Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 168. Vile Creation



“*Oooaar!”


“Grugh! Grugh!”


“*Uuuung!”


“Gruugh!”


Mahluk asing yang menyerang Clamista telah pergi melarikan diri, setelah beberapa burung pergi menjemputnya. Ia pun bermain bersama dengan beruang-beruang, gajah, serta binatang-binatang lainnya yang berada di dalam hutan.


Tanpa ia sadari, ada dua orang yang mengikutinya.


Namun, tidak ada niat jahat dari kedua orang itu.


“Dia… main sama binatang?”


Tanya Dalbert yang herang dengan aksi mahluk tersebut.


Sedangkan Gia, melihat reaksi yang berbeda darinya.


“Ih! Lucu banget!”


“…”


Melihat reaksi Gia dengan mata yang berbinar-binar…


“A-Apanya yang lucu…?”


…Dalbert pun lebih heran dengan reaksinya.


“Ke-Kenapa kamu liat-liat aku?! Kamu suka ya sama aku?!”


“Hah?! Kenapa tiba-tiba suka sama lo?! Emangnya lo secantik itu?!”


“Cih! Jahat banget!”


Seru Gia dengan kesal.


“Dalbert! Kamu tuh nggak boleh liat sesuatu dari luarnya aja, tau! Liat mahluk itu!”


“Hm?”


“Walaupun dia ditakutin karena penampilannya, tapi dia bisa buktiin kalo dia itu sebenernya mahluk yang baik!”


“…”


Mendengar Gia, Dalbert pun kembali setuju dengan perkataannya.


“Ya, gue akuin lo bener.”


“Pastinya dong! Kan aku—”


“Tapi, masih ada misteri yang masih belom kita pecahin.”


“Ya. Apa alasan dia serang desa tadi. Itu kan maksud kamu?”


“Bener.”


Balas Dalbert kepada Gia.


Sambil mereka menyaksikan mahluk itu…


““Rrrrrr!””


““!!!””


…keberadaan mereka dihampiri oleh beberapa serigala.


“Cih! Kita ketauan, ya?!”


“Kalo ada serigala, artinya kita harus—”


“Jangan bunuh serigala-serigala ini!”


“!!!”


Gia begitu terkejut ketika mendengar peringatan Dalbert.


“Dalbert? Kenapa kamu—”


“Mereka ini binatang buas karena naluri! Kita nggak boleh lukain mereka sama sekali!”


Seru Dalbert kepada Gia.


Melihat tindakan Dalbert, Gia pun teringat akan impian rekannya tersebut.


“Pasti karena kamu pengen temuin Pegasus. Makanya itu kamu sayang sama semua binatang.”


Pikirnya akan aksi Dalbert.


Akan tetapi, keberadaan mereka tidak hanya diketahui oleh serigala-serigala yang menghampiri mereka saja.


“Grugh?!”


Kehadiran mereka juga diketahui oleh mahluk itu.


Akan tetapi, mahluk itu tidak serta merta menghampiri dan menyerang mereka berdua.


“Gruugh!”


Mahluk itu justru melarikan diri bersama binatang-binatang lainnya.


“Dalbert! Mahluk itu per—”


“Rawr!”


Gia yang mengkhawatirkan kepergian mahluk itu hendak diserang oleh salah seekor serigala.


“Shield!”


“*Prang!”


“Rawr!”


Beruntung Dalbert berhasil melindungi Gia dengan senjatanya yang ia ubah menjadi perisai.


“Rawr!”


“Gia! Hati-hati sama serigala lainnya!”


“Ya! Tenang aja!”


Seru Gia kepada Dalbert, walaupun…


“Eh?! Kok lo nggak keluarin pedang lo?!


…ia tidak mengeluarkan pedangnya.


“…”


“Rawr!”


“*Chrak!”


“Gia!”


Teriak Dalbert yang melihat lengan Gia yang tercakar oleh salah seekor serigala.


Namun…


“Rawr! Rawr!”


“*Chrak! Chrak! Chrak!”


