
Sekarang kita dikepung Kaum Jamur, ya?! Tambah lagi, kita harus lepasin Machinno dari Kaum Jamur yang ada di situ!
““…””
Kenapa Kaum Kamur itu saling liat-liatan?
“…”
“*Drapdrapdrap…”
“HYAAAAAHHH!!! MACHINNO TEH DIBAWA KABUR!!!”
Udah gue duga! Pasti semua Kaum Jamur itu mau bawa kabur Machinno!
Gue yakin banget mereka nggak cuma liat-liatan aja! Walaupun mereka nggak bersuara, pasti mereka komunikasi antara satu sama lain untuk bawa kabur dia!
“Ayo kita kejar Machi—”
“*Swush!”
“Eitss! Hehe! Lo kira lo bisa tabrak gue gitu aja?!”
Untung aja Myllo berhasil hindarin Jamur itu!
“Duh! Kita dihadang mereka! Sedangkan Jamur yang bawa Machinno tadi semakin jauh!”
“Artinya mereka semua emang udah ngincer Machinno!”
Cih! Keadaan yang nggak kita duga sama sekali!
Kenapa tiba-tiba Machinno dibawa lari sama Jamur itu?!
Emangnya ada apa sama Machinno?!
“Semuanya! Ayo kita serang mereka!”
“OK, Myllo—”
“Tunggu! Ada yang harus gue kasih tau ke kalian!”
““…””
Keliatannya Jamur-Jamur yang ada di depan kita nggak ada niatan untuk nyerang kita. Kalo gitu, gue bisa kasih
tau temen-temen gue tentang Jamur-Jamur ini!
“Kalian cuma bisa serang mereka pake senjata kalian! Kalo pake sihir, Mana kalian pasti diserap!”
“Kalo gitu, bisa nggak aku pake sihir pedang aku, Djinn?”
“Gue nggak tau, Gia. Mungkin aja bisa, tapi gue saranin jangan. Yang pasti, jangan sampe mereka nyentuh badan kalian!”
“Emangnya kenapa—”
“Liat jamur di badan gue! Gara-gara tadi gue ditabrak, jadinya ada jamur yang nambah di badan gue!”
Ya. Tadi gue ditabrak di pundak, makanya ada jamur baru di pundak gue.
Apalagi…
“…”
…gue bisa ngerasain, kalo Mana gue diserap lebih banyak karena jamur ini!
“Hehe! Kalian denger kan apa yang dibilang Djinn?! Kalo gitu…”
““…””
“…Gia! Dalbert! Ayo kita maju lawan mereka! Jangan sampe sentuh badan kalian!”
Hah?! Kok mereka aja yang—
“Djinn! Maafin gue kalo gue ngomong begini. Tapi keliatannya, lo nggak bisa apa-apa karena nggak ada senjata, bukan?”
“…”
“Makanya itu, serahin aja sama kita!”
Cih!
Gue nggak ngerasa kalo Myllo ngeremehin gue. Tapi yang dia bilang tuh ada benernya!
Karena kondisi yang gue rasain sekarang, gue cuma bisa jadi beban untuk temen-temen gue doang!
“Ayo Gia! Dalbert!”
““Ya!””
“…”
Akhirnya gue cuma di belakang doang bareng Garry.
Walaupun di belakang doang, Garry juga bantuin mereka pake sihirnya.
“Kalian teh tenang wae atuh, ya! Aing udah pasangkeun Roh yang selalu tuntun kalian, supaya nggak kecapean!”
“Hehe! Makasih banyak, Garry!”
“…”
Untuk pertama kalinya, gue iri sama Si Mesum satu ini!
“*Prang!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Mungkin Gia nggak langsung kalahin Jamur-Jamur itu, tapi serangan pedangnya bisa bikin Jamur-Jamur itu jatoh ke belakang.
“*Shrak, shrak, shrak…”
““*Bruk…””
Gue mungkin nggak bisa liat Dalbert yang lagi pake Artifact yang dia punya. Tapi gue yakin kalo dia potong kaki Jamur-Jamur itu untuk ngelumpuhin mereka.
“Hyaaat!”
“*Tuk, tuk, tuk…”
““*Bruk…””
Sedangkan Myllo bisa hajar Jamur lainnya sampe nggak bisa berdi…
“…”
Hm? Kenapa gue ngerasain ada yang beda dari Jamur-Jamur itu?
“…”
Mata mereka semua tiba-tiba—
“*Swush!”
Eh? Dia nyerang apaan, tuh?
“!!!”
Tunggu! Jangan-jangan…
“Dal! Mereka udah bisa liat lo! Hati-ha—”
“Gue juga tau! Artinya Obscure Cloak yang gue pake ini udah nggak mempan!”
Ternyata dia juga sadar.
Kalo gitu…
“Lo tembak matanya aja, Dal!”
