
Erviga Kingdom, kerajaan yang
pada mulanya adalah pulau kediaman Kaum Naga beserta Kaum Naga.
Namun, ketika Kaum Manusia
menguasai pulau itu, maka terciptalah Erviga Kingdom, kerajaan yang terdiri
atas satu ibukota, Vigrias Capital, terdapat lima kota besar. Kota besar itu
adalah Riverfall City, Herlook City, Baviran City, Kaskar City, dan Chorpol
City.
Namun, beberapa hari setelah
kematian Fire Dragon King Tarzyn, Erviga menjadi kacau balau. Kota-kota besar,
seperti Herlook City dan Baviran City menjadi korban amukan dari Kaum Naga,
yang mengamuk karena tidak ada arahan dari tuan mereka yang terbunuh.
Berikut adalah kejadian yang
menimpa Herlook City.
“Rooaaaarr!”
“Cepat, lari! Wyvern itu banyak
sekali!”
““Aaaaarrgggh!!!””
Warga Herlook berlari ketakutan
karena kedatangan puluhan Wyvern yang membakar hampir seisi kota itu.
Sedangkan di Baviron City…
“Roaaaaar!”
“Gawat! Para Wyrm itu bisa melahap seisi kota!”
““Aaaaarrgggh!!!””
Kedatangan Wyrm dari bawah tanah
menghancurkan bangunan-bangunan yang berada di kota tersebut.
Karena kejadian ini pun, Raja
Glennhard, sang penguasa Erviga Kingdom, melakukan panggilan darurat kepada
semua bangsawan yang berada di kerajaan itu.
Namun, dikarenakan panggilan
tersebut darurat, maka pertemuan raja dan para bangsawannya tidak dilakukan
secara langsung di kediaman raja, melainkan lewat Orb Call khusus untuk
personil kerajaaan.
Salah satu yang menghadiri
pertemuan itu adalah Bismont Louisson, seorang Duke yang berjasa atas
mengalahkan Black Guild, Goldiggia.
“Terima kasih telah menghadiri
pertemuan darurat ini. Maka dari itu, Raja akan menyampaikan sesuatu sebelum
kita mulai.”
Sambut seseorang yang menjadi
kaki tangan raja. Orang tersebut bernama Maverick Orbloom.
Setelah menyampaikan kata
sambutan, Maverick mundur hingga tidak terlihat dari Orb Call. Ia digantikan
oleh Raja Glennhard yang muncul di Orb Call.
“Baiklah, saya langsung saja
ke permasalahan saja. Kalian semua pasti telah mendengar berita tentang
serangan Kaum Naga di kerajaan ini. Maka dari itu, saya hendak menanyakan opini
kalian terkait permasalahan ini.”
Mendengar pernyataan Raja
Glennhard, setiap Duke menyampaikan opini mereka.
“Saya Jack Jenkins dari House
of Jenkins. Menurut saya, kita lawan mereka dengan memberikan Quest Tingkat
Kuning sampai Quest Tingkat Merah kepada Para Petualang. Alangkah baiknya jika
personil kami dikerahkan untuk menolong warga saja, Yang Mulia.”
Setelah menyampaikan pendapatnya,
beberapa bangsawan lainnya setuju, lalu mereka menyampaikan pendapat mereka.
“Saya setuju. Alangkah baiknya
jika Petualang yang mengurus serangan Kaum Naga. Masih banyak hal yang lebih
penting yang bisa kita urus demi kepentingan kerajaan ini.”
“Saya juga setuju. Nyawa kita
semua lebih berharga dibandingkan Petualang. Jika mereka gugur dalam
mengalahkan Kaum Naga, akan masih banyak Petualang yang melanjutkannya.”
Sahut beberapa bangsawan lainnya
yang setuju.
Setelah menyampaikan opini
mereka, ada juga seorang bangsawan yang memberikan pandangan baru terkait
serangan Kaum Naga.
“Jika Kaum Naga bisa
ditaklukan, alangkah baiknya kita mengolah sumbernya! Baik daging, darah,
kulit, bahkan Jiwa dari Kaum Naga bisa digunakan untuk kemakmuran Erviga!”
“Ya, saya setuju!”
“Saya juga setuju!”
Hampir semua bangsawan pun
menyampaikan opini mereka tentang serangan Kaum Naga, Mereka saling menyetujui
opini masing-masing.
Namun, Raja Glennhard mengetahui
ada beberapa bangsawan yang tidak bisa berargumen karena intensitas rapat telah
dikuasai oleh bangsawan yang berargumen dengan sangat vokal.
