
Saat pertarungan antara Djinn dan
Myllo melawan Galziq sedang berlangsung, beberapa anggota kerajaan Vamulran
Kingdom sedang dilanda berita duka akan kepergian cucu dari Anak Pertama Raja
Bivomüne, Djinnardio Vamulran.
Saat ini, terdapat dua anak dari
Raja Bivomüne yang sedang berkumpul bersama-sama di dalam suatu ruangan.
“Edhlein, apakah Frinuil akan
kemari?”
“Saya…tidak tahu, Vharlo. Ia
sangat menghargai Kakak Luscika, hingga ia pun berani meninggalkan kerajaan
ini.”
“Ya. Saya mengerti. Saya pun juga
hendak pergi semenjak kepergian Kakak Luscika. Anda pasti tahu penyebabnya,
tidak?”
“Ya. Karena Aranual hampir
menguasai segalanya. Jika bukan karena ayah, kita pasti juga sudah pergi dari
tempat ini.”
Mereka adalah Vharlo dan Edhlein
Vamulran. Vharlo adalah High Elf yang memiliki kecerdasan dalam pemberdayaan
agrikultur dan biologi, sedangkan Edhlein sangat cerdas dalam bidang sains.
“Ngomong-ngomong, kemanakah
perginya anakmu, Edhlein?”
“Mereka…tidak saya bawa kemari.
Sama seperti kita semua, mereka seperti kehilangan sosok kakak yang baik
seperti Djinnardio, walaupun usia mereka tidak jauh berbeda.”
Balas Edhlein yang menjawab
pertanyaan Vharlo.
Mereka pun saling berbincang satu
sama lain sambil menunggu kedatangan ayah mereka yang berada dari balik ruang
tersebut.
“Tapi…apakah anda yakin…jika
Djinnardio berbuat seperti itu?”
“Vharlo, jika anda pikirkan
baik-baik, tentu saja ia berbuat seperti itu. Kita tahu betapa pahit hidupnya.
Tidak hanya kehilangan kedua orang tuanya saja yang terbunuh, ia bahkan—”
“*…bruk… (suara terjatuh dari
balik ruangan)”
“*…Chrang, chrang, chrang…(suara
cawan terjauh dari balik ruangan)”
““!!!””
Mereka pun terkejut ketika mendengar
suara dari balik ruangaan khusus ayahnya.
“*Kriiekk… (suara pintu terbuka)”
““Ayah!””
“…”
Ketika mereka membuka pintu itu,
terlihat ayah mereka telah terjatuh bersama dengan cawan yang berisikan anggur.
“Ah… Apakah anda…Hicc…Luscika…?”
“Ti…Tidak ayah. Ini anak anda,
Edhlein.”
“Ah! Bukankah…Hicc…kamu
masih kecil, nak?”
“A…Ayah…”
Mereka menyaksikan ayah mereka,
Raja Bivomüne, yang sedang mabuk. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa
melihat ayahnya tersebut.
“Ah…jika anda sudah sebesar
ini…harusnya saya sudah tua, ya?! Bwaaahahaha…Hic!”
“Vharlo, kita harus berbuat
apa?!”
“Sa…Satu hal yang terpikirkan
oleh saya hanya menyadarkannya dengan sihir!”
“Ce…Cepat lakukan!”
“Ba…Baiklah!”
Vharlo pun merapal sihir untuk
menyadarkan ayahnya.
“Poison Release…”
Namun…
“Hraaagh! Anda pikir anda bisa bermain
sihir dengan saya?! Tentu saja tidak! Bwahahaha!”
…Bivomüne sangat kebal dengan
sihir, sehingga sihir dari Vharlo tidak berdampak sama sekali.
Begitu kesal dengan perilaku
ayahnya, Vharlo pun berusaha memaki ayahnya.
“Ayah! Sadarlah! Anda seorang
raja! Tidak pantas anda bermabuk seperti i—”
“*Puk… (suara pelukan)”
“E…Edhlein…?”
Vharlo pun menyaksikan tindakan
Edhlein yang memeluk ayahnya ketika ia sedang marah.
“A…Ayah. Ini Edhlein. Tolong
sadarlah, ayah. Tidak hanya ayah saja, kami pun juga kehilangan Djinnardio,
Kakak Luscika, serta Brent, ayah.”
“…”
“Tolong sadarlah, ayah. Tidak
hanya kami saja, rakyat anda pun masih membutuhkan anda, ayah!”
Kata Edhlein dengan air mata yang
menggelinang di pundak ayahnya.
“Ma…Ma…Maafkan ayah, nak. Ayah
tidak kuat…menahan kepahitan di hati ayah! Ingin saja ayah melupakan
segalanya!”
Teriak Bivomüne dengan air mata
yang mengalir deras di pipinya.
Melihat kesedihan mendalam
dibalik mabuknya, Vharlo merasa bersalah dan bersujud di hadapan ayahnya.
