibuk. Lagipula, adikmu itu sudah sangat mengganggu kita loh
beberapa tahun ini.”
“A…Apa maksud Anda, Yang Mulia?”
“Kau tahu BBE, benar? Adikmu
inilah yang memimpin mereka.”
“!!!”
Dahlia pun begitu terkejut dengan
fakta yang ia dengar.
“Nggak…Nggak…Nggak mungkin—”
“Jadi bandit itu termasuk aksi
teror, benar? Maka dari itu, aku mohon maaf sebelumnya. Karena adikmu itu,
harus menerima ganjarannya.”
“Hiks…Da…Dalbert…”
Dahlia hanya bisa menangis.
Walaupun dengan aksi
ekstentriknya, figur itu juga tidak tenang.
Karena yang ada di pikirannya
saat ini…
“Tapi, jika ada pria itu,
bisa saja semua hancur berantakan! Apakah lebih baik jika aku turun langsung
melawannya? Atau mungkin…ia akan datang langsung ke tempat ini?”
…adalah seseorang yang sangat
berbahaya untuk rencananya.