
Aliansi Gazomatron sudah mulai goyah.
“Tolonggg! Kita nggak mau lagi jadi Ghoul!”
““Aaaargh!””
““Graaaw!””
““Griiiww!””
“A-A-Anying… Aing teh… udah capek pisan…!”
Garry sudah sangat lelah. Ia tidak bisa menarik Ghoul-Trigger yang kembali melekat di Tubuh warga negara Gazomatron.
“Y-Yang ada di sini wae teh nggak bisa aing sembuhkeun! Gimana cara aing bisa sembuhkeun satu negara?!”
Serunya, sambil menjaga warga dari Ghoul dan Ghoul-Trigger yang hendak menghampiri mereka, di mana masih ada warga yang terluka dan belum siuman karena serangan dari Children of Purgatory.
“*Dhuk!”
“Urgh…”
Di Voxhaben Point, Sickus menendang Dalbert hingga ia berputar ke belakang.
“*Crat, crat, crat…”
Kondisi Dalbert saat ini semakin kritis. Mulai rasa demam dan mual yang ia rasakan, darah yang menetes dari mata, hidung, mulut, dan telinganya, serta tubuh yang lemas dan sulit digerakkan.
“Hm?! Mana dia orang yang daritadi bikin gue marah?!”
“*Dhuk!”
“Haaah?! Mana dia orangnya?! Giliran gue siap untuk dibuat emosi, orangnya malah pergi!”
Seru Sickus, yang berlagak seakan ia mencari Dalbert yang ia tendang.
“…”
Ia menarik rambut Dalbert yang tidak berdaya.
“Denger gue baik-baik ya, Dalbert Dalrio…!”
“…”
“Kalo lo sekuat Kapten atau Wakil Kapten lo, mungkin lo pantes bikin gue emosi! Tapi inget, kalo lo itu bukan siapa-siapa! Bahkan ikatan bandit yang lo bikin di negara lo itu bisa maju karena anggota lo! Bukan karena lo!”
“*Dhuk!”
Bisik Sickus, yang lalu menendangnya kembali.
“D-D-Dasar sialan… Lo kira… gue nyerah gitu aja…?”
“…”
Sickus tidak memperdulikannya, sembari menatap…
““*Griiiwww…””
…beberapa Ghoul-Trigger yang ada di belakang Dalbert.
“Cih… Kenapa ada—”
“Hmph! Buat apa juga gue pikirin orang yang udah mau mati?”
“W-W-Woy, Acolyte! Lo mau kema—”
“Kalo lo masih ngerasa kuat untuk lawan gue, coba aja lawan semua Ghoul-Trigger yang ada di belakang lo!”
Balas Sickus, yang berjalan meninggalkan Dalbert yang hendak dimakan oleh beberapa Ghoul-Trigger.
“*Haurrp…”
“Aaaargh! Da-Dasar monster sialan! G-Gue nggak mau… jadi Ghoul…!”
Seru Dalbert, setelah seekor Ghoul-Trigger menggigitnya yang sudah sangat kritis.
Selain itu, di Duskmere Point, di mana Ganon telah membunuh Lephta.
“Graaaghaghagha! Liat! Gue ini Acolyte! Kekuatan Iblis yang gue punya ini bukan sekedar kekuatan rendahan
kayak kekuatan kalian! Sadar diri sama lawan kalian!”
Seru Ganon kepada Gia dan rekan-rekannya.
“L-Lephta! Bangun! Lo nggak akan mati begitu aja, kan?!”
“…”
Tidak ada jawaban dari Lephta, walaupun Berius berusaha menyembuhkannya sekuat mungkin.
“Ayo!”
“*Bwung! Bwung! Bwung!”
“Keluar kalian dari penghadang ini! Gue nggak akan biarin kalian semua hidup!”
Seru Ganon, sambil memukul sihir ciptaan Machinno yang perlahan akan hancur.
Sedangkan Gia…
“Hiks! Hiks! Hiks!”
…menangis dengan rasa takut, khawatir, dan putus asa atas kelemahannya.
“L-Lagi-lagi… aku biarin ada yang mati! Lagi-lagi… aku nggak bisa jaga satu orang pun! Aku ini gagal sebagai
Frontliner! Aku ini gagal jadi Petua—”
“Gia…”
“…”
Gia mendengar panggilan Machinno, namun ia tetap menutup wajahnya karena merasa malu.
