
Tidak lama setelah Djinn, Myllo,
dan Gia masuk ke dalam Hidden Dungeon.
“*Prok, prok, prok… (suara tepuk
tangan)”
“Haha… Baik juga ya kalian mau
jagain tempat ini. Padahal kalian bisa jadi saksi sejarah kalo masuk ke dalam
situ.”
““!!!””
Para anggota Joint Party melihat
Morri yang datang sambil bertepuk tangan. Sebenarnya mereka menduga kedatangan
para Dragonewt yang menyerang mereka, termasuk Erkstern dan Morri, namun mereka
tidak menduga kedatangan mereka yang begitu cepat.
“Morriii—”
“Jangan gerak duluan, Zorly!”
“Hah?! Kenapa emangnya?! Tambah
lagi, kenapa manggil gue kayak gitu?!”
Tanya Zorlyan ketika Mahadia
menahannya.
“Jangan gegabah.”
“Apa maksud lo—”
“Harrit, pasang pelindung!
Sekarang!”
“Ya! Lion Steel!”
“…”
Dengan sihirnya, Harrit
menciptakan patung kepala singa dengan rambutnya yang menutupi mereka.
“Kenapa kita malah sembunyi?!”
“Karena—”
“*Tung! (suara besi tertembak)”
“Karena itu!”
Seru Mahadia sambil menunjuk
suara sihir perisai Harrit yang tertembak.
“Cih! Masih ada Dragonewt
Marksman itu, ya?!”
“Hmm!”
Balas Mahadia sambil mengangguk
ketika mendengar pertanyaan Zorlyan.
“Royce, di mana Marksman itu?!”
“…”
Royce terdiam ketika ditanya oleh
Mahadia karena sedang berkonstentrasi untuk mencari keberadaan Marksman itu.
“Nature’s Call.”
Dengan sihirnya, Royce
memanfaatkan alam sekitar, seperti pohon, rumput, dan air laut, untuk mencari
keberadaan Marksman itu.
“Maha! Saya berhasil menemukan—”
““…””
Semua heran dengan Royce yang
tiba-tiba terdiam.
Hingga akhirnya…
“Semua, lari dari balik patung
ini!”
…ia merasakan adanya serangan
dari balik patung Harrit.
Mendengar peringatan Royce, semua pun bergegas keluar dari balik patung
itu.
Harrit membatalkan sihirnya,
sedangkan Winona merapal sihir untuk membawa mereka pergi dari titik tersebut.
“Floating Bubble!”
“*Blub, blub, blub… (suara
gelembung)”
Ketika mereka terbang masing-masing
di dalam sebuah gelembung dari sihir Winona, tiba-tiba muncul semacam duri yang
terbuat dari tanah liat. Beruntung mereka menghindari duri itu karena
peringatan dari Royce.
“Cih! Pasti itu sihir Mo—”
“Maha, saya mendapat lokasi Marksman
itu! Ia berada di balik hutan itu!”
“…”
Sambil memperhatikan arah yang
ditunjuk Royce.
Saat Mahadia dan Royce mencari
letak Marksman itu, tiba-tiba muncul tombak dari tanah liat yang melayang ke
arah Harrit.
“*Phak! (suara gelembung pecah)”
“…”
Tombak itu pun pecah dan hendak
menusuk Harrit. Untungnya ia dengan mudah menangkap tombak itu.
“Brengsek, Morri!”
Ketika mendarat, Harrit pun
bergegas menghampiri Morri dengan cara bergerak secara berliku-liku.
“…”
“Cih! Dia berhasil ngehindarin
tembakan gue!”
Seru Dragonewt Marksman itu itu
karena gagal menembak Harrit yang bergerak secara berliku.
Dengan gerakan yang cepat, Harrit
pun berhasil menghampiri Morri.
“Morriiii—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Urgh!”
Morri dengan mudahnya menendang
Harrit yang menghampirinya.
Namun, karena terlalu menganggap
remeh keadaan, Morri tidak sadar akan serangan berikutnya.
“*Jlub, jlub, jlub… (suara banyak
tusukan duri)”
Zorlyan berhasil menusuk Morri
dengan duri-duri yang ia lempar ketika Morri sedang lengah.
“Needle Magic: Painful Feel!”
“Argh… Aaaaargh!”
Dengan kekuatan sihirnya, Zorlyan
menciptakan rasa sakit lewat duri yang menancap di tubuh Morri.
Melihat Zorlyan yang menyakiti
Morri, Urlant tidak tinggal diam.
“Maafkan saya, Wakil Kapten.”
“…”
“Strong Root!”
“Ur…Urlant… Lo ngapa—”
“*Krrtak! (suara patah tulang)”
“Uraaaaaarghh!”
Setelah Urlant merapal sihir,
seketika muncul akar-akar dari dalam tanah yang mengikat Morri. Ikatan dari
akar tersebut sangatlah kuat, hingga meremukkan tulangnya.
Ketika yang lainnya sedang
berkutat menghadapi Morri, Mahadia masih khawatir dengan tembakan jitu
Dragonewt misterius itu.
