Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 101. Brief Arguments



“Ruoaaaar!”


“*Bruk, bruk,


bruk… (suara jatuh terpental)”


“Urgh…”


Sialan, sakit


juga jatoh di dalem mulut Naga!


Keliatannya kita


semua jatoh di depan hutan yang gede banget.


“Humph!”


Mending keluar


dulu aja dari mulutnya—


“Woy!”


Duh, Si Tua itu


la—


“…”


Kenapa dia narik


baju gue?!


“Jawab


pertanyaan gue! Siapa lo sebenernya?!”


“…”


Dia ngancem


gue?!


“Lepas, anjing!”


“*Pruk! (suara


dorongan)”


“!!!”


“Gue udah bilang


kalo gue jelasin! Maksud lo ancem gue?!”


“OK, tergantung


dari jawaban lo apa!”


“*Dhum! (suara tekanan


aura)”


“Kalo jawaban lo


nggak enak didenger, jangan harap lo bisa selamat dari si—”


“*Dhum! (suara


tekanan aura)”


“Kalo lo nggak


terima, gue juga siap untuk bunuh lo, bangsat!”


“!!!”


Dia kira gue


takut kalo dia ngeluarin aura kayak gitu?!


“*Chrk! (suara


cakar keluar)”


Cakar itu


senjata dia, ya?


Kalo gitu, nggak


ada salahnya gue juga siapin kuda-kuda gue!


“Tu…Tunggu!”


““Hm?””


Yssalq udah


berubah jadi Wujud Manusia, yang bentuknya cewek.


Tapi…


“Woy! Lo nggak


apa-apa?! Luka lo dalem banget!”


“Te…Tenang saja.


Luka ini akan sembuh sebentar lagi.”


“…”


Hm…


Luka di perut


dia tiba-tiba ketutup.


“Pria ini


adalah…”


“…”


Duh, gue juga


lupa namanya!


“Lupherius.”


“Baiklah,


Lupherius. Sa…Saya harap anda bisa menahan senjata anda, jika kami jelaskan—”


“Mahluk Fana,


kayak para Petualag tadi, bisa terancam karena Naga kayak lo! Tambah lagi, lo


minta gue tahan senjata gue di depan lo, seorang Naga—”


“Gimana kalo gue


bilang, Naga-Naga ini juga terancam?!”


“Naga-Naga ini


terancam? Apa maksud lo?”


Akhirnya gue


sama Yssalq jelasin ke orang ini kalo Naga-Naga ini ada yang ngontrol.


Makanya itu,


waktu gue ngomong secara telepati sama Yssalq, dia minta tolong ke gue untuk


bebasin Naga-Naga lain yang juga dikontrol di pertempuran tadi pake kekuatan


gue.


“Karena itu, gue


bikin rencana untuk ngumpet di mulut dia, terus gue samber Naga-Naga lain dari


mulutnya.”


“Ya. Karena


idenya yang brilian, di mana ia menyebut bentuk asapku mirip seperti awan


mendung, sehingga aku lebih terlihat seperti Sky Dragon, dibandingkan Smoke


Dragon.”


“…”


Dia diem aja.


Apa gue perlu


siapin kuda-kuda gue—


“Djinn,


sepertinya tidak ada tanda-tanda niat buruk darinya. Ia sepertinya memikirkan


sesuatu.”


Hmm, gitu ya?


“Kalo


dipikir-pikir, jawaban kalian logis.”


“…”


“Kalo emang


semua Kaum Naga di negara ini lagi liar, kenapa mereka selalu bergerak secara


berkelompok?”


“!!!”


Tuh kan!


Gue juga sempet kepikiran


kayak gitu!


Semenjak pergi


dari Riverfall, gue bareng Myllo sama Gia selalu diserang lebih dari satu


Dragonkin!


“Tapi, siapa


orang yang bisa ngontrol bahkan Mahluk Abadi kayak Naga?”


Itu yang gue


juga heran.


“Yssalq, lo


sempet hilang kesadaran, kan?”


