
Satu minggu setelah Aquilla pergi dari Erviga Kingdom, nama mereka masih begitu diagungkan di seluruh dunia.
“Aku adalah Myllo The Wind! Dan di sampingku ini adalah…”
“Dj-Djinn Dracorion!”
“Kami akan mengalahkanmu, Naga!”
“Raaaar!”
““Aaaaagh!””
““Hahaha!””
Anak-anak kecil begitu senang berperan menjadi Myllo dan Djinn atas tindakan heroik mereka bersama dengan ayah mereka yang berperang menjadi Naga.
“Wah! Kok bisa ya mereka bisa mengalahkan ratusan Kaum Naga?!”
“Ya iyalah, bu! Myllo The Wind itu kan adiknya Pahlawan Sylvia Starfell!”
“Apa mungkin kita akan melihat Pahlawan yang baru?!”
“Ya, tinggal kita liat kedepannya aja, bu!”
Bahkan warga lanjut umur juga memuji-muji mereka.
Dan kali ini, di salah satu pulau yang besar yang bernama Postriard, di mana terdapat suatu desa yang bernama Clamista.
“Bang, lo udah liat ini belom?”
“…”
Seorang kakak hanya melihat secarik kertas yang diberikan oleh adiknya.
“GT News? Ada apaan emang?”
“Ada berita baru nih, tentang Petualang.”
“Petualang?”
Kakak itu mengambil kertas yang diberikan oleh adiknya.
“Hmm? Aquilla? Party dari Pahlawan Sylvia Starfell udah mulai aktif lagi?”
“Pahlawan Sylvia? Mending lo baca dulu, bang.”
Mendengar saran adiknya, kakak itu pun mulai membaca GT News yang ada di genggamannya.
“Ini kan…”
“Ya! Ini Party yang dipimpin adiknya Pahlawan Sylvia Starfell, Myllo Olfret!”
“Hmm… Mending lo jelasin aja ke gue siapa anggotanya, terus jelasin juga apa aja pencapaian mereka! Males gue
baca ginian!”
“Cih! Dasar pemales!”
Seru adiknya itu, yang lanjut menjelaskan kepadanya.
“Nih! Liat cewek ini?!”
“Hmm. Siapa namanya? Vast?”
“Ya! Dia lagi nggak bareng Party-nya, karena harus anterin balik High Elf yang diculik balik ke Vamulran
Kingdom!”
“Artinya cewek ini…”
“Bisa jadi High Elf juga. Tapi nggak tau juga sih.”
Balas adiknya.
“Terus yang ini siapa?”
“Dalbert Dalrio! Yang paling ganteng dari semuanya!”
“Dalrio?!”
“Ya! Sesuai yang lo pikirin! Dia ini adiknya Dahlia Dalrio, Saudagar dari Riorio Merchant! Tapi…”
“Tapi…?”
“Tapi banyak rumor buruk tentangnya! Katanya sih dia mantan kepala bandit yang namanya Bloo Brothers of Erviga!”
“Mantan bandit?! Hmph! Nggak gue sangka kayak dia diijinin jadi Petualang!”
“Nggak peduli! Yang penting dia ganteng!”
“D-Dasar aneh!”
Seru kakak itu.
“Terus yang ini?”
“Oh dia? Namanya Garry Geri. Dia bahkan lebih aneh lagi rumornya.”
“Lebih aneh lagi? Emang apaan?”
“Ada yang bilang kalo dia itu dibesarin Monster Intelektual.”
“Hah?! Ada orang yang bisa dibesarin Monster?! Kok bisa jadi Petualang?! Pasti dia itu Striker!”
“Bukan! Justru dia itu Keeper Party ini!”
“Hah?! Dia Keeper?! Padahal kalo emang rumor itu bener, harusnya dia itu jadi Striker yang brutal!”
Kembali seru kakaknya itu.
“Justru yang gue kira Keeper cewek ini!”
“Nah itu dia! Malahan dia itu Frontliner, bang!”
“Hmm…”
“Kok lo nggak kaget, bang?!”
“Nggak begitu kaget, sih. Buktinya aja, 10 tahun yang lalu, Frontliner Nomor Satu itu perempuan yang namanya Lorvah Hardrock.”
Jawab kakak itu dengan tenang kepada adiknya.
“Kalo ini yang namanya Myllo Olfret, kan?”
“Iya, bang! Bahkan sekarang orang-orang manggil dia Myllo The Wind.”
Jelas adiknya itu.
“Hmm, gitu ya? Artinya orang bertopeng yang satu ini…”
“Ya, dia Wakil Kaptennya! Namanya Djinn Dracorion!”
“Dracorion?! Bukannya itu nama pahlawan kuno di Erviga?!”
“Ya. Bahkan yang ngasih nama itu Raja Glennhard.”
“Rajanya?! Gila kali, ya?! Berani banget dia ngasih nama pahlwan terkenal ke Petualang doang!”
“Ya mereka kan udah nyelamatin negara itu, bang! Jadi wajar aja!”
“Iya, sih. Tapi kenapa dia pake topeng, ya?”
“Nah, itu dia bang. Dia itu paling misterius. Nggak ada yang tau identitas asli dia siapa. Bahkan nggak ada yang tau kalo Djinn itu nama asli atau bukan.”
“Hmm… Menarik.”
Balas kakak itu kepada adiknya.
Melihat kakaknya itu, adik itu pun menyadari sesuatu dari kakaknya.
“Keliatannya lo antusias banget denger cerita gue, bang.”
“A-Antusias?! Maksud lo apaan?!”
“Nggak usah ditutup-tutupin deh, bang! Keliatan banget mereka menarik di mata lo! Ya, kan?!”
