
Sebelum rapat mulai, Dahlia
kenalin dulu para Petualang yang ambil Quest ini.
Dari total 23 Petualang, ada 3
yang masih Kasta Biru, 8 Kasta Hijau, 8 Kasta Kuning, sama 4 Kasta Jingga.
Awalnya gue kira ini Joint Party,
tapi kalo kata Gia…
“Ini bukan Joint Party.”
“Bukan Joint Party?”
“Iya! Semua Petualang yang ada
di sini ditunjuk langsung, bukan resmi dari Guild. Kamu bisa liat sendiri, kan?
Ada yang Kasta Biru, bahkan ada yang Kasta Jingga.”
“Iya sih, keliatannya nggak
mungkin juga ada Kasta Biru yang satu Joint Party sama Kasta Jingga. Artinya
ini asal direkrut aja, ya?”
“Dibilang asal sih juga nggak.
Lebih tepatnya kita semua itu karena kenalannya Dahlia. Ya anggep aja ini Joint
Party nggak resmi.”
…kita ini orang direkrut karena
kenal Dahlia, makanya ini bukan Joint Party resmi.
Untuk peran dari Petualang yang
ambil Quest ini, ada 3 Petualang yang udah jadi Leader. Tapi untuk total
keseluruhan, ada 3 Observer, 5 Keeper, 4 Frontliner, sama ada 10 Striker.
Kalo Rounder?
Ya, lagi-lagi cuma gue sendiri.
Haaaaah…jadi babu lagi deh.
Abis perkenalan, kita mulai
rapatnya.
Dari yang gue tangkep, bangsawan
yang namanya Bronski ini diminta pemerintah Erviga untuk bawa alat yang katanya
penting untuk nanggulangin serangan Naga di negara ini.
Katanya, alat itu harus dipasang
di wilayah paling ujung Erviga. Makanya itu dia butuh banyak Petualang yang
jagain.
Awalnya gue heran alesannya harus
dijagain banyak-banyak, tapi gue sendiri baru inget alesannya.
“Karena serangan Kaum Naga sedang
lagi memuncak di Erviga. Maka dari itu, saya harap para Petualang sekalian bisa
menjaga saya dari ancaman para Kaum Naga.”
““Ya.””
Ya, karena Kaum Naga lagi
liar-liarnya di negara ini.
“Baiklah, sepertinya udah cukup.
Sebelum kita tutup, ada yang mau nanya?”
“Nyonya Dahlia Dalrio, apakah
hanya ini saja Petualang yang anda rekrut?”
“Oh, ya! Saya lupa bilang kalo
ada satu Petualang lagi! Dia yang berhalangan hadir karena lagi nyelesain
Quest! Tapi dia janji untuk dateng besok pagi.”
“Hm?”
“Tenang aja, dia bisa saya
percaya.”
“Nyonya Dahlia Dalrio, akan
tetapi—”
“Dia itu teman ayah saya!
Saya berani sumpah atas nama bapak saya, Darius Dalrio, kalo dia itu orang yang
bisa dipercaya!”
Buset! Sampe sumpah gitu Dahlia!
“Ba…Baiklah. Saya percaya dengan
anda.”
“…”
Dahlia ngangguk doang.
“Apakah ada lagi yang mau
bertanya—”
“Dahlia, Dahlia, Dahlia!”
Myllo mau nanya?!
Sumpah, perasaan gue nggak enak!
“Hm?”
“Kalo kita besok jalan, malem ini
kita ada pesta-pesta nggak?!”
Tuh kan!
Gue udah yakin pasti arahnya ke
sana!
“Woy, goblok! Kita berangkat
besok pagi! Masa kita malah pesta-pesta?!”
“Iya! Yang namanya pesta itu
mending di akhir! Bukan di awal!”
“Tau nih! Aneh-aneh aja idenya!”
Nah kan, diprotes hampir semua
yang ada di sini kan jadinya!
“Dasar nggak tau diri! Malah—”
“OK! Saya yang traktir!”
““HAAAAAHHHH?!?!””
Kok…Dahlia malah mau traktirin?!
“Ngaaahahahaha! OK, Dahlia!
Makasih sebelumnya!”
“Ya, Myllo. Ayo kita semua ke
kedai!”
““Yaaa!””
Akhirnya gue balik lagi ke kedai
bareng Dahlia sama beberapa Petualang yang lain.
Kalo bangsawan itu…
“Hmph. Jangan samakan saya dengan
mereka semua.”
…ya…nggak perlu ditanyain lah.
Kayak biasa, kita mulai duduk
satu meja, terus Myllo mulai mabok, abis itu dia cerita-cerita tentang
kakaknya, terakhir dia muntah dulu sebelum kita balik ke kamar kita.
……………
Besoknya, kita udah siap untuk
jalan.
Masalahnya…
“Kemanakah Petualang yang anda
maksud, Nyonya Dahlia Dalrio?!”
“Cih! Kenapa dia datengnya lama,
sih?!”
