Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 308. Hazardous Mushrooms



“Wuooooaaah! Perahu ini ada kedainya! Minumannya juga udah ada banyak!”


“Asyiiik! Ada kamar mandinya! Lumayan deh kita nggak perlu kebauan selama perjalanan! Tambah lagi, kulit cantik aku bisa lebih terawat!”


“Ieu perahu teh juga ada kasurnya! Kasurnya teh empuk pisan!”


“Peralatannya serba lengkap ya! Haha! Nggak nyangka mantan bandit kayak gue bisa ngerasain kayak gini!”


“Machinno… senang.”


Ya gitu deh, semuanya ngerasa seneng banget punya perahu kayak gini.


Andai mereka sadar…


“…”


…kalo beberapa barang yang ada di kapal ini, ada tulisan “Properti Milik Centra Geoterra.”


Ya gue pribadi sih nggak ada masalah sama tulisan itu. Selama perahu ini ada di tangan kita, otomatis ini punya kita. Bahkan Centra Geoterra pun nggak berhak untuk rebut ini dari kita.


Apalagi…


“…”


…dapurnya luas banget!


Peralatannya lengkap! Bahkan sumpit pun juga ada!


“Hehe! Nggak gue sangka lo bisa kendaliin kapal ini, Dalbert!”


“Untungnya ada panduan ini, Myllo. Selain bisa dikendaliin secara otomatis pake Mana kita, kapal ini juga bisa dikendaliin secara manual pakai prinsip kapal yang mirip kayak kapal-kapal lainnya. Pokoknya


semua—”


“Aaaargh!!! Jangan jelasin hal yang ribet-ribet ke gue! Kepala gue pusing!”


“Pantesan lo dongo! Padahal gue kasih penjelasan yang simple!”


“APA?!?!”


B-Bawel banget sih Si Dongo ini.


Tapi sesuai yang dibilang Dalbert. Panduan yang dikasih Velka itu lengkap banget. Makanya Dalbert bisa kendaliin kapal ini tanpa harus kebingungan.


Masalahnya…


“Djinn! Buatin kita makanan dong!”


“Iya nih! Kamu kan seneng masak! Pasti kamu mau coba masak di sini!”


…dari antara kita semua, cuma gue aja yang bisa masak. Jadinya secara nggak langsung gue jadi koki di kapal ini.


“…”


Nah loh…


Kok—


“Djinn! Buru atuh bikinkeun kita makanan—”


“Nggak bisa.”


““Mm…?””


“Dapurnya… kosong. Nggak ada bahan makanan sama sekali di sini.”


“Kosong?!”


“I-Iya…”


“Yaudah, nggak apa-apa! Kalo kita liat ada pulau lain, kita ke sana untuk beli bahan-bahan makanan!”


“OK, Myllo!”


Yaudah deh, semoga aja kita nggak kelaperan.


Haaaaah… aneh-aneh aja!


Kok bisa sediain minuman alkohol, tapi nggak sediain bahan makanan sama sekali?!


Ya seenggaknya mood kita semua udah berubah. Udah nggak ada yang kesel sama sekali.


Soalnya, waktu kita pergi dari Dreaded Borderland… mereka pada jutek gara-gara tau berita dari GT News.


Ya gue nggak ada bedanya sih, karena gue juga ngerasain yang sama kayak mereka.


Tapi itu waktu gue tau tentang Snake.


Masalahnya, ada satu Penakluk yang bikin gue kaget banget!


Kira-kira gini ceritanya.


……………


““…””


Kita baru aja dapet berita tentang 3 Penakluk baru, yang ternyata itu 3 orang yang sebelumnya ada di 3 urutan teratas di Ranking Petualang.


“*Brak!”


“Nggak masuk akal! Kenapa Leonard tiba-tiba jadi Penakluk?! Padahal dulu dia itu orangnya baik banget sama gue!”


