Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 77. Similar Voices



Hm? Kayaknya tadi gue denger suara Myllo,


deh…


Apa cuma perasaan doang kali, ya…


“(Si…Siapa kau sebenarnya?!)”


“…”


Kayaknya Naga yang nantangin gue tadi


masih kaget karena gue ngalahin mereka semua.


“(Kau… Kau itu orang yang sudah pernah


pergi ke luar semesta ini, benar?!)”


Hah?! Dia tau gue?!


Tapi…dia bilang ‘pernah’?!


“Ka…Kayaknya lo salah. Gue ‘dateng’ dari


luar, bukan ‘pernah ke’ luar.”


“(Haha…sepertinya kau masih belum paham


tentang konsep Sirkulasi Roh, ya.)”


“Sirkulasi Roh?”


Naga ini pun jelasin ke gue maksud konsep


yang dia sebut tadi.


Sebelum Roh punya Tubuh sama Jiwa, mereka


itu semacem bibit yang nantinya disebar di dunia.


Kalo Tubuh mungkin dia bisa jadi apa aja,


entah jadi Manusia, Elf, Beastman, dan lainnya. Tapi kalo Jiwa, itu tergantung


kepercayaan sama panggilan masing-masing.


Kalo mereka mati, mereka bener-bener


ninggalin Tubuh sama Jiwa mereka.  Nantinya, mereka balik lagi ke Sirkulasi Roh, untuk lahir lagi jadi


orang yang baru, memori yang baru, Tubuh yang baru, sama Jiwa yang baru.


Tapi ada juga kejadian di mana orang yang


mati, Roh-nya ninggalin Tubuh-nya, tapi dia bawa Jiwa dia bareng  ke Sirkulasi Roh.


Kalo berhasil lahir ke dunia bareng


Jiwa-nya, mereka lahir lagi jadi apa yang disebut Reinkarnasi. Kalo gagal, Jiwa


yang dibawa Roh itu meledak, abis itu Roh-nya keluar dari Sirkulasi Roh.


Biasanya Roh yang keluar tadi nyasar di dunia yang lain.


“(Namun, ketika pribadi dari Roh tersebut


mati di semesta lain, Roh tersebut pasti akan menemukan jalannya kembali ke


Sirkulasi Roh di semesta ini dan terlahir di dunia ini.)”


“Hah?! A…Artinya…”


“(Ya. Kau


mati di semesta ini, masuk ke Sirkulasi Roh, dan terdampar di semesta lain.)”


Artinya gue ini penduduk asli dunia ini?!


Tapi, siapa gue sebelum lahir lagi?!


“(Itu adalah pertanyaan yang harus kau


cari sendiri.)”


Hmm…


Kalo dipikir-pikir lagi, ngapain juga gue


peduli tentang siapa gue sebelumnya? Kan ini hidup yang sekarang gue jalanin.


Mending gue fokus aja dulu.


“(Haha! Kau benar, Mahluk Fana!)”


***** nih Naga! Baca pikiran gue mulu!


“Daripada manggil gue kepanjangan kayak


gitu, mending lo panggil gue Djinn aja.”


“(Hmm…Djinn, ya. Baiklah! Panggil aku


Rakhzar!)”


“OK, Rakhzar. Kalo gitu, gue lanjut jalan


lagi untuk nyari temen-temen gue.”


“(Ya. Senang bertarung dengan anda, Djinn!


Kelak kita bertemu lagi, aku akan mengalahkanmu!)”


“Hmph! Boleh kita coba kapan-kapan!”


“*Fwup, fwup… (suara kepakan sayap)”


Naga yang namanya Rakhzar itu pergi, walaupun


temen-temennya masih pada tumbang di sini.


……………


Gue keliling-keliling tempat ini sambil


nyari dua bocah sialan itu. Sampe ujung-ujungnya gue bisa di gunung yang gede


banget dari jauh.


“…”


Nggak, itu kayaknya bukan gunung. Entah


kenapa gue liatnya kayak istana.


Akhirnya gue coba jalan ke arah istana


itu. Selama gue jalan ke arah istana itu, gue masuk ke dalem goa.


“*Brrr…(suara dataran terguncang)”


Di dalem goa, ternyata lebih berasa getaran


gempa yang gue rasain darita—


“kyaaaaa…”


Hah? Kok kayak ada suara orang?


Tapi kok kayak kenal suaranya?


Hm? Kayaknya suaranya dari a—”


“KYAAAAA!!!”


Lah itu kan…Winona?!


Ah, mending gue tangkep aja dulu!


“Ah, Djinn?! Kok aku—”


“Grraaaggghh!”