Salah satunya adalah Bismont,
orang yang sangat ia percayai dan yang ia yakini sebagai senjata terkuat Erviga.
“Duke Bismont Louisson dari
House of Louisson, sepertinya anda belum menyampaikan pendapat anda. Bisakah
anda mengutarakan isi pikiran anda?”
“Mohon maaf Yang Mulia, jika saya
menyampaikan pendapat saya, semua hanya akan sakit hati.”
““!!!””
Semua terkejut dengan apa yang
dikatakan Bismont, namun Raja Glennhard tetap bersikeras untuk Bismont
menyampaikan pendapatnya.
“Baiklah Yang Mulia, jika Anda
memaksa.”
““…””
“Dasar Bangsawan Sampah! Cuma
bisa memikirkan keselamatan sendiri!
Mengurus hal yang lebih penting?!
Biarin Petualang yang urus?! Kalian semua pikir keselamatan semua warga di
negara ini nggak penting?!
Tambah lagi, bilang apa tadi?!
Mau kelola sumber dari Kaum Naga?! Hah! Dasar pecundang! Cuma mau enaknya saja!
jadi maksud kalian semua kalian hanya perlu menumbalkan Petualang untuk
mengelola Kaum Naga?!”
Tegas Bismont hingga terlihat
urat di kepalanya.
Mendengar Bismont, sebagian besar
bangsawan merasa kesal dengan pernyataannya.
“Cih! Dasar anak pedesaan!
Berani-beraninya dia sebut kita semua pecundang!”
“Haaaah! Bisa-bisa kita
terpaksa untuk melawan Kaum Naga karena pernyataannya! Apa ia kira semudah itu
melawan Kaum Naga?!”
“Maksudnya kita semua harus
mati melawan Kaum Naga?! Yang benar saja!”
Pikir sebagian di antara mereka
yang kesal dengan pernyataan Bismont.
“Baik. Cukup Duke Louisson.”
“…”
“Saya setuju dengan pernyataan
Duke Louisson!”
““!!!””
Semua pun terkejut mendengar Raja
Glennhard yang mendukung pernyataan Bismont.
“Saya tanya kepada kalian
semua, apakah Duke yang Saya miliki ini adalah seorang pengecut?!”
““…””
“Jika kalian semua diam,
artinya apa yang dikatakan oleh Duke Louisson adalah benar!”
““…””
“Saya tanya sekali lagi!
Apakah kalian semua adalah seorang pengecut?!”
““Tidak, Yang Mulia!””
Tegas semua Duke, kecuali
Bismont.
“Baiklah! Jika seperti itu,
saya minta kerja sama kalian dalam menangani Kaum Naga! Maka dari itu, saya
minta agar setiap Duke mengkoordinasikan personilnya dalam hal menjaga wilayah
masing-masing, serta membantu Petualang dalam upaya melawan Kaum Naga—”
“Maaf sebelumnya, Yang Mulia.”
Kata Bismont memotong perintah
dari Raja Glennhard.
“Ada apa, Duke Louisson?”
“Saya mengusulkan untuk mengirim
personil saya untuk membantu rekan-rekan Petualang sekalian.”
“Apakah anda yakin, Duke
Louisson?”
“Sekali lagi, maafkan saya Yang
Mulia jika saya berkata keras. Saya lebih percaya personil saya yang tidak
begitu banyak, dibandingkan dengan personil yang dikelola oleh orang-orang
yang tidak bisa saya percaya.”
Kata Bismont dengan maksud
menyindir Duke lainnya.
“Baiklah, Duke Louisson. Apa
ada yang ingin menyampaikan pendapat terkait saran dari beliau?”
““…””
“Baiklah. Saya yakin diam
kalian semua sama dengan menyutujui.”
Kata Raja Glennhard kepada semua
Duke lainnya.
……………
Setelah rapat antar Duke dengan
raja selesai, Bismont pun kedatangan seorang tamu.
“Permisi, Duke Louisson. Mohon
maaf atas kehadiran saya tanpa adanya pemberitahuan.”
“Selamat datang, Marquis Verde.”
“A…Anda tidak perlu se-formal itu
dengan saya, Bismont.”
“Haaaah… Maaf-maaf. Bisa-bisanya
lo nggak ikut rapat sih, Verdian!”
“Ma…Maafkan saya, Bismont. Saya
sedang menuju kemari untuk menyampaikan sesuatu kepada anda.”
