Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 94. The Ranking



Udah beberapa


hari kita jalan dari Riverfall ke Kaskar.


Selama jalan,


gue baru dijelasin sama Gia terkait kota-kota di Erviga ini.


Ternyata


Calmisiu itu kawasannya Chorpol City, yang dipegang Bismont, Milkin sama Xia


itu kawasannya Herlook City, sedangkan Marklett itu kawasannya Riverfall.


Yang megang


kawasan itu?


Duke Siegfried,


orang yang harus kita waspadain.


Untungnya kita


semua pergi dari sana untuk ke Kaskar, kota yang paling deket sama ibu kota


yang namanya Vigrias Capital.


Masalahnya,


waktu kita udah mau sampe Kaskar…


““Rooaaaarr!!!””


…ada beberapa


Dragonkin yang mau terbang ke kota itu!


“Huaaaaargh!”


“*Prang! (suara


serangan pedang besar)”


“Myllo! Wyvern


itu udah tumbang!”


“Zegin Smash!”


“*Tuk! (suara


pukulan tongkat)”


Myllo baru aja


serang Wyvern yang udah nggak bisa bergerak karena dipukul Gia.


“Rrrr…”


“Hehe! Makasih


Gia karena udah tumbang—”


“Rooaa—”


“*Bhuk! (suara


pukulan)”


Huh, untung aja


Wyvern ini masih sempet gue pukul sebelum makan Myllo.


“OK! Karena


semua Dragonkin ini udah kita kalahin, waktunya gue mi—”


“Kepikiran untuk


minum, awas aja kamu, ya!”


“I…Iya….”


Hadeh, ada-ada


aja Si Dongo satu i—


“Ups…”


Myllo…


Keliatannya dia masih belom sepenuhnya sembuh,


semenjak lawan Tarzyn di Hidden Dungeon.


Bahkan jalan dikit aja, dia hampir jatoh.


“…”


Hm…


Karena Gia jalan


agak jauh di depan, mungkin gue bisa diem-diem tanya Myllo, supaya Gia nggak khawatir.


“Myl, lo mau gue


bantuin jalan, nggak?”


“Nggak usah.”


“Tapi lo


keliatannya belom—”


“Gue masih kuat!”


“Lo yakin


masih—”


“Kapten itu


fondasi Party! Kalo fondasinya nggak kuat, bisa roboh dong Party-nya!”


“Gue juga paham


kalo itu! Tapi lo itu lagi sakit! Masa lo pilih kenapa-napa duluan, daripada—”


“Percaya sama


gue, Djinn. Gue janji kalo gue tetep berdiri, apapun kondisinya! Hehe!”


I…Ini orang,


keras kepala bang—


“Mylloooo!


Djiiiiin! Kalian debatin apa, sih?! Ayo kita udah mau sampe!”


“Hihihi! OK, ayo


kita masuk ke Karkas!”


Serius dia nggak


apa-apa?


Yah, apa boleh


buat lah.


Semoga gue bisa


jagain dia sebelum kenapa-napa.


“Ya ampun,


kenapa kalian tiba-tiba debat, sih?! Untung ada cewek cantik kayak aku yang


bisa tenangin kalian berdua! Ya, kan?!”


“Haaaah?! Niat


lo mau tenangin kita atau godain kita?!”


“Cih! Kenapa sih


kalian susah banget digodain?! Hmph!”


“Ya, gimana juga


lo godain kita! Dada lo aja ra—”


“Myllo! Omongan


lo—”


“*BHUK! (suara


pukulan keras)”


“Guoogghh…”


“DASAR KAPTEN


JAHAAAAATTTT!!!”


A…Astaga…


Nggak gue sangka


Si Dongo bisa ngomong kayak gitu…


Oh iya!


Kan dia lagi


sakit, ya?!


Kalo dipukul


sekeras itu sama Gia, yang ada makin parah aja bawaannya…


“Li…Liat tuh!”


