
Kembali ke Calmisiu Village,
sebelum Myllo memimpin rekan-rekannya untuk mengalahkan Kaum Naga, Flippus
masih dihadapkan dengan Iqherd, Pittero, dan prajurit yang menjadi bagian dari
House of Siegfried.
“Jika anda mengetahui itu,
lantas, mengapa ada orang sebanyak ini untuk membawa saya?!”
Tanya Flippus kepada Iqherd.
Mendengar pertanyaannya, Pittero
pun berbisik kepada Iqherd.
“Alangkah baiknya jika kita—”
“Jangan bertindak gegabah.”
Balas Iqherd kepada Pittero.
“…”
Flippus memperhatikan Iqherd,
Pittero, dan beberapa prajurit di belakang mereka berdua yang saling
berbisik-bisik. Selain mereka, Flippus juga melihat ada seseorang yang memegang
suatu bola kristal.
“Apa yang mereka bicarakan?
Tambah lagi, siapa pria itu? Mengapa ia menggennggam sebuah bola kristal?
Apakah itu Orb Call?”
Pikir Flippus yang semakin tidak
kuasa untuk menjaga ketenangannya.
“Mohon maaf sebelumnya, Kepala
Desa Flippus. Serangan Kaum Naga sangat berbahaya. Bahkan 1 unit pasukan pun
tidak akan bisa menghentikan serangan Kaum Naga. Maka dari itu, kami datang
dengan pasukan sebanyak ini hanya untuk anda.”
Jelas Iqherd kepada Flippus,
dengan niat untuk membuat sungkan.
Sedangkan dari balik salah satu
rumah, di mana terdapat anak-anak dari Bismont yang masih bersembunyi.
“Hurgh…hurgh…”
“Ssshhh! Jangan jadi pengecut, deh!”
Tegas Porto, seorang Beastman,
kepada Herulk, yang gemetar ketakutan.
Tidak hanya Herulk saja yang
takut akan para prajurit House of Siegfried.
“Gue…kangen mama sama papa.”
Bisik Lyra sambil menangis karena
rindu akan orang tuanya.
“Kakak…Baweo takut…”
“Bawio juga…”
“Bawuo juga…”
“Baweo ju—”
“Ssshh… Iya, kakak juga tau.”
Bisik Krunka, seorang Hobgoblin,
kepada anak-anak Gia.
Sedangkan Charzielle…
“Char, kamu kenapa?”
“Nggak, kak. Charzielle nggak kenapa-kenapa.”
…hanya tertunduk lemas karena
tidak tahu harus berbuat apa.
Sambil bersembunyi, Porto dan
Krunka memperhatikan keadaan Flippus dari dalam rumah yang menjadi
persembunyian mereka.
Hingga pada akhirnya, mereka
berdua melihat situasi yang memurkakakn mereka berdua.
“*Bhuk! (suara pukulan dari luar rumah)”
“Me…Mengapa anda memukul—”
“*Shruk! (suara tusukan pedang dari luar rumah)”
““!!!””
Mereka berdua menyaksikan Kepala
Desa Flippus yang ditusuk oleh Iqherd.
“Brengsek—”
“Krunka! Lo mau ngapain?!”
Bisik Porto sambil menahan Krunka
yang tidak bisa menahan amarahnya.
“Jangan gegabah! Seenggaknya dia nggak boleh tau kalo kita sembunyi di
sini!”
“Sialan! Lo nggak liat Pak Flippus yang—”
“Jaga emosi lo! Emangnya papa pernah ngajarin lo murka kayak begitu?!”
Tegas Porto sambil berusaha untuk
menahan Krunka.
Namun tanpa mereka berdua sadari…
“*Swush! (suara terbang cepat)”
“*Chrang! (suara kaca pecah)”
…Lyra menerobos kaca rumah
persembunyian mereka untuk menyerang Iqherd.
“Lyra! Lo mau kema—”
“Porto! Liat itu!”
“!!!”
Porto terkejut ketika ia melihat
Kepala Desa Flippus yang masih terlihat baik-baik saja.
“Kok bi—”
“Sihir Ilusi! Kita ditipu sama
Sihir Ilusi!”
Seru Krunka dengan kesal.
Sedangkan di belakang Iqherd dan
Pittero.
“…”
“Bagus! Akhirnya keberadaan
mereka diketahui!”
“Kerja bagus, Spellcaster.”
“…”
Spellcaster itu hanya mengangguk
saja sambil memegang bola kristal.
“Tangkap mereka!”
““Baik!””
Seru para prajurit atas perintah
Iqherd.
