Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 144. Your First Stage



Kembali ke Calmisiu Village,


sebelum Myllo memimpin rekan-rekannya untuk mengalahkan Kaum Naga, Flippus


masih dihadapkan dengan Iqherd, Pittero, dan prajurit yang menjadi bagian dari


House of Siegfried.


“Jika anda mengetahui itu,


lantas, mengapa ada orang sebanyak ini untuk membawa saya?!”


Tanya Flippus kepada Iqherd.


Mendengar pertanyaannya, Pittero


pun berbisik kepada Iqherd.


“Alangkah baiknya jika kita—”


“Jangan bertindak gegabah.”


Balas Iqherd kepada Pittero.


“…”


Flippus memperhatikan Iqherd,


Pittero, dan beberapa prajurit di belakang mereka berdua yang saling


berbisik-bisik. Selain mereka, Flippus juga melihat ada seseorang yang memegang


suatu bola kristal.


“Apa yang mereka bicarakan?


Tambah lagi, siapa pria itu? Mengapa ia menggennggam sebuah bola kristal?


Apakah itu Orb Call?”


Pikir Flippus yang semakin tidak


kuasa untuk menjaga ketenangannya.


“Mohon maaf sebelumnya, Kepala


Desa Flippus. Serangan Kaum Naga sangat berbahaya. Bahkan 1 unit pasukan pun


tidak akan bisa menghentikan serangan Kaum Naga. Maka dari itu, kami datang


dengan pasukan sebanyak ini hanya untuk anda.”


Jelas Iqherd kepada Flippus,


dengan niat untuk membuat sungkan.


Sedangkan dari balik salah satu


rumah, di mana terdapat anak-anak dari Bismont yang masih bersembunyi.


“Hurgh…hurgh…”


“Ssshhh! Jangan jadi pengecut, deh!”


Tegas Porto, seorang Beastman,


kepada Herulk, yang gemetar ketakutan.


Tidak hanya Herulk saja yang


takut akan para prajurit House of Siegfried.


“Gue…kangen mama sama papa.”


Bisik Lyra sambil menangis karena


rindu akan orang tuanya.


“Kakak…Baweo takut…”


“Bawio juga…”


“Bawuo juga…”


“Baweo ju—”


“Ssshh… Iya, kakak juga tau.”


Bisik Krunka, seorang Hobgoblin,


kepada anak-anak Gia.


Sedangkan Charzielle…


“Char, kamu kenapa?”


“Nggak, kak. Charzielle nggak kenapa-kenapa.”


…hanya tertunduk lemas karena


tidak tahu harus berbuat apa.


Sambil bersembunyi, Porto dan


Krunka memperhatikan keadaan Flippus dari dalam rumah yang menjadi


persembunyian mereka.


Hingga pada akhirnya, mereka


berdua melihat situasi yang memurkakakn mereka berdua.


“*Bhuk! (suara pukulan dari luar rumah)”


“Me…Mengapa anda memukul—”


“*Shruk! (suara tusukan pedang dari luar rumah)”


““!!!””


Mereka berdua menyaksikan Kepala


Desa Flippus yang ditusuk oleh Iqherd.


“Brengsek—”


“Krunka! Lo mau ngapain?!”


Bisik Porto sambil menahan Krunka


yang tidak bisa menahan amarahnya.


“Jangan gegabah! Seenggaknya dia nggak boleh tau kalo kita sembunyi di


sini!”


“Sialan! Lo nggak liat Pak Flippus yang—”


“Jaga emosi lo! Emangnya papa pernah ngajarin lo murka kayak begitu?!”


Tegas Porto sambil berusaha untuk


menahan Krunka.


Namun tanpa mereka berdua sadari…


“*Swush! (suara terbang cepat)”


“*Chrang! (suara kaca pecah)”


…Lyra menerobos kaca rumah


persembunyian mereka untuk menyerang Iqherd.


“Lyra! Lo mau kema—”


“Porto! Liat itu!”


“!!!”


Porto terkejut ketika ia melihat


Kepala Desa Flippus yang masih terlihat baik-baik saja.


“Kok bi—”


“Sihir Ilusi! Kita ditipu sama


Sihir Ilusi!”


Seru Krunka dengan kesal.


Sedangkan di belakang Iqherd dan


Pittero.


“…”


“Bagus! Akhirnya keberadaan


mereka diketahui!”


“Kerja bagus, Spellcaster.”


“…”


Spellcaster itu hanya mengangguk


saja sambil memegang bola kristal.


“Tangkap mereka!”


““Baik!””


Seru para prajurit atas perintah


Iqherd.