“A…Ayah…maafkan saya…a—”
“Anak pertama saya mati terbunuh.
Cucu saya bunuh diri. Sedangkan anak kedua saya hatinya semakin dikuasai
kegelapan.”
““…””
“Oh, wahai Dewa dan Dewi di atas
sana! Apa yang salah dengan saya?! Apakah hidup saya ini terkutuk?!”
“A…Ayah! Jangan berkata seperti
itu, ayah! Ingatlah, bahwa kami selalu ada untuk menemani ayah!”
Tegas Edhlein setelah mendengar
perkataan ayahnya.
“Edhlein…Vharlo…maafkan ayah!
Ayah kalian tidak sekuat yang kalian bayangkan! Lihatlah tindakan memalukan
ayah kalian ini!”
“*Puk… (suara pelukan)”
“Ka…Kami mengerti, ayah! Maka
dari itu, kami tidak menyalahkan ayah yang mabuk seperti ini!”
Tegas Vharlo yang ikut memeluk
ayahnya.
Saat mereka semua berusaha
menenangkan diri, ada seorang personil kerajaan yang hendak menemui Bivomüne.
Akan tetapi…
“Jangan datang terlebih dahulu.”
“Tu…Tuan Muda Theorlt? Maaf
sebelumnya, akan tetapi ini penting—”
“Raja anda sedang berduka. Tolong
beri ia ruang untuk sementara.”
“Sa…Saya paham atas berita duka
itu, akan tetapi—”
“Jika anda memiliki laporan
terkait, alangkah baiknya jika anda berikan kepada saya terlebih dahulu. Nanti
akan saya berikan kepada ayah.”
“Ba…Baiklah, Tuan Muda Theorlt.”
Personil kerajaan itu pun
memberikan laporannya kepada Theorlt, Anak Terbungsu dari Bivomüne, yang telah
berdiri di balik ruangan ayahnya sambil menyimak percakapan ayah dan
kakak-kakaknya.
Kembali ke dalam ruangan Bivomüne dengan suasana yang lebih tenang,
Raja Bivomüne pun menyampaikan sesuatu yang mengejutkan bagi mereka semua.
“A…Apakah anda yakin, ayah?!”
“Ya. Saya melihatnya dengan
jelas.”
“Bagaimana anda yakin dengan itu,
ayah?!”
“Saya melihat dengan jelas
tentang ramalan yang datang kepada saya lewat mimpi.”
Jelas Bivomüne terkait
ramalan yang ia saksikan.
“Jika seperti itu, mari kita
“Menghentikannya sama artinya
dengan menghancurkan kesatuan negara ini, Vharlo.”
“A…Anda ada benarnya juga, ayah.”
“Maka dari itu, anak-anakku. Ayah
tidak akan melarang kalian jika kalian hendak pergi dari kerajaan ini.”
““!!!””
Edhlein dan Vharlo pun terkejut
mendengar pernyataan ayahnya tersebut.
Tidak hanya mereka saja, bahkan
Theorlt yang mendengar dari balik pintu pun juga terkejut.
“A…Ayah! Kami tidak akan
meninggalkan ayah!”
“Benar! Kami akan menemani ayah,
bagaimanapun nasib kami!”
“Hmph…”
Bivomüne pun tersenyum melihat
respon kedua anaknya tersebut.
Namun, tiba-tiba ia merasakan
sesuatu yang begitu kuat.
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Judgment.”
“*Bruk… (suara terjatuh kursi)”
Bivomüne tiba-tiba terjatuh dari kursinya setelah
merasakan aura dan sihir tersebut, yang membuatnya merinding.
“A…Ayah?!”
Edhlein dan Vharlo pun terkejut
ketika Bivomüne terjatuh dari kursinya.
“Ta…Tadi itu apa? Mengapa saya
merasakan sesuatu yang begitu kuat?”
Pikir Bivomüne setelah ia merasakan kekuatan itu.
“Anak-Ku, Bivomüne.”
Tiba-tiba ada seseorang yang
memanggilnya dari dalam pikirannya.
“Ayah! Apakah anda baik-baik
saja?!”
“Edhlein… Vharlo… Mohon maaf jika
saya mengejutkan anda sekalian. Saya butuh waktu untuk menyendiri sejenak.”
““Baik, ayah.””
Edhlein dan Vharlo pun
meninggalkan ruangan ayahnya.
Setelah ia ditinggalkan
anak-anaknya di dalam ruangan pribadinya, Bivomüne pun masuk ke dalam
pikirannya.
“Salam hamba kepada Nature
Goddess of Birth, Gennisia.”
“Anak-Ku. Sepertinya kau terlihat
lebih tenang. Maafkan Aku atas kemalangan nasibmu, Anak—”
“Ti…Tidak. Justru hamba memohon
pengampunan atas tindakan bodoh hamba, Dewi Gennisia.”
