Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 80. The Deities and A Message



“Terima kasih telah mengizinkan


saya datang menemui anda sekalian, Wahai Dewa Dewi Yang Maha Agung.”


Hah?! Kok pindah lagi, sih?!


“…”


Tapi tempat ini…kayak ruang


kerajaan gitu.


Semua yang ada di tempat ini


dilapisin emas, ada pernak-pernik berlian, sama…


“…”


…7 orang yang duduk ngelingkarin


Melchizedek yang lagi berlutut.


Eh bentar…


“…”


Kalo gue perhatiin lagi sih, di


belakang 7 orang ini ada…burung?


Eh, bukan burung! Itu kayak…Malaikat?


“Salam Hamba kepada Sang Pengatur


Kelahiran dan Sirkulasi Roh, Nature Goddess Gennisia.”


“…”


Oh, dia yang ngatur Sirkulasi


Roh?


Bentuknya sih…kayak Manusia, tapi


badannya kecil banget! Ada kali tuh tingginya cuma 2 meter!


Eh, tapi kok ada sayap kupu-kupu


ya di punggungnya?


“Salam Hamba kepada Sang


Kebebasan, Wind Goddess Zegin.”


Zegin?! Itu dewa-nya Myllo?


Ternyata bentuknya kayak


Beastman!


Eh, Beastwoman maksudnya.


Keliatan dari ekor rubah yang ada…sembilan?


“Salam Hamba kepada Sang Cinta


dan Kasih Sayang, Ocean Goddess Amoreal.”


Ada sirip di kupingnya, mirip


Yorech.


Artinya dia itu Mermaid.


Tapi kok…gue ngerasa kalo dia


bukan Mermaid, ya?


“Salam Hamba kepada Sang


Kekuatan, Mountain God Styrorke.”


Buset! Gede banget badannya!


Mungkin ada kali tuh badannya 4


meter!


Tapi kok…matanya cuma satu?!


“Salam Hamba kepada Sang Kerja


Keras dan Ketekunan, Fire God Arkhataz.”


Dari matanya…entah kenapa mirip


kayak Naga-Naga yang gue lawan tadi. Jangan-jangan dewa ini tuh Naga?


Tapi kok bentuknya kayak Manusia?


Eh?! Arkhataz?!


Kok kayak pernah denger ya


namanya?!


“Salam Hamba kepada Sang


Kecerdasan dan Pengetahuan, Mind God Ensi.”


Dewa satu ini juga nggak kalah gede


daripada dewa mata satu tadi!


Tingginya bisa aja 12 meter!


“Dan salam Hamba kepada Yang


Terkuat dan Termulia, Sang Keadilan, Sky God Sakhtice.”


Oh, ini pimpinan dewa-nya?


Bentuknya sih kayak orang biasa.


Posisi duduknya bener-bener di


tengah. Tambah lagi…


“…”


…dia dudukin patung tangan yang


gede banget bahkan jauh lebih gede daripada dua dewa raksasa tadi!


“Melchizedek, hamba-Ku yang


Kukasihi. Jawablah pertanyaan-Ku.”


“Hamba siap menjawab, Ocean


Goddess.”


“Mengapa koneksi batin antar Kami


dengan engkau sempat hilang?”


“Maafkan Hamba karena telah


melewati batas, Dewi.”


“Melewati batas?”


“Hamba…memasuki Demonsia.”


““!!!””


Bahkan dewa-dewi ini aja pada


kaget dia masuk Demonsia.


“Anak-Ku. Mengapa engkau berani


memasuki wilayah berbahaya itu?”


“…”


Gue yang berdiri di samping


Melchizedek, bisa ngeliat tangannya yang gemeteran, sama jidatnya yang


berkucuran keringet.


“Maafkan hamba jika menjawab ini,


Nature Goddess.”


““…””


“Hamba sangat menghormati para


Dewa dan para Dewi sekalian. Hamba begitu belajar banyak aspek kehidupan dari


Para Dewa dan Para Dewi teguhkan, khususnya tentang Keadilan dari Sky God


Sakhtice.”


““…””


“Maka dari itu, menurut hamba


tidak adil jika hamba terus berperang melawannya, tanpa mengetahui alasan Demon


God Aleziel meninggalkan tempat ini dan menyerang Geoterra secara terus


menerus. Maka dari itu…ha…hamba datang dengan niat untuk me…me…menemuinya…”


““!!!””