“Machinno…”
“…”
“…minta tolong.”
“M-Maaf Machinno, aku—”
“Machinno… butuh Gia!”
Teriak Machinno yang sudah terlihat kelelahan.
“*Chrang…”
Hingga akhirnya sihir yang ia gunakan berhasil dihancurkan oleh Ganon.
“*Bruk…”
Machinno jatuh tidak berdaya karena lelah menggunakan kekuatan sihirnya.
“Haaaah… Kecewa gue! Tiba-tiba udah selesai karena nggak ada perlawanan! Kalo gitu, mending gue bunuh aja kalian semua—”
“*Swung…”
Gia mengayunkan World Quaker yang dihindari oleh Ganon.
“Dasar ******!”
“*VWUMM!!!”
“Kalo lemah nggak usah banyak gaya!”
“*Swush…”
Ganon memukulnya dengan kepalan tangan yang diselimuti api hitam. Pukulannya sangat keras, hingga Gia terlontar jauh dan menabrak bangunan-bangunan lainnya.
“Gia—”
“*Krrtttt…”
Ganon langsung menggenggam keras tubuh Machinno yang mungil dan meremukkannya dengan sekuat tenaga.
“JANGAN APA-APAIN DIAAA!!!”
Teriak Gia yang berlari ke arah Ganon untuk menyelamatkan Machinno.
Namun…
“*BHUK!!!”
…dengan mudahnya Ganon memukulnya ke tanah dengan sangat keras.
“*Krrrt…”
Ganon pun juga memegang kepala Gia, dengan maksud menunjukkan Machinno yang sebentar lagi akan mati. Tetapi, ada sesuatu yang tidak ia duga.
“Cih! Bahkan udah mau gue bunuh pun, lo masih berani pake penghadang aneh lo, ya?!”
Tanya Ganon kepada Machinno, yang melapisi tubuh mungilnya menggunakan penghadang ciptaannya.
“Nggak apa-apa juga, sih. Yang penting, lo harus perhatiin Si Mungil satu ini mati, ******!”
“Keuk!”
“*Tap, tap, tap…”
Gia sangat putus asa untuk melepaskan genggaman Ganon.
Di Brichaudry Point.
“*BWUSH!!!”
“Urgh… M-Mengapa Tubuh-ku sangat sakit?! Mereka yang kita serang saja tidak terluka sama sekali! Mengapa kita yang bahkan tidak mereka sentuh justru mengalami luka yang sangat besar?!”
“…”
Delolliah dan Jennania masih belum bisa menghancurkan satu pun Undead Dragon. Jennania yang terus menyerang jasad Naga tersebut merasa kesal karena serangannya gagal. Namun ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Kakak Delolliah! Bagaimana kita…”
“…”
Jennania menyaksikan Delolliah yang memegang Gazo Stone, atau yang mereka kenal dengan Serpent-Heart.
“*Phak!”
Ia menampar kakaknya yang ia rasa bertindak kelewatan.
“Apa yang kau lakukan, Kakak Delolliah?! Mengapa engkau memegang Serpent-Heart?!”
“A-Aku mendapatkannya di—”
“Apakah kau benar-benar ingin menjadi Sea Serpent, seperti Kaum Siren Pria ribuan tahun yang lalu?! Kau sama saja merelakan akal sehatmu, kakak! Janganlah—”
“*Phuk”
“!!!”
Jennania terkejut ketika kakaknya tersebut memeluknya.
“Kau benar, adikku. Menjadi Sea Serpent sama saja dengan merelakan akal sehatku.”
“J-J-Jika kau merasa seperti itu… bukankah kau seharusnya tidak—”
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan apa yang telah lahir di dunia ini hancur karena mereka! Oleh karena itu…”
“*Bruk…”
“!!!”
“…sebagai mahluk yang kuno, aku rela menyerahkan nyawaku dan menjadi monster, demi keberlangsungan kehidupan di era saat ini!”
Jelas Delolliah, yang diam-diam menuliskan Sajak di punggung adiknya ketika ia memeluknya, agar adiknya tersebut tidak bisa bergerak dan terjatuh.
Teriak Jennania yang ditinggalkan oleh Delolliah.