“Royce, coba tunjukkin lagi di
mana Marksman itu.”
“Di sana.”
“…”
Setelah memperhatikan arah yang
ditunjuk oleh Royce dengan sangat serius, Mahadia pun melempar pisau miliknya
dengan sangat yakin.
Royce yang memperhatikan Mahadia
yang melempar pisau merasa heran.
“Maha, apa gunanya anda melempar
pisau seperti itu…”
“Perhatiin aja baik-baik. Selama
arah yang lo tunjuk bener, pasti lo kaget.”
Balas Mahadia yang menjawab
keraguan Royce.
Sedangkan di balik hutan,
Dragonewt misterius itu sedang berusaha membidik dengan senapannya, namun ia
melihat sebuah pisau yang menghampirinya dengan pelan.
Ia pun menangkap pisau itu.
“Hah? Kok ada pisau tiba-tiba?”
Bisik Dragonewt itu dengan heran.
“Hmm… Kayaknya pisau gue udah
sampe dia.”
Pikir Mahadia.
“…”
Mahadia pun melempar pisaunya yang
lain ke tanah yang ada di hadapannya.
“Switch Blade…”
“*Cyung… (suara teleportasi)”
“Eh?! Kok gue ada di—”
“*Shrak! (suara menebas)”
Tiba-tiba Dragonewt itu muncul di
hadapan Mahadia. Tanpa ragu, ia pun langsung menebas Dragonewt itu dengan belatinya.
“Hah?! Mengapa tiba-tiba
Dragonewt itu ada di depan kita?!”
“Sederhana aja. Selama pisau gue
ada di orang ini, gue jadi bisa tuker posisi orang ini sama pisau yang gue
lempar ke tanah tadi.”
Jelas Mahadia tentang sihirnya
ketika ditanya oleh Royce.
“Cih! Lo kira lo udah aman karena
bisa bawa gue ke sini?!”
Dragonewt itu berusaha menyemburkan api dari mulutnya, akan tetapi…
“*Bwush! (suara tersiram air)”
“Uhuk!”
“Kamu kira kita akan biarin kamu
ngalahin kita lagi?!”
Tegas Winona sambil menyiramnya dengan
sihir air.
“Cih! Dasar anak kecil biadab!”
Merasa kesal dengan sihir Winona,
Dragonewt itu hendak menyerangnya terlebih dahulu.
Akan tetapi…
“♫La la la la la……”
“Uwh…”
…lewat alunannya yang merdu, Royce membuat Dragonewt
itu terlena, hingga membuatnya sulit untuk bergerak.
“Lullaby. Itu sihir saya agar anda terlelap.”
“Urgh! Jangan lo pikir lo bisa bikin gue ngantuk te—”
“*Cyung… (suara teleportasi)”
“Sialan—”
“*Shrak! (suara tebasan belati dan celurit)”
“Argh!”
Setelah berhasil keluar dari perangkap alunan Royce,
tiba-tiba muncul Mahadia di depan Dragonewt itu yang langsung menebas dengan
dua senjata tajamnya.
“Sialan! Gue harus jaga jarak dari perempuan ini!”
Pikir Dragonewt itu yang langsung terbang menjauhi Mahadia.
“*Jlub! (suara tertusuk pisau)”
“Urgh!”
Mahadia melempar pisau yang menancap di punggung
Dragonewt itu. Namun Dragonewt itu tidak mempedulikannya dan tetap terbang
menjauhi Mahadia.
“Switch Blade!”
“Sialan! Sihir itu la—”
“*Cyung… (suara teleportasi)”
“*Jlub! (suara tusukan belati dan celurit)”
Mahadia kembali menukar keberadaan pisau ia pegang
dengan pisau yang tertancap di punggung Dragonewt itu. Setelah itu ia langsung
menebas punggung Dragonewt itu dengan kedua senjata tajamnya.
“Argh! Dasar perempuan brengsek—”
“Hraaaaaghhh!”
“*Bruk! (suara terbanting)”
Saat berada di atas udara, Mahadia langsung membanting
Dragonewt itu ke tanah.
“Aaaarrgghhh! Urgh!”
“Mo…Morrii—”
“*Dhuk! (suara menendang)”
Saat sedang mengkhawatirkan keadaan Morri yang sedang terpojokkan
oleh Harrit, Zorlyan, dan Ulrant, Dragonewt itu tiba-tiba menerima tendangan
yang keras Mahadia dari atas udara.
“Uhuok!”
“Ka…Kakak—”
“*Krrrk! (suara tulang remuk)”
“Urgh!”
Morri yang khawatir dengan Dragonewt itu tidak bisa
berbuat apa-apa selama Urlant masih meremuk tulangnya dengan sihir akarnya.
Ketika mereka hampir berhasil mengalahkan dua Dragonewt
itu, Mahadia merasa ada yang janggal.
“Kenapa dia belom dateng?”
Pikir Mahadia.
“Royce! Coba cari Erk—”
“RUOOOAAAAAAAAAAARRRR!!!”
Raungan itu seketika muncul
ketika Mahadia meminta Royce untuk mencari Erkstern.