Myllo keliatannya kesel karena berita tentang Leonard Rochdale. Gue nggak tau siapa sebenernya orang itu.


Mungkin aja dari antara kita semua, cuma Myllo yang tau tentang dia.


“Jadi karena Leonard, Nikolas, sama Flederick dianggap sebagai Penakluk, jadinya Snake yang ada di urutan pertama di Ranking Petualang?! Cih! Apa-apaan sih orang itu?! Terus, kenapa sekarang dia tunjuk identitasnya?!”


Sebenernya gue juga kesel tentang hal itu. Tapi gue paham kalo Gia paling kesel dari antara kita semua. Tambah lagi, apa yang dia bilang tuh logis.


Bukannya orang itu mau hancurin Centra Geoterra? Kenapa dia tiba-tiba ikut gabung di aliansinya pusat pemerintahan itu?


Apa mungkin dia “dibuat jinak” sama Centra Geoterra?


Kalo dipikir-pikir lagi sih, bisa aja. Karena kita ngeliat hal nggak masuk akal yang dibuat pusat pemerintahan itu, di Dreaded Borderland.


“E-Eta teh… orang yang hampir bunuh Kang Wilfred!”


“Hampir bunuh Kang Wilfred?!”


“Eta orang yang namanya Flederick Borael! Kang Wilfred teh pernah cerita, kalo dia hampir dibunuh eta orang karena mau selamatkeun Monster Intelektual yang dia temukeun! Ngeliat eta orang jadi Penakluk… aing jadi makin khawatir sama Kang Wilfred, anying!”


““…””


Kita semua diem aja waktu denger cerita Garry karena khawatir kalo dia nggak bisa temuin orang yang berjasa


untuknya.


“Cih! Kenapa dua orang ini masih hidup?!”


“Maksud kamu tuh… Rock Head sama Dante Shadowend ya, Dalbert?”


“Ya! Udah 50 tahun lebih mereka hidup, tapi masih jadi Penakluk?! Siapa sebenernya dua orang itu?! Apa mungkin… mereka itu Mahluk Abadi…?!”


Beda sama Myllo, Gia, atau Garry, Dalbert keliatan khawatir bukan karena ada sangkut pautnya dua orang yang dia sebut itu sama dia. Anggap aja dia bawa perspektif warga dunia tentang dua orang itu.


Tapi dari antara mereka semua, mau itu Penakluk, Wali Dunia, bahkan Jarvanaag sekalipun, ada satu orang yang bikin gue penasaran banget.


“Ulva… Lovelace…?”


“Hm? Lo kenal Penakluk itu, Djinn—”


“K-Kalung yang dia pake…”


““Hm?””


Awalnya Dalbert yang tanyain gue, karena gue sebut nama Penakluk itu. Sampe akhirnya semua penasaran sama yang gue bilang.


“Ada apa sama cewek i—”


“Kalian… inget orang yang gue sebut Pak Jaya, nggak…?”


“Dia itu… yang ngajarin kamu bela diri kan—”


“Cewek itu… pake kalung yang sama yang dipake Pak Jaya!”


““!!!””


Mereka semua jadi sama kagetnya kayak gue, sehabis gue jelasin tentang satu benda yang sama yang dipake cewek itu.


Bahkan anehnya itu…


Gue inget kalung yang dipake Pak Jaya itu, tapi gue nggak inget wajah Pak Jaya.


“K-Kalung yang sama?! Apa mungkin… orang itu masuk ke dunia ini?!”


“…”


Gue nggak jawab pertanyaan Dalbert. Karena gue sendiri juga penasaran.


Siapa sebenernya Penakluk yang namanya Ulva Lovelace ini?


Kenapa dia bisa punya kalungnya Pak Jaya?


Mungkin itu harusnya pertanyaan yang muncul di kepala gue, semenjak gue liat cewek itu dari GT News.


Tapi ada pertanyaan yang lebih penting di kepala gue.


Siapa sebenernya Pak Jaya?