“Tidak. Aku tidak menyalahkanmu,
anak-Ku. Aku tidak menyalahkan kepedihanmu. Justru, Aku bersyukur karena kau
masih memiliki anak-anak yang sayang kepadamu.”
Jelas Gennisia, salah satu Dewi
yang memimpin Geoterra. Ia memiliki tingkatan yang setara dengan Zegin, Dewi
yang menaungi Myllo.
Tanpa anak-anaknya sadari, selama
ini Bivomüne adalah salah satu Saint di dunia ini yang berada di Geoterra.
“Apakah Dewi Gennisia memanggil
hamba untuk menegur tindakan hamba?”
“Tidak, Anak-Ku. Aku memanggilmu
karena Aku juga merasakan aura besar yang kau rasakan.”
Jelas Gennisia kepada Bivomüne.
Mendengar Gennisia, Bivomüne pun
menjadi penasaran dengan apa yang ia rasakan.
“Sepertinya Dewi Gennisia
mengetahui aura tersebut.”
“Aku pernah merasakan aura dan
kekuatan tersebut. Anehnya, Aku tidak tahu hal itu.”
“Artinya…Dewi Gennisia lupa
dengan itu semua?”
“Ya. Sepertinya begitu. Bahkan
Aku yakin jika Dewa dan Dewi lainnya juga mengatakan hal yang sama.”
Jelas Gennisia.
“Anak-Ku Bivomüne, mungkin Aku
tidak bisa memastikannya. Namun, berjaga-jagalah. Sepertinya pemilik kekuatan
itu bisa membawa keselamatan bagi dunia ini, namun juga bisa menjadi malapetaka bagi dunia ini.”
“!!!”
Bivomüne terkejut mendengar
nasihat dari Gennisia.
Namun, tanpa banyak bertanya, ia
pun menuruti nasihat-Nya dan menundukkan kepala kepada-Nya.
“Baiklah, Dewi Gennisia. Hamba
akan berjaga-jaga selalu.”
“Ya, Anak-Ku.”
.....................
Keesokan harinya, ketika Bivomüne
menghadiri rapat dengan personil kerajaannya.
“…”
“Orb Call ini…Luvast?!”
Pikirnya setelah ia melihat
sebuah Orb Call yang berkedap-kedip.
“Mohon maaf sebelumnya, saya
mohon agar kiranya kalian semua meninggalkan ruangan ini.”
““Baik, Yang Mulia.””
Beberapa personil kerajaan pun
meninggalkan ruangan tersebut, kecuali Rivrith, anak dari Aranual yang menjabat
sebagai Tangan Kiri Raja, serta Vindyor, yang menjabat sebagai Tangan Kanan
Raja.
“Rivrith. Vindyor. Saya berkata
untuk meninggalkan ruangan ini.”
“Akan tetapi—”
“Termasuk kalian berdua.”
““Baik, Yang Mulia.””
Rivrith dan Vindyor pun
meninggalkan ruangan tersebut.
“Absolute Soundproof.”
Bivomüne merapal sihir agar
suaranya tidak terdengar hingga keluar.
Setelah mempersiapkan semuanya,
Bivomüne pun membuka Orb Call tersebut.
“Luvast! Mengapa kamu lama sekali
memberikan kabar kepada ka—”
“Kakek! Ada kabar penting yang
harus aku berikan kepada kakek!”
“Hm?”
“Djinn masih hidup!”
“Djinn?!
Maksudmu…Dji…Dji…Djinnardio…?”
“Benar, kakek!”
Mendengar berita dari Luvast,
Bivomüne pun tidak kuasa menahan tangis bahagianya setelah ia tahu bahwa cucu
kesayangannya masih hidup.
Luvast pun menjelasakan alasan ia
tidak memberikan laporan dalam waktu yang cukup lama, serta keadaan Djinn saat
ini.
“Oh… Ia berusaha memalsukan
kematiannya, ya…”
“Benar, kakek. Mungkin sangat
sedikit kemungkinan kakek untuk bertemu kembali dengannya, mengingat ia sangat
menjaga jarak dengan Vamulran Kingdom dan sekitarnya.”
“Kakek tidak masalah! Selama ia
dapat hidup dengan tenang, kakek pun tetap bahagia! Bwaahahaha!”
“Hihi! Akhirnya aku melihat
kakek tertawa kembali setelah sekian lama!”
“Ya! Selama kamu dan Djinnardio
dalam keadaan bahagia, kakek pun merasa cukup!”
Seru Bivomüne kepada Luvast.
Setelah ia berkomunikasi dengan
Luvast, tiba-tiba Bivomüne merasa suatu kejanggalan.
“Tunggu… Jangan-jangan
kekuatan itu… karena… Djinnardio?!”
Pikir Bivomüne mengingat kekuatan
tersebut.