Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 422. The Neglected Ones



“T-Tolong! Mantan Kepala Klan, Tanzō Kuroba sedang—”


“T-T-Tanzō-sama! Anjing itu telah kembali!”


Gue balik lagi ke teritorinya Klan Tanzō, dengan harapan supaya ayah bisa disembuhin mereka.


Tapi yang ada…


“Tangkaplah anjing itu!”


“K-Katanaka-nīsama! Aku datang dengan—”


“Ia telah membawa kesialan bagi ayah saya! Oleh karena itu saya menginginkan kematiannya!”


“Tidak, Katanaka-nīsama—”


“Siapa yang anda panggil nīsama, anjing muda?! Saya tidak memiliki darah yang najis seperti anda!”


“…”


…justru tuduhan dari Katanaka ke gue!


“Cepat kejar dia!”


“Pemanah! Tembak dia! Sekarang juga!”


“*Syut, syut, syut…”


“Huff! Huff! Huff!”


Hidup gue jadi dikejar-kejar Klan Tanzō karena Katanaka.


“Haaaaah…! Akhirnya aku bisa pergi dari genggaman mereka…!”


Waktu itu gue berhasil kabur dari mereka.


Walaupun gue tau, kalo gue pasti tetap dikejar-kejar.


Tapi ada waktunya kalo gue ngerasa capek karena harus lari terus. Karena itu gue mulai berani untuk hadapin mereka.


Cuma gue hadapin mereka dengan harapan, supaya gue bisa mati dan nyusul ayah.


Tapi…


“*Bruk, bruk, bruk…”


“Keuk…! K-Keterlaluan…!”


…badan gue bergerak sendiri karena naluri dan insting gue. Karena itu gue bisa kalahin mereka yang kejar gue.


Sampe ujung-ujungnya, gue harus berhadapan sama pilihan sulit, setelah beberapa bulan hidup dikejar-kejar Klan Tanzō.


“K-Keterlaluan kau…! Dasar… anjing…!”


“…”


Beberapa bulan setelah kematian ayah, gue kalahin beberapa anggota Klan Tanzō.


“Jangan kejar aku lagi! Aku sudah tidak akan—”


“Matilah kau…! Anjing…!”


“!!!”


Gue mau tinggalin Beastman itu. Tapi Beastman itu tetap mau bunuh gue, walaupun dia udah luka-luka.


Makanya itu gue berhadapan sama pilihan sulit.


Biarin dia bunuh gue supaya gue bisa nyusul ayah, atau bunuh Beastman itu, supaya makin berkurang yang gue


bunuh.


Mungkin gue udah siap untuk nyusul ayah.


Tapi…


“*Shrak…”


“*Bruk…”


…gue tanpa sadar bergerak didorong naluri dan insting. Bahkan dua hal itu dorong gue lebih jauh lagi, supaya gue bunuh mereka.


“A-Ayah! Maafkan aku! Aku telah berdosa, ayah! Tanganku berlumuran darah yang bukan milikku! Apakah memang aku harus berbuat jahat seperti ini, ayah?! Hiks! Hiks! Hiks!”


Tangan gue berdarah.


Para prajurit Klan Tanzō yang gue bunuh itu jadi korban pertama gue.


Tapi ujung-ujungnya bukan mereka aja korban pertama gue.


“Tangkap dia sekarang juga—”


“*Chrak!”


“K-Keterlaluan—”


“*Chrak!”


Siapapun yang ancam nyawa gue, gue bunuh.


“*Chrak!”


Padahal bukan itu yang gue mau.


“*Chrak!”


Gue udah siap untuk nyusul ayah.


“*Chrak!”


Tapi badan gue tolak kemauan gue.


“*Chrak!”


Sampe akhirnya…


“*Chrak!”


…rasa bersalah gue hilang secara perlahan-lahan, dimana gue udah nggak ngerasain penyesalan untuk bunuh siapapun.


Karena itu, keberadaan gue jadi dikenal di segala penjuru Kumotochi.


“Oh! Ini nih yang disebut Hakki?!”


“Akhirnya kita dapet juga orang ini—”


“*Chrak! Chrak! Chrak!”


Bandit-bandit yang ada di Kumotochi ikut nantangin gue. Makanya gue bunuh siapapun dari antara mereka


yang temuin gue.


“Taisa-san, sepertinya ia yang disebut Hakki.”


“Baiklah. Karena Klan Tanzō adalah sekutu kita, maka kita dari Klan Ērukuma, harus membunuhnya—”


“*Chrak! Chrak! Chrak!”


Semua klan lain juga bernasib sama kayak bandit yang nantangin gue.


Itu jadi keseharian gue selama lebih dari 5 tahun.


Sampe akhirnya, nyawa gue hampir hilang.


“Kita berhasil menangkap Hakki! Terima kasih atas bantuannya, Klan Ērukuma! Klan Warauneko!”