Apa mungkin… dia juga ada di dunia ini…?


“M-Myllo, terkait Le—”


“*Tap…”


“…”


Tadinya Dalbert mau cerita ke Myllo tentang anak buah Leonard yang hancurin Gemini Party. Tapi gue cuma tepuk pundak Dalbert, terus geleng-gelengin kepala, supaya Dalbert jangan ceritain apa-apa terkait Leonard ke Myllo.


Bukan artinya gue ngelarang dia untuk cerita. Lebih tepatnya, gue saranin dia supaya ceritainnya waktu semuanya udah tenang.


Lagipula, kita juga nggak tau tentang hubungan antara Myllo sama Leonard. Ngeliat di sekecewa itu waktu tau


Leonard jadi Penakluk, mending jangan tambahin beban pikiran untuknya.


Ya untungnya gue sadar kalo Dalbert mau lapor ke Myllo tentang Leonard. Padahal gue sendiri juga lagi khawatirin Pak Jaya, karena takut dia ada di dunia ini.


““…””


Suasananya bener-bener tegang. Kita semua diem-dieman karena berita-berita ini.


Walaupun kita, Aquilla Party, lagi dipuji-puji lewat berita ini, kita tetep nggak bisa tenang atau puas. Semua karena berita-berita ini.


Itu pun beritanya baru bahas tentang 7 Penakluk yang baru. Kalo sampe kita bahas Children of Purgatory, bisa


aja situasanya lebih tegang lagi.


Tapi ada satu orang yang bikin ketegangan kita pudar.


“*Pwush…”


“Eh?! Suara apa itu?! Kok kesannya kayak ada yang jatoh dari kapal ini?!”


“Gue juga denger, Dal.”


“Semuanya! Ayo kita cek suara itu!”


Kita ke pinggir Sailing Eagle untuk periksa suara itu.


Nggak taunya…


“Hm? Kok—”


“M-Machinno?! Kenapa dia jatuh ke laut?!”


…karena Machinno jatoh dari kapal ini.


“Waaaahhh! Gawat! Siapapun tolong ada yang angkut Machinno!”


“Et! Aing teh nggak bisa berenang!”


“Yaudah, Myllo! Biar gue aja yang angkut Machinno!”


“*Bwush…”


Akhirnya Dalbert terjun ke laut untuk bawa balik Machinno.


“Machinno! Kenapa kamu tiba-tiba ada di atas laut?!”


“Machinno… ingin bermain dengan ikan. Hehe.”


““Haaaaah…””


……………


Ya intinya sekarang udah tenang.


Tadinya gue mau bahas tentang klaim Centra Geoterra atas beberapa barang di kapal ini. Cuma kalo gue pikir-pikir lagi, mending yang lain aja yang bahas tentang itu. Lagian yang lain juga temuin tulisan itu juga di beberapa barang.


Tapi sekarang, 2 hari semenjak pergi dari Dreaded Borderland…


“*Gruulll…”


“Et! Suara apaan, eta?!”


““PERUT LO!””


“Oh, kitu?! Hehe, punten…”


…kita kelaperan karena nggak ada makanan!


Eh, sebenernya sih ada yang bisa dimakan.


“Myllo! Aku sama Dalbert udah tangkap beberapa ikan!”


Ya. Selama 2 hari ini kita ganti-gantian mancing ikan. Untuk sekarang itu gilirannya Gia.


Tapi…


“Wuoooaaaahhh!!! Akhirnya kita bisa makan—”


“Tapi… cuma ada 3 ikan yang bisa kita tangkap…”


“APA?!?! 3 AJA YANG KETANGKEP?!?!”


…mancing ikan itu nggak segampang yang kita kira. Makanya kita makan 1 ikan untuk 2 orang.


“Et! Aing teh teu suka ikan bakar! Tambah lagi—”


““LO AJA YANG MANCING!!!””


