Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 74. The Only Thing To Do



Tidak lama setelah Djinn, Myllo,


dan Gia masuk ke dalam Hidden Dungeon.


“*Prok, prok, prok… (suara tepuk


tangan)”


“Haha… Baik juga ya kalian mau


jagain tempat ini. Padahal kalian bisa jadi saksi sejarah kalo masuk ke dalam


situ.”


““!!!””


Para anggota Joint Party melihat


Morri yang datang sambil bertepuk tangan. Sebenarnya mereka menduga kedatangan


para Dragonewt yang menyerang mereka, termasuk Erkstern dan Morri, namun mereka


tidak menduga kedatangan mereka yang begitu cepat.


“Morriii—”


“Jangan gerak duluan, Zorly!”


“Hah?! Kenapa emangnya?! Tambah


lagi, kenapa manggil gue kayak gitu?!”


Tanya Zorlyan ketika Mahadia


menahannya.


“Jangan gegabah.”


“Apa maksud lo—”


“Harrit, pasang pelindung!


Sekarang!”


“Ya! Lion Steel!”


“…”


Dengan sihirnya, Harrit


menciptakan patung kepala singa dengan rambutnya yang menutupi mereka.


“Kenapa kita malah sembunyi?!”


“Karena—”


“*Tung! (suara besi tertembak)”


“Karena itu!”


Seru Mahadia sambil menunjuk


suara sihir perisai Harrit yang tertembak.


“Cih! Masih ada Dragonewt


Marksman itu, ya?!”


“Hmm!”


Balas Mahadia sambil mengangguk


ketika mendengar pertanyaan Zorlyan.


“Royce, di mana Marksman itu?!”


“…”


Royce terdiam ketika ditanya oleh


Mahadia karena sedang berkonstentrasi untuk mencari keberadaan Marksman itu.


“Nature’s Call.”


Dengan sihirnya, Royce


memanfaatkan alam sekitar, seperti pohon, rumput, dan air laut, untuk mencari


keberadaan Marksman itu.


“Maha! Saya berhasil menemukan—”


““…””


Semua heran dengan Royce yang


tiba-tiba terdiam.


Hingga akhirnya…


“Semua, lari dari balik patung


ini!”


…ia merasakan adanya serangan


dari balik patung Harrit.


Mendengar peringatan Royce,  semua pun bergegas keluar dari balik patung


itu.


Harrit membatalkan sihirnya,


sedangkan Winona merapal sihir untuk membawa mereka pergi dari titik tersebut.


“Floating Bubble!”


“*Blub, blub, blub… (suara


gelembung)”


Ketika mereka terbang masing-masing


di dalam sebuah gelembung dari sihir Winona, tiba-tiba muncul semacam duri yang


terbuat dari tanah liat. Beruntung mereka menghindari duri itu karena


peringatan dari Royce.


“Cih! Pasti itu sihir Mo—”


“Maha, saya mendapat lokasi Marksman


itu! Ia berada di balik hutan itu!”


“…”


Sambil memperhatikan arah yang


ditunjuk Royce.


Saat Mahadia dan Royce mencari


letak Marksman itu, tiba-tiba muncul tombak dari tanah liat yang melayang ke


arah Harrit.


“*Phak! (suara gelembung pecah)”


“…”


Tombak itu pun pecah dan hendak


menusuk Harrit. Untungnya ia dengan mudah menangkap tombak itu.


“Brengsek, Morri!”


Ketika mendarat, Harrit pun


bergegas menghampiri Morri dengan cara bergerak secara berliku-liku.


“…”


“Cih! Dia berhasil ngehindarin


tembakan gue!”


Seru Dragonewt Marksman itu itu


karena gagal menembak Harrit yang bergerak secara berliku.


Dengan gerakan yang cepat, Harrit


pun berhasil menghampiri Morri.


“Morriiii—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh!”


Morri dengan mudahnya menendang


Harrit yang menghampirinya.


Namun, karena terlalu menganggap


remeh keadaan, Morri tidak sadar akan serangan berikutnya.


“*Jlub, jlub, jlub… (suara banyak


tusukan duri)”


Zorlyan berhasil menusuk Morri


dengan duri-duri yang ia lempar ketika Morri sedang lengah.


“Needle Magic: Painful Feel!”


“Argh… Aaaaargh!”


Dengan kekuatan sihirnya, Zorlyan


menciptakan rasa sakit lewat duri yang menancap di tubuh Morri.


Melihat Zorlyan yang menyakiti


Morri, Urlant tidak tinggal diam.


“Maafkan saya, Wakil Kapten.”


“…”


“Strong Root!”


“Ur…Urlant… Lo ngapa—”


“*Krrtak! (suara patah tulang)”


“Uraaaaaarghh!”


Setelah Urlant merapal sihir,


seketika muncul akar-akar dari dalam tanah yang mengikat Morri. Ikatan dari


akar tersebut sangatlah kuat, hingga meremukkan tulangnya.


Ketika yang lainnya sedang


berkutat menghadapi Morri, Mahadia masih khawatir dengan tembakan jitu


Dragonewt misterius itu.


