
Di suatu pulau yang berbahaya di Geoterra. Sebagian besar pulau tersebut diselimuti oleh padang pasir. Namun pulau tersebut berbahaya bukan karena segi iklim atau geografis.
“Hey, hey! Ayo kita pergi dari sini! Mumpung kita berhasil rampas harta ini!”
“Eh, tunggu dulu dong! Cewek yang kita rampas ini cakep banget! Body-nya juga bahenol! Mending kita—”
“*Dor!”
“Hieekh! Dasar cewek biadab! Bisa-bisanya lo bunuh—”
“*Dor!”
“*Bruk…”
“Haaaah… Yang mau ngerampok siapa, yang dapet untung siapa! Dasar perampok kelas teri!”
Seorang perempuan berpura-pura tidak berdaya dan membiarkan dirinya dirampok. Namun dengan memanfaatkan kelengahan dua orang yang merampoknya, ia justru berhasil membunuh dua perampok tersebut. Alhasil, ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri dan juga meraup harta milik dua perampok yang menjadi korbannya.
“Keliatannya udah aman!”
“Yaudah! Ayo kita pergi dari sini!”
““…””
Dua anak kecil hendak berjalan melewati wanita tersebut, sambil membawa makanan dan harta yang mereka curi dari seseorang.
Hal tersebut sudah biasa terjadi di pulau tersebut. Untuk bertahan di pulau tersebut, seseorang harus memegang teguh tiga prinsip yang ada.
Pertama. Selalu siap sedia senjata.
Kedua. Percayalah pada diri sendiri dan jangan percaya dengan orang lain, termasuk keluarga terdekat sekalipun.
Dan ketiga. Semua harta pada hakikatnya adalah milik semua orang. Oleh karena itu, rebutlah harta dari
siapapun dan lindungilah harta tersebut.
Dengan ketiga fakta tersebut, pulau tersebut menjadi salah satu wilayah yang paling berbahaya yang berada di Geoterra. Tiada hukum yang berdaulat di pulau tersebut. Tambah lagi, tidak ada satupun Petualang yang berani menginjakkan kakinya di pulau tersebut, semenjak mereka hanya menjadi sasaran empuk bagi semua warga pulau itu.
Akan tetapi sasaran utama dari para warga Dreaded Borderland bukanlah para Petualang.
“C-Cepat lari! Kita harus—”
“*Dor!”
“*Bruk…”
“Akhirnya ada anggota Saudagar yang bisa kita dapetin!”
“Walaupun bukan Kepala Saudagar-nya, seenggaknya anggotanya punya banyak harta!”
Saudagar lah yang menjadi sumber kekayaan mereka, karena harta mereka diyakini lebih besar dibandingkan para Petualang.
Karena tidak adanya hukum dan seorang penguasa, maka warga Geoterra menamai pulau tersebut sebagai Dreaded Borderland, pulau tanpa hukum yang ditakuti oleh semua warga dunia. Bahkan Centra Geoterra menghimbau warga dunia untuk tidak melewati pulau tersebut.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh warga dunia tentang Dreaded Borderland.
“Wuaaah! Tiba-tiba ada uang sebanyak ini di rumah kita!”
“Waduh, harus diamanin nih ada harta sebanyak ini!”
“Ayo cepet sembunyiin, nak! Kita nggak akan tau siapa yang mau ambil benda sebanyak ini!”
Setiap awal bulan, semua warga di pulau tersebut mendapatkan sebuah keajaiban, dengan adanya harta yang berlimpah yang berada di dalam rumah mereka. Kedatangan harta tersebut memberikan sukacita yang besar bagi setiap warga.
Namun hal tersebut sama saja membuat tantangan yang baru bagi kehidupan mereka.
“*Brak!”
“Cih! Nggak disangka bakal ada yang dateng secepet ini!”
“Hmph! Lo bener banget! Mending serahin harta lo, sekarang juga!”
“Hah?! Ayo lawan gue kalo berani, sialan!”
