
Pertarungan yang dihadapi oleh Djinn dan rekan-rekannya telah berakhir. Setelah Djinn harus menghadapi seorang
High Elf yang bernama Melual, ia beserta rekan-rekannya juga menghadapi Passio dan Vylsalea, yang merupakan seorang Herald. Akan tetapi pertarungan mereka ditutup dengan menghadapi Rivrith Vamulran, yang hendak membawa Luvast adiknya.
Sementara itu, di sisi lain Chaos Island, di mana Marwell Morc, salah seorang Executioner dari Leo Guild,
menghadapi kumpulan Petualang wanita yang terdiri dari Gia, Mahadia, Royce, Molly, dan Sonda.
{((Bone Zona: Gigantic Hand))}
“*PRANGGG…”
“Keuk…!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Marwell berhasil memukul Gia dengan keras, dengan menggunakan Union Zona yang ia kuasai. Walaupun Gia mampu menahan serangannya dengan World Quaker, Gia tetap terhempas jauh karenanya.
“*Swush! Swush! Swush!”
“*SWUSH!!!””
“Cih! Sialan nih orang!”
Seru Mahadia karena gagal menyerang Marwell, yang terus menghempas belati yang ia lempar dengan tulang
raksasa miliknya.
Pada keadaan saat ini, Marwell sedang dalam keadaan unggul. Pertahanan dan serangannya yang sangat kuat mampu membuat kelima wanita di hadapannya kewalahan.
Walaupun begitu, ada beberapa Petualang di hadapannya yang sangat ia waspadai.
“Mermaid yang namanya Molly itu gerakannya lamban, tapi dia bisa nyerang gue dari celah-celah tulang ciptaan gue. Makanya gue harus serang dia terus, supaya Frontliner yang namanya Gia itu sibuk lindungin cewek itu. Tapi gue harus hati-hati sama Observer yang namanya Royce itu, karena Union yang dia punya bahaya banget.”
Pikir Marwell, sambil melihat Gia, Molly, serta Royce, sebagai tiga wanita yang ia waspadai.
Sementara serangan dari Mahadia dan Sonda…
“*SWUSH…”
“S-Sialan…! Kita nggak akan bisa nyerang orang ini…!”
“Terus gimana cara kita lawan dia?!”
…dengan mudah ia hempas dengan tulang berbentuk lengan raksasa, tanpa memperdulikan mereka.
Dengan kata lain, mereka bukanlah siapa-siapa di mata seorang Marwell.
((Diamond Magic: Tortoise Shell))
“*Bruk, bruk, bruk…”
“Cih!”
Marwell pun merasa kesal, setelah ia tidak bisa menyerang seluruh Petualang yang Gia lindungi dengan berlian
besar, yang menyerupai cangkang kura-kura.
Akan tetapi hal itu seperti tidak cukup membuat Marwell kehabisan akal.
“Bahaya! Akan ada serangan dari bawah—”
““*SHRUSH!!!””
““!!!””
Gia dan rekan-rekannya dikejutkan dengan adanya tulang belulang yang besar dan tajam, yang datang dari bawah
tanah. Beruntung mereka mampu menghindari serangannya, berkat peringatan dari Royce.
““*Vwumm…””
“*Bruk, bruk, bruk…”
Sonda mulai menyerang Marwell dengan puluhan panah berapi ciptaannya. Tetapi Marwell mampu menahannya dengan mudah.
“Cih! Terus gimana cara kita serang dia?! Tulang sialan ini keras banget!”
Sahut Sonda dengan kesal, setelah ia gagal menyerang Marwell.
Sementara Marwell…
“Humph!”
“*BRUK!!!”
“Cih!”
…terus berusaha menyerang Molly, yang terus dilindungi oleh Gia, tanpa memperdulikan kekesalannya.
“♫La la la la…”
“!!!”
Royce tiba-tiba bersenandung. Karena hal tersebut, Marwell dengan spontan menutup telinganya.
Akan tetapi ia telat menyadari, bahwa aksi Royce tidak lebih dari sekedar pengecoh saja.
“Sialan tuh Observer! Bisa-bisanya gue dikadalin dia!”