“Iya, bawel! Gue juga mau ngelakuin itu!”
Dih! Si Brengsek ini sombong banget!
“*Dor, dor, dor…”
“*Twup, wup, wup…”
“!!!”
Hah?! Kenapa mata dari Jamur-Jamur itu masih baik-baik aja?!
“Woy! Lo beneran nembak, kan?!”
“Lo kira gue nggak bisa nembak?! Justru, tembakan gue juga nggak mempan! Liat tuh mata mereka yang baik-baik aja!”
Gue kira gue salah liat!
Ternyata semua tembakannya Dalbert sia-sia—
“*Prang…”
“Ih! Kenapa tiba-tiba badan mereka keras banget?!”
Hah?! Bahkan sekarang Gia nggak bisa hajar mundur Jamur-Jamur itu?!
“…”
Tunggu! Kaki dari Jamur-Jamur itu… ternyata berakar ke tanah!
“Hraaaa—”
“*Bruk!”
“Urgh…”
“GIA!!!”
Aduh! Dia ditabrak sama salah satu Jamur!
“Kyaaaa!”
“Woy, Gia! Lo nggak apa-a—”
“Aku takut badan aku penuh jamur!”
“Bukan waktunya khawatirin itu! Justru—”
“Hehe! OK, Gia! Biar gue yang tanganin semuanya!”
“!!!”
T-Ternyata gue terlalu fokus sama Gia-Dalbert, sampe lupa sama Myllo yang udah kalahin 10 Jamur itu!
{Kazedoryū: Haku}
“*TUK!”
“Hah?! Kok sekarang nggak mempan?!”
Bahkan teknik tongkat yang jauh dia banggain daripada kekuatan Zegin itu, juga nggak mempan?!
“…”
OK! Kalo gitu, gue tau harus ngapain!
“Dal! Ubah gelang lo jadi senapan jitu!”
“Hah?! Emangnya kena—”
“Buruan! Gue punya rencana!”
“Yaudah!”
“…”
Dalbert langsung buat senapan jitu.
“Terus, gue harus ngapa—”
((Rune Spell: Fire Injection))
“Woy! Lo apain senjata gu—”
“Senjata lo gue pasangin Runecraft yang gue punya! Harusnya tembakan lo berubah jadi api!”
“Terus?!”
“Liat akar-akar di kaki Jamur-Jamur itu! Tembakin akar-akar itu!”
“Yaudah! Biar gue coba dulu!”
“*Vwumm!”
Karena Runecraft gue, peluru Dalbert berubah jadi api.
Bagus! Jamur itu langsung—
“*Bruk…”
“Djinn!”
Cih! Bahkan gue nggak nyerang secara langsung pun, Mana gue langsung dikuras abis ya sama jamur-jamur di badan gue ini!
“Djinn?! Kamu nggak apa-a—”
“Gia! Kalo masih bisa bergerak, sekarang waktunya untuk hajar Jamur-Jamur itu!”
“O-OK, Djinn!”
“…”
Gia langsung maju untuk hajar Jamur yang akar di kakinya baru aja dibakarDalbert.
“Hraaaagh!”
“*Prang!”
“*Bruk…”
Bagus! Jamur itu udah jatoh!
“Mil! Hajar Jamur yang barusan dijatohin Gia!”
“Hyaaattt!”
“*Tuk!”
“…”
Yes! Ternyata rencana gue berhasil!
“Dal! Lakuin kayak ta—”
“Woy! Lo bercanda ya?!”
“Hah?! Maksud lo a—”
“Kalo gue pake senapan jitu yang dipasang Runecraft lo ini, lo bisa kenapa-kenapa, kan?!”
Cih! Gue sebenernya juga tau kalo gue bakal kenapa-kenapa! Tapi gue coba sebisa mungkin untuk bodo amat sama kondisi gue sekarang!
“Pake aja.”
“Hah?! Emangnya lo—”
“Jangan khawatirin gue! Mending pake aja! Sekarang!”
“Cih! Jangan salahin gue kalo lo kenapa-kenapa, ya!”
Semoga aja gue nggak kenapa-kenapa waktu dia pake Runecraft gue!
“*Vwumm!”
“*Prang!”
“*Tuk!”
Pertahanin pola kalian—
“…”
Cih! Gue… bawaannya udah mau pingsan…!
“…”
Bagus…! Sisa satu lagi Jamur yang harus dikalahin…!
{Kazedoryū…
“*TUK!!!”
…Hansha}
“…”
Huh! Untung aja udah selesai!
“Hehe! Ternyata lama juga ya kita lawan Kaum Jamur yang ada di sini!”
“Oh iya, Myllo! Kita berlima masih harus nyusul Machinno!”
“OH IYA!!! Ayo kita—”
“Tunggu dulu, Myllo!”
