Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 456-1. Chaotic Breakfast



Sehabis kita pergi dari Kumotochi, kita sama-sama sambut Hakuya yang ikut kita sebagai Striker Aquilla.


“Hakuya! Selamat datang di Aquilla Party! Semoga lo bisa wujudin cita-cita lo bareng kita!”


“Ya! Makasih untuk kesempatannya, Kapten!”


Bahkan dia langsung panggil Myllo sebagai Kapten-nya.


“Untung saja kita mendapatkan Striker baru, sesuai yang Myllo dan Djinn harapkan!”


Mungkin Myllo nggak mikirin soal peran anggota baru. Tapi emang yang kayak dibilang Luvast. Gue berharap ada


Striker baru di antara kita.


“Hihi! Pasti aku bisa godain kamu, Hakuya!”


“Et! Jangan lupa godakeun aing, Teh Gia!”


Dasar dua bocah aneh ini!


“Mungkin awalnya kita lawan! Tapi sekarang kita jadi kawan! Semoga aja kita tetap jadi kawan untuk seterusnya!”


“Machinno… juga berharap seperti itu.”


“M-Maafin gue untuk semuanya…”


Bener juga ya. Apalagi gue udah dua kali lawan orang ini.


Ya semoga aja sesuai yang Myllo bilang.


Semoga kita tetap jadi kawan untuk seterusnya.


……………


Masalahnya, baru aja 4 hari sehabis pergi dari Kumotochi, tiba-tiba ada masalah di antara kita.


Apalagi masalahnya karena hal sepele.


“Woy! Kok lo ambil lauk gue?!”


“Enak aja! Itu kan lauk gue!”


“Hah?! Kan gue cuma makan daging, Dalbert!”


“Lah! Gue juga, Hakuya!”


D-Dasar dua bocah rakus!


Perkara nggak mau makan sayur, mereka jadi rebutan daging—


“K-Kemanakah sayur yang seharusnya kumakan…?”


“*Caw, caw, caw…”


“Machinno…!”


“*Cut…”


“Apakah kamu memakan sayurku…?”


“Mahingo… wiwak wawang wawing… (Machinno… tidak makan daging…)”


B-Bahkan sayuran pun jadi rebutan—


“Tuh kan, Djinn! Kan tadi udah aku ingetin! Buat makanannya tambahin sedikit! Gara-gara kamu, jadi pada


rebutan deh!”


“Hah?! Salah gue?! Kan udah banyak banget makanan yang gue bikinin—”


“Et! Anying sia teh, Djinn! Ada makanan yang disembunyikeun di dapur!”


““HAH?!?! DISEMBUNYIIN DI DAPUR?!?!””


Ah… gue ketauan deh…


“Myllo! Djinn parah deh! Masa dia umpetin makanannya di dapur!”


“Dasar rakus nih Si Bego! Bisa-bisanya dia—”


“Siapa yang lo panggil bego, brengsek!”


“Siapa yang lo panggil brengsek, bego—”


“Haaaah…?! Padahal masih pagi…! Kenapa tiba-tiba… ada ribut kayak gini… hicc!”


““…””


Ngaca, woy! Baru aja pagi, lo sendiri juga udah mabok! Dasar Kapten nggak becus!


……………


Haaaah…! Karena masih pagi udah kacau kayak gini, akhirnya Luvast yang turun tangan untuk buat beberapa aturan untuk kita.


Yang pertama, semuanya makanan nggak boleh ada yang diumpetin.


Yang kedua, semua dapet porsinya masing-masing. Mau itu lauk atau sayur. Kalo mau nambah, masak sendiri.


Yang terakhir, kalo sampe bahan makanan diabisin untuk diri sendiri, nanti hadiah dari Quest dipotong 80% untuk


beli bahan makanan.


Kalo sampe ada yang langgar peraturan itu…


““HAH?!?! NGGAK BOLEH ADA DI ATAS SEAGLE?!?!””


“T-Terus di mana, dong—”


“Laut ini luas, bukan? Alangkah baiknya jika kalian berada di bawah permukaan Sailing Eagle selama 1 hari!


Apakah kalian mengerti?!”


““Y-Ya…””


Buset, deh…


Galak banget nih cewek…!


“Hehe! Yaudah deh! Ayo kita makan sama-sama!”


““Ya.””


Akhirnya kita sama-sama makan lebih tenang.


“Wuaaah! Enak juga nih Soto Betawi buatan lo, Djinn!”


Ya enak, lah! Kan gue pernah kerja selama…


Eh…?


“Mil, kok lo tau ini Soto Betawi?”


“Hah? Ah iya! Gue pernah makan ini bareng Aquilla-nya Kak Sylv! Hihihi!”


T-Ternyata… ada yang pernah bikin Soto Betawi juga?!?!


“…”


Tapi karena dia sebut soal Aquilla yang lama, gue jadi mau tanyain satu hal ke dia. Walaupun sebenernya


gue lebih penasaran sama siapa yang bikin Soto Betawi yang barusan dia bilang.


Mungkin apa yang Ayasaki bilang tuh…


“Seperti anakku yang mengenal Tarruc Taur. Seperti aku yang mengenal Melchi. Maka kenalilah Kapten-mu lebih


dalam. Beri tahu itu juga kepada rekan-rekanmu.”


…maksudnya di momen kayak gini kali ya?


Tapi gue nggak berani untuk nanyain pertanyaan ini—


“Hm?! Ada apa, Djinn?!”


Ah iya. Gue nggak bisa sembunyiin apa-apa ya dari Kapten gue sendiri.


“Mil, maaf kalo gue tanya ini ke lo.”


“Hm? Tanya apa?”


“Mungkin masih ada rahasia di antara kita tentang masa lalu kita. Tapi… jujur aja, kita nggak tau apa-apa


tentang lo. Karena lo cuma cerita tentang kakak lo aja.


Beda sama Gia yang kita tau masa kecilnya bareng Lorvah.


Beda sama Garry yang hidup di tengah-tengah Kaum Monster.


Beda juga sama Dalbert yang buat BBE.


Maksud gue… kita udah petualangan bareng sejauh ini. Tapi bahkan gue sebagai anggota pertama lo juga nggak tau apa-apa tentang masa lalu lo.”


““…””


Tuh kan, semuanya jadi tegang karena sama penasarannya kayak gue.


“Djinn. Menurut aku… keliatannya itu rahasia pribadi Myllo, deh.”


“…”


Nggak tau kenapa, tiba-tiba gue juga setuju sama apa yang dibilang Gia.


“Ya. Lo bener juga, Gia. Maaf kalo mungkin masa lalu lo berat untuk diceritain. Jadi lo nggak perlu—”


“Tenang aja. Gue udah siap ceritain tentang masa lalu gue ke kalian.”


““…””


Karena permintaan gue, kita pun sama-sama dengerin masa lalu dia.


Sampe akhirnya kita tau tujuan asli dia, sebagai orang yang disebut sebagai Petualang Nomor Satu di Dunia.