Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 88. Beyond Their Terror



“Ayah, kenapa kita nggak bisa


keluar dari tempat ini?”


“Karena…Manusia berhasil jajah


kita, nak.”


Ini…masa lalunya Shaylia?


“…”


Kenapa…semua Dragonewt ini ada di


bawah tanah?


“Djinn…ini…sihir lo…?”


Hah! Kaget gue!


“Kok lo ada disini?!”


“Mana gue tau! 200 tahun lebih


gue hidup, gue baru tau ada orang kayak lo yang bisa pake Sihir Waktu!”


Masalahnya, udah 3 kali gue liat


masa lalu, baru kali ini aja ada orang yang bisa ikut liat bareng gue!


Kalo gitu, kenapa waktu itu nggak


ada Tarzyn, ya?


“Sekali lagi Aku ucapkan


terima kasih, Dwi Lukman.”


Oh, mungkin karena waktu itu dia


juga liatin masa lalu gue, ya?


……………


Gue diajak keliling sama Shaylia


yang jelasin tentang ‘rumahnya’ ini.


Sambil dia jelasin, gue liat ada


beberapa momen di tempat ini.


Yang pertama…


“Hiks, hiks!


Kakak!”


“Ka…Kamu harus tabah, nak!


Kakakmu mati untuk kepentingan kita semua!”


…ada orang yang keliatannya mau


dikubur.


“Sebelumnya, gue mau nanya. Jasad itu nanti


dikubur di mana?”


“Tuh.”


“!!!”


Ternyata bawah tanah ini dalem


banget!


Apalagi, di bawah tempat ini ada


banyak banget tumpukan mayat!


Kalo kata Shaylia sih, setahun


sekali semua mayat ini nantinya dibakar.


Selain itu, ada hal yang


sebenernya bikin eneg banget.


“Kamu makan ini dulu ya, nak.”


“Ya, bu. Haaap!”


Mungkin karena kelaperan, makanya


anaknya dikasih makan serangga?!


“Kayak gitu tuh kehidupan kita.


Kalo kita belom seberapa kuat, kita dilarang keluar dari bawah tanah ini.


Makanya bahkan serangga pun kita makan supaya kita masih bisa hidup.”


Gila. Separah itu ternyata.


Lanjut ke penjelasannya Shaylia,


dia jelasin kalo mereka semua warga lokal negara ini.


Mereka diserang sama beberapa


negara di dunia ini karena negara ini nolak tawaran ‘kontrak seumur hidup’ dari


Centra Geoterra, ribuan tahun yang lalu.


Selama dia ceritain ras-nya ini,


gue tiba-tiba jadi keinget cerita Meldek.


“Kalo nggak salah, ada beberapa


Dragonewt yang lari ke…”


“Principality of Kronovik?”


“Ya, itu maksud gue.”


“Ya, lo bener. Kata Guru Bahal


sih, Naga itu bangga sama apa yang dia kuasain. Bisa harta, wilayah, sama


kekuatan. Karena itu, mereka pasti lebih pilih mati daripada diusir dari


kebanggannya.”


Waw, rakus juga ya.


“Makanya itu, Dragonewt yang lari


dari tempat ini sama aja pengkhianat buat kaumnya sendiri, kalo kata Guru


Bahal.”


Gue nggak tau siapa gurunya, tapi


mungkin aja nanti gue ketemu.


Yang bikin gue heran itu…


“Lo bilang kalo ninggalin negara


ini, sama aja kayak pengkhianat, kan?”


“Ya. Terus?”


“Kalo gitu, sama aja guru lo


sebut Tarzyn itu pengkhianat, dong?”


“Ya…nggak tau juga sih. Kita


semua kira Tarzyn itu disegel di negara ini, atau nggak ngumpet semenjak perang


ribuan tahun yang lalu.”


“Kalo gitu lo tau Tarzyn masih


hidup?”


“Mending kita langsung lompat ke


100 tahun kemudian. Bisa,  nggak?”


“Bisa sih, harusnya.”


Akhirnya kita lompat ke 100


tahun.


……………


“Kalian adalah masa depan bagi Dragonewt!


Rebutlah Erviga dari bedebah yang


menyebut dirinya sebagai Manusia itu!


Jangan ada kata ampun bagi


mereka!


Janganlah bergaul dengan mereka!


Hukumlah mereka seberat-beratnya!


Jika perlu, hukumlah sanak


saudara kalian sendiri jika mereka berkhianat!”


Oh, ternyata ini yang namanya


Guru Bahal.


Gue bisa liat Shaylia bareng


adek-adeknya lagi berlutut di depannya.


Kalo kata Shaylia, dia ini ‘raja’


di tempat ini.


Nggak cuma raja aja, dia juga


guru untuk semua ‘Penjelajah’ dari semua Dragonewt ini, sekaligus keturunan


raja terakhir dari Erviga.


“Penjelajah? Maksudnya?”


“Liat ini baik-baik, abis itu gue


jelasin kedepannya.”


Emangnya ada apaan?


“Kau paham maksudku kan, Shayliandra


Dragorach, Erksternark Dragorach, Morrival Dragorach!”


““Ya, Guru.””


“Kalian pasti juga ingat pesanku,


kan?”


““Ya, Guru. Carilah Fire Dragon


King Tarzyn.””


Oh, jadi tujuan Penjelajah itu


untuk nyari Tarzyn, ya?


“Artinya lo keluar untuk cari


Tarzyn, gitu?”


“Nggak cuma cari Tarzyn aja, kita


pun juga harus cari makanan untuk semua Dragonewt di tempat ini.”


Oalah, ternyata mereka bertiga


itu tulang punggung untuk satu ras, ya?