…Petualang terakhir yang dibilang
Dahlia nggak dateng-dateng.
“Baiklah, sepertinya tidak perlu
menunggu lebih lama lagi. Alangkah baiknya kita jalan saja terlebih dahu—”
“*Tring, tring, tring… (suara
lonceng berbunyi)”
“WASPADA KEPADA SEMUA YANG ADA DI
KASKAR CITY! ADA KAWANAN KAUM NAGA YANG MENYERANG!”
““Hwaaaaah!””
Duh! Belom jalan udah ada yang
mulai dateng Dragonkin!
“Saya butuh laporan tentang
Dragonkin yang menyerang!”
“La…Lapor! Total ada 13 Wyvern, 14
Drake, 11 Wyrm, dan a…ada…”
“Cepat berikan laporan yang—”
“2 Naga!”
““!!!””
Kayaknya ini baru pertama kalinya
gue denger ada Naga yang nyerang!
Sejauh ini, cuma empat Naga,
termasuk Rakhzar yang pernah gue lawan.
Kalo Tarzyn kayaknya beda kelas,
nggak perlu disebutin.
Tapi waktu lawan Rakhzar sama
tiga Naga lainnya, gue yakin banget kalo dia nahan kekuatan penuhnya. Gue yakin
itu semua karena dia emang anggep remeh gue.
Kalo emang bener 2 Naga yang mau
dateng ke kota ini hilang akal sehatnya, bisa-bisa mereka jadi versi mini-nya
Tarzyn!
“Hehe! Mungkin kita bisa latian
dulu kali, ya?!”
Hah?! Latian?!
Nih orang lupa ya kalo badannya
belom 100% sembuh?!
“Hmph! Lo mungkin adeknya Pahlawan
Sylvia, tapi apa lo sanggup lawan Dragonkin?!”
“Huahaha! Lo nggak perlu jawab
orang itu, Myllo Olfret! Mending lo buktiin aja pake kekuatan lo!”
“Bawel kalian bertiga! Jangan
pernah anggap remeh keadaan!”
“Ya, ya, ya! Mending kita
berempat buktiin aja siapa yang bisa kalahin mereka paling banyak!”
““Hah?!””
Serius dia nantangin 3 orang yang
Kasta Jingga?
Ya emang bukan Myllo sih kalo
nggak keras kepala.
“Heh! Lo masih Kasta Kuning aja
udah sombong!”
“Dasar nggak tau diri!
Mentang-mentang lo itu—”
“Jangan banyak bicara kalian semua!
Cepat serang para Naga dan Dragonkin sebelum mereka menyentuh kota ini!”
““Y…Ya…””
“Para prajurit! Cepat evakuasi
para warga!”
““Baik, Tuan Bronski!””
Ujung-ujungnya kita yang harus
dibiarin lawan semua kaum Naga itu.
“Ka…Kalian, tolong jaga satu sama
lain! Semoga aja kalian nggak ada yang terluka sebelum pergi ekspedisi!”
“Hehe! Tenang aja, Dahlia! Gue
yakin semua Petualang yang lo rekrut ini kuat!”
Myllo keliatan pede banget
ngomong kayak gitu, padahal…
““…””
…ada banyak juga dari kita yang
ketakutan.
Keliatan banget dari tangan
mereka yang gemeteran.
“Ayo tunggu apa lagi?! Ayo kita
maju!”
““Ya!””
Mau nggak mau, kita semua maju
“Zegin! Gue butuh kekuatan lo!”
“*Fwush! (suara tiupan angin)”
“Myllo! Jangan main terbang aja,
dong!”
Myllo langsung terbang ke satu
Wyvern pake kekuatan dewa-nya.
Dasar dongo, lagi-lagi dia lupa
soal kondisi badannya.
Nggak, dibanding lupa, kayaknya
lebih nggak peduli soal kondisi badannya, deh.
Yaudah lah, gue nggak perlu
peduliin lagi.
Tinggal urusan dia aja i—
“Rooooaaar—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Rrrr…”
Huh! Untung gue sadar ada Drake
yang mau serang gue!
“Rooaargh!”
“*Prang! (suara pedang besar
menahan serangan)”
“Haha! Untung aku makin kuat
tahan serangan Drake—”
“*Prang, prang, prang… (suara
pedang besar menahan banyak serangan)”
“Urgh! Aku masih kuat!
Hraaaargh!”
“*Prang! (suara serangan pedang
besar)”
Untung Gia masih kuat untuk tahan
serangan—
“Rooaargh!”
Drake itu mau coba serang Gia
pake bola api.
Kalo gitu…
“Judgment: Charge!”
“*Jgrumm! (suara petir)”
“*Boom! (suara ledakan)”
…gue cuma perlu tembak bola pai
itu pake petir gue, sebelum Drake itu nembak Gia.
“Sekarang, Gia!”
“Iron Crusher!”
“*PRANG! (suara keras serangan
pedang besar)”
“Rrrr…”
Gia masih bisa kalahin Drake itu.
