
Udah beberapa
hari kita jalan dari Riverfall ke Kaskar.
Selama jalan,
gue baru dijelasin sama Gia terkait kota-kota di Erviga ini.
Ternyata
Calmisiu itu kawasannya Chorpol City, yang dipegang Bismont, Milkin sama Xia
itu kawasannya Herlook City, sedangkan Marklett itu kawasannya Riverfall.
Yang megang
kawasan itu?
Duke Siegfried,
orang yang harus kita waspadain.
Untungnya kita
semua pergi dari sana untuk ke Kaskar, kota yang paling deket sama ibu kota
yang namanya Vigrias Capital.
Masalahnya,
waktu kita udah mau sampe Kaskar…
““Rooaaaarr!!!””
…ada beberapa
Dragonkin yang mau terbang ke kota itu!
“Huaaaaargh!”
“*Prang! (suara
serangan pedang besar)”
“Myllo! Wyvern
itu udah tumbang!”
“Zegin Smash!”
“*Tuk! (suara
pukulan tongkat)”
Myllo baru aja
serang Wyvern yang udah nggak bisa bergerak karena dipukul Gia.
“Rrrr…”
“Hehe! Makasih
Gia karena udah tumbang—”
“Rooaa—”
“*Bhuk! (suara
pukulan)”
Huh, untung aja
Wyvern ini masih sempet gue pukul sebelum makan Myllo.
“OK! Karena
semua Dragonkin ini udah kita kalahin, waktunya gue mi—”
“Kepikiran untuk
minum, awas aja kamu, ya!”
“I…Iya….”
Hadeh, ada-ada
aja Si Dongo satu i—
“Ups…”
Myllo…
Keliatannya dia masih belom sepenuhnya sembuh,
semenjak lawan Tarzyn di Hidden Dungeon.
Bahkan jalan dikit aja, dia hampir jatoh.
“…”
Hm…
Karena Gia jalan
agak jauh di depan, mungkin gue bisa diem-diem tanya Myllo, supaya Gia nggak khawatir.
“Myl, lo mau gue
bantuin jalan, nggak?”
“Nggak usah.”
“Tapi lo
keliatannya belom—”
“Gue masih kuat!”
“Lo yakin
masih—”
“Kapten itu
fondasi Party! Kalo fondasinya nggak kuat, bisa roboh dong Party-nya!”
“Gue juga paham
kalo itu! Tapi lo itu lagi sakit! Masa lo pilih kenapa-napa duluan, daripada—”
“Percaya sama
gue, Djinn. Gue janji kalo gue tetep berdiri, apapun kondisinya! Hehe!”
I…Ini orang,
keras kepala bang—
“Mylloooo!
Djiiiiin! Kalian debatin apa, sih?! Ayo kita udah mau sampe!”
“Hihihi! OK, ayo
kita masuk ke Karkas!”
Serius dia nggak
apa-apa?
Yah, apa boleh
buat lah.
Semoga gue bisa
jagain dia sebelum kenapa-napa.
“Ya ampun,
kenapa kalian tiba-tiba debat, sih?! Untung ada cewek cantik kayak aku yang
bisa tenangin kalian berdua! Ya, kan?!”
“Haaaah?! Niat
lo mau tenangin kita atau godain kita?!”
“Cih! Kenapa sih
kalian susah banget digodain?! Hmph!”
“Ya, gimana juga
lo godain kita! Dada lo aja ra—”
“Myllo! Omongan
lo—”
“*BHUK! (suara
pukulan keras)”
“Guoogghh…”
“DASAR KAPTEN
JAHAAAAATTTT!!!”
A…Astaga…
Nggak gue sangka
Si Dongo bisa ngomong kayak gitu…
Oh iya!
Kan dia lagi
sakit, ya?!
Kalo dipukul
sekeras itu sama Gia, yang ada makin parah aja bawaannya…
“Li…Liat tuh!”
