
“Ayah, kenapa kita nggak bisa
keluar dari tempat ini?”
“Karena…Manusia berhasil jajah
kita, nak.”
Ini…masa lalunya Shaylia?
“…”
Kenapa…semua Dragonewt ini ada di
bawah tanah?
“Djinn…ini…sihir lo…?”
Hah! Kaget gue!
“Kok lo ada disini?!”
“Mana gue tau! 200 tahun lebih
gue hidup, gue baru tau ada orang kayak lo yang bisa pake Sihir Waktu!”
Masalahnya, udah 3 kali gue liat
masa lalu, baru kali ini aja ada orang yang bisa ikut liat bareng gue!
Kalo gitu, kenapa waktu itu nggak
ada Tarzyn, ya?
“Sekali lagi Aku ucapkan
terima kasih, Dwi Lukman.”
Oh, mungkin karena waktu itu dia
juga liatin masa lalu gue, ya?
……………
Gue diajak keliling sama Shaylia
yang jelasin tentang ‘rumahnya’ ini.
Sambil dia jelasin, gue liat ada
beberapa momen di tempat ini.
Yang pertama…
“Hiks, hiks!
Kakak!”
“Ka…Kamu harus tabah, nak!
Kakakmu mati untuk kepentingan kita semua!”
…ada orang yang keliatannya mau
dikubur.
“Sebelumnya, gue mau nanya. Jasad itu nanti
dikubur di mana?”
“Tuh.”
“!!!”
Ternyata bawah tanah ini dalem
banget!
Apalagi, di bawah tempat ini ada
banyak banget tumpukan mayat!
Kalo kata Shaylia sih, setahun
sekali semua mayat ini nantinya dibakar.
Selain itu, ada hal yang
sebenernya bikin eneg banget.
“Kamu makan ini dulu ya, nak.”
“Ya, bu. Haaap!”
Mungkin karena kelaperan, makanya
anaknya dikasih makan serangga?!
“Kayak gitu tuh kehidupan kita.
Kalo kita belom seberapa kuat, kita dilarang keluar dari bawah tanah ini.
Makanya bahkan serangga pun kita makan supaya kita masih bisa hidup.”
Gila. Separah itu ternyata.
Lanjut ke penjelasannya Shaylia,
dia jelasin kalo mereka semua warga lokal negara ini.
Mereka diserang sama beberapa
negara di dunia ini karena negara ini nolak tawaran ‘kontrak seumur hidup’ dari
Centra Geoterra, ribuan tahun yang lalu.
Selama dia ceritain ras-nya ini,
gue tiba-tiba jadi keinget cerita Meldek.
“Kalo nggak salah, ada beberapa
Dragonewt yang lari ke…”
“Principality of Kronovik?”
“Ya, itu maksud gue.”
“Ya, lo bener. Kata Guru Bahal
sih, Naga itu bangga sama apa yang dia kuasain. Bisa harta, wilayah, sama
kekuatan. Karena itu, mereka pasti lebih pilih mati daripada diusir dari
kebanggannya.”
Waw, rakus juga ya.
“Makanya itu, Dragonewt yang lari
dari tempat ini sama aja pengkhianat buat kaumnya sendiri, kalo kata Guru
Bahal.”
Gue nggak tau siapa gurunya, tapi
mungkin aja nanti gue ketemu.
Yang bikin gue heran itu…
“Lo bilang kalo ninggalin negara
ini, sama aja kayak pengkhianat, kan?”
“Ya. Terus?”
“Kalo gitu, sama aja guru lo
sebut Tarzyn itu pengkhianat, dong?”
“Ya…nggak tau juga sih. Kita
semua kira Tarzyn itu disegel di negara ini, atau nggak ngumpet semenjak perang
ribuan tahun yang lalu.”
“Kalo gitu lo tau Tarzyn masih
hidup?”
“Mending kita langsung lompat ke
100 tahun kemudian. Bisa, nggak?”
“Bisa sih, harusnya.”
Akhirnya kita lompat ke 100
tahun.
……………
“Kalian adalah masa depan bagi Dragonewt!
Rebutlah Erviga dari bedebah yang
menyebut dirinya sebagai Manusia itu!
Jangan ada kata ampun bagi
mereka!
Janganlah bergaul dengan mereka!
Hukumlah mereka seberat-beratnya!
Jika perlu, hukumlah sanak
saudara kalian sendiri jika mereka berkhianat!”
Oh, ternyata ini yang namanya
Guru Bahal.
Gue bisa liat Shaylia bareng
adek-adeknya lagi berlutut di depannya.
Kalo kata Shaylia, dia ini ‘raja’
di tempat ini.
Nggak cuma raja aja, dia juga
guru untuk semua ‘Penjelajah’ dari semua Dragonewt ini, sekaligus keturunan
raja terakhir dari Erviga.
“Penjelajah? Maksudnya?”
“Liat ini baik-baik, abis itu gue
jelasin kedepannya.”
Emangnya ada apaan?
“Kau paham maksudku kan, Shayliandra
Dragorach, Erksternark Dragorach, Morrival Dragorach!”
““Ya, Guru.””
“Kalian pasti juga ingat pesanku,
kan?”
““Ya, Guru. Carilah Fire Dragon
King Tarzyn.””
Oh, jadi tujuan Penjelajah itu
untuk nyari Tarzyn, ya?
“Artinya lo keluar untuk cari
Tarzyn, gitu?”
“Nggak cuma cari Tarzyn aja, kita
pun juga harus cari makanan untuk semua Dragonewt di tempat ini.”
Oalah, ternyata mereka bertiga
itu tulang punggung untuk satu ras, ya?