…lengan Gia terlihat baik-baik saja, walaupun dicakar berkali-kali oleh kumpulan serigala.


“Huh! Untung aja ada sarung tangan ini?!”


“Sarung tangan?!”


“Ya! Untung ada Heavy Glove, Artifact yang aku dapat dari Raja Glennhard!”


Jelas Gia akan artifak barunya.


Dengan sarung tangan yang ia kenakan itu, sekujur lengannya menjadi keras dan kebal akan serangan fisik. Bersama-sama, mereka berhasil mempertahankan diri mereka masing-masing, tanpa harus menyerang serigala-serigala itu.


Akan tetapi…


“Da-Dalbert! Gimana cara kita pergi dari serigala-serigala ini?!”


“Gue juga masih pikirin itu!”


…mereka juga kesulitan untuk menahan serangan bertubi-tubi dari serigala-serigala itu.


Saat mereka berdua berada dalam keadaan yang menyulitkan, tiba-tiba ada suatu hal yang tidak mereka sangka.


“Gruuugh! Grugh, grugh, grugh!”


Mahluk itu menghampiri mereka berdua.


“Ma-Mahluk itu mau nyerang—”


“Nggak, Dalbert! Liat!”


“!!!”


Dalbert pun menyaksikan semua serigala yang menghentikan serangan mereka dan menghampiri mahluk itu. Dengan kehadiran mahluk itu, semua serigala mulai bertindak seakan mereka ingin dimanjakan olehnya.


“Serigala-serigala ini… berhenti serang kita? Artinya…”


“Mereka serang kita karena tadi kita dianggap bahaya ya?”


Tanya Gia yang sama herannya dengan Dalbert.


Sambil bermain bersama serigala-serigala itu…


“Grugh! Gruuugh!”


“*Phuk!”


…mahluk itu memeluk mereka berdua dengan tubuh besarnya.


“Eh?! Ke-Kenapa gue ikutan di pe—”


“Rrrrr!”


“…”


Dalbert yang hendak kesal dengan tindakan mahluk itu pun ditakutkan dengan serigala-serigala yang hampir menerkamnya.


Sedangkan Gia…


“*Phuk!”


…membalas pelukan mahluk itu dengan hangat.


Setelah mereka bertiga berpelukan bersama, Gia hendak berbicara dengan mahluk itu.


“Kamu bisa paham kata-kata aku, kan?”


“Grugh! Grugh, grugh, grugh!”


Balas mahluk itu sambil mengangguk.


“Kamu punya nama? Kalo punya, aku boleh tau nggak nama kamu siapa?”


“Grugh…”


Mahluk itu melakukan pose berpikir a la dirinya.


“Di-Dia ngapa—”


“Ssst! Jangan berisik!”


“I-Iya…”


Balas Dalbert ketika disuruh diam oleh Gia.


Sambil mereka menunggu sejenak, mahluk itu menemukan ide.


“Gru grugh!”


Jawab mahluk itu, sambil menuliskan namanya di atas tanah.


“Ma… chi… nno? Nama kamu Machinno?”


“Grugh! Grugh, grugh, grugh, grugh!”


Angguk mahluk yang bernama Machinno itu dengan penuh semangat.


“Halo Machinno! Nama aku Gia! Dia Dalbert!”


“Ha… Halo.”


“Gruuuugh!”


Balas Machinno dengan riang gembira.


Melihat reaksinya yang sangat bahagia, Gia pun membisikkan sesuatu kepada Dalbert.


“Dalbert, keliatannya suasana hati dia lagi bagus. Jangan sampe kita tanya pertanyaan-pertanyaan yang sensitif, ya?”


“O-OK…”


Balas Dalbert yang langsung memikirkan cara berbicara dengan Machinno tanpa menyakiti hatinya.


“*Tap, tap…”


Gia pun hendak bertanya kepada Machinno dengan menyentuh pundaknya.


“Machinno…”


“Grugh?”


“Grugh… Gruuuugh! Grugh! Grugh!”


““!!!””


Gia dan Dalbert begitu terkejut ketika melihat Machinno yang menangis.