“Kalian semua! Cepat lari dari


desa ini!”


Seru Flippus kepada anak-anak


Bismont dan Gia.


Saat para prajurit itu mengejar


mereka semua…


“*Bhuk… (suara pukulan)”


“Urgh…”


“*Bruk… (suara tergeletak)”


…Pittero memukul Flippus, hingga


ia jatuh dan hampir tidak sadarkan diri.


“Hey, Pak Tua.”


“A…Anda…keterlaluan! Mengapa


anda…mengkhianati…tuan anda sendiri?!”


Tanya Flippus dengan lemas.


“Karena…saya membenci mereka!”


“Me…Membenci—”


“Duke Bismont Louisson. Salah


satu bangsawan terkuat di Erviga Kingdom. Mungkin pada mulanya saya bangga


menjadi bagian darinya. Namun, tidak saya sangka bahwa orang sekuat dirinya


terlihat begitu lembut karena peliharaan yang ia bawa!”


Jelas Pittero dengan ekspresi


kesalnya.


Mendengar penjelasannya, Flippus


justru…


“Haha…”


“Mm?!”


…tertawa.


“Hey, Pak Tua! Anda pikir ada


jenaka di si—”


“Lu…Lucu sekali…”


“Lucu?! Apa maksud anda?!”


“Anda…terlihat iri…dengan


mereka…karena mereka yang anda remehkan itu…adalah anak-anak kesayangan dari


orang yang anda…bangga—”


“*Shruk… (suara tertusuk pedang)”


“Cih! Berani-beraninya anda


bermain dengan pikiran saya, Pak Tua!”


Tegas Pittero setelah menusuk


Flippus dengan pedangnya.


Sedangkan anak-anak Bismont dan


Gia ketika dikejar oleh pasukan Siegfried.


“Feather Shot!”


“*Syut! (suara tembakan bulu)”


““Argh…””


Lyra menembak beberapa prajurit


dengan bulu miliknya.


“Huraggh!”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Akh!”


Krunka menyerang seorang prajurit


dengan pedangnya.


“*Chrak! Chrak! (suara banyak


cakaran)”


““Uwogh…””


Porto menyerang beberapa prajurit


dengan cakar kucingnya.


Sementara Herulk, Charzielle, dan


anak-anak Gia…


“Herulk! Cepet lari dari sini! Lo


harus jagain mereka!”


“I…Iya, bang.”


…melarikan diri dari prajurit


Siegfried bersama Charzielle dan anak-anak Gia, sembari anak-anak Bismont


lainnya menahan kejaran para prajurit itu.


Dari jarak yang agak jauh, Iqherd


memperhatikan semua orang yang harus ia tangkap.


“1 Harpy, 1 Hobgoblin, 1 Beastman, 1 Troll, dan 1 Dragonewt. Lalu,


siapakah 4 anak kecil itu?”


Pikir Iqherd.


Setelah memperhatikan mereka


semua, Iqherd pun hendak menyerang mereka semua.


“Noir Knives.”


Dengan sihirnya, Iqherd


menciptakan beberapa pisau berwarna hitam yang melayang di udara.


Lalu ia menembakkan pisau-pisau


itu ke arah anak-anak Bismont yang menyerang prajurit Siegfried.


““*Cyut! (suara banyak lemparan


pisau)””


““*Chruk! (suara tertancap banyak


pisau)””


““Aaargh!””


Dengan serangan pisaunya, 3 anak


pertama dari Bismont pun dikalahakan.


Karena tertusuk banyak pisau,


mereka pun hendak mencabut pisau itu…


“Pi…Pisau ini kok nggak ma—”


“Blooming Toxic.”


“*Pwushhh… (suara asap racun)”


““Aaaakkh!””


…maka pisau-pisau itu


mengeluarkan asap beracun yang mengalir di dalam tubuh mereka.


Sementara Herulk, Charzielle, dan


anak-anak Gia berlari, Iqherd tiba-tiba melempar tubuh anak-anak Bismont itu ke


depan mereka.


““*Bruk… (suara banyak tubuh tergeletak)””


“Ka…Kakak Lyra…?”


“Bang Porto… Bang Krunka…”


“Jangan ada yang bergerak, atau


kalian akan menghadapi hal yang sama.”


Kata Iqherd sambil berjalan ke


arah mereka.


“Hurgh…”


Herulk begitu ketakutan atas apa


yang terjadi dengan kakak-kakaknya.


Namun, Charzielle justru


merasakan hal yang berbeda.


“Hruaaaaagh!”


