Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 398-1. Unrequited Forbidden Love



““Roaaaaarrr!!!””


Woy! Teriakan apaan tuh! Bikin kaget aja!


“…”


Huuuuuh…! Ternyata ganti siaran ya?!


Untung aja gue lebih siap dari sebelumnya!


““Aaaaargh!””


“G-Gawat! Ada Undead Dragon yang akan menyerang kita semua!”


“Semuanya bersiap-siap! Jangan sampai mereka kerajaan kita!”


Ada kerajaan yang lagi diserang Undead Dragon?!


“…”


Apalagi ada 25 Undead Dragon yang mau serang mereka?!


“Tembak! Sekarang!”


“*Boom, boom, boom…”


““*BOOOMMM……””


“Roaaaaarrr!!! Roaaaaarrr!!!”


Nah loh! Bahkan ditembak pake puluhan meriam pun nggak mempan!


Nggak mungkin mereka bisa kalahin Undead Dragon itu, kecuali…


“*JGRUMMM!!!”


…Melchizedek sama temen-temennya!


“(Keterlaluan…!)”


“*VWUMMMMMM……”


“(Berani-beraninya mereka mengutuk Kaum Naga yang sudah tidak bernyawa!)”


“Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan, Flamiza!”


“*BWUSH!!!”


“Tetapi baik Naga atau Undead Dragon, mereka sama-sama sainganku sebagai Siren!”


Eh! Ternyata Naga yang lagi dinaikin Syllia itu Flamiza?!


“…”


Buset deh! Gede banget!


“(Apa kau bilang, Syllia—)”


“Syllia benar, Flamiza!”


“*FWUSHHH…”


“Karena keberadaan Naga juga selalu mengancam rumahku!”


“(Cih! Jangan samakan Naga lain dengan kaumku! Dasar keterlaluan kalian! Ayasaki! Syllia—)”


“Hey kalian! Mengapa kalian berdebat! Sekarang kita sedang genting—”


““DIAM KAU, FEYROQ!!!””


“Hieeekh!”


B-Buset… kasian banget diteriakin kayak gitu…


“Semuanya! Menyingkirlah! Kali ini aku akan menyelesaikan pertarungan ini!”


““Baik, Melchizedek!””


Hm? Dia mau ngapain—


((Purifying Black Hole))


“*FWUSHHH…”


““Roaaaarr…””


B-B-BUSET!!! DIA BUAT BLACK HOLE?!?!


Karena itu dia bisa tarik semua Undead Dragon yang segede itu?!


“*CHRINGGG…”


Terus semua Undead Dragon itu langsung jadi abu, sehabis dia tarik pake sihirnya?!


“S-Semuanya! Perseus telah tiba!”


“L-L-Luar biasa…! Great Sage Melchizedek dan rekan-rekannya telah mengalahkan seluruh Undead Dragon!”


“Mari kita puji dan serukan nama mereka!”


““PER-SE-US!!! PER-SE-US!!! PER-SE-US…””


“…”


Total dari mereka ada 8, ya?


Eh! 8 orang?!


Bukan harusnya mereka ada 7 orang aja?! Kok tiba-tiba ada 8—


“Hey, Siegfried! Terima kasih banyak atas bantuanmu!”


“Tidak apa-apa, Melchi! Kau adalah sahabatku dan Flamiza! Tidak ada salahnya aku membantumu!”


Siegfried?!


Berarti dia ini… Dracorion yang asli, dong?!


……………


Gue ikutin mereka yang diundang makan bareng raja di negara… apa ya tadi nama negaranya? Gue sendiri juga nggak begitu inget, karena namanya susah banget dicerna.


Abis itu mereka masing-masing di kasih ruang khusus untuk tidur di dalem istana raja, supaya malemnya mereka tidur di sana.


“Alfgorth! Ofgurn! Flamiza! Syllia! Ayasaki! Sigfried! Mari kita keliling kerajaan ini terlebih dahulu! Aku tidak—”


“Bisakah kau diam, Feyroq! Suaramu menyebalkan sekali!”


“Haaaaah…! Kasar sekali kau, Syllia! Sepertinya Alfgorth terlalu sabar denganmu—”


““DIAM, FEYROQ!!!””


K-Kenapa ngomongnya harus dari kamar masing-masing…? Emangnya mereka nggak takut terlalu berisik di istana kerajaan ini…?


“…”


Jangan anggep gue mesum karena ngintip mereka! Gue cuma penasaran aja! Nggak ada maksud apa-apa!


Tapi dari antara mereka semua, keliatannya sebagian besar dari mereka pada istirahat.


“…”


Yang nggak tidur itu cuma Feyroq, karena emang nggak bisa tidur, sama Melchizedek.


Karena dari yang gue liat, Melchizedek lagi…


“…”


Hmm… ada yang aneh.


Kalo dia berdoa, pasti dia ketemu semua dewa-dewa itu kan ya? Padahal sebelumnya gue ikut Melchizedek ke tempat mereka. Tapi sekarang gue tetep di sini.


