
Sebelum kita mulai, gue jelasin mereka kalo gue masih
butuh bukti yang bener-bener valid.
“Jadi, lo butuh bukti apa lagi?”
“Dia masih punya ‘produk pertamanya’ di kandangnya.”
“Maksud kamu…Mahrek?”
Mahrek?
“Ah, maaf. Maksud aku Kepala Desa sebelum Derrek,
abangnya.”
Oh itu namanya?
Tambah lagi…
“Ngeliat abangnya yang udah jadi Ghoul itu, dia
nangis.”
““Nangis?””
“Ya. Yang bisa gue simpulin sih, dia nggak tega untuk
bunuh abangnya. Makanya itu gue yakin kita masih bisa pake abangnya untuk ancem
dia.”
“Caranya?”
Gue pun jelasin cara gue ke mereka berdua.
Pertama, mereka berdua kasih tau ke warga tentang
tindakan jahatnya Derrek, sedangkan gue pergi ke kandangnya Ghoul untuk
‘mancing’ abangnya.
Kalo gue berhasil bawa dia, gue bakal ancem Derrek
lewat abangnya.
“Djinn! Kamu yakin?! Kedengerannya mustahil, Dji—”
“Lo sanggup, Djinn?”
Gia khawatir sama gue, tapi keliatannya Myllo percaya
sama gue.
“Gue usahain secepet mungkin bisa gue bawa Ghoul itu
ke desa, Myl.”
“OK! Kalo gitu, lo berangkat duluan, Djinn! Biar gue
sama Gia yang—”
“Tunggu dulu!”
Hah? Ada apa lagi sih, Gia?!
“Waktu kita keluar, ternyata ada jalan khusus, Djinn.
Pokoknya kita ngelewatin tempat kayak penjara yang kamu bilang, terus kita bertiga
tiba-tiba keluar dari goa yang menghadap berlawanan dari desa.”
“Oh, gitu?! OK deh!”
“Hihi! Balas aku pake cium—”
“Dih!”
“Cih!”
Masih sempet-sempetnya genit nih, cewek!
“Ahahaha! Di dunia lama lo pasti nggak pernah digoda
cewek ya, Djinn?!”
“Dunia lama? Maksudnya—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Goblok!”
“Ma…Maaf…”
Hadeh! Enteng banget rahangnya orang satu ini!
................
Sesuai rencana, gue jalan duluan untuk bawa abangnya
Derrek ke desa.
“Oh, ini goa-nya?”
Bener kata Gia, ada goa yang jadi pintu masuk ke
kandang Ghoul.
Gue jalan terus, sampe dapet pintu untuk masuk ke
penjara yang dipake Derrek untuk ngerubah orang jadi Ghoul.
Sesampenya di sini, gue liat kondisi sekitar. Masih
ada beberapa Ghoul yang berkeliaran di deket penjara bawah tanah ini. Mereka
lagi makanin orang-orang bertudung yang gue lawan waktu ngejar Derrek.
“Grraaa—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Mau gak mau, gue harus atasin beberapa Ghoul di
sekitar sini sebelum ke abangnya Derrek.
“Grrr—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Sekarang udah aman.
Waktunya gue ke abangnya Derrek.
................
““Grraaaaw!””
Sekarang gue udah ada di atas kandang abangnya Derrek.
Masih ada beberapa Ghoul di sini. Mereka pada ‘gonggong’ ngeliatin gue.
Nah pertanyaannya sekarang, gimana caranya gue bawa
mereka ke atas sini.
“Hmm…”
Gimana caranya gue bisa pancing mereka untuk ngejar
gue?
“Oh, iya!”
Darah.
Kemarin Ghoul dari bandit itu diolesin darah supaya
bisa dimakan sama Ghoul yang ada di bawah ini, kan?
Sekarang pertanyaannya itu, darah yang bisa dipake?
“Haaaah…”
Mau nggak mau pake darah gue deh, ujung-ujungnya.
Gue pun balik dulu untuk ambil pedang yang ada, terus
gue balik lagi sambil sayat telapak tangan gue supaya keluar darah.
“*Shrrrak… (suara menyayat)”
“Aw…”
Eh, kok nggak sakit, ya?
Padahal lukanya gede.
“*Tik, tik, tik… (suara tetesan darah)”
Gue tetesin darah gue ke mereka yang ada di bawah.
““Grrraaaaw!””
Nah sekarang mereka lebih agresif gonggongan mereka!
“Grrraaaaw!”
Mulai ada yang manjat, tapi bukan Ghoul-Ghoul ini yang
gue butuh!
