Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 67-1. Brothers of Bandit



Di salah satu desa yang bernama


Trubel, ketika Joint Party yang dipimpin oleh Erkstern baru saja menghadapi


Blood Brothers of Erviga.


Desa tersebut sedang mendapat


kunjungan dari seorang bangsawan bergelar Viscount yang bernama Viscount Ponthius


Parilla.


“*Phak! (suara tamparan)”


“Hanya ini saja hasil tani yang


bisa anda berikan, Kepala Desa Bobben?!”


“…”


Kepala Desa dari Trubel Village


yang bernama Bobben itu hanya terdiam saja, setelah ia ditampar oleh Ponthius.


“Ingat! Kalian pikir kalian semua


bisa hidup semau kalian di kerajaan tercinta ini?! Jangan lupa untuk memenuhi


kewajiban kalian sebagai warga Erviga!”


Tegas Ponthius kepada seluruh


warga Trubel, setelah mereka gagal memenuhi standar hasil tani yang dibutuhkan


olehnya.


Sambil dirinya memaki-maki warga


Trubel, Ponthius melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya.


“*Tap! (suara merampas)”


Ia mengambil sebuah permata yang


dipegang oleh seorang anak kecil dari genggamannya.


“Hey! Jangan ambil permata itu,


Tuan! Itu satu-satunya peninggalan ayah sa—”


“Salahkan ayah anda yang meninggalkan


anda dan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya!”


Seru Ponthius kepada anak kecil


itu.


“Vis…Viscount Ponthius! Apa


maksud anda—”


“Kepala Desa Bobben, seharusnya


anda berterima kasih kepada anak kecil ini, karena permata ini bisa menggantikan


kekurangan hasil tani yang desa anda berikan!”


Balas Ponthius, sambil ia menaiki


kereta kuda miliknya.


“Dengarkan saya, kalian semua!


Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi! Paham?!”


““Paham, Viscount.””


Balas beberapa warga sambil


menyaksikannya pergi dari desa itu bersama beberapa pengawalnya.


Ketika ia sudah berada cukup jauh


dari Trubel Village, ia merasakan ada yang aneh dari desa itu.


Melihat reaksi darinya, salah


seorang pelayan pun menanyakan tuannya yang sedang gelisah di dalam kereta


kuda.


“Tuan Parilla, sepertinya anda


terlihat gelisah. Bisakah anda menceritakan isi pikiran anda kepada hamba?”


“Saya terlihat gelisah, kah?”


“Terlihat seperti itu di mata


hamba, Tuan Parilla.”


“Sebenarnya bukan hal penting.


Hanya saja, saya merasa ada tatapan tajam dari seseorang.”


Balas Ponthius kepada pelayannya.


“Apakah ada lagi yang ingin anda


curahkan?”


“Hmm…dibandingkan gelisah akan


tatapan yang saya sebutkan tadi, saya justru merasa lebih kesal karena hasil


tani mereka!”


“!!!”


Pelayan itu terkejut ketika


Ponthius tiba-tiba berseru.


“Jika hanya ini saja, bagaimana


saya bisa menjual hasil tani mereka?!”


“Anda benar, Tuan Ponthius. Jika


mereka hanya memberikah hasil pertanian yang begitu sedikit, keuntungan anda


pun juga tak kunjung besar, bukan?”


“Ya. Jika saya tidak bisa


menerima keuntungan besar, mengapa saya harus memikirkan keuntungan warga desa


itu?!”


Balas Ponthius.


Di tengah perjalanan mereka,


tiba-tiba ada serangan yang tidak bisa diantisipasi oleh pengawalnya.


“*Shrak! (suara tebasan


terdengar dari luar)”


“Uarrgh!”


“Siapa kalian—”


“*Shruk! (suara tusukan


terdengar dari luar)”


“A…Ada apa ini?! Apakah ada


Seru Ponthius yang seketika panik


karena kereta kuda yang ia tumpangi diserang.


“*Brak! (suara pintu dihancurkan)”


“Hiiieekh!”


“Ponthius Parilla, Viscount dari House


of Parilla!”


“Si…Siapakah kalian?!”


Tanya Ponthius kepada sekumpulan


bandit yang menyerangnya.


“Gue Bura! Kita ini dari Blood


Brothers of Erviga!”


Jawab seorang Orc wanita


kepadanya.


“Blood Brothers of Erviga?!


Mengapa mereka tiba-tiba menyerang saya?!”


Pikir Ponthius dalam keadaan


panik.


“Oh! Ini ya hasil taninya?! Bukannya


hasil tani ini dikasih ke Erviga Kingdom, ya?! Kok mau dijual?!”


Tanya seorang Dwarf yang bernama Thratol


Lowsoil.


“A…Apa maksud anda—”


“Eh iya! Kalo hasil tani ini


dijual, nanti keuntungannya dikasih ke pihak desa juga, nggak?!”


“Sa…Saya tidak mengerti apa maksud


kalian semua!”


““…””


Anggota dari BBE hanya menatapnya


dengan tajam.


“*Brak! (suara memukul kereta


kuda)”


“Heh, denger ya! Jangan lo pikir


kita nggak tau kebusukan lo, bangsawan rakus! Lo mau jual hasil tani ini, tanpa


sepengetahuan negara, kan?! Lo kira pajak warga negara ini masih kurang?!”


“!!!”


Ponthius pun terkejut ketika ia


mendengar perkataan dari salah satu bandit itu.


“Mengapa mereka semua bisa


tahu—”


“…”


Saat ia berpikir, ia melihat


pelayannya memegang sebuah Orb Call, tanpa sepengetahuannya.


“Ke…Keterlaluan! Ternyata anda—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Ponthius pun dipukul hingga tidak


sadarkan diri.


Lalu para bandit membawa semua yang


aset Ponthius kembali ke Trubel Village.


Karena aksinya itu, anggota BBE


yang itu pun disambut layaknya seorang pahlawan oleh warga desa.


“Terima kasih, BBE!”


“Sa…Saya selaku Kepala Desa hanya


bisa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.”


“Wuaaah! Permata ayah! Terima


kasih, Kakak Bandit!”


Di tengah sambutan dan pujian


dari warga Trubel, ada seseorang yang menyaksikan interaksi antara BBE dan


warga desa dari balik bayang-bayang.


Ketika ia menyaksikan mereka


semua, tiba-tiba ia mendapat panggilan melalui Orb Call.


“Bos! Berita buruk, Bos!”


“Ada apa?”


“Serangan kita ke Petualang-Petualang


yang mau ke arah Marklett gagal besar, Bos!”


“!!!”


Orang itu, yang sejatinya adalah


pemimpin dari Blood Brothers of Erviga, seketika terkejut.


“Yaudah! Tarik mundur semuanya!


Nanti kita bahas di markas kita!”


“OK, Bos!”


Balas anggotanya dari balik Orb


Call.


Ketika komunikasi antar mereka berhenti,


ia kembali menyaksikan anggotanya yang menuai pujian dari warga Trubel.


“Haaaah…gagal lagi nyerang Petualang.


Yaudah lah, seenggaknya kita berhasil selamatin desa dari bangsawan busuk.”


Pikirnya dengan tersenyum karena


apa yang sedang ia saksikan.