Melihatnya menangis…


“Woy! Kenapa lo malah bikin dia nangis?!”


…Dalbert menjadi kesal dengan Gia.


“Ma-Mana aku tau kalo dia tiba-tiba na—”


“Grugh! Grugh, gruuugh!”


Machinno langsung menarik Gia dan Dalbert ketika mereka berdua sedang berbicara.


“Eh! Ki-Kita mau ditarik ke ma—”


“Gia! Kita ikutin aja, dulu!”


Seru Dalbert kepada Gia, walaupun sebenarnya Dalbert tidak mempermasalahkan aksi Machinno.


Hanya saja…


“Ternyata ada yang ngikutin kita berdua, ya? Bahkan tanpa elang gue, gue juga udah tau siapa yang ikutin kita!”


…ia menyadari ada yang mengikuti mereka secara diam-diam.


“Gruuuggh… Gruuuggh…”


Machinno pun terus menarik mereka sambil menangis.


Ketika ia sampai, ia memperlihatkan singa betina yang terbunuh oleh warga Clamista.


“Grugh! Gruuugh, grugh, grugh, gruuggh! Grugh!”


Jelas Machinno sambil memperagakan kejadian yang terjadi sebelum ia menyerang Clamista.


Melihat caranya menjelaskan rangkaian cerita, Gia dan Dalbert pun mengerti alasan kemarahan Machinno.


“Machinno, maafin warga desa ya.”


“Grugh?”


“Nggak cuma lo doang, kok. Kalo tau kejadiannya kayak gini, gue juga kesel, Machinno!”


Seru Dalbert yang begitu marah, hingga urat yang terlihat di dahinya.


Melihat reaksi Dalbert…


“Gurgh!”


…Machinno justru takut dan bersembunyi di balik Gia.


Dalbert pun menjadi canggung.


Namun, kecanggungan yang ia rasakan saat ini seketika berubah menjadi amarah yang lebih besar.


“Da-Dalbert, keliatannya reaksi kamu berlebihan deh.”


“O-Oh gitu? Ma-Maafin gue, Machinno. Gue nggak ada maksud—”


“*Syut!”


“Shield!”


“*Chrung…”


Saat sedang meminta maaf, seketika terlihat bola baja tebal yang hendak menembak Machinno.


Beruntung Dalbert selalu waspada dan menahan tembakan tersebut dengan perisainya.


“Cepet keluar lo, Berius!”


“B-Berius?!”


“…”


““!!!””


Gia dan Machinno dikejutkan dengan kedatangan Berius yang telah ditunggu oleh Dalbert.


“Dalbert! Daritadi kamu udah tau


kalo dia ngikutin kita?!”


“Ya. Maaf kalo gue baru ngomong sekarang, karena gue nggak mau lo tetep fokus untuk hibur Machinno aja!”


“Dalbert…”


Gia begitu tersanjung dengan Dalbert.


“Lo udah tau kalo gue ikutin kalian semua, ya?”


“Hmph! Gue ini Observer! Bahkan tanpa pake artifak gue, gue juga udah tau kalo lo bakal ngikutin kita!”


Tegas Dalbert dengan kesal.


“…”


Berius menatap Lencana Petualang yang dikenakan Dalbert pada ujung lengannya.


“Hmph! Kasta Biru aja sombong,


lo!”


“Apa lo bilang?!”


Dalbert begitu kesal dengan kata-kata Berius yang meremehkannya.


“Berius! Apa maksud kamu yang mau tembak Machinno?!”


Tanya Gia dengan kesal kepada Berius.


Mendengar Gia yang menyebut nama mahluk itu dengan nama, Berius pun menjadi penasaran akan sesuatu.


“Machinno? Apa maksud lo? Nama monster itu?”


“!!!”


Mendengar pertanyaan Berius membuat Gia begitu kesal.


“*Swung!”


Ia pun mengeluarkan World Quaker


miliknya.


Akan tetapi…


“Grugh! Grugh, grugh, grugh, grugh!”


