Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 323. The Secret Weapon



“Woy, lemah!”


“…”


Gue ada di Ruang Hampa lagi. Artinya gue udah bener-bener pingsan karena racun monster tadi.


Tapi gue nggak nyangka, kalo gue ada di ruangan ini, gue bisa bicara sama Si Bajingan satu ini.


Apa mungkin karena Zegin juga sempet masuk ke badan gue kali ya?


“Heh! Gue ngomong sama lo—”


“Bacot! Nggak usah banyak omong lo!”


“Hah?! Apa lo bilang—”


“Denger gue baik-baik, bajingan! Mau siapapun lo, bahkan kalo lo itu dewa sekalipun, gue nggak akan pernah biarin orang lain untuk ambil alih badan gue! Paham?!”


“…”


Hah?! Kenapa dia senyum-senyum kayak gitu?!


“Bahkan kalo gue punya kekuatan untuk lindungin temen-temen lo?”


“…”


“Hmph! Andai lo bisa liat muka lo sendiri, yang ragu sama kata-kata lo sendiri, lemah!”


Najis nih setan. Dia mau coba manfaatin gue yang lagi nggak punya kekuatan gue sendiri, ya?


“Denger gue baik-baik! Kalo lo kasih badan lo ke gue, gue janji untuk jaga mereka semua—”


“Omong kosong lo, bajingan!”


“Hah?! Omong kosong?!”


“Lo nggak inget ya, kalo lo udah pake tangan gue untuk nyerang mereka?!”


“Cih! Gue akuin gue itu salah! Tapi mereka yang coba nyerang gue dulu—”


“Nggak usah banyak alesan lo! Lagian, buat apa gue ngasih badan gue ke lo, kalo gue harus biarin lo yang nikmatin momen-momen yang harusnya gue nikmatin?!”


“Hmph! Keras kepala banget! Kalo nggak punya kekuatan, lo cuma bakal biarin orang-orang di sekitar lo mati! Termasuk ibu sama kakak lo yang ada di dunia lama lo!”


“!!!”


Apa dia bilang?


“Lo sekarang sadar kan, kalo—”


“Hmph! Lo pikir lo bisa manfaatin gue, kalo bawa-bawa keluarga gue di dunia lama?!”


“Gue nggak ada niatan untuk—”


“Mau kuat atau lemah, mau hidup sendirian atau banyak temen, sekarang gue yang punya badan ini! Nggak akan gue biarin badan ini direbut orang lain! Bahkan kalo temen-temen gue mati!”


“Hah? Apa lo bi—”


“…”


Kayaknya gue udah mau sadar.


Bagus deh kalo mau sadar. Jadinya gue bisa tinggalin tempat i—


“Mhahaha…! Bahkan kalo temen-temen lo mati?!”


“…”


“Lo pikir lo bisa berlagak egosentris kayak gitu?! Lo aja rela mati demi temen-temen lo, bahkan demi orang


lain, lewat tindakan lo tadi!”


“…”


Cih! Dasar Iblis Bajingan!


……………


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“*Crat…”


S-Sialan…


Bangun-bangun gue langsung batuk berdarah kayak gini…!


Tapi mending gini deh… daripada di Ruang Hampa bareng Si Bajingan itu…!


“Semuanya! Djinn udah bangun!”


“Hehe! Gue juga yakin, kalo dia pasti bangunnya cepet, Gia!”


“…”


Ternyata udah malem, ya?


Sekarang gue lagi ada di bawah Jamur Raksasa, bareng Myllo sama Gia. Tapi yang lain ke mana, ya?


“!!!”


Oh iya!


“Mil! Gia! Machinno gimana?!”


“Dia masih belom sadar. Tapi tenang aja! Pasti dia—”


“Tunggu dulu, Mil.”


“Hah? Ada apa?”


“Harimau putih ekor dua tadi tuh… beneran Machinno, kan?!”


“Iya, Djinn! Harimau putih yang bantuin kamu tadi tuh beneran Machinno!”


Buset, deh!


Kok tiba-tiba dia bisa berubah jadi harimau putih?!


““…””


Myllo sama Gia jelasin kondisinya sekarang ke gue.


Kata mereka berdua, Machinno tiba-tiba lari balik ke dalem, terus berubah jadi harimau putih ekor dua.


Pastinya mereka semua juga kaget.


“Terus yang lain ada di mana?”


“Kalo Ambrolis sih masih bantuin Garry untuk sembuhin warga yang keracunan. Tapi kalo Ivis, dia belum beranjak dari samping Machinno. Sedangkan Dalbert lagi pantau keadaan di sekitar kita. Takutnya ada penculik-penculik warga Mushmush di sekitar sini.”


