Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 92. What Are Going To Happen



Erviga Kingdom, kerajaan yang


pada mulanya adalah pulau kediaman Kaum Naga beserta Kaum Naga.


Namun, ketika Kaum Manusia


menguasai pulau itu, maka terciptalah Erviga Kingdom, kerajaan yang terdiri


atas satu ibukota, Vigrias Capital, terdapat lima kota besar. Kota besar itu


adalah Riverfall City, Herlook City, Baviran City, Kaskar City, dan Chorpol


City.


Namun, beberapa hari setelah


kematian Fire Dragon King Tarzyn, Erviga menjadi kacau balau. Kota-kota besar,


seperti Herlook City dan Baviran City menjadi korban amukan dari Kaum Naga,


yang mengamuk karena tidak ada arahan dari tuan mereka yang terbunuh.


Berikut adalah kejadian yang


menimpa Herlook City.


“Rooaaaarr!”


“Cepat, lari! Wyvern itu banyak


sekali!”


““Aaaaarrgggh!!!””


Warga Herlook berlari ketakutan


karena kedatangan puluhan Wyvern yang membakar hampir seisi kota itu.


Sedangkan di Baviron City…


“Roaaaaar!”


“Gawat! Para Wyrm itu bisa  melahap seisi kota!”


““Aaaaarrgggh!!!””


Kedatangan Wyrm dari bawah tanah


menghancurkan bangunan-bangunan yang berada di kota tersebut.


Karena kejadian ini pun, Raja


Glennhard, sang penguasa Erviga Kingdom, melakukan panggilan darurat kepada


semua bangsawan yang berada di kerajaan itu.


Namun, dikarenakan panggilan


tersebut darurat, maka pertemuan raja dan para bangsawannya tidak dilakukan


secara langsung di kediaman raja, melainkan lewat Orb Call khusus untuk


personil kerajaaan.


Salah satu yang menghadiri


pertemuan itu adalah Bismont Louisson, seorang Duke yang berjasa atas


mengalahkan Black Guild, Goldiggia.


“Terima kasih telah menghadiri


pertemuan darurat ini. Maka dari itu, Raja akan menyampaikan sesuatu sebelum


kita mulai.”


Sambut seseorang yang menjadi


kaki tangan raja. Orang tersebut bernama Maverick Orbloom.


Setelah menyampaikan kata


sambutan, Maverick mundur hingga tidak terlihat dari Orb Call. Ia digantikan


oleh Raja Glennhard yang muncul di Orb Call.


“Baiklah, saya langsung saja


ke permasalahan saja. Kalian semua pasti telah mendengar berita tentang


serangan Kaum Naga di kerajaan ini. Maka dari itu, saya hendak menanyakan opini


kalian terkait permasalahan ini.”


Mendengar pernyataan Raja


Glennhard, setiap Duke menyampaikan opini mereka.


“Saya Jack Jenkins dari House


of Jenkins. Menurut saya, kita lawan mereka dengan memberikan Quest Tingkat


Kuning sampai Quest Tingkat Merah kepada Para Petualang. Alangkah baiknya jika


personil kami dikerahkan untuk menolong warga saja, Yang Mulia.”


Setelah menyampaikan pendapatnya,


beberapa bangsawan lainnya setuju, lalu mereka menyampaikan pendapat mereka.


“Saya setuju. Alangkah baiknya


jika Petualang yang mengurus serangan Kaum Naga. Masih banyak hal yang lebih


penting yang bisa kita urus demi kepentingan kerajaan ini.”


“Saya juga setuju. Nyawa kita


semua lebih berharga dibandingkan Petualang. Jika mereka gugur dalam


mengalahkan Kaum Naga, akan masih banyak Petualang yang melanjutkannya.”


Sahut beberapa bangsawan lainnya


yang setuju.


Setelah menyampaikan opini


mereka, ada juga seorang bangsawan yang memberikan pandangan baru terkait


serangan Kaum Naga.


“Jika Kaum Naga bisa


ditaklukan, alangkah baiknya kita mengolah sumbernya! Baik daging, darah,


kulit, bahkan Jiwa dari Kaum Naga bisa digunakan untuk kemakmuran Erviga!”


“Ya, saya setuju!”


“Saya juga setuju!”


Hampir semua bangsawan pun


menyampaikan opini mereka tentang serangan Kaum Naga, Mereka saling menyetujui


opini masing-masing.


Namun, Raja Glennhard mengetahui


ada beberapa bangsawan yang tidak bisa berargumen karena intensitas rapat telah


dikuasai oleh bangsawan yang berargumen dengan sangat vokal.


