Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 31. Aura



Saat pertarungan antara Djinn dan


Myllo melawan Galziq sedang berlangsung, beberapa anggota kerajaan Vamulran


Kingdom sedang dilanda berita duka akan kepergian cucu dari Anak Pertama Raja


Bivomüne, Djinnardio Vamulran.


Saat ini, terdapat dua anak dari


Raja Bivomüne yang sedang berkumpul bersama-sama di dalam suatu ruangan.


“Edhlein, apakah Frinuil akan


kemari?”


“Saya…tidak tahu, Vharlo. Ia


sangat menghargai Kakak Luscika, hingga ia pun berani meninggalkan kerajaan


ini.”


“Ya. Saya mengerti. Saya pun juga


hendak pergi semenjak kepergian Kakak Luscika. Anda pasti tahu penyebabnya,


tidak?”


“Ya. Karena Aranual hampir


menguasai segalanya. Jika bukan karena ayah, kita pasti juga sudah pergi dari


tempat ini.”


Mereka adalah Vharlo dan Edhlein


Vamulran. Vharlo adalah High Elf yang memiliki kecerdasan dalam pemberdayaan


agrikultur dan biologi, sedangkan Edhlein sangat cerdas dalam bidang sains.


“Ngomong-ngomong, kemanakah


perginya anakmu, Edhlein?”


“Mereka…tidak saya bawa kemari.


Sama seperti kita semua, mereka seperti kehilangan sosok kakak yang baik


seperti Djinnardio, walaupun usia mereka tidak jauh berbeda.”


Balas Edhlein yang menjawab


pertanyaan Vharlo.


Mereka pun saling berbincang satu


sama lain sambil menunggu kedatangan ayah mereka yang berada dari balik ruang


tersebut.


“Tapi…apakah anda yakin…jika


Djinnardio berbuat seperti itu?”


“Vharlo, jika anda pikirkan


baik-baik, tentu saja ia berbuat seperti itu. Kita tahu betapa pahit hidupnya.


Tidak hanya kehilangan kedua orang tuanya saja yang terbunuh, ia bahkan—”


“*…bruk… (suara terjatuh dari


balik ruangan)”


“*…Chrang, chrang, chrang…(suara


cawan terjauh dari balik ruangan)”


““!!!””


Mereka pun terkejut ketika mendengar


suara dari balik ruangaan khusus ayahnya.


“*Kriiekk… (suara pintu terbuka)”


““Ayah!””


“…”


Ketika mereka membuka pintu itu,


terlihat ayah mereka telah terjatuh bersama dengan cawan yang berisikan anggur.


“Ah… Apakah anda…Hicc…Luscika…?”


“Ti…Tidak ayah. Ini anak anda,


Edhlein.”


“Ah! Bukankah…Hicc…kamu


masih kecil, nak?”


“A…Ayah…”


Mereka menyaksikan ayah mereka,


Raja Bivomüne, yang sedang mabuk. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa


melihat ayahnya tersebut.


“Ah…jika anda sudah sebesar


ini…harusnya saya sudah tua, ya?! Bwaaahahaha…Hic!”


“Vharlo, kita harus berbuat


apa?!”


“Sa…Satu hal yang terpikirkan


oleh saya hanya menyadarkannya dengan sihir!”


“Ce…Cepat lakukan!”


“Ba…Baiklah!”


Vharlo pun merapal sihir untuk


menyadarkan ayahnya.


“Poison Release…”


Namun…


“Hraaagh! Anda pikir anda bisa bermain


sihir dengan saya?! Tentu saja tidak! Bwahahaha!”


…Bivomüne sangat kebal dengan


sihir, sehingga sihir dari Vharlo tidak berdampak sama sekali.


Begitu kesal dengan perilaku


ayahnya, Vharlo pun berusaha memaki ayahnya.


“Ayah! Sadarlah! Anda seorang


raja! Tidak pantas anda bermabuk seperti i—”


“*Puk… (suara pelukan)”


“E…Edhlein…?”


Vharlo pun menyaksikan tindakan


Edhlein yang memeluk ayahnya ketika ia sedang marah.


“A…Ayah. Ini Edhlein. Tolong


sadarlah, ayah. Tidak hanya ayah saja, kami pun juga kehilangan Djinnardio,


Kakak Luscika, serta Brent, ayah.”


“…”


“Tolong sadarlah, ayah. Tidak


hanya kami saja, rakyat anda pun masih membutuhkan anda, ayah!”


Kata Edhlein dengan air mata yang


menggelinang di pundak ayahnya.


“Ma…Ma…Maafkan ayah, nak. Ayah


tidak kuat…menahan kepahitan di hati ayah! Ingin saja ayah melupakan


segalanya!”


Teriak Bivomüne dengan air mata


yang mengalir deras di pipinya.


Melihat kesedihan mendalam


dibalik mabuknya, Vharlo merasa bersalah dan bersujud di hadapan ayahnya.