…Machinno justru meminta Gia untuk memasukkan pedang miliknya kembali.


“Jaga mulut kamu, Berius—”


“Gue tanya sama kalian berdua!”


““…””


“Dari mana kalian tau nama dia?!”


Tanya Berius kepada mereka berdua.


“Dia yang tulisin di tanah! Artinya dia—”


“Hoo, tulis di tanah? Tapi…”


““…””


“…apa itu nama asli dia?”


Kembali tanya Berius kepada mereka berdua.


“Coba perhatiin tulisan di lengan dia!”


“…”


Mendengar Berius, Gia pun memperhatikan tulisan yang berada di lengan Machinno.


“MACHINNO-131D?”


Tanya Gia yang heran dengan kode yang ia baca.


Berius yang mengetahui kode tersebut menjelaskan kepada mereka berdua siapa Machinno yang sebenarnya.


“Tau kode itu maksudnya apa?!”


“Ng-Nggak.”


“Ya. Dia itu hasil eksperimen dari Projek Nomor Seratus Tiga Puluh Satu Versi Keempat, yang dikelola sama Guild rusak! Tambah lagi, keliatannya dia nggak lebih dari eksperimen gagal yang nggak bisa ngomong!”


““!!!””


Gia dan Dalbert begitu terkejut akan penjelasan Berius.


Namun, penjelasan tidak hanya berhenti sampai situ saja.


“Perhatiin baik-baik monster itu!”


“Ja-Jangan sebut dia mon—”


“Walaupun ada sesuatu yang kuno dari dia, tapi dia punya fisik besar yang mirip Ogre, lengan panjang yang mirip Bathiman, sama kulit yang mirip Lizardman. Pastinya kalian tau kan mahluk yang campur aduk kayak gitu tuh apa?!”


Tanya Berius dengan tegas.


Dengan pertanyaan itu, Gia dan Dalbert memikirkan jawaban yang sama.


““Chimera.””


Melihat reaksi mereka berdua, Berius merasa bahwa mereka mengetahui jawaban yang ia tanyakan.


Lalu ia melanjutkan penjelasannya kepada mereka.


“Selain itu, nama projek dia itu “MACHINNO!” Artinya dia itu nggak lebih dari mesin yang bisa dibuang kapan aja!”


“!!!”


Gia semakin kesal dengan penjelasan Berius.


Akan tetapi, ada yang lebih kesal daripadanya.


“Cu-Cukup! Kamu nggak pantes ngomong gitu—”


“Intinya! Dia itu nggak lebih dari ciptaan najis dari—”


“*Dor!”


“*Shrrrk…”


Dalbert yang begitu kesal langsung merubah perisainya menjadi pistol, di mana peluru dari pistolnya menggores pipi Berius.


“Gruuuurgggghh…”


Machinno menangis karena begitu sedih mendengar kebenaran tentang dirinya.


“Ma-Machinno, jangan denger dia, ya?”


Kata Gia, dengan niat menghibur Machinno.


“Ya. Gia bener, Machinno.”


“Gruugh…”


“Gue nggak peduli masa lalu lo. Karena menurut gue, lo bukan monster! Yang ada, orang ini yang lebih mirip sama monster!”


“…”


Berius hanya menatap Dalbert dengan dingin.


“Cih! Lagi-lagi gue harus lawan Petualang!”


Pikir Berius sambil melihat Dalbert yang terus mengarahkan pistolnya ke hadapannya.


“Sial! Andai mereka tau tujuan diciptainnya monster itu untuk apa!”


Kembali pikir Berius, sambil bersiap-siap menghadapi Dalbert.


“Gia, bawa Machinno pergi dari sini.”


“Ta-Tapi—”


“Cepetan!”


“O-OK!”


Mendengar peringatan Dalbert, Gia pun membawa pergi Machinno.


Sedangkan Dalbert…


“Hmph! Andai lo tau siapa gue sebenernya, Kasta Biru!”


“Harusnya gue yang ngomong gitu, Pemburu!”


…berusaha menahan Berius yang hendak membunuh Machinno.