Salah satunya adalah Bismont,


orang yang sangat ia percayai dan yang ia yakini sebagai senjata terkuat Erviga.


“Duke Bismont Louisson dari


House of Louisson, sepertinya anda belum menyampaikan pendapat anda. Bisakah


anda mengutarakan isi pikiran anda?”


“Mohon maaf Yang Mulia, jika saya


menyampaikan pendapat saya, semua hanya akan sakit hati.”


““!!!””


Semua terkejut dengan apa yang


dikatakan Bismont, namun Raja Glennhard tetap bersikeras untuk Bismont


menyampaikan pendapatnya.


“Baiklah Yang Mulia, jika Anda


memaksa.”


““…””


“Dasar Bangsawan Sampah! Cuma


bisa memikirkan keselamatan sendiri!


Mengurus hal yang lebih penting?!


Biarin Petualang yang urus?! Kalian semua pikir keselamatan semua warga di


negara ini nggak penting?!


Tambah lagi, bilang apa tadi?!


Mau kelola sumber dari Kaum Naga?! Hah! Dasar pecundang! Cuma mau enaknya saja!


jadi maksud kalian semua kalian hanya perlu menumbalkan Petualang untuk


mengelola Kaum Naga?!”


Tegas Bismont hingga terlihat


urat di kepalanya.


Mendengar Bismont, sebagian besar


bangsawan merasa kesal dengan pernyataannya.


“Cih! Dasar anak pedesaan!


Berani-beraninya dia sebut kita semua pecundang!”


“Haaaah! Bisa-bisa kita


terpaksa untuk melawan Kaum Naga karena pernyataannya! Apa ia kira semudah itu


melawan Kaum Naga?!”


“Maksudnya kita semua harus


mati melawan Kaum Naga?! Yang benar saja!”


Pikir sebagian di antara mereka


yang kesal dengan pernyataan Bismont.


“Baik. Cukup Duke Louisson.”


“…”


“Saya setuju dengan pernyataan


Duke Louisson!”


““!!!””


Semua pun terkejut mendengar Raja


Glennhard yang mendukung pernyataan Bismont.


“Saya tanya kepada kalian


semua, apakah Duke yang Saya miliki ini adalah seorang pengecut?!”


““…””


“Jika kalian semua diam,


artinya apa yang dikatakan oleh Duke Louisson adalah benar!”


““…””


“Saya tanya sekali lagi!


Apakah kalian semua adalah seorang pengecut?!”


““Tidak, Yang Mulia!””


Tegas semua Duke, kecuali


Bismont.


“Baiklah! Jika seperti itu,


saya minta kerja sama kalian dalam menangani Kaum Naga! Maka dari itu, saya


minta agar setiap Duke mengkoordinasikan personilnya dalam hal menjaga wilayah


masing-masing, serta membantu Petualang dalam upaya melawan Kaum Naga—”


“Maaf sebelumnya, Yang Mulia.”


Kata Bismont memotong perintah


dari Raja Glennhard.


“Ada apa, Duke Louisson?”


“Saya mengusulkan untuk mengirim


personil saya untuk membantu rekan-rekan Petualang sekalian.”


“Apakah anda yakin, Duke


Louisson?”


“Sekali lagi, maafkan saya Yang


Mulia jika saya berkata keras. Saya lebih percaya personil saya yang tidak


begitu banyak, dibandingkan dengan personil yang dikelola oleh orang-orang


yang tidak bisa saya percaya.”


Kata Bismont dengan maksud


menyindir Duke lainnya.


“Baiklah, Duke Louisson. Apa


ada yang ingin menyampaikan pendapat terkait saran dari beliau?”


““…””


“Baiklah. Saya yakin diam


kalian semua sama dengan menyutujui.”


Kata Raja Glennhard kepada semua


Duke lainnya.


……………


Setelah rapat antar Duke dengan


raja selesai, Bismont pun kedatangan seorang tamu.


“Permisi, Duke Louisson. Mohon


maaf atas kehadiran saya tanpa adanya pemberitahuan.”


“Selamat datang, Marquis Verde.”


“A…Anda tidak perlu se-formal itu


dengan saya, Bismont.”


“Haaaah… Maaf-maaf. Bisa-bisanya


lo nggak ikut rapat sih, Verdian!”


“Ma…Maafkan saya, Bismont. Saya


sedang menuju kemari untuk menyampaikan sesuatu kepada anda.”