“A…Ayah…maafkan saya…a—”


“Anak pertama saya mati terbunuh.


Cucu saya bunuh diri. Sedangkan anak kedua saya hatinya semakin dikuasai


kegelapan.”


““…””


“Oh, wahai Dewa dan Dewi di atas


sana! Apa yang salah dengan saya?! Apakah hidup saya ini terkutuk?!”


“A…Ayah! Jangan berkata seperti


itu, ayah! Ingatlah, bahwa kami selalu ada untuk menemani ayah!”


Tegas Edhlein setelah mendengar


perkataan ayahnya.


“Edhlein…Vharlo…maafkan ayah!


Ayah kalian tidak sekuat yang kalian bayangkan! Lihatlah tindakan memalukan


ayah kalian ini!”


“*Puk… (suara pelukan)”


“Ka…Kami mengerti, ayah! Maka


dari itu, kami tidak menyalahkan ayah yang mabuk seperti ini!”


Tegas Vharlo yang ikut memeluk


ayahnya.


Saat mereka semua berusaha


menenangkan diri, ada seorang personil kerajaan yang hendak menemui Bivomüne.


Akan tetapi…


“Jangan datang terlebih dahulu.”


“Tu…Tuan Muda Theorlt? Maaf


sebelumnya, akan tetapi ini penting—”


“Raja anda sedang berduka. Tolong


beri ia ruang untuk sementara.”


“Sa…Saya paham atas berita duka


itu, akan tetapi—”


“Jika anda memiliki laporan


terkait, alangkah baiknya jika anda berikan kepada saya terlebih dahulu. Nanti


akan saya berikan kepada ayah.”


“Ba…Baiklah, Tuan Muda Theorlt.”


Personil kerajaan itu pun


memberikan laporannya kepada Theorlt, Anak Terbungsu dari Bivomüne, yang telah


berdiri di balik ruangan ayahnya sambil menyimak percakapan ayah dan


kakak-kakaknya.


Kembali ke dalam ruangan Bivomüne dengan suasana yang lebih tenang,


Raja Bivomüne pun menyampaikan sesuatu yang mengejutkan bagi mereka semua.


“A…Apakah anda yakin, ayah?!”


“Ya. Saya melihatnya dengan


jelas.”


“Bagaimana anda yakin dengan itu,


ayah?!”


“Saya melihat dengan jelas


tentang ramalan yang datang kepada saya lewat mimpi.”


Jelas Bivomüne terkait


ramalan yang ia saksikan.


“Jika seperti itu, mari kita


“Menghentikannya sama artinya


dengan menghancurkan kesatuan negara ini, Vharlo.”


“A…Anda ada benarnya juga, ayah.”


“Maka dari itu, anak-anakku. Ayah


tidak akan melarang kalian jika kalian hendak pergi dari kerajaan ini.”


““!!!””


Edhlein dan Vharlo pun terkejut


mendengar pernyataan ayahnya tersebut.


Tidak hanya mereka saja, bahkan


Theorlt yang mendengar dari balik pintu pun juga terkejut.


“A…Ayah! Kami tidak akan


meninggalkan ayah!”


“Benar! Kami akan menemani ayah,


bagaimanapun nasib kami!”


“Hmph…”


Bivomüne pun tersenyum melihat


respon kedua anaknya tersebut.


Namun, tiba-tiba ia merasakan


sesuatu yang begitu kuat.


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Judgment.”


“*Bruk… (suara terjatuh kursi)”


Bivomüne tiba-tiba terjatuh dari kursinya setelah


merasakan aura dan sihir tersebut, yang membuatnya merinding.


“A…Ayah?!”


Edhlein dan Vharlo pun terkejut


ketika Bivomüne terjatuh dari kursinya.


“Ta…Tadi itu apa? Mengapa saya


merasakan sesuatu yang begitu kuat?”


Pikir Bivomüne setelah ia merasakan kekuatan itu.


“Anak-Ku, Bivomüne.”


Tiba-tiba ada seseorang yang


memanggilnya dari dalam pikirannya.


“Ayah! Apakah anda baik-baik


saja?!”


“Edhlein… Vharlo… Mohon maaf jika


saya mengejutkan anda sekalian. Saya butuh waktu untuk menyendiri sejenak.”


““Baik, ayah.””


Edhlein dan Vharlo pun


meninggalkan ruangan ayahnya.


Setelah ia ditinggalkan


anak-anaknya di dalam ruangan pribadinya, Bivomüne pun masuk ke dalam


pikirannya.


“Salam hamba kepada Nature


Goddess of Birth, Gennisia.”


“Anak-Ku. Sepertinya kau terlihat


lebih tenang. Maafkan Aku atas kemalangan nasibmu, Anak—”


“Ti…Tidak. Justru hamba memohon


pengampunan atas tindakan bodoh hamba, Dewi Gennisia.”