“Kalian semua! Cepat lari dari
desa ini!”
Seru Flippus kepada anak-anak
Bismont dan Gia.
Saat para prajurit itu mengejar
mereka semua…
“*Bhuk… (suara pukulan)”
“Urgh…”
“*Bruk… (suara tergeletak)”
…Pittero memukul Flippus, hingga
ia jatuh dan hampir tidak sadarkan diri.
“Hey, Pak Tua.”
“A…Anda…keterlaluan! Mengapa
anda…mengkhianati…tuan anda sendiri?!”
Tanya Flippus dengan lemas.
“Karena…saya membenci mereka!”
“Me…Membenci—”
“Duke Bismont Louisson. Salah
satu bangsawan terkuat di Erviga Kingdom. Mungkin pada mulanya saya bangga
menjadi bagian darinya. Namun, tidak saya sangka bahwa orang sekuat dirinya
terlihat begitu lembut karena peliharaan yang ia bawa!”
Jelas Pittero dengan ekspresi
kesalnya.
Mendengar penjelasannya, Flippus
justru…
“Haha…”
“Mm?!”
…tertawa.
“Hey, Pak Tua! Anda pikir ada
jenaka di si—”
“Lu…Lucu sekali…”
“Lucu?! Apa maksud anda?!”
“Anda…terlihat iri…dengan
mereka…karena mereka yang anda remehkan itu…adalah anak-anak kesayangan dari
orang yang anda…bangga—”
“*Shruk… (suara tertusuk pedang)”
“Cih! Berani-beraninya anda
bermain dengan pikiran saya, Pak Tua!”
Tegas Pittero setelah menusuk
Flippus dengan pedangnya.
Sedangkan anak-anak Bismont dan
Gia ketika dikejar oleh pasukan Siegfried.
“Feather Shot!”
“*Syut! (suara tembakan bulu)”
““Argh…””
Lyra menembak beberapa prajurit
dengan bulu miliknya.
“Huraggh!”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Akh!”
Krunka menyerang seorang prajurit
dengan pedangnya.
“*Chrak! Chrak! (suara banyak
cakaran)”
““Uwogh…””
Porto menyerang beberapa prajurit
dengan cakar kucingnya.
Sementara Herulk, Charzielle, dan
anak-anak Gia…
“Herulk! Cepet lari dari sini! Lo
harus jagain mereka!”
“I…Iya, bang.”
…melarikan diri dari prajurit
Siegfried bersama Charzielle dan anak-anak Gia, sembari anak-anak Bismont
lainnya menahan kejaran para prajurit itu.
Dari jarak yang agak jauh, Iqherd
memperhatikan semua orang yang harus ia tangkap.
“1 Harpy, 1 Hobgoblin, 1 Beastman, 1 Troll, dan 1 Dragonewt. Lalu,
siapakah 4 anak kecil itu?”
Pikir Iqherd.
Setelah memperhatikan mereka
semua, Iqherd pun hendak menyerang mereka semua.
“Noir Knives.”
Dengan sihirnya, Iqherd
menciptakan beberapa pisau berwarna hitam yang melayang di udara.
Lalu ia menembakkan pisau-pisau
itu ke arah anak-anak Bismont yang menyerang prajurit Siegfried.
““*Cyut! (suara banyak lemparan
pisau)””
““*Chruk! (suara tertancap banyak
pisau)””
““Aaargh!””
Dengan serangan pisaunya, 3 anak
pertama dari Bismont pun dikalahakan.
Karena tertusuk banyak pisau,
mereka pun hendak mencabut pisau itu…
“Pi…Pisau ini kok nggak ma—”
“Blooming Toxic.”
“*Pwushhh… (suara asap racun)”
““Aaaakkh!””
…maka pisau-pisau itu
mengeluarkan asap beracun yang mengalir di dalam tubuh mereka.
Sementara Herulk, Charzielle, dan
anak-anak Gia berlari, Iqherd tiba-tiba melempar tubuh anak-anak Bismont itu ke
depan mereka.
““*Bruk… (suara banyak tubuh tergeletak)””
“Ka…Kakak Lyra…?”
“Bang Porto… Bang Krunka…”
“Jangan ada yang bergerak, atau
kalian akan menghadapi hal yang sama.”
Kata Iqherd sambil berjalan ke
arah mereka.
“Hurgh…”
Herulk begitu ketakutan atas apa
yang terjadi dengan kakak-kakaknya.
Namun, Charzielle justru
merasakan hal yang berbeda.
“Hruaaaaagh!”
Dengan amarah yang meluap,
Charzielle hendak menyerang Iqherd.