“Liat apa?! Dada
a—”
“I…Itu…Karkas…?”
““!!!””
Gila!
Kok dari jauh, keliatan
ancur banget ya kotanya?!
“Djinn! Gia!
Keliatannya kota itu butuh pertolongan! Ayo kita sama-sama ke sana!”
“Ya!”
Karena ngeliat
kota itu, kita sama-sama lari ke Karkas.
……………
Tapi waktu kita
sampe sini…
“Ayo angkat
itu!”
“Satu…dua…tiga!”
““Hraaagh!””
…keliatannya
udah nggak ada masalah lagi.
Cuma ada
beberapa warga yang gotong royong sama beberapa prajurit untuk beresin kota.
Gia nanya ke
beberapa warga lokal tentang kejadian yang ada di kota ini.
Yang gue yakin
sih, semua karena ulah Kaum Naga.
“Pe…Permisi,
kami ini Petualang yang baru aja dateng. Kota ini…kena serangan Kaum Naga juga,
ya?”
“Bener, Nyonya
Cantik! Untungnya ada beberapa Petualang yang ikut turun tangan bareng prajurit
kota ini lawan mereka semua!”
Tuh kan, bener.
“Tapi, kita pun
juga nggak nyangka, keadaaan jadi makin kacau banget! Kok bisa ya tiba-tiba ada
banyak Kaum Naga yang nyerang Erviga?!”
Hadeh…
Karena ini semua
ulah Shaylia, gue jadi nggak enak sendiri sama warga sekitar sini.
Selesai Gia
nanya, kita jalan ke salah satu kedai yang ada di tempat ini, sebelum pergi ke
Guild di kota ini.
Gue mungkin
kepikiran soal kata-kata dari orang terakhir yang ditanya Gia.
Tapi, nggak gue
doang yang kepikiran.
“Aku jadi nggak
enak sama warga kota ini, tapi aku juga nggak enak sama Shaylia yang secara
langsung diomongin.”
“Emang sih semua
karena janji Djinn ke Shaylia. Tapi Djinn itu bagian dari kita! Gue sebagai
Kapten harus tanggung apapun yang dimulai anggota gue!”
“Ya! Aku sendiri
juga kasian sama dia, walaupun dia nggak cuma bunuh rekan-rekan kita aja, tapi
udah bawa masalah ke negara aku!”
“Hehe! Thanks,
Gia. Semoga masalah ini jadi masalah terakhir kita, sebelum keluar Erviga! Ya
kan, Djinn?!”
“Ya.”
Untung mereka
berdua mau ikut jalanin janji yang gue ucap ke Shaylia.
Seenggaknya, gue
cuma bisa bersyukur deh karena ketemu orang baik kayak mereka berdua.
……………
Sekarang kita
ada di kedai minum.
Rencananya sih
kita mau nginep di tempat ini juga.
Ya kayak biasa
lah kalo kita ke kedai minum.
““Wooaaaahhh!
Keren!””
“Huahahaha…hicc! Makanya itu…nggak ada yang berani macem-macem sama Kak Sylv!”
Si Dongo mulai
cerita-cerita tentang kakaknya lagi bareng sebagian besar pengunjung kedai ini.
Sedangkan gue…
“Awas ya kalo
kamu ngerokok lagi depan aku!”
“Emangnya
kenapa—”
“Djiiiiin?!”
“I…Iya, iya!”
…nggak dibolehin
ngerokok sama Si Genit!
“Ti…Tidak
kusangka bahwa kamu adalah perokok selama ini, Djinn. Kakek pasti sangat kecewa
denganmu.”
Ah iya! Gue lupa
kalo kita lagi telfonan sama Luvast!
“Hadeh! Aku jadi
nggak tau siapa yang sebenernya perokok! Antara ‘kamu’ atau Djinnardio!”
“Ma…Maksudmu
apa, Gia?”
“Ups!”
GIAAAA!!! DASAR
SETAN!!!
