
Pada malam hari, di suatu tempat tersembunyi.
“*Phak! (suara tamparan)”
“…”
“Terus apa yang kamu lakukan, Vast?! HAH?!”
“…”
“Bisa-bisanya kamu melepaskan ‘aset-aset’ kita?!”
“…”
“Padahal saya sudah pasang 5 Kakak Besar disana! Kok bisa dua aset penting hilang begitu saja?!”
“…”
“Gak disangka Si Anak Haram dan Si Iblis bisa lepas!”
Kata seseorang pria yang meluapkan amarahnya kepada wanita bertudung yang bernama Vast.
Pria tersebut adalah pemimpin dari 10 Kakak Besar, yang mana 3 diantaranya berhasil dikalahkan oleh Djinnardio Vamulran, dan salah satu anggotanya dikalahkan oleh wanita bernama Styx.
Pria tersebut dipanggil oleh seluruh anggotanya dengan nama Kakak Tertua. Ia bernama Bjüdrox.
Walaupun tidak sekuat Kakak Besar, namun Bjüdrox adalah orang yang sangat cerdas dalam hal bernegosiasi dan berbisnis. Kecerdasannya lah yang membawa kemajuan besar untuk Black Guild miliknya yang bernama Goldiggia.
“Ma-Maaf, Kakak Tertua, te-tetapi Anak Haram itu jadi kuat banget, Kakak Tertua!”
“Sa-Saya bahkan kepikiran untuk bu-bu-bunuh di—”
“Bon Kargal!”
“Baik, Kakak Tertua.”
“Tu…Tunggu, Kakak Tertu—”
“*Swut! (suara memenggal kepala)”
““Hiiikkkhhh!””
“Enak saja kepikiran ‘lari’ begitu! Kalau punya pikiran kayak begitu, artinya orang ini udah gak berguna jadi aset!”
Tegasnya setelah memerintahkan salah seorang Kakak Besar untuk memenggal kepala.
“Ingat ini baik-baik! Kalau kalian bergabung dengan Goldiggia, artinya kalian semua aset saya! Kalau aset saya sudah nggak beguna lagi, saya sebagai pemiliknya harus hancurkan aset saya sendiri! Paham?!”
““Ya, Kakak Tertua!””
Setelah memberikan laporan kepada seluruh Kakak Besar dan Kakak Tertua, semua anggota pergi meninggalkan ruanga tersebut, hingga tersisa Kakak Tertua dan Kakak Besar, yang saat ini tersisa 6 orang.
Sementara wanita misterius yang dikenal dengan Vast, keluar dari ruangan tersebut dengan ekspresi kesal karena tamparan yang ia terima dari Bjüdrox.
“Ngixixixi! Gue masih gak percaya ada yang orang yang bisa banting Si Gendut (Bronto) itu! Ngixixixi!”
Kata salah seorang Kakak Besar yang bernama Roco, sambil tertawa. Pria tersebut memiliki tubuh yang sangat ramping, dengan tangan berwarna ungu yang penuh racun.
“Hey, Roco! Anda kira kita lagi becanda?! Ini masalah serius!”
Kata seorang Kakak Besar lainnya yang bernama Pyrobin. Dengan tubuh yang tinggi, pria itu dikenal dengan atributnya yang serba merah.
“Tapi Anak Haram itu katanya bisa pake Mana? Punya aura yang nakutin? Kok kedengerannya aneh banget, ya?”
Tambah seorang Kakak Besar lainnya yang bernama Lenia. Wanita ini adalah seorang Ice Elf. Warna kulitnya yang biru pucat menandakan bahwa dirinya lahir dan besar di wilayah penuh salju dan es.
“Saya juga gak percaya, Lenia! Mungkin Vast aja yang terlalu lemah! Kyaaakyakyakya!”
Kata seorang Kakak Besar lainnya yang bernama Luox. Dengan postur badannya cukup besar, ia juga dikenal selalu mengenakan kalung yang terdiri dari susunan bola-bola batu.