“Royce, coba tunjukkin lagi di


mana Marksman itu.”


“Di sana.”


“…”


Setelah memperhatikan arah yang


ditunjuk oleh Royce dengan sangat serius, Mahadia pun melempar pisau miliknya


dengan sangat yakin.


Royce yang memperhatikan Mahadia


yang melempar pisau merasa heran.


“Maha, apa gunanya anda melempar


pisau seperti itu…”


“Perhatiin aja baik-baik. Selama


arah yang lo tunjuk bener, pasti lo kaget.”


Balas Mahadia yang menjawab


keraguan Royce.


Sedangkan di balik hutan,


Dragonewt misterius itu sedang berusaha membidik dengan senapannya, namun ia


melihat sebuah pisau yang menghampirinya dengan pelan.


Ia pun menangkap pisau itu.


“Hah? Kok ada pisau tiba-tiba?”


Bisik Dragonewt itu dengan heran.


“Hmm… Kayaknya pisau gue udah


sampe dia.”


Pikir Mahadia.


“…”


Mahadia pun melempar pisaunya yang


lain ke tanah yang ada di hadapannya.


“Switch Blade…”


“*Cyung… (suara teleportasi)”


“Eh?! Kok gue ada di—”


“*Shrak! (suara menebas)”


Tiba-tiba Dragonewt itu muncul di


hadapan Mahadia. Tanpa ragu, ia pun langsung menebas Dragonewt itu dengan belatinya.


“Hah?! Mengapa tiba-tiba


Dragonewt itu ada di depan kita?!”


“Sederhana aja. Selama pisau gue


ada di orang ini, gue jadi bisa tuker posisi orang ini sama pisau yang gue


lempar ke tanah tadi.”


Jelas Mahadia tentang sihirnya


ketika ditanya oleh Royce.


“Cih! Lo kira lo udah aman karena


bisa bawa gue ke sini?!”


Dragonewt itu berusaha menyemburkan api dari mulutnya, akan tetapi…


“*Bwush! (suara tersiram air)”


“Uhuk!”


“Kamu kira kita akan biarin kamu


ngalahin kita lagi?!”


Tegas Winona sambil menyiramnya dengan


sihir air.


“Cih! Dasar anak kecil biadab!”


Merasa kesal dengan sihir Winona,


Dragonewt itu hendak menyerangnya terlebih dahulu.


Akan tetapi…


“♫La la la la la……”


“Uwh…”


…lewat alunannya yang merdu, Royce membuat Dragonewt


itu terlena, hingga membuatnya sulit untuk bergerak.


“Lullaby. Itu sihir saya agar anda terlelap.”


“Urgh! Jangan lo pikir lo bisa bikin gue ngantuk te—”


“*Cyung… (suara teleportasi)”


“Sialan—”


“*Shrak! (suara tebasan belati dan celurit)”


“Argh!”


Setelah berhasil keluar dari perangkap alunan Royce,


tiba-tiba muncul Mahadia di depan Dragonewt itu yang langsung menebas dengan


dua senjata tajamnya.


“Sialan! Gue harus jaga jarak dari perempuan ini!”


Pikir Dragonewt itu yang langsung terbang menjauhi Mahadia.


“*Jlub! (suara tertusuk pisau)”


“Urgh!”


Mahadia melempar pisau yang menancap di punggung


Dragonewt itu. Namun Dragonewt itu tidak mempedulikannya dan tetap terbang


menjauhi Mahadia.


“Switch Blade!”


“Sialan! Sihir itu la—”


“*Cyung… (suara teleportasi)”


“*Jlub! (suara tusukan belati dan celurit)”


Mahadia kembali menukar keberadaan pisau ia pegang


dengan pisau yang tertancap di punggung Dragonewt itu. Setelah itu ia langsung


menebas punggung Dragonewt itu dengan kedua senjata tajamnya.


“Argh! Dasar perempuan brengsek—”


“Hraaaaaghhh!”


“*Bruk! (suara terbanting)”


Saat berada di atas udara, Mahadia langsung membanting


Dragonewt itu ke tanah.


“Aaaarrgghhh! Urgh!”


“Mo…Morrii—”


“*Dhuk! (suara menendang)”


Saat sedang mengkhawatirkan keadaan Morri yang sedang terpojokkan


oleh Harrit, Zorlyan, dan Ulrant, Dragonewt itu tiba-tiba menerima tendangan


yang keras Mahadia dari atas udara.


“Uhuok!”


“Ka…Kakak—”


“*Krrrk! (suara tulang remuk)”


“Urgh!”


Morri yang khawatir dengan Dragonewt itu tidak bisa


berbuat apa-apa selama Urlant masih meremuk tulangnya dengan sihir akarnya.


Ketika mereka hampir berhasil mengalahkan dua Dragonewt


itu, Mahadia merasa ada yang janggal.


“Kenapa dia belom dateng?”


Pikir Mahadia.


“Royce! Coba cari Erk—”


“RUOOOAAAAAAAAAAARRRR!!!”


Raungan itu seketika muncul


ketika Mahadia meminta Royce untuk mencari Erkstern.