Adanya harta misterius tersebut justru membuat semua warga menjadi semakin haus akan harta. Mereka bahkan harus saling membunuh, demi melindungi dan menambah harta yang mereka rampas dari warga lainnya.
“*Shrak!”
“Nak! Cepet ke rumah orang ini! Ambil hartanya!”
“T-Tapi anaknya orang ini temen aku, ayah! Nanti temen aku gimana—”
“Tenang, nak. Biar ibu yang urus anak-anaknya!”
“J-Jangan, bu! Mereka masih—”
“Daripada mereka harus ngerasain hidup pahit sebagai anak yatim piatu di tengah-tengah pulau ini, mending mereka mati dan nyusul ayah mereka! Seenggaknya mereka nggak mati bunuh diri! Paham?!”
“I-Iya, bu…”
Oleh karena hal tersebut, anak itu pergi menghampiri rumah milik warga yang hendak merampas harta yang berada di rumahnya.
Ketika ia berjalan sambil memegang sebuah pisau dan pistol di tangannya, ia menyaksikan seorang pria yang berada di sebuah atap rumah.
“O-Orang itu! Bukannya dia…”
“Ssshhh…”
“*Swush!”
Pria tersebut memberi tanda untuk diam kepada anak kecil tersebut, sebelum ia pergi. Melihat adanya pria
tersebut, anak kecil itu merasa sangat senang, hingga ia tersungkur dan melepaskan dua senjata yang ia bawa.
“M-Makasih banyak, Bandit Legendaris.”
Salam anak itu, kepada pria yang disebut sebagai Bandit Legendaris, yang diketahui oleh segala penjuru Dreaded Borderland.
Sesuai dengan sebutannya, ia merupakan seorang bandit yang menjadi seorang penengah dan penyeimbang di pulau tersebut. Dengan tiga prinsip yang ada, ia berusaha agar semua warga memiliki harta yang cukup.
Ia akan merampas harta dari wilayah lain yang lebih banyak harta, lalu membagikan harta tersebut kepada wilayah yang lebih kekurangan harta.
Jika ada seorang anak kecil tidak berdaya yang diserang oleh warga lainnya, ia akan membunuh dan merampas warga tersebut, lalu memberikan harta tersebut kepada anak kecil tersebut, sesuai dengan porsinya.
Karena fakta tersebut, namanya begitu diagungkan. Namun dengan fakta tersebut, ia juga membuat dirinya menjadi pusat perhatian bagi suatu ikatan bandit yang memiliki kuasa terbesar di Dreaded Borderland.
“*DOR!!!”
““!!!””
Kali ini seluruh warga pada suatu wilayah di Dreaded Borderland dikejutkan dengan adanya suara tembakan yang sangat kencang.
“Kita yang ada di sini dateng dari Dreaded Band! Serahin harta kalian, sebelum kalian jawab pertanyaan dari kita!”
Seru salah seorang bandit yang berasal dari Dreaded Band.
““…””
Takut akan kehilangan nyawa mereka, sebagain besar warga Dreaded Borderland terpaksa memberikan harta
mereka.
Beruntung bagi mereka yang telah melarikan diri. Karena jika tidak pergi melarikan diri dari tempat tersebut tanpa memberikan harta mereka, hanya ada satu hal yang bisa mereka lakukan, walaupun hal tersebut bukanlah jalan yang terbaik untuk keselamatan mereka.
“Hm? Ada yang mau lari ya?”
“Hiekh! Kita ketau—”
((Missile Bullet))
“*Dor!”
““…””
““…””
Seorang bandit yang berasal dari Dreaded Band menghampiri warga yang telah menyerahkan harta mereka.
“Oi. Sekarang jawab pertanyaan kita.”
““…””
Warga yang berada di sana gemetar ketakutan, sebelum ada pertanyaan yang dilontarkan oleh bandit tersebut. Karena hal tersebut, bandit tersebut marah.
“*Dhuk!”
“Akh!”
“Jadi orang tuh jangan lemah! Belom ditanya udah gemeteran!”