Mereka pun bersama-sama membahas dan memperdebatkan segala kejadian yang telah menimpa salah satu Penampungan, tempat khusus untuk memenjarakan ‘calon budak’ sebelum dilelang.
Di ruangan yang sama, dengan jarak yang agak jauh dari Kakak Besar lainnya, Kakak Tertua berdiri bersama-sama dengan seorang Kakak Besar yang paling ia percayai.
“Kakak Tertua, tentang Viya…”
“Ya. Saya menyesal atas kematiannya. Tapi itu nggak lebih penting daripada aset-aset kita yang
hilang!”
“Ka…Kakak Tertu—”
“Kenapa? Mau mempertanyakan moralitas saya?!”
“…”
“Kamu tau kan apa filosofi Guild kita?!”
“Ti…Tidak ada yang lebih penting daripada kekayaan…”
Jawab seorang Kakak Besar yang bernama Bon Kargal, sambil membersihkan pedangnya yang ia gunakan untuk memenggal kepala tadi.
Bon Kargal adalah seorang Lizardman dan merupakan anggota yang paling lama bergabung dengan Kakak Tertua dibandingkan anggota lainnya.
“Saya kira Kakak Tertua akan putus asa ketika mendengar kabar kematian Viya, ternyata ia masih bisa
berdiri tegak dan memikirkan langkah kedepannya! Memang anda yang terbaik, Kakak Tertua!”
Pikir Bon Kargal.
Sambil memikirkan langkah kedepannya, Bjüdrox mengenang sedikit tentang masa lalunya.
Bjüdrox, pria yang terlahir miskin, yang bahkan dijual oleh kedua orang tuanya. Tidak terima atas kepahitan yang ia rasakan, ia telah membunuh pembeli dirinya ketika berusia 10 tahun, hanya dengan bermodalkan tekad yang kuat.
5 tahun kemudian, ia bertemu dengan seorang Lizardman dan menamainya Bon Kargal. Mereka bersama-sama membalaskan dendam Bjüdrox kepada kedua orang tuanya yang hendak menjual anak keduanya, Viya.
Bersama-sama, mereka merasakan betapa pentingnya harta dan kekayaan demi keberlangsungan hidup.
Dengan pemikiran seperti itu, Bjüdrox pun memulai karirnya dengan pencurian dan pelelangan harta-harta yang ia curi ke pasar gelap.
Dari sanalah mereka bertiga bersama-sama mendirikan Black Guild yang bernama Goldiggia, Guild yang menerima permintaan terkait pencurian, pemerasan, pembunuhan, dan salah satu sumber kekayaan mereka, pelelangan budak.
Oleh karena itu, ia berpikir bahwa kematian adiknya hanya hal sepele dibandingkan dengan bisnisnya yang hancur karena ulah Djinnardio Vamulran.
“Bon Kargal, panggil Vast ke hadapan saya.”
“Baik, Kakak Tertua.”
Kemudian Bjüdrox pergi ke ruangannya, sedangkan Bon Kargal memanggil Vast sesuai dengan perintah dari
orang yang sangat ia hormati.
……………
“*Tok, tok, tok…(suara mengetuk pintu)”
Vast memasuki ruangan Bjüdrox dengan perasaan tidak enak.
“Jadi, apa benar yang dikatakan oleh anggota lain, bahwa Anak Haram itu menggunakan Mana-nya?”
“…”
Vast hanya mengangguk ketika ditanyakan oleh Bjüdrox.
“Baiklah, anda yang harus mendapatkannya kembali!”
“!!!”
Vast terkejut mendengar perintah Bjüdrox. Ia pun berkucuran keringat karena takut untuk menghadapinya lagi.
“Kenapa?! Anda takut?!”
“…”
“!!!”
Vast hanya bisa menatap tajam Bjüdrox, yang mengetahui identitas asli Vast sejak ia bergabung.
“Ingat tujuanmu bergabung, Vast.”
“…”
“Atau mungkin bisa saya sebut…”
“…”
“Putri Luvast Vamulran?”
“Cih!”