“Tidak. Aku tidak menyalahkanmu,


anak-Ku. Aku tidak menyalahkan kepedihanmu. Justru, Aku bersyukur karena kau


masih memiliki anak-anak yang sayang kepadamu.”


Jelas Gennisia, salah satu Dewi


yang memimpin Geoterra. Ia memiliki tingkatan yang setara dengan Zegin, Dewi


yang menaungi Myllo.


Tanpa anak-anaknya sadari, selama


ini Bivomüne adalah salah satu Saint di dunia ini yang berada di Geoterra.


“Apakah Dewi Gennisia memanggil


hamba untuk menegur tindakan hamba?”


“Tidak, Anak-Ku. Aku memanggilmu


karena Aku juga merasakan aura besar yang kau rasakan.”


Jelas Gennisia kepada Bivomüne.


Mendengar Gennisia, Bivomüne pun


menjadi penasaran dengan apa yang ia rasakan.


“Sepertinya Dewi Gennisia


mengetahui aura tersebut.”


“Aku pernah merasakan aura dan


kekuatan tersebut. Anehnya, Aku tidak tahu hal itu.”


“Artinya…Dewi Gennisia lupa


dengan itu semua?”


“Ya. Sepertinya begitu. Bahkan


Aku yakin jika Dewa dan Dewi lainnya juga mengatakan hal yang sama.”


Jelas Gennisia.


“Anak-Ku Bivomüne, mungkin Aku


tidak bisa memastikannya. Namun, berjaga-jagalah. Sepertinya pemilik kekuatan


itu bisa membawa keselamatan bagi dunia ini, namun juga bisa menjadi malapetaka bagi dunia ini.”


“!!!”


Bivomüne terkejut mendengar


nasihat dari Gennisia.


Namun, tanpa banyak bertanya, ia


pun menuruti nasihat-Nya dan menundukkan kepala kepada-Nya.


“Baiklah, Dewi Gennisia. Hamba


akan berjaga-jaga selalu.”


“Ya, Anak-Ku.”


.....................


Keesokan harinya, ketika Bivomüne


menghadiri rapat dengan personil kerajaannya.


“…”


“Orb Call ini…Luvast?!”


Pikirnya setelah ia melihat


sebuah Orb Call yang berkedap-kedip.


“Mohon maaf sebelumnya, saya


mohon agar kiranya kalian semua meninggalkan ruangan ini.”


““Baik, Yang Mulia.””


Beberapa personil kerajaan pun


meninggalkan ruangan tersebut, kecuali Rivrith, anak dari Aranual yang menjabat


sebagai Tangan Kiri Raja, serta Vindyor, yang menjabat sebagai Tangan Kanan


Raja.


“Rivrith. Vindyor. Saya berkata


untuk meninggalkan ruangan ini.”


“Akan tetapi—”


“Termasuk kalian berdua.”


““Baik, Yang Mulia.””


Rivrith dan Vindyor pun


meninggalkan ruangan tersebut.


“Absolute Soundproof.”


Bivomüne merapal sihir agar


suaranya tidak terdengar hingga keluar.


Setelah mempersiapkan semuanya,


Bivomüne pun membuka Orb Call tersebut.


“Luvast! Mengapa kamu lama sekali


memberikan kabar kepada ka—”


“Kakek! Ada kabar penting yang


harus aku berikan kepada kakek!”


“Hm?”


“Djinn masih hidup!”


“Djinn?!


Maksudmu…Dji…Dji…Djinnardio…?”


“Benar, kakek!”


Mendengar berita dari Luvast,


Bivomüne pun tidak kuasa menahan tangis bahagianya setelah ia tahu bahwa cucu


kesayangannya masih hidup.


Luvast pun menjelasakan alasan ia


tidak memberikan laporan dalam waktu yang cukup lama, serta keadaan Djinn saat


ini.


“Oh… Ia berusaha memalsukan


kematiannya, ya…”


“Benar, kakek. Mungkin sangat


sedikit kemungkinan kakek untuk bertemu kembali dengannya, mengingat ia sangat


menjaga jarak dengan Vamulran Kingdom dan sekitarnya.”


“Kakek tidak masalah! Selama ia


dapat hidup dengan tenang, kakek pun tetap bahagia! Bwaahahaha!”


“Hihi! Akhirnya aku melihat


kakek tertawa kembali setelah sekian lama!”


“Ya! Selama kamu dan Djinnardio


dalam keadaan bahagia, kakek pun merasa cukup!”


Seru Bivomüne kepada Luvast.


Setelah ia berkomunikasi dengan


Luvast, tiba-tiba Bivomüne merasa suatu kejanggalan.


“Tunggu… Jangan-jangan


kekuatan itu… karena… Djinnardio?!”


Pikir Bivomüne mengingat kekuatan


tersebut.