“Hah?! Ada apa Dal—HAAAAAAAAAAH?!?! KENAPA JAMUR DI BADANNYA DJINN MAKIN GEDE?!?!”
J-Jamur di badan gue… makin gede…?!
“!!!”
Sialan! Pantesan aja gue ngerasa badan gue berat banget! Ternyata karena—
“Et! Ke mana atuh perginya Kaum Jamur yang kita kalahkeun?!”
““!!!””
Eh iya! Kok tiba-tiba hilang—
“Krrrttk…”
Loh! Kok Jamur Raksasa yang ada di belakang kita tiba-tiba bergerak?!
““*PWUH!!!””
Hm?! Keliatannya kayak nembakin sesuatu ke atas langit—
““*Bruk, bruk, bruk…””
““!!!””
Woy…! Bercanda kali, ya…?!
“K-Kenapa tiba-tiba ada…”
“Kaum Jamur yang dateng dari atas langit?!”
“Artinya semua Jamur Raksasa yang ada di sini tuh…”
“Induk dari Kaum Jamur, dong?!”
Cih! Nggak masuk akal!
““…””
Tambah lagi, jumlah mereka sekarang jauh lebih banyak daripada yang kita lawan tadi!
Bahkan sekarang kondisi kita…
“Huff, huff, huff…”
…Garry tiba-tiba kecapean!
““Huff, huff, huff…””
Bahkan Gia sama Dalbert juga kecapean, walaupun sebelumnya dipasang Roh yang Garry panggil!
“Semuanya! Denger gue baik-baik!”
““…””
“Kalian jagain Djinn aja! Biar gue yang lawan semua Kaum Jamur itu sendiri—”
“Kamu gila, ya?!”
“Emangnya lo sanggup lawan mereka semu—”
“Hehe! Percaya aja sama Kapten kalian ini!”
Cih! Kalo gue bisa ngelakuin sesuatu, gue mungkin bisa bantu dia! Makanya itu gue nggak ikut-ikutan Gia atau Dalbert yang ngomel karena Si Dongo yang nekat itu!
“Woy, Kaum Jamur! Mungkin kalian nggak bisa ngomong! Tapi kalo kalian bisa denger, gue mau kasih tau sesuatu ke kalian!”
““…””
“Nama gue Myllo Olfret! Orang yang bakalan jadi Petualang Nomor Satu di Dunia! Mau sebanyak apapun jumlah kalian, pasti nggak akan cukup untuk hadang jalan gue!”
““…””
Mereka udah mulai maju untuk nyerang Myllo. Mungkin ngerasa diledek Myllo, ya?
“Hehe! Maju kalian semu—”
“Hentikan!”
““!!!””
Siapa tuh yang teriak?!
“Saudari-saudariku sekalian! Mereka tidak berbahaya! Mereka semua tidak lain merupakan teman dari pria ini!”
““!!!””
Hah?! Machinno?!
“*Puink, puink, puink…”
“M-Machinno?! Kamu dari mana aja?!”
“Machinno… dipeluk dia.”
““…””
D-Dipeluk…?
“Et, sianying!”
“*Cut…”
“Kenapa sia curi start aing, Machinno?!”
“Wahingo… widaw wawu. (Machinno… tidak tahu.)”
“Ih, Garry! Jangan cubit-cubit Machinno!”
Kalo urusan perempuan, dia bahkan ngiri sama mahluk imut i—
“Eh, semua! Perhatiin Kaum Jamur itu!”
““!!!””
Hah?! Kok tiba-tiba… ada cewek-cewek yang keluar dari tiap Jamur-Jamur itu?!
“Wahai teman-teman dari pria yang bernama Machinno ini!”
““…””
“Perkenalkan. Saya adalah Ivis. Saya adalah pemimpin dari para Dryad yang ada di Hazhroom Forest.”
““!!!””
Eh?! Kenapa mereka keliatannya kaget banget?!
“Mungkin kita baru saja bertarung. Tapi, alangkah baiknya jika kalian ikut bersama dengan kami menuju rumah kami, supaya kami bisa menunjukkan kepada kalian bahwa kami tidak berbahaya. Sebagai gantinya, kalian bisa menunjukkan kepada kami, bahwa kalian tidak berbahaya. Lagipula, pria itu sepertinya membutuhkan pertolongan.”
M-Maksudnya… gue?
“Ahahaha! Yaudah lah! Ayo kita ikut mereka!”
““Ya!””
Akhirnya kita berlima ngikutin Machinno yang ada di samping cewek yang namanya Ivis itu—
“Eh?!”
Hm?
“Ada apa, Gia?”
“Badan aku kok… nggak berjamur, ya?! Bukannya tadi aku kena serang, ya?!”
Loh! Bener juga!
Kenapa dia masih baik-baik aja?!