Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 179. Eagles Against Scientists



“HYAAAAAHHH!!! PERGI SANA, ANYING!!!”


“Heh! Gue ini kumbang badak! Kok lo sebut gue anjing sih?!”


Garry terus berlari dari kejaran Insectant yang bernama Kwajoe, yang merupakan seorang Scholar dan Frontliner Kasta Kuning.


“Duh, anying! Semoga benda ini bisa* digunakeun!”


Pikir Garry, sambil mengeluarkan tongkat sihir yang diberikan oleh Raja Glennhard untuknya.


Namun, sambil mengingat cara menggunakan artifak itu, Garry teringat akan salah satu kejadian di kapal, ketika ia berlayar bersama Aquilla.


……………


“Ger, kayaknya nih buku panduan untuk tongkat lo, deh.”


Kata Djinn sambil memegang sebuah buku.


“Oh, keren nih Ger. Ternyata nggak cuma bantu serap Mana doang. Katanya sih tongkatnya bisa dipake untuk gerakin benda sekitar.”


"..."


Dengan penasaran, Garry mengambil buku panduan itu dari Djinn.


Akan tetapi…


“*Clup…”


…ia membuang buku itu ke laut.


“Eh! Bego banget! Kok malah lo buang, sih?!”


“Ah, nggak penting! Jadi cowok teh langsung praktek! Nggak butuh mah aing penjelasan kayak kitu!”


Balas Garry, yang membuat Djinn begitu kesal.


……………


Karena mengingat kejadian itu…


“HYAAAAAHHHH!!! AING TEH NYESEL PISAN BUANG BUKU PANDUANNYA, DJIIIINNNN!!!”


…ia menyesali perbuatannya.


Sedangkan Kwajoe yang terus mengejarnya hendak melakukan sesuatu.


“*Glukglukgluk…”


Ia meminum suatu ramuan yang ia simpan dalam sakunya.


“Speed Enhancement!”


“*Fwush!”


Dengan ramuan itu, ia terbang dengan cepat untuk menyeruduk Garry dengan tanduk kumbang lebah miliknya.


“*Dung!”


“ADAAAAAWWW!!! KANG WILFREEEEDDDD!!!”


Teriak Garry setelah diseruduk bagian bokongnya, hingga ia terpental ke atas udara.


“HYAAAAAAHHH!!! AING JATOOOOHHH!!!”


Kembali teriak Garry.


Namun kali ini, ia tidak menyangka tongkat sihir yang ia pegang menjadi solusi baginya.


“HYAAAAAHHH!!!”


Garry jatuh melewati pohon-pohon besar.


“*Tuk, tuk, tuk…”


Tongkatnya menyentuh ranting-ranting di sekitar pohon-pohon itu.


Tanpa ia duga…


“*Krrrkk…”


“Et?!”


…ranting-ranting pohon yang tersentuh oleh tongkatnya bisa bergerak dan menangkapnya, sebelum terjatuh dengan keras.


“Et?! Kok bisa?!”


Tanya Garry dengan heran.


Seketika, ia teringat kembali dengan penjelasan Djinn.


“Ternyata nggak cuma bantu serap Mana doang. Katanya sih tongkatnya bisa dipake untuk gerakin benda sekitar.”


Karena teringat akan penjelasan Djinn…


“Huahahahaha!”


…ia merasa yakin dan percaya diri bisa mengalahkan Kwajoe.


Akan tetapi…


“Heh! Kok lo masih bisa selamat, sih?!”


“HYAAAAAAHHH!!! ADA SERANGGA, ANYING!!!”


…rasa takut akan serangga lebih unggul dibandingkan keberaniannya.


Karena begitu panik…


“HYAAAAAHHH!!!”


“Eh?! Dia bukannya Petualang?!”


“Kok ketakutan gitu?!”


…Garry tidak sadar jika ia berlari ke Clamista.


“MINGGIR, ANYING! ADA SERANGGA!!!”


Teriak Garry kepada warga Clamista.


Karena teriakannya itu…


““HYAAAAAHHHH!!!””


…sebagian besar warga pun panik.


“Dasar sialan!”


Ketus Kwajoe yang kesal dengannya yang terus berlarian tanpa henti.


Karena aksinya yang menjengkelkan itu…


“Humph!”


“*Grrrkk…”


…Kwajoe pun mengangkat salah satu Shelldrop untuk ia lempar ke arahnya.


“Woy, bocah sialan!”


“HYAAAAHHH!!! SIANYING TEH—”


“Makan nih!”