……………
Kita lompat lagi ke 90 tahun
kemudian, di mana mereka nemuin sesuatu yang bikin gue kesel banget.
“*Boom! (suara ledakan)”
“Hentikan para Dragonewt itu!”
“Jaga semua mahluk yang ada di
tempat ini!”
Gue bisa liat, ada banyak banget
mahluk Non-Manusia yang dipenjara di tempat ini!
“Ke…Kenapa mereka dipenjara kayak
gitu?!”
“Liat itu.”
“!!!”
gitu?!
Gila! Keterlaluan banget!
“Mereka semua mau diapain?!”
“Diambil Jiwa-nya.”
“Diambil Jiwa-nya?! Buat apaan?!”
“Itu…gue nggak tau.”
Brengsek! Gue kesel sendiri
liatnya!
Di tempat ini, Shaylia bareng
adek-adeknya lagi mau bebasin beberapa Dragonewt yang ditahan.
“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak
tembakan pistol)”
“Erkstern! Cepetan!”
“Ya, kak! Sebentar—”
“Hey, anak muda.”
“Tunggu, pak! Saya bakal bebasin
bapak—”
“Fire Dragon King Tarzyn ada
di dalam Hidden Dungeon!”
“!!!”
“Jika anda kenal dengan Bahal,
tolong sampaikan! Saya gagal memberikannya petunjuk karena ditangkap!”
“Ja…Jadi bapak juga Penjela—”
“Cepat lari dari tempat ini! Kau
adalah harapan terakhir kita!”
“Cih! Y…Ya, pak!”
Ternyata aki-aki itu temennya
Bahal.
Karena dia, makanya mereka semua
nyari Hidden Dungeon.
Itu dari sisi Erkstern sama
Shaylia.
Sedangkan Morri…
“…”
“Mo…Morri! Kita gagal! Ayo kita
pergi sekarang!”
“Y…Ya!”
Dia keliatannya nyuri sesuatu
dari tempat ini,
“Apaan tuh yang dia ambil?”
“Soul Devourer. Itu yang
kita semua pake untuk ambil Jiwa orang.”
Pantesan mereka bisa ambil Jiwa
orang.
Ternyata alatnya nyuri dari
tempat ini, ya?
“Djinn! Kita bisa pergi di mana
nggak ada gue atau adek-adek gue, nggak?!”
“Nggak tau deh. Mungkin aja
bisa—”
“Ka…Kalo gitu, ikutin gue!”
“Kema—”
“…”
“Oi! Tunggu!”
Nih cewek kenapa, sih?!
……………
Dari tempat tadi, gue ikutin
Shaylia yang ternyata lari ke rumahnya.
Tapi waktu kita berdua sampe di
rumahnya…
“Yang Mulia. Kita telah tiba di
depan tempat rahasia dari Dragonewt.”
“Baiklah, panggil Walter Waters
ke depan.”
“Ya, Yang Mulia!”
…gue bisa liat ada banyak banget
pasukan!
Mungkin aja mereka ada 200 orang!
Tapi tadi pimpinannya itu manggil
siapa? Kok kayak pernah denger nama belakangnya, ya?
“Sa…Saya datang,”
“Cepat gunakan sihirmu untuk
membantai mereka semua.”
“…”
Tangan orang yang dipanggil tadi
gemeteran.
Kayaknya dia diancem sama
pimpinan pasukan ini.
“*Shringgg… (suara pedang
terhunus)”
“Hey, Waters. Apakah anda ragu
membunuh mereka semua?”
“Le…Leluhur saya sudah lelah
dengan tangan kami yang sudah kotor karena pembantaian Dragonewt. Bahkan saya
berpikir, apa salah mereka sampai—”
“Baiklah. Aku akan membunuh
anakmu yang bernama Winona itu—”
“Ti…Tidak! Jangan anakku!”
I…Itu bapaknya Winona?!
“Kalau begitu, cepat bunuh mereka
semua dengan sihir airmu!”
“Y…Ya.”
Anjing nih orang!
Bisa-bisanya dia—
“Tu…Tunggu…”
“Hm?”
“Artinya…selama ini gue sama
adek-adek gue…salah orang dong.”
“Salah orang?”
“Kita selalu benci sama House of
Waters. Nggak disangka dalang dibalik semua ini House of Siegfried!”
Bangsawan ya yang bunuh semua Dragonewt?
Kalo gitu, gue harus lapor
Bismont tentang kejadian ini!
“Breathless Waterfall!”
“*Bwush! (suara siraman air)”
“Para Mage! Pasang tembok di
dalam tanah!”
““Stone Wall!””
“Kalian semua! Pastikan semua
Dragonewt mati di dalam ini!”
““Ya, Yang Mulia!””
Gi…Gila.
Ternyata kaumnya Shaylia mati
kelelep air di dalem tanah.
“Hmph! Ternyata semudah itu, ya?”
“…”
Bapaknya Winona cuma nangis doang
karena ulahnya yang dipaksa sama bangsawan ini.
“Semuanya, kita kembali!”
““Ya, Yang Mulia!””
“Ayo kita kembali, Waters—”
“Tidak. Biarkan saya di tempat
ini!”
“Cih! Jika ada Dragonewt yang
selamat, semua adalah ulahmu, Waters!”
Mereka semua balik, kecuali
bapaknya Winona yang…
“*Bwush… (suara menyelam)”
“…”
…nyelem ke dalem air yang dia
pake untuk bunuh semua Dragonewt.
Keliatannya dia mau nyelamatin
seenggaknya satu Dragonewt.
“AYAH! IBU!”
“GURU BAHAL!”
“SEMUANYA!”
Sekarang Shaylia yang ada di waktu ini dateng
bareng dua adeknya.
Asli, perasaan gue nggak enak.