Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 20. Meet The Forgetful and The Dummy



Ah, gue pingsan lagi, ya?


Haahh…jadi ngerasa udah biasa masuk di tempat ini lagi…


Ngomong-ngomong Meldek…


Ah, brengsek.


Kenapa gue selalu ditinggal orang-orang di sekeliling gue?


Kalo makin gue inget, bawaannya rasa bersalah gue makin dalem, deh.


Ngomong-ngomong, kalo masuk di ‘tempat’ ini lagi, pasti bentar lagi ada siaran—


“…”


Bener, kan? Tiba-tiba muncul gitu.


“Sampai ketemu nanti, Djinnardio!”


“…”


Dari semua siaran yang gue tonton, inti yang gue dapet sih cuma satu.


Siaran ini cuma siarin tentang Djinnardio sama Vast, sodara sepupunya yang tadi gue lawan.


Dan kalo gue inget-inget, sepupunya ini tuh orang yang mau ngebela Djinnardio waktu dipermaluin di pesta waktu itu. Gue jadi keinget di ‘Siaran Pertama’ waktu gue baru mau masuk ke dunia ini.


Apa mungkin dari semua anggota keluarga besarnya, cuma dia ya yang deket sama Djinnardio?


Kalo sampe bener, mungkin gue ngerasa bersalah karena dendam sama dia.


“…”


Ah, kayaknya gue udah mau sadar.


................


Hmm…


Gue tau kalo gue udah sadar, tapi kenapa gue ngerasa ada pedang yang ngarah ke leher gue?


“…”


Gue yakin banget si sodaranya Djinnardio yang ngarahin pisaunya ke gue.


Tapi udah berapa lama dia nahan kayak gitu? Emangnya nggak pegel?


Huh, untung aja gue masih pura-pura nggak sadar karena gue masih belom mau melekin mata—


“Saya tahu anda sudah sadar! Tidak ada gunanya berpura-pura tidak sadar!”


Hah?! Ketauan?!


Yah, apa boleh buat, lah!


“…”


Waktu gue buka mata, gue bisa sekeliling gue isinya reruntuhan.


Ah bener, ternyata tadi gempa.


Kok bisa tiba-tiba ada gempa?


Apa mungkin itu karena sihir—


“…”


Ah, gue lupa kalo masih ada pedang di leher gue.


“Terus, mau lo apa kalo gue udah sadar?”


“Jawab pertanyaan saya baik-baik! Siapa anda?!”


Kayaknya gak mungkin gak sih kalo gue jawab jujur?


Hm…


“Gue pun lupa siapa gue, apa lagi orang lain?! Tambah lagi gue terlalu lupa sampe nggak tau sistem dunia ini!”


“A…Apa?”


“…”


“Ji…Jika perkataan anda benar, mengapa anda bisa menggunakan Mana?! Anda seharusnya tidak bisa mengguna—”


“GUE NGGAK TAU!”


“*Dhum…(suara tekanan aura)”


“Keugh!”


“Gue bener-bener gak tau apapun! Apa itu Mana?! Apa itu sihir?! Ras apa ini?! Ras apa itu?! Gue nggak tau sama sekali!”


“…”


“Kalo emang lo ngerasa gue bahaya sama gue, bunuh aja gue!”


“A…Apa—”


“Kalo pun gue masih hidup, banyak yang gak suka juga sama gue, kan?!”


“Dji…Dji—”


“Buat apa juga gue dateng di dunia ini kalo cuma ditinggalin lagi?! Tambah lagi, gue cuma jadi korban dari keluarga gue sendiri!”


“Ti…Tidak seperti itu! Maksud sa—”


“EMANG! EMANG GUE GAK LAYAK HIDUP!”


“…”


“Gue punya kesempatan untuk ngejalanin hidup baru, tapi ujung-ujungnya gue ditinggalin lagi!”


“Tu…Tunggu! Apa maksud—”


“Bunuh! Bunuh aja gue!”


“…”


Gue terlalu emosional ngomongnya, bahkan gue gak sadar ada air mata ngalir di pipi gue.


Mulai dari hidup yang gue jalanin di dunia lama gue, pesen terakhir ibu, ‘suara’ waktu itu, sampe gue liat Meldek yang dibunuh se-brutal itu. Semuanya kerangkum jadi rasa emosional ini.


Dan jujur aja, gue akhirnya bisa lagi luapin emosi gue kayak gini, semenjak kepergian Kak Eka.