Dewa-dewa ini semua pada kaget


waktu denger Melchizedek ngomong kayak gitu. Kecuali…


“Perhatikan ia, Ensi. Karena


aspek yang kau pegang teguh, hamba Kita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.”


“Jangan salahkan Aku, Sakhtice!


Aku dipercayakan Sang Alpha untuk memegang teguh Aspek yang Beliau


inginkan untuk semua Mahluk Intelektual di dunia ini!”


…dewa yang namanya Sakhtice itu.


Ternyata dibalik dewa-dewa ini masih


ada penciptanya lagi? Gue kira mereka yang ciptain semuanya.


“Tu…Tunggu! Maafkan hamba


sebelumnya, Dewa-Dewi sekalian. Hamba ingin menyampaikan sesuatu.”


“Apa yang hendak kau sampaikan,


Saint Melchizedek?”


“Ketika hamba berkelana di


Demonsia, hamba mendapatkan sesuatu yang mungkin Dewa-Dewi sekalian tidak


ketahui!”


“Hm?”


“Se…Selama ini…perang antar


penduduk Geoterra melawan Iblis terjadi…karena Demon Lord!”


“Demon Lord? Maksudmu prajurit


besar yang Aleziel buat untuk melawan—”


“Demon God…tidak, maksud hamba,


Star God of Joy, Aleziel, meninggalkan tempat ini hanya karena ingin


menjaga Monster Intelektual, yang Dewa-Dewi sekalian larang keberadaannya di


Geoterra!”


Monster Intelektual…


Kalo kata Meldek sih…Monster


Intelektual itu kayak Goblin, Orc, Troll, sama Monster lainnya yang bisa mikir


sama punya perasaan.


Ternyata mereka dilarang


keberadaannya di dunia ini ya sama dewa-dewa ini.


“Maka dari itu, hamba melihat ada


diserang oleh Mahluk Intelektual seperti hamba dan rekan-rekan hamba.”


““…””


“Hamba juga tahu Star God Aleziel


juga menciptakan Iblis hanya untuk menjaga Monster-Monster Intelektual, jika


kelak Demonsia diserang. Akan tetapi, Dewa-Dewi sekalian tahu apa yang hamba


saksikan di Demonsia?!”


““…””


“Monster Intelektual tersiksa!


Mereka dilatih untuk menjadi pasukan yang berjalan bersama dengan para Iblis


untuk menyerang Geoterra!”


Lah, kalo ujung-ujungnya disiksa,


buat apa mereka dibawa ke Demonsia?!


“Lalu, apa tujuan Aleziel membawa


para Monster Intelektual, jika Ia hanya menyiksa mereka? Baik di Geoterra


maupun Demonsia pun mereka sama-sama tersiksa.”


Untung ada yang nanya kayak gitu.


“Maafkan hamba, Fire God


Arkhatraz. Anda mungkin benar tentang Star God Aleziel membawa para Monster


Intelektual. Namun bukan Ia yang menyiksanya, karena Ia merupakan korban


dari ciptaan-Nya!”


“A…Apa maksud engkau—”


“Saya melihat diri-Nya di


Demonsia, masih hidup dan disegel oleh Demon Lords! Ia sengsara karena hanya


dimanfaatkan Mana-Nya saja oleh para Demon Lords, yang bertujuan untuk


menguasai Geoterra!”


““!!!””


Gila! Tragis banget!


Jadi tujuan dia ciptain Iblis


sebenernya baik, tapi Iblis-Iblis itu malah membelot?!


Kasian gue sama dewa itu.


Ninggalin takhta di tempat ini demi Monster-Monster itu, eh ujung-ujungnya dia


disiksa bareng Monster-Monster itu!


“Aleziel…”


““…””


“Tidak. Kau salah, Melchizedek.”


“Mohon pencerahan Yang Mulia


kepada hamba terkait kesalahan hamba, Mind God Ensi.”


“Kami tidak melarang keberadaan


Monster Intelektual, kecuali Dia!”


“Sky…Sky God Sakhtice?”


Eh, ternyata dewa juga main


salah-salahan, ya…


“Kau tahu mengapa Aku melarang


keberadaan Monster Intelektual, Melchizedek?”


