
“Terima kasih telah mengizinkan
saya datang menemui anda sekalian, Wahai Dewa Dewi Yang Maha Agung.”
Hah?! Kok pindah lagi, sih?!
“…”
Tapi tempat ini…kayak ruang
kerajaan gitu.
Semua yang ada di tempat ini
dilapisin emas, ada pernak-pernik berlian, sama…
“…”
…7 orang yang duduk ngelingkarin
Melchizedek yang lagi berlutut.
Eh bentar…
“…”
Kalo gue perhatiin lagi sih, di
belakang 7 orang ini ada…burung?
Eh, bukan burung! Itu kayak…Malaikat?
“Salam Hamba kepada Sang Pengatur
Kelahiran dan Sirkulasi Roh, Nature Goddess Gennisia.”
“…”
Oh, dia yang ngatur Sirkulasi
Roh?
Bentuknya sih…kayak Manusia, tapi
badannya kecil banget! Ada kali tuh tingginya cuma 2 meter!
Eh, tapi kok ada sayap kupu-kupu
ya di punggungnya?
“Salam Hamba kepada Sang
Kebebasan, Wind Goddess Zegin.”
Zegin?! Itu dewa-nya Myllo?
Ternyata bentuknya kayak
Beastman!
Eh, Beastwoman maksudnya.
Keliatan dari ekor rubah yang ada…sembilan?
“Salam Hamba kepada Sang Cinta
dan Kasih Sayang, Ocean Goddess Amoreal.”
Ada sirip di kupingnya, mirip
Yorech.
Artinya dia itu Mermaid.
Tapi kok…gue ngerasa kalo dia
bukan Mermaid, ya?
“Salam Hamba kepada Sang
Kekuatan, Mountain God Styrorke.”
Buset! Gede banget badannya!
Mungkin ada kali tuh badannya 4
meter!
Tapi kok…matanya cuma satu?!
“Salam Hamba kepada Sang Kerja
Keras dan Ketekunan, Fire God Arkhataz.”
Dari matanya…entah kenapa mirip
kayak Naga-Naga yang gue lawan tadi. Jangan-jangan dewa ini tuh Naga?
Tapi kok bentuknya kayak Manusia?
Eh?! Arkhataz?!
Kok kayak pernah denger ya
namanya?!
“Salam Hamba kepada Sang
Kecerdasan dan Pengetahuan, Mind God Ensi.”
Dewa satu ini juga nggak kalah gede
daripada dewa mata satu tadi!
Tingginya bisa aja 12 meter!
“Dan salam Hamba kepada Yang
Terkuat dan Termulia, Sang Keadilan, Sky God Sakhtice.”
Oh, ini pimpinan dewa-nya?
Bentuknya sih kayak orang biasa.
Posisi duduknya bener-bener di
tengah. Tambah lagi…
“…”
…dia dudukin patung tangan yang
gede banget bahkan jauh lebih gede daripada dua dewa raksasa tadi!
“Melchizedek, hamba-Ku yang
Kukasihi. Jawablah pertanyaan-Ku.”
“Hamba siap menjawab, Ocean
Goddess.”
“Mengapa koneksi batin antar Kami
dengan engkau sempat hilang?”
“Maafkan Hamba karena telah
melewati batas, Dewi.”
“Melewati batas?”
“Hamba…memasuki Demonsia.”
““!!!””
Bahkan dewa-dewi ini aja pada
kaget dia masuk Demonsia.
“Anak-Ku. Mengapa engkau berani
memasuki wilayah berbahaya itu?”
“…”
Gue yang berdiri di samping
Melchizedek, bisa ngeliat tangannya yang gemeteran, sama jidatnya yang
berkucuran keringet.
“Maafkan hamba jika menjawab ini,
Nature Goddess.”
““…””
“Hamba sangat menghormati para
Dewa dan para Dewi sekalian. Hamba begitu belajar banyak aspek kehidupan dari
Para Dewa dan Para Dewi teguhkan, khususnya tentang Keadilan dari Sky God
Sakhtice.”
““…””
“Maka dari itu, menurut hamba
tidak adil jika hamba terus berperang melawannya, tanpa mengetahui alasan Demon
God Aleziel meninggalkan tempat ini dan menyerang Geoterra secara terus
menerus. Maka dari itu…ha…hamba datang dengan niat untuk me…me…menemuinya…”
““!!!””