“Liat apa?! Dada


a—”


“I…Itu…Karkas…?”


““!!!””


Gila!


Kok dari jauh, keliatan


ancur banget ya kotanya?!


“Djinn! Gia!


Keliatannya kota itu butuh pertolongan! Ayo kita sama-sama ke sana!”


“Ya!”


Karena ngeliat


kota itu, kita sama-sama lari ke Karkas.


……………


Tapi waktu kita


sampe sini…


“Ayo angkat


itu!”


“Satu…dua…tiga!”


““Hraaagh!””


…keliatannya


udah nggak ada masalah lagi.


Cuma ada


beberapa warga yang gotong royong sama beberapa prajurit untuk beresin kota.


Gia nanya ke


beberapa warga lokal tentang kejadian yang ada di kota ini.


Yang gue yakin


sih, semua karena ulah Kaum Naga.


“Pe…Permisi,


kami ini Petualang yang baru aja dateng. Kota ini…kena serangan Kaum Naga juga,


ya?”


“Bener, Nyonya


Cantik! Untungnya ada beberapa Petualang yang ikut turun tangan bareng prajurit


kota ini lawan mereka semua!”


Tuh kan, bener.


“Tapi, kita pun


juga nggak nyangka, keadaaan jadi makin kacau banget! Kok bisa ya tiba-tiba ada


banyak Kaum Naga yang nyerang Erviga?!”


Hadeh…


Karena ini semua


ulah Shaylia, gue jadi nggak enak sendiri sama warga sekitar sini.


Selesai Gia


nanya, kita jalan ke salah satu kedai yang ada di tempat ini, sebelum pergi ke


Guild di kota ini.


Gue mungkin


kepikiran soal kata-kata dari orang terakhir yang ditanya Gia.


Tapi, nggak gue


doang yang kepikiran.


“Aku jadi nggak


enak sama warga kota ini, tapi aku juga nggak enak sama Shaylia yang secara


langsung diomongin.”


“Emang sih semua


karena janji Djinn ke Shaylia. Tapi Djinn itu bagian dari kita! Gue sebagai


Kapten harus tanggung apapun yang dimulai anggota gue!”


“Ya! Aku sendiri


juga kasian sama dia, walaupun dia nggak cuma bunuh rekan-rekan kita aja, tapi


udah bawa masalah ke negara aku!”


“Hehe! Thanks,


Gia. Semoga masalah ini jadi masalah terakhir kita, sebelum keluar Erviga! Ya


kan, Djinn?!”


“Ya.”


Untung mereka


berdua mau ikut jalanin janji yang gue ucap ke Shaylia.


Seenggaknya, gue


cuma bisa bersyukur deh karena ketemu orang baik kayak mereka berdua.


……………


Sekarang kita


ada di kedai minum.


Rencananya sih


kita mau nginep di tempat ini juga.


Ya kayak biasa


lah kalo kita ke kedai minum.


““Wooaaaahhh!


Keren!””


“Huahahaha…hicc! Makanya itu…nggak ada yang berani macem-macem sama Kak Sylv!”


Si Dongo mulai


cerita-cerita tentang kakaknya lagi bareng sebagian besar pengunjung kedai ini.


Sedangkan gue…


“Awas ya kalo


kamu ngerokok lagi depan aku!”


“Emangnya


kenapa—”


“Djiiiiin?!”


“I…Iya, iya!”


…nggak dibolehin


ngerokok sama Si Genit!


“Ti…Tidak


kusangka bahwa kamu adalah perokok selama ini, Djinn. Kakek pasti sangat kecewa


denganmu.”


Ah iya! Gue lupa


kalo kita lagi telfonan sama Luvast!


“Hadeh! Aku jadi


nggak tau siapa yang sebenernya perokok! Antara ‘kamu’ atau Djinnardio!”


“Ma…Maksudmu


apa, Gia?”


“Ups!”


GIAAAA!!! DASAR


SETAN!!!