“Mohon pencerahan—”


“Karena mereka adalah produk


gagal yang diciptakan oleh Sang Alpha. Dunia ini adalah dunia yang indah, yang berhasil diciptakan-Nya. Oleh karena itu, untuk menjaga keberhasilan ciptaan-Nya,


maka dengan adanya kegagalan sama artinya mencela kesempurnaan dunia ini. Kau


paham maksud-Ku, Melchizedek?”


Brengsek! Gue kesel banget


dengernya!


Terus kalo ada orang cacat di


dunia ini, harus dibuang juga, gitu?!


“Ma…Maafkan hamba jika berkata


seperti ini. Bukankah pernyataan Yang Mulia tidak adil bagi—”


“*DHUM! (suara tekanan aura besar)”


“Urgh…”


“Jangan membahas keadilan,


seolah kau paham arti keadilan itu!”


“A…Akan tetapi—”


“Kami adalah Dewa yang


dipercayakan-Nya untuk memimpin dunia ini! Aku lah pemimpin dari kasta


tertinggi ini! Aku punya kuasa atas Ruang dan Waktu! Siapapun yang lahir


di dunia ini, pastinya sudah ditentukan takdirnya apakah keberadaannya benar


atau salah!”


Maksudnya setiap orang pasti ada


yang 100% bener sama 100% salah dari lahir, gitu?!


Mana bisa lo sama ratain putih sama hitem, anjing?!


Setiap mahluk pasti abu-abu!


“Haaaah…dasar brengsek. Lagi-lagi


kayak gitu bahasanya…”


“He…Hey, Zegin! Henti—”


“Jujur aja, Gue capek jadi Dewi


kalo masih ada Titan brengsek kayak Dia!”


Eh?! Serius itu dewa-nya Myllo?!


Kaget gue ada dewa yang kayak preman gitu…?


Apalagi dia cewek…


“*DHUM! (suara tekanan aura besar)”


“Kau berani menentang-Ku,


Zegin?!”


“*DHUM! (suara tekanan aura


besar)”


“Siapa yang takut sama Lo?! Lo


kira gue—”


““*DHUM! (suara banyak tekanan


aura besar)””


“Hentikan, Kalian berdua!”


Nggak tau kenapa, tiba-tiba


bawaannya jadi tegang di tempat ini.


“Ya, ya, ya… Jadi, sekarang lo


udah tau tentang tindakan bodoh Sakhtice kan, Melchizedek?”


“Ya, Zegin…”


“Apa maksud-Mu, Zegin—”


“Melchizedek! Gue sebagai Dewi


kasih kebebasan untuk lo untuk lakuin apa yang lo pilih, tapi tolong sebut ke


depan kita apa yang lo lakuin kedepannya.”


“Ha…Hamba…Hamba akan tetap


memimpin warga Geoterra untuk melawan Iblis.”


“Hm…sama aja ya—”


“Namun, bukan dengan niat untuk


“menghukum” Iblis dan Monster Intelektual lainnya, melainkan untuk memberikan


keadilan dan kelayakan bagi para penghuni Demonsia—”


“MELCHIZEDEEEK!!!”


“*Jgruum! (suara petir)”


……………


“Aaaagggh!”


Eh! Mata gue perih banget! Kenapa


disamber petir?!


Tadi gue pingsan, terus ngeliat sejarah


yang mungkin cuma gue doang yang tau, tiba-tiba gue bangun waktu denger


suara petir, yang nyamber mata gue.


“…”


Untung mata gue masih bisa normal


ngeliatnya waktu gue coba liat sekeliling ruangan ini. Anehnya, tulisan di


dinding itu jadi berubah.


“Kau Telah Menerima Mata Yang Akan Menghakimi Dunia dan Mengungkap Kebenaran.


Namun Ketahuilah Ini; Tidak Semua Iblis Jahat, dan Tidak Semua


Malaikat Baik.”


Kayaknya tadi nggak gitu


tulisannya. Apa mungkin tulisannya berubah waktu gue liat sejarahnya


Melchizedek tadi?


Apa mungkin…yang gue liat tadi


tuh Petunjuk tentang dunia ini?


“Hmm…”


Kalo diliat dari tulisan itu,


mungkin Mata yang di maksud itu Mata gue yang disamber petir tadi kali, ya?


Kalo kalimat terakhir…mungkin ada


kaitannya sama obrolan Melchizedek sama dewa-dewa tadi—


“*Boom! (suara ledakan)”


Eh?! Ada apaan di luar sana?! Kok


kayaknya kacau banget?!