
Di tempat tidak dikenal yang berada di Geoterra, di mana menjadi markas besar bagi Children of Purgatory.
“*Vwrung…”
Jarvanaag baru saja tiba setelah dua Acolyte yang merupakan muridnya, Raazog dan Strishen, menarik dirinya dari hadapan Djinn, Snake, dan Klavak.
“*BRUK!!!”
“Keterlaluan! Aku tidak pernah merasakan malu yang lebih besar daripada ini!”
Seru Jarvanaag dengan amarah yang meluap, setelah rencana besar yang ia lancarkan gagal besar.
“Maafkan kami yang datang secara langsung tanpa memperdulikan perintah Master. Kami siap menerima hukuman dari anda, Master.”
“…”
Jarvanaag hanya menatap wanita yang bernama Strishen Pakrow, yang merupakan seorang Tenth Acolyte.
“Strishen. Raazog. Kalian tidak bersalah. Kedatangan kalian semua tentunya membantuku.”
“Terima kasih atas pujian anda, Mas—”
“Denger baik-baik ya, Master.”
“*Tap…”
“Kalo Master mati, terus siapa yang mau pimpin sekte ini?! Master kira ada yang bisa mimpin orang-orang itu?!”
Potong sesosok Goblin yang merupakan Fourth Acolyte bernama Raazog, yang mendorong Jarvanaag,
sambil menunjuk Acolyte lainnya.
“Hmph! Dasar monster bajingan! Maksud lo apa nunjuk-nunjuk gue kayak gitu?!”
Sahut seorang Kitsune yang bernama Kiyomi, yang merupakan seorang Third Acolyte.
“Cih! Apa bedanya lo, Kiyomi?! Lo sama-sama monster bajingan kayak gue, bukan?!”
“Hoo! Lo mau lawan gu—”
“Hentikan, anak-anakku.”
““…””
Karena Jarvanaag, Raazog dan Kiyomi menghentikan perdebatan mereka berdua.
“Aku lelah. Alangkah baiknya jika aku—”
“Tunggu dulu, Master.”
“…”
Jarvanaag menatap seorang Mermaid yang tiba di belakangnya.
“Klarra. Waktu yang tepat. Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, anakku.”
Sahut Jarvanaag kepada Klarra Osseana, seorang Mermaid yang juga seorang Fifth Acolyte.
“Aku menemukan seorang wanita yang berasal dari Klan Osseana. Ia merupakan rekan dari Sylvia Starfell.
Namun sepertinya ia telah menemukan tuan yang baru, yang kuyakini jauh lebih berbahaya daripada semua Pahlawan yang telah kuhadapi ratusan tahun.”
““…””
Semua yang mendengar pernyataan orang yang mereka sebut Master itu hanya diam saja tanpa memberikan argumen apa-apa.
“Bener juga. Keliatannya perang kali ini gagal total.”
“Padahal nggak ada tanda-tanda Pahlawan atau Centra Geoterra di negara yang Master jajah.”
“Tambah lagi, orang gila kayak Ganon bisa mati dibunuh?! Cih! Siapa lagi kira-kira orang kuat yang tiba-tiba muncul di dunia ini?!”
Pikir Natsumi, Klarra, dan Raazog tentang peperangan mereka melawan Gazomatron.
“Klarra, anakku. Aku akan membunuh Mermaid i—”
“Jangan. Biar gue yang bunuh dia, Master.”
Potong Klarra, sambil menatap tajam Jarvanaag. Oleh karena itu, Jarvanaag mengurungkan niatnya.
“Baiklah. Namun untuk kalian ingat, anak-anakku semua.”
““…””
Kembali semua Acolyte menyimak apa yang hendak diucapkan oleh Jarvanaag.
“Tiga pria yang bernama Snake, Djinn Dracorion, dan Myllo Olfret. Jangan ada satupun dari kalian yang menyentuh mereka. Apakah kalian semua mengerti?”