“*Wush!”


Kwajoe melempar Shelldrop dari


ketinggian.


“HYAAAAAHHH! AING TEH BAKALAN MATI, ANYING!”


Teriak Garry yang panik, sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Shelldrop yang akan menimpanya.


Akan tetapi, keajaiban terjadi.


“*Tuk…”


Tongkat sihir miliknya menyentuh Shelldrop.


Setelah itu…


“Eh? Kenapa atuh kerang ieu—”


“*SWUSH!!!”


“!!!”


…Shelldrop itu bergerak ke arah Kwajoe dengan sangat cepat.


“*BRUK!!!”


“Akh!”


Kwajoe pun terpukul jauh karena terhantam Shelldrop itu.


“Haaaaahhh……?”


Garry masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Walaupun ia harus melarikan diri secepatnya dari Clamista.


“Woy! Keterlaluan!”


“Balikin Shellsdrop itu?!”


“Dikira gampang ya cari Shellsdrop?!”


“HYAAAAAAHHH!!!”


Garry hanya bisa berteriak dan lari ketakutan karena amukan warga atas caranya mengalahkan Kwajoe.


……………


Di sisi lain pertarungan antara Scholar Chemia melawan Aquilla.


“*Swung! Swung! Swung!”


“*Swush! Swush! Swush!”


Gia terus menyerang Brandt Farroft, yang juga seorang Frontliner Kasta Kuning. Akan tetapi, serangannya


tidak ada yang berhasil menyentuh tubuhnya.


“Cih! Frontliner apa yang gerakannya secepet ini?!”


Pikir Gia yang kesal.


Tetapi, Brandt nmenyadari akan hal itu.


“Anda pasti berpikir… “Mengapa Frontliner bisa bergerak secepat ini?!” Begitu, bukan?!”


“!!!”


Gia terkejut dengan Brandt, seakan ia membaca isi pikirannya.


Namun, ia tidak berhenti mengayunkan World Quaker miliknya.


“*Swung! Swung! Swung!”


Pikir Gia sambil mengayunkan pedang besarnya itu.


Dan lagi-lagi…


“Anda pasti berpikir… “Seperti apa kelemahan dari pria ini? Tidak ada gunanya bagi saya mengayunkan pedang seperti ini!” Benar begitu?”


…Brandt berlagak seperti membaca pikirannya.


“Ih! Ngeselin banget sih orang ini!”


““Pria ini sangat menjengkelkan!” Benar begitu?!”


“Apaan sih?! Dia ini bisa telepati, ya?!”


“Apakah pria ini seorang Telepath?!”


Apa yang Gia pikirkan terus disebutkan oleh Brandt.


Dengan rasa kesal sambil menjaga staminanya, Gia pun menjaga jarak darinya.


“Oh, anda memilih untuk mundur karena tidak bisa menemukan kelemahan saya. Benar, bukan?”


“…”


Gia tidak memperdulikannya.


Ia hanya memikirkan cara mengalahkan Scholar yang ada di depan matanya.


“Dia padahal pake zirah yang tebel banget! Tapi kenapa dia nggak bisa bergerak cepet, ya?!”


Pikir Gia sambil memperhatikan Brandt.


Dan lagi-lagi, Brandt tahu apa yang Gia pikirkan.


“Anda pasti berpikir… “Bagaimana zirah setebal itu bisa bergerak dengan sangat—””


“Ih! Bawel banget, sih! Emangnya anggota Chemia bawel semua ya kayak kamu?!”


Seru Gia yang tidak sanggup menahan amarahnya.


Namun kalimat itu…


“Hoo… Sepertinya kalimat tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa saya baca.”


…adalah hal yang tidak disangka oleh Brandt.


Karena hal itu, Brandt pun menantang Gia.


“Baiklah. Coba anda serang saya. Saya janji demi Professor Ghibr, bahwa saya tidak akan bergerak.”


“…”


Karena tantangannya itu, Gia bersiap menyerang Brandt.



Gia menyerang dengan serangan jitunya.


Akan tetapi…


“*PRANGGG……”


…zirah yang digunakan Brandt sangat tebal, sehingga serangan pedang miliknya hanya menghantarkan getaran hingga ke tubuhnya sendiri.


Akan hal itu, Brandt pun memaksimalkan kesempatan.


“*Bruk!”


“Argh!”


Ia membanting Gia, hingga dataran menjadi pipih.


“Anda tahu, mengapa saya bisa mengetahui apa yang anda pikirkan?”