“A…Anggep aja
ini untuk nutupin identitas gue sebagai Djinn! Gitu kan maksud lo, Gia?!”
“I…Iya!”
“Hmm… Apakah
dengan topeng saja masih kurang—”
“Iya, iya, iya!
Yang penting sekarang gue nggak ngerokok!”
banget mau ngilangin penat!
“Tapi tidak
kusangka, bahwa Quest yang kalian ambil memiliki cakupan yang sangat luas.”
“Ya. Kita juga
nggak nyangka arahnya jadi politik gini.”
“Haaaah… Padahal
gue sendiri ngehindarin politik, eh malah ketemu kasus yang kayak gitu.”
“Kamu benar,
Djinn. Maka dari itu aku lebih memilih untuk menjadi Petualang, dibandingkan
menjadi Putri Vamulran.”
Ada benernya
sih, walaupun definisi Petualang di dunia ini cuma ‘tumbal’ dari masalah yang
ada di dunia.
Eh iya, kayaknya
ada yang harus gue bahas, deh.
“Oh ya, kayaknya
ada yang mau gue bahas sama kalian berdua, khususnya lo, Gia.”
“Hm? Tentang
apa?”
“Myllo.”
“Myllo?”
“Lo nggak sadar
ya kalo dia sebenernya masih kesakitan?”
“Sa…Sadar sih.
Mungkin karena beban pakai kekuatan Dewa, ya?”
Karena kekuatan
dewa?
Kok gue jadi
ngerasa bersalah, ya?
Andai gue tau
kalo pake kekuatan kayak gitu bisa ngerusak badannya.
“Bayaran yang
harus diterima akibat tidak memilik Mana ya?”
“Mungkin itu
salah satu faktornya. Makanya dia harus pakai energi kehidupannya sebagai pengganti Mana.”
Kayaknya ini
pernah dibahas Meldek, deh.
Energi kehidupan
yang gue tangkep sih agak mirip sama kekuatan fisik.
Jadi kalo energi
kehidupannya semakin tipis, sama aja bikin fisik orang jadi lebih gampang
sakit.
“Andai aku
berada di tengah kalian, mungkin aku bisa menyembuhkannya sedikit dengan ilmu
sihir yang aku pelajari.”
“Iya sih, tapi bahkan
gabungan kekuatan dua Keeper semacam Zorlyan sama Winona nggak bisa sembuhin
dia secara maksimal.”
“Bahkan dua
Keeper pun tidak bisa menyembuhkannya?!”
“Sebenernya
nggak gitu, sih. Mereka berdua juga kecapean. Kalo mereka ada waktu untuk
istirahat, mungkin aja dia bisa sembuh 100%.”
“Kamu bener,
sih. Masalahnya waktu itu dia pun juga main pergi aja ke Humpar Tavern! Kan
kita kira dia udah sembuh, ya!”
“Hahaha!
Ada-ada saja Kapten kita!”
Dia…ada benernya
juga sih.
Gue pun jadi
heran, dia emang kebelet minum atau mau keliatan kuat aja.
Eh, iya!
Ngomong-ngomong
soal Zorlyan sama Winona…
“Kayaknya kita
butuh orang yang bisa medis, deh.”
“Maksudmu butuh Keeper, Djinn?”
“Ya. Kita butuh
orang yang ada di deket kita untuk sembuhin kita kapan aja.”
“Pastinya kita
butuh, sih. Apalagi untuk orang yang mimpi jadi Petualang Nomor Satu di Dunia!
Ahahaha!”
“Haha, bener
juga. Kamu benar, Gia.”
Keeper, ya?
Cara nyarinya
gimana, ya—
“Ngomong-ngomong,
apakah kalian telah melihat Ranking Petualang yang baru?”
“Belum, sih. Ada
apa emangnya?”
“Aku melihat
adanya perubahan di dalam 10 besar saat ini.”
Ada perubahan?
Waktu gue cek,
ternyata emang ada perubahan.