Di Snellsham Point.
““Huff… Huff… Huff…””
“T-T-Ternyata sisa kita berdua doang ya, Styx…?”
“Y-Ya… Lo bener, Myllo…”
Myllo dan Styx yang berusaha menghadang seluruh Ghoul dan anggota Children of Purgatory, kini juga terpojokkan.
Berawal dari adanya bantuan dari pasukan unit Gazobot, kini mereka seperti ditinggalkan oleh pasukan unit tersebut, setelah Ghoul-Trigger berhasil melahap seluruh unit dan para pengendaranya.
Kini, hanya mereka berdua yang tersisa untuk menjaga warga Gazomatron yang berlindung di titik kumpul
evakuasi.
“*Fwussshhh…”
“Kekuatan Zegin juga udah mau abis, ya?”
“M-Mau abis?! Jadi kita harus gimana dong?!”
Tanya Styx dengan gelisah.
Myllo pun menjawab.
“Kita lakuin aja apa yang kita bisa!”
Namun yang ada di dalam isi pikirannya…
“Mau nggak mau… gue harus pakai sisa kekuatan Zegin untuk bunuh semua Ghoul!”
……………
Terakhir, di puncak Mount Gazo.
“Huff, huff, huff…”
Djinn kembali hilang kendali atas kekuatannya. Karena tanpa sadar ia melihat membawa Jarvanaag Mistyx kembali ke masa lalunya, bersama dengan dirinya.
Oleh karena itu, ia mulai merasakan kesadarannya yang akan menghilang, serta kekuatannya yang semakin sulit dikendalikan.
Namun tanpa ia duga, ia mampu mendengar semua seruan dari rekan-rekannya.
“Y-Yang ada di sini wae teh nggak bisa aing sembuhkeun! Gimana cara aing bisa sembuhkeun satu negara?!”
“Da-Dasar monster sialan! G-Gue nggak mau… jadi Ghoul…!”
“Aku ini gagal sebagai Frontliner!”
“KAKAK DELOLLIAAAAHHH!!! JANGAN KORBANKAN DIRIMUUU MENJADI SEA SERPENT!!!”
“Mau nggak mau… gue harus pakai sisa kekuatan Zegin untuk bunuh semua Ghoul!”
Mendengar suara Garry, Dalbert, Gia, Jennania, dan Myllo di dalam kepalanya, Djinn mulai meyakini sesuatu.
“S-Suara mereka yang gue denger tadi… I-Itu bukan suara masa lalu atau masa depan! Itu suara mereka yang seka—”
“*BHUK!!!”
“…”
Djinn yang sedang berpikir terpaksa harus jatuh terguling-guling karena Jarvanaag yang memukulnya dengan sangat keras.
“…”
Ia masih sanggup membuka kedua matanya, walaupun menerima pukulan yang sangat keras. Karena hal tersebut, Jarvanaag menjadi semakin marah.
“Ternyata kau masih berani membuka matamu, Djinn Dracorion?!”
“*BHUK!!!”
“Untuk apa kau masih hidup?!”
“*BHUK!!!”
“Tidak ada harapan lagi bagimu, apalagi untuk kerabatmu yang berada di negara itu!”
“*BHUK!!!”
“Tidak ada bantuan yang datang bagimu! Kau juga tidak akan kubiarkan membantu mereka semua! Pada akhirnya…”
“*BHUK!!!”
“KAU AKAN MATI SENDIRIAN!!!”
Jarvanaag terus berbicara sambil memukul Djinn. Ia berniat untuk membuat dirinya menjadi putus asa dan rela untuk mati terbunuh.
Namun, ia tidak menyadari bahwa kata-katanya justru mengingatkan Djinn akan seseorang.
“Anda… tidak sendirian…! Saya yakin… ada banyak orang… yang ingin… membantu anda…! Begitu juga…
sebaliknya…! Namun yang pasti…”
“…”
“Jangan… berhenti… berharap…!”
“…”
Djinn teringat akan kata-kata dari seorang pria yang ia temukan sebelum bertemu dengan Jarvanaag.
Di tengah kondisinya yang hampir hilang kesadaran, ia hanya bisa memikirkan keluhan dari rekan-rekan yang dengar sebelumnya.
“…”
Jarvanaag hanya memperhatikannya yang terlihat seperti pria yang akan kehilangan nyawanya.