“De…Dek Charzielle! Ja—”
“*Krrtt… (suara tercekik)”
“Akhh…”
Iqherd dengan mudahnya mencekik
Dari belakang dirinya, terdapat
Pittero yang datang menghampirinya bersama dengan beberapa prajurit Siegfried.
“Iqherd, bagaimana dengan mereka
semua?”
“Semua sudah tertangkap. Kita
hanya perlu mengambil Jiwa mereka
untuk beliau.”
Jelas Iqherd kepada Pittero.
Karena bicara mereka yang
lantang, Flippus yang sekarat mendengar perbincangan mereka pun kesal, sambil
ia berusaha mengejar mereka.
“Ke…Keterlaluan!”
““!!!””
Mereka semua terkejut melihat
Flippus yang masih sadarkan diri.
“A…Apa…maksud kalian—”
“Kalian semua, jaga orang itu!
Jangan sampai ia mendekat!”
““Baik!””
Seru semua prajurit sambil
mengarahkan senjata mereka kepada Flippus.
“Baiklah, aku akan mulai
mengambil Jiwa Dragonewt kecil ini terlebih dahulu.”
Kata Iqherd, sambil mengeluarkan
Soul Devourer dari kantungnya.
Flippus serta anak-anak dari
Bismont maupun Gia mulai dilanda keputusasaan.
“Dek Charzielle!”
““Char…zielle…””
““Ka…Kakak!””
“Ja…Jangan…”
Teriak anak-anak Bismont lainnya,
anak-anak Gia, serta Flippus.
“Kak Styx…andai aku…ketemu kakak lagi…”
Pikir Charzielle dengan air mata
berlinang di pipinya.
Secara tidak terduga, harapan datang bagi mereka.
Dan harapan itu adalah keputusasaan
terbesar bagi semua personil House of Siegfried.
“*DHUMMMMMMMMM… (suara tekanan
aura sangat besar)”
““*Bruk… (suara banyak orang
tergeletak)””
““???””
Flippus dan anak-anak dari
Bismont maupun Gia begitu heran ketika hampir prajurit yang tiba-tiba
tergeletak tidak sadarkan diri.
Sementara Iqherd, Pittero, dan
beberapa prajurit lainnya berusaha keras untuk melawan rasa takut yang mereka
rasakan.
“A…A…Ada apa ini…?”
“Sa…Sa…Saya juga tidak—”
“*DHUMMMMMMMMM… (suara tekanan
aura sangat besar)”
““!!!””
Mereka kembali merasakan
ketakutan itu ketika mereka mencoba bangkit dari rasa itu.
““Keuk…””
“Si…Si…Siapa yang memiliki…aura…sebesar ini—”
Iqherd yang sedang berpikir
merasa ada sesuatu yang aneh pada pengelihatannya.
“A…Adakah yang salah dengan mata
saya?!”
“Me…Mengapa semua yang saya
lihat…menjadi…merah…?”
“A…Apakah mataku…berdarah…?”
Kata beberapa prajurit karena
merasa ada yang aneh dengan pengelihatan mereka semua.
“I…I…Iqherd. A…Apakah anda juga
merasakan hal yang sama dengan para pra—”
“I…Ini adalah…Union Domi dan Union Zona!”
Potong Iqherd karena mengetahui
apa yang sedang terjadi.
Sambil mereka semua merasa takut dan
bingung, tiba-tiba terlihat seseorang bertudung yang berjalan ke arah
mereka semua.
“A…Apakah orang itu…yang menghasilkan Union ini…?!”
Pikir Iqherd sambil memperhatikan
orang bertudung itu.
“Se…Semuanya…”
““…””
“Angkat senjata kita…dan serang
orang bertudung itu…!”
““Ba…Baik!””
Pikir Iqherd sambil memperhatikan orang
bertudung itu dengan gemetar ketakutan.
Sedangkan orang bertudung itu…
“Satu, dua… sepuluh, sebelas…
Hmm, ada 35 orang, ya?”
…hanya menghitung jumlah personil
House of Siegfried.
Ketika Iqherd dan personil
Siegfried lainnya hendak menyerangnya, orang bertudung itu hanya tersenyum.
“Soul Inferno.”
“*BOOM!!! (suara ledakan besar)”
Dengan sihirnya, orang bertudung
itu meledakkan seluruh personil
Siegfried secara instan dan tanpa tersisa sedikit pun.
“Ups! Hati-hati sama ledakannya!”