Apa mungkin ada sesuatu yang bisa gue liat di kamar i—


“*Tok, tok, tok…”


Hm? Ada siapa yang dateng, malem gini?


“Masuklah.”


“Ini aku, Melchizedek.”


“Ayasaki, kah? Apakah kau kembali tidak bisa tidur?”


“Ya. Setiap aku memejamkan mataku, aku selalu melihat kematian bibiku.”


O-Oh ternyata dia mimpi buruk.


Tapi kok…


“…”


…harus nempel-nempel di samping Melchizedek…?


Tambah lagi, di atas kasur kayak gitu…?


“…”


S-Semoga aja… gue nggak harus tutup mata…


“Melchi… bisakah kau menjernihkan kembali pikiranku, agar aku bisa beristirahat dengan nyenyak…?”


“Ahaha… baiklah, Ayasaki. Marilah bersender di dekatku.”


“…”


WOY!


Woywoywoywoy!


Kok gue harus liat mereka yang tidur sebelah-sebelahan?!


“…”


Terus mana sihirnya?! Kok cuma diusap-usap aja kepalanya?!


“Melchi, tidak berhenti aku mengucapkan terima kasih kepadamu, karena kau telah membebaskanku dari ayahku. Sama seperti bibiku, Kazue Oba-chan, yang berusaha membebaskanku darinya.”


“Tentu saja, Ayasaki. Karena kebebasan itu adalah hak segala mahluk hidup, bukan?”


“Ya. Kau benar. Tetapi…”


“Hm?”


“Apakah kita sudah sepenuhnya bebas, Melchizedek? Dengan beban seperti menjaga dunia, aku rasa kita tidak lebih bebas dibandingkan ketika aku ikut berpetualang denganmu, di mana kita hanya berkeliling kesana dan kemari untuk mengenali dunia ini.”


Berarti… waktu itu Melchizedek belom dianggap Pahlawan, ya?


Pantes aja sekarang Melchizedek lebih jarang senyum, dibandingin dulu.


Denger apa yang dibilang Ayasaki, gue jadi inget…


“Ya! Gue tau! Semuanya karena status sialan itu, yang namanya Pahlawan! Gue juga paham, Leonard!”


…apa yang Myllo bilang ke monster itu.


“Harga kebebasan sangatlah mahal, Ayasaki. Oleh karena itu, aku rela jika kebebasanku direnggut, demi kebebasan warga dunia ini.”


K-Kalo dia ngomong kayak gitu…


Sama aja dia kayak budak nggak sih…?


“Maafkan aku jika aku melakukan ini semua tanpa memperhatikan kalian semua. Tetapi, apakah engkau mau menemaniku hingga pada akhirnya, Ayasaki?”


“…”


“A-Ayasa—”


“Tentu saja, Melchizedek. Karena aku… sangatlah mencintaimu.”


Woy! Kok kesannya kayak udah mau pacaran?!


Eh, tunggu…


Ada yang aneh!


Bukannya Melchizedek bilang, kalo dia baru pertama kali rasain cinta itu waktu ketemu Velltrish[1]?!


Kalo gitu—


“Melchizedek…”


“Ya?”


“A-Apakah kau juga mencintaiku?”


“Ahaha…! Tentu saja, Ayasaki…”


“B-Benarkah—”


“Sama seperti aku mencintai Alfgorth, Syllia, Feyroq, Ofgurn, Flamiza, serta seluruh mahluk yang berada di


dunia ini! Bukankah seperti itu?! Ahahaha…”


“…”


K-Kayaknya… konteks cinta yang dimaksud Ayasaki tuh… beda deh…


“A-Ahaha… kau benar, Melchizedek.”


“A-Ayasaki?! Kau mau ke ma—”


“Sepertinya aku tidak akan mimpi buruk lagi. Terima kasih sebelumnya, karena telah merapalkan sihirmu padaku, teman.”


“T-Tetapi aku belum merapal sihir apa-a—”


“…”


“Ah. Ia sudah pergi.”


“…”


Gue bisa liat ekspresi Ayasaki yang nahan nangis.


Berarti bener dugaan gue, kalo di siaran kali ini, Melchizedek tolak—


“Maafkan aku, Ayasaki.”


Eh?


“Seperti yang dikatakan Zophiel, bahwa kita harus menaati Hukum yang ditetapkan oleh Dewa Sakhtice. Oleh karena itu, aku tidak akan bisa menerima cintamu, karena aku sebagai Mahluk Fana terlarang untuk mencintai dirimu, yang merupakan Mahluk Abadi.”


Cih! Semua karena hukum yang dibuat “gue” ya?!


“…”


Andai bisa gue bilang minta maaf ke Melchizedek, mungkin gue minta maaf sekarang ke dia!


_______________


[1]Velltrish Mistyx, wanita yang menjadi cinta pertama Melchizedek, ketika Melchizedek berada di Principality of Kronovik (Chapter 213 – Chapter 216).