
Kembali ke markas Dreaded Band, di mana Myllo dan anggotanya telah mendengar tentang sejarah kelam Dreaded Borderland dan awal terbentuknya ikatan bandit tersebut.
“Jadi intinya, kalian cuma mau nguasain pulau yang nggak punya pemimpin ini, supaya semua orang yang ada di sekitar pulau ini nggak gila harta. Bener, kan?”
“Ya. Kita semua juga nggak nyangka, kalo semuanya jadi kacau begini.”
Jawab Naomi kepada Myllo.
“Naomi, Benjie…”
““…””
“Apa selama ini… keberadaan kita tuh udah pimpin pulau ini jadi lebih damai…?”
““…””
Naomi dan Benjie terdiam dengan kecewa setelah mereka mendengar pertanyaan Bill. Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh rekannya itu.
““…””
Suasana pun menjadi hening. Gia dan Garry merasa kasihan terhadap mereka bertiga.
“Desa aku juga dipimpin pakai konspirasi. Aku sebenernya nggak mau ngakuin, tapi kalo diperhatiin baik-baik lagi, desa aku jadi lebih damai, walaupun cara Derrek sama Snake salah besar.”
"Aing teh paham sama tujuan mereka. Kang Wilfred teh pernah cerita, kalo dulunya semua Monster di sana harus dihajar dulu, baru bisa bener.”
Pikir Gia dan Garry.
Di tengah-tengah keheningan, Myllo pun mulai angkat bicara.
“Kalian semua… mau pimpin pulau ini jadi lebih baik, kan?”
““…””
“Gue nggak akan ngomongin cara kalian, semenjak itu semua udah lewat. Tapi kalian semua masih hidup, bukan?”
“M-Maksud lo…?”
“Kalo kalian masih hidup, seenggaknya ada hari esok untuk ubah cara kalian! Selama kalian punya tujuan yang tetap sama, kalian masih punya waktu untuk cari jalan yang terbaik! Makanya itu, kalo jadi pemimpin itu harus pantang menyerah!”
Bujuk Myllo kepada mereka bertiga.
“Gia! Garry! Machinno! Ayo kita susul Djinn!”
““Ya—””
“Tunggu!”
Teriak Naomi yang menghentikan Aquilla yang hendak meninggalkan markas mereka.
“Kalian mau bantu rekan kalian kan?!”
“Kalo gitu, ijinin kita untuk ikut!”
“Masih ada… yang mau kita bahas bareng dua kembarnya Chester sama Zerron!”
Sahut Bill, Naomi, dan Benjie kepada Myllo.
“Hehe! Yaudah! Ayo ikut ki—”
“*Fwuzz…”
“Gryaarr…”
““!!!””
Mereka semua terkejut dengan kedatangan seekor Sandworm yang datang dari bawah tanah berpasir.
Kecuali…
“K-Kok ada Sandworm?!”
“Kalo gitu kita harus—”
“*Puink, puink, puink…”
…Machinno, yang menghampiri Sandworm tersebut.
“Myllo… ini Cacang.”
“Wuahaaa! Cacang, ya?! Ada apa Ca—”
“Gryar! Gryar!”
“!!!”
Machinno terkejut ketika mendengar raungan dari Cacang.
“Machinno! Apa yang dibilang Ca—”
“Kata Cacang… Tembok Kaktus sedang diserang.”
Jelas Machinno kepada rekan-rekannya.
“Tembok Kaktus?! Maksud kamu Beckbuck?!”
“Siapa atuh yang nyerang, Machin—”
“Saudara-saudara Cacang.”
““!!!””
Lagi, semua dikejutkan dengan berita yang dibawa oleh Cacang.
“A-Artinya…”
“Sandworm lainnya lagi serang Beckbuck?!”
Bisik Gia dan Benjie, sementara Myllo dan rekan-rekannya terdiam dengan terkejut.
“Kok bisa diserang?!”
“Gryar!”
“Kata Cacang… ada satu pria mengerikan… yang mengancam saudara-saudara Cacang.”
“Satu orang?! Jangan-jangan…”
“Nggak salah lagi! Pasti orang itu salah satu kembarannya Chester!”
Sahut Naomi dan Bill.
“Myllo! Jadinya kita harus gima—”
“Gue percayain Djinn sama Dalbert yang urus kembaran itu! Biar kita yang bantuin kota itu!”
“OK, M—”
“Myllo.”
“Hah?! Ada apa, Machi—”
“Kata Cacang… kita naik Cacang biar cepat.”
Sahut Machinno kepada Myllo.
“Hehe! Sesuai apa yang gue pikirin! Ayo semua! Waktunya kita pergi ke Beckbuck!”
““Ya!””
Dengan ajakannya, Myllo dan anggotanya pergi menuju Beckbuck Post bersama dengan tiga pemimpin Dreaded Band, sambil menunggangi Cacang.
Dengan menunggangi Cacang, perjalanan mereka menjadi 5 kali lebih cepat dibandingkan menunggang kuda.
““Wuhuuu!””
““HYAAAAA!!!””
“…”
Namun perjalanan mereka menuju Beckbuck tidak secepat yang mereka duga.
“*Brrrr…”
“Gryaar!”
“Eh! Kok gempa?! Ada a—”
“Grrrr…”
““!!!””
Aquilla dan Dreaded Band dikejutkan dengan adanya sesosok Golem yang besar yang menampakkan dirinya di hadapan mereka.
