
Hm? Kayaknya tadi gue denger suara Myllo,
deh…
Apa cuma perasaan doang kali, ya…
“(Si…Siapa kau sebenarnya?!)”
“…”
Kayaknya Naga yang nantangin gue tadi
masih kaget karena gue ngalahin mereka semua.
“(Kau… Kau itu orang yang sudah pernah
pergi ke luar semesta ini, benar?!)”
Hah?! Dia tau gue?!
Tapi…dia bilang ‘pernah’?!
“Ka…Kayaknya lo salah. Gue ‘dateng’ dari
luar, bukan ‘pernah ke’ luar.”
“(Haha…sepertinya kau masih belum paham
tentang konsep Sirkulasi Roh, ya.)”
“Sirkulasi Roh?”
Naga ini pun jelasin ke gue maksud konsep
yang dia sebut tadi.
Sebelum Roh punya Tubuh sama Jiwa, mereka
itu semacem bibit yang nantinya disebar di dunia.
Kalo Tubuh mungkin dia bisa jadi apa aja,
entah jadi Manusia, Elf, Beastman, dan lainnya. Tapi kalo Jiwa, itu tergantung
kepercayaan sama panggilan masing-masing.
Kalo mereka mati, mereka bener-bener
ninggalin Tubuh sama Jiwa mereka. Nantinya, mereka balik lagi ke Sirkulasi Roh, untuk lahir lagi jadi
orang yang baru, memori yang baru, Tubuh yang baru, sama Jiwa yang baru.
Tapi ada juga kejadian di mana orang yang
mati, Roh-nya ninggalin Tubuh-nya, tapi dia bawa Jiwa dia bareng ke Sirkulasi Roh.
Kalo berhasil lahir ke dunia bareng
Jiwa-nya, mereka lahir lagi jadi apa yang disebut Reinkarnasi. Kalo gagal, Jiwa
yang dibawa Roh itu meledak, abis itu Roh-nya keluar dari Sirkulasi Roh.
Biasanya Roh yang keluar tadi nyasar di dunia yang lain.
“(Namun, ketika pribadi dari Roh tersebut
mati di semesta lain, Roh tersebut pasti akan menemukan jalannya kembali ke
Sirkulasi Roh di semesta ini dan terlahir di dunia ini.)”
“Hah?! A…Artinya…”
“(Ya. Kau
mati di semesta ini, masuk ke Sirkulasi Roh, dan terdampar di semesta lain.)”
Artinya gue ini penduduk asli dunia ini?!
Tapi, siapa gue sebelum lahir lagi?!
“(Itu adalah pertanyaan yang harus kau
cari sendiri.)”
Hmm…
Kalo dipikir-pikir lagi, ngapain juga gue
peduli tentang siapa gue sebelumnya? Kan ini hidup yang sekarang gue jalanin.
Mending gue fokus aja dulu.
“(Haha! Kau benar, Mahluk Fana!)”
***** nih Naga! Baca pikiran gue mulu!
“Daripada manggil gue kepanjangan kayak
gitu, mending lo panggil gue Djinn aja.”
“(Hmm…Djinn, ya. Baiklah! Panggil aku
Rakhzar!)”
“OK, Rakhzar. Kalo gitu, gue lanjut jalan
lagi untuk nyari temen-temen gue.”
“(Ya. Senang bertarung dengan anda, Djinn!
Kelak kita bertemu lagi, aku akan mengalahkanmu!)”
“Hmph! Boleh kita coba kapan-kapan!”
“*Fwup, fwup… (suara kepakan sayap)”
Naga yang namanya Rakhzar itu pergi, walaupun
temen-temennya masih pada tumbang di sini.
……………
Gue keliling-keliling tempat ini sambil
nyari dua bocah sialan itu. Sampe ujung-ujungnya gue bisa di gunung yang gede
banget dari jauh.
“…”
Nggak, itu kayaknya bukan gunung. Entah
kenapa gue liatnya kayak istana.
Akhirnya gue coba jalan ke arah istana
itu. Selama gue jalan ke arah istana itu, gue masuk ke dalem goa.
“*Brrr…(suara dataran terguncang)”
Di dalem goa, ternyata lebih berasa getaran
gempa yang gue rasain darita—
“kyaaaaa…”
Hah? Kok kayak ada suara orang?
Tapi kok kayak kenal suaranya?
Hm? Kayaknya suaranya dari a—”
“KYAAAAA!!!”
Lah itu kan…Winona?!
Ah, mending gue tangkep aja dulu!
“Ah, Djinn?! Kok aku—”
“Grraaaggghh!”
Duh! Si Cacing Raksasa ini!