Dewa-dewa ini semua pada kaget
waktu denger Melchizedek ngomong kayak gitu. Kecuali…
“Perhatikan ia, Ensi. Karena
aspek yang kau pegang teguh, hamba Kita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.”
“Jangan salahkan Aku, Sakhtice!
Aku dipercayakan Sang Alpha untuk memegang teguh Aspek yang Beliau
inginkan untuk semua Mahluk Intelektual di dunia ini!”
…dewa yang namanya Sakhtice itu.
Ternyata dibalik dewa-dewa ini masih
ada penciptanya lagi? Gue kira mereka yang ciptain semuanya.
“Tu…Tunggu! Maafkan hamba
sebelumnya, Dewa-Dewi sekalian. Hamba ingin menyampaikan sesuatu.”
“Apa yang hendak kau sampaikan,
Saint Melchizedek?”
“Ketika hamba berkelana di
Demonsia, hamba mendapatkan sesuatu yang mungkin Dewa-Dewi sekalian tidak
ketahui!”
“Hm?”
“Se…Selama ini…perang antar
penduduk Geoterra melawan Iblis terjadi…karena Demon Lord!”
“Demon Lord? Maksudmu prajurit
besar yang Aleziel buat untuk melawan—”
“Demon God…tidak, maksud hamba,
Star God of Joy, Aleziel, meninggalkan tempat ini hanya karena ingin
menjaga Monster Intelektual, yang Dewa-Dewi sekalian larang keberadaannya di
Geoterra!”
Monster Intelektual…
Kalo kata Meldek sih…Monster
Intelektual itu kayak Goblin, Orc, Troll, sama Monster lainnya yang bisa mikir
sama punya perasaan.
Ternyata mereka dilarang
keberadaannya di dunia ini ya sama dewa-dewa ini.
“Maka dari itu, hamba melihat ada
diserang oleh Mahluk Intelektual seperti hamba dan rekan-rekan hamba.”
““…””
“Hamba juga tahu Star God Aleziel
juga menciptakan Iblis hanya untuk menjaga Monster-Monster Intelektual, jika
kelak Demonsia diserang. Akan tetapi, Dewa-Dewi sekalian tahu apa yang hamba
saksikan di Demonsia?!”
““…””
“Monster Intelektual tersiksa!
Mereka dilatih untuk menjadi pasukan yang berjalan bersama dengan para Iblis
untuk menyerang Geoterra!”
Lah, kalo ujung-ujungnya disiksa,
buat apa mereka dibawa ke Demonsia?!
“Lalu, apa tujuan Aleziel membawa
para Monster Intelektual, jika Ia hanya menyiksa mereka? Baik di Geoterra
maupun Demonsia pun mereka sama-sama tersiksa.”
Untung ada yang nanya kayak gitu.
“Maafkan hamba, Fire God
Arkhatraz. Anda mungkin benar tentang Star God Aleziel membawa para Monster
Intelektual. Namun bukan Ia yang menyiksanya, karena Ia merupakan korban
dari ciptaan-Nya!”
“A…Apa maksud engkau—”
“Saya melihat diri-Nya di
Demonsia, masih hidup dan disegel oleh Demon Lords! Ia sengsara karena hanya
dimanfaatkan Mana-Nya saja oleh para Demon Lords, yang bertujuan untuk
menguasai Geoterra!”
““!!!””
Gila! Tragis banget!
Jadi tujuan dia ciptain Iblis
sebenernya baik, tapi Iblis-Iblis itu malah membelot?!
Kasian gue sama dewa itu.
Ninggalin takhta di tempat ini demi Monster-Monster itu, eh ujung-ujungnya dia
disiksa bareng Monster-Monster itu!
“Aleziel…”
““…””
“Tidak. Kau salah, Melchizedek.”
“Mohon pencerahan Yang Mulia
kepada hamba terkait kesalahan hamba, Mind God Ensi.”
“Kami tidak melarang keberadaan
Monster Intelektual, kecuali Dia!”
“Sky…Sky God Sakhtice?”
Eh, ternyata dewa juga main
salah-salahan, ya…
“Kau tahu mengapa Aku melarang
keberadaan Monster Intelektual, Melchizedek?”
