Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 310. Trapped and Threatened



Sialan! Ternyata kita diem-diem dijebak!


Pantes aja mereka nggak ngomong apa-apa, waktu kita tanya-tanya ke mereka!


Bahkan Garry hampir mau ditusuk salah satu warga!


Cuma karena deskripsi di lembaran Quest ini, kita dikira komplotan yang culik warga desa ini!


Terus gimana ya cara keluar dari Jamur Raksasa ini?!


“…”


Apa gue harus pake sihir gue?!


Nggak! Kayaknya itu bukan solusinya!


Ada yang aneh dari Jamur Raksasa ini! Kalo gue gegabah, situasinya bisa jadi lebih kacau!


Daripada itu, mending gue pikirin dulu deh keadaan temen-temen gue!


“Ger! Gimana keadaan mereka semua?!”


“Aneh, euy…”


“Aneh?”


“Kenapa atuh Mana aing jadi lebih sedikit?!”


“Maksud lo?!”


“Aing teh coba sembuhkeun Teh Gia heula, tapi bukannya makin sembuh, malah Mana aing yang makin sedikit!”


Cih! Kok bisa begitu ya—


“Diserap.”


“M-Maksud sia teh apa, Machinno?!”


“Mana Garry… diserap Kinokino.”


Hah…? Kinokino…?


Maksudnya Jamur Raksasa ini…?


“Et! Kok bisa?! Teu masuk akal pi—”


“Mungkin aja bisa, Ger! Lagian jamur-jamur di tempat ini juga baru kita temuin pertama kali! Bisa jadi racun-racun yang dikeluarin jamur-jamur ini juga pake Mana!”


Cuma itu aja yang bisa gue simpulin dari Jamur Raksasa ini.


Terus gimana cara kita keluar dari tempat ini?!


“…”


Hm?


Ngapain Machinno di ujung ruangan ini?


Jangan bilang…


“No! Lo masih laper?!”


“…”


“Woy, Machinno—”


“Kinokino… takut dengan seseorang.”


Jamur Raksasa ini takut sama siapa—


“Apa mereka sudah ditangkap?!”


Hm?! Suara siapa tuh yang ada di luar jamur ini?! Kok suaranya kayak bocil—


“Sudah, Kepala Desa! Mereka ada di dalam sana!”


Kepala Desa?!


Jadi suara bocil itu tuh suaranya Kades di sini…?


“Woy, yang ada di luar sana! Cepet jawab pertanyaan gue!”


“Hm? Kedengerannya salah satu dari mereka masih bernyawa—”


“Apa-apaan maksudnya ini?! Kalian mau tangkep kita?!”


“Oh iya, ternyata masih ada suara. Untung deh mereka belum mati.”


Cih! Mereka nggak denger gue atau mau diemin gue?!


“*Bruk, bruk, bruk!”


“Jawab gue, anak-anak anjing! Jangan pura-pura budek, deh!”


Cih! Bahkan pukul jamur ini bikin tangan gue berdarah?!


“Kita denger, kok. Cuma kita nggak mau peduli aja!”


Yang jawab gue suara bocil! Berarti bocil itu emang beneran Kades di sini!


“Pak Kepala Desa, kalo bapak jawab pertanyaannya, artinya bapak peduliin orang itu, dong?”


“Ah ya, bener juga ya—”


“Woy, anak anjing! Jawab pertanyaan gue!”


Brengsek! Berani banget mereka ngobrol santai kayak gitu!


“Kenapa kalian tangkep kita berenam?! Kalian pikir kita ini penculik warga lokal desa ini?!”


“Hm? Tuh tau jawabannya—”


“Gue sama temen-temen gue baru aja sampe di desa ini, anjing! Jangan samain kita sama deskripsi di lembaran Quest ini!”


“Hah? Baru sampe desa ini?! Anda mau bohong pake cara yang sama?!”


Apa dia bilang?! Bohong pake cara yang sama?!


Artinya penculik yang dideskripsiin di sini tuh juga ngomong kayak gitu!


“Saya nggak akan biarin kalian mati, sebelum jawab pertanyaan saya!”


Pasti pertanyaannya itu—


“Di mana warga desa yang kalian culik?! Cepet jawab!”


Tuh, kan! Pasti pertanyaannya nggak jauh-jauh dari situ!


“Mana gue tau! Gue aja baru tau ada kasus kayak gitu!”


“Jawab jujur aja susah banget, sih?!”


“Gue jawab jujur, anjing!”


“Anjing ini, anjing itu! Anda pikir saya ngegonggong kayak anda?!”


“Ini gue baru aja ngegonggong! Belom aja gue terkam lo, anjing!”


“…”


Hmph! Gue gituin langsung diem lo!


“Haaaahhh…! Keras kepala banget ya anda. Yaudah deh kalo gitu. Mending gini aja!”


“…”


“Kalian udah dijelasin Purong tentang penawar yang saya punya, kan?!”


“Terus? Apa maksud lo?”


“Kalo anda kasih tau tentang warga desa yang kalian culik, saya kasih penawar ini ke anda!”


Dasar anjing nih orang! Kenapa keras kepala bang—


“Daripada itu… mending gini aja…”


““!!!””


Eh?! Myllo tiba-tiba bangun?!


“Myllo! Sia teh—”


Hah?!


“Mil! Maksud lo tuh…”


“Ya. Lo harus menang… lawan Kepala Desa itu—”


“Dongo! Lo kira dia bisa berantem—”


“Denger gue, Djinn…!”