“Urgh…”


Tanya Brandt, sambil menginjak pundak Gia dengan kakinya, hingga ia tidak bisa bangkit berdiri.


“Sekedar informasi. Saya adalah seorang pengamat. Berkat milik saya, maka saya bisa mengetahui apa yang anda pikirkan hanya dengan memperhatikan anda saja, Gia Maevin. Mengapa saya bisa mengamati dengan jelas? Tentu saja karena saya terus senantiasa menekuni kegiatan saya dalam mengamati sesuatu!”


Jelas Brandt dengan panjang lebar.


“Cih! Le-Lepasin kaki ka—”


“*Bruk!”


“Keuk!”


“Inti dari penjelasan saya adalah… Saya memperhatikan pergerakan anda seperti membaca dongeng, Gia Maevin.”


“!!!”


Gia begitu kesal mendengar cemoohan Brandt.


“Lebih baik anda pensiun saja, Gia Maevin. Anda itu lemah. Tambah lagi, seorang wanita menjadi seorang Frontliner? Yang benar saja! Bahkan saya yakin anda tidak bisa memancing musuh-musuh untuk menyerang anda, bukan?!”


Lanjut Brandt yang mencemooh Gia.


Mendengar semua omongannya, Gia pun terpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak akan pernah diduga olehnya.


“Kamu itu… hidupnya selalu jadi pengamat, kan?!”


“Hmm?”


“Kalo gitu… kamu pernah ngamatin ini, nggak?”


“!!!”


Brandt benar-benar terkejut ketika Gia hendak membuka bajunya.


Karena aksinya itu…


“…”


…Brandt menutup matanya.


“Hey, Gia Maevin! Anda ini perempuan?! Mengapa anda—”


“Hraaaagh!”


“*BHUK!!!”


“Gyaaakh!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Gia langsung memanfaatkan kesempatan karena Brandt yang menutup matanya. Karena matanya yang tertutup itu, Gia langsung memukul Brandt dengan keras, hingga ia terpental dan jatuh terlontar ke tanah.


“Gi-Gia Maevin! Berani-beraninya anda menipu saya!”


Seru Brandt dengan kesal.


“…”


Gia hanya menatap tajam Brandt sambil merapikan bajunya kembali.


Setelah itu, ia pun maju untuk menyerang Brandt, dengan tatapan yang tidak lepas darinya.


“Hmm… Sepertinya ****** itu akan menyerang dengan mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Lebih baik saya menghindar ke samping saja.”


Pikir Brandt seakan ia telah membaca pergerakannya.


Namun, perkiraannya salah.



“*Prang!”


“*BRRRKKK…”


Gia menghancurtkan tanah yang ia pijak dengan begitu keras, hingga dataran yang luas itu menjadi pipih. Dengan tidak adanya landasan yang bisa dipijak, Brandt pun terjatuh.


“Aaaaa…”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Melihatnya yang terjatuh, Gia berusaha memaksimalkan momentum dengan sebaik-baiknya.


“Hey! Apa yang kau lakukan—”


“Hraaaagh!”


“*Krang!”


Ia melucuti seluruh zirah yang dikenakan Brandt.


Karena itu…


“Hiieeeekkhh!”


…Brandt takut akan Gia.


Sambil melihat zirah yang ia lucuti, Gia pun tersadar akan suatu hal.


“Kamu pasti mikir… “Ah! Zirah aku dilepas! Aku jadi nggak bisa apa-apa, selain liatin cewek cantik ini!””


Seru Gia yang membalas cemoohan Brandt.


“A-Apa yang anda bicara—”


“Hraaaagh!”


“*BHUK!”


“Koghhh…”


Gia pun langsung memukul Brandt yang akan berbicara, sebelum ia pingsan.


Namun, sebelum ia pingsan…


“Sa… Saya tidak berpikir seperti itu…”


…Brandt berpikir tentang apa yang belum ia sampaikan kepada Gia.


Dengan terkalahkannya Brandt, Aquilla menjadi lebih unggul dibandingkan Scholar dari Chemia.


Akan tetapi…


“Haha! Anggota Chemia bilang lo nggak punya kelemahan?! Hmph! Kalo gini doang sih gue pasti menang!”


“…”


…Djinn sedang kesulitan ketika menghadapi Thelial, yang juga seorang Scholar.


Sedangkan Dalbert…


“Huff! Huff! Huff!”


“Hmph! Emang Kasta Biru tuh tolol semua!”


…hampir dikalahkan oleh Wickerd.