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Grrraaaw! Grrrraw!”
Muncul satu, dua lagi naik. Tapi abangnya Derrek belom
naik sama seka—
“Grraaaaaaw!”
Eh! Cepet banget manjatnya!
Tapi seenggaknya dia udah naik! Mending gue sambil
lari aja supaya dia kejar gue!
................
Gue lari terus ngikutin arah masuk tadi, tapi abangnya
Derrek bener-bener agresif banget!
“Grraaaaaaw!”
“…”
Karena tangannya yang panjang, dia hampir nangkep gue!
Andai gue pelan dikit, mungkin dia udah nangkep gue
tuh!
“Grraaaaaaw!”
Nih Monster makin agresif gara-gara gagal nangkep gue!
“*Swush! (suara lemparan batu)”
“Brengsek!”
Gara-gara dia gagal terus, sekarang mainannya lempar
batu, dong!
Akhirnya gue lari terus selama berjam-jam dari
abangnya Derrek, sampe akhirnya gue hampir sampe desa.
“Grraa—”
Gue berhenti, terus gue lempar abangnya Derrek ke
pintu depan desa.
“Rrraaaaagh!”
“*Swush! (suara lemparan)”
“*Bruk! (suara menghantam pintu masuk desa)”
Huuuh… Untung nyampe juga!
“Grrr…grrrr…”
“Hehe! Dateng juga lo Djinn!”
“Bawel! Lo kira nggak susah pancing Ghoul ini
keluar?!”
Gue liat ada beberapa warga yang lari karena ada
Ghoul. Sedangkan Myllo sama Gia, mereka lagi dikerubunin beberapa warga
lainnya.
Untung di situ ada juga target utama kita bertiga,
Derrek.
“Djinn…ini bener Mahrek?”
“Harusnya sih iya.”
Dari tatapannya Gia sih, dia kesannya kayak jijik
gitu, tapi dia juga kasian sama Ghoul ini.
“Grraaaaaaw!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara banyak pukulan)”
“Djinn, jangan di—”
“Tenang. Belom waktunya, kok.”
“Be…Belom waktunya?”
Ya, karena Ghoul satu ini bahan untuk ‘transaksi’
kita.
“Pe…Petualang itu…dia yang lempar Ghoul?”
“Tapi, kenapa nggak langsung dibunuh?!”
Kayaknya beberapa warga masih nggak tau siapa Ghoul
ini.
“He…Hey! Mengapa anda—”
“Hadirin semua! Ingat catatan harian ini, kan?! Ghoul
yang dibawa sama Djinn ini ‘produk pertama’ dari Kepala Desa! Dan yang lebih
parahnya lagi, Ghoul ini Kepala Desa sebelum Derrek, yaitu kakaknya sendiri,
Mahrek!”
Gia langsung jelasin kayak gitu semua warga.
“Masa sih?! Apa mungkin bener?!”
“Ja…Jangan percaya! Pasti itu cuma Ghoul yang
sembarang mereka ambil!”
Gue udah yakin. Walaupun ada bukti nyata kayak gini,
pasti ada yang percaya, ada juga yang nggak.
“Gia, gue pinjem pedang lo, dong.”
“Hah?! Buat a—”
“Gue mau kasih unjuk ‘puncak acara’ kita.”
“Yaudah, nih. Hati-hati keberatan pedangnya.”
“OK.”
Waktu gue terima pedangnya, ternyata nggak terasa
berat kayak yang dibilang Gia.
“Gi…Gila…kuat bang—”
“Hah? Lo ngomong apa, Gi?”
“Ng…Nggak kok! Jangan lupa panggil aku Gia! Nama itu
udah disingkat, jangan disingkat lagi!”
“Ya, ya, ya…”
Yaudah, nggak perlu basa-basi lagi.
“Woy, Derrek! Lo kenal kan ini siapa?!”
“A…Apa maksud anda, Petualang?”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Grraaaaaaw!”
Tangan pertama harus gue potong.
“Dji—”
“Biarin dia, Myllo.”
Mungkin aksi gue jahat di mata Myllo. Tapi gue
terpaksa ngelakuin ini.
Untungnya Gia ngerti maksud gue. Makanya dia nahan
Myllo.
“Hey, Petualang! Apa yang anda laku—”
“Mending lo ngaku, Derrek! Daripada lo harus
kehilangan abang lo!”
“Ba…Baiklah! Lakukan saja aksi konyol anda! Biar anda
tahu rasa betapa sia-sia usaha anda membawa Monster itu yang mengganggu desa
kam—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Grraaaaaaw!”