Balas Verdian, yang merupakan teman
yang ia percayai, walaupun bukan personilnya.
Verdian pun melaporkan tentang
semua rangkaian kejadian yang ia dapat dari Myllo dan Djinn.
“Haha! Si Abang sama Djinn bisa
ngalahin Dragon King, ya…”
“A…Abang? Maksud anda siapa, Bismont?”
“Ng…Nggak, lupain aja kata-kata
gue.”
Kata Bismont dengan wajah
memerah.
Setelah Marquis Verde
menyampaikan semua laporannya, Bismont pun membuat sebuah keputusan.
“Yaudah. Kita tahan dulu laporan
ini.”
“A…Akan tetapi, terkait masa lalu
Dragonewt—”
apa-apa. Karena gue sendiri yakin kalo ada yang bisa hapus jejak Dragonewt
ditengah-tengah penduduk Erviga.”
Jelas Bismont.
“A…Ada yang menghapus jejak para
Dragonewt?!”
“Ya, bisa jadi begitu. Lo tau
sendiri kan salah satunya siapa?”
“Ya. Ia adalah atasan saya, Duke
Sebastian Siegfried.”
“Bener. Gue sekarang udah punya
bukti transaksi dia sama Goldiggia. Tapi kalo gue denger laporan baru dari lo,
gue pengen kita dapetin semua bukti kebusukan-kebusukan orang itu!”
Tegas Bismont, hingga kepalanya
berurat.
Sambil mereka berbincang, Verdian
melihat ada sesuatu yang baru di kediaman Bismont dari balik jendela ruangannya.
“Apakah anda memiliki anak baru,
Bismont?”
“Ya. Dia anak baru gue, dan dia
itu Dragonewt.”
“A…Apa?!”
“Makanya itu…gue takut…kalo anak
gue sendiri disentuh orang busuk itu!”
Tegas Bismont, sambil mengepal
tangannya dengan keras.
“Bi…Bismont, artinya kita sedang
berpacu dengan waktu! Alangkah baiknya jika kita sesegera mungkin mencari bukti
tentang mereka!”
“Ya! Lo bener, kawan!”
Seru Bismont kepada Verdian.
……………
Dan di sisi lain, di salah satu kediaman
milik salah satu Duke di Erviga, Sebastian Siegfried, yang juga merupakan
kepala dari House of Siegfried.
“Hahaha!!! Sudah saya duga bahwa anda
akan berkata seperti itu, Bismont!”
Tawa Duke Siegfried ketika ia
mengingat perkataan Bismont saat rapat darurat oleh Raja Glennhard.
“*Tok, tok, tok… (suara mengetuk
pintu)”
“Masuk!”
“Selamat siang, Yang Mulia.”
Setelah mendengar perintah Duke
Siegfried, nampaklah seorang Dragonewt dengan pakaian pelayan wanita,
dengan kalung Mana-Restriction di lehernya.
Saat masuk, Dragonewt itu menatap
Duke Siegfried dengan begitu dingin, seperti seseorang yang ingin membunuhnya.
“Ta…Tamu yang anda tunggu telah
datang.”
“Bawalah orang itu ke ruangan
ini!”
“Baiklah, Yang Muli—”
“Hey! Kemarilah!”
“…”
Dengan perasaan tidak enak,
Dragonewt pelayan itu menghampiri Duke Siegfried.
“*Splash! (suara menyiram dengan
anggur)”
“*Trung! (suara melempar cawan
besi)”
Duke Siegfried memanggilnya untuk
menyiram dan melempar cawannya yang berisi anggur.
Setelah mempermalukan Dragonewt
pelayan itu, ia pun mendekatkan wajahnya ke arah telinga Dragonewt pelayan itu
dengan maksud membisikkan sesuatu.
“Bersyukurlah kau, karena masih
bisa hidup dan bernafas seperti sekarang…”
“…”
“Anda lebih baik hidup melayani
saya dan menjadi ‘alat kesenangan’ saya, bukan? Daripada hidup menderita dan
dibunuh seperti kaummu?”
“…”
“Oleh karena itu, gunakan mata
anda dengan sebaik-baiknya, karena saya tidak suka dengan tatapan anda, paham?”
“*Slurp! (suara menjilat)”
Bisik Duke Siegfried yang
langsung menjilat telinga Dragonewt pelayan itu setelahnya.
“Sana, panggil tamu saya!”
“Baik, Tuan.”
Dragonewt pelayan itu pun keluar
dengan merasa dipermalukan, sambil menahan amarah yang begitu besar kepada
tuannya.