““…””


Mendengar raungan itu, mereka semua menjadi begitu


ketakutan.


Tubuh mereka menjadi gemetar tidak karuan. Semangat


mereka menjadi pudar.


Si dalam benak mereka hanya ada satu kalimat yang


mendeskripsikan kejadian ini.


“***Aku akan mati…***”


Karena rasa takut yang begitu membekas di pikiran


mereka, setiap serangan dan sihir yang mereka lancarkan pun terbatalkan.


Di tengah ketakutan mereka, tiba-tiba muncul sosok yang


tidak asing lagi bagi mereka, yang terlihat begitu kelelahan.


“E…Erkstern!”


Melihat orang itu, Mahadia begitu kesal dan ingin


membunuhnya. Akan tetapi, tubuhnya mati rasa karena mendengar raungan tersebut.


Erkstern pun berjalan sambil mengeluarkan pedangnya.


“Maafin gue, Maha.”


“*Jlub… (suara menusuk)”


“Lo orang yang baik, tapi gue punya tujuan yang lebih


mulia daripada sekedar jadi Petualang.”


Kata Erkstern sambil menusuk Mahadia tepat di


jantungnya .


“Lo juga orang yang baik, Harrit.”


“*Shruk… (suara menusuk)”


“Maafin gue, Harrit.”


Kata Erkstern sambil menusuk Harrit.


“Urlant. Lo orang yang baik yang selalu mau hibur kita


semua.”


“*Shruk… (suara menusuk)”


“Sayang, lo harus sampe sini aja untuk tujuan gue.”


Kata Erkstern sambil menusuk Urlant.


“Royce, sebenernya lo itu cantik dan anggun.”


“*Shruk… (suara menusuk)”


“Maafin gue karena lo harus mati di tangan gue.”


Kata Erkstern sambil menusuk Royce.


Tidak hanya mantan rekannya saja yang ia tusuk. Ia


melewati Zorlyan dan Winona sambil menusuk mereka juga.


“Zorlyan…”


“*Shruk… (suara menusuk)”


“Winona…”


“*Shruk… (suara menusuk)”


Selain Mahadia, mereka semua tidak bisa mengeluarkan


satu kata pun karena begitu ketakutan. Bahkan ada di antara mereka yang tidak


sadar bahwa mereka telah tertusuk.


Setelah ia menusuk mereka semua, Erkstern pun berjalan


ke arah dua rekannya dan menyembuhkan mereka.


“Fiery Heart.”


“Erkstern, lo serius mau coba sembuhin kita berdua? Lo


kan kecapean banget karena pake Sihir Naga tadi…”


“Maksud lo…Dragon Cry, kak?”


“Ya iya, lah!”


Seru Dragonewt misterius itu sambil menerima sihir


penyembuhan dari Erkstern.


“Nggak apa-apa. Sebelum masuk ke portal itu, kondisi


kita harus prima. Kita nggak akan tau apa isi Hidden Dungeon itu, kak. Tambah


lagi, orang yang paling bahaya ada di balik portal itu!”


Jelas Erkstern kepada Dragonewt itu.


Setelah mereka berdua berhasil disembuhkan, Morri


dengan kondisi primanya berjalan mengelilingi para Petualang yang dikalahkan


oleh Erkstern.


Setelah itu, Morri melakukan sesuatu yang membuatnya


kesal.


“Morri! Lo ngapain?!”


“Ngambil Jiwa-nya Harrit. Kenapa, bang?”


“Jangan rakus! Jiwa mereka udah cukup banyak! Belom lagi ditambah Jiwa


Naga di dalem sana!”


“Emangnya salah kita ambil Jiwa dia?! Kan dia ini


Beastman! Daripada mati gitu aja, mending kita ambil—”


“Jangan rakus! Jiwa mereka udah cukup banyak! Belom


lagi ditambah Jiwa Naga!”


“Bang! Kok lo—”


“Inget kata Guru Brahal! Jadi orang jangan tamak!”


Melihat Erkstern dan Morri yang berdebat, Dragonewt


misterius itu hanya melihat saja tanpa melakukan tindakan apapun.


Namun karena perdebatan mereka semakin panjang, ia pun


mengajak mereka untuk segera masuk ke dalam Hidden Dungeon.


“Erkstern, Morri, mau berapa lama kalian debat? Mending


kita masuk Hidden Dungeon ini. Sekarang!”


““Ya, kak.””


Mereka pun bersama-sama masuk ke dalam Hidden Dungeon.


……………


Namun, mereka sedikit gegabah.


“…”


“Hiks…Hiks… Maafkan saya, Harrit! Saya tidak


bisa berbuat apa-apa ketika Jiwa anda diambil mereka!”


Seru Urlant sambil menangis dengan menopang jasad


Harrit di pangkuannya.


Setelah ia ditusuk oleh Erkstern, ia secara


sembunyi-sembunyi menyembuhkan diri sendiri tanpa diketahui Erkstern dan


rekannya.


“Jika seperti itu, hanya ada satu hal yang bisa saya


lakukan!”


Seru


Urlant sambil menyaksikan korban-korban tusukan Erkstern.