Pikir Marwell dengan kesal, setelah mendapati dirinya dikecoh oleh Royce, agar para Petualang yang Marwell
hadapi bisa berkumpul bersama.
“…”
Royce menjelaskan sesuatu kepada Gia dan rekan-rekannya. Hal tersebut membuat Marwell berusaha untuk menyerang mereka secepatnya, karena ia merasa khawatir akan rencana yang dirancang oleh Royce.
((Bone Magic: Finger Bone Strike))
“*SWUSH!!!”
“*BRUK!!!”
Marwell menggunakan sihirnya, sehingga tulang pada ujung kelima jarinya memanjang dan menyerang Gia dan
rekan-rekannya. Akan tetapi Gia dengan sigap menahan serangannya dengan tembok berlian yang besar dan tebal, sehingga Marwell tidak melukai mereka.
Walaupun…
“*Krrrkk… CHRANG!!!”
…tembok berlian ciptaan Gia langsung hancur karenanya.
Namun ia justru terkejut dengan apa yang ia lihat, setelah tembok berlian itu hancur.
“Brengsek! Kemana mereka?!”
Bisik Marwell, karena tidak menemui Gia dan rekan-rekannya dari balik tembok berlian itu.
“*Swush!”
“*Vwum, vwum, vwumm…”
Seketika Marwell mendapati adanya lemparan belati dari kirinya, serta panah berapi dari kanannya.
“…”
Marwell pun bersembunyi di balik tulang raksasa ciptaannya.
Tetapi, ia dikejutkan kembali dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
((Switch))
“Hraaaaagh!”
“*PRANG!!!”
“!!!”
Marwell terkejut dengan Gia, yang akan menyerangnya dengan sekejap mata.
“*Krrr… KRRRAK!!!”
“!!!”
Ia juga dikejutkan dengan tulang yang hancur karena serangan Gia.
““*Shruk!””
“S-Sialan…!”
Seru Marwell dengan kesal, karena ia tertusuk oleh Mahadia dan Molly, yang juga datang dengan sekejap mata.
Namun bukan berarti ia tidak memperhitungkan kedatangan mereka.
“H-Hah?! Dia masih bisa… hindarin tusukan pedang gue?! Padahal kan gue mau tusuk jantung dia! Tapi kok malah
tangannya yang gue tusuk?!”
“Gue juga! Padahal gue mau tusuk kepalanya! Tapi dia masih bisa tangkep belati gue!”
Seru Molly dan Mahadia secara bergantian, setelah melihat aksi Marwell.
“D-Dasar… cewek-cewek… biadab…!”
Seru Marwell yang terluka, sambil menciptakan tulang untuk menyerang Mahadia dan Molly.
((Switch))
“*Cyung!”
““…””
Dengan sekejap mata, Gia, Mahadia, dan Molly, berpindah dari dekatnya menjadi jauh di hadapannya.
“Kalian nggak apa-apa?!”
Tanya Sonda yang menghampiri mereka.
“Ya! Kita baik-baik aja! Untungnya ada banyak belati gue di sini! Jadi secara nggak langsung, area ini udah gue tandain supaya gue bisa rapal mantra untuk teleportasi!”
“…”
Marwell mendengar apa yang dikatakan oleh Mahadia. Seketika ia menyadari tentang cara Mahadia menyerangnya, serta caranya menghadapi serangannya.
“Tadi Cewek Fratta itu lempar belati-belatinya, terus gue hempas semua belatinya pake tulang gue. Selama ini
gue kira dia mau pindahin gue pake sihir teleportasinya! Ternyata dia cuma mau pancing gue, supaya gue tebar semua belatinya di sekitar tempat ini!”
Pikir Marwell dengan kesal, setelah menyadari kecerdasan Mahadia sebagai seorang wanita Fratta.
“Semuanya!”
““*Cyung!””
“Sekarang dia udah kewalahan! Kalo gitu, kita bisa menang lawan monster sialan ini!”
Seru Mahadia, sambil memindahkan Gia, Molly, dan Sonda secara bersamaan.