Dengan amarah yang meluap,


Charzielle hendak menyerang Iqherd.


“De…Dek Charzielle! Ja—”


“*Krrtt… (suara tercekik)”


“Akhh…”


Iqherd dengan mudahnya mencekik


Dari belakang dirinya, terdapat


Pittero yang datang menghampirinya bersama dengan beberapa prajurit Siegfried.


“Iqherd, bagaimana dengan mereka


semua?”


“Semua sudah tertangkap. Kita


hanya perlu mengambil Jiwa mereka


untuk beliau.”


Jelas Iqherd kepada Pittero.


Karena bicara mereka yang


lantang, Flippus yang sekarat mendengar perbincangan mereka pun kesal, sambil


ia berusaha mengejar mereka.


“Ke…Keterlaluan!”


““!!!””


Mereka semua terkejut melihat


Flippus yang masih sadarkan diri.


“A…Apa…maksud kalian—”


“Kalian semua, jaga orang itu!


Jangan sampai ia mendekat!”


““Baik!””


Seru semua prajurit sambil


mengarahkan senjata mereka kepada Flippus.


“Baiklah, aku akan mulai


mengambil Jiwa Dragonewt kecil ini terlebih dahulu.”


Kata Iqherd, sambil mengeluarkan


Soul Devourer dari kantungnya.


Flippus serta anak-anak dari


Bismont maupun Gia mulai dilanda keputusasaan.


“Dek Charzielle!”


““Char…zielle…””


““Ka…Kakak!””


“Ja…Jangan…”


Teriak anak-anak Bismont lainnya,


anak-anak Gia, serta Flippus.


“Kak Styx…andai aku…ketemu kakak lagi…”


Pikir Charzielle dengan air mata


berlinang di pipinya.


Secara tidak terduga, harapan datang bagi mereka.


Dan harapan itu adalah keputusasaan


terbesar bagi semua personil House of Siegfried.


“*DHUMMMMMMMMM… (suara tekanan


aura sangat besar)”


““*Bruk… (suara banyak orang


tergeletak)””


““???””


Flippus dan anak-anak dari


Bismont maupun Gia begitu heran ketika hampir prajurit yang tiba-tiba


tergeletak tidak sadarkan diri.


Sementara Iqherd, Pittero, dan


beberapa prajurit lainnya berusaha keras untuk melawan rasa takut yang mereka


rasakan.


“A…A…Ada apa ini…?”


“Sa…Sa…Saya juga tidak—”


“*DHUMMMMMMMMM… (suara tekanan


aura sangat besar)”


““!!!””


Mereka kembali merasakan


ketakutan itu ketika mereka mencoba bangkit dari rasa itu.


““Keuk…””


“Si…Si…Siapa yang memiliki…aura…sebesar ini—”


Iqherd yang sedang berpikir


merasa ada sesuatu yang aneh pada pengelihatannya.


“A…Adakah yang salah dengan mata


saya?!”


“Me…Mengapa semua yang saya


lihat…menjadi…merah…?”


“A…Apakah mataku…berdarah…?”


Kata beberapa prajurit karena


merasa ada yang aneh dengan pengelihatan mereka semua.


“I…I…Iqherd. A…Apakah anda juga


merasakan hal yang sama dengan para pra—”


“I…Ini adalah…Union Domi dan Union Zona!”


Potong Iqherd karena mengetahui


apa yang sedang terjadi.


Sambil mereka semua merasa takut dan


bingung, tiba-tiba terlihat seseorang bertudung yang berjalan ke arah


mereka semua.


“A…Apakah orang itu…yang menghasilkan Union ini…?!”


Pikir Iqherd sambil memperhatikan


orang bertudung itu.


“Se…Semuanya…”


““…””


“Angkat senjata kita…dan serang


orang bertudung itu…!”


““Ba…Baik!””


Pikir Iqherd sambil memperhatikan orang


bertudung itu dengan gemetar ketakutan.


Sedangkan orang bertudung itu…


“Satu, dua… sepuluh, sebelas…


Hmm, ada 35 orang, ya?”


…hanya menghitung jumlah personil


House of Siegfried.


Ketika Iqherd dan personil


Siegfried lainnya hendak menyerangnya, orang bertudung itu hanya tersenyum.


“Soul Inferno.”


“*BOOM!!! (suara ledakan besar)”


Dengan sihirnya, orang bertudung


itu meledakkan seluruh personil


Siegfried secara instan dan tanpa tersisa sedikit pun.


“Ups! Hati-hati sama ledakannya!”


