
Leonard menaruh dendam kepada Djinn, yang membuat kekacauan besar di Chaoseum.
“*BHUK!!! BHUK!!! BHUK!!!”
Pertarungan mereka telah berlangsung.
“*Brrr…! Brrr…! Brrr…!”
Bahkan pertarungan mereka menggetarkan seisi Chaoseum, hingga terasa ke Lapisan Bawah terdalam.
“Et! Eta teh ada apa di atas sana?!”
Seru Garry, yang tidak mengetahui pertarungan antara Djinn dan Leonard.
Sementara Myllo…
“Oi! Udah belom—”
“Tenanglah… sedikit…! Aku belum selesai…!”
…sedang menerima kekuatan dari Zophiel, ibunya.
Hal tersebut bukan tanpa alasan.
Semua terjadi beberapa saat yang lalu, ketika Leonard pergi meninggalkan Zophiel, yang disaksikan oleh Myllo dan
Garry.
……………
“*Bruk…”
“Et! Pelan-pelan, anying!”
Saat itu Myllo menghampiri Zophiel yang terluka karena ulah Leonard. Sambil menggendong Garry, ia mendarat
di hadapan Zophiel.
Sementara Zophiel…
“Lagi-lagi… aku ditinggalkan oleh Tuan-ku…”
…merasa sakit hati yang mendalam, karena sudah dianggap tidak berguna oleh Leonard.
“Oi! Zophiel!”
“…”
Zophiel menatap Myllo dan Garry, yang menghampirinya.
Akan tetapi kedatangan mereka tidak dipedulikan olehnya.
Ia mengingat kembali akan semua yang telah ia alami selama hidupnya.
“Kalian adalah Seraphim! Kalianlah pemimpin para Malaikat, yang harus hidup untuk melayani Aku!”
“…”
“Aku menamaimu sebagai Zophiel! Aku memerintahkanmu sebagai seorang Seraphim of Afterlife, untuk
menghibur mereka yang berduka, sebelum kau mengantar korban tersebut menuju Sirkulasi Roh!”
“…”
“Aku adalah Hukum yang Berdaulat! Kau sebagai pelayan-Ku tidak memiliki hak untuk menentang-Ku!”
Itulah perintah yang diterima oleh Zophiel, setelah ia tercipta dan hidup selama jutaan tahun mendatang.
Sebagai seorang Malaikat dengan pangkat Seraphim, ia menaruh harga dirinya untuk melaksanakan takdir yang telah dititahkan kepada dirinya.
Namun, ratusan ribu tahun kemudian, ia menerima sebuah perintah yang akan merubah nasib dunia.
“Mahluk Fana itu mengingatkan-Ku akan Sang Alpha. Alangkah baiknya jika kalian melayani pria itu, sebagaimana ia ditakdirkan untuk menjaga ketertiban hukum yang Aku tetapkan!”
Sebagai kepala dari pelayan Dewa dan Dewi, Zophiel mengikuti perintah itu.
Akan tetapi, hingga sampai detik ini, ia tidak menyangka. Bahwa perintah itu adalah permulaan dari musibah
terbesar yang pernah dialami oleh semesta, yang dunia kenal sebagai…
Hari Penghakiman.
Setelah musibah terbesar itu berakhir, ia hanya memiliki satu orang sebagai tuannya.
Akan tetapi tuannya itu berkata…
“Kalian sudah bebas. Tidak perlu kalian mengikutiku lagi. Hiduplah sesuai keinginan kalian. Karena bahkan
pada mulanya aku bukanlah tuan kalian semua.”
“…”
Zophiel sudah tahu, bahwa ia telah dibebaskan. Selain dirinya, saudara-saudaranya, baik Malaikat maupun
Seraphim, juga mengetahui hal yang sama.
Akan tetapi ia dan Kaum Malaikat lainnya telah mendapat hukuman yang tidak bisa terlepas dari dirinya maupun saudara-saudaranya. Bahkan hingga saat ini pun ia tidak bisa lepas dari hukuman tersebut.
Hukuman tersebut tidak lain adalah dengan melayani seorang tuan.
Walaupun ia dan saudara-saudaranya telah dibebaskan, nyatanya mereka belum dibebaskan dari takdir yang membelenggu hidup mereka.