“Engkau benar,


Djinn. Setelah mendengar raungan yang sangat kencang dari seorang yang secara


naluri aku anggap sebagai ‘Penguasa’, maka aku merasa seakan-akan


‘diperintahkan’ untuk membantunya.”


Artinya dia juga


ada ya, waktu gue lawan Tarzyn?


“Setelah


Penguasa itu hilang, tanpa sadar aku bergerak secara liar. Namun, aku sempat


sadar dengan apa yang aku lakukan, hingga kesadaranku hilang kembali tanpa


mengetahui ada penguasa yang memerintahkanku.”


Artinya ada yang


bisa perintahin mereka, selain Tarzyn?!


“Kalo gitu, yang


perintahin lo itu beda orang, ya?”


“Ya, kau benar—”


“Tunggu.”


“Hm?”


“Gue bisa rasain


ada yang mau tutup-tutupin sesuatu.”


““…””


“Woy, Dim! Ngaku


lo! Apa yang lo tutup-tutup—”


“NAMA GUE DJINN,


PIKUN!”


Dikira gue lampu dim?!


“Ya. Lo mau coba


nutup-nutupin sesuatu, kan?”


Haaaah… Kayaknya


percuma ngerahasiain ini dari mereka berdua.


Rakhzar, Göhran, sorry ya kalo gue harus


terang-terangan ke mereka.


“Kalian pernah


denger yang namanya Tarzyn?”


“Tarzyn…? Siapa


i—”


“A…Aku pernah


mendengarnya! Nama yang begitu legendaris bagi kami, Kaum Naga, yang dulunya


adalah pemimpin dari leluhur kami!”


Huh, jadi berat


mau ceritain ini.


“Maaf


sebelumnya, Yssalq.”


“Hm?”


“Gue itu orang


yang bunuh Tarzyn, atas permintaannya.”


““!!!””


Akhirnya gue


jelasin ke mereka semua tentang Tarzyn, Dragonewt, Siegfried, sampe ke obrolan


terakhir gue bareng Roh-nya Tarzyn, maupun Shaylia.


“Se…Seperti itu,


ya…?”


“Gila. Nggak


Di mata gue,


Yssalq keliatan nahan nangis, sedangkan Lupherius nahan emosi, waktu mereka


berdua denger cerita gue.


“Jadi…yang ada


di kantong itu…”


“Ark Blade, yang


ada Jiwa Tarzyn.”


“Pa…Pantas saja


ada rasa yang begitu familiar jika berada di dekat Engkau.”


“Kalo gitu,


kenapa lo nggak pernah pake senjata itu?”


“Karena…gue


nggak bisa pake pedang.”


““Hah?””


“Serius! Gue


lebih pede pake tangan kosong


daripada pake senjata!”


Karena kata Pak


Jaya, cowok itu mainnya tangan kosong.


Ya kalo pun


nggak ada senjata, gue juga punya kekuatan super ini, makanya gue nggak pernah


kepikiran pake senjata di dunia ini.


“Djinn. Sekali


lagi, aku ucapkan terima kasih karena—”


“Belom. Masalah


ini belom selesai. Masih ada juga beberapa Kaum Naga yang masih belom bebas.”


“Dia bener,


Ysar. Oh ya, gue minta maaf sebelumnya karena udah nyerang lo tanpa tau cerita


sebenernya.”


“Y…Ya. Akan


tetapi, namaku adalah Yssalq, Lupherius.”


Duh, dasar orang


aneh—


“My…Myllo?!”


Gia udah


bangun?!


“Uhuk! Uhuk!”


“Ke…Kenapa batuk


kamu berda—”


“Gia! Gimana


kondisi Myllo?!”


“Di…Dia keliatan


nggak sehat sama seka—”


“Ah…Djinn…Gia…


Kita menang nggak lawan Naga-Naga i—”


“Diem lo,


goblok!”


““!!!””


Gue udah nggak


bisa tahan emosi ke orang satu ini!


“Kenapa keras


kepala banget sih lo jadi orang?!”


“Djinn! Jangan—”


“Gue udah bilang


kan?! Lo masih punya anggota! Kenapa harus nekat, goblok?!”