Duh! Si Cacing Raksasa ini!


“*Dhuk! (suara menendang)”


“Grrraaa…..”


Untung sekali tendang langsung hancur tuh,


cacing!


“Dji…Djinn…untung aku ketemu kamu…”


Hah?! Nih cewek kenapa mukanya merah?!


“Tambah lagi, cara kamu tangkap aku… A…Aku


jadi merasa kayak putri kerajaan!”


Hah?!


“Kyaaa! Aku cinta kamu, Djinn! Muuu…”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Aduuuuuhhh!”


Nih bocil orang tuanya siapa, sih?!


“Heh! Masih kecil! Jangan cinta-cintaan!”


“Enak aja! Gini-gini umur aku udah 31


tahun!”


“13 tahun kali maksudnya?!”


“Kurang ajar! Aku lebih tua daripada


kamu!”


Terserah dia deh. Mending gue turunin dia


dulu aja.


Eh, tunggu! Kok…


“Win.”


“Hah? Kamu menang apa?”


“Gue manggil lo! Bukan ngomong Bahasa


Inggris!”


Kenapa nih orang tiba-tiba bisa Bahasa


Inggris?!


“Lo kenapa bisa ada di sini? Bukannya lo


tadi mau jaga di luar bareng yang lain?”


“Me…Mereka dateng!”


“Siapa? Erkstern?”


“Ya!”


Abis itu, Winona jelasin semua kronologi


mereka semua yang diserang Erkstern sama temen-temennya.


Tapi yang bikin gue kaget itu waktu Winona


bilang dia harusnya udah mati kalo nggak ada Urlant, yang korbanin nyawanya demi


mereka.


“Urlant nekat juga, ya…”


“Ya. Makanya itu, untuk hormatin


permintaan dia yang mau jaga kalian bertiga, aku sama yang lain masuk ke tempat


ini. Tapi kita…”


“Kepisah-pisah, kan? Makanya itu gue juga


nyari Myllo sama Gia. Tapi malah ketemu lo duluan.”


“Ya. Seenggaknya kita nggak sendirian.”


“Y…Ya…”


Gue nggak tau apa maksud bocil ini ngomong


kayak gitu…


“Jadi, kamu mau kemana sekarang?”


“Ada satu tempat yang tadi gue liat dari


jauh yang tinggi banget. Gue kayaknya mau kesana.”


“Baik. Aku cuma bisa nemenin kamu aja.”


“Yaudah.”


Selama jalan ke tempat itu, ada banyak


yang gue tanya-tanya ke Winona.


“Selama lo jalan, udah ketemu siapa aja?”


“Belum ada. Selama aku jalan sendirian,


untungnya aku belum ketemu Erkstern sama yang lainnya.”


“Berarti lo sampe sini cuma ketemu cacing


raksasa itu doang?”


“Cacing raksasa? Maksud kamu Wyrm?”


Hah? Apa namanya?


“Jangan bilang…kamu udah Tingkat Kuning,


tapi nggak tau Wyrm?! Atau yang lebih parah lagi, kamu nggak tau apa-apa


tentang Dragonkin?!”


“Nggak, hehe…”


“Haha, hehe, haha, hehe! Masa kamu nggak


tau apa-apa tentang mahluk itu?!”


Mana gue tau! Nyampe setahun aja juga


belom di dunia ini!


“Haaaaahhh… Denger ya! Dragonkin itu


mahluk alam yang terbentuk dari sisa-sisa Mana dari mayat Naga! Ada yang jadi Wyvern, Drake, sama Wyrm!”


“O…Ooohhh…”


Artinya gue tadi masuk ke dalem mulutnya


Wyrm, ya?


Abis itu Winona jelasin ciri-ciri dari


tiga jenis Dragonkin.


Wyvern itu punya sayap sama dua kaki,


Drake empat kaki tanpa sayap, Wyrm itu yang bentuknya kayak cacing raksasa


tadi.


Tapi, gue jadi mau nanya sesuatu abis


denger penjelasan dia.


“Win.”


“Apa?!”


“Kalo yang punya 4 kaki sama sayap itu


Naga, kan?”


“Iya.”


“Oh, berarti 4 Monster yang gue hajar


tadi…Naga ya…”


“Heh! Naga itu bukan Monster! Tambah lagi,


maksud kamu apa yang kamu hajar tadi?!”


“Ya…Naga.”


“HAAAAAHHH??! KAMU HAJAR 4 NAGA


SENDIRIAN?!”


Hah?! Kok kaget?!


“Asal kamu tau, ya! Kalo ada Quest berburu


1 Naga, harusnya itu udah Tingkat Jingga ke atas!”


Hah?! Kasta Jingga?!