Goda adiknya itu kepada kakaknya.
“A…Apaan sih, Dre—”
“Lo pasti kangen jadi Petualang kan, bang?”
“…”
Kakak itu hanya terdiam ketika mendengar pertanyaan adiknya.
“Diem, Dreschya! Nggak usah lo bahas-bahas masa lalu lagi!”
“…”
Seorang adik yang bernama Dreschya itu hanya terdiam ketika mendengar teguran dari kakaknya yang bernama Berius.
“Masa lalu cuma masa lalu. Kalo emang gue nggak dibutuhin lagi sama anggota gue, buat apa gue masih harus hidup sebagai Petualang? Tambah lagi, lo liat ini kan?”
“…”
Dreschya hanya tertegun ketika melihat lengan palsu Berius.
“Abang, maafin gue—”
“Nggak perlu minta maaf.”
“…”
Dreschya terdiam karena merasa bersalah setelah membawa ingatan buruk bagi Berius. Namun, seperti yang telah Berius katakan. Ia telah melupakan masa lalunya dan nyaman menjalani hidupnya sekarang.
“*Tap…”
Ia mengelus kepala Dreschya.
“Nggak perlu ngerasa bersalah, Dreschya. Sekarang kita ini Pemburu. Kita kerja bukan untuk diri sendiri, tapi untuk desa kita, Clamista. Artinya—"
“Kita ini lebih dari Petualang. Ya, lo udah sering bilang itu, bang.”
“Hm.”
Berius hanya tersenyum ketika mendengar kata-kata dari Dreschya, yang seakan sering mendengar kutipan kakaknya itu.
Setelah berbincang bersama, mereka berdua langsung menyiapkan peralatan berburu mereka masing-masing.
“…raaaaw…”
“Bang, itu—”
“Ya! Kita harus siap-siap!”
Seru Berius, setelah mereka berdua mendengar suatu raungan kencang dari arah laut.
“Siap-siap, Dreschya!”
“Ya, bang—”
““Kraaaaaww!””
Seketika, terlihat lah beberapa monster besar dari laut, yang hendak menyerang mereka.
“Ayo kita berburu Sea Sepent, Dreschya!”
“Siap, bang!”
Mereka pun menyerang beberapa monster laut yang bernama Sea Serpent itu.
“Makan nih!”
“*Boom!”
““Kraaaaaww!””
Dengan senjata api miliknya yang berukuran besar, Dreschya berhasil menembak beberapa Sea Serpent. Tembakan darinya menghasilkan asap yang tebal, yang membuat pengelihatan beberapa Sea Serpent tertutup.
“Bang! Gue udah berhasil tembak mereka, bang!”
“Bagus!”
Seru Berius, sambil terbang ke arah para Sea Serpent itu untuk membunuh mereka semua dengan menggunakan sebuah sepatu dengan teknologi yang asing.
“*Prang!”
““Raaaar!””
Dengan sihirnya, Berius memanjangkan tangan palsunya dengan kencang, hingga membuat beberapa Sea
Serpent terkapar.
““Raaaaar!””
“Cih! Mereka kabur, bang!”
Seru Dreschya, ketika melihat beberapa Sea Serpent masuk ke dalam laut.
“Bang, ayo kita ke—”
“Jangan!”
“Tapi—”
“Biarin mereka kabur! Seenggaknya kita masih bisa dapetin Sea Serpent ini!”
Seru Berius kepada Dreschya, dengan maksud untuk memperingatkannya akan bahaya yang jauh lebih besar
daripada Sea Serpent.
“Denger gue, Dreschya! Sebanyak-banyaknya Sea Serpent yang kita tangkap, pasti mereka nggak akan
berhenti untuk nyerang Clamista! Kecuali kalo para Petualang yang ada di desa kita berhasil serang sarangnya!”
“OK, bang…”
Bersama-sama, mereka memotong dua Sea Serpent yang mereka buru hingga berkeping-keping, lalu memasukkannya ke dalam suatu gerobak yang terikat dengan seekor kuda.
Namun, mereka tidak menyadari bahaya yang akan menimpa mereka.
“*Ngiiihieeekk…”
“Ayo naik, waktunya kita balik ke Clamista.”
“OK, bang—”
“*DHUMMMM…”
““*Brak…””
Seketika, mereka merasakan suatu aura yang sangat besar, yang bahkan membuat Berius, Dreschya, serta kuda mereka jatuh tergeletak.
“A…Aura siapa itu?! A…Apa mungkin itu Domi?!”
Pikir Berius ketika merasakan aura tersebut.
“…”
Berius pun merangkak secara perlahan dengan tubuh gemetar untuk menghampiri adiknya.
“Dre… Dreschya?! Lo nggak apa-apa?!”
“…”
Dreschya tidak meresponnya karena sudah tidak sadar.
“Gue nggak boleh panik. Seenggaknya Dreschya masih bisa bernafas.”
Pikir Berius, sambil memegang denyut di leher adiknya.
“Si-Siapa lo?! Keluar sekarang juga!”
Teriak Berius dengan gemetar kepada pemilik aura itu.
“…”
“Siapa cewek itu?”
Pikir Berius, setelah terlihat seorang wanita dengan kulit pucat dan tatapan kosong menampakkan wajah di
hadapannya.
Sambil terus menatapnya, Berius seketika teringat rumor yang sedang beredar di Clamista.
“Tu-Tunggu! Jangan-jangan cewek ini—”
“Kau. Bersalah.”
“*Shruk…”
“Ukh…”
Seketika, Berius tertusuk oleh suatu energi sihir yang melesat dari jari wanita itu, tepat ke jantungnya.
“*Brak…”
Berius pun tergeletak dan tidak sadar.