“A…Anggep aja


ini untuk nutupin identitas gue sebagai Djinn! Gitu kan maksud lo, Gia?!”


“I…Iya!”


“Hmm… Apakah


dengan topeng saja masih kurang—”


“Iya, iya, iya!


Yang penting sekarang gue nggak ngerokok!”


banget mau ngilangin penat!


“Tapi tidak


kusangka, bahwa Quest yang kalian ambil memiliki cakupan yang sangat luas.”


“Ya. Kita juga


nggak nyangka arahnya jadi politik gini.”


“Haaaah… Padahal


gue sendiri ngehindarin politik, eh malah ketemu kasus yang kayak gitu.”


“Kamu benar,


Djinn. Maka dari itu aku lebih memilih untuk menjadi Petualang, dibandingkan


menjadi Putri Vamulran.”


Ada benernya


sih, walaupun definisi Petualang di dunia ini cuma ‘tumbal’ dari masalah yang


ada di dunia.


Eh iya, kayaknya


ada yang harus gue bahas, deh.


“Oh ya, kayaknya


ada yang mau gue bahas sama kalian berdua, khususnya lo, Gia.”


“Hm? Tentang


apa?”


“Myllo.”


“Myllo?”


“Lo nggak sadar


ya kalo dia sebenernya masih kesakitan?”


“Sa…Sadar sih.


Mungkin karena beban pakai kekuatan Dewa, ya?”


Karena kekuatan


dewa?


Kok gue jadi


ngerasa bersalah, ya?


Andai gue tau


kalo pake kekuatan kayak gitu bisa ngerusak badannya.


“Bayaran yang


harus diterima akibat tidak memilik Mana ya?”


“Mungkin itu


salah satu faktornya. Makanya dia harus pakai energi kehidupannya sebagai pengganti Mana.”


Kayaknya ini


pernah dibahas Meldek, deh.


Energi kehidupan


yang gue tangkep sih agak mirip sama kekuatan fisik.


Jadi kalo energi


kehidupannya semakin tipis, sama aja bikin fisik orang jadi lebih gampang


sakit.


“Andai aku


berada di tengah kalian, mungkin aku bisa menyembuhkannya sedikit dengan ilmu


sihir yang aku pelajari.”


“Iya sih, tapi bahkan


gabungan kekuatan dua Keeper semacam Zorlyan sama Winona nggak bisa sembuhin


dia secara maksimal.”


“Bahkan dua


Keeper pun tidak bisa menyembuhkannya?!”


“Sebenernya


nggak gitu, sih. Mereka berdua juga kecapean. Kalo mereka ada waktu untuk


istirahat, mungkin aja dia bisa sembuh 100%.”


“Kamu bener,


sih. Masalahnya waktu itu dia pun juga main pergi aja ke Humpar Tavern! Kan


kita kira dia udah sembuh, ya!”


“Hahaha!


Ada-ada saja Kapten kita!”


Dia…ada benernya


juga sih.


Gue pun jadi


heran, dia emang kebelet minum atau mau keliatan kuat aja.


Eh, iya!


Ngomong-ngomong


soal Zorlyan sama Winona…


“Kayaknya kita


butuh orang yang bisa medis, deh.”


“Maksudmu butuh Keeper, Djinn?”


“Ya. Kita butuh


orang yang ada di deket kita untuk sembuhin kita kapan aja.”


“Pastinya kita


butuh, sih. Apalagi untuk orang yang mimpi jadi Petualang Nomor Satu di Dunia!


Ahahaha!”


“Haha, bener


juga. Kamu benar, Gia.”


Keeper, ya?


Cara nyarinya


gimana, ya—


“Ngomong-ngomong,


apakah kalian telah melihat Ranking Petualang yang baru?”


“Belum, sih. Ada


apa emangnya?”


“Aku melihat


adanya perubahan di dalam 10 besar saat ini.”


Ada perubahan?


Waktu gue cek,


ternyata emang ada perubahan.