“Mohon pencerahan—”
“Karena mereka adalah produk
gagal yang diciptakan oleh Sang Alpha. Dunia ini adalah dunia yang indah, yang berhasil diciptakan-Nya. Oleh karena itu, untuk menjaga keberhasilan ciptaan-Nya,
maka dengan adanya kegagalan sama artinya mencela kesempurnaan dunia ini. Kau
paham maksud-Ku, Melchizedek?”
Brengsek! Gue kesel banget
dengernya!
Terus kalo ada orang cacat di
dunia ini, harus dibuang juga, gitu?!
“Ma…Maafkan hamba jika berkata
seperti ini. Bukankah pernyataan Yang Mulia tidak adil bagi—”
“*DHUM! (suara tekanan aura besar)”
“Urgh…”
“Jangan membahas keadilan,
seolah kau paham arti keadilan itu!”
“A…Akan tetapi—”
“Kami adalah Dewa yang
dipercayakan-Nya untuk memimpin dunia ini! Aku lah pemimpin dari kasta
tertinggi ini! Aku punya kuasa atas Ruang dan Waktu! Siapapun yang lahir
di dunia ini, pastinya sudah ditentukan takdirnya apakah keberadaannya benar
atau salah!”
Maksudnya setiap orang pasti ada
yang 100% bener sama 100% salah dari lahir, gitu?!
Mana bisa lo sama ratain putih sama hitem, anjing?!
Setiap mahluk pasti abu-abu!
“Haaaah…dasar brengsek. Lagi-lagi
kayak gitu bahasanya…”
“He…Hey, Zegin! Henti—”
“Jujur aja, Gue capek jadi Dewi
kalo masih ada Titan brengsek kayak Dia!”
Eh?! Serius itu dewa-nya Myllo?!
Kaget gue ada dewa yang kayak preman gitu…?
Apalagi dia cewek…
“*DHUM! (suara tekanan aura besar)”
“Kau berani menentang-Ku,
Zegin?!”
“*DHUM! (suara tekanan aura
besar)”
“Siapa yang takut sama Lo?! Lo
kira gue—”
““*DHUM! (suara banyak tekanan
aura besar)””
“Hentikan, Kalian berdua!”
Nggak tau kenapa, tiba-tiba
bawaannya jadi tegang di tempat ini.
“Ya, ya, ya… Jadi, sekarang lo
udah tau tentang tindakan bodoh Sakhtice kan, Melchizedek?”
“Ya, Zegin…”
“Apa maksud-Mu, Zegin—”
“Melchizedek! Gue sebagai Dewi
kasih kebebasan untuk lo untuk lakuin apa yang lo pilih, tapi tolong sebut ke
depan kita apa yang lo lakuin kedepannya.”
“Ha…Hamba…Hamba akan tetap
memimpin warga Geoterra untuk melawan Iblis.”
“Hm…sama aja ya—”
“Namun, bukan dengan niat untuk
“menghukum” Iblis dan Monster Intelektual lainnya, melainkan untuk memberikan
keadilan dan kelayakan bagi para penghuni Demonsia—”
“MELCHIZEDEEEK!!!”
“*Jgruum! (suara petir)”
……………
“Aaaagggh!”
Eh! Mata gue perih banget! Kenapa
disamber petir?!
Tadi gue pingsan, terus ngeliat sejarah
yang mungkin cuma gue doang yang tau, tiba-tiba gue bangun waktu denger
suara petir, yang nyamber mata gue.
“…”
Untung mata gue masih bisa normal
ngeliatnya waktu gue coba liat sekeliling ruangan ini. Anehnya, tulisan di
dinding itu jadi berubah.
“Kau Telah Menerima Mata Yang Akan Menghakimi Dunia dan Mengungkap Kebenaran.
Namun Ketahuilah Ini; Tidak Semua Iblis Jahat, dan Tidak Semua
Malaikat Baik.”
Kayaknya tadi nggak gitu
tulisannya. Apa mungkin tulisannya berubah waktu gue liat sejarahnya
Melchizedek tadi?
Apa mungkin…yang gue liat tadi
tuh Petunjuk tentang dunia ini?
“Hmm…”
Kalo diliat dari tulisan itu,
mungkin Mata yang di maksud itu Mata gue yang disamber petir tadi kali, ya?
Kalo kalimat terakhir…mungkin ada
kaitannya sama obrolan Melchizedek sama dewa-dewa tadi—
“*Boom! (suara ledakan)”
Eh?! Ada apaan di luar sana?! Kok
kayaknya kacau banget?!