““…””
Mendengar raungan itu, mereka semua menjadi begitu
ketakutan.
Tubuh mereka menjadi gemetar tidak karuan. Semangat
mereka menjadi pudar.
Si dalam benak mereka hanya ada satu kalimat yang
mendeskripsikan kejadian ini.
“***Aku akan mati…***”
Karena rasa takut yang begitu membekas di pikiran
mereka, setiap serangan dan sihir yang mereka lancarkan pun terbatalkan.
Di tengah ketakutan mereka, tiba-tiba muncul sosok yang
tidak asing lagi bagi mereka, yang terlihat begitu kelelahan.
“E…Erkstern!”
Melihat orang itu, Mahadia begitu kesal dan ingin
membunuhnya. Akan tetapi, tubuhnya mati rasa karena mendengar raungan tersebut.
Erkstern pun berjalan sambil mengeluarkan pedangnya.
“Maafin gue, Maha.”
“*Jlub… (suara menusuk)”
“Lo orang yang baik, tapi gue punya tujuan yang lebih
mulia daripada sekedar jadi Petualang.”
Kata Erkstern sambil menusuk Mahadia tepat di
jantungnya .
“Lo juga orang yang baik, Harrit.”
“*Shruk… (suara menusuk)”
“Maafin gue, Harrit.”
Kata Erkstern sambil menusuk Harrit.
“Urlant. Lo orang yang baik yang selalu mau hibur kita
semua.”
“*Shruk… (suara menusuk)”
“Sayang, lo harus sampe sini aja untuk tujuan gue.”
Kata Erkstern sambil menusuk Urlant.
“Royce, sebenernya lo itu cantik dan anggun.”
“*Shruk… (suara menusuk)”
“Maafin gue karena lo harus mati di tangan gue.”
Kata Erkstern sambil menusuk Royce.
Tidak hanya mantan rekannya saja yang ia tusuk. Ia
melewati Zorlyan dan Winona sambil menusuk mereka juga.
“Zorlyan…”
“*Shruk… (suara menusuk)”
“Winona…”
“*Shruk… (suara menusuk)”
Selain Mahadia, mereka semua tidak bisa mengeluarkan
satu kata pun karena begitu ketakutan. Bahkan ada di antara mereka yang tidak
sadar bahwa mereka telah tertusuk.
Setelah ia menusuk mereka semua, Erkstern pun berjalan
ke arah dua rekannya dan menyembuhkan mereka.
“Fiery Heart.”
“Erkstern, lo serius mau coba sembuhin kita berdua? Lo
kan kecapean banget karena pake Sihir Naga tadi…”
“Maksud lo…Dragon Cry, kak?”
“Ya iya, lah!”
Seru Dragonewt misterius itu sambil menerima sihir
penyembuhan dari Erkstern.
“Nggak apa-apa. Sebelum masuk ke portal itu, kondisi
kita harus prima. Kita nggak akan tau apa isi Hidden Dungeon itu, kak. Tambah
lagi, orang yang paling bahaya ada di balik portal itu!”
Jelas Erkstern kepada Dragonewt itu.
Setelah mereka berdua berhasil disembuhkan, Morri
dengan kondisi primanya berjalan mengelilingi para Petualang yang dikalahkan
oleh Erkstern.
Setelah itu, Morri melakukan sesuatu yang membuatnya
kesal.
“Morri! Lo ngapain?!”
“Ngambil Jiwa-nya Harrit. Kenapa, bang?”
“Jangan rakus! Jiwa mereka udah cukup banyak! Belom lagi ditambah Jiwa
Naga di dalem sana!”
“Emangnya salah kita ambil Jiwa dia?! Kan dia ini
Beastman! Daripada mati gitu aja, mending kita ambil—”
“Jangan rakus! Jiwa mereka udah cukup banyak! Belom
lagi ditambah Jiwa Naga!”
“Bang! Kok lo—”
“Inget kata Guru Brahal! Jadi orang jangan tamak!”
Melihat Erkstern dan Morri yang berdebat, Dragonewt
misterius itu hanya melihat saja tanpa melakukan tindakan apapun.
Namun karena perdebatan mereka semakin panjang, ia pun
mengajak mereka untuk segera masuk ke dalam Hidden Dungeon.
“Erkstern, Morri, mau berapa lama kalian debat? Mending
kita masuk Hidden Dungeon ini. Sekarang!”
““Ya, kak.””
Mereka pun bersama-sama masuk ke dalam Hidden Dungeon.
……………
Namun, mereka sedikit gegabah.
“…”
“Hiks…Hiks… Maafkan saya, Harrit! Saya tidak
bisa berbuat apa-apa ketika Jiwa anda diambil mereka!”
Seru Urlant sambil menangis dengan menopang jasad
Harrit di pangkuannya.
Setelah ia ditusuk oleh Erkstern, ia secara
sembunyi-sembunyi menyembuhkan diri sendiri tanpa diketahui Erkstern dan
rekannya.
“Jika seperti itu, hanya ada satu hal yang bisa saya
lakukan!”
Seru
Urlant sambil menyaksikan korban-korban tusukan Erkstern.