“*Dhuk! (suara menendang)”
“Grrraaa…..”
Untung sekali tendang langsung hancur tuh,
cacing!
“Dji…Djinn…untung aku ketemu kamu…”
Hah?! Nih cewek kenapa mukanya merah?!
“Tambah lagi, cara kamu tangkap aku… A…Aku
jadi merasa kayak putri kerajaan!”
Hah?!
“Kyaaa! Aku cinta kamu, Djinn! Muuu…”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Aduuuuuhhh!”
Nih bocil orang tuanya siapa, sih?!
“Heh! Masih kecil! Jangan cinta-cintaan!”
“Enak aja! Gini-gini umur aku udah 31
tahun!”
“13 tahun kali maksudnya?!”
“Kurang ajar! Aku lebih tua daripada
kamu!”
Terserah dia deh. Mending gue turunin dia
dulu aja.
Eh, tunggu! Kok…
“Win.”
“Hah? Kamu menang apa?”
“Gue manggil lo! Bukan ngomong Bahasa
Inggris!”
Kenapa nih orang tiba-tiba bisa Bahasa
Inggris?!
“Lo kenapa bisa ada di sini? Bukannya lo
tadi mau jaga di luar bareng yang lain?”
“Me…Mereka dateng!”
“Siapa? Erkstern?”
“Ya!”
Abis itu, Winona jelasin semua kronologi
mereka semua yang diserang Erkstern sama temen-temennya.
Tapi yang bikin gue kaget itu waktu Winona
bilang dia harusnya udah mati kalo nggak ada Urlant, yang korbanin nyawanya demi
mereka.
“Urlant nekat juga, ya…”
“Ya. Makanya itu, untuk hormatin
permintaan dia yang mau jaga kalian bertiga, aku sama yang lain masuk ke tempat
ini. Tapi kita…”
“Kepisah-pisah, kan? Makanya itu gue juga
nyari Myllo sama Gia. Tapi malah ketemu lo duluan.”
“Ya. Seenggaknya kita nggak sendirian.”
“Y…Ya…”
Gue nggak tau apa maksud bocil ini ngomong
kayak gitu…
“Jadi, kamu mau kemana sekarang?”
“Ada satu tempat yang tadi gue liat dari
jauh yang tinggi banget. Gue kayaknya mau kesana.”
“Baik. Aku cuma bisa nemenin kamu aja.”
“Yaudah.”
Selama jalan ke tempat itu, ada banyak
yang gue tanya-tanya ke Winona.
“Selama lo jalan, udah ketemu siapa aja?”
“Belum ada. Selama aku jalan sendirian,
untungnya aku belum ketemu Erkstern sama yang lainnya.”
“Berarti lo sampe sini cuma ketemu cacing
raksasa itu doang?”
“Cacing raksasa? Maksud kamu Wyrm?”
Hah? Apa namanya?
“Jangan bilang…kamu udah Tingkat Kuning,
tapi nggak tau Wyrm?! Atau yang lebih parah lagi, kamu nggak tau apa-apa
tentang Dragonkin?!”
“Nggak, hehe…”
“Haha, hehe, haha, hehe! Masa kamu nggak
tau apa-apa tentang mahluk itu?!”
Mana gue tau! Nyampe setahun aja juga
belom di dunia ini!
“Haaaaahhh… Denger ya! Dragonkin itu
mahluk alam yang terbentuk dari sisa-sisa Mana dari mayat Naga! Ada yang jadi Wyvern, Drake, sama Wyrm!”
“O…Ooohhh…”
Artinya gue tadi masuk ke dalem mulutnya
Wyrm, ya?
Abis itu Winona jelasin ciri-ciri dari
tiga jenis Dragonkin.
Wyvern itu punya sayap sama dua kaki,
Drake empat kaki tanpa sayap, Wyrm itu yang bentuknya kayak cacing raksasa
tadi.
Tapi, gue jadi mau nanya sesuatu abis
denger penjelasan dia.
“Win.”
“Apa?!”
“Kalo yang punya 4 kaki sama sayap itu
Naga, kan?”
“Iya.”
“Oh, berarti 4 Monster yang gue hajar
tadi…Naga ya…”
“Heh! Naga itu bukan Monster! Tambah lagi,
maksud kamu apa yang kamu hajar tadi?!”
“Ya…Naga.”
“HAAAAAHHH??! KAMU HAJAR 4 NAGA
SENDIRIAN?!”
Hah?! Kok kaget?!
“Asal kamu tau, ya! Kalo ada Quest berburu
1 Naga, harusnya itu udah Tingkat Jingga ke atas!”
Hah?! Kasta Jingga?!
“Lah, Quest yang kita terima aja Quest
Kuning!”
“Kan Quest kita cuma ‘Investigasi’ bukan
‘Berburu’!”
Oh ya, masuk akal.
“Mungkin harusnya kamu udah—”
“Win! Liat itu!”
“!!!”
Apaan ini?!
Kaki empat, ada sayap. Artinya ini semua
bangkai Naga kan?!
“…”
“Win! Lo mau kemana?!”
“…”
Dia sentuh salah satu Naga.
“Darahnya masih hangat! Naga ini…”
“Baru aja dibunuh, ya?”
Ternyata bisa dibunuh, ya?
Padahal gue udah keras banget hajar
mereka, tapi mereka cuma pingsan doang. Siapa kira-kira yang bisa bunuh Naga?
“Ji…Jiwa mereka kosong! Artinya—”
“Erkstern sama Dragonewt lainnya, ya?”
“Kamu benar! Karena… Dragonewt itu salah
satu mahluk yang bisa bunuh Naga!”
Hah?! Dragonewt bisa bunuh Naga?!
“Dragonewt itu lahir karena Manusia zaman
kuno makan Jiwa dari Naga. Dari yang aku tau, Manusia-Manusia itu makan Jiwa
Naga untuk bunuh Naga!”
“Artinya…itu sama aja kayak Naga ngebunuh
Naga nggak sih?”
“Kamu ada benarnya.”
“Lah, terus sebelum diambil Jiwa-nya,
siapa yang bisa bunuh Naga itu?”
“Yang aku tau sih cuma Naga sama Dragonewt!
Karena pada akhirnya, Dragonewt itu pasukan khusus yang dibentuk Naga selama
Dragon War!”
Dragon War?
Kayaknya gue belom denger penjelasan
tentang itu dari Meldek.
“Yaudah, kita waspada aja. Mending kita
lanjutin aja perjalanan kita ke istana yang gue bilang tadi.”
“Ya…”
Akhirnya kita lanjutin perjalanan kita ke
istana yang gue liat tadi.
Selama kita jalan ke istana, kita bisa
liat ada banyak bangkai Naga.
Dari yang gue itung sih, kurang lebih ada
15 Naga yang udah nggak punya Jiwa.
“Ah, nyampe juga.”
“I…Ini istana yang kamu sebut?!”
“Ya.”
“Bukannya…itu gunung?”
“Gue juga nggak tau itu apa. Mending kita
coba ke dalem—”
“(Yang
Mulia…)”
Hah?! Suara siapa itu?!
“Win, lo denger ada yang ngomong, nggak?”
“Hah? Ngomong? Kan kamu yang lagi
ngomong…”
Hah? Kayaknya dia nggak denger sua—
“(Kemarilah,
Yang Mulia…)”
Kemari? Kemana maksudnya?
“*Grrr…bruk! (suara batu retak dan
hancur)”
“Djinn…kaki gunung itu…”
“Kayak pintu yang dibuka…”
“(Masuklah,
Yang Mulia…)”
Siapa sih yang ngomong?! Kok kayak
bisik-bisik di kepala gue?!
Tapi kalo gue inget kata-kata Callum…
“Carilah…7
Hidden Dungeon lainnya di semesta ini… Yang Mulia… Karena itu lah yang…akan…membantu
Anda…”
Hmm… Mungkin keliatan misterius, tapi kan
semua juga misterius di mata gue yang belom ada setahun di dunia ini.
“Ayo kita masuk tempat itu.”
“Hah?! Kamu ya—”
“…”
“Eh! Tunggu!”
Maaf Win, gue terlalu terpaku sama apa
yang ada di dalem tempat ini.
Akhirnya gue sama Winona masuk ke dalem
tempat ini.
Waktu kita masuk ke dalem…
“…”
…gue ngeliat gambar lukisan.
Kayaknya ini yang disebut mural kali, ya.
Masalahnya…
“Djinn, kamu ngapain sih ngeraba-raba
dinding itu?”
“Gue penasaran sama gambar mural ini.”
“Hah?! Mural?! Maksud kamu apa?!”
“Hah?! Ini ada mural!”
“Di mana sih?! Kamu berkhayal, ya?!”
…cuma gue aja yang kayaknya bisa liat
lukisan ini.
Sambil kita jalan makin ke dalem, entah
kenapa ada suara dari lukisan ini.
“Anda
salah besar! Yang Maha Agung!”
…
“Jelasin
ke kita semua apa arti Keadilan?!”
…
“Tidak
akan Kubiarkan Mahluk itu merusak apa yang semakin rusak. Maka Aku akan
mengadilinya datang untuk mengadili-Nya.”
Gue nggak ngerti maksud dari mural-mural
ini.
Jangankan itu, cuma gue aja yang bisa liat
atau denger ini semua pun juga misteri besar buat gue.
Kita berdua masuk makin dalem, sampe
tiba-tiba kita berdua mentok di depan pintu yang gede banget, yang bahkan
tingginya mungkin ada 20 meter!
“Gi…Gimana caranya kita buka pintu sebesar
itu, Djinn?!”
“Gue juga nggak ta—”
“(Masuklah,
Yang Mulia…)”
“*KRRUUUUKKK… (suara pintu besar terbuka)”
““!!!””
Waktu pintu ini dibuka, suaranya kenceng
banget! Tambah lagi, gemanya yang bikin kita berdua sakit kuping!
““…””
“Aduh! Telingaku sakit banget!”
“Seenggaknya pintunya udah kebuka.”
“I…I…Iya sih…”
Hm? Kenapa dia gemeteran? Nggak cuma
gemeteran aja, dia juga keliatan keringet dingin kayak gitu.
“Dji…Dji…Djinn… Ke…Kenapa aku takut banget
masuk situ…”
“Yaudah kalo takut, lo jalan di belakang
gue aja.”
“He…He-em…”
Akhirnya Winona jalan di belakang gue
sambil kita berdua masuk tempat ini.
Tapi makin lama…
“…”
“Djinn…?”
…kenapa gue makin ngerasain ada bahaya di
depan gue?
Kita berdua jalan terus, sampe
ujung-ujungnya…
“Si…Siapa orang itu?! Ke…Kenapa dia bisa
duduk tenang kayak gitu?!”
“Gue nggak tau…”
…ada orang yang jauh di depan kita.
Dari yang gue liat sih, di ruang yang
seluas ini, orang itu cuma duduk sambil tidur doang di dalem. Kalo diperhatiin
baik-baik sih, orang ini kesannya kayak Raja.
Walaupun dia cuma duduk sambil tidur
doang, entah kenapa insting gue bilang orang ini bahaya banget.
Daripada penasaran, gue niatnya samperin
Raja ini.
“Dji…Djinn! Kamu yakin mau—”
“Ya. Kayaknya dia Raja-nya. Mungkin dia
tau di mana temen-temen kita lainnya.”
Akhirnya kita berdua ada di depan Raja
ini.
“Permisi, kita orang yang dateng dari luar
tempat ini.”
“…”
“Halooo!!! Permisi!!!”
“Djinn, Djinn, Djinn! Hati-hati sama orang
i—”
“…”
“Dji…Djinn!!!”
Gue jalan terus ke deket orang ini. Waktu
gue sampe di depannya, gue sentuh lehernya.
“Aw!”
“Djinn! Kamu ngapain?!”
“Orang ini panas banget! Tapi…nggak ada
denyut nadinya sama seka—”
“(Masuklah!
Kemarilah! Kami menunggu anda, Yang Mulia!)”
“*Krieek… (suara pintu terbuka)”
“!!!”
Entah kenapa, semenjak ada bisikan itu di
kepala gue, tambah lagi ada pintu yang kebuka di belakang raja ini, gue
bawaannya makin mau masuk ke dalem ruangan itu.
“Djinn?! Djiiiinnn!!!”
Gue jalan terus.
Walaupun gue denger panggilan dari Winona,
gue tetep jalan ke dalem ruangan itu tanpa peduliin panggilannya.
“Eh?! Kok kamu diem aja?! Tunggu aku!”
Gue pun masuk ruangan ini. Tapi untuk
Winona…
“*Krrieekk…dum! (suara pintu tertutup)”
“…Djinn…kamu denger aku, nggak…”
…dia gue tinggalin. Pintunya udah ketutup
waktu gue masuk, jadinya dia nggak bisa masuk.
Tapi di dalem ruangan ini…
Ada pedang yang dipasang di atas altar
gitu.
“???”
Kenapa semua dinding di ruangan ini muncul
aksara yang terang banget?
“…”
Tiba-tiba aksara ini bergerak ke satu
titik di dinding, yang ujung-ujungnya muncul tulisan…
“Ini Adalah Catatan yang Aku Simpan. Jika
Kau Mampu Membaca Catatan Ini, Maka Kau Adalah Pria Terjanji yang dinantikan
Dunia Ini.”
Gue nggak ngerti maksudnya, sampe
tiba-tiba…
“*Crrrkkk… (suara sengatan petir)”
“*Jgruummm! (suara sambaran petir)”
…gue disamber petir, yang bikin gue nggak
sadar.