“Oh gitu ya? Yaudah deh, tolong bawa gue ke Machinno. Gue juga—”


“Eits! Hehe! Pelan-pelan bangunnya!”


“Iya, ih! Kamu kan belum sembuh total, Djinn!”


Untungnya ada Myllo sama Gia, yang langsung bantuin gue berdiri. Padahal gue juga tau kalo badan gue masih


lemes banget.


““…””


Sambil dituntun mereka berdua, gue pergi ke tempat Machinno, yang lagi disembuhin Ivis.


“Ivis! Machinno gima—”


“Kumohon! Sembuhlah, Machinno!”


““…””


Hm? Kenapa Ivis keliatan khawatir banget sama Machi—


“Apa yang kalian lakukan?”


Hm? Ada Ambrolis di sini? Bukannya dia katanya lagi sembuhin warga bareng Garry?


“Oh, Ambrolis! Djinn mau ketemu Machinno! Dia khawatir sama di—”


“Mohon maaf, Myllo Olfret.”


“Hah? Maaf kenapa?”


“Bisakah… engkau mengizinkan Kakak Ivis untuk menghabiskan waktu berdua, bersama Machinno?”


Berdua sama Machinno? Emangnya kenapa dia—


“Ih! Ivis mau ngapain berdua-duaan sama Machinno?!”


D-Dasar cewek aneh…


“Machinno itu kan—”


“Cukup, Gia. Kalo lo lanjutin lagi, lo nggak akan beda jauh sama Garry.”


“Ahahaha! Gue juga mikir gitu, Djinn!”


“Haaaah?! Kalian pikir aku ini mesum?!”


Ya iyalah!


Emangnya mereka mau ngapain?! Pacaran?!


“Hehe! Yaudah kalo gitu! Kita ke—”


“Dan lagi, maafkan aku jika aku berkata seperti ini. Namun aku rasa, akan ada sesuatu yang terjadi di sekitar kita.”


“Ya. Insting gue juga bilang begitu.”


Hah? Emangnya bakalan ada apa?


““…””


Akhirnya kita balik ke tenda, di mana ada Garry yang sembuhin satu orang warga desa.


“Oh, ternyata Si Bego satu ini udah sembuh?”


“Hah?! Apa lo bilang, brengsek—”


“Untung aja lo nggak kenapa-kenapa! Kalo sampe lo kenapa-kenapa…”


“Hm?”


T-Tiba-tiba muncul lagi orang aneh di sini…


Eh tunggu, gue ngerasa ada yang aneh…


“Kok… gue sama Machinno dipisah dari warga desa ini?”


“Agar racun di dalam Tubuh-mu dapat dibuang ke sekitar Jamur Raksasa di tempat ini dengan lebih cepat, dibandingkan berada di satu Jamur Raksasa yang sama.”


“Buang racunnya ke sekitar jamur ini?”


“Tidak. Lebih tepatnya, aku dan Kakak Ivis memanipulasi salah satu Jamur Raksasa, agar bisa menyerap racun berbahaya dari Cthorach.”


Kalo gitu, harusnya racun gue udah diserap, kan?


“Tapi kok… kepala gue masih pusing, ya? Badan gue juga masih lemes, terus perut gue sakit.”


“Racun dari Cthorach telah menyerang energi kehidupan yang berasal dari Tubuh-mu. Oleh karena itu, jika ingin menyembuhkanmu, maka kami terpaksa mengambil sebagian besar energi kehidupanmu.”


“Oh gitu ya?”


“Ya, kau be—”


“Hehe! Ternyata kalian udah akur, ya?!”


““…””


Akur? Maksudnya?


“…”


Oh iya. Tumben banget nih cewek nggak jutek ke gue…


“…”


Hm? Ada apa sama Dalbert?


Kenapa dia… natap Garry setajem i—


“Et, Djinn! Sianying sia teh! Bikin kuatir wae sia teh!”


“S-Sorry. Gue bergerak pake naluri aja untuk lempar Ambrolis keluar.”


““…””


Nggak lama kita berempat dateng, Ivis juga dateng sambil gendong Machinno.


“Ivis! Gimana kondisi Machinno?!”


“Keadaannya sudah stabil. Namun aku rasa, ia tidak akan mampu menolong warga kembali, jika kita semua memang mau kembali ke Dungeon of Poison, esok pagi.”


Hah?! Besok pagi?!


“Mil! Seriusan besok pagi?!”


“Ya! Karena kita harus selamatin mereka secepetnya, sebelum mereka semua berhasil dimutasi Mawar Raksasa!”


M-Mawar Raksasa…?


Maksud dia tuh… Cthorach…?


“Tapi gue—”


“Maaf, Djinn. Tapi untuk besok…”


Ah. Gue nggak boleh ikut, ya?


“Cih!”