“Kami Klan Warauneko, senang bisa membantu kalian!”


“Setidaknya pria ini telah tertangkap! Berarti Kumotochi telah aman kembali! Walaupun mereka, para Komisi,


melupakan kita yang berada di luar Chūbo Town!”


“Keuk…! L-Lepaskan… aku…!”


Beberapa klan mulai kerja sama untuk tangkep gue.


Bahkan naluri yang selalu dorong gue untuk bunuh siapapun yang ngejar gue, juga nggak bisa lawan gabungan kekuatan mereka.


“S-Sial…!”


Waktu ketangkep, gue mikirin semua kejadian yang gue alamin selama 5 tahun itu.


Kenapa gue harus ditangkep?


Apa salah gue?


Bukannya mereka semua yang datengin gue?


Bukannya itu resiko mereka, kalo mereka kehilangan nyawa mereka?


Tapi pertanyaan-pertanyaan itu cuma bisa gue simpen di kepala gue.


Karena apapun alesannya…


“Setidaknya Kumotochi sudah aman dari marabahaya yang disebabkan oleh Kaum Omega ini!”


…darah gue ini yang pasti disalahin.


“*Shruk! Shruk! Shruk!”


Gue ditusuk puluhan pedang, sampe akhirnya kesadaran gue hilang secara perlahan-lahan.


Waktu gue pikir…


“Ah, mungkin ini adalah waktuku untuk bertemu denganmu, ayah.”


“…”


Sehabis mikir gitu, gue pingsan.


Ya. Gue cuma pingsan. Nggak sampe mati.


Karena gue masih bisa bangun.


“Huuuffff!!!”


Gue bangun ada di tengah hutan.


“…”


Gue perhatiin nggak ada satupun orang sekeliling gue. Abis itu gue juga periksa badan gue yang keliatannya


Tapi di deket gue, ada sesuatu yang seharusnya nggak gue punya.


“Hm? Katana? S-Siapa pemilik katana ini?”


“…”


Gue sentuh katana itu.


Waktu gue sentuh…


“*FWUSH!!!”


…tiba-tiba ada angin kenceng yang keluar dari Katana itu.


Anehnya, gue ngerasa jadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Bahkan kalo gue inget-inget lagi, sampe sekarang pun gue masih nggak tau siapa orang yang kasih katana itu ke gue.


……………


Gue lanjutin hidup gue selama 3 tahun.


Dalam kurun waktu selama itu, warga Kumotochi masih mau lawan gue. Walaupun gue nggak liat adanya tanda-tanda dari Klan Tanzō untuk coba lawan gue.


Padahal dari yang gue tau, gue itu udah jauh lebih ditakutin sebagai Hakki.


Lebih parahnya lagi, bukan warga Kumotochi aja yang coba nantangin gue.


“Oh! Kita dibayar untuk bunuh Beastman ini ya?!”


“…”


Petualang yang dateng di Kumotochi juga coba bunuh gue, karena mereka dibayar.


Mungkin mereka dibayar Klan Tanzō?


Nggak.


Gue yakin mereka itu dibayar Kazedori Bakufu.


Padahal beberapa bulan semenjak gue dapet katana ini, Kumotochi lagi ada konflik. Tapi gue heran sama mereka yang masih mau bunuh gue.


“*Shrak, shrak, shrak…”


Ujung-ujungnya gue bunuh semua Petualang yang datengin gue.


Tapi nggak semua Petualang yang bisa gue bunuh.


“*Bruk…”


“Keuk…!”


“…”


Gue berhadapan sama satu Beastman yang kuat banget. Bahkan Katana yang gue pake itu nggak bisa tusuk badannya.


“S-Sial…! Kenapa kalian—”


“Kenapa lo bunuh semua orang?”


“K-Kenapa, lo tanya…?! Tanya aja sama mereka! Gue cuma mau hidup damai! Tapi mereka selalu kejar gue untuk membunuh gue!”


“…”


“Kenapa?! Pasti lo nggak perca—”


“Percaya, kok. Bahkan gue bisa liat lo yang kurus banget.”


“Eh…?”


“Kapan terakhir kali lo makan?”


“G-G-Gue nggak inget… Mungkin aja… semenjak ayah gue meninggal dunia, sekitar 8 tahun yang lalu…”


““!!!””


Ya. Selama itu gue nggak makan atau mandi. Padahal gue harap gue mati kelaparan. Tapi gue masih hidup.


Mungkin aja semua gue ini karena darah Kaum Omega ini.


“K-Kok bisa dia—”


“Nih, makan. Mungkin nggak seberapa, tapi—”


“Makasih banyak! Selamat makan! Haurp, haurp, haurp, haurp…”


Gue makan selahap-lahapnya dari orang itu. Bahkan kalo dia kasih racun pun, gue makan.


Gue makan bukan karena laper, tapi karena keinget ayah yang selalu bikin makanan untuk gue.