Balas Verdian, yang merupakan teman


yang ia percayai, walaupun bukan personilnya.


Verdian pun melaporkan tentang


semua rangkaian kejadian yang ia dapat dari Myllo dan Djinn.


“Haha! Si Abang sama Djinn bisa


ngalahin Dragon King, ya…”


“A…Abang? Maksud anda siapa, Bismont?”


“Ng…Nggak, lupain aja kata-kata


gue.”


Kata Bismont dengan wajah


memerah.


Setelah Marquis Verde


menyampaikan semua laporannya, Bismont pun membuat sebuah keputusan.


“Yaudah. Kita tahan dulu laporan


ini.”


“A…Akan tetapi, terkait masa lalu


Dragonewt—”


apa-apa. Karena gue sendiri yakin kalo ada yang bisa hapus jejak Dragonewt


ditengah-tengah penduduk Erviga.”


Jelas Bismont.


“A…Ada yang menghapus jejak para


Dragonewt?!”


“Ya, bisa jadi begitu. Lo tau


sendiri kan salah satunya siapa?”


“Ya. Ia adalah atasan saya, Duke


Sebastian Siegfried.”


“Bener. Gue sekarang udah punya


bukti transaksi dia sama Goldiggia. Tapi kalo gue denger laporan baru dari lo,


gue pengen kita dapetin semua bukti kebusukan-kebusukan orang itu!”


Tegas Bismont, hingga kepalanya


berurat.


Sambil mereka berbincang, Verdian


melihat ada sesuatu yang baru di kediaman Bismont dari balik jendela ruangannya.


“Apakah anda memiliki anak baru,


Bismont?”


“Ya. Dia anak baru gue, dan dia


itu Dragonewt.”


“A…Apa?!”


“Makanya itu…gue takut…kalo anak


gue sendiri disentuh orang busuk itu!”


Tegas Bismont, sambil mengepal


tangannya dengan keras.


“Bi…Bismont, artinya kita sedang


berpacu dengan waktu! Alangkah baiknya jika kita sesegera mungkin mencari bukti


tentang mereka!”


“Ya! Lo bener, kawan!”


Seru Bismont kepada Verdian.


……………


Dan di sisi lain, di salah satu kediaman


milik salah satu Duke di Erviga, Sebastian Siegfried, yang juga merupakan


kepala dari House of Siegfried.


“Hahaha!!! Sudah saya duga bahwa anda


akan berkata seperti itu, Bismont!”


Tawa Duke Siegfried ketika ia


mengingat perkataan Bismont saat rapat darurat oleh Raja Glennhard.


“*Tok, tok, tok… (suara mengetuk


pintu)”


“Masuk!”


“Selamat siang, Yang Mulia.”


Setelah mendengar perintah Duke


Siegfried, nampaklah seorang Dragonewt dengan pakaian pelayan wanita,


dengan kalung Mana-Restriction di lehernya.


Saat masuk, Dragonewt itu menatap


Duke Siegfried dengan begitu dingin, seperti seseorang yang ingin membunuhnya.


“Ta…Tamu yang anda tunggu telah


datang.”


“Bawalah orang itu ke ruangan


ini!”


“Baiklah, Yang Muli—”


“Hey! Kemarilah!”


“…”


Dengan perasaan tidak enak,


Dragonewt pelayan itu menghampiri Duke Siegfried.


“*Splash! (suara menyiram dengan


anggur)”


“*Trung! (suara melempar cawan


besi)”


Duke Siegfried memanggilnya untuk


menyiram dan melempar cawannya yang berisi anggur.


Setelah mempermalukan Dragonewt


pelayan itu, ia pun mendekatkan wajahnya ke arah telinga Dragonewt pelayan itu


dengan maksud membisikkan sesuatu.


“Bersyukurlah kau, karena masih


bisa hidup dan bernafas seperti sekarang…”


“…”


“Anda lebih baik hidup melayani


saya dan menjadi ‘alat kesenangan’ saya, bukan? Daripada hidup menderita dan


dibunuh seperti kaummu?”


“…”


“Oleh karena itu, gunakan mata


anda dengan sebaik-baiknya, karena saya tidak suka dengan tatapan anda, paham?”


“*Slurp! (suara menjilat)”


Bisik Duke Siegfried yang


langsung menjilat telinga Dragonewt pelayan itu setelahnya.


“Sana, panggil tamu saya!”


“Baik, Tuan.”


