
Di salah satu desa yang bernama
Trubel, ketika Joint Party yang dipimpin oleh Erkstern baru saja menghadapi
Blood Brothers of Erviga.
Desa tersebut sedang mendapat
kunjungan dari seorang bangsawan bergelar Viscount yang bernama Viscount Ponthius
Parilla.
“*Phak! (suara tamparan)”
“Hanya ini saja hasil tani yang
bisa anda berikan, Kepala Desa Bobben?!”
“…”
Kepala Desa dari Trubel Village
yang bernama Bobben itu hanya terdiam saja, setelah ia ditampar oleh Ponthius.
“Ingat! Kalian pikir kalian semua
bisa hidup semau kalian di kerajaan tercinta ini?! Jangan lupa untuk memenuhi
kewajiban kalian sebagai warga Erviga!”
Tegas Ponthius kepada seluruh
warga Trubel, setelah mereka gagal memenuhi standar hasil tani yang dibutuhkan
olehnya.
Sambil dirinya memaki-maki warga
Trubel, Ponthius melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya.
“*Tap! (suara merampas)”
Ia mengambil sebuah permata yang
dipegang oleh seorang anak kecil dari genggamannya.
“Hey! Jangan ambil permata itu,
Tuan! Itu satu-satunya peninggalan ayah sa—”
“Salahkan ayah anda yang meninggalkan
anda dan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya!”
Seru Ponthius kepada anak kecil
itu.
“Vis…Viscount Ponthius! Apa
maksud anda—”
“Kepala Desa Bobben, seharusnya
anda berterima kasih kepada anak kecil ini, karena permata ini bisa menggantikan
kekurangan hasil tani yang desa anda berikan!”
Balas Ponthius, sambil ia menaiki
kereta kuda miliknya.
“Dengarkan saya, kalian semua!
Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi! Paham?!”
““Paham, Viscount.””
Balas beberapa warga sambil
menyaksikannya pergi dari desa itu bersama beberapa pengawalnya.
Ketika ia sudah berada cukup jauh
dari Trubel Village, ia merasakan ada yang aneh dari desa itu.
Melihat reaksi darinya, salah
seorang pelayan pun menanyakan tuannya yang sedang gelisah di dalam kereta
kuda.
“Tuan Parilla, sepertinya anda
terlihat gelisah. Bisakah anda menceritakan isi pikiran anda kepada hamba?”
“Saya terlihat gelisah, kah?”
“Terlihat seperti itu di mata
hamba, Tuan Parilla.”
“Sebenarnya bukan hal penting.
Hanya saja, saya merasa ada tatapan tajam dari seseorang.”
Balas Ponthius kepada pelayannya.
“Apakah ada lagi yang ingin anda
curahkan?”
“Hmm…dibandingkan gelisah akan
tatapan yang saya sebutkan tadi, saya justru merasa lebih kesal karena hasil
tani mereka!”
“!!!”
Pelayan itu terkejut ketika
Ponthius tiba-tiba berseru.
“Jika hanya ini saja, bagaimana
saya bisa menjual hasil tani mereka?!”
“Anda benar, Tuan Ponthius. Jika
mereka hanya memberikah hasil pertanian yang begitu sedikit, keuntungan anda
pun juga tak kunjung besar, bukan?”
“Ya. Jika saya tidak bisa
menerima keuntungan besar, mengapa saya harus memikirkan keuntungan warga desa
itu?!”
Balas Ponthius.
Di tengah perjalanan mereka,
tiba-tiba ada serangan yang tidak bisa diantisipasi oleh pengawalnya.
“*Shrak! (suara tebasan
terdengar dari luar)”
“Uarrgh!”
“Siapa kalian—”
“*Shruk! (suara tusukan
terdengar dari luar)”
“A…Ada apa ini?! Apakah ada
Seru Ponthius yang seketika panik
karena kereta kuda yang ia tumpangi diserang.
“*Brak! (suara pintu dihancurkan)”
“Hiiieekh!”
“Ponthius Parilla, Viscount dari House
of Parilla!”
“Si…Siapakah kalian?!”
Tanya Ponthius kepada sekumpulan
bandit yang menyerangnya.
“Gue Bura! Kita ini dari Blood
Brothers of Erviga!”
Jawab seorang Orc wanita
kepadanya.
“Blood Brothers of Erviga?!
Mengapa mereka tiba-tiba menyerang saya?!”
Pikir Ponthius dalam keadaan
panik.
“Oh! Ini ya hasil taninya?! Bukannya
hasil tani ini dikasih ke Erviga Kingdom, ya?! Kok mau dijual?!”
Tanya seorang Dwarf yang bernama Thratol
Lowsoil.
“A…Apa maksud anda—”
“Eh iya! Kalo hasil tani ini
dijual, nanti keuntungannya dikasih ke pihak desa juga, nggak?!”
“Sa…Saya tidak mengerti apa maksud
kalian semua!”
““…””
Anggota dari BBE hanya menatapnya
dengan tajam.
“*Brak! (suara memukul kereta
kuda)”
“Heh, denger ya! Jangan lo pikir
kita nggak tau kebusukan lo, bangsawan rakus! Lo mau jual hasil tani ini, tanpa
sepengetahuan negara, kan?! Lo kira pajak warga negara ini masih kurang?!”
“!!!”
Ponthius pun terkejut ketika ia
mendengar perkataan dari salah satu bandit itu.
“Mengapa mereka semua bisa
tahu—”
“…”
Saat ia berpikir, ia melihat
pelayannya memegang sebuah Orb Call, tanpa sepengetahuannya.
“Ke…Keterlaluan! Ternyata anda—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Ponthius pun dipukul hingga tidak
sadarkan diri.
Lalu para bandit membawa semua yang
aset Ponthius kembali ke Trubel Village.
Karena aksinya itu, anggota BBE
yang itu pun disambut layaknya seorang pahlawan oleh warga desa.
“Terima kasih, BBE!”
“Sa…Saya selaku Kepala Desa hanya
bisa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.”
“Wuaaah! Permata ayah! Terima
kasih, Kakak Bandit!”
Di tengah sambutan dan pujian
dari warga Trubel, ada seseorang yang menyaksikan interaksi antara BBE dan
warga desa dari balik bayang-bayang.
Ketika ia menyaksikan mereka
semua, tiba-tiba ia mendapat panggilan melalui Orb Call.
“Bos! Berita buruk, Bos!”
“Ada apa?”
“Serangan kita ke Petualang-Petualang
yang mau ke arah Marklett gagal besar, Bos!”
“!!!”
Orang itu, yang sejatinya adalah
pemimpin dari Blood Brothers of Erviga, seketika terkejut.
“Yaudah! Tarik mundur semuanya!
Nanti kita bahas di markas kita!”
“OK, Bos!”
Balas anggotanya dari balik Orb
Call.
Ketika komunikasi antar mereka berhenti,
ia kembali menyaksikan anggotanya yang menuai pujian dari warga Trubel.
“Haaaah…gagal lagi nyerang Petualang.
Yaudah lah, seenggaknya kita berhasil selamatin desa dari bangsawan busuk.”
Pikirnya dengan tersenyum karena
apa yang sedang ia saksikan.