Dari urutannya,


ada:


_______________________


1.    Nikolas Regnier (Leader);


Role: Frontliner;


Guild: Crux.


2.    Fledrick Borael (Leader);


Role: Rounder;


Guild: Caprae.


3.    […] (Leader);


Role: Observer;


Guild: Serpentis.


4.    Ghibr Doldrah (Leader);


Role: Rounder;


Guild: Chemica.


5.    Riva Cleria (Leader);


Role: Keeper;


Guild: Sol Puer.


6.    Doghaz Coldless (Leader);


Role: Striker;


Guild: Canis Regem.


7.    Lana Vrecher (Leader);


Role: Keeper;


Guild: Rosalba.


8.    Kalamir Grezeron (Leader);


Role: Frontliner;


Guild: Caetus.


9.    Lupherius Nighteeth;


Role: Rounder;


Party: -


10. Ella Crystalglow (Leader);


Role: Striker;


Guild: Papilio.


_______________________


Kira-kira gitu


yang gue dapet.


Tapi ada tiga


hal yang menarik perhatian gue.


Yang pertama.


“Perasaan paling


terakhir gue liat namanya ada Leonard gitu deh di urutan nomor satu.”


“Berdasarkan


dari rumor yang beredar, Guild Leo telah dibubarkan.”


“Dibubarin?”


“Ya. Tidak


ada penjelasan mengenai alasan dibubarkannya.”


Kok bisa bubar,


ya?


Bukannya orang


itu saingannya kakaknya Myllo?


Terus, yang


kedua.


“Orang yang


namanya Lupherius ini…kok nggak ada nama Guild-nya, ya?”


“Katanya sih,


dia itu Petualang tanpa ada Party. Makanya cuma ada nama dia aja.”


Gila juga.


Ternyata ada


juga orang yang solo karir, ya?


Dan yang


terakhir.


“Gia, lo liat


urutan ketiga ini.”


“Iya, nggak


semua Petualang mau namanya dipublikasi, Djinn.”


“Ya. Oleh


karena itu nama Petualang tersebut tidak tertera.”


“Hoo…pantes


aja.”


“Hm? Emangnya


kenapa, Djinn?”


“???”


“Supaya orang


yang namanya Snake itu bisa seenaknya manipulasi dari belakang!”


“Sn…Snake?!”


“Mengapa kamu


yakin ia adalah orang yang sama, Djinn?”


“Dari nama


Guild-nya.”


Mulai dari


pertama kali gue denger nama Party kakaknya Myllo yang namanya Aquilla, gue


mulai sadar satu hal.


Setiap nama


Party atau Guild itu antara pake nama rasi bintang atau bahasa latin.


Makanya itu gue


tau kalo Serpentis itu terjemahan Bahasa Inggir-nya jadi serpent, yang


artinya uler.


Tapi, gimana gue


jelasin ke mereka, ya—


“*Brak! (suara


meja jatuh)”


“Ayo…maju lo,


brengsek!”


“Gu…Gue…bilang


gitu…artinya gue sayang sama Sylvi—”


“Kak Sylv…nggak


bakal mau sama orang kayak lo…hicc!”


Halaaaah!


Udah sakit,


malah cari masalah!


“Djinn! Myllo


lagi beran—”


“Lu…Luvast,


kayaknya kita udahan dulu, ya! Kapten lo rese nih!”


“Y…Ya. Tolong


beri salam dariku untuknya.”


““Ya!””


Karena Si Dongo


ini berulah lagi, makanya kita udahan telfonannya sama Luvast.


Abis itu, kita


lerai dia yang lagi berantem, tadinya kita mau bawa dia ke kamar.


Masalahnya…


“Hueekk…”


“Dasar lemah!


Makanya jangan banyak ulah!”


“Hehe…sorry kalo gue ngerepotin lagi.”


…dia muntah


duluan sebelum sampe kamar!


Ya, untungnya


bukan muntah di kamar, lah.