“*Vwumm… (suara gerakan api)”
Untuk mencegah terbakarnya
Calmissiu dari efek ledakan semua personil Siegfried, orang bertudung itu
menyerap efek ledakan mereka ke dalam tangannya.
“Ah, udah aman kan, ya?!
Ahahahaa!”
Seru orang bertudung itu, sambil
berjalan menghampiri Flippus.
Ketika ia melewati anak-anak
Bismont yang terluka, ia menyembuhkan mereka semua dengan sihirnya.
“Vigorous Spark…”
““…””
Dengan Sihir Api-nya yang masuk ke dalam tubuh
Lyra, Porto, dan Krunka, seketika racun yang berada di tubuh mereka hilang,
walaupun mereka masih belum sadarkan diri.
“Tenang aja, mereka nanti sembuh
kok.”
““…””
Kata orang bertudung itu kepada
Herulk dan anak-anak Gia.
Sementara Charzielle yang juga
belum tersadar…
“…”
“Jadi anak yang kuat, ya?”
…ia berbisik dan mengusap
kepalanya saja.
Ketika ia hendak menghampiri
Flippus, ia begitu terkejut ketika melihat wajah dari orang bertudung itu.
“A…A…Anda…”
“Hm?”
“Sylvia Starfell!”
“Ssshhh! Jangan kenceng-kenceng! Saya lagi palsuin kematian saya, pak!”
Bisik Sylvia kepada Flippus,
sambil menyembuhkannya.
“Pak, saya minta tolong ya pak. Tolong rahasiain keberadaan saya di sini.”
“Ba…Baiklah…hiks!”
Tangis Flippus karena ada sosok
legendaris yang menyelamatkannya.
Namun, Flippus masih heran dengan
kedatangannya.
“Ma…Maaf jika saya bertanya,
Pahlawan.”
“Mm?”
“Mengapa anda tiba-tiba datang ke
Calmisiu?”
“Untuk itu…”
Sylvia pun menceritakan awal mula
kedatangan dirinya.
……………
“*FWUSH!!! (suara terbang dengan
sangat cepat)”
Saat itu Sylvia sedang terbang
menuju Calmisiu.
Namun, Arkhataz, dewa yang berada
di dalam dirinya, mendapat panggilan.
“Heh, Kadal! Ngapain Lo ke
sini?!”
“Zegin, kah? Sudah kuduga
bahwa kau berada di Erviga.”
Balas Arkhataz kepada panggilan
dari Zegin.
“Kalo Lo mau ke sini, gue
butuh bantuin dari Saint Lo!”
“Bantuan?”
Zegin pun menjelaskan kondisi
Bismont, Calmisiu, serta kejadian aneh yang terjadi di Erviga.
“Ada yang mengontrol semua
anak-Ku, kah?”
“Ya. Urusan itu, biar Saint
Gue yang urus.”
“Baiklah. Aku percayakan
urusan negara itu di tangan-Mu, sedangkan permintaan-Mu biarlah kami berdua
yang urus.”
Balas Arkhataz, sebelum Zegin
meninggalkan panggilan.
“Sylvia, sepertinya Kau
mendapatkan permohonan bantuan.”
“Mm?”
Arkhataz pun menjelaskan apa yang
dijelaskan Zegin kepada Saint-nya.
“OK kalo begitu, Dewa. Tapi
sebelum itu…”
“Mm?”
“Tolong izinin saya ketemu
sahabat saya, Phonso. Bisa kan, Dewa?”
“Baiklah, Saint-Ku.”
Balas Arkhataz dari dalam pikiran
Sylvia.
……………
“Ja…Jadi seperti itu, kah?”
Tanya Flippus kepada Sylvia.
“Iya, pak. Andai saya dateng
lebih cepet, mungkin—”
“**…boom…* (suara ledakan dari jauh)”
“!!!”
Flippus dikejutkan dengan adanya
suara ledakan yang terdengar sangat jauh.
Namun, berbeda dengan Sylvia yang
terlihat biasa saja.
“Pa…Pahla—”
“Panggil aja Sylvia, pak.”
“Ba…Baiklah, Sylvia. Apakah anda
akan menghampiri arah suara ledakan itu…?”
Tanya Flippus yang penasaran
dengan kedatangan Sylvia.
“Nggak kok, pak. Saya ke sini
karena ada yang minta tolong aja tadi. Urusan suara ledakan itu sih…ada yang
tanganin kok, pak. Tenang aja! Hihi!”
Balas Sylvia yang ditutup dengan
senyum ramahnya.
“Myllo, semoga kamu sukses di ‘panggung
pertama’ kamu!”
Pikir Sylvia tentang Myllo.