“Hehe… Sorry, Djinn… Gue nggak bisa diem


aja…kalo anggota gue—”


“Liat sekarang!


Lo udah keliatan kayak mayat hidup karena nekat! Kenapa nggak sembuhin diri


dulu—”


“Ma…Maaf, Djinn.


Bisakah Engkau izinkan aku untuk menyembuhkannya?”


“…”


Akhirnya gue


biarin Yssalq untuk sembuhin Myllo.


Tapi…


“Huff… Sepertinya sihirku tidak cukup


untuk menyembuhkannya. Apa penyebab dirinya terluka begitu parah seperti ini?”


“Aku nggak tau


pasti, tapi keliatannya karena dia lawan Tarzyn. Selain itu, mungkin karena


pake kekuatan Dewi Zegin secara berlebihan.”


“De…Dewi


Zegin?!”


“…”


Keliatannya


Yssalq ngeliatin sesuatu di badan Myllo.


“Pa…Pantas saja!


Kau merelakan energi kehidupanmu dengan memakai kekuatan Dewi?!”


“Hehe… Selama


gue bisa berdiri di depan temen-temen gue…gue bakal ngerelain bahkan nyawa gu—”


“Brengsek!


Kenapa lo—”


“*Tap… (suara


menepuk pundak)”


“…”


Lupherius nahan


pundak gue, sambil geleng-geleng kepala.


“Oh ya, Djinn…


Kita ada di mana…?”


“…”


Gue nggak tau


kenapa, tapi bawaannya gue kesel ba—


“Cepet jelasin


ke dia.”


“Hah?! Kok lo


ngatur—”


“Lo cuma diminta


penjelasan aja, kan? Bukan disuruh jilat kaki dia, kan? Lagian dia kan temen lo


juga.”


Lupherius ada


benernya.


Entah kenapa,


semenjak denger kata-kata dia, gue jadi lebih tenang.


Bahkan kalo


dipikir-pikir lagi, gue juga nggak tau setan macem apa yang rasukin gue sampe


sekesel itu.


Gue jelasin ke


Myllo sama Gia tentang kondisi sekarang.


“Te…Ternyata


mereka ada yang kontrol ya.”


“Hehe… Bagus,


Djinn… Lo udah bebasin…semuanya.”


Dia senyum, di


tengah kondisinya yang bener-bener sekarat.


“Oooo…ke!


Humph!”


“My…Myllo!


Pelan-pelan!”


“Hehe… Thanks Djinn…Gia…”


Bahkan berdiri


pun harus kita berdua pegangin.


“Ayo…kita ke


hutan itu…”


“Kenapa kita ke


hutan itu, Myllo?”


Hmm…


Hutan itu lebat.


Lumayan bisa sembunyi dari ‘Penguasa’ yang Yssalq bilang.


Tambah lagi,


kita nggak tau siapa Penguasa itu.


“Untuk sembunyi,


kan?”


“Hah…?


Sembunyi…?”


Oh iya, dia kan


dongo ya.


Mana mungkin


kepikiran kayak gitu.


“Djinn, aku bisa


membawa Myllo dengan Wujud—”


“Jangan.”


“Mengapa—”


“Karena kita


nggak tau siapa yang bisa pantau kita. Mungkin itu yang dimaksud sembunyi. Ya


kan, Jing?”


“Woy, nama gue


Djinn!”


Duh, makin


banyak orang aneh di sekitar gue.


Ya, seenggaknya


otak dia masih jalan lah karena ngerti maksud gue.


“Luphe…Yssalq…kalian


ikut kan…?”


“Aku tidak tahu


harus ke mana. Maka untuk sementara, aku bersedia untuk ikut kalian.”


“Gue juga,


Mycco. Mending gue ikutin kalian dulu, sambil pantau keadaan.”


“Hah…? Mycco…?”


“Myllo


maksudnya. Dia sama dongonya sama lo.”


““Hah?!””


Ya, seenggaknya


Si Dongo ini ada temennya, lah.


Akhirnya kita


sama-sama jalan ke dalem hutan, yang bahkan kita nggak tau isinya apa aja.