Dari urutannya,
ada:
_______________________
1. Nikolas Regnier (Leader);
Role: Frontliner;
Guild: Crux.
2. Fledrick Borael (Leader);
Role: Rounder;
Guild: Caprae.
3. […] (Leader);
Role: Observer;
Guild: Serpentis.
4. Ghibr Doldrah (Leader);
Role: Rounder;
Guild: Chemica.
5. Riva Cleria (Leader);
Role: Keeper;
Guild: Sol Puer.
6. Doghaz Coldless (Leader);
Role: Striker;
Guild: Canis Regem.
7. Lana Vrecher (Leader);
Role: Keeper;
Guild: Rosalba.
8. Kalamir Grezeron (Leader);
Role: Frontliner;
Guild: Caetus.
9. Lupherius Nighteeth;
Role: Rounder;
Party: -
10. Ella Crystalglow (Leader);
Role: Striker;
Guild: Papilio.
_______________________
Kira-kira gitu
yang gue dapet.
Tapi ada tiga
hal yang menarik perhatian gue.
Yang pertama.
“Perasaan paling
terakhir gue liat namanya ada Leonard gitu deh di urutan nomor satu.”
“Berdasarkan
dari rumor yang beredar, Guild Leo telah dibubarkan.”
“Dibubarin?”
“Ya. Tidak
ada penjelasan mengenai alasan dibubarkannya.”
Kok bisa bubar,
ya?
Bukannya orang
itu saingannya kakaknya Myllo?
Terus, yang
kedua.
“Orang yang
namanya Lupherius ini…kok nggak ada nama Guild-nya, ya?”
“Katanya sih,
dia itu Petualang tanpa ada Party. Makanya cuma ada nama dia aja.”
Gila juga.
Ternyata ada
juga orang yang solo karir, ya?
Dan yang
terakhir.
“Gia, lo liat
urutan ketiga ini.”
“Iya, nggak
semua Petualang mau namanya dipublikasi, Djinn.”
“Ya. Oleh
karena itu nama Petualang tersebut tidak tertera.”
“Hoo…pantes
aja.”
“Hm? Emangnya
kenapa, Djinn?”
“???”
“Supaya orang
yang namanya Snake itu bisa seenaknya manipulasi dari belakang!”
“Sn…Snake?!”
“Mengapa kamu
yakin ia adalah orang yang sama, Djinn?”
“Dari nama
Guild-nya.”
Mulai dari
pertama kali gue denger nama Party kakaknya Myllo yang namanya Aquilla, gue
mulai sadar satu hal.
Setiap nama
Party atau Guild itu antara pake nama rasi bintang atau bahasa latin.
Makanya itu gue
tau kalo Serpentis itu terjemahan Bahasa Inggir-nya jadi serpent, yang
artinya uler.
Tapi, gimana gue
jelasin ke mereka, ya—
“*Brak! (suara
meja jatuh)”
“Ayo…maju lo,
brengsek!”
“Gu…Gue…bilang
gitu…artinya gue sayang sama Sylvi—”
“Kak Sylv…nggak
bakal mau sama orang kayak lo…hicc!”
Halaaaah!
Udah sakit,
malah cari masalah!
“Djinn! Myllo
lagi beran—”
“Lu…Luvast,
kayaknya kita udahan dulu, ya! Kapten lo rese nih!”
“Y…Ya. Tolong
beri salam dariku untuknya.”
““Ya!””
Karena Si Dongo
ini berulah lagi, makanya kita udahan telfonannya sama Luvast.
Abis itu, kita
lerai dia yang lagi berantem, tadinya kita mau bawa dia ke kamar.
Masalahnya…
“Hueekk…”
“Dasar lemah!
Makanya jangan banyak ulah!”
“Hehe…sorry kalo gue ngerepotin lagi.”
…dia muntah
duluan sebelum sampe kamar!
Ya, untungnya
bukan muntah di kamar, lah.