“Lah, Quest yang kita terima aja Quest


Kuning!”


“Kan Quest kita cuma ‘Investigasi’ bukan


‘Berburu’!”


Oh ya, masuk akal.


“Mungkin harusnya kamu udah—”


“Win! Liat itu!”


“!!!”


Apaan ini?!


Kaki empat, ada sayap. Artinya ini semua


bangkai Naga kan?!


“…”


“Win! Lo mau kemana?!”


“…”


Dia sentuh salah satu Naga.


“Darahnya masih hangat! Naga ini…”


“Baru aja dibunuh, ya?”


Ternyata bisa dibunuh, ya?


Padahal gue udah keras banget hajar


mereka, tapi mereka cuma pingsan doang. Siapa kira-kira yang bisa bunuh Naga?


“Ji…Jiwa mereka kosong! Artinya—”


“Erkstern sama Dragonewt lainnya, ya?”


“Kamu benar! Karena… Dragonewt itu salah


satu mahluk yang bisa bunuh Naga!”


Hah?! Dragonewt bisa bunuh Naga?!


“Dragonewt itu lahir karena Manusia zaman


kuno makan Jiwa dari Naga. Dari yang aku tau, Manusia-Manusia itu makan Jiwa


Naga untuk bunuh Naga!”


“Artinya…itu sama aja kayak Naga ngebunuh


Naga nggak sih?”


“Kamu ada benarnya.”


“Lah, terus sebelum diambil Jiwa-nya,


siapa yang bisa bunuh Naga itu?”


“Yang aku tau sih cuma Naga sama Dragonewt!


Karena pada akhirnya, Dragonewt itu pasukan khusus yang dibentuk Naga selama


Dragon War!”


Dragon War?


Kayaknya gue belom denger penjelasan


tentang itu dari Meldek.


“Yaudah, kita waspada aja. Mending kita


lanjutin aja perjalanan kita ke istana yang gue bilang tadi.”


“Ya…”


Akhirnya kita lanjutin perjalanan kita ke


istana yang gue liat tadi.


Selama kita jalan ke istana, kita bisa


liat ada banyak bangkai Naga.


Dari yang gue itung sih, kurang lebih ada


15 Naga yang udah nggak punya Jiwa.


“Ah, nyampe juga.”


“I…Ini istana yang kamu sebut?!”


“Ya.”


“Bukannya…itu gunung?”


“Gue juga nggak tau itu apa. Mending kita


coba ke dalem—”


“(Yang


Mulia…)”


Hah?! Suara siapa itu?!


“Win, lo denger ada yang ngomong, nggak?”


“Hah? Ngomong? Kan kamu yang lagi


ngomong…”


Hah? Kayaknya dia nggak denger sua—


“(Kemarilah,


Yang Mulia…)”


Kemari? Kemana maksudnya?


“*Grrr…bruk! (suara batu retak dan


hancur)”


“Djinn…kaki gunung itu…”


“Kayak pintu yang dibuka…”


“(Masuklah,


Yang Mulia…)”


Siapa sih yang ngomong?! Kok kayak


bisik-bisik di kepala gue?!


Tapi kalo gue inget kata-kata Callum…


“Carilah…7


Hidden Dungeon lainnya di semesta ini… Yang Mulia… Karena itu lah yang…akan…membantu


Anda…”


Hmm… Mungkin keliatan misterius, tapi kan


semua juga misterius di mata gue yang belom ada setahun di dunia ini.


“Ayo kita masuk tempat itu.”


“Hah?! Kamu ya—”


“…”


“Eh! Tunggu!”


Maaf Win, gue terlalu terpaku sama apa


yang ada di dalem tempat ini.


Akhirnya gue sama Winona masuk ke dalem


tempat ini.


Waktu kita masuk ke dalem…


“…”


…gue ngeliat gambar lukisan.


Kayaknya ini yang disebut mural kali, ya.


Masalahnya…


“Djinn, kamu ngapain sih ngeraba-raba


dinding itu?”


“Gue penasaran sama gambar mural ini.”


“Hah?! Mural?! Maksud kamu apa?!”


“Hah?! Ini ada mural!”


“Di mana sih?! Kamu berkhayal, ya?!”


…cuma gue aja yang kayaknya bisa liat


lukisan ini.


Sambil kita jalan makin ke dalem, entah


kenapa ada suara dari lukisan ini.


“Anda


salah besar! Yang Maha Agung!”



“Jelasin


ke kita semua apa arti Keadilan?!”



“Tidak


akan Kubiarkan Mahluk itu merusak apa yang semakin rusak. Maka Aku akan


mengadilinya datang untuk mengadili-Nya.”