Selain itu, ada juga beberapa bandit yang muncul dari balik Golem tersebut.
“Hehe!”
“Akhirnya kita dapet panggung juga, ya?!”
““!!!””
Para pemimpin Dreaded Band begitu terkejut dengan adanya puluhan bandit yang mereka rekrut bersama.
“Cih! Nggak nyangka ya kembar-kembarnya Chester berhasil cuci otak bandit-bandit sialan ini!”
Seru Benjie dengan kesal.
“Myllo! Jadi kita harus gima—”
“Hehe…”
“M-Myllo! Kok kamu malah ketawa, sih?!”
Seru Gia dengan kesal.
“Gia, Garry, Machinno, kalian bantuin mereka bertiga aja lawan bandit-bandit itu. Dari antara mereka semua,
gue yakin ada satu atau dua bandit yang lebih kuat dari yang lainnya. Untuk Golem ini, serahin aja sama gue!”
“OK!”
Sahut Gia yang langsung berlari bersama Garry dan Machinno untuk membantu pimpinan Dreaded Band.
Dengan begitu, pertarungan antara Aquilla dan Dreaded Band melawan pasukan yang dipimpin Charlie dan Chico pun dimulai.
……………
Sementara itu, di oasis yang berada dekat dengan hutan kaktus, di timur Dreaded Borderland.
“Fyuhh…”
“…”
Djinn hanya bisa menyaksikan pertarungan rekan-rekan mereka bersama Dalbert, Charlie dan Chico, sambil
menghisap rokok pipa miliknya. Bersama-sama mereka menyaksikan pertarungan Myllo dan kawan-kawannya dari proyeksi yang ditampilkan oleh Mother Eyegoyle.
Dalbert berada di sampingnya, sementara Charlie dan Chico berada di seberangnya.
“*Cplash! Cplash!”
““Aaargh!””
Mereka menyaksikan Naomi yang menyerang para bandit menggunakan cambuk miliknya.
“Graaaagh!”
“*Bruk!”
“Gruaaagh!”
Selanjutnya mereka menyaksikan Benjie yang menggunakan tubuh kerasnya untuk menabrak para bandit.
“*Shrak, shrak, shrak…”
““Aaeeeergh!””
Lalu mereka juga menyaksikan Bill yang mengayunkan lengan pisau daging miliknya, yang memotong beberapa bandit, walaupun pisau daging tersebut tidak sempurna karena dipatahkan Gia.
Selain ketiga pemimpin Dreaded Band, mereka juga menyaksikan Gia, Garry, dan Machinno yang mengalahkan sebagian besar bandit.
Oleh karena apa yang mereka semua saksikan, Djinn pun mulai memprovokasi sepasang kembar itu.
“Hmph! Percuma punya anak buah banyak, tapi tolol semua! Eh iya! Kan pemimpinnya juga tolol ya! Bahkan udang pun lebih pinter daripada pemimpinnya”
Hina Djinn kepada mereka berdua.
“Keuk! Apa lo bi—”
“Charlie! Jangan kemakan sama provokasi dia!”
“M-Maaf, Chico! Entah kenapa, gue jadi makin kesel sama bocah itu!”
Balas Charlie dengan kesal.
Namun, bukan berarti Djinn berhenti sampai situ saja.
“Haaaah?! Lo kesel?! Beneran kesel?! Artinya emang lo tolol—”
“*Dor!”
Chico pun ikut kesal. Ia melepas tongkat Myllo yang sebelumnya ia genggam secara terus menerus untuk mengambil pistol yang berada di sakunya dan menembak Djinn. Beruntung tembakannya meleset, sehingga tidak melukai Djinn.
“Berani-beraninya lo ngatain abang kembar gu—”
“Woy, Chico! Bukannya lo yang bilang jangan kesel duluan?!”
“M-Maafin gue, Charlie! Entah kenapa, gue ikutan kesel sama bocah itu!”
Balas Chico kepada Charlie.
Walaupun Djinn bertujuan untuk memprovokasi mereka, namun ia tidak menyangka adanya orang lain yang marah akan tindakannya.
“Woy, bego! Lo ngapain sih?! Untung aja lo nggak mati ditembak dia!”
“Haaaah?! Kok lo ikutan kesel sama gu—”
“Jangan pancing emosi mereka lagi!”
“…”
Djinn tidak membalas amarah Dalbert seperti biasanya. Ia merasa ada yang aneh dengan tiga orang itu.
“Mereka berdua yang tiba-tiba semarah itu aja udah buat gue heran. Tambah lagi, kenapa Si Brengsek ini tiba-tiba ikutan marah?”
Pikirnya, sambil menyaksikan kembali pertarungan rekan-rekannya. Hingga akhirnya, ia menemukan jawabannya.
“Woy, Iblis Bajingan. Jangan bilang mereka semua marah karena lo?”
Sahut Djinn dari pikirannya kepada Zaghemin yang masih tersegel.
“Cih! Harusnya lo bilang makasih ke gue! Dasar lemah!”
“Diem lo! Dasar bajingan!”
Pikir Djinn, dengan maksud berbicara kepada Zaghemin.
“…”
Djinn tiba-tiba melihat ada sesuatu di seberang dirinya, yang tidak diketahui oleh Charlie dan Chico.
“Haha! Dasar brengsek nih orang! Ternyata dia tau maksud gue!”
Kembali pikir Djinn, yang kali ini mengetahui aksi Dalbert, yang berbuat sesuatu secara diam-diam.