
Djinn terpisah dari Aquilla. Setelah ia berusaha untuk bertahan hidup di antara mahluk-mahluk yang berada di
dalam Hidden Dungeon, ia bertemu dengan Kazedori Ayasaki, wanita yang dikenal sebagai rekan dari Melchizedek, Sang Pahlawan Pertama.
Sementara itu, Aquilla sedang berusaha untuk membebaskan diri mereka dari kejaran segala mahluk buas yang hendak menyerang Ryūhime.
“*Tuk, tuk, tuk…”
“Hyaaaat!!!”
“Tuk!”
“*Dor, dor, dor…”
“Hraaaagh!”
“*Prang!”
Bersama-sama dengan Dalbert dan Gia, Myllo terus menyerang segala mahluk buas yang datang di atas Ryūhime.
“*Bwung, bwung, bwung…”
Sementara Machinno menggunakan sihirnya untuk melindungi Ryūhime dari serangan mahluk buas.
“Ih! Mereka kok nggak ada habisnya, sih?!”
“Gue nggak tau, Gia! Tapi sekarang yang bisa kita lakuin cuma lawan mereka aja!”
“Dalbert bener! Seenggaknya ini aja satu-satunya cara untuk bantu Bocil Naga—”
““Umph…!””
““JANGAN MUNTAH!!!””
Teriak Myllo dan Gia kepada Garry dan Dalbert, sambil mereka bersama-sama melindungi Ryūhime.
“Garry! Jangan sampe lo berhenti untuk bantu kita! Khususnya Dalbert!”
Seru Myllo kepada Garry, yang sedang menggunakan sihirnya untuk menambah kekuatan dan stamina bagi
rekan-rekannya, sekaligus menghilangkan mual bagi dirinya sendiri dan Dalbert.
Mereka tidak berhenti menyerang seluruh mahluk buas yang menghampiri mereka.
Hingga akhirnya…
“Chaaaakkk!!!”
““Roaaaarrr!!!””
““Raaaur!!!””
““*Fwup, fwup, fwup…””
…semua mahluk buas yang terdiri dari Griffin, Haneko, dan Hainu, pergi dari hadapan mereka semua.
“Hehe! Sana lo! Jangan ganggu kita lagi!”
Seru Myllo kepada seluruh mahluk tersebut.
“Haaaah…! Akhirnya euy! Aing bisa rebahan sedikit!”
“Ya. Seenggaknya kita udah aman.”
Kata Garry dan Dalbert yang saling bersahut-sahutan.
“M-Machinno, mereka udah nggak ada yang dateng. Udah, lepas aja sihir kamu.”
“…”
Tidak ada respon dari Machinno, yang terus memasangkan sihirnya di antara Tubuh Ryūhime.
Hingga akhirnya, Dalbert mendapati sesuatu yang janggal di antara mereka semua.
“Machinno kok tangannya gemeteran?”
“Iya, aku juga baru sa—”
“Nggak cuma Machinno aja. Coba rasain baik-baik badannya Ryūhime.”
““…””
Bersama-sama, Myllo, Gia, dan Garry, merasakan Tubuh Ryūhime yang saat ini mereka pijak, juga gemetar.
“Bocil Naga, lo kenapa—”
“(A-Apakah kalian tidak merasakannya…?)”
“Hm? Ngerasain apa?”
“(Tadi… terdapat aura yang sangat mencekam… yang bahkan mampu membuat-Ku gemetar…!)”
Jawab Ryūhime kepada Myllo.
“Machinno juga ngerasain aura yang dibilang Ryūhime?”
“…”
“M-Machinno—”
“Hm…”
Gumam Machinno, sambil menganggukkan kepalanya untuk menjawab Gia.
Walaupun mendengar jawaban mereka berdua, keempat anggota Aquilla masih merasa heran.
“Emangnya kalian juga ngerasain aura yang disebut mereka berdua?”
Tanya Gia kepada teman-temannya.
“Gue sih nggak bisa ngerasain apa-apa! Kan Jiwa gue udah nggak aktif! Hehe!”
“Aing ge teu berasa apa-apa, Teh Gia.”
“Gue juga.”
Jawab Myllo, Garry, dan Dalbert.
Sementara mereka berempat masih dalam keadaan bingung, Ryūhime justru teringat akan sesuatu yang dari masa lalunya.