……………


Kita lompat lagi ke 90 tahun


kemudian, di mana mereka nemuin sesuatu yang bikin gue kesel banget.


“*Boom! (suara ledakan)”


“Hentikan para Dragonewt itu!”


“Jaga semua mahluk yang ada di


tempat ini!”


Gue bisa liat, ada banyak banget


mahluk Non-Manusia yang dipenjara di tempat ini!


“Ke…Kenapa mereka dipenjara kayak


gitu?!”


“Liat itu.”


“!!!”


gitu?!


Gila! Keterlaluan banget!


“Mereka semua mau diapain?!”


“Diambil Jiwa-nya.”


“Diambil Jiwa-nya?! Buat apaan?!”


“Itu…gue nggak tau.”


Brengsek! Gue kesel sendiri


liatnya!


Di tempat ini, Shaylia bareng


adek-adeknya lagi mau bebasin beberapa Dragonewt yang ditahan.


“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak


tembakan pistol)”


“Erkstern! Cepetan!”


“Ya, kak! Sebentar—”


“Hey, anak muda.”


“Tunggu, pak! Saya bakal bebasin


bapak—”


“Fire Dragon King Tarzyn ada


di dalam Hidden Dungeon!”


“!!!”


“Jika anda kenal dengan Bahal,


tolong sampaikan! Saya gagal memberikannya petunjuk karena ditangkap!”


“Ja…Jadi bapak juga Penjela—”


“Cepat lari dari tempat ini! Kau


adalah harapan terakhir kita!”


“Cih! Y…Ya, pak!”


Ternyata aki-aki itu temennya


Bahal.


Karena dia, makanya mereka semua


nyari Hidden Dungeon.


Itu dari sisi Erkstern sama


Shaylia.


Sedangkan Morri…


“…”


“Mo…Morri! Kita gagal! Ayo kita


pergi sekarang!”


“Y…Ya!”


Dia keliatannya nyuri sesuatu


dari tempat ini,


“Apaan tuh yang dia ambil?”


“Soul Devourer. Itu yang


kita semua pake untuk ambil Jiwa orang.”


Pantesan mereka bisa ambil Jiwa


orang.


Ternyata alatnya nyuri dari


tempat ini, ya?


“Djinn! Kita bisa pergi di mana


nggak ada gue atau adek-adek gue, nggak?!”


“Nggak tau deh. Mungkin aja


bisa—”


“Ka…Kalo gitu, ikutin gue!”


“Kema—”


“…”


“Oi! Tunggu!”


Nih cewek kenapa, sih?!


……………


Dari tempat tadi, gue ikutin


Shaylia yang ternyata lari ke rumahnya.


Tapi waktu kita berdua sampe di


rumahnya…


“Yang Mulia. Kita telah tiba di


depan tempat rahasia dari Dragonewt.”


“Baiklah, panggil Walter Waters


ke depan.”


“Ya, Yang Mulia!”


…gue bisa liat ada banyak banget


pasukan!


Mungkin aja mereka ada 200 orang!


Tapi tadi pimpinannya itu manggil


siapa? Kok kayak pernah denger nama belakangnya, ya?


“Sa…Saya datang,”


“Cepat gunakan sihirmu untuk


membantai mereka semua.”


“…”


Tangan orang yang dipanggil tadi


gemeteran.


Kayaknya dia diancem sama


pimpinan pasukan ini.


“*Shringgg… (suara pedang


terhunus)”


“Hey, Waters. Apakah anda ragu


membunuh mereka semua?”


“Le…Leluhur saya sudah lelah


dengan tangan kami yang sudah kotor karena pembantaian Dragonewt. Bahkan saya


berpikir, apa salah mereka sampai—”


“Baiklah. Aku akan membunuh


anakmu yang bernama Winona itu—”


“Ti…Tidak! Jangan anakku!”


I…Itu bapaknya Winona?!


“Kalau begitu, cepat bunuh mereka


semua dengan sihir airmu!”


“Y…Ya.”


Anjing nih orang!


Bisa-bisanya dia—


“Tu…Tunggu…”


“Hm?”


“Artinya…selama ini gue sama


adek-adek gue…salah orang dong.”


“Salah orang?”


“Kita selalu benci sama House of


Waters. Nggak disangka dalang dibalik semua ini House of Siegfried!”


Bangsawan ya yang bunuh semua Dragonewt?


Kalo gitu, gue harus lapor


Bismont tentang kejadian ini!


“Breathless Waterfall!”


“*Bwush! (suara siraman air)”


“Para Mage! Pasang tembok di


dalam tanah!”


““Stone Wall!””


“Kalian semua! Pastikan semua


Dragonewt mati di dalam ini!”


““Ya, Yang Mulia!””


Gi…Gila.


Ternyata kaumnya Shaylia mati


kelelep air di dalem tanah.


“Hmph! Ternyata semudah itu, ya?”


“…”


Bapaknya Winona cuma nangis doang


karena ulahnya yang dipaksa sama bangsawan ini.


“Semuanya, kita kembali!”


““Ya, Yang Mulia!””


“Ayo kita kembali, Waters—”


“Tidak. Biarkan saya di tempat


ini!”


“Cih! Jika ada Dragonewt yang


selamat, semua adalah ulahmu, Waters!”


Mereka semua balik, kecuali


bapaknya Winona yang…


“*Bwush… (suara menyelam)”


“…”


…nyelem ke dalem air yang dia


pake untuk bunuh semua Dragonewt.


Keliatannya dia mau nyelamatin


seenggaknya satu Dragonewt.


“AYAH! IBU!”


“GURU BAHAL!”


“SEMUANYA!”


Sekarang Shaylia yang ada di waktu ini dateng


bareng dua adeknya.


Asli, perasaan gue nggak enak.