Dengan adanya kemampuan spesial milik Mahadia, kini Marwell merasa tidak unggul.
Khususnya…
“Hraaaaagh!”
“*PRANG!!!”
“Lo pikir lo bisa hancurin tulang gue lagi—”
“*KRAAAK!!!”
“!!!”
…setelah Gia berhasil menghancurkan tulang keras ciptaannya kembali.
((Summon Magic: Poisonous Slime Gun))
“*Pwush!”
((Fire Magic: Thousands Fireworks))
Molly dan Sonda menyerangnya secara bersamaan.
““Hraaaaagh!””
“…”
Marwell juga harus menahan serangan jarak dekat dari Gia dan Mahadia.
Karena aksi keempat wanita tersebut, Marwell pun menjadi kewalahan untuk mempertahankan dirinya.
Hingga ia melupakan fakta, bahwa wanita yang sebelumnya paling ia waspadai, masih belum menampakkan dirinya di hadapannya.
“♫La la la lala la…”
“!!!”
Marwell tiba-tiba mendengar senandung merdu dari belakangnya.
“Sialan! Gue nggak pasang Union Zona di belakang gu—”
“*Bruk…”
“!!!”
Seketika Marwell terjatuh, setelah tidak adanya Union Zona di area sekitar belakangnya. Karena itu, Royce mampu menyerangnya dengan Union Zona miliknya.
“Aaaa…! Aaaaaargghhh…!”
Marwell berusaha melawan kekuatan sihir Royce.
Karena kekuatan Royce, Gia dan rekan-rekannya merasa unggul dalam menghadapi Marwell.
Walaupun…
“Semuanya! Ini kesempatan ki—”
“*BRUK!!!”
…Marwell masih berusaha mempertahankan dirinya, dengan tulang yang ia ciptakan.
“Cih! Dia masih bisa bikin tulang raksasa kayak gini?! Bukannya dia ada di bawah pengaruh Royce?!”
Seru Mahadia dengan kesal, karena ia dan Petualang lainnya disulitkan dengan tulang raksasa yang melindungi
Marwell.
“♫La la la lala la…”
Royce terus bersenandung, untuk menaklukan Marwell.
Akan tetapi, sesuatu yang aneh terlihat dari Marwell.
“H-Hmph…!”
““Hm?!””
Gia dan Sonda merasa heran dengan Marwell yang tersenyum, walaupun sudah terjatuh karena sihir Royce.
“C-Co… Coba aja… lo… mainin… pikiran gue…!”
Bisik Marwell kepada Royce, sambil tersenyum.
Seketika…
“*Crat…!”
“R-R-ROYCE!!!”
…terdapat darah yang mengalir dari mulut, telinga, dan hidung Royce.
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
“Royce!”
“…”
Mahadia menghampiri Royce dengan panik.
“Royce! Lo nggak apa-a—”
“L-Lo tau… kenapa lo bisa… berdarah-darah… kayak gitu…?”
Tanya Marwell, yang berusaha untuk berdiri.
Walaupun ia masih harus…
“*PRANG!!!”
“*Vwumm…”
“*Chringgg…”
…menahan serangan Gia, Sonda, dan Molly.
“Karena… Union yang lo punya… nggak ada apa-apanya… dibanding Union gue…! Makanya itu… lo sama aja… kayak bunuh diri… kalo masih berani… untuk taklukin gue… pake Union lo sendiri…!”
Seru Marwell dengan terbatah-batah, karena merasakan pusing yang luar biasa, setelah melawan Union
Zona milik Royce.
Walaupun gagal menaklukan Marwell dengan Union miliknya, nyatanya hal tersebut tidaklah membuat Royce putus asa.
“R-Royce! Jangan lo paksain—”
“M-Maha…! Apa yang… anda katakan…?!”
“Hah?! Maksud lo—”
“Kita… sedang menghadapi… anggota berpangkat tinggi… dari seorang Penakluk…! Oleh karena itu… jangan takut…! Kita akan… menghadapinya… sampai titik darah… penghabisan…!”
Seru Royce dengan tekad yang kuat, sebelum ia menghadapi bahaya yang benar-benar mengancam nyawanya.