“Sepertinya tidak salah lagi! Aura yang Kurasakan itu benar-benar persis seperti aura yang dipancarkan oleh Shishō, ketika Ia hendak mendominasi seluruh Nue yang mengganggu latihan-Ku bersama-Nya!”
Pikir Ryūhime dengan yakin, bahwa gurunya adalah sosok yang dibalik aura mencekam yang ia rasakan.
“Myllo, jadi kita harus gimana?”
“Hmmm… Gimana, ya?! Kita juga harus pastiin keadaan Djinn yang ada di bawah!”
Jawab Myllo yang sama bingungnya dengan Gia.
“Saran gue sih, kita harus mencar. Ada yang cari Djinn, ada yang lanjutin—”
“(Jika boleh, izinkan Aku mencari Djinn-kun, Saint-kun.)”
“Nyari Djinn sendirian?! Artinya lo nggak bisa bawa kita lagi, dong?!”
“(Ya. Oleh karena itu, Aku meminta izin terlebih dahulu—)”
“Yaudah! Nggak apa-apa!”
Karena jawaban Myllo, seluruh anggota Aquilla turun dari atas punggung Ryūhime, lalu Wind Dragon Princess tersebut merubah wujudnya menjadi Manusia.
“Ryūhime, emangnya kamu tau Djinn ada di mana?”
“Mungkin Aku tidak tahu pasti, Gia-chan. Akan tetapi Shishō mengajarkan kepada-Ku, bahwa Aku harus percaya kepada hembusan angin yang menuntun jalan-Ku, di kala Aku merasa tersesat.”
Jawab Ryūhime kepada Gia.
Namun dari antara mereka semua, Myllo justru mencurigai sesuatu darinya.
“Terus, apa yang ditunjukkin angin lo, Bocil Naga?”
“Aku merasakan… adanya hembusan angin menuju bawah sana, Saint-kun. Oleh karena itu, Aku akan menuju tempat itu.”
Jawab Ryūhime kepada Myllo.
“…”
Myllo hanya terdiam saja ketika mendengar jawaban dari Ryūhime. Karena dirinya yang terdiam, Ryūhime menjadivkhawatir.
“S-Saint-kun—”
“Hehe! Yaudah kalo lo yakin sama jawaban lo! Kalo gitu, gue percayain anggota gue yang paling galak itu ke
“Ya. Terima kasih, Saint-kun.”
Jawab Ryūhime, sebelum pergi menuju arah yang berlawanan dari Aquilla Party.
“*FWUSHHHH!!!”
“Semuanya! Sekarang kita nggak ada Bocil Naga! Kita harus bisa lawan angin ini!”
““Ya!””
Jawab seluruh anggota Aquilla kepada Myllo, sambil mereka berjalan melawan hembusan angin yang sangat keras, yang mampu menghempaskan mereka kapan saja.
Selama dalam perjalanan menghadapi tantangan dari Hidden Dungeon itu, Myllo mendapatkan panggilan.
“Woy, Myllo!”
“…”
Karena mendengar panggilan dari Zegin, Myllo pun memasuki isi pikirannya, sembari berjalan bersama Aquilla untuk menghadapi hembusan angin yang sangat kencang.
“Ada apa, Zegin?! Kangen ya sama gue?! Hihihi!”
“Hah?! Maksud lo apa?! Justru Gue tidur nyenyak karena nggak ada yang ganggu!”
“Haaaaah?! Tidur mulu! Jadi Dewi kok pemales banget, sih?!”
Seru Myllo dengan kesal.
“Suka-suka Gue dong—Eh! Kok jadi bahas gituan sih?! Kan ada yang mau Gue tanya ke lo!”
“Tanya? Tanya apaan?”
“Bocil Naga itu.”
“Hm?”
Gumam Myllo yang merasa heran dengan Zegin.
“Bocil Naga itu, bukannya lo sadar kalo dia bohong?”
Tanya Zegin kepada Myllo.
“Bohong? Kalo gue sih nggak ngerasa dia bohong. Cuma insting gue bilang, kalo dia nutup-nutupin sesuatu.”
“Terus, kenapa nggak lo—”
“Biarin aja! Dia itu temen gue! Gue percaya sama dia!”
Jawab Myllo kepada Zegin, sambil tersenyum lebar.