Sekarang tangan kedua. Masih ada dua tangan lagi.
Belom lagi kakinya.
“Yakin lo nggak mau ngaku?! Bukannya Ghoul ini bahkan
punya tempat khusus?! HAH?!”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Grraaaaaaw!”
Tangan ketiga gue potong. Walaupun ujung-ujungnya…
“I…Ini…sama aja nyiksa Ghoul itu nggak sih?!”
“Petualang ini…serem banget!”
“Baru pertama kali liat Ghoul disiksa kayak gitu!”
…beberapa warga di sini jadi takut sendiri liat gue.
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Djinn, langsung aja.”
“OK, Myl.”
Kayaknya Myllo udah nggak sanggup liat Ghoul ini yang
harus dimutilasi kayak gini. Gue bisa ngerasain tangan dia gemeteran waktu
tepuk pundak gue.
Yaudah lah, nggak perlu basa-basi lagi.
“DERREK!!!”
““!!!””
“GUE ITUNG SAMPE TIGA! KALO NGGAK MAU NGAKU, GUE BUNUH
GHOUL INI!!!”
“…”
“SATU!”
“…”
“DUA!”
“…”
“TIGA!”
“…”
Dia masih nggak mau ngaku.
Yah, yaudah lah. Ternyata taktik gue gagal.
“Myl?”
“Ya.”
Myllo ngasih aba-aba supaya gue bunuh Ghoul ini. Tapi…
“*Syut! (suara lemparan pisau)”
“…”
…ternyata nggak sepenuhnya gagal.
Untung Gia nangkep pisau yang dilempar ke gue.
“Hmph! Apa maksud pisau ini, Derrek?!”
“…”
“Lo gak mau Ghoul ini dibunuh?”
“…ngan bunuh…kakak saya…”
“Hah?”
“JANGAN BUNUH KAKAK SAYA!!!”
Dia teriakin gue supaya nggak bunuh abangnya ini.
“Ja…Jadi benar, ya…”
“Ternyata…Ternyata…”
“Jangan-jangan…waktu itu kakek saya…ju…juga jadi
Ghoul!”
Nah kan, sekarang baru percaya deh orang-orang desa
ini.
“Kepala Desa! Kenapa bapak tolongin Ghoul yang mau
dibunuh itu?!”
“Pak, semua bohong, kan?! Nggak mungkin kan bapak tega
untuk ubah orang jadi Ghoul?!”
“Apa tujuan bapak sebenarnya?! Tolong jawab, pak!”
Sekarang Derrek mulai diprotes warganya sendiri.
Mukanya juga udah keliatan panik.
“Djinn, lo belom selesai.”
Oh, tetep bunuh?
Karena itu perintah Kapten gue sendiri, jadinya gue
harus turutin.
“*Shrak! (suara memenggal kepala)”
“Ti…Tidak…kakak…”
“…”
Tugas gue udah kelar. Selanjutnya tinggal nungg arahan
Myllo a—
“Dasar biadab!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara banyak pukulan)”
“Brengsek! Balikin temen-temen saya!”
“Kubunuh kau, DERREK!!!”
Woy! Kok main digebukin gitu?! Lo rame-rame woy—
“O…O…Obey!”
Itu…mantra sihir?!
Perasaan gue nggak enak!
“Woy! Jangan digebuk—”
“Semua! Lari dari tempat ini, seka—”
““Grraaaaww!””
Tuh kan! Tiba-tiba muncul Ghoul dari bawah tanah!
““…rraaaaww…””
Nggak cuma dari bawah tanah doang, tiba-tiba ada
sekitar ratusan suara Ghoul yang lari ke arah desa ini!
“Ah! Ada Ghoul lagi!”
“Lari!”
““AAAHHH!!!””
Warga mulai banyak yang panik gara-gara Ghoul ini!
“Graaaaw!”
Eh! Ada Ghoul yang bawa lari Derrek!
“Myl—”
“Djinn, lo bisa kejar Derrek, kan?!”
“Gue usahain!”
“OK! Kejar Ghoul itu! Gue sama Gia bantu jagain warga
dari banyak Ghoul ini!”
“OK!”
Gue mau coba kejar Derrek, tapi kayaknya dia udah
perintahin beberapa Ghoul untuk nahan siapapun yang mau coba kejar dia.
“Graaaa—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Untungnya beberapa Ghoul masih bisa gue hajar.
Sekarang gue cuma harus fokus untuk kejar Si Derrek Brengsek
itu yang coba kabur dari sini pake Ghoul!