Bjüdrox berbisik kepada Vast terkait identitas aslinya.
Hal tersebut membuat Vast kaget dan kesal.
“*Shringg…(suara mengeluarkan pedang)”
Atas hal tersebut, Vast mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan ke dada Bjüdrox.
“Ow, anda mulai berani, ya?”
“Sebut nama saya sekali lagi, anda harus berani menanggungnya dengan nyawa anda, Bjüdrox!”
“Hmph, akhirnya keluar juga suara dari mulut anda!”
Kata Bjüdrox yang sama sekali tidak takut dengan ancaman Vast.
“Perlukah saya ingatkan lagi tujuan anda ke tempat ini?!”
“…”
“Atau, saya bunuh saja orang-orang yang tadinya akan kamu selamatkan?”
“Jangan macam-macam dengan rakyat saya!”
“Rakyatmu? Mereka aset saya! Bahkan nyawamu juga aset saya!”
Tegas Bjüdrox, yang hendak menjambak rambut Vast.
“…”
Vast hanya menatap Bjüdrox dengan tajam, walaupun pria itu menjambak rambutnya.
“Sekarang anda bukan siapa-siapa selain aset saya! Jangan kamu berani mengancam saya lagi!”
“Cih!”
Kembali tegas Bjüdrox sambil mendorong Vast.
“Sekarang, jalankan tugas anda! Saya nggak terima kata gagal! Kalo saya dengar ada kata gagal, sekecil apapun, mereka akan mati! Paham?!”
“…”
“Cepat keluar dari sini! Sebelum saya berubah pikiran!”
Atas perintah Bjüdrox, Vast hendak keluar dari ruangannya.
Namun, sebelum Vast keluar dari ruangan, seseorang datang ke ruangan Bjüdrox dalam keadaan panik.
“Sa-Salam, Kakak Tertua!”
Sahut seorang anggota Goldiggia.
“Apa-apaan kamu?! Berani-bera—”
“Kabar buruk, Kakak Tertua!”
“Kabar buruk?!”
“C-Cabang Penampungan lain telah hancur!”
“A… Apa…?!”
“*Brak! (suara memukul meja)”
Bjüdrox yang terkejut dan kesal setelah mendengar berita tersebut, memukul mejanya.
“Terus, bagaimana dengan orang-orang yang akan dijual?!”
“Semuanya berhasil dibebaskan!”
“HAH?!”
Teriak Bjüdrox yang terkejut mendengar berita tersebut.
“Si-Siapa yang berani merusak bisnis saya?!”
“Di-Dia bernama…”
……………
Di lokasi lain, di salah satu Penampungan yang berhasil dihancurkan.
“Haahh…Styx juga gak ada disini ternyata.”
Kata seseorang yang baru saja mengalahkan puluhan penjaga Penampungan, membebaskan para tahanan, dan menghancurkan tempat tersebut.
“STYYYYYYX!!! LO DI MANAAAA?!?!”
Teriak orang itu.
Setelah mendengar teriaknya, salah satu pasukan Goldiggia yang telah dikalahkan olehnya merangkak ke arahnya untuk menanyakan sesuatu.
“Si-Siapa lo?!”
“Haaaaah?! Lo nggak kenal gue?!”
Tanya orang itu.
“Tu-Tunggu, tunggu, tunggu!”
“Hm?!”
Seorang prajurit lainnya datang. Ia terlihat mengenal orang itu dan menjelaskan kepada rekannya.
“L-Lo itu Petualang, kan?!”
“Hah? Iya. Kenapa emang?!”
“Petualang yang pake tongkat… Ja…Jangan-jangan…lo adeknya Pahlawan Sylvia Star—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Woy! Gue punya nama! Masa gue terkenal karena kakak gue doang?!”
““Emang iya…””
Pikir dua pasukan itu setelah mendengar pertanyaan orang itu.
“Nama gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di Dunia!”
Seru pria yang bernama Myllo Olfret, tanpa menyadari bahwa dua orang yang tersebut sudah tidak sadar.