“Hieekkhh…”


Haaaaah…


Andai aja kita bisa sampe di suatu tempat—


“Myllo! Gue bisa liat ada pulau dari sini!”


“Wuaaaaahhh! OK! Ayo kita ke sana! Semoga aja ada bahan makanan yang bisa dibuat Djinn!”


““YAAA!!!””


Akhirnya ada pulau!


Walaupun ujung-ujungnya gue harus direpotin karena harus masak untuk bocah-bocah sialan ini, seenggaknya kita bisa cari bahan makanan di pulau itu!


“Myllo! Sebelum matahari terbenam, kita bisa sampe pulau itu!”


“OK! Ayo kita siap-siap, Aquilla!”


Udah mau sampe ya?


Tapi kok… rasanya kayak ada yang aneh dari pulau itu?


“*Sniff, sniff, sniff…”


“Baunya… tidak sedap…”


“Et! Bau apa atuh yang teu sedap, Machinno?!”


“Bau dari sana…”


Hm? Bau dari sana? Emangnya dia bisa nyium bau dari jarak sejauh ini?


“OK, semuanya! Ayo kita semua turun ke pulau itu!”


Kita semua akhirnya nyampe pulau ini.


Tapi…


““…””


… kok pulau ini isinya banyak jamur-jamuran ya?


Padahal sebelumnya kita nemuin kaktus-kaktus raksasa, sekarang malah nemuin jamur-jamur raksasa.


Udah gitu, di hutan yang seluas ini, kenapa nggak ada tanda-tanda adanya binatang sama sekali?


“Mil, maaf kalo gue ngecewain lo.”


“Ada apa, Djinn?”


“Kayaknya… kita dituntut untuk makan jamur-jamuran doang, deh. Artinya—”


“Aaaargh! Gue nggak suka sayur!”


Pantesan dongo. Ternyata dia nggak suka sayuran.


“Dalbert! Ayo cari binatang-bina…”


“*Bruk…”


Eh?! Kok Myllo kok tiba-tiba jatoh—


“Uhuk, uhuk!”


“*Bruk…”


“Oi, Dal! Lo kenapa?!”


Dalbert tiba-tiba juga jatoh?!


“*Bruk…”


“Aduh… kok aku pusing banget ya…?”


Gia juga?!


Tunggu! Ada apa sama mereka bertiga?! Kenapa mereka bertiga tiba-tiba—


“Djinn! Kita teh harus pergi dari sini!”


“Ada apa, Ger?!”


“Jamur-jamur yang ada di sini teh… bahaya!”


“Bahaya?!”


“Keliatannya mah jamur-jamur ini teu bergerak! Tapi jamur-jamur ini teh keluarkeun racun yang bahaya!”


Jadi pulau ini beracun?!


“…”


Dari antara kita berenam, cuma gue, Machinno, sama Garry doang yang keliatannya baik-baik aja!


Mungkin nggak ya kita bertiga angkat mereka yang udah—


“Hey, kalian! Tempat ini berbahaya!”


““!!!””


Kaget gue!


Tiba-tiba ada beberapa orang yang ada di atas satu jamur raksasa itu, dong!


“Ayo ikut kami, jika kalian mau selamat!”


“…”


Cih! Harus gue yang bikin keputusan ya?!


Kalo ngeliat kondisinya sih, keliatannya mustahil untuk gue bawa mereka bertiga balik ke Sailing Eagle!


Andai gue masih punya kekuatan gue… mungkin aja gue angkut mereka bertiga!


Yaudah deh, ini semua sama aja kayak nggak ada pilihan lain!


“OK, tolong bawain temen-temen gue!”


“Baiklah. Izinkan kami membawa teman-teman kalian.”


““…””


Akhirnya beberapa orang bantuin gue bawa Myllo, Gia, sama Dalbert.


Tapi kenapa ya?


“…”


Kenapa feeling gue nggak enak banget untuk ikutin mereka semua?