“M-Maaf—”
“Gue nggak butuh maaf lo! Mending lo jawab aja pertanyaan gue!”
Seru bandit tersebut, setelah ia menendang salah seorang warga.
“Siapa yang ngasih harta ini?!”
“Ki-Kita nggak ta—”
“*Dor!”
““…””
Warga tersebut semakin gemetar ketakutan setelah adanya suara tembakan pistol berbunyi.
“Jangan kayak orang tolol, deh! Ya kali kalian nggak sadar tiba-tiba ada harta kekayaan kayak gini yang muncul di rumah kalian! Kalian pikir ini ada angin yang tiba-tiba bawa emas sebanyak ini?! HAH?!”
““…””
“JAWAB!!!”
““N-Nggak…””
Jawab semua warga dengan ketakutan, setelah bandit tersebut berteriak.
Walaupun Dreaded Band terlihat seakan mereka menguasai Dreaded Borderland, namun pada kenyataannya ada seseorang yang harus mereka takuti.
“Woy! Jadi siapa yang bawain harta sebanyak i—”
“*DOR!”
“…”
Seketika bandit tersebut menerima tembakan yang dahsyat, yang bahkan menghancurkan kepalanya.
“Woy! Siapa yang berani—”
“Ngapain kalian masih ada di sini?!”
Seru seseorang yang datang dengan kuda miliknya.
“Cih! Si Sheriff sialan itu udah dateng!”
“Y-Yaudah deh! Ayo kita pergi dari si—”
“*Ngiiihiieeekk!”
“*Vwumm!”
“*Boom!”
““Uaaaargh!””
Kuda yang ditunggangi oleh pria yang disebut Sheriff itu seketika menembakkan sebuah bola api yang besar, yang meledakkan seluruh bandit dari Dreaded Band.
“Hmm… Keliatannya semua udah aman.”
Bisik Sheriff itu, sebelum ia pergi meninggalkan wilayah tersebut tanpa memperdulikan warga lainnya.
“*Krutk, krutk, krutk…”
Ia pergi dengan kuda miliknya menuju sebuah wilayah yang menjadi satu-satunya titik paling aman di pulau tersebut. Wilayah tersebut bernama Beckbuck Post.
“Sheriff Walt Malt! Gimana kondisi di luar Beckbuck?!”
“Seperti biasa. Nggak aman.”
Sahut Sheriff tersebut kepada salah seorang penjaga Beckbuck yang berdiri di atas pagar yang terbuat dari
kaktus raksasa.
“*Tuk, ktuk, ktuk…”
Walt pun memasuki Beckbuck. Ketika berada di wilayah tersebut, ia disambut baik oleh warga yang tinggal di
dalamnya.
“Pagi, Pak Walt!”
“Pagi, bu.”
Sambil berjalan menunggangi kuda miliknya dan disambut oleh warga Beckbuck, Walt pergi menuju kediamannya.
“*Krieeek…”
“Sheriff Malt, gimana di luar Beckbuck?”
Tanya seorang pria, ketika Walt memasuki ruangan miliknya.
“Gue cuma temuin adanya bandit-bandit sialan itu aja.”
“Terkait Bandit Legendaris?”
“…”
Walt hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Hmph! Legendaris tai kucing! Dia mau jadi sok pahlawan buat orang-orang Dreaded Borderland, tapi curi harta warga Beckbuck!”
“…”
Pria yang menjadi tamu Walt hanya diam saja ketika mendengar keluhan Walt.
“Jadi, gimana investigasi yang lo kerjain di Beckbuck, Chuck?”
“Sama, pak. Saya juga nggak nemuin apa-apa. Jujur aja…”
“Hm?”
“Saya butuh Petualang yang lain, selain saya.”
Jelas pria yang bernama Chuck itu kepada Walt.
“Petualang, ya?”
“Bener, pak. Khususnya…”
“…”
“Petualang yang kayak orang ini, pak. Yang kemungkinan besar ahli tentang bandit.”
Kembali jelas Chuck, sambil menunjukkan foto Dalbert kepada Walt.