“…”
Selama ribuan tahun setelah Hari Penghakiman, ia terpaksa untuk menyaksikan kematian sanak saudaranya, yang saling membunuh satu sama lain, karena sudah tidak memiliki tempat di dunia dan masih diperbudak oleh takdir mereka.
“Aku ingin bebas, ibu. Oleh karena itu, mohon maaf jika aku harus meninggalkanmu. Karena aku terlahir setelah Hari Penghakiman, maka aku tidak ingin memiliki nasib dan takdir yang sama seperti dirimu, ibu.”
Bahkan anaknya sendiri pergi meninggalkan dirinya, setelah kematian ayah dari anak tersebut, yang juga seorang Malaikat.
Karena itu, ia hidup berkelana sendirian di Geoterra.
““Ruaaagh!””
““Chring, chring, chring…””*
“…”
Sambil menyembunyikan dirinya, ada sangat banyak negara yang ia saksikan kelahiran dan kematiannya, di mana
terdapat peperangan dan pertumpahan darah.
Hingga akhirnya…
“Tuan Lancelin! Wanita ini terlihat berbahaya! Ia harus—”
“Saya akan membawanya ke dalam kediaman saya!”
“M-Membawanya?! Tetapi—”
“Saya tidak mau meninggalkannya sendirian. Jika saya lihat dari matanya yang kesepian, saya ingin menemaninya.”
…seseorang menemukannya dan jatuh cinta kepadanya.
“Zophiel! Oi! Zophiel! Lo nggak apa-apa?!”
“…”
Zophiel kembali tersadar, setelah ia melamun dan mengingat semua yang terjadi kepada dirinya. Kemudian ia melihat ada Myllo dan Garry yang datang kepadanya.
“Oi, Garry!”
“Siap, siap, siap! Aing paham, Myllo!”
Balas Garry, yang langsung menyembuhkan Zophiel.
Melihat aksi Myllo dan Garry membuat Zophiel heran.
“Saint Kebebasan. Apakah kau datang untuk menyelamatkanku?”
“Hah?! Lo nanya kayak gitu?! Ya iyalah! Ngapain juga gue ke sini kalo nggak buat lo?!”
Seru Myllo dengan kesal karena pertanyaan Zophiel.
Akan tetapi pertanyaan Zophiel bukanlah tanpa alasan. Walaupun telah diusir oleh Leonard, Zophiel juga pernah
menghadapi Myllo anaknya, yang bahkan hendak ia kendalikan karena perintah Leonard.
“Tidakkah kau membenciku?”
“…”
Myllo terdiam mendengar pertanyaannya.
Ia terlihat marah mendengar pertanyaan Zophiel, karena teringat dirinya yang hendak dikendalikan oleh ibu
biologisnya.
“Pertanyaan macem apa itu?! Lo itu ibu kandung gue! Kenapa gue harus benci lo?!”
“T-Tetapi aku sebelumnya hendak mengendalikan dirimu—”
“Kenapa juga gue harus benci lo karena itu?! Kan lo cuma ngelakuin perintah Leonard aja! Justru harusnya gue
marah sama Leonard!”
Tegas Myllo kepada Zophiel.
“Lagian, kenapa juga lo mau disuruh-suruh sama Leonard?!”
“K-Karena aku…”
“Karena apa?! Karena cuma Leonard yang mau bawa lo?!”
“Karena aku tidak memiliki tujuan apapun, selain melayani seseorang. Lagipula, menemukan tuan lain adalah
perintah dari mendiang Tuan Christofre Lancelin.”
“…”
Myllo terdiam, setelah mendengar nama pria yang merupakan ayahnya sendiri.
“Seperti kata Tuan Leonard. Aku adalah budak. Aku hidup untuk melayani seorang tuan. Setelah kematian tuanku
terdahulu, aku sudah tidak memiliki tujuan lain, selain pergi mencari seseorang yang mau menemukan tuanku.
Bahkan aku tidak bisa mati atau membunuh diriku sendiri, setelah hanya aku saja yang mampu berdiri di antara semua Kaum Malaikat, yang saling membunuh agar terlepas dari takdir kami.”