“*Vwumm… (suara gerakan api)”


Untuk mencegah terbakarnya


Calmissiu dari efek ledakan semua personil Siegfried, orang bertudung itu


menyerap efek ledakan mereka ke dalam tangannya.


“Ah, udah aman kan, ya?!


Ahahahaa!”


Seru orang bertudung itu, sambil


berjalan menghampiri Flippus.


Ketika ia melewati anak-anak


Bismont yang terluka, ia menyembuhkan mereka semua dengan sihirnya.


“Vigorous Spark…”


““…””


Dengan Sihir Api-nya yang masuk ke dalam tubuh


Lyra, Porto, dan Krunka, seketika racun yang berada di tubuh mereka hilang,


walaupun mereka masih belum sadarkan diri.


“Tenang aja, mereka nanti sembuh


kok.”


““…””


Kata orang bertudung itu kepada


Herulk dan anak-anak Gia.


Sementara Charzielle yang juga


belum tersadar…


“…”


“Jadi anak yang kuat, ya?”


…ia berbisik dan mengusap


kepalanya saja.


Ketika ia hendak menghampiri


Flippus, ia begitu terkejut ketika melihat wajah dari orang bertudung itu.


“A…A…Anda…”


“Hm?”


“Sylvia Starfell!”


“Ssshhh! Jangan kenceng-kenceng! Saya lagi palsuin kematian saya, pak!”


Bisik Sylvia kepada Flippus,


sambil menyembuhkannya.


“Pak, saya minta tolong ya pak. Tolong rahasiain keberadaan saya di sini.”


“Ba…Baiklah…hiks!”


Tangis Flippus karena ada sosok


legendaris yang menyelamatkannya.


Namun, Flippus masih heran dengan


kedatangannya.


“Ma…Maaf jika saya bertanya,


Pahlawan.”


“Mm?”


“Mengapa anda tiba-tiba datang ke


Calmisiu?”


“Untuk itu…”


Sylvia pun menceritakan awal mula


kedatangan dirinya.


……………


“*FWUSH!!! (suara terbang dengan


sangat cepat)”


Saat itu Sylvia sedang terbang


menuju Calmisiu.


Namun, Arkhataz, dewa yang berada


di dalam dirinya, mendapat panggilan.


“Heh, Kadal! Ngapain Lo ke


sini?!”


“Zegin, kah? Sudah kuduga


bahwa kau berada di Erviga.”


Balas Arkhataz kepada panggilan


dari Zegin.


“Kalo Lo mau ke sini, gue


butuh bantuin dari Saint Lo!”


“Bantuan?”


Zegin pun menjelaskan kondisi


Bismont, Calmisiu, serta kejadian aneh yang terjadi di Erviga.


“Ada yang mengontrol semua


anak-Ku, kah?”


“Ya. Urusan itu, biar Saint


Gue yang urus.”


“Baiklah. Aku percayakan


urusan negara itu di tangan-Mu, sedangkan permintaan-Mu biarlah kami berdua


yang urus.”


Balas Arkhataz, sebelum Zegin


meninggalkan panggilan.


“Sylvia, sepertinya Kau


mendapatkan permohonan bantuan.”


“Mm?”


Arkhataz pun menjelaskan apa yang


dijelaskan Zegin kepada Saint-nya.


“OK kalo begitu, Dewa. Tapi


sebelum itu…”


“Mm?”


“Tolong izinin saya ketemu


sahabat saya, Phonso. Bisa kan, Dewa?”


“Baiklah, Saint-Ku.”


Balas Arkhataz dari dalam pikiran


Sylvia.


……………


“Ja…Jadi seperti itu, kah?”


Tanya Flippus kepada Sylvia.


“Iya, pak. Andai saya dateng


lebih cepet, mungkin—”


“**…boom…* (suara ledakan dari jauh)”


“!!!”


Flippus dikejutkan dengan adanya


suara ledakan yang terdengar sangat jauh.


Namun, berbeda dengan Sylvia yang


terlihat biasa saja.


“Pa…Pahla—”


“Panggil aja Sylvia, pak.”


“Ba…Baiklah, Sylvia. Apakah anda


akan menghampiri arah suara ledakan itu…?”


Tanya Flippus yang penasaran


dengan kedatangan Sylvia.


“Nggak kok, pak. Saya ke sini


karena ada yang minta tolong aja tadi. Urusan suara ledakan itu sih…ada yang


tanganin kok, pak. Tenang aja! Hihi!”


Balas Sylvia yang ditutup dengan


senyum ramahnya.


“Myllo, semoga kamu sukses di ‘panggung


pertama’ kamu!”


Pikir Sylvia tentang Myllo.