Tidak lama kemudian…
“Hmm… Datang juga anda rupanya.”
“…”
…datanglah seorang prajurit,
dengan lambang House of Louisson di pelindung bahu kirinya, yang
memasuki ruangan Duke Siegfried.
Sedangkan di sisi lain, ketika
Myllo memimpin Djinn dan Gia pergi dari Riverfall, dengan Zegin yang sedang
tidur di dalam pikirannya.
“Zegin…”
“Zzzzz…”
“Zegin…”
“Zzzzz…”
“Zegin!”
Mendengar panggilan itu, Zegin
terbangun.
Namun Ia tidak terbangun di dalam
pikiran Myllo, melainkan di suatu ruang kosong yang tidak Ia kenal.
“Hmm?! Ada a—”
“Hey, Zegin!”
“…”
“Ini Aku—”
“HYAAAAAAA!!! ADA NAGAAAA!!!”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“ADUUUUHHHH!!!”
“Hey! Ini Aku, Arkhataz!”
“Hah?! Lo ngapain—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Perhatikan cara bicara-Mu! Kau
adalah seorang Dewi!”
“Duh! Suka-suka Gue dong kalo—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
Fire God Arkhataz yang
menghampiri Zegin terus memukul kepalanya karena tidak berperilaku layaknya
seorang Dewi.
“Aaaaaahhh! Kalo cuma mau pukul
kepala Gue doang, mending Gue pergi aja, deh!”
“Tu…Tunggu terlebih dahulu!”
“Apa?!”
“Haaaah… Aku seperti tidak sedang
berbicara dengan seorang Dewi…”
“Buruan! Ada apa?!”
“…”
Arkhataz pun terdiam sejenak
sebelum memulai pembicaraannya.
“Apakah Kau sudah mengetahuinya?”
“Tau tentang apa?”
“Rahasia besar yang
terjadi 5.000 tahun yang lalu?”
“Maksud lo rahasia yang ada di
Hidden Dungeon?”
“Benar. Rahasia yang bahkan Kita
lupakan.”
“Nggak. Bukan Saint dari Gue yang
nemuin, tapi rekannya. Cuma anehnya…kekuatan rekannya itu…entah kenapa familiar.”
“Familiar? Apa maksud-Mu?”
“Gue nggak tau. Entah kenapa Gue
pun lupa akan itu.”
Jelas Zegin kepada Arkhataz.
“Apakah Pria Terjanji itu telah
menemukannya?”
“Apa maksud Lo?”
“Tidak. Sepertinya hanya itu yang
Aku tanyakan. Sebaiknya Aku pergi kembali kepada Saint-Ku daripada menghabiskan
waktu bersama-Mu.”
“Cih! Dasar Dewa Naga aneh!”
Seru Zegin sambil melihat
Arkhataz yang meninggalkannya.
……………
Dan di tempat tidak dikenal, di
atas suatu tembok yang begitu besar.
“Saint-Ku…”
Sapa Arkhataz kepada Saint-Nya,
yang berada di atas tembok itu, dari dalam pikirannya.
“Ada apa, Dewa Arkhataz?”
“Sepertinya Pria Terjanji telah
datang.”
“Maksud Anda, pria yang ditunggu
Melchizedek?”
“Kau benar.”
Jawab Arkhataz kepada Saint-Nya.
Mendengar penjelasannya,
Saint-Nya itu justru memikirkan hal lain.
“Mungkin karena ‘orang itu’
makanya jadi ada banyak Kaum Naga, ya?”
“Oh, ternyata Kau merasakannya
juga?”
“Pastinya, Dewa. Bahkan saya
sempet ngerasain Jiwa Tarzyn yang tiba-tiba hilang.”
Balas Saint itu.
“Jadi, apa kita perlu pergi ke Erviga
lagi, Dewa?”
“Kembali ke Erviga? Bagaimana
dengan orang-orang yang menjaga-Mu?”
“Ya, asal kita nggak ketauan,
mungkin mereka nggak marah. Kalo pun ketauan, nanti saya bilang kalo saya butuh
liburan. Hihihi!”
“Ahahaha! Baiklah jika itu
pilihan-Mu, Sylvia.”
Jawab Arkhataz kepada Sylvia
Starfell, Saint pilihan-Nya, seorang Pahlawan di Goeterra, dan kakak tiri dari
Myllo Olfret, yang menyembunyikan keberadaannya dengan kematian palsunya.