“Hiks! Hiks! Hiks!”


Makanya gue makan sambil nangis-nangis.


“K-Kapten… mengapa dia bisa bertahan hidup tanpa makan—”


“Kaum Omega. Mungkin itu doang satu-satunya alesan dia bisa hidup sampe sekarang.”


Beastman itu juga bilang yang sama kayak yang gue pikirin.


“Kapten, terus kita harus gimana? Bukannya kita dibayar untuk bunuh dia—”


“Tunggu. Biar gue ngomong ke dia dulu.”


“…”


Beastman itu jalan ke arah gue.


Abis itu…


“…”


…dia buka tangannya ke gue, seakan dia nyambut gue.


“Nama gue Tarruc Taur, Kapten dari Taurus Party. Lo mau ikut gue nggak pergi dari sini?”


“…”


Ya. Itu pertemuan gue pertama kalinya sama Kapten Tarruc.


Karena gue terima tawaran dari dia, gue akhirnya jadi Petualang, dimulai dari Striker Kasta Hijau.


Gue ikut dia kurang lebih selama 2 tahun.


Dalam kurun waktu itu, gue pernah tanya satu hal yang bikin gue heran ke dia.


“Kapten Tarruc. Gue mau nanya dong. Boleh nggak?”


“Hm? Tanya aja.”


“K-Kenapa… lo ajak gue jadi Petualang? Bukannya waktu itu kalian dibayar untuk bunuh gue?”


“Hahaha! Padahal selama ini gue nunggu lo tanya tentang itu! Ternyata lo baru tanya sekarang!


“E-Eeeeh…? Maksud Kapten—”


“Mungkin lo udah tau tentang Mila sama Hobart, sebelum mereka ikut petualangan bareng kita. Ya, kan?”


Pastinya gue tau tentang mereka, karena mereka itu jadi Petualang setelah gue jadi Petualang.


Radomila, atau yang kita kenal Mila, dia itu cewek yang pinter banget. Tapi waktu itu kita temuin dia yang mau bunuh orang tuanya karena paksa dia untuk nikah sama bangsawan busuk, supaya bisa hidupin keluarganya. Untungnya kita bisa tahan dia, sekaligus bongkar kebusukan bangsawan itu. Walaupun kita gagalin pernikahannya, Mila tetap kecewa sama orang tuanya, karena dia ngerasa kayak dibuang orang tuanya. Makanya itu dia mau ikut Kapten Tarruc.


Sedangkan kita temuin Hobart di depan kuburan adeknya yang ada di tengah hutan. Tapi waktu kita temuin dia, dia mau coba bunuh diri. Waktu Kapten Tarruc berhasil tahan Hobart, Hobart langsung ceritain tentang adeknya yang gagal dia sembuhin pake sihir. Makanya itu Kapten Tarruc ajak dia jadi Petualang, supaya ilmu sihir yang dia pelajarin berguna untuk kita semua.


“…”


Gue jelasin itu semua ke Kapten Tarruc, walaupun gue masih heran sama maksud dia.


“Terus, apa hubungannya sama gue, Kapten—”


“Lo pasti nggak tau tentang gue, Aravo, Kritach, Lozrick, sama Sonda, bukan?”


“Ng-Nggak…”


“…”


Kapten Tarruc ceritain ke gue tentang masa lalu mereka semua.


Sonda yang dulunya pencuri di tengah hutan,


Lozrick yang sebelumnya preman jalanan,


Kritach yang kehilangan Guild-nya sehabis Hell’s Gate War,


Wakil Kapten Aravo, temen lama Kapten Tarruc yang yatim piatu, yang kerja sebagai salah satu pembunuh di


suatu Black Guild,


dan terakhir…


“Semua anggota keluarga gue itu anggota Children of Purgatory, kecuali gue. Dulu gue hampir ditumbalin


mereka. Tapi untungnya ada Sylv dan Aquilla yang selamatin gue dari mereka! Hahaha!”


…masa lalu Kapten Tarruc itu sendiri.


“Intinya, kita semua sama-sama terlantar. Bahkan beberapa di antara kita juga udah buat aksi kriminal.”


“B-Bener juga sih…”


“Tapi…”


“Hm? Tapi apa, Kapten?”


“Tapi Sylv buka tangannya untuk gue, tanpa peduliin siapa gue atau orang tua gue. Karena itu, gue buat satu janji ke dia.”


“Janji apa?”


“Gue janji, kalo gue mau punya Party yang isinya orang-orang terlantar kayak gue. Makanya gue nggak ragu untuk ajak kalian semua untuk ikut petualangan sama gue. Termasuk lo, Hakuya.”


“…”


Gue cuma bisa senyum karena penjelasan dia yang mau rekrut gue bareng yang lainnya.


Kapten Tarruc.


Gue bersyukur karena ketemu orang yang mau buka tangannya untuk kita semua.