Gue nggak ngerti maksud dari mural-mural


ini.


Jangankan itu, cuma gue aja yang bisa liat


atau denger ini semua pun juga misteri besar buat gue.


Kita berdua masuk makin dalem, sampe


tiba-tiba kita berdua mentok di depan pintu yang gede banget, yang bahkan


tingginya mungkin ada 20 meter!


“Gi…Gimana caranya kita buka pintu sebesar


itu, Djinn?!”


“Gue juga nggak ta—”


“(Masuklah,


Yang Mulia…)”


“*KRRUUUUKKK… (suara pintu besar terbuka)”


““!!!””


Waktu pintu ini dibuka, suaranya kenceng


banget! Tambah lagi, gemanya yang bikin kita berdua sakit kuping!


““…””


“Aduh! Telingaku sakit banget!”


“Seenggaknya pintunya udah kebuka.”


“I…I…Iya sih…”


Hm? Kenapa dia gemeteran? Nggak cuma


gemeteran aja, dia juga keliatan keringet dingin kayak gitu.


“Dji…Dji…Djinn… Ke…Kenapa aku takut banget


masuk situ…”


“Yaudah kalo takut, lo jalan di belakang


gue aja.”


“He…He-em…”


Akhirnya Winona jalan di belakang gue


sambil kita berdua masuk tempat ini.


Tapi makin lama…


“…”


“Djinn…?”


…kenapa gue makin ngerasain ada bahaya di


depan gue?


Kita berdua jalan terus, sampe


ujung-ujungnya…


“Si…Siapa orang itu?! Ke…Kenapa dia bisa


duduk tenang kayak gitu?!”


“Gue nggak tau…”


…ada orang yang jauh di depan kita.


Dari yang gue liat sih, di ruang yang


seluas ini, orang itu cuma duduk sambil tidur doang di dalem. Kalo diperhatiin


baik-baik sih, orang ini kesannya kayak Raja.


Walaupun dia cuma duduk sambil tidur


doang, entah kenapa insting gue bilang orang ini bahaya banget.


Daripada penasaran, gue niatnya samperin


Raja ini.


“Dji…Djinn! Kamu yakin mau—”


“Ya. Kayaknya dia Raja-nya. Mungkin dia


tau di mana temen-temen kita lainnya.”


Akhirnya kita berdua ada di depan Raja


ini.


“Permisi, kita orang yang dateng dari luar


tempat ini.”


“…”


“Halooo!!! Permisi!!!”


“Djinn, Djinn, Djinn! Hati-hati sama orang


i—”


“…”


“Dji…Djinn!!!”


Gue jalan terus ke deket orang ini. Waktu


gue sampe di depannya, gue sentuh lehernya.


“Aw!”


“Djinn! Kamu ngapain?!”


“Orang ini panas banget! Tapi…nggak ada


denyut nadinya sama seka—”


“(Masuklah!


Kemarilah! Kami menunggu anda, Yang Mulia!)”


“*Krieek… (suara pintu terbuka)”


“!!!”


Entah kenapa, semenjak ada bisikan itu di


kepala gue, tambah lagi ada pintu yang kebuka di belakang raja ini, gue


bawaannya makin mau masuk ke dalem ruangan itu.


“Djinn?! Djiiiinnn!!!”


Gue jalan terus.


Walaupun gue denger panggilan dari Winona,


gue tetep jalan ke dalem ruangan itu tanpa peduliin panggilannya.


“Eh?! Kok kamu diem aja?! Tunggu aku!”


Gue pun masuk ruangan ini. Tapi untuk


Winona…


“*Krrieekk…dum! (suara pintu tertutup)”


“…Djinn…kamu denger aku, nggak…”


…dia gue tinggalin. Pintunya udah ketutup


waktu gue masuk, jadinya dia nggak bisa masuk.


Tapi di dalem ruangan ini…


Ada pedang yang dipasang di atas altar


gitu.


“???”


Kenapa semua dinding di ruangan ini muncul


aksara yang terang banget?


“…”


Tiba-tiba aksara ini bergerak ke satu


titik di dinding, yang ujung-ujungnya muncul tulisan…


“Ini Adalah Catatan yang Aku Simpan. Jika


Kau Mampu Membaca Catatan Ini, Maka Kau Adalah Pria Terjanji yang dinantikan


Dunia Ini.”


Gue nggak ngerti maksudnya, sampe


tiba-tiba…


“*Crrrkkk… (suara sengatan petir)”


“*Jgruummm! (suara sambaran petir)”


…gue disamber petir, yang bikin gue nggak


sadar.