“Baguslah. Janganlah bergerak. Lebih baik anda mati saja, sambil menunggu—”
“Jangan… berhenti… berharap…”
““!!!””
Sementara di Gazomatron, Myllo, Gia, Garry, Dalbert, dan Jennania seketika mendengar Djinn yang seakan berbisik di dalam pikiran mereka.
“S-Suara ini…”
“Djinn…?’
“K-Kenapa aing denger suara Djinn…?”
“Dj-Djinn…”
“…”
Sahut Jennania, Dalbert, Garry, dan Gia. Sementara Myllo hanya tersenyum.
“Hey, Petualang. Apa maksudmu jangan berhenti berharap?”
Tanya Jarvanaag yang hendak menyerangnya kembali, walaupun Djinn tidak memperdulikannya.
“A-A-Andai… gue bisa bantu kalian… untuk selesain… masalaha… yang lagi… kalian hadapin…”
““…””
Mereka berlima kembali mendengar bisikan Djinn, sementara Djinn…
“*BRUK!!!”
…menerima siksaan dari Jarvanaag, yang membanting kepala Djinn.
“*BRUK, BRUK, BRUK…”
Bantingan keras tersebut ia lakukan selama berkali-kali dan tanpa henti.
Namun, sebuah kejutan menghentikan aksi brutalnya.
““*JGRUMMM!!!””
“!!!”
Jarvanaag dikejutkan dengan suara beberapa petir yang menderu keras dari arah Gazomatron.
Sementara itu, di Gazomatron.
“*Chrrrkkchrrkk…”
“K-Kenapa aku tiba-tiba disambar petir?! Tapi kok… nggak sakit, ya?!”
Tanya Gia dengan penasaran, tanpa menyadari bahwa ia telah bebas dari genggaman Ganon. Ia juga tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda darinya.
“*Chrrrkkchrrkk…”
““Griiiwww!!!””
“A-Ada apa ini?! Kenapa Ghoul-Trigger itu pada lari dari gue?! Tunggu! Yang lebih penting, kenapa tiba-tiba badan gue udah sembuh?!”
Pikir Dalbert, sambil memperhatikan dirinya dan beberapa Ghoul-Trigger yagn berlari darinya.
“*Chrrrkkchrrkk…”
“Et…? EEEETT?!?! KOK MANA AING TIBA-TIBA PENUH, ANYING?!?!”
Teriak Garry dengan terkejut dan panik, karena merasakan ada yang berbeda darinya.
“*Chrrrkkchrrkk…”
“A-Apa yang terjadi…? Mengapa… aku merasakan kekuatan yang sangat dahsyat yang mengalir di Tubuh dan Jiwa-ku?!”
Tanya Jennania yang terkejut karena menerima kekuatan misterius.
Sedangkan Myllo…
“Ahahaha!!! Akhirnya lo bisa pakai kekuatan baru lo, ya?! Hehe! Dasar bocah sialan!”
…hanya tertawa, karena mengetahui asal kekuatan baru yang ia terima.
“M-M-Myllo… Kok badan lo ada petirnya…?”
“Hehe! Pastinya lo tau dong ini dari siapa?!”
Tanya Myllo dengan senang, sebelum mengalahkan seluruh gelombang serangan yang akan dihadapinya.
Kembali ke Gazo Mount, di mana Djinn hampir kehilangan kesadarannya.
“Sudah tidak sadar, kah? Cih! Dasar keras kepala! Mengapa kau menolak kematian sekeras itu?! Semoga saja kau tidak mengganggu ritualku, Petualang!”
Seru Jarvanaag yang kesal dan hendak melanjutkan ritualnya.
“…”
Djinn sudah hampir tidak sadarkan diri.
Di tengah kesadarannya yang akan hilang, tiba-tiba ia kembali mendengar suara yang sama, yang ia dengar
sebelumnya.
“(Izinkan Aku…)”
“…”
Djinn yang sudah hampir tidak sadarkan diri pun menjawab dengan spontan.
“Ijin… diterima…”
“(…)”
Tidak ada jawaban dari suara tersebut.
Sambil terlelap karena telah terkalahkan oleh Jarvanaag, Djinn hanya bisa berharap.
“Semoga… semuanya… baik-baik aja…”