“…”
Myllo kembali terdiam ketika mendengar kata-kata Zophiel. Ia juga menyaksikan tangan Zophiel yang gemetar,
seakan ia sedang ketakutan.
“Katakanlah kepadaku, Saint Kebebasan.”
“…”
“Apa arti kebebasan? Apakah aku sudah bebas? Apakah salah bagiku untuk—”
“*Phuk…”
“!!!”
Zophiel terkejut ketika Myllo memeluknya secara tiba-tiba.
“S-Saint Kebebasan? Mengapa—”
“Tenang. Gue ada di sini untuk lo.”
Jawab Myllo kepada Zophiel.
Ia melakukan hal tersebut karena teringat akan masa lalunya, dimana ia ditemukan oleh seorang wanita yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
“Tenang ya. Kakak cantik ini ada di sini untuk kamu, dek.”
“…”
Karena teringat akan kata-kata dari kakaknya, Sylvia Starfell, Myllo pun mengucapkan hal dengan makna yang
sama kepada Zophiel, ibunya.
“A-Apa maksudmu—”
“Lo sadar nggak sih, kalo lo itu punya tujuan?”
Jelas Myllo kepada Zophiel, sambil memeluknya.
“T-Tujuan…?”
“Ya. Dari yang gue denger, lo itu bukannya nggak bisa mati. Lo bukannya nggak bisa bunuh diri. Tapi lo cuma tolak
kematian lo sendiri.”
“M-Menolak kematianku…? M-Mengapa aku menolak—”
“Supaya lo bisa punya anak yang jadi Saint Kebebasan kayak gue, mungkin? Hihihi!”
“…”
Zophiel terdiam mendengar penjelasan Myllo.
Seketika ia teringat akan masa lalunya bersama Christofre Lancelin, di mana pria tersebut menggendong seorang
bayi.
“Oweeeek! Oweeeek!”
“Lihatlah anak ini, Zophiel. Semoga saja… anak ini bisa menjadi seseorang yang begitu berharga bagimu. Bukan
karena perintahku, melainkan karena dorongan dalam batinmu. Bahkan aku berharap, jika anak ini mampu membebaskanmu, istriku.”
“…”
Setelah teringat akan masa lalunya bersama Christofre…
“Hehe!”
…ia melihat anaknya tersenyum dengan riang.
“Kalian adalah Sera—Kalianlah—harus hidup—”
“…”
Bahkan takdir yang dititahkan kepadanya mulai menghilang secara perlahan-lahan.
Karena itu…
“*Phuk…”
…ia memeluk anaknya, karena tanpanya ia tidak bisa dibebaskan oleh takdir yang membelenggunya.
Akan tetapi Malaikat tersebut tidak hanya memeluknya saja.
“*CHRINGGG!!!”
“Et!”
Teriak Garry dengan terkejut, setelah mendapati adanya sinar yang terang dari tangan Zophiel yang memeluk
Myllo.
“W-Woy! Lo mau ngapain—”
“Kau hendak menghadapi Tuan—Tidak. Maksud ibu, kau hendak menghadapi Leonard, bukan?”
“Ya! Gue harus lawan dia!”
Jawab Myllo dengan yakin kepada Zophiel.
“Terima kasih, anakku Myllo.”
“Hah…?”
“Karena dirimu, aku sekarang memiliki tujuan hidup.”
“T-Tujuan hidup—”
“Sebagai ibumu yang baru saja kau bebaskan, aku akan mempersiapkan dirimu, supaya engkau menjadi lebih kuat
daripada saat ini!”
Jawab Zophiel kepada Myllo, sambil merapal sihir kepada anaknya.
……………
Sementara itu, di arena pertarungan di dalam Chaoseum.
““Huff! Huff! Huff!””
Djinn dan Leonard sama-sama terluka berat.
““…””
Tetapi mereka mampu menyembuhkan diri mereka, berkat regenerasi mereka yang luar biasa cepat.
“Ayo kita mulai lagi, Djinn Dracorion!”
“Lo nggak perlu ngomong! Gue pasti bakal bantai lo!”
Balas Djinn kepada Leonard,
sebelum melanjutkan pertarungan mereka.