“…”


“Orang itu… mau coba ancam kita…!”


“Terus?”


“Kalo dia berani ancam kita… artinya dia juga harus berani… kita ancam balik…! Paham…?!”


Paham sih paham! Tapi belom tentu Kades itu petarung kayak—


“Fufufu… Keliatannya menarik!”


Hah?! Menarik?!


“Eh! Serius mereka nantangin Pak Kepala Desa?!”


“Gila! Berani banget!”


“Kirain mereka pecundang aja yang beraninya nyulik diem-diem! Nggak taunya mereka punya nyali juga!”


“Akhirnya mereka tunjukkin taring mereka!”


Emangnya ada apa sama Kades itu?! Kenapa orang-orang yang ada dari balik jamur ini kedengerannya setakut itu sama Kades itu?!


Suaranya aja kayak anak kecil! Pasti Kades itu badannya seukuran anak kecil aja, kan?!


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“*Crat!”


“Si-Sialan… ternyata darah dari batuk gue… sampe warnanya segelap ini…?”


Darah macem apa tuh?!


Kok warnya hitem kayak gitu?!


“Myllo! Sia teh harus istirahat dulu! Teu boleh kebanyakan gerak!”


“Maaf Garry… Gue… cuma penasaran aja sama suara imut… dari Kepala Desa itu… Hehe…”


A-Alesan macem apa i—


“Haaaah?! Dari antara mereka ada yang berani ngomong begitu?!”


“Gawat, gawat, gawat! Bikin Pak Kepala Desa emosi aja!”


“Pak Kepala Desa! Sabar ya! Jangan sampe bapak marah-marah di si—”


“KURANG AJAAAAAAA………”


““!!!””


“……AAAAAARRRR!!!!!”


Buset! Udah kenceng, panjang juga suaranya!


Tapi kok…


““Pfffttt… Ahahaha!””


…suaranya lucu banget?!


“WADUH!!! MEREKA MASIH BERANI NGETAWAIN PAK KEPALA DESA!!!”


Hah?! Kenapa mereka malah takut?! Emangnya mereka nggak ngerasa lucu ya sama suara tadi?!


“Hey, kalian! Inget ini ya!”


“Inget apa—”


“Di puncak malam! Serahin salah satu dari antara kalian untuk saya hajar! Paham?!”


““…””


Myllo, Garry, sama Machinno, langsung ngeliatin gue.


“Yaudah! Nanti jam 12 malem, gue hajar lo!”


“Hah? Jam 12 malem? Apaan tuh?”


Ups! Gue lupa lagi kalo di dunia ini nggak ada jam!


Dasar dunia aneh! Apa harus gue buatin jam kali ya?!


“Maksud gue puncak malem! Gue hajar lo!”


“Bagus! Tetap jaga sikap anda, sebelum saya hancurin ekspektasi anda!”


““…””


Kedengerannya mereka udah pergi.


Artinya gue harus siap-siap untuk lawan orang itu, tanpa kekuatan gue.


Eh, tapi ngomong-ngomong, udah jam berapa ya sekarang?


Di dalem sini nggak bisa liat apa-apa, makanya gue nggak tau sekarang jam berapa. Bahkan sinar matahari atau bulan nggak masuk sini.


“Uhuk!”


“Et! Istirahat heula, Myllo!”


“Ya…! Maafin gue yang nggak bisa apa-apa… waktu anggota gue lagi terdesak… kayak gini…!”


“Yaudah atuh, Myllo! Serahkeun wae semua ke Djinn!”


“Ya…! Lo bener… Garry…!”


“Nah! Sekarang teh sia istirahat wae.”


“Ya.”


“…”


Gue daritadi cuma merhatiin obrolan mereka aja, karena gue ngeliat sesuatu yang aneh dari Myllo, sebelum dia tidur lagi.


“Ger. Lo tadi perhatiin badannya Myllo, nggak? Kok kesannya… kedap-kedip gitu ya…?”


“Aing teh udah tau dari sebelum aing coba sembuhkeun mereka tiga, Djinn.”


Berarti cahaya kedap-kedip di badannya itu udah daritadi?!


“Waktu aing periksakeun mereka tiga, cuma Myllo wae yang pelan-pelan racunnya hilang. Beda pisan sama Teh Gia atau Dalbert, yang racunnya justru nyebar ke semua badannya.”


“Serius?! Mungkin lo berhasil sembuhin—”


“Buat aing, teteh geulis teh di atas segala prioritas. Makanya aing sembuhkeun Teh Gia heula. Myllo sama Dalbert belum aing sentuh sama sekali.”


Kok bisa ya?!


Apa mungkin itu karena ada Zegin di dalemnya?!


“…”


Nggak. Gue rasa nggak mungkin.


Kalo dia bisa sembuhin diri sendiri, seharusnya dia nggak separah itu sakitnya, waktu kita bawa dia ke hutan yang jadi rumah Garry sama Onro[1]!


Apa mungkin karena ulah Ghibr yang eksperimenin dia?


Nggak. Bisa jadi, Ghibr ngincer dia karena ada sesuatu yang unik dari dia.


Siapa sebenernya orang ini?


Kalo gue tanya ke dia langsung, mungkin dia sendiri juga nggak akan tau jawabannya.


_______________


[1]Ogre yang hidup bersama Garry di Dungeon of Beasts, di mana Djinn sebelumnya menumpang di rumahnya (Chapter 103).