“Hahaha! Dasar Manusia paling naif di dunia!”
“Hah?! Emangnya kenapa kalo gue naif?!”
“Nggak! Gue nggak ada maksud untuk salahin lo, kok! Justru Gue seneng karena ada orang yang positif banget kayak lo!”
“Hehe! Thanks, partner!”
“Ya!”
Jawab Zegin dengan singkat, sebelum Myllo keluar dari pikirannya dan melanjutkan perjalanannya bersama
Aquilla.
Sementara itu, Ryūhime yang sedang dalam perjalanan untuk mencari Djinn.
Sambil berlari mencari Djinn, ia merasa sedikit bersalah dengan anggota Aquilla.
“Maafkan Aku, Saint-kun! Andai Aku memberitahukanmu, bahwa Aku mendapati adanya aura Shishō yang berasal dari dekat Djinn-kun, mungkin kau tidak akan mengizinkan-Ku untuk mencari rekanmu sendirian! Tidak! Bahkan kau tidak akan membiarkan-Ku sendirian untuk bertemu dengan Shishō!”
Pikir Ryūhime, sambil terus melompat-lompat di atas awan empuk untuk menghampiri Djinn.
“Chaaaakkk!!!”
““Roaaaarrr!!!””
“…”
Dalam wujud yang kasat mata, ia melompat-lompat sambil melewati seekor Griffin yang sedang bertarung dengan Haneko.
“…”
Dalam perjalanannya, ia teringat akan masa lalunya bersama Ayasaki, di mulai dari pertemuan pertamanya.
……………
“Ayasaki-chan.”
“Ryūkōgō-san. Siapakah wanita muda yang ada di sampingmu?”
“Ia adalah anak-Ku yang Kuberi nama Ryūhime. Ia adalah wanita yang akan—Uhuk!”
“*Crat!”
Ryūkōgō, Wind Dragon Empress, ibu dari Ryūhime, seketika batuk berdarah ketika sedang memperkenalkan Ryūhime kepada Ayasaki.
“Ryūkōgō-san! Jangan banyak bergerak! Tubuh-mu sudah tidak—”
“Hahaha…! Bahkan sebelum Hari Penghakiman… Aku tidak selemah ini…”
“…”
“Tetapi… demi generasi baru yang akan datang… Aku rela mengorbankan diri-Ku…”
Bisik Ryūkōgō, dengan terbatah-batah.
“R-Ryūkōgō-san—”
“*Tap…”
Ryūkōgō tiba-tiba menggenggam lengan Ayasaki, di tengah kondisinya yang sudah kritis.
“Ayasaki-chan…”
“…”
“K-Kumohon… agar Engkau mengajari anak-Ku, Ryūhime-chan, agar ia bisa menjadi wanita yang kuat… seperti kita…”
“T-Tetapi—”
“K-Kumohon… Ayasaki-chan…”
“…”
Karena permohonan dari Ryūkōgō, Ayasaki tidak sanggup menolak permintaannya.
Hingga akhirnya, Ryūkōgō menghembuskan nafas terakhirnya.
““…””
Kala itu, semua Wind Dragon yang tersebar di Geoterra, hendak menatap wajah terakhir Sang Permaisuri, sebelum dirinya kembali ke Sirkulasi Roh.
Tetapi di balik sebuah kuil yang menjadi peristirahatannya, Ryūhime bertemu kembali dengan Ayasaki.
“Namamu adalah Ryūhime, benar?”
“B-Benar. Uhmm…?”
“Aku adalah Kazedori Ayasaki. Sebagai permintaan terakhir dari ibumu, aku akan mempersiapkan dirimu sebagai pemimpin dari kaummu. Oleh karena itu…”
“*Tap…”
“…panggil aku sebagai Shishō, Ryūhime-chan.”
Kata Ayasaki, sambil mengusap-usap Ryūhime kecil.
……………
Karena ingatan itu, Ryūhime pun menjadi gelisah.
“Shishō! Aku merindukan-Mu! Kemanakah perginya Engkau?! Apa yang sebenarnya mendasari tindakan-Mu selama 4 tahun ini?!”
Pikirnya sambil mencari Djinn.
Hingga akhirnya…
“Djinn-kun!”
“…”
…Ryūhime menemukan Djinn yang tidak sadarkan diri, tanpa mendapati adanya wanita yang ia rindukan.