“Djinn! Makasih udah cover cewek cantik kayak a—”
“Fokus dulu! Semuanya belom
selesai!”
“Cih!”
Nih orang masih sempet-sempetnya
genit, ya?!
……………
Sejauh ini, udah ada beberapa
Drake sama Wyvern yang dikalahin.
Kalo dibilang semua ikut turun
tangan untuk ngalahin kaum Naga yang gue sebut tadi, sebenernya nggak.
“*Boom! (suara ledakan)”
“Raaaargh!”
““Aaargh!””
“Jangan takut! Kita masih punya
Keeper yang bisa sembuhin kalian!”
Masih ada beberapa Petualang yang
kesusahan untuk bahkan lawan satu Drake aja.
Ada juga yang ngalahin 5 Drake
sama 3 Wyvern. Yang ngalahin itu ada…
“Canon Arrow!”
“*Boom! (suara ledakan)”
“Rrrr…”
…Padomus, dia itu Centaur,
Manusia Setengah Kuda.
Dia Striker Tingkat Jingga yang
jadi Kapten dari Equos. Senjata dia itu busur sama panah.
Selanjutnya ada…
“*Shrak, shrak, shrak… (suara banyak
tebasan dua pedang)”
“Hrrr…”
…Nelzei Klevnier, Dark Elf yang
juga Striker yang jadi Kapten. Nama Party dia itu Ferrum. Dia punya gerakan
yang cepet banget, bahkan badannya aja hampir mirip kayak bayangan saking
cepetnya.
Abis itu, yang menurut gue paling
nonjol dari semua Kasta Jingga di sini…
“Blizzard Strike!”
“*Swush! (suara ayunan pedang)”
““*Shrak! (suara tertusuk es
besar)””
“Roaaa—”
“Rising Rock!”
“*Shruk! (suara tertusuk batu
tajam)”
“Rrrr…”
August Adverso.
Dia itu Swordsmage, kayak Luvast.
Artinya dia jago pake pedang, terus jago pake sihir juga.
Kalo nggak salah dia itu Kapten
dari Tigris. Dia juga Striker Kasta Jingga kayak dua orang sebelumnya.
Terakhir ada…
“Zegin Vacuum!”
““Rrrr!””
“Wuryaaa!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
…Myllo, satu-satunya Striker
Kasta Kuning yang ikut di depan bareng mereka bertiga.
Ya, bisa dibilang yang lain cuma
jadi beban, sih.
Makanya itu gue atau Gia nggak
bisa ikut terjun bantu mereka berempat, karena fokus bantuin yang lain.
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Makasih ya udah bantuin kita,
uhm…siapa nama—”
“Djinn.”
“Ya, Djinn! Makasih udah—”
“Rooaaaaarrr!”
Ada Naga yang ngeraung.
Perasaan gue jadi nggak enak—
“*Shringgg! (suara sinar terang)”
““Akh!””
Naga itu tiba-tiba ngeluarin
sinar dari badannya, makanya semua jadi pada sakit mata.
Kecuali…gue.
“Ah! Mata aku sakit—”
“Roaaar!”
Gawat! Gia mau dimakan!
“Heaaa—”
“Haurp!”
“Urgh!”
Dasar kadal brengsek!
Dia gigit gue, terus gue dibawa
terbang!
“Judgement!”
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“Rooaaarr!”
Cih! Nggak mempan, ya?!
“Jgrum! Jgrum! Jgrum! (suara
banyak pukulan petir)”
“Rrrr…”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
Huh! Untung aja dia nggak sekuat
Rakhzar!
“Djinn, kamu nggak apa-apa?!”
“Tenang aja, gue nggak—”
“Woy, Keeper! Tolong sembuhin
temen gue!”
Karena panggilan Myllo, beberapa
Keeper ada yang samperin gue.
Tapi ada yang aneh.
Katanya ada 2 Naga, tapi yang
satu lagi ke ma—
“Rooaaarr—”
“*CHRAK! (suara keras cakaran)”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
Gila! Siapa yang bisa cakar
kepala Naga sampe putus kayak gitu?!
“Haaaah…ternyata Naga ini masih
muda, ya.”
““…””
Siapa dia?
Orangnya udah agak tua, mungkin
umurnya udah kepala lima.
Tapi badannya keker banget!
“Djinn…kamu inget Petualang yang
kamu tanyain itu, kan?”
“Yang gue tanyain? Yang mana?”
“Yang namanya Lupherius
Nighteeth.”
Kalo nggak salah dia yang
Petualang Solo itu kan, ya?
“Inget. Kenapa emangnya?”
“Itu orangnya!”
“!!!”
Ternyata dia Petualang urutan 9
di dunia?!
Gila! Ternyata sekuat itu ya
Petualang urutan ke-9!
Gimana kalo yang urutan pertama,
ya?!
Apalagi kakaknya Myllo, yang
bahkan disanjung-sanjung kayak gitu?!