Dragonewt pelayan itu pun keluar


dengan merasa dipermalukan, sambil menahan amarah yang begitu besar kepada


tuannya.


Tidak lama kemudian…


“Hmm… Datang juga anda rupanya.”


“…”


…datanglah seorang prajurit,


dengan lambang House of Louisson di pelindung bahu kirinya, yang


memasuki ruangan Duke Siegfried.


Sedangkan di sisi lain, ketika


Myllo memimpin Djinn dan Gia pergi dari Riverfall, dengan Zegin yang sedang


tidur di dalam pikirannya.


“Zegin…”


“Zzzzz…”


“Zegin…”


“Zzzzz…”


“Zegin!”


Mendengar panggilan itu, Zegin


terbangun.


Namun Ia tidak terbangun di dalam


pikiran Myllo, melainkan di suatu ruang kosong yang tidak Ia kenal.


“Hmm?! Ada a—”


“Hey, Zegin!”


“…”


“Ini Aku—”


“HYAAAAAAA!!! ADA NAGAAAA!!!”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“ADUUUUHHHH!!!”


“Hey! Ini Aku, Arkhataz!”


“Hah?! Lo ngapain—”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Perhatikan cara bicara-Mu! Kau


adalah seorang Dewi!”


“Duh! Suka-suka Gue dong kalo—”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


Fire God Arkhataz yang


menghampiri Zegin terus memukul kepalanya karena tidak berperilaku layaknya


seorang Dewi.


“Aaaaaahhh! Kalo cuma mau pukul


kepala Gue doang, mending Gue pergi aja, deh!”


“Tu…Tunggu terlebih dahulu!”


“Apa?!”


“Haaaah… Aku seperti tidak sedang


berbicara dengan seorang Dewi…”


“Buruan! Ada apa?!”


“…”


Arkhataz pun terdiam sejenak


sebelum memulai pembicaraannya.


“Apakah Kau sudah mengetahuinya?”


“Tau tentang apa?”


“Rahasia besar yang


terjadi 5.000 tahun yang lalu?”


“Maksud lo rahasia yang ada di


Hidden Dungeon?”


“Benar. Rahasia yang bahkan Kita


lupakan.”


“Nggak. Bukan Saint dari Gue yang


nemuin, tapi rekannya. Cuma anehnya…kekuatan rekannya itu…entah kenapa familiar.”


“Familiar? Apa maksud-Mu?”


“Gue nggak tau. Entah kenapa Gue


pun lupa akan itu.”


Jelas Zegin kepada Arkhataz.


“Apakah Pria Terjanji itu telah


menemukannya?”


“Apa maksud Lo?”


“Tidak. Sepertinya hanya itu yang


Aku tanyakan. Sebaiknya Aku pergi kembali kepada Saint-Ku daripada menghabiskan


waktu bersama-Mu.”


“Cih! Dasar Dewa Naga aneh!”


Seru Zegin sambil melihat


Arkhataz yang meninggalkannya.


……………


Dan di tempat tidak dikenal, di


atas suatu tembok yang begitu besar.


“Saint-Ku…”


Sapa Arkhataz kepada Saint-Nya,


yang berada di atas tembok itu, dari dalam pikirannya.


“Ada apa, Dewa Arkhataz?”


“Sepertinya Pria Terjanji telah


datang.”


“Maksud Anda, pria yang ditunggu


Melchizedek?”


“Kau benar.”


Jawab Arkhataz kepada Saint-Nya.


Mendengar penjelasannya,


Saint-Nya itu justru memikirkan hal lain.


“Mungkin karena ‘orang itu’


makanya jadi ada banyak Kaum Naga, ya?”


“Oh, ternyata Kau merasakannya


juga?”


“Pastinya, Dewa. Bahkan saya


sempet ngerasain Jiwa Tarzyn yang tiba-tiba hilang.”


Balas Saint itu.


“Jadi, apa kita perlu pergi ke Erviga


lagi, Dewa?”


“Kembali ke Erviga? Bagaimana


dengan orang-orang yang menjaga-Mu?”


“Ya, asal kita nggak ketauan,


mungkin mereka nggak marah. Kalo pun ketauan, nanti saya bilang kalo saya butuh


liburan. Hihihi!”


“Ahahaha! Baiklah jika itu


pilihan-Mu, Sylvia.”


Jawab Arkhataz kepada Sylvia


Starfell, Saint pilihan-Nya, seorang Pahlawan di Goeterra, dan kakak tiri dari


Myllo Olfret, yang menyembunyikan keberadaannya dengan kematian palsunya.