““Ya, Master Jarva—””
“(Tunggu dulu, Master Jarvanaag)”
Mereka semua menatap seekor Naga yang datang dari langit, sambil mengepak-ngepakan sayapnya untuk mendarat di hadapan Jarvanaag.
“Ada apa, Zierdom?”
Tanya Jarvanaag kepada Zierdom, yang berubah dalam Wujud Manusia miliknya.
Karena kedatangan Second Disciple tersebut…
“Cih!”
““…””
…seluruh Acolyte merasa terganggu.
“Apakah kau menyesali keputusanmu yang tidak melibatkanku?”
“Ya. Aku menyesalinya, anakku. Namun, bukan berarti aku—”
“Apakah kau putus asa, Master?”
“Cih!”
“Huhuahahaha…”
““…””
Kembali semua Acolyte hanya menatap Zierdom dengan perasaan terganggu, setelah ia terlihat berusaha mengintimidasi seorang Master yang mereka layani.
“…”
Master berjalan ke ruang privasinya. Namun ia harus menghadapi kedatangan seseorang yang hendak ia lupakan.
“Hoo… Apakah Zierdom masih merasa paling kuat di antara kalian semua, Jarvanaag?”
“Hmph. Masih berani kau menampakkan wajahmu dihadapanku, Dïrfraq.”
“Fufu… Janganlah ada intensi jahat kepada murid pertamamu, Jarvanaag.”
Balas pria yang bernama Dïrfraq.
“Apa yang kau inginkan kepadaku?”
“*ZHUMMM………”
“Saat ini suasana hatiku sedang terguncang! Bahkan aku rela mengorbankan Children of Purgatory hanya untuk membunuhmu!”
“…”
Dïrfraq hanya tersenyum, walaupun Jarvanaag telah mengeluarkan aura Iblis yang sangat mengerikan, yang bahkan membuat Acolyte lainnya, yang berada sedikit jauh dari mereka berdua, jatuh tersungkur dengan ketakutan.
“Aku tidak ada maksud jahat. Hanya saja, aku hendak menyampaikan suatu informasi, yang menurutku dapat
membantu guru lamaku.”
“…”
Jarvanaag hanya diam saja untuk menunggu jawaban dari Dïrfraq.
“Saat ini, tidak hanya kau saja yang hendak membuka jalan untuk seluruh Iblis yang berada di Demonsia.”
“Aku juga tahu tentang itu, Dïrfraq—”
“Kau tahu tentang itu, tetapi kau tidak tahu tentang siapa saja pihak yang memiliki ambisi sepertimu, bukan?”
“…”
Lagi, Jarvanaag hanya diam saja untuk menunggu jawaban dari mantan muridnya.
“Waspadalah terhadap House of Frissius dari Arschtein Empire, beberapa pihak dari Kaum Fratta, serta beberapa Herald yang berada di Geoterra. Namun dibandingkan mereka semua…”
“…”
“…Guild yang kupimpin juga hendak melakukan hal yang sama. Tambah lagi, aku juga mencari perempuan yang sama dengan yang kau cari, Jarvanaag.”
Jelas Dïrfraq kepada Jarvanaag.
“Dari kalimat terakhir yang kudengar, aku merasakan adanya ancaman darimu. Bukankah seperti itu,
Dïrfraq?!”
“Tentu saja tidak. Hanya saja, aku hendak menyampaikan, bahwa perlombaan telah dimulai, Jarvanaag! Jika kau kalah, maka Demon Lord Surzstham tidak akan—”
“*SWUSH!!!”
Dengan amarah yang meluap, Jarvanaag memukul Dïrfraq, walaupun usaha yang ia lakukan hanyalah sia-sia.
“Aku sudah menduganya, bahwa hanya bayangan darinya saja yang ada datang menghampiriku.”
Bisik Jarvanaag, sebelum pergi memasuki ruang privasinya dengan perasaan gelisah dan cemas.