Andai gue punya kekuatan gue, yang kebal sama racun, mungkin bisa ikut bareng mereka!


Intinya…


Tanpa kekuatan gue yang disegel, gue cuma nyusahin aja!


“Yaudah. Gue paham.”


“Hehe! Makasih banyak atas pengertiannya! Lagian nggak cuma lo doang! Machinno besok juga nggak bisa!”


Kalo Machinno sih, wajar a—


“Myllo. Esok pagi, sepertinya Ambrolis juga tidak bisa ikut bersama kita.”


“Nggak bisa?!”


“Ya. Itu semua karena sihir penangkal racun yang berupa ban lengan ciptaannya menguras sangat banyak Mana. Dengan kata lain…”


““…””


“…kalian tidak akan kebal racun melawan Cthorach, pada esok pagi.”


““!!!””


Nah loh! Kalo nggak kebal racun, artinya mereka bisa ngerasain efek yang gue rasain kayak tadi, dong?!


“Tenanglah. Kalian mungkin kehilangan pertahanan, namun kalian juga memiliki senjata rahasia untuk mengalahkan Cthorach.”


Hah?! Senjata rahasia?!


“Waw! Keren tuh, kedengerannya! Emangnya ada, Ivis—”


“Tentunya, Myllo Olfret. Buktinya, ia ada di samping anda.”


Di samping Myllo?


“Maksud lo tuh Djinn, Ivis?”


“Tentu saja tidak. Lagipula Djinn tidak bisa ikut bersama kita, bukan?”


“Terus maksud lo tuh Gia?!”


“Tepat sekali.”


““!!!””


Gia senjata rahasianya?!


“Tunggu, tunggu, tunggu! Kok aku?!”


“Biar kujelaskan, Margia Maevin.”


““…””


Kita pun nyimak penjelasan Ivis.


“Pertama. Ingatkah engkau, tentang panggilan alam yang diterima Jiwa-mu?”


“I-Inget. Kalo nggak salah, panggilan alam yang aku terima tuh batu atau besi kan, ya?”


“Benar. Karena hal tersebut, maka engkau lah yang paling ampuh menggunakan sihir, jika menghadapi Cthorach.”


“Eh?! Pake sihir?! Bukannya—”


“Ya. Cthorach bisa menyerap kekuatan alam. Akan tetapi, besi atau batu sangatlah padat dan mustahil untuk diserap. Oleh karena itu, kau harus melewati batasmu dan menggunakan Earth Magic, seperti Dalbert Noark.”


““!!!””


Nggak gue sangka, cewek genit kayak dia bisa jadi senjata rahasia untuk lawan monster tumbuhan itu!


Bukan artinya gue ngeremehin, sih. Tapi gue nggak sangka aja, dari 5 cowok yang ada di sini, cuma dia yang bisa diandelin!


Masalahnya—


“Jadi, apakah engkau menyanggupinya, Margia Maevin?”


Padahal gue mau tanyain hal yang sama.


“Gia! Kalo lo nggak sanggup, biar gue yang—”


“Aku sanggup, Ivis!”


“Ya. Aku sudah menduga jawabanmu.”


“Eh?! Kok—”


“Karena, seperti Dewa Stryrorke, Sang Kekuatan, tentunya para pengguna kekuatan batu juga berjiwa yang kuat, yang berani menerima tantangan apapun.”


“Ahaha… Kalo kamu puji aku kayak gitu… aku jadi nggak enak, deh…”


Nih cewek… dipuji dikit langsung merah ya mukanya.


Beda banget sama temennya yang mantan bandit (Dalbert).


Yaudah lah, seenggaknya dia berani untuk—


“Myllo. Gue ada saran juga.”


“Hah? Apa?”


“Besok pagi, Garry nggak perlu ikut kita ke Dungeon of Poison!”


““!!!””


Hah?!


“Woy, Dalbert! Emangnya kena—”


“Karena di sana, dia nggak akan berguna!”


“Nggak! Dia pasti berguna! Orang yang gue rekrut pasti—”


“Jadi orang jangan subjektif, Myllo! Lo pasti sadar kalo apa yang gue bilang bener, bukan?!”


“T-Tapi Garry itu temen ki—”


“Kita ini Petualang yang lagi harus kerjain Quest! Bukan orang-orang yang mau main di Dungeon of Poison! Kapten macem apa yang terlalu naif kayak gitu?! Kalo sampe lo naif kayak gitu—”


“*Tap!”


“…”


Mungkin gue setuju sama apa yang dia bilang. Tapi di kuping gue, nih orang udah kelewat batas.


“Heh, brengsek! Jaga mulut lo, ya!”


“…”


Cih!


Gue nggak mau ngakuin, tapi bisa aja gue bener-bener berantem sama Dalbert, cuma untuk jaga harga diri Myllo!