“Gimana? Gue bukan sodara yang lo kenal, kan?!”


“…”


“*Haaa….fyuuuh…(suara menghela nafas)”


“Apa yang kamu lakukan?”


Dulu gue pernah kepikiran untuk mati, kan? Tambah lagi, cara gue mati juga sakit banget.


Jadi…


“Lo mau nusuk gue, kan? Ayo, gue udah siap!”


Jadi kalo ditusuk kayaknya gak lebih sakit daripada cara mati gue dulu.


“Dji…Dji—”


“Ayo! Tunggu apa?! Gue bukan sodara yang lo kenal du—”


“Diam!”


“*Puk… (suara pelukan)”


“Jangan berkata seperti itu lagi, Djinnardio!”


“…”


“Aku…aku merindukanmu! Kakek juga merindukanmu!”


“…”


“Aku tahu bahwa kamu telah melakukan hal aneh dengan obat-obatan terlarang itu! Aku melihat kamu bagaikan pria yang telah kehilangan nyawa! Jangan bertindak konyol seperti itu lagi!”


“…”


“KAMU MASIH PUNYA AKU DAN KAKEK, DJINNARDIO!”


“…”


Ah, iya ya.


Kalopun gue kehilangan Kak Eka, Pak Jaya, ibu, bahkan Meldek, gue masih punya keluarga yang ada di dunia ini.


Tapi…ini nggak apa-apa?


Gue bahkan bukan Djinnardio, loh…


Dari cara cewek ini nangis demi gue, peluk karena kangen, jadi bikin gue inget apa artinya punya sodara.


“Ma…Maafkan aku, karena tidak bisa apa-apa selama ini, Djinnardio. Mulai sejak kita masih kecil, saat kamu dipermalukan, bahkan saat Bibi Luscika dan Paman Brent…”


“Gue udah denger ceritanya. Makanya itu gue kepikiran untuk palsuin kematian gue. Jadi tolong panggil gue Djinn.”


“Memalsukan kematianmu?”


“Ya. Harusnya lo udah baca beritanya, kan? Gue dibilang mati minum obat-obatan karena stress.”


“Ya, anda benar. Akan tetapi, jika anda memalsukan kematian anda, akan


jadi mustahil bagi anda untuk kembali ke Vam—”


“Ke Va…Vamulran, ya namanya? Justru gue ngejauhin tempat itu. Bukannya disana ladang semua ‘musuh-musuh’ dari keluarga gue?”


“Anda betul, termasuk ayah saya…”


Oh! Ternyata bener itu bapaknya!


“*Puk… (suara pelukan)”


“Apapun pilihanmu, jangankan aku, kakek pun akan mempercayakan sepenuhnya


kepadamu, Djinna—Djinn. Setidaknya aku dan kakek senang jika kau masih bisa


hidup.”


“Ya. Makasih ya…maaf, siapa—”


“Luvast! Panggil aku Luvast, Djinn!”


Kapan terakhir kali gue ngerasa pelukan kayak gini?


Ah, iya.


Sebelum ibu nggak bisa gerak lagi 2 tahun lalu ya?


“…”


“Nggak apa-apa kan kalo gue peluk, Luvast?”


“Ya, Djinn.”


“…”


Selesai pelukan, dia usap air mata gue.


“Ngomong-ngomong, cara bohong lo jelek banget. Kenapa bisa kebalik 'kakak' sama 'adik' yang lo sebut tadi?”


“Ten…Tentu saja aku salah! A…Aku ini tidak pandai berbohong!”


“Nggak pandai bohong atau lupa naskah—”


“Di…Diam! Jangan mengingatkan sifat burukku yang merupakan seorang pelupa!”


Ta…Tapi disebutin sifat buruknya—


“*Bruk! (suara tembok rubuh)”


Hm? Ada yang dateng?


“Nah! Itu mereka!”


“Hehehe! Waktunya kita bunuh ras sombong kayak mereka!”


Tiba-tiba ada sekitar 30 lebih orang yang dateng kepung gue sama Luvast.


“Hey.”


“Hahaha! ‘Kakak Besar’ itu keliatannya marah, ya?!”


“Apanya yang besar?!”


“Payuda—”


“Woy, anjing!”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Mau ngomong apa lo sama sodara gue, HAH?!”


““Hiikkh!””


Nggak tau kenapa, gue jadi marah kalo Luvast dibercandain kayak gitu.


“Hey, tenang saja. Ras Elf sudah biasa dipermalukan seperti itu, Djinn.”


“Tapi kena harus permaluin ras yang beda? Bukannya semua sama aja di dunia ini? Apa yang bikin Manusia lebih spesial? Apa yang bikin Elf lebih spesial? Semua sama aja, kan?”


“Ya, aku sangat setuju denganmu.”


“Yaudah, kalo gitu kita ‘latian’ dulu aja, ya?”


“Hahaha! Baiklah. Aku juga penasaran kamu sekuat apa, Djinn!”


Waktu gue berdiri ditarik sama Luvast, gue langsung hajar semua pasukan ini bareng dia.


Sambil ngehajar 30 orang lebih ini, Luvast ceritain kenapa dia bisa jadi Kakak Besar.


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Argh!”


“Hah?! Lo itu Petualang?!”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Urgh…”


“Benar!”


Ternyata dia Petualang. Dia juga ceritain kalo dia yang diem-diem kasih makan semua tahanan selama jadi Kakak Besar.


Alesan dia jadi Kakak Besar sendiri sebenernya karena diancem sama bos dari Goldiggia.


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Dan dari sini lah aku mengetahui bahwa korban warga Vamulran karena ulah ayah itu bukan hanya kamu saja.”


“*Dhuk! (suara menendang)”


“Kenapa dia bisa jahat kayak gitu, sih?!”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Aku tidak mengetahui alasan pastinya. Satu hal yang kuyakini yakni untuk membuktikan superioritasnya sebagai bukti bahwa ia bisa menjadi raja baru bagi Vamulran.”


“Hah? Maksudnya dengan pamer kekuatan dia, terus dia bisa jadi kandidat raja, gitu?!”


“*Shrak (suara tebasan pedang)”


“Jika kamu bingung, biar aku luruskan sedikit.”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Hm?”


“*Shrak (suara tebasan pedang)”


“Warga Vamulran, khususnya High Elf, sangat menjunjung tinggi kekuatan serta ras mereka, Djinn.”


Oh, iya. Meldek sempet cerita tentang orang-orang Vamulran ya waktu itu.


Mungkin karena dia nggak bisa buktiin kekuatannya waktu perang karena


‘ibu’ gue, makanya dia pamerin kekuatannya di depan rakyatnya sendiri.


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Agh!”


Karena terlalu fokus dengerin ceritanya Luvast, gue sampe nggak nyadar


kalo musuhnya tinggal satu doang.


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Aagh!”


“Jawab pertanyaan saya! Dengan siapakah Bjüdrox bertransaksi?! Kemanakah


semua High Elf itu akan dibawa?!”


“Ka…Kan lo Kakak Besar! Masa lo nanya gue?!”


Lah, bener juga…


“Mereka emangnya pergi kemana? Lo tau?”


“Mereka pergi ke Port Marzhal, entah untuk melarikan diri dari tempat ini, atau untuk menyelesaikan transaksinya.”


“Lo tau tempat tujuan mereka, tapi lo nggak tau sama siapa transaksinya, ya?”


“Benar. Untuk permasalahan transaksi, hanya Bon Kargal dan Viya yang mengetahuinya dari semua Kakak Besar. Sedangkan sisanya hanya memimpin anggota lainnya untuk melakukan perintahnya yang keji.”


Pantesan dia nggak tau apa-apa soal transaksi.


Oh iya! Ada yang gue lupa!


“Woy!”


“Hikh!”


“Mereka bawa—”


“*Grrrr (suara getaran tanah)”


Ini mau gempa lagi?! Jangan bilang—


“*Grungg! (suara ledakan dari tanah)”


““GYAAAAAGGH!””


Hah?! Itu apaan?! Kok tiba-tiba nongol dari tanah?!


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“Djinn, kamu tidak apa-apa, kan?”


“Nggak apa-apa, kok. Cuma banyak debu aja jadi batuk.”


Waktu debunya mulai ilang, gue bisa liat ada orang bareng…apaan itu? Naga Cilik?


“Adududuhh!”


“Ka…Kakak Myllo?! Maafin Cha—”


“Wuhuuu! Char-Char! Kok bersinnya bisa bikin meledak gitu?! Seru banget! Ahahaha!”


Hah?